A/N: Selamat datang di chapter 3 kawan-kawan! Sekali lagi para Boboiboy dan Fang adalah milik monsta, Danganronpa dan Monokuma adalah milik Kodaka dan OC seperti Rra, Lily dan Boboiboy OC yang lain milikku ^^
.
.
.
Kasus 1 : Dalang Dibalik Permainan (Hari-hari Abnormal)
.
.
.
"Selamat datang di ruang sidang!"
.
.
.
Sekarang waktunya...
Untuk Class Trial.
.
.
.
"Upupupupupu~ Ayo kita mulai Class Trialnya~!"
.
.
.
_Class Trial dimulai_
.
.
.
"Korbannya adalah Cloud, si SHSL Level Doll Maker.." Ujarku.
"Korban meninggal karena diracuni." Tambah Rra.
"Pelakunya menggenakan Jas lab dan juga sebuah masker gas." Imbuh Lily menerangkan.
"Ayo percepatlah." Gumam Sand. "Taufan, aku menuduhmu."
"A-apa!? Kenapa!? Oh.. aku tau apa yang kau pikirkan!" Ujar Taufan. "Hanya karena aku adalah seorang SHSL Scientist bukan berarti aku pembunuhnya!" Protes pemuda itu.
"Taufan ada benarnya juga." Bela Ice, "Mungkin pelaku sebenarnya berusaha menjebak Taufan."
"Teori dari Ice bisa jadi benar" Ujar Dark mengiyakan.
"Aku bahkan tak tau lokasi lab atau jenis lab itu." Kata Taufan.
"Oh ya!? Kau pikir aku bodoh apa!? Bagaimana bisa seorang scientist tidak tahu dimana letak lab?!" Teriak Sand marah.
"Kalian berdua tolong tenang, Kita bisa membicarakan kasus ini secara damai!" Ujaku, mencoba untuk melerai mereka.
"Tch."
Sebuah kain yang terbakar, hidrogen sianida, lengan robot, dan sebuah kaleng semprot? Bagaimana caranya aku menyelesaikan kasus ini? Benang dan jarum juga.. hmm..Ayolah! Pikirkan!
"Pelakunya memakai masker gas agar ia tidak menghirup racunnya." Tambah Lily.
"Sebenarnya, aku tidak setuju dengan pendapatmu, sayang.." Kata Solar tiba-tiba.
"Apa?"
"Pelakunya bisa menggunakan masker gas untuk memindahkan racun itu ke dalam kaleng semprot, kan? Ingat, jenis racunnya berbentuk gas dan-"
"Tunggu," Potong Blaze.
"Bagaimana bisa kita tahu kalau senjatanya adalah gas beracun?" Tanyanya sangsi.
"Ya, itu benar." Kata Halilintar. "Dan bagaimana kau tau bahwa pelakunya memindahkan racun itu?"
"Yah..."
"Itu karena Hidrogen Sianida adalah jenis gas beracun" Ujar Taufan. "Aku pernah belajar di kelasku bahwa siapapun yang bernafas dalam gas itu akan langsung mati."
"Itu benar." Kata Emerald. "Jika dia mengirim racunnya, rencana si pelaku ini pasti lebih rumit dibanding yang kita kira, jadi kita harus mengetahui rencananya lebih dulu."
"Yah, kita tidak menemukan luka apapun di tubuh Cloud." Ujar Rra. "Tapi ada darah yang mengucur dari hidung dan mulutnya."
"Itu adalah bukti bahwa jenis gas yang digunakannya beracun, dan kenapa si pelaku memindahkannya.." Kata Lily menjelaskan. "Itu karena si pelaku tahu tentang denah ventilasi udara sekolah."
"Ventilasi udara?"
"Ya. Ingat saat aku meminta Rra keluar dari ruangan saat berada di Lab kimia? Itu karena aku memintanya untuk menyalin gambar denah ventilasi udara." Jawabnya.
"Ah begitu.."
"Kita bisa lihat, kalau lengan robot ditemukan di sini, di ruang olahraga oleh Ice. Dan korbannya ada di sebelah sini, di lab kimia." Ujar Rra seraya menunjuk peta lokasi yang tengah ia genggam.
"Ah aku mengerti. Pelakunya menggunakan ventilasi udara untuk mengirim gas beracun dari tempat yang jauh." Kata Dark.
"Tepat sekali." Ujar Lily.
"Lalu bagaimana dengan ruangan yang lainnya?" Tanya Fang, "Ventilasi udaranya terlihat terhubung dengan ruangan yang lain."
"Kau tahu jawabannya kan, Gem?" Tanya Rra seraya tersenyum pada pemuda itu.
"Ya, pelakunya mengatur waktu di lengan robot itu. Pada jam 02.30" Jawabku.
Pemikiran yang bagus Lily... Rra.. sekarang aku mengerti apa yang kalian bicarakan.
"Pada waktu itu kalian sedang berada di kafe, tempat yang mana tidak terhubung dengan ventilasi udara, jadi kalian tidak teracuni. Dan pada pukul 03.00, ada sesuatu yang aktif dan membersihkan udara." Kataku menjelaskan. "Benar 'kan, Monokuma?"
"Benar~, dari pertama kali kalian disini pembersih udara telah dipasang di semua ruangan yang ada di sekolah ini! Kalian menyadarinya, hebat-hebat! Upupupupu~" Ujar Monokuma terkekeh.
"Dan pada waktu itu, udara beracunnya menghilang. Itulah cara si pelaku membunuh Cloud." Ujarku.
"Aku sebenarnya penasaran.. Hey Magnet, kau melihat Cloud sebelum dia tewas, 'kan?" Tanya Blaze.
"Ya?"
"Mungkin kaulah pembunuhnya!
"Apa yang kau bicarakan? Kita baru saja membahas gas beracun, jika aku pergi ke lab kimia, aku akan mati juga!" Protes Magnet. "Mungkin kau yang membunuhnya, Blaze!"
"Aku hanya bermain video game dengannya, bagaimana bisa sebuah video game membunuhnya?" Tanya Blaze.
"Kalian berdua, tolonglah, hentikan" guman Fang kesal.
"Pertanyaanya adalah... bagaimana bisa si pelaku mendapatkan lengan robot? Yah, salah satu alasannya mungkin adalah untuk menyembunyikan sidik jarinya." Kataku menjelaskan lagi.
"Dan ketika Cloud masuk ke dalam ruangannya, ia menghirup gas beracun itu lalu tewas. Selanjutnya si pelaku menyembunyikan botol itu ke dalam boneka teddy bear milik Cloud." Tambah Lily.
"Yah, kita menemukan beberapa jahitan yang berantakan di boneka Cloud." Ujarku.
"Saat itu mungkin si pelaku masih punya waktu untuk menjahit boneka, jadi jas lab yang ia kenakan sedikit terkontaminasi oleh racun." Kata Fang. "Berdasarkan dugaan yang ada, bisa kubilang bahwa pelakunya memang sangat pintar."
"Jadi, kain yang terbakar itu pasti berasal dari jas lab yang digunakan oleh si pelaku, itulah mengapa ia membakarnya dan menggambil salah satu dari jas yang tersedia untuk menggantikan jas lab yang dia gunakan."Tambah Sand.
"Bingo." Ujar Lily puas.
"Lalu, dimana si pelaku membuat itu semua? Dan bagaimana?" Tanya Emerald.
"Tentu saja di kamar mereka," Jawab Thorn polos.
"Kau bodoh ya? Kalau pelakunya membuat benda itu di kamarnya, ruangannya pasti akan sangat berantakan! Sebagai tambahan, Ice sudah mengecek seluruh kamar di asrama. Semua kamar disana rapi dan bersih!" Sahut Sand kesal.
"Tidak perlu menggunakan kata kasar seperti itu kan?" Ujar Solar kesal. "Dan ngomong-ngomong, gudang yang ada di lantai empat terlihat sedikit berantakan, disana ada beberapa kabel dan juga kertas rancangan"
"Bagaimana dengan racunnya?" Tanya Dark."Bagaimana bisa pelakunya memindahkan racun, padahal efek racunnya mematikan?"
...
"Ia menggunakan masker gas." Jawab Rra. "Ah, pelakunya benar-benar cerdik."
"Dia menipu kita." Tambahnya.
"Apa?!"
Dia... menipu kami...?
"Apa maksudmu, Rra?" Tanya Magnet heran.
"Tujuan dia untuk menipu kita adalah.. untuk membuat kita kebingungan"
Hah?
"Bagaimana kalau aku jelaskan pada kalian tentang teoriku," Ujar Rra. "Menurut kalian apakah ada kemungkinan si pelaku memindahkan racun itu setelah lengan robot dan jas labnya ia gunakan, setelah itu ia membawa botol kosong ke dalam kamar Cloud?"
"Yah, bagian pertama memang masuk akal tapi bagian terakhir benar-benar terdengar bodoh." Timpal Halilintar.
"Tunggu" Aku memotong perdebatan mereka. "Mungkin dia benar"
"Berdasarkan keperibadian Cloud, apa yang akan terjadi jika di dalam kamarnya ada sebuah botol racun yang bahkan tak ia tau asalnya?" Tanyaku pada mereka.
"Dia... akan panik.." sahut Sand.
"Tepat sekali." Ujar Rra. "Itulah kenapa ia mencoba untuk menyembunyikannya di dalam boneka. Sangat wajar jika jahitannya berantakan karena ia sedang dalam keadaan panik. Dia tidak ingin ada orang yang curiga padanya karena memiliki sebuah botol racun, maka ia menyembunyikannya disana."
"...tidak buruk" Puji Dark.
"Masuk akal, karena sebelum kita menemukan Cloud, semua orang sedang berada di kantin." Ujar Thorn.
"Oke, ayo kita lanjutkan dengan teori ini sebagai dasarnya." Kata Lily.
"Jadi si pelaku memindahkan racunnya, menaruh sebuah botol racun kosong di dalam kamar Cloud. Pelakunya juga mengambil jas lab baru, dan membakar jas lab yang telah ia gunakan bersamaan dengan masker wajahnya, tanpa menyadari bahwa ada bagian jas yang tidak terbakar." Tambahnya.
"Setelah itu ia meletakan lengan robot di dalam ventilasi udara ruang olahraga, dan mengatur waktunya. Ia lalu bergabung dengan kita di kafe. Dan setelah kita menemukan Cloud, ia berlagak seperti orang yang tidak tau apa-apa, dan ikut menjalani persidangan ini bersama kita." Kata Rra.
"Apa itu benar, Taufan?" Tanyaku padanya.
"Apa? Apa kau menuduhku?" Tanya Taufan balik. "Hahaha! Oke, oke ayo semuanya pilih aku untuk dihukum dan masalahnya akan selesai!"
"Huh.." Gumam Taufan dengan tatapan dingin, ekspresinya berubah drastis dari apa yang barusan kami lihat.
"Apa yang kau pikirkan Gem! Aku kan temanmu! Teman masa kecilmu! Kau mengenalku, Gempa! Apa yang membuatmu mengira akulah pembunuhnya?!" Tanya Taufan penuh amarah.
"Taufan?" Tanya Halilintar bingung.
"Satu-satunya orang yang punya pengetahuan tentang cara membuat lengan robot... hanya kau, Taufan." Jawabku.
"T-tapi aku bahkan belum berkeliling untuk mengetahui lokasi sekolah!" Seru Taufan, mencoba untuk membela diri.
"Sebenarnya, semua jam tangan yang kalian gunakan kecuali para gadis, terdapat sebuah tab. Jadi disana ada beberapa peraturan, peta, dan lain-lain."Ujar Monokuma.
"Aku sudah tahu itu." Kata Rra.
"Bagaimana bisa?" Tanya Magnet heran.
"Aku adalah seorang SHSL Secret Agent. Hal-hal yang ku temukan di sekolah ini begitu aneh dan mencurigakan, jadi itulah kenapa aku mencari tahu di waktu luang." Jawab Rra.
"Ya, aku juga sudah tahu kok." Kata Solar.
"Kau tidak perlu pergi keluar untuk mengetahui lokasi sekolah, Taufan. Karena kau bisa melihatnya lewat jam tanganmu." Ujarku, "Ditambah, ketika aku memberitahumu, Halilintar dan Thorn tentang kasus ini, aku tidak pernah menyebut jenis racun ataupun nama yang spesifik."
"Tapi bagaimana kau bisa tau kalau jenis racunnya adalah Hidrogen Sianida?!"
"Tch..."
"Ayolah Taufan. Aku sudah mengenalmu sejak lama... katakan padaku kau bukan pembunuhnya!" Tanya Halilintar panik.
"Monokuma..." Panggil Magnet. "Apa sebenarnya yang kau berikan pada kami saat pertama kali kami tinggal disini?"
"Aku memberikan kalian semua peralatan yang kalian perlukan sebagai seorang SHSL. Sebagai contoh, Halilintar adalah SHSL Martial Artist, aku memberikannya samsak tinju. Dan Contoh lain, Taufan. Si SHSL Scientist, sebuah jas lab dan juga beberapa buku pengetahuan tentang sains." Jawab Monokuma.
"Terimakasih Monokuma, aku mengerti" Ujarku.
"Aku bukannya ingin membantu, tapi... Sama-sama.. upupupupu~" Kata Monokuma seraya terkekeh.
"Kalau begitu Taufan, tunjukan pada kami jas lab milikmu." Titahku.
"Baiklah." Ujarnya, ia lalu mengambil jas lab yang sudah dibawa oleh para robot mini Monokuma.
"Ini." Kata Taufan.
"Terlihat seperti baru iya kan?" Ujarku. "Coba pakai."
"Tch.." Decak Taufan, ia lalu menggunakan jas itu tapi ukurannya tidak pas dengan tubuhnya.
"Si pelaku tidak mencari ukuran yang pas untuk tubuhnya ya. Bukankah begitu?" Sindir Rra.
"...Kenapa?" Tanyaku padanya. "Kukira kau..."
"Apa? Seorang pemuda ceria yang serampangan? Yang tidak peduli dengan masa depan?" Tanya Taufan. "Ya, aku pernah menjadi sosok itu."
"Tapi setelah aku melihat video itu... ayah dan ibu... mereka... jatuh miskin.. karena usaha mereka bangkrut akibat usaha Keluarga Cloud. Kau tau apa yang kurasakan saat itu? Marah." Ujar Taufan.
"Aku tau jika aku memilih jalan ini, aku akan mati. Aku akan kehilangan kalian dan juga Halilintar. Tapi aku harus melakukannya.. mereka orang tuaku.. aku ingin mereka agar.. bahagia.."
Setetes air mata mengalir turun dari kelopak matanya..
Aku belum pernah melihat Taufan menangis..
...Sama sekali.
"Tapi kau masih teman kami Taufan.." Ucap Halilintar dengan nada panik.
"Maafkan aku, teman-teman.." Ujar Taufan. "Aku yang memulainya, semua ini salahku.."
"Tapi semuanya sudah terjadi.. Aku harus dihukum mati ya kan, Monokuma?" Ujarnya lirih.
"Tapi aku-..aku tidak ingin kehilangan temanku sekarang!"
"Maaf, Hali.."
"Sekarang, karena kasusnya sudah terpecahkan, tarik tuas yang ada di depan dan pilihlah orang yang terduga sebagai si pelaku!"Ujar Monokuma. "Kalau kalian memilih pelaku yang tepat, hanya dialah yang akan ku hukum, tapi kalau kalian salah~ kalian semua yang akan di hukum kecuali si pelaku!"
Jadi semuanya menarik tuas mereka masing-masing..
Aku..
Aku tidak bisa melakukan ini..
Lalu dibelakang Monokuma turunlah sebuah monitor raksasa yang menampilkan mesin slot yang sedang diputar, setelah berhenti berputar, semua slot berhenti pada logo Tornado.
"Tepat sekali! Pembunuh cerdas yang membunuh Cloud adalah si SHSL Scientist! Taufan!" Ujar Monokuma. "Tapi.. Halilintar dan Gempa.. kenapa kalian memilihdiri sendiri?"
"Tch..."
"Kenapa kalian tidak memilihku? Aku kan pembunuhnya.." Ujar Taufan, mencoba untuk tersenyum.
"Apa? Kau mau aku memilihmu dan melihatmu mati?" Kata Halilintar, air mata turun membasahi pipinya.
"Tapi itu tidak akan berguna.. sebagian besar dari kalian memilihku." Ujar Taufan. "Tapi terimakasih! Aku tidak akan pernah menyesal dan tak akan pernah melupakan waktu yang telah kita habiskan bersama-sama!"
Ia berlari ke arah kami berdua.
Dan memeluk kami.
Aku tak ingin melepasnya..
Kami balas memeluknya.
Dia tersenyum.
"Tolong.. berjanjilah padaku." Ujar Taufan dengan lirih, "Bertahanlah dalam game pembunuhan ini untukku, oke?"
Kami berdua mengangguk dan menghapus air mata.
Dia hanya tersenyum.
"Hey, Monokuma. Sekarang waktunya, 'kan?" Kata Taufan.
"Yah~~ baiklah! Upupupupupu! Ayo semangatlah kalian semua! Waktunya hukuman!" Seru Monokuma lalu menghantam sebuah tombol merah raksasa menggunakan palu.
##Taufan terbukti bersalah, menyiapkan eksekusi mati##
~Hukuman untuk SHSL Scientist: H2SO4~
Monokuma mengenakan sebuah mantel lab. Kedua pergelangan tangan dan kaki Taufan diikan oleh tali tipis seperti kawat, kawat itu menarik kedua pegelangan tangan Taufan untuk membuatnya meminum racun yang ia pegang, ia tersedak dan batuk terus-menerus. Hingga tiba-tiba pintu yang ada di bawah kakinya terbuka dan pemuda itu akhirnya jatuh.
Dia merasakan ada yang aneh dari cairan ini...
Itu adalah asam sulfat.
Monokuma lalu menyalakan korek api dan melemparkannya kedalam cairan itu yang langsung terbakar bersama Taufan.
Itulah akhir dari sang SHSL Scientist.
Dan kami...
Hanya bisa melihatnya dari sini.
"Taufan!" Teriak Halilintar, ia menangis.
Lagipula siapa yang bisa disalahkan..
Dia adalah sahabat kami.
Tep.. tep..
Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahku.
Seseorang memelukku dari belakang.
Aku menoleh,
...Ternyata Sand.
"...Tak apa.. Taufan memang sudah pergi sekarang.. tapi dia masih sahabatmu.. meski dia telah tiada, aku yakin ia masih percaya pada kalian..." Ujar Sand. "Kau yang menghiburku waktu itu, Gem.. setidaknya inilah yang bisa aku katakan sekarang padamu.."
Aku memeluknya kembali...
"Terimakasih"
Kulihat Ice dan Blaze tengah menenangkan Halilintar..
"Tak apa Gem, sekarang kami semua adalah teman-temanmu." Ujar Fang.
"Kau sudah melakukannya dengan baik. Aku percaya, Taufan ingin kau dan Halilintar mengungkap kebenarannya.. karena ia percaya padamu." Kata Dark.
Aku mengangguk.
"Class Trial sudah berakhir~ Upupupupupu~ ternyata tidak membosankan~ Kalian dipersilahkan untuk kembali ke kamar masing-masing!"
.
.
.
Aku masih belum percaya kalau Taufan sudah tewas..
Aku pergi menuju kamar dan mencoba untuk tidur.
Tiba-tiba..
Tok..tok..tok..
Aku membuka pintu
"Lily?"
"Gempa.."
Aku mempersilahkannya masuk,
"Taufan adalah seorang pemuda yang baik.."
"Ya.."
"Jangan bersedih.." Ujar Lily. "Kau adalah seorang SHSL Leader.. di situasi terburuk seperti misalnya dalam perang pun kau harus tetap melangkah maju. Meskipun beberapa prajuritmu tewas.." Tambahnya. "Kau harus terus melangkah, untuk memenangkan peperangan. Bersama dengan para prajuritmu yang tersisa dan percaya pada mereka."
"Jadi...um.." Gumam Lily.
"Kau bisa percaya pada kami"
Dia mencoba menghiburku ya..
"..Lily.." Ujarku seraya tersenyum. "Aku percaya pada kalian.."
"Aku percaya pada teman-temanku."
Dia tersenyum, lalu berjalan keluar pintu.
"Selamat malam, Gempa."
"Malam.."
.
.
.
Chapter 1 : Dalang dibalik Permainan
Selesai.
.
.
.
Danganronpa
.
.
.
Survivors
13 Siswa
