Chapter 4 - "Distiction"
BTS Jimin X Reader || Marriage-life, Fluff, Romance || R || 849 words
.
.
.
Kelopak mata itu sudah tertutup menyembunyikan manik-manik kokoa gelapnya ketika mataku sendiri terbuka tiba-tiba. Tak ayal begitu sunyi, jarum pendek pada jam dinding sudah terdekap pada angka 2 di sana. Kenapa aku bisa terjaga dini hari begini?
Kumiringkan tubuh memandang wajah bagian samping milik Park Jimin, juga mendengarkan suara napas-napas panjangnya yang berebut tahta dengan suara berdetiknya jam ditengah kesenyapan ini. Dia terlihat begitu tenang ketika tenggelam dalam lelap, tidur dengan nyenyak rupanya. Aku yakin hari ini ia kelelahan setelah membantuku membersihkan rumah, jadi syukurlah, dia beristirahat dengan baik.
Aku tidak begitu menyesal meski mataku tak dapat lagi terpejam, karena itu artinya aku dapat memandang wajah damai itu lebih lama. Jimin itu orang yang tak pernah diam, banyak bicara dan banyak bergerak, hanya saat-saat seperti ini aku dapat menjumpai diri tenangnya.
Berbeda denganku, memang. Kami sudah berbeda sejak awal.
Memperhatikan Park Jimin yang berkonsentrasi dengan bola basket tanpa peduli pada terik matahari yang menimpa kulit coklat terangnya ataupun pada bulir-bulir keringat yang tampak membanjiri mulai dari dahi sampai dadanya, membuatku berpikir bahwa pacarku itu berbeda denganku.
Seperti dirinya yang hanya memberi reaksi sebuah kerutan dahi dan kedikan bahu ketika aku bertanya suatu sinomin kata yang lebih cantik untuk memperindah diksi dalam prosa yang kutulis, atau sepertiku yang selalu menolaknya untuk menjadi kawan latihan basket, dance, atau hal-hal semacam itu karena aku tahu gerakanku lamban, kaku, dan tidak responsif.
Jimin ibarat musim panas yang penuh semangat, sedangkan aku seperti musim gugur yang sepoi sendu. Kami dekat, kami bersisian, tapi tetap saja kami tidak sama.
Lalu, apa keputusanku untuk menerimanya sebagai pacarku sebulan yang lalu itu benar? Kami bahkan tidak begitu dekat sebelumnya, hanya saja kebetulan sepasang panah cupid mengenai punggung kami lalu menginfeksikan virus bernama cinta dari ujung mata panah itu.
Sekian detik kemudian, aku beralih fokus kembali pada kamus bahasa di tanganku. Diriku adalah aku, yang lebih cocok duduk mematung dengan cumbuan sastra di bawah lindungan rindang pohon serta belaian angin kering siang hari. Aku mulai berhenti berharap banyak pada hubungan kami, karena aku dan pemuda itu berbeda―alasan itu lagi.
"Apa kamu benar-benar membaca?" Jimin dengan napas terengahnya menghampiriku, "Tatapanmu kosong. Kamu sedang melamun, kan?"
Pemuda berkaus singlet itu tidak salah, meski benda itu terbuka hingga menghalangi sebagian mukaku dari sudut pandang depan, pikiranku tidak benar-benar tertuju pada setiap alfabet yang ada di sana. Aku memikirkan tentang kami.
"Hey, ada apa, sih?" Jimin duduk menghadapku dari samping sekarang.
Aku menggigit bibir, ragu apakah aku harus mengatakan tentang itu pada Jimin. Aku takut ia salah paham, tapi aku tidak bisa menahannya lebih lama. "Jimin-ah, Apa kamu pikir hubungan kita bisa bertahan lama?" aku mulai berbicara akhirnya, dan sambutan awal darinya adalah mengernyit. "Maksudku, kita ini kan berbeda. Aku yakin kamu juga berpikir demikian."
Jimin tergugu, tak ada balasan―selama lebih dari dua puluh detik, kurasa. Aku mulai gelisah, takut ia merasa tersinggung atau sesuatu yang akan membuatku menyesal telah membahas hal ini. Tetapi kemudian ia menggenggam pergelangan tanganku yang memegang buku, mendorongnya ke bawah hingga benda itu enyah dari posisinya sebagai penghalang wajahku.
Sejemang kemudian, ia membuat bibir kami bertemu. Mengejutkan sampai jantungku akan kabur dari rangkulan tulang rusuk di dadaku rasanya. Aku sama sekali tidak menerka bahwa ciuman pertama kami akan terjadi hari ini. Belasan sekon dimana wajahku memanas oleh kecupannya bersama dengan pertanyaan dalam hati; 'Jadi apa yang Jimin pikirkan ketika kubilang kami berbeda?'
"Siapa yang peduli dengan perbedaan? Aku menyukaimu, dan kamu menyukaiku, lantas apa salahnya jika kita bersama?" Itu balasannya, itu yang ia pikirkan selama dua puluh detik tergugu dalam bisu tadi. "Lagi pula, tidak ada manusia yang benar-benar sama di dunia ini."
Aku menghela napas, lega karena ternyata ia tidak marah. Selain itu, jawabannya mampu menyelamatkanku dari kegundahan yang selama ini menghantam pikiranku setiap waktu. Aku terlalu banyak menghitung distingsi diantara kami hingga lupa pada satu gagasan sederhana; apa salahnya jika kami bersama?
Lagi pula, kendati keserupaan mutlak antar manusia itu tak pernah nyata eksistensinya, tapi...
"Ada kucing! Astaga, imutnya!" Jimin berlari kecil menuju kucing loreng di seberang lapangan lalu membawanya kemari. "Lihat, bukankah kamu juga menyukai kucing?" ia mengelus bulu-bulu itu lembut, membuatku tertarik untuk ikut mengelusnya.
...Tak terdapat pula dalam teori manapun sepasang manusia yang benar-benar berbeda. Setiap individu dengan individu yang lain pasti memiliki kesamaan, setidaknya satu.
Benar-benar kucing yang manis, kami berdua sama-sama jatuh hati dengan makhluk ini.
Kuputuskan untuk mendaratkan kecupanku pada pipi spotless milik suami tercintaku sepanjang masa. Terucap kata terimakasih secara lirih mengingat bahwa selama ini ia selalu menghangatkanku dengan aura musim panasnya.
Park Jimin adalah sosok yang kuat dan tegar, tetapi ketika bersamaku, entah mengapa ia menjadi sangat manja dan kadang kelewat lembut. Lantaran itu, aku berjanji akan mendedikasikan seluruh hidupku untuk merawatnya. Menjadi angin musim gugur yang menguapkan peluh yang membuatnya gerah, sebagai balasan atas senyum cerah yang tak pernah absen di wajahnya setiap hari untukku.
Dan karena,―demi Tuhan― aku mencintai pria ini.
Jimin bergerak menarikku dalam peluknya, entah karena ia terbangun sebab kecupanku atau bergerak hanya karena ia memang terbiasa melakukan itu selama ia tidur. Aku tidak tahu pasti, tapi aku merasa sungguh nyaman dibuatnya, rasa kantukku jadi mulai menjalar kembali.
