Duakkh.. duakkh..

"Uzumaki-san, kumohon hentikan…"

Duakkh… duakkh..

"Dia.. bisa ma-mati.. kumohon hentikan, Uzumaki-san."

Duakkh.. duakkh..

"Hiks, Uzumaki-san…" suara Hinata masih sangat lirih. "Tolong… to-tolong siapa saja pisahkan mereka… tolong… to-tolongg kumohon hentikan pria ini." dia mulai meminta tolong, siapa tahu ada orang yang bisa menolongnya agar menarik Naruto mundur. Dia benar-benar takut Naruto membunuh orang. "To-TOLOOOOONGGG…"

Tampak dua orang datang berlari mendekat saat teriakan itu terdengar makin kuat.

"Tolongg,,, hiks.."

"Ada apa, nona?"

Hinata menoleh dan segera menunjuk Naruto yang masih memukul pria tadi, "Tolong, tolong pisahkan mereka. Laki-laki itu bisa mati, tolong pisahkan."

Mengerti, kedua orang itu langsung bergerak menghentikan tindakan Naruto. Cukup susah saat Naruto tak kunjung berhenti memukul tapi setelah mendaratkan tinjuan terakhir dengan lebih keras, akhirnya Naruto berdiri dan mundur.

"Ada apa ini?"

Naruto melirik kedatangan directur Akasuna itu dengan wajah sinis. Dia berjalan kearah Hinata dan melepaskan jasnya lalu menutupi tubuh Hinata yang terbalut gaun robek, dengan lembut dia menutupi tubuh itu dengan jasnya. Setelah itu dia berbalik dan menatap tajam kearah direktur Akasuna itu. "Dia," tangannya menunjuk pria yang sudah pingsan di lantai. "Aku yakin dia salah satu karyawanmu. Jika dia tidak ingin mati atau masuk penjara, sebaiknya kau pecat dia."

Naruto meraih tangan Hinata dan berjalan pergi, meninggalkan orang-orang disana yang menatap bingung.

"Ada apa sebenarnya?"

Salah satu orang yang menolong tadi berbicara takut-takut pada sang directur, "Mu-mungkin… Tora-san ingin memperkosa gadis tadi… jadi,,, Uzumaki-san marah dan…" dia tidak melanjutkan jawabannya, tapi dari matanya yang sudah melirik prihatin pada Tora –sang pelaku yang sudah pingsan- directur Akasuna itu hanya mendesah lelah.

Mungkin kehilangan satu karyawan yang tidak berotak bukanlah masalah.

.

.

Lean on You

Naruto x Hinata

Dis © Masasi Kishimoto

.

.

Hinata menggigit bibirnya sembari sesekali melirik kearah sang atasan yang memandang jauh ke depan. Mobil itu sudah lima menit berhenti di depan gank kecil tempat tinggalnya, tapi tak satupun dari mereka yang berinisiatif untuk turun ataupun mempersilahkan turun. Keduanya terdiam dalam suasana yang canggung.

Merasa jika sudah terlalu lama, Hinata memberanikan diri membuka suara. "Anoo.. uhm, te-terima kasih, Uzumaki-san. Terima kasih untuk ya-yang tadi… dan terima kasih sudah mengantarku pulang."

". . ."

Tak ada jawaban.

Tak ada respon.

Hinata hanya menghela nafas pelan, "Sa-saya permisi, Uzumaki-san." Perempuan itu memiringkan tubuhnya dan menggerakkan tangannya untuk membuka pintu.

Cklek… cklekk…

Pintunya… terkunci.

"Uzumaki-san, pintunya terkunci." Ujarnya memberitahu, tapi sedikitpun tak ada gerakan dari pria di sampingnya itu. "U-uzumaki-san?" panggilnya ragu. Setengah takut juga. Dan karena memilih aman, Hinata menutup mulutnya. Diam dan tidak bersuara lagi, menunggu saja sampai pintu itu di buka atau sampai sang atasan berbicara.

Keduanya terdiam, semakin terasa sunyi karena tak ada satu suarapun di dalam mobil yang terparkir itu. Udara dingin diluar hanya terdengar sayup di telinga. Bahkan mereka tak melakukan sedikitpun gerakan yang menimbulkan suara.

Sepi.

Sunyi.

Hingga beberapa menit berlalu…

Tek

Hinata tersentak dan menoleh, melihat jika kunci mobil itu sudah terbuka. Dia menoleh kearah Naruto yang masih menatap ke depan dengan pandangan yang sangat sulit di artikan. Tapi terbukanya kunci mobil itu, dia anggap sebagai isyarat jika dia sudah boleh keluar dari mobil itu.

Dan tanpa menunggu lebih lama, dia kembali berpamitan. "Saya permi-si, Uzumaki-san." Dan salam terakhir itu diikuti suara pintu mobil yang terbuka dan tak lama tertutup, meninggalkan satu orang yang masih berada di mobil.

Hinata berkedip beberapa kali sebelum berbalik dan melangkah menuju tempat tinggalnya yang sudah terlihat walau hanya sedikit.

Bruuumm…

Perempuan itu berhenti saat suara mobil yang melaju dengan cepat terdengar dari belakangnya, dia menoleh dan menatap sendu mobil sang atasan yang sudah melaju jauh dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Entah kenapa, sesuatu yang aneh mengusik ruang hati perempuan Hyuuga itu.

Sesuatu… yang terasa khawatir untuk membiarkan sang atasan sendirian.

.

.

Hinata mengerakkan tangannya dengan cepat di keyboard. Sesekali pandangan mata peraknya mengarah pada jam yang terus berjalan. Sudah hampir jam sepuluh pagi, tapi kenapa sang atasan belum datang juga? Padahal biasanya jam delapan, sang atasan pasti sudah sibuk di meja kerjanya.

Selain ada beberapa berkas yang harus Hinata serahkan untuk tanda tangan, dia juga ada sesuatu yang harus di kembalikan.

Perempuan itu meraih kantong kertas yang ada di sampingnya dan melihat isi dalamnya. Sebuah jas mahal yang semalam dia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang berbalut gaun robek. Tepatnya, jas yang di tutupi sang atasan kepada dirinya.

Dia menghela nafas dan melirik, langsung berdiri saat melihat sosok Nara Shikamaru mendekat. "Nara-san, Anda mencari Uzumaki-san?" tanya langsung.

Shikamaru menoleh dan menatapnya sejenak sebelum menggeleng. "Aku tahu dia tidak masuk, aku hanya mengambil beberapa berkas dari ruangannya dan akan pergi ke rumahnya."

"Oh." Gumaman lirih keluar dari mulut perempuan itu.

"Kenapa? Apa ada sesuatu?"

"hah? Uhm, itu… ada beberapa berkas yang harus aku laporkan padanya dan membutuhkan tanda tangan, juga…" Hinata menghentikan perkataannya saat dia merasa tidak pas untuk membicarakan tentang jas yang harus dia kembalikan.

Melihat hal itu, Shikamaru mendesah. "Kau ikut saja."

"Eh?"

"Kita pergi ke rumahnya, bawa berkas yang kau butuhkan tanda tangannya. Jika dia masih mampu menanda tanganinya maka itu akan cepat selesai."

"Mampu?" Hinata bertanya bingung, apa maksud dari kata ambigu itu?

Shikamaru tersentak kecil saat sadar jika ucapannya aneh karena Hinata belum tahu kabarnya, "Dia sedang sakit sekarang. Makanya aku bilang begitu, kalau sakitnya tidak terlalu parah dia akan dengan cepat menandatangani semuanya."

Amethys perempuan itu melebar saat mendengar fakta itu. Sakit? Bukankah semalam sang atasannya itu bahkan hampir membunuh orang? Kenapa bisa tiba-tiba sakit?

Dan selanjutnya, kedua orang itu pergi menuju satu tujuan.

.

.

Hinata berkedip saat sebuah rumah sederhana masuk dalam netra lavendernya. Dia melangkah mengikuti langkah Shikamaru yang berjalan menuju pintu utama rumah itu. Rumah sederhana dengan satu lantai, tampak cantik dengan taman yang rapi dan bersih serta beberapa tanaman bunga berwarna-warni yang menghias disana.

'Taman yang bagus. Apa Ibunya yang merawat semua ini… atau… pacarnya?' Hinata berbisik dalam hati.

"Kita ke belakang saja."

"Eh?" Hinata berkedip saat Shikamaru berujar seperti itu. Shikamaru sudah menekan bel beberapa kali tapi tidak ada jawaban ataupun respon dengan terbukanya pintu, makanya pria itu mengajaknya ke belakang. Masalahnya… "Kenapa kita kesini?" tanya Hinata bingung saat mereka berhenti di depan pintu belakang rumah itu.

Shikamaru mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan membuka pintu itu dengan benda yang dia ambil dari saku celananya tadi. Kunci. "Naruto memberikan satu kunci dari salah satu pintu di rumahnya. Yah, hanya untuk jaga-jaga saja."

Hinata terdiam mendengar penjelasan itu. Dalam kepalanya beberapa pertanyaan dan kesimpulan terbentuk dengan sendirinya.

'Untuk jaga-jaga itu… maksudnya apa?'

'Kenapa memberikannya pada Nara-san?'

'Apa hubungan mereka sedekat itu hingga bisa saling percaya?'

'Atau jangan-jangan hubungan mereka itu sepasang –'

"Ayo masuk!" ajakan Shikamaru memutuskan pikiran Hinata yang mulai aneh. Dia menggeleng singkat untuk mengusir pikiran itu dan ikut melangkah masuk.

Shikamaru kembali menutup pintu itu saat mereka sudah di dalam dan lebih dulu berjalan di depan Hinata.

Pintu masuk itu ternyata langsung terhubung ke ruang makan. Dalam diamnya Hinata memperhatikan rumah sang atasan meski dia tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu. Dia hanya merasa tertarik untuk memperhatikan rumah sederhana itu. Mungkin juga dia menjadikan alasan 'balas dendam' sebagai alibi. Bukankah Naruto juga masuk seenaknya ke rumahnya dan melihat seluruh ruangan di rumahnya dengan pandangan menilai?

Walau sebenarnya tidak ada hal penting dan special yang bisa di lihat di rumahnya.

"Astaga!" Hinata menoleh saat Shikamaru mendesah lelah, perempuan itu mengikuti arah pandang Shikamaru dan cukup kaget saat meja makan disana berantakan oleh beberapa botol minuman beralkohol dan gelas yang tergeletak di atas serta ada pula yang jatuh pecah di bawah.

"Berantakan sekali." Gumam Hinata tanpa sadar.

Shikamaru melirik kearah sekretaris sahabatnya itu dan mendesah. "Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, kecuali jika pikirannya sedang berada di titik terburuk." Usai mengatakan itu, tak dipungkiri Shikamaru menjadi sedikit lebih khawatir pada kondisi sahabatnya.

Dengan cepat dia melangkah keruangan lain, bermaksud menuju kamar karena mungkin Naruto yang sakit sedang istirahat dan tertidur di ran… "Huh?" …jang.

Shikamaru menghentikan langkahnya saat melihat sesosok pria berambut pirang terbaring di sofa ruang tengah dengan mata terpejam lelah. Penampilan yang acak-acakan juga menjadi sesuatu yang lain untuk melengkapi berantakannya beberapa sisi dari rumah itu.

"Uzumaki-san sakit apa? wajahnya pucat."

Shikamaru hanya menggaruk pelipisnya mendengar ucapan Hinata. Dia berjalan mendekat dan membangunkan sahabat pirangnya, "Naruto… oi Naruto… bangunlah!"

Kepala bersurai pirang itu bergerak sedikit sebelum matanya terbuka. Menampilkan sepasang warna biru yang cerah. "Hgg.." dia bergumam saat merasa kepalanya sakit dan berkunang-kunang, Naruto menyipitkan matanya dan samar melihat sosok di depannya. "Shika.." ucapnya pelan sembari berusaha mendudukkan diri.

"Hah, kau ini. Merepotkan sekali!" Shikamaru menggerutu namun tetap membantu Naruto untuk duduk sebelum dia ikut duduk di samping pria pirang itu. Selanjutnya dia menoleh pada Hinata, "Duduklah dulu." Ucapnya yang memancing kerutan di kening Naruto.

Naruto menoleh dan terdiam saat melihat Hinata yang berjalan menuju sofa tak jauh darinya dan duduk disana.

"Kenapa dia ada disini?" pertanyaan spontan itu hampir membuat Hinata kembali berdiri di detik pertama dia duduk. Tapi melihat raut santai Shikamaru, dia memilih untuk tetap duduk.

"Kau tidak masuk, dia punya beberapa berkas yang harus dia laporkan padamu. Karena aku ingin kesini untuk beberapa alasan, jadi aku mengajaknya." Penjelasan yang singkat dan terlalu santai disaat sepasang sapphire disana bahkan sudah mendelik. "Tidak usah melotot dengan mata merahmu itu. Apa kau tidak minum obat?"

Naruto berdecak saat Shikamaru mengalihkan topic dan secara bersamaan kepalanya terasa lebih sakit dari yang tadi. Dia menggeleng sebagai jawaban.

"Kutebak kau bahkan belum makan bukan?" Naruto menyandarkan kepalanya di sofa dan menutup wajah dengan sebelah tangan. Membuat Shikamaru mendengus, dia menoleh pada Hinata yang hanya diam dari tadi. "Kau bisa memasak?"

"Hah?"

"Bukan 'hah', masakan sesuatu untuk atasanmu yang sedang sakit ini sebelum dia mati karena kelaparan dan sakit kepala."

Hinata hanya berkedip mendengar itu, tapi saat Shikamaru terlihat ingin mengoceh, dia langsung berdiri. "Ba-baiklah." Ucapnya terbata dan menaruh tas, berkas, dan kantong yang dia bawa di sofa yang tadi dia duduki. Karena sudah tahu dimana letak dapurnya, Hinata langsung melangkah pergi tanpa bertanya.

Meninggalkan Shikamaru dan Naruto berdua saja di ruangan itu.

"Kenapa kau membawanya kesini?" kembali pertanyaan itu terdengar.

"Sudah kubilang dia ingin menyerahkan beberapa berkas yang harus kau tanda tangani."

"Huh," Naruto mendengus kasar dan menurunkan tangannya lalu menoleh, "Sejak kapan kau perduli dengan 'beberapa berkas kantor'? Aku yakin kau bahkan lebih rela melepas proyek jutaan daripada membawa seorang perempuan kesini, ke rumahku." Naruto menekankan kata terakhir. "Jadi kau pasti merencanakan sesuatu bukan?"

Naruto menyipitkan pandangannya seolah mempertegas ucapannya barusan. Ya, dia yakin sekali dengan ucapannya. Shikamaru adalah orang yang paling mengerti dirinya di banding siapapun. Dan sengaja membuat seorang perempuan dekat dengan Naruto adalah satu hal yang jelas takkan pernah di lakukan Shikamaru tanpa alasan, apalagi sampai membawa perempuan itu ke rumahnya, Shikamaru yang normal seharusnya malah mengusir seorang perempuan dari rumahnya.

Jadi wajar jika kali ini dia menaruh curiga berlebih pada pria Nara itu.

Tanpa menjawab, Shikamaru hanya melirik dari ujung matanya. Berpura-pura tidak mendengar apapun dan memasang wajah polosnya yang dia pelajari dari sang istri. Membuat kepala Naruto semakin berdenyut.

"Uhm, aku melihat banyak botol berantakan di dapur. Tidak biasanya kau seperti itu, apa ada masalah?"

Naruto benar-benar berniat memukul pria nanas itu sekarang. "Oi, kau benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaanku, heh?" tanyanya dengan suara naik satu oktaf. Kenapa Shikamaru malah mengalihkan topic lagi? "Terserah kau saja!" ucapnya lalu kembali menjatuhkan dirinya pada sofa dan menutup mata.

Shikamaru hanya tersenyum tipis karena itu, dia meraih berkas yang tadi dia bawa dan melemparnya pelan ke atas meja. "Setidaknya kau benar-benar harus menandatangani yang itu karena akan ku bawa ke Suna besok." Giliran Naruto yang tidak bergerak untuk memberi respon. "Besok aku pergi pagi dari rumah, nanti malam aku juga tidak bisa kesini karena Ino akan mengoceh kalau aku keluar malam sekarang. Tidak apa, kan?"

"Aku tidak butuh bantuanmu."

Dengusan pelan keluar dari Shikamaru saat menghadapi pose merajuk Naruto yang sangat sangat sangat sangat jarang. "Cepatlah sembuh kalau kau tidak mau aku memberikan 'hadiah' yang special untukmu."

Memang Naruto perduli?!

"Anoo… makanannya sudah siap. Aku sajikan di meja makan, apa… harus aku bawa kesini?" Hinata datang sambil berbicara ragu. Takut jika dia mengganggu.

Shikamaru menoleh dan menatapnya diam, berpikir sudah berapa lama dia dan Naruto berbicara atau Hinata yang masaknya terlalu cepat?

Set… tap tap tap

Shika dan Hinata hanya berkedip diam saat Naruto bangun dari posisinya dan langsung berjalan menuju ruang makan… tanpa tawaran untuk makan bersama.

"Dasar anak itu." gumam Shikamaru menghela nafas dan juga ikut berdiri untuk mengikuti Naruto, Hinata pun mengikuti di belakangnya.

Mereka berdua berjalan beriringan, dan saat langkah Shikamaru berhenti, Hinata juga ikut menghentikan langkahnya.

Di depan sana, tampak Naruto juga menghentikan langkahnya.

"Kau… membersihkan kekacauan tadi?" Shikamaru bertanya pada Hinata saat melihat meja makan yang tadinya berantakan kini sudah rapi dan terhidang beberapa jenis makanan juga alat makannya.

Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.

Tanpa bicara lagi, ketiganya duduk di meja makan. Sebenarnya Hinata ingin kembali saja ke ruang tengah dan menunggu disana, tapi Shikamaru menyuruhnya duduk dengan perintah yang tidak boleh di tolak.

Jadilah, dia duduk di kursi yang berjarak agak jauh dari kedua pria disana.

"Kenapa kau mengambil piring?" tanya Naruto seketika menghentikan gerakan Shikamaru.

"Seingatku sekarang sudah masuk jam makan siang, tentu saja aku ingin ikut makan."

"Masakan ini di buat untuk orang yang sakit, jadi kau tidak boleh makan."

Shikamaru sweatdrop saat merasa jika sikap kejam itu berasal dari rajukan yang tadi belum selesai.

"Uhm, aku… memasak lebih kok, dan juga… masakannya bisa dimakan siapa saja." Ujar Hinata menyela, sekedar memberitahu jika dia memasak lebih banyak dan tidak perlu pelit kan? Tapi selanjutnya dia menunduk saat tatapan tajam Naruto mengarah padanya.

Sementara Shikamaru tersenyum penuh kemenangan saat seolah-olah perkataan Hinata tadi sedang membelanya dan memojokkan Naruto. Dengan cepat dia mengisi piringnya dengan beberapa masakan yang sudah jadi. Dan dengan senyuman serta lirikan mengejek, dia mencicipi makanan itu dengan sepenuh hati.

"Wah," dia bergumam kemudian, "Hyuuga, kau harus bertemu dengan istriku dan mengajarinya memasak. Masakanmu enak sekali."

Hinata hanya tersenyum tipis, "Terima kasih, Nara-san."

Ting…

Suara sendok yang berdenting keras di piring membuat Shikamaru dan Hinata terdiam dan melihat aneh pada Naruto. "Uhm, maaf Uzumaki-san, apa wortelnya masih keras?"

"Tidak!" Naruto menjawab cepat dan melanjutkan makannya.

Hinata hanya memandang tidak mengerti, membuat Shikamaru hanya menghela nafas. "Makanlah dan minum obat. Kau harus sembuh, bukan?" ucapnya lagi, "Ah, Hyuuga, bisakah kau belikan obat di apotik depan komplek yang tadi kita lewati? tidak terlalu jauh."

"Uhm, itu…" Hinata berdiri dan melangkah pergi, membuat kedua pria disana diam tidak mengerti, tidak lama Hinata kembali dengan membawa tas, berkas, dan kantong miliknya. Dia membuka tasnya dan mencari sesuatu didalamnya, "Aku selalu membawa obat untuk demam, bisa juga meredakan sakit kepala dan bagus untuk istirahat." Dia mengeluarkan obat itu dan menyodorkannya pada Naruto dengan semangat yang tidak dia sadari, "Ini."

Naruto hanya memandangnya dengan datar tanpa merespon, membuat Hinata sedikit menyesal karena melakukan hal itu. Seharusnya dia tidak usah sok dengan menawarkan obat yang dia bawa dan lebih baik membeli obat baru saja seperti perintah Shikamaru. Dan apapula tindakannya yang sedikit lebih semangat tadi? Seolah dia sangat senang dalam bidang 'merawat' sang atasan.

Set… Naruto mengambil obat itu dan menaruhnya di sampingnya sebelum melanjutkan makan.

Membuat Hinata bernafas lega karenanya. Tanpa keduanya sadari jika sepasang mata lain memperhatikan dalam diam.

.

.

"Ini jas Anda yang semalam, Uzumaki-san." Hinata menyodorkan kantong yang dia bawa tadi kepada Naruto.

Setelah makan, mereka kembali ke ruang tengah, melaksanakan tujuan alibi utama kedatangan Hinata kesana. Meminta tanda tangan untuk berkas kantor.

Shikamaru sedang keluar untuk menerima telpon sekarang, dari itulah Hinata memanfaatkan kesempatan untuk melaksanakan niatnya yang kedua.

Naruto melirik kantong itu tanpa kata, "Hm." Hanya itu yang dia gumamkan selanjutnya.

Suasana menjadi hening beberapa saat. Sebenarnya Hinata cukup penasaran dan ingin bertanya kenapa? Dia merasa Naruto jadi sedikit lebih dingin sejak mereka pulang dari pesta semalam. Ah tidak, mungkin sejak Naruto selesai memukuli orang itu. Bahkan dari tadi, Naruto seolah enggan menatapnya.

Sikap Naruto yang semakin dingin.

Bukti jika Naruto semalam minum sampai mabuk.

Hingga pria itu sakit di pagi harinya.

Hinata entah kenapa ingin bertanya kenapa dan apa alasannya. Walau semua itu serasa hanya menyumbat di tenggorokkannya.

"Hyuuga, kita harus kembali ke kantor sekarang." Shikamaru kembali dengan ajakan yang tegas. "Naruto, aku pergi dulu dan aku tidak kesini lagi. Besok aku akan langsung ke Suna dari rumah pagi-pagi. Jadi, sesuai kataku, sembuhlah jika tidak ingin aku mengirimmu 'hadiah'."

Naruto hanya berdecak dan kembali membaringkan tubuhnya di sofa. "Pulanglah dan kunci pintunya."

Helaan nafas keluar dari Shikamaru, "Ayo, Hyuuga!" ucapnya dan melangkah pergi.

Sementara Hinata masih berdiri di tempatnya dengan pandangan yang mengarah pada sang atasan. "Uhm, Uzumaki-san… Anda, tidak beristirahat di kamar saja?" tanyanya ragu dan pelan. Tapi Naruto tetap tidak bergerak dari posisinya. Hal yang membuat Hinata hanya menggigit bibir bawahnya dan memilih untuk pergi mengikuti langkah Shikamaru.

.

"Terima kasih."

.

.

"Hyuuga," Shikamaru memanggil sesaat sebelum Hinata keluar dari mobilnya. "Apa semalam pesta Akasuna berjalan lancar?"

Hinata berpikir sejenak sebelum mengangguk, "I-iya, semuanya baik-baik saja, Nara-san."

"Kalian pulang jam berapa semalam?" tanyanya lagi.

"Uhm, mungkin sekitar jam setengah sepuluh atau mungkin juga sudah sampai jam sepuluh."

Shikamaru terdiam dengan pandangan yang lurus ke depan, "Apa semalam Naruto memakai supir?"

"Hah? Oh, tidak. Dia menyetir sendiri mobilnya. Kami hanya berdua saja." Sebenarnya Hinata kembali merasa seperti di wawancara kerja, kenapa Shikamaru bertanya semua hal itu dengan nada seperti menyelidik? Apa ada yang salah dengan pesta semalam?

"Baiklah, kau boleh keluar." Ucap Shikamaru lagi, "Oh, jangan bilang kepada siapapun tentang Naruto yang sakit apalagi dimana alamatnya. Kau mengerti?"

Hinata hanya mengangguk sebelum bergerak keluar dari mobil hijau itu dan berjalan masuk ke kantornya untuk kembali bekerja, jam menunjukkan pukul 12 siang lewat 23. Masih jam istirahat sebenarnya, tapi dia merasa jika dia sudah terlalu lama beristirahat. Sebaiknya dia kembali ke meja kerjanya saja.

Sementara sepasang mata hitam Shikamaru terus menatapnya dari belakang. Menatap sembari memikirkan sesuatu yang sudah sejak tadi membuatnya penasaran. "Mari kita lihat, Naruto! Seperti apa gadis yang kau tolong lima tahun lalu."

Shikamaru kembali menjalankan mobilnya.

Semalam ia sedang membeli sesuatu sesuai pesanan Ino saat dia melihat jika mobil sahabatnya terparkir di depan sebuah butik. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Dari itulah dia sedikit ingin tahu, dan saat melihat Naruto keluar dari butik itu bersama Hinata, Shikamaru hampir tidak bisa berpikir hal lain.

Untuk pertama kalinya dia melihat Naruto ke butik bersama seorang perempuan, dan lebih mengejutkan jika Naruto tidak terlihat memakai jasa supir. Biasanya dia akan memakai jasa supir agar dia bisa duduk di kursi belakang sendirian hingga tidak perlu terlalu dekat dengan seorang perempuan, tapi apa yang di lihat Shikamaru? Sahabatnya itu malah pergi berdua dengan seorang perempuan dan duduk bersebelahan dalam mobil?

Sesuatu yang terasa aneh mulai menjalar di pikirannya. Membuat Shikamaru mencari tahu hal-hal terkait tentang itu. Apapun, akan Shikamaru lakukan jika itu bisa sedikit menolong kondisi sahabatnya agar lebih baik.

.

.

Tanpa terasa, waktu yang terus berputar kembali ke titik awal. Selalu dan selalu waktu kembali pada titik yang sama, entah itu pagi, sore, ataupun malam.

Naruto mendesah saat sinar matahari menerobos masuk jendela kamarnya. Badannya masih terasa lemas dan kepalanya masih terasa sakit. Naruto sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa sakit, hal itu sangat jarang terjadi.

Apa hari ini dia harus tidak masuk kerja lagi?

Ddrrtt…

Dia menoleh dan meraih ponselnya yang bergetar, tanpa berpikir panjang menjawab panggilan dari Shikamaru, "Hm?"

'Ohayou, apa kau sudah sembuh? Bagaimana keadaanmu?'

"Hm, sepertinya aku tidak akan masuk lagi hari ini. Badanku masih sangat lemas dan kepalaku masih pusing."

'Oh, begitu? Baiklah, jadi jangan marah jika aku mengirimmu 'hadiah', oke?'

Naruto mengerutkan keningnya, kenapa dari kemarin pria Nara itu selalu menyebut 'hadiah, hadiah, hadiah, dan hadiah' sih? "Kurasa kau mulai gila? Dimana kau sekarang?"

'Aku sudah seperempat perjalanan ke Suna, aku sudah pergi pagi sekali tadi –'

'Shika-kun, lihat itu, indah sekali..'

'hn.'

'Shikamaruuuu…'

'Hah, merepotkan!'

'Apa kau bilang?'

'Iya iya istriku sayang, aku melihat apa yang kau maksud. Pemandangan disana kan? Aku sedang menelpon, tunggu sebentar ya?'

Raut wajah antara kesal dan bosan muncul di wajah Naruto. "Oi… kau pergi ke Suna untuk menangani proyek atau liburan?"

'Ck, Ino memaksa ikut. Kau tahu sendiri jika dia keras kepala dan semakin licik dengan mengandalkan alasan ngidam untuk mendapatkan apapun –' bletak… 'Aissshhh… sudah ya, Naruto.'

Naruto kini merasa sedikit kasihan dengan sahabatnya, pasti Shikamaru baru saja di pukul oleh Ino. "Hah, semoga kau tetap selamat saat pulang." ucapnya kemudian.

Ting tong…

Suara bel yang terdengar menimbulkan kerutan di keningnya, siapa yang bertamu ke rumahnya?

Ting tong..

Dengan sedikit susah, Naruto berdiri dari ranjangnya dan berjalan keluar. Ingin mencari tahu siapa yang datang? Apakah sales? Atau orang minta sumbangan? Mungkin orang itu belum mengenal siapa Uzumaki Naruto yang paling tidak ingin di ganggu siapapun.

Dia berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. Saat pintu itu terbuka..

"Ohayou, Uzumaki-san."

…Hinata berdiri di depannya dengan tersenyum canggung.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto dengan wajah kaget.

"Uhm, Nara-san bilang jika Anda masih sakit, jadi dia menyuruhku datang kesini untuk… men-menjaga Anda."

'Jangan marah jika aku mengirimmu 'hadiah'.'

Naruto memejamkan matanya menahan kesal pada apa yang sudah dilakukan sang sahabat. Jadi 'hadiah' yang dia maksud itu… "Pulanglah! Aku tidak butuh!"

"Tap –"

Blam

Pintu tertutup. Naruto tidak ingin menerima tamu. Siapapun. Mungkin tadi harusnya Naruto berdoa jika Shikamaru tidak selamat saat pulang. Itu akan menjadi hukuman paling bagus untuk pria Nara itu. "Hah," dia menghela nafas dan berjalan menuju dapur. Mungkin dia perlu sesuatu untuk sarapan atau justru cukup minum air untuk sekedar membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.

Cklek… blam..

Langkah Naruto terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup. Dia menoleh perlahan dan terdiam saat melihat Hinata sudah berdiri di dalam rumahnya. "Kau… kenapa?"

Hinata menelan ludah sebelum menjawab, "Itu,,, Nara-san menyuruhku untuk datang mera-wat Anda. Katanya, jika Anda menolak dan mengusirku.. aku boleh masuk dari pintu samping." Hinata mengangkat tangannya yang memegang kunci. "Dia meminjamkan ini padaku."

". . ."

". . ."

Tangan Naruto terkepal seketika, "Shikamaru sialan!" desisnya dengan nada berbahaya.

Jika boleh jujur, Hinata sebenarnya tidak ingin bersikap memaksa seperti itu, yah, dia masih sayang nyawa. Perempuan itu sudah menjauhi dan menghindari Naruto dari bangku kuliah, jadi tidak mungkin sekarang dia mendekat jika tidak terpaksa?

Perintah Shikamaru terasa mematikan jika di tolak. Hinata sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa bekerja dengan orang-orang yang ternyata cukup mengerikan.

"Uhm," Hinata memecah suasana dengan menunjukkan sebuah rantang di tangannya. "Aku… bawakan Anda makanan untuk sekedar sarapan?" entah itu pertanyaan atau pernyataan.

Naruto mendesah lirih dan melanjutkan jalannya menuju dapur. Sepertinya percuma jika dia mengusir perempuan itu. Jika dia melakukan itu, bisa-bisa saat Shikamaru pulang, dia yang diusir dari persahabatan mereka.

Bukan berarti Naruto takut pada Shikamaru, hanya saja Naruto tidak bisa membantah jika Shikamaru sudah serius dalam suatu hal. Entah apa yang di rencanakan pria Nara itu, Naruto tidak tahu dan sepertinya kali ini rencana pria Nara itu akan menyulitkannya.

Maybe?

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N : telat up ya? Maaf deh, lagi banyak kegiatan. Sekarang aja badan lagi pegel semua karena penataran kemarin. Maaf ya, semuanya.

Terima kasih untuk semua readers yang masih menunggu…

Yukiko otsutsuki ; Baenah231 ; Anonym ; nawaha ; Uzumakisrhy ; Zty NaruChan ; anishi ; billyyo566 ; JustNaruHinaAndKibaTamaLover ; Green Oshu ; megahinata ; yuka ; Anonim guest ; hanayou ; julit477 ; Anna Renatana ; Teoni-mio ; Ahra ; kiryu ; andya ; Gaara van astrea ; Sella Ameilia ; Seulngie9669 ; hl ; kayyashima ; Mouri Rini ; noy ity ; 44zmie ; Hyuuzu Avery ; Diana_makiah11 ; Diana_makiah11 ; Diana_makiah11 ; agungYak123 ; harmony ; Durarawr ; Irna Putri Asuna420 ; Guest ; Zyxremo ; Guest ; Larassy9 ; KinoshitAries94 ; Guest ; Nami ; Yuchid4 ; Fajar Kun ; CloverLeaf as Ifanaru ; leonardoparuntu9 ; Namaki Shiodota ; Guest.