"ARGHHHHHHH" Jungkook malu bukan kepalang mengingat kejadian kemarin dimana ia dan Jimin HSHWHSHDDUDHDIDN
JUNGKOOK KAU MEMALUKAN! SEORANG LELAKI SETIA YANG TANGGUH MENANGIS DI HADAPAN MUSUHMU SENDIRI? "aku pria yang gagal huhuhu" gumam Jungkook sambil memukul-mukulkan kepalanya keatas Meja, sekilas ia melihat Jimin menoleh padanya. Jungkook buru-buru membuang muka ketika mereka tidak sengaja bertukar pandang.
Huh huh wajahnya panas!
"Ehem" itu suara Jimin, "kalian tau tidak kemarin Ju-"
"HWANG SONGSEM DATAAAANGGG"
"Jungkook jangan berteriak!"
"Tumben sekali Jungkook bersemangat berlajar"
Jungkook hanya nyengir kuda, di lihatnya Jimin-yang berada dibarisan depan tertawa keji tanpa suara. Dasar setan, awas saja jika Jimin membocorkan aibnya "sialan, harusnya aku waspada saat ia menyuruhku menangis. Apa ia memotretku diam-diam? Atau jangan jangan ia merekam suara ku? Arghh"
"Pshhh Jungkook, kau baik baik saja?" Jungkook menoleh kearah Taehyung yang menatapnya khawatir. "Hwang sangsem sudah masuk"
Ia mengangguk, bersyukur tadi ia hanya bisik-bisik. Memilih fokus kedepan dimana Hwang songsem sedang berdiri-oh sepertinya ada anak baru yang berdiri di sampingnya, masih terlihat asing dimata Jungkook.
"Perkenalkan anak-anak, ia anak baru pindahan dari Hongkong."
Semua anak anak sekelas berteriak uuuu karna jarang-jarang di Cheongdam mendapat pindahan murid dari luar negri
"Perkenalkan, namaku Han Seungyeon, kalian bisa memanggilku Seungyeon salam kenal."
. . .
Han Seungyeon
Gadis pindahan itu tak menunggu lama menjadi sangat populer di Chungdeom. Wajar saja, ia cantik dan senyumnya juga manis. Memiliki eyesmile yang sama seperti jimin. Menggemaskan.
Seungyeon duduk di sebelah kanan Jungkook, kebetulan Sehun sedang sakit jadi sementara kursinya diisi oleh Seungyeon, oleh karna itu Seungyeon jika sedang bingung sering bertanya pada Jungkook, ia memang sudah fasih bahasa korea tapi masih sangat minim dengan suasana disini.
"Hah jungkook, pelajaran disini sungguh sulit. Sedikit berbeda dengan di hongkong." Keluh Seungyeon. Jungkook terkekeh "Nanti nuna juga akan terbiasa, nuna mau istirahat?"
Seungyeon menggeleng, Jimin tiba-tiba datang dari arah depan. "Jungkook, ada bekal dari umma. Tadi kau meninggalkannya" kotak bekal berwarna ungu transparan sudah berada di atas meja, Jungkook menoleh kearah Jimin, Masih sedikit awkward terntunya. "Terimakasih Jimin"
Jimin setelah memandangi mereka berdua, langsung pergi tanpa suara. Seungyeon tiba-tiba langsung menyambar Jungkook dengan pertanyaan yang membuat matanya melotot. "Yah, dia pacarmu?"
"Mwoo? Ani ani bukan dia kakak angkatku?" Jawab Jungkook ragu
Seungyeon menepuk tangannya "ku pikir dia pacarmu, yah dia sangat manis, kalian sepertinya dekat? Bisa kenalkan aku padanya?"
"M... MWOOO?"
"Ayolah Jungkook~"
"Ta... tapi nuna..."
. . .
"Han-seung-yeon" gumam Jungkook sambil menatap lurus kearah lapangan. Wanita itu sedang asik bermain voly, sedangkan disisi lapangan yang lain Jimin dan teman-temannya sedang asik bermain bola.
Pandangannya beralih kearah Jimin, namja itu menggiring bola dengan lincahnya. Sesekali ia mengusap keringat dengan bajunya hingga abs nya terlihat membuat para wanita menjerit karna ulahnya.
termasuk Seungyeon.
"Cih, apa yang bagus darinya? Pendek, chubby, kekanakan" gumam Jungkook mencibir, ia kesal sampai-sampai botol minuman di tangannya menjadi gepeng tak berdaya. "Manis dari mana, lihatlah senyumnya yang mesum itu... aiguu"
"Yah, Jungkook gantikan aku" teriak Yoongi yang mendekat, ketara sekali ia sedang kelelahan berjalan lunglai menepi ke ujung lapangan. Jungkook yang masih sibuk dalam pikirannya sama sekali tidak berkutik, mulutnya masih saja komat kamit sambil memandangi kearah Jimin. "Jungkook?" Panggil Yoongi lagi, sedikit takut ia menepuk pundak Jungkook yang mirip sekali dengan orang yang sedang kesurupan.
"Eh iya hyung?"
"Astaga, cepat gantikan aku. Yang lain sudah menunggu"
Jungkook menggeleng, hari ini ia sama sekali tidak berniat mengikuti kelas olahraga. "Yang lain saja, aku sedang malas hyung."
"Ayolah Jungkook, waktu kita tidak banyak!" Teriak taehyung dari arah lapangan. Namjoon membalas meneriaki "YA PALLI PALLI!"
"Aku tidak bisa turun lagi, aku benar benar lelah"
"Tapi aku sedang malas hyung!"
"Yaa jungkook!" Kali ini Jimin ikut ambil suara, "jangan kekanakan. Ini jam olahraga, mau ku panggilkan saem karna kau membolos hah?"
"Aku tidak bolos!" Balas Jungkook, baginya jam olahraga adalah jam bebas, kenapa mereka begitu memaksa? Ini namanya pelanggaran hak asasi manusia. "Suruh yang lain saja, atau kalian kurangi lagi satu anggota supaya jumlahnya pas!"
Jimin menarik nafas, aish anak ini keras kepala pikirnya. Berdebat dengannya hanya membuat sakit kepala. "Ya sudahlah, kelinci satu ini memang tidak bisa diajak kerja sama!"
"Ya! Berhenti memanggilku kelinci, pendek!"
"Ter-se-rah!"
Jungkook tersulut emosi, ia bangkit dari duduknya lantas mencopot salah satu sepatunya untuk ia lemparkan kearah Jimin dan
BUAGH
Jimin yang saat itu memang tanpa persiapan menjadi sasaran empuk sepatu Jungkook yang sepertinya berubah besi(?) Itu. suasana nampak hening ketika seluruh penghuni lapangan hanya terfokus kearah Jimin yang...
"Jimin, hidungmu berdarah!"
. . .
Jungkook meminta maaf puluhan kali.
Ini curang! Ummanya tiba-tiba datang setelah salah seorang guru di Cheongdam melapor anaknya kecelakaan. Sebenernya anak umma itu aku atau Jimin huh? Gumam Jungkook sambil bersungut-sungut.
Jimin terkikik dengan sumpalan kapas di hidungnya "dasar manja" sindir yang termuda sambil melipat dada. "Eoh jinja Jeon Jungkookie? Siapa tadi yang menangis minta maaf sambil menarik-narik baju ummanya eum?" Goda Jimin kemudian tertawa lagi.
Mereka berada di Mobil sekarang, bersiap ingin pulang. ummanya di panggil karna pelanggaran yang Jungkook lakukan sudah overdosis, ummanya marah tentu saja, apalagi setelah tau korbannya adalah Jimin- anak angkatnya sendiri, Jungkook memang sudah keterlaluan.
"Bersiaplah untuk di hukum kelincii"
"Diam kau!"
"Hahhh" ummanya menghela nafas, sambil terus menyetir "dengar ya, umma tidak ingin mendengar lagi kalian berkelahi atau saling ejek seperti tadi. Umma sudah cukup pusing dengan urusan kantor dan persiapan pernikahan. Jadi, bisakah kalian bekerja sama dengan umma kali ini saja?"
Jungkook menggeleng "pernikahan! Batalkan, lalu aku akan menjadi anak baik dan selalu patuh pada umma dan tidak akan berkelahi lagi dengan namja pendek ini" ujar Jungkook santai, Jimin menoleh padanya lalu dengan mulus menjitak jidat Jungkook. "Aww umma lihat siapa yang mulai!"
"Sayang~"
"KAu ini djdusishnsudidj"
"Kau yang djehejsydiebwi pendek!"
"Kelinci! manja! Tambun!"
"sayang~"
"Bantet, mesum, cempreng!"
"SUDAH HENTIKAN OKEY?"
sepertinya hari ini ia harus membeli obat Migren lebih banyak, anak-anaknya memang tidak bisa diatur.
. . .
Jimin POV
Pagi-pagi sekali aku terbangun karna suara bising dari luar, aku sekarang memang berusaha bangun lebih pagi karna tidak ingin Jungkook mengacak kamarku lagi, beruntung tempo hari ia mengembalikan semua koleksiku.
Aku keluar kamar, ada appa dan bibi-maksudku umma sedang sibuk dengan beberapa koper besar. Sedikit bingung, bukannya ini hari libur? "oh jagoan appa sudah bangun?" Panggil appa, aku tersenyum seraya mendekatinya. "Mau kemana?"
"Ada masalah di kantor jadi kami harus ke Jepang beberapa hari." Sahut Wanita yang sudah cantik dengan Makeup yang terpoles rapih. "umma mohon jaga Jungkook selama kami pergi yah Jimin?" Aku mengangguk ragu, tidak yakin.
"Kalian tidak sedang bulan madu kan?" Ujarku penasaran, appa tertawa mendengarnya lalu beliau memusut rambutku dengan lembut. "Bukan, ini murni pekerjaan. Appa tidak akan berani macam-macam"
"Jungkook akan kecewa jika kalian berbohong." Ujarku lagi meyakinkan. Mereka bilang tidak akan. Aku jadi merasa tenang, karna memang benar. Jungkook tidak suka di bohongi.
"Umma tidak bisa membangunkan Jungkook sekarang karna percuma. Penerbangan sejam lagi jadi kami harus berangkat." AKu mengangguk mengerti, ikut mengantar mereka sampai depan rumah. "Oh iya, kau bisa memasak di dapur, masih ada sisa nasi dingin dan daging. Dan satu lagi, Jungkook tidak bisa makan makanan pedas. Jadi jangan coba coba mengerjainya ya jimin?" Aku terkekeh geli mendengarnya, lalu mengangguk pada umma. "Iya umma tidak akan"
"Anak pintar"
"Kita pergi dulu ne"
. . .
"Aaahh aku bosaaan" Jungkook berguling-guling diatas sofa, sedangkan Jimin fokus kekotak persegi di hadapannya. Merengut imut karna jika mengajak jimin bermain pun akan percuma
Bukannya menghilangkan bosan malah menambah pikiran.
"Umma kenapa pergi tidak pamit padaku sih"
"Karna kau jika tidur seperti orang mati" sahut Jimin, Jungkook mencibir. "Sudah ya Jiminnie hyuung aku sedang tidak mood bertengkar dengan mu"
Ting nong ting nong
"Buka pintu sana~"
"Hiih, siapa yang bertamu di hari libur begini, mengganggu saja." Jungkook berjalan sempoyongan menuju pintu depan, ia membukanya tanpa melihat dari lubang pintu.
Oh noona? siapa yang mengundang Seungyeon noona kemari?
"KAMI DATAAANGGG~~" Teriak Taehyung dan Hoseok yang ternyata bersembunyi. Pasangan ini memang sedikit kekanakan. "Kami mengajak Seungyeon kesini, karna dia bilang ingin tahu rumah mu dan jimin." Jelas Taehyung setelah mendapat tatapan 'meminta penjelasan' dari Jungkook.
Huuh Jujur saja ia merasa kurang nyaman dengan adanya Seungyeon disini.
"Jimin, aku memasak udon untuk mu. Ku dengar kau menyukainya"
"Eoh jinja?" Jimin terlihat sangat senang dengan senyumnya yang sangat lebar. Ia mendekati Seungyeon dengan cepat. Pendekatan yang bagus Han Seungyeon.
"Wah terimakasih"
"kami juga membawa mie ramen pedas, bolehkan memasaknya disini?"
"Silahkan pakai saja"
"Setelah itu kita makan bersama yeay" ujar Taehyung kemudian, ia berlari kearah dapur diikuti Hoseok. Seperti rumah ini adalah rumah mereka, tapi Jungkook tidak perduli. Ia lebih memilih duduk diatas sofa sambil mencomoti snack kentang dari plastik bawaan Taehyung.
"Bagaimana rasanya Jimin? Enak?"
"Enak sekali! bagaimana bisa kau memasaknya seenak ini?"
Seungyeon terkekeh, "oh ya Jungkook jika kau ingin juga-"
"Aku tidak suka udon" potong Jungkook cepat, Seungyeon terdiam untuk sesaat tapi dengan cepat ia tersenyum lagi. "Yah, sayang sekali."
Tak berapa lama pasangan Taehyung dan Hoseok datang dengan dua panci berisi Mie Ramen. Dari baunya saja sudah tercium kemana-mana, mereka semua nampak senang dan langsung berkumpul di ruang tengah, tak terkecuali dengan Jungkook.
"Ayo makaann~~"
"Jungkook makan yang ini saja, kau tidak suka pedas kan?" Hoseok menunjuk satu panci yang warnanya memang sedikit berbeda membuat jungkook mengangguk semangat dengan sumpit yang sudah terpasang manis di jarinya. "Huaah enakk"
"Enak, tapi karna aku sudah makan makanan buatan Seungyeon aku jadi kenyang."
"Yah, makan sedikit saja Jimin ini ramen baru. Kami membelinya khusus untuk kalian"
"Hahaha aku senang sekali, Jimin benar benar menyukainya huh? Nanti aku buatkan lagi ya?"
Heh-_-
Seungyeon noona kenapa jadi genit seperti ini. Jungkook tidak menyukainya, pokoknya tidak suka! Entahlah, melihat Jimin yang tersenyum lebar seperti itu pada seungyeon membuatnya sedikit...
Aneh
"YAH JUNGKOOK KAU MAKAN RAMEN YANG MANA?!"
"AHHH PEDAS PEDAS PEDAS!"
"jungkook kau tidak apa-apa?" Tanya hoseok khawatir melihat Jungkook kelimpungan meniup-niup bibirnya yang merah. "Rasanya panas dan pedas hyung huhuhu sakitt"
Jungkook bangkit dari duduknya, ia berlari kearah kamar mandi mencari sesuatu yang bisa mendinginkan bibirnya, Jimin tidak tinggal diam ia segera pergi kedapur mengambil gula dan sendok lantas menemui Jungkook yang sudah menangis di kamar mandi.
"Hyung~ tidak usah kemari aku malu." Isak Jungkook sambil menutupi wajahnya yang merah. Jimin mengunci pintu kamar mandinya lalu berjongkok di hadapan Jungkook, memaksanya untuk membuka wajahnya.
"Sini, makan gula dan panas nya akan hilang." Jungkook menggeleng. "Ayolah" bujuk Jimin, berusaha membuka tangan Jungkook.
Bibir Jungkook sedikit bengkak dan merah, ditambah dengan tangisannya membuat wajahnya menjadi tambah buruk. "Panas hiks"
"Sudah diam, makan gulanya!"
"Andwae.. aku tidak suka terlalu manis!"
"Kau ini?" Aishh Jimin nampak kesal bukan kepalang, ia menjilat bibirnya... entah apa yang ada di pikirkannya ia memasukkan gula itu ke mulutnya sendiri, lalu dengan cepat menarik tengkuk Jungkook, mendekatkan bibir mereka satu sama lain hingga tidak berjarak sesenti pun.
Mata Jungkook melotot, ia kaget! Jimin menciumnya? JIMIN MENCIUMNYA? ;AAAA;
Tidak melakukan perlawanan sama sekali, Jimin memiringkan kepalanya untuk mendapatkan space lebih pada bibir Jungkook. Bibir Jungkook sedikit terbuka, disaat itu lah Jimin mendorong gula yang berada di bibirnya masuk kedalam bibir Jungkook. Tangan Jimin menarik lebih dalan tengkuk nya hingga cairan gula yang sudah bercampur dengan air liurnya itu benar benar masuk.
Rasanya, manis dan hangat.
Jungkook terdiam, Otaknya seperti disedot pipa elien sehingga tak bisa berpikir apapun lagi saat Jimin melepas 'ciuman mereka' matanya mengerjap-ngerjap kosong kearah Jimin, Jimin terkekeh.
"Bagaimana apa sudah lumayan?"
"Hah?" Tanya Jungkook yang masih kosong.
"Bodoh.."
Tbc~~~
Oke ini sumpah gagal ;AAAAAAAAAAAA; maksa ih tapi gapapa yang penting mereka kissu/?
Sebenernya ide diotak banyak tapi setengah-setengah. Masih mikir nanti nasip emak bapaknya gimana, udah honey moon juga /g. Jadi kalo punya saran saya sangat senang hati menampung❤❤ review aja.
Terus yang yang kemarin udah review makasih banyak yah. Bikin nulis jadi semangat❤❤ maaf tapi ff nya makin absurd he he he
Note : dilarang menghina, menjelek-jelekkan Salah satu cast disini. Saya cuma masukin mereka untuk nambahin konflik+memperpanjang durasi, terimasih.
