She is My Wife
.
.
Super Junior Ffn..
Warning!
GS, full typo, OOC, ajaib, dan sebagainya.
Mereka adalah milik diri mereka sendiri dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Fic ini punya saya.
Silahkan dibaca dan jangan lupa review, READERS ^o^
…
Mataku berkedip beberapakali, berharap ini hanyalah mimpi buruk. Namun, senyum sendu Yesung Eonnie menyadarkanku, bahwa ini adalah kenyataan.
Disaat pandangan mataku bertemu dengan Kyuhyun, namja itu hanya memalingkan wajahnya yang seketika memerah entah karna apa. Perasaan takut mulai menyelimuti hatiku. Bukan ini.. bukan hal seperti ini yang harus terjadi diantara kami.
"Eon, jangan salah paham. Aku dan Ryeowook sudah berteman sejak kami masih kecil. Aku sudah menganggap Ryeowook sebagai Oppa-ku sendiri. Aku dan dia.. sudah seperti saudara."
Aku ingin menangis sekarang juga. Tapi, tidak bisa. Aku harus terlihat tegar didepan Yesung Eonnie yang sekarang sedang dalam keadaan rapuh. Kim Ryeowook, kau akan mati!
"Sungmin. Sudahlah.. aku tidak menyalahkan siapapun. Karna aku tahu, cinta Ryeowook itu tulus untukmu. Kau hanya perlu membuatnya bahagia untukku."
Baiklah, aku terharu sekarang!
Tapi, bukan ini yang aku inginkan!
Mataku masih bisa melihat ekspresi wajah Kyuhyun yang tidak ada perubahan sejak Yesung Eonnie mengatakan bahwa yeoja yang disukai Ryeowook adalah aku. Tapi, apa benar aku orangnya?
"Kyu.. kau mau kan melepaskan Sungmin demi Ryeowook?"
"Kau menyedihkan Noona."
Seketika pandangan mata Kyuhyun terlihat mengilap tajam. Apa Kyuhyun sedang marah?
"Kyu, aku serius. Aku bicara yang sesungguhnya."
"Aku juga serius. Aku tidak bisa melepaskannya karna beberapa hal. Sudah. Jangan paksa aku!"
"Kyu.."
"Noona~"
Tiba-tiba saja dipertengahan adu mulut antara Kyuhyun dan Yesung Eonnie, Ryeowook datang sambil tersenyum. Digenggaman tangannya sudah terdapat sekotak coklat dan beberapa tangkai bunga mawar merah yang masih segar.
"Ryeowook.."
Suara Yesung Eonnie terdengar parau. Aku terharu melihat Ryeowook yang mencoba untuk tersenyum tulus.
"Noona, tidak lupa kan kalau hari ini adalah hari ulang tahun Noona?"
"Wook!"
Aku menganga seolah ada sesuatu benda yang menghantam kepalaku. Rasanya pening sekali. Aku jadi tidak mengerti dengan suasana ini.
"Ini nih biang masalahnya."
Kyuhyun berdiri dari duduknya dan segera menyeret Ryeowook kehadapan kami. Wajah Ryeowook tampak memerah. Buku-buku tangannya yang mengenggam erat sebuket bunga itu sampai memutih.
"Noona, selamat ulang tahun."
Dengan tangan yang bergetar, Ryeowook menaruh bunga dan coklatnya diatas meja kami, lalu segera berlari keluar café. Seketika airmata jatuh membasahi pipi Yesung Eonnie, yeoja itu terisak tertahan melihat sikap Ryeowook yang seperti itu padanya.
Tanpa berkata apapun, Kyuhyun segera mengejar Ryeowook yang berlari keluar cafe setelah sebelumnya hanya memandang kepergian Ryeowook dengan wajah datar.
"Pembuat masalah."
Kyuhyun segera berlari mengikuti arah lari Ryeowook. Lagi-lagi perbedaan tinggi menjadi masalah. Langkah cepat Ryeowook akhirnya dapat Kyuhyun samakan dengan langkahnya. Aku jadi geli sendiri melihat Kyuhyun dan Ryeowook yang saling bekejaran seperti sepasang kekasih yang sedang dilanda bencana.
Entah apa yang dikatakan Kyuhyun itu membuat Ryeowook mengepalkan tangannya dengan kuat seolah ingin meninju Kyuhyun, namun pukulan itu sanggup Kyuhyun tahan sebelum mengenai sisi wajahnya.
"Eonnie~"
Yesung Eonnie memandang datar bunga dan coklat pemberian Ryeowook. Hari ini memang ulang tahun Yesung Eonnie, aku juga baru , hari ini Yesung Eonnie sedang bersedih. Aku meninggalkan Yesung Eonnie untuk melihat keadaan Kyuhyun dan Ryeowook yang sedang dalam emosi. Aku takut terjadi sesuatu hal buruk pada mereka berdua.
"Jangan memulai atau kau akan habis ditanganku."
"Ini bukan masalahmu!"
Kyuhyun memandang Ryeowook dengan mata elangnya. Ryeowook hanya diam ditempatnya sambil mengeram pada Kyuhyun.
"Ini masalahku karna kau menyukai yeoja yang akan ditunangkan dengan ku."
"Kenapa kau repot sekali sih?!"
"Kau mau ku tendang dibagian mana supaya kau sadar? Kau ini sudah menyakiti dua orang yeoja dan sekarang kau ingin menantangku berkelahi? Kau ingin mati muda?"
"Kau itu tahu apa? Sudahlah, urus saja urusanmu sendiri."
"Aku tidak suka mengobrol denganmu. Sekarang datang kesana dan jelaskan semuanya dengan jelas."
"Apa mau mu?"
"Kau! Cepat kesana dan katakan apa yang kau mau. Setelah itu, kau bisa pergi."
"Tidak, memangnya kau siapa berani menyuruhku?"
"Jangan memulai! Ayo cepat!"
"Isshh.."
Kyuhyun menarik Ryeowook masuk kedalam café, aku bergegas menghampiri Yesung Eonnie yang sedang menundukan kepalanya. Dirok blue jeansnya terdapat titik-titik air yang membasahi sebagian roknya. Yesung Eonnie manangis sambil menundukan kepalanya.
"Eonnie.."
Aku menyentuh bahunya yang bergetar, dia tidak melakukan apapun selain menangis. Aku semakin sedih, airmataku pun mengalir dengan sesukanya. Tak lama, Kyuhyun datang sambil menyeret Ryeowook.
"Selesaikan urusanmu!"
"A.."
"Kau mau bilang apa, hah?!"
"Kau kan lebih muda dariku, seharusnya kau bisa lebih sopan."
Ryeowook mengeluarkan aksi protesnya terhadap sikap Kyuhyun yang seenaknya saja menyeretnya kemari dan terus saja mengomelinya seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. Tapi, Kyuhyun terlihat sangat keren sekali. Untungnya disaat seperti ini, Kyuhyun masih bisa menahan emosinya dan tidak menendang Ryeowook karna telah menyakiti hati Yesung Eonnie.
"Tidak mau. Ayo cepat!"
"Apanya yang cepat?!"
"Bodoh. Cepat katakan semua hal yang menurutmu benar agar tidak ada salah paham lagi."
"Memangnya masalah pokoknya apa?"
"Kau minta dipukul ya? Kau menyukai dia kan? Apa itu benar?"
Kyuhyun menunjukku dengan telunjuknya yang hampir mencolok mataku. Bisa-bisanya laki-laki ini menunjuk seseorang tanpa melihat jarak, bagaimana kalau aku sampai buta karna telunjuknya yang panjang itu.
"Tidak! Siapa bilang?"
"Wook, kau putus dengan Yesung Eonnie hanya karna kau menyukaiku? Kau mau aku pukul?"
Aku menggulung lenganku, bersiap memukul namja sialan ini. Tapi, Ryeowook hanya menjulurkan lidahnya dengan wajah enteng. Aku jadi kikuk sendiri.
"Aku tidak pernah putus dengan, Noona. Tidak akan pernah mau walaupun Noona menyuruhku atau memaksaku. Aku tidak akan mau!"
"Lalu kenapa kau lari tadi?"
Kyuhyun sudah bersiap ingin menggetok kepala Ryeowook dengan kotak tisu ditangannya karna sangking emosinya melihat wajah Ryeowook yang sepertinya sedang mempermainkan kami semua dalam keadaan seperti ini. Ah.. aku dapat merasakan tatapan dingin Kyuhyun yang tertuju pada Ryeowook yang masih saja sibuk berbasa basi.
"Aku hanya tidak sanggup melihat Noona yang seperti ini. Noona, kemarin memutuskanku dan itu membuatku kehabisan kendali. Aku tidak mau gila muda."
"Bicara apa kau?"
Yesung Eonnie akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang Ryeowook yang sedang duduk didepannya seperti terdakwa. Ryeowook tidak berani duduk menghadap Yesung Eonnie, dia malah menunduk kearah Kyuhyun yang berdiri tegak didepannya.
"Yesung Eonnie bilang kau suka padaku entah berita itu dari mana. Itu tidak mungkinkan?! Ayo jawab!"
"Tidak mungkin aku menyukai wanita brutal sepertimu. Badanku bisa lecet tahu."
"Ya! Dikeadaan seperti ini kau masih saja membahas kulit mulusmu dan obsesimu menjadi artis?! Kau ingin mati!"
Aku sudah kehabisan akal. Dengan penuh emosi, aku mulai menghancurkan tatanan rambutnya yang ditatanya rapi.
"Ya! Jangan rambutku, bodoh!"
"Huh.."
Aku menghela nafas puas saat melihat wajah menderita Ryeowook. Sambil memperbaiki rambutnya, Ryeowook mulai mengomel.
"Itu bukan obsesi, tapi cita-cita. Semua orang tidak akan ada yang menyukaiku kalau rambutku seperti ini. Ck, Kau ini.."
"Aku menyukaimu yang seperti ini."
Kalimat datar Yesung Eonnie membuat Ryeowook terdiam sejenak dengan tangan yang masih berada diatas kepalanya.
"Hey! Cepat hancurkan rambutku lagi."
Tanpa disuruh dua kali, Kyuhyun langsung menghancurkan tatanan rambut Ryeowook dengan brutal.
"Akh.. cukup tiang bodoh!"
Kyuhyun semakin ganas setelah Ryeowook mengatainya 'tiang bodoh' dan baru melepaskannya setelah Ryeowook berteriak minta ampun.
"Huh. Baiklah Noona, apapun yang kau mau akan aku berikan. Termasuk penampilan seperti ini. Ya.. semua yang kau mau."
"Wookie~ kau benar tidak menyukai Sungmin? Jadi aku salah?"
"Ishh.. aku tidak mau tubuhku hancur karna berani menyukainya. Aku akan mati muda, Noona."
"Ah.. baguslah."
"Lalu, Noona tahu darimana kalau aku menyukai Sungmin?"
"Minjae.."
"Minjae? Akh, kurang ajar!"
Kyuhyun mengeram kuat. Gemerutuk giginya terdengar nyaring.
"Habis kau!"
Kyuhyun segera pergi keluar café dan berlari entah kemana.
"Kenapa kau diam saja dan tidak mencegahnya untuk pergi?"
"Biarkan sajalah, Wook. Palingan Kyuhyun pergi untuk memukul Si Minjae itu. Anak itu memang sudah keterlaluan. Ada bagusnya kalau Kyuhyun menghajar anak itu agar dia tidak bisa lagi mengatakan hal yang tidak-tidak."
Dengan tenang, aku mulai menyedot bubble milk tea ku yang tadi terlupakan olehku.
'Dug..
Tiba-tiba saja Yesung Eonnie memukul kepalaku dengan bunga pemberian Ryeowook.
"Eonnie~"
"Hey, Minjae itu wanita tahu."
"Oh? Ya biar sajalah Kyuhyun memukul yeoja itu! Yeoja itu memang pantas mendapat pukulan karna sudah berani mengatakan yang tidak-tidak tentang kita kan, Eon?"
"Kau rela Kyuhyun dipandang sebagai laki-laki pengecut karna memukul wanita? Dimana letak otakmu itu, Lee Sungmin?!"
"Disini, Wook."
Aku menunjuk kepalaku dan disaat itu juga, Ryeowook memukulku dengan bunga yang ia berikan pada Yesung Eonnie. Aisshh.. mereka berdua sama saja.
"Memang bodoh! Ayo cepat, kita harus segera menyusul Kyuhyun!"
"Biarkan sajalah, Wook. Aku akan selalu memandang Kyuhyun namja yang keren! Kyuhyun pasti bisa memukul yeoja seperti Minjae. Hikk.. yeoja busuk."
"Aduuhhh. Kau akan ku telan sekarang juga! Ayo bodoh.."
Akhirnya begini, aku, Ryeowook, dan Yesung Eonnie mengejar langkah Kyuhyun yang ternyata mengarah ke sebuah tempat les biola yang berada dipusat kota. Lumayan jauh dari café Yesung Eonnie, tapi Kyuhyun sudah sampai ditempat ini dengan nafas terengah. Namja itu ternyata lari sejauh 500 m, padahal dia membawa mobil.
Ryeowook menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan saat itu kami dapat melihat Kyuhyun yang sedang menarik tangan seorang yeoja yang baru saja keluar dari tempat les biola itu dengan tidak sabaran.
Yeoja itu.. ternyata yeoja itu adalah yeoja yang pernah menyatakan perasaannya pada Kyuhyun dan ditolak olehnya. Itu.. kejadian saat baju seragam Ryeowook yang menyangkut dipohon mahoni dan kami mengira itu adalah perbuatan hantu tempo hari.
Kyuhyun menghempaskan tangan yeoja itu dengan kasar. Kami semua lantas keluar dari dalam mobil dan diam saja sambil melihat apa yang akan dilakukan Kyuhyun pada gadis malang itu.
"Kyu.."
Yeoja itu membeku dihadapan Kyuhyun. Wajah Kyuhyun menampakan amarahnya yang mendalam, perlahan peluh membanjiri wajahnya.
"Kau bosan hidup?"
"Apa maksudmu, Kyu?"
Tangan gadis itu bergerak gelisah sambil mengerat bagian bawah bajunya. Kyuhyun menatapnya tajam seolah ingin memakan gadis ini bulat-bulat.
"Kenapa kau menganggu hubungan Yesung Noona dengan pacarnya?"
"Hah? Apa maksudmu, Kyu? Aku tidak mengerti."
"Jangan sentuh aku. Sialan!"
"Kyu, aku benar-benar tidak mengerti."
"Seribu kali kau mengatakan itu, aku tidak akan pernah percaya. Sekali saja kau sentuh aku, tunanganku, Yesung Noona dan pacarnya, kau akan segera mati. Aku sendiri yang akan mencabut jantungmu dan membuangnya jauh-jauh. Mengerti?"
"Kau kenapa selalu kejam padaku? Aku salah apa padamu, Kyu? Aku hanya mencintaimu. Itu saja."
"Berani kau memanggil namaku, habis kau!"
Kyuhyun segera meninggalkan gadis itu. Gadis itu menangis sambil mengenggam erat kotak biolanya. Seorang pemuda datang membelai bahunya dengan lembut, namun Minjae malah menepis tangannya secara kasar.
"Kau sudah ditolak seribu kali oleh Kyuhyun. Mau sampai kapan kau seperti ini?"
Pemuda itu berjongkok seolah ingin menyamai tingginya dengan Minjae yang sedang terduduk dibangku pinggir jalan sambil menangis. Pemuda itu dengan sabar menatapnya dengan raut wajah kasihan.
"Pergi dariku, Jungmo. Kau hanya akan membuatku sulit untuk mendapatkan Kyuhyun."
"Apa kau tidak bisa sekali saja memandangku? Setidaknya aku tidak akan berlaku kasar padamu seperti apa yang Kyuhyun lakukan padamu."
"Aku mengerti, karna aku juga ingin Kyuhyun hanya memandang kearahku. Tapi, apakah bisa aku mengatakan itu padanya? Tidak kan? Ini berbeda.. Kyuhyun saja sampai tidak mau ku panggil namanya. Ini seperti bencana untukku."
Gadis itu kini sedang menahan airmatanya. Sekarang yang kami lakukan hanya menonton drama menyedihkan yang diperankan oleh Kyuhyun, Minjae, dan Jungmo.
"Iya, aku tahu. Jika sesuatu hal yang kita inginkan bertolak belakang dengan kenyataannya itu memang menyakitkan. Tapi, bisakah aku memulainya untukmu? Sudah banyak airmata yang kau tumpahkan untuknya, sedangkan dia sudah mempunyai seseorang yang akan menikah dengannya. Berhentilah.. seperti ini."
Huhh…
Namja itu menghela nafasnya. Entah mengapa, aku jadi seperti merasakan apa yang namja itu rasakan. Aku juga mencintai Siwon. Tapi, aku harus bersama Kyuhyun. Aku juga bingung harus berbuat apa dan menetapkan hatiku yang bagaimana..
"Berhentilah seperti ini walaupun bukan aku yang akan membuatmu , kau bisa kan tersenyum sekali saja dan tidak seperti ini? Aku akan tetap bahagia melepaskanmu dari pandanganku jika kau tersenyum dengan lelaki lain. Jika orang itu bukanlah Kyuhyun, aku ingin kau melepaskannya dan tersenyum saat memandangnya walaupun dia bukan milikmu."
Akhirnya namja itu pergi dan memacu mobilnya dengan kecapatan diatas rata-rata. Tak seberapa lama kemudian, terdengar suara gaduh diujung jalan. Ternyata mobil namja bernama Jungmo itu menabrak pohon yang ada ditaman. Banyak orang yang mengerumuni jasad mobilnya. Minjae berdiri kaku.
"JUNGMO!"
"Ouch…"
Ryeowook meringis saat melihat kejadian yang tepat berada didepan matanya sedangkan aku dan Yesung Eonnie hanya bisa melongo sambil menahan teriak.
"Kyyyaaaaa!"
Teriak kami berdua pecah begitu saja membuat Ryeowook dan beberapa orang lainnya menutup telinga mereka.
"Ahh.. maafkan teman saya."
Ryeowook mencoba tersenyum canggung sambil membungkukan badannya.
"Jangan seperti ini. Aku malu tahu. Sebaiknya kita lihat dulu keadaan orang itu."
Ryeowook menyeret kami masuk kedalam mobil dan akhirnya menemukan Kyuhyun yang baru saja keluar dari salah satu kedai sambil menenteng minuman. Kyuhyun melirik nista pada kerumunan orang itu.
"Ada apa sih? Berisik sekali."
"Kyu!"
"Oi! Kalian sedang apa disini?"
Kyuhyun menendang kaleng minumannya yang sudah kosong dan kaleng itu mendarat mulus tepat ditempat sampah.
"Yess!"
Kyuhyun bersorak gembira sambil meninju udara. Namja ini kenapa lagi? Membuatku bingung saja.
"Kyu, itu Jungmo."
"Mana?"
"Yang kecelakaan itu Jungmo.."
"Hah? Mana mungkin, anak itukan pembalap."
Kyuhyun mengibaskan tangannya seolah tidak perduli.
"Aku benar. Tadi dia habis berkelahi dengan Minjae. Dia mengatakan ini itu pada Minjae."
"Sudah jangan banyak omong Noona, segera telepon ambulan. Aku akan menolong sahabatku itu."
Kyuhyun menghentikan langkahnya lalu berbalik memandang Ryeowook yang sedari tadi hanya diam saja.
"Kau laki-laki kan?"
"Tentu, bodoh," teriak Ryeowook kehilangan kesabarannya.
"Bantu aku menolong sahabatku."
"Tidak mau. Diakan temanmu, tolong saja sendiri."
"Aku akan membayarmu. Ayo cepat!"
Kyuhyun bergegas menarik Ryeowook yang meronta-ronta tidak jelas kearah kerumunan banyak orang.
"Noona, aku titip dia. Jangan sampai hilang!"
"Iyaaaa!"
Dia berteriak seperti itu. Benar seperti itu? Kekanakan atau apa? Dasar aneh!
Tapi, tiba-tiba saja hatiku menjadi hangat. Ada apa ini?! Apa aku mulai…
Akh.. Molla!
Namja tiang aneh itu mulai menerobos kerumunan orang dan menolong temannya bersama Si spatula dapur. Ambulan pun datang dan membawa tubuh lemas Jungmo kerumah sakit bersama Minjae yang terus saja menangis.
Kali ini pandangan mata Kyuhyun berubah lembut pada yeoja itu.
"Kalau kau suka denganku. Tolong jaga sahabatku, jadikan dia bahagia bersamamu. Aku yakin kau pasti bisa."
Kyuhyun melepaskan tangannya dari bahu yeoja itu. Minjae hanya tersenyum lalu masuk kedalam ambulan.
"Pak Kyong, segera ke pusat kota ada kecelakaan mobil. Dia temanku. Tolong sekalian mobil pengangkut, mobil ini rusak parah."
Kyuhyun berjalan kearah kami sambil menelepon seseorang. Ryeowook hanya mengikutinya dari belakang dengan tenang.
"Sudah beres."
"Bagaimana keadaan Jungmo, Kyu?"
"Anak itu tidak akan mati. Mungkin beberapa tulangnya patah, untung mobilnya tidak meledak."
"Itu namanya parah, bodoh. Kau tidak menemui Jungmo?"
"Besok saja sekalian dengan anak yang lain. Kalau hari ini, biarkan Minjae yang mengurus anak itu."
"Orang tuanya bagaimana?"
"Ayahnya sudah meninggal dan ibu-nya menikah lagi di Daejon. Dia hanya sebatang kara disini. Untung dia punya harta yang melimpah dari ayah-nya."
"Oh, begitu? Kasihan juga temanmu."
Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya sebagai respon dari pertanyaanku tadi. Hari semakin sore dan sepertinya kami harus kembali ke café untuk mengambil mobil Kyuhyun yang ditinggalkannya disana.
"Kalian datang berdua ke café Noona?"
"Iya. Tadinya kami mau mencarimu. Kau kemana saja sampai menghilang begitu?"
"Berlebihan~ Kemarin aku pergi ke Incheon, nenek-ku sedang sakit. Setelah itu aku pulang kok, aku juga pergi ke sekolah. Kau yang kemana sampai tidak masuk sekolah?"
"Eung.. hanya ada urusan."
"Begitu?"
"Ya.."
Aku masih belum punya nyali untuk mengatakannya pada Ryeowook dan Yesung Eonnie tentang kejadian tadi malam. Ku lihat, Kyuhyun hanya diam saja dan berusaha tidak memikirkan perkataan Ryeowook barusan.
Sekarang kami berempat sedang dalam perjalanan menuju café Yesung Eonnie, Ryeowook kembali bersuara.
"Bukannya minggu ini kalian akan bertunangan?"
'Gluk..
Aku dan Kyuhyun saling bertatapan horror. Benar juga, kami akan bertunangan kurang dari lima hari lagi. Sekarang harus bagaimana? Aku belum siap sama sekali.
"Huwaa.. senangnya jadi Sungmin dan Kyuhyun. Walaupun kalian dijodohkan tapi, kalian terlihat sangat cocok sekali. Selamat yaa. ^o^"
Senyum. Senyum. Aku lupa bagaimana caranya tersenyum. Aku tidak sanggup untuk memikirkan perkataan Yesung Eonnie, bagaimana pun juga aku tidak akan sanggup. Mengerikan!
"Bagaimana kalau nanti kalian menikah yaa? Lalu malam pertama, punya anak, menjadi ayah dan ibu, punya cucu. Huwa~ pasti menyenangkan."
"Kim Ryeowook!"
"Hahaha.. aku hanya bercanda. Lagipula ini kabar yang menyenangkan bukan?"
"Diamlah.."
….
Setelah mengarungi hari yang melelahkan ini dan diantar pulang oleh Kyuhyun, aku segera merebahkan kepalaku diatas bantal kelinci kesayanganku. Bantal ini adalah pemberian Donghae Oppa saat aku baru saja masuk ke SMA beberapa bulan yang lalu.
Donghae Oppa menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamarku.
"Oi! Aku boleh masuk?"
"Ya."
"Kau sedang apa?"
"Aku baru sampai mengelilingi Seoul hari ini."
"Kau tidak diajak Kyuhyun pakai sepeda lagi kan?"
"Tidak. Tadi anak itu membawa mobilnya."
"Mobil kerennya yang berwarna biru itu?"
"Isshh.. Oppa cerewet sekali."
"Ah.. kau ini! Hey, kau tahu tidak Eomma dan Appa akan ke Seoul besok?"
"Eung? Tumben sekali. Ada apa?"
"Besok lusa, kau akan bertunangan dengan Kyuhyun."
"Mwo?! Oppa bercanda?"
"Tidak. Makanya malam ini, kau disuruh mencari pakaian bersama denganku. Aku juga akan membawa Hyukkie malam ini."
"Jadi, Hyukkie Eonnie sudah pulang dari Jepang?"
"Sudah, kemarin. Cepat ganti pakaianmu."
"Ah? Iya!"
Huhhh.. leganya. Akhirnya Si penjinak Donghae Oppa kembali juga ke Seoul. Gadis yang sangat baik, periang, namun pelit dan sukanya pisang itu adalah satu-satunya orang yang bisa meluluhkan hati Donghae Oppa. Senangnya~
Aku segera mandi dan bergegas turun ke bawah untuk melihat Hyukkie Eonnie yang pasti sudah menungguku.
"Eungg.. Hae, nanti saja. Nanti Sungmin melihat kita~"
"Tidak apa. Dia juga sudah dewasa."
"Hae…Uhh.. heennn.. akhh.."
Aku terpaksa mengatup mulutku rapat-rapat, berusaha untuk tidak tergiur dengan hal yang seperti itu meskipun imajinasiku sudah melayang kemana-mana. Aku tidak sanggup menatap mereka, namun aku masih ingin. Lumayan tontonan gratis.
Tapi, tidak tega juga. Diakan Oppa-ku, seharusnya aku tidak mengintipnya saat sedang bermesraan dengan kekasihnya. Tapi.. biarkan sajalah, siapa suruh juga dia melakukannya ditempat umum.
Sekarang, aku sedang duduk ditangga sambil memerhatikan aksi mereka yang cukup panas. Hyukkie Eonnie hanya memakai kaus hitam yang lentur (entah apa namanya) yang dibalut dengan sweater putih yang menunjukan lekuk tubuhnya yang ideal itu.
Aku terperangah saat melihat Donghae Oppa yang serta merta meremas kedua benda yang ada didada Hyukkie Eonnie. Seketika, tubuh mereka menegang dan mengeliat nyaman. Hangatnya bibir Donghae Oppa masih saja bermain dibibir Hyukkie Eonnie. Pemandangan diatas umur tujuh belas tahun ini membuat perut ku seperti digelitik sesuatu.
"Akkhh.. akkhh.. Haee.. uhh.. heeenn… sssstthhh.. aaahhh…"
Desahan itu semakin panjang saat Donghae Oppa mengeluarkan 'milik' Hyukkie Eonnie dari bra-nya. Hyukkie Eonnie mengerang saat Donghae Oppa menghisapnya dengan kuat, Donghae Oppa lantas memilin gunung yang ada disebelahnya sedangkan yang satunya masih menjadi bulan-bulanan mulutnya.
"Akh.."
Donghae Oppa menjilatinya seolah tidak ingin benda itu menghilang dari mulutnya. Donghae Oppa menekan-nekan kepalanya agar semakin dalam meraup gunung kembar Hyukkie Eonnie. Sebenarnya ini salah atau tidak sih? Tau ah.. nonton aja lagi.
Sampai sepuluh menit, Donghae Oppa hanya melakukannya secara berulang sampai aku bosan. Karna merasa benar-benar bosan, aku berjinjit pelan kembali menaiki anak tangga kemudian berlari kearah bawah seolah aku tidak melihat aktivitas mereka tadi.
'Dug..dugg..duugg..
"Donghae Oppa~ aku sudah siap!"
Mereka dengan cepat membenahi diri mereka masing-masing. Samar-samar, aku melihat Donghae Oppa yang berusaha membantu memasukan gunung kembar Hyukkie Eonnie dengan perlahan kedalam bra-nya.
"Hay~"
Wajah Donghae Oppa terlihat sangat canggung sekali. Wajah Hyukkie Eonnie tampak memerah padam. Dia melambaikan tangannya padaku. Ahh.. aku jadi ingat adengan mereka yang tadi kan!
"Wajah Eonnie memerah.. kenapa?"
"Ah? I-ini mungkin kepanasan. Kau lama sih~"
Hyukkie Eonnie meninju pelan lenganku. Kenapa dia salah tingkah? Yayaya.. aku tahu kalian pasti sangat malu sekali apalagi kalau sampai kalian tahu aku melihatnya tadi.
"Ayo jalan~"
Aku pun berusaha mengalihkan suasana dan jalan duluan masuk kedalam mobil yang sudah disediakan Donghae Oppa.
"Kau sih Hae! Untung Sungmin tidak melihatnya tadi."
"Ah.. iya. Kapan kita lanjutkan?"
"Isshh.. kau!"
"Hehe.."
Samar-samar, aku mendengar perkelahian mereka yang sepertinya punya niatan untuk melanjutkan aktivitas mereka. Aku jadi sangat penasaran pada aktivitas mereka. Ah.. yang selanjutnya pasti lebih Hot.
"Aku sudah menyuruh Kyuhyun untuk bertemu di pusat perbelanjaan."
Perkataan Donghae Oppa sanggup membuyarkan lamunanku.
"Kyuhyun juga ikut?"
"Iya, kami akan mencari pakaian yang sangat cocok untuk kalian. Lusa nanti adalah salah satu hari yang sangat penting untuk kalian. Jadi, kalian harus tampak sangat serasi."
"Yaya.. terserah Eonnie dan Oppa saja."
Aku sudah terlalu malas untuk memikirkan prihal yang sangat menyusahkan ini. Bagaimana tanggapan teman-temanku dan fans Kyuhyun mengenai pertunangan dan pernikahan kami? Sepertinya ini ide yang buruk.
Setelah sampai diparkiran, Donghae Oppa segera menarik tangan Hyukkie Eonnie untuk mengapit dilengannya dan berusaha menjauhkan Hyukkie Eonnie dariku. Hey, bagi sedikit dong. Aku kan juga kangen sama Eonnie yadong ini.
Itu Kyuhyun. Dia tampak berdiri dengan tenang, kedua tangannya tersilang didepan celananya. Kyuhyun menendang-nendang udara dengan tampang bosan.
Kyuhyun kelihatan sangat santai dengan pakaiannya sekarang. Namja itu hanya memakai kaos V-neck berlapis jas berwarna hitam yang warnanya senada dengan long jeans yang dipakainya. Dia juga hanya memakai sepatu santai berwarna biru sedikit agak kehitaman.
"Sudah lama menunggu, Kyu?"
"Ah? Aku juga baru sampai, Hyung."
"Oh. Perkenalkan, ini Hyukkie yeojachingu-ku."
"Hyukkie.."
"Kyuhyun."
"Wah.. kau tampan sekali. Kau sangat beruntung Sungmin."
Apanya yang beruntung mendapatkan namja dingin seperti dia. Walaupun Kyuhyun terkadang baik, tapi tetap saja tatapan matanya itu membuatku takut.
"Eheemm.."
"Hae? Kau juga tampan,kok."
Donghae Oppa sibuk mengoreksi perkataan Hyukkie Eonnie sedangkan Kyuhyun tersenyum canggung dan menatapku dari atas sampai bawah.
"Kenapa?"
"Ah? Tidak. Tidak apa.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, aku takut sekali kalau sampai kepalanya itu lepas dari tubuhnya. Donghae Oppa pun menggiring kami memasuki salah satu butik pakaian formal yang ada di pusat perbelanjaan ini. Setahuku, tempat perbelanjaan ini adalah milik orang tuanya Siwon Oppa. Ahh.. Siwon.
"Kalian bisa pilih sendiri. Kami juga akan memilih baju yang lain untuk kami pakai dihari pertunangan kalian. Nanti kita bertemu disini."
"Ah, ne."
Aku dan Kyuhyun menyanggupinya walaupun kami sebenarnya masih bingung. Aku tidak tahu apa yang sangat cocok untukku dan juga untuk Kyuhyun. Kyuhyun juga hanya duduk disalah satu tempat duduk untuk pengunjung sambil memerhatikan ratusan potong minni dress dan long dress.
"Ah.. aku bingung. Sebaiknya kita harus bagaimana?"
"Warna kesukaanmu apa? Pink?"
"Hmm.. aku suka pink. Sangat suka malah."
"Sudah kuduga."
Kyuhyun kembali memerhatikan pakaianku. Saat ini, aku memakai kemeja putih dengan jeans selutut berwarna pink susu dan sepatu santai berwarna putih.
"Ayo, cari."
Kyuhyun menarikku kesalah satu flat minni dress. Kyuhyun sibuk memilah-milah sambil menyocokannya dengan tubuhku. Sebenarnya aku risih sekali karna anak ini hanya tertawa-tawa sambil melihat tubuhku yang menegang karna ulahnya.
"Yang ini bagaimana?"
"Itunya terlalu kelihatan."
"Ah.. benar juga. Yang boleh melihat itukan cuman aku nanti."
'Gluk..
Aku jadi ingat kejadian yang tadi dilakukan Donghae Oppa dan Hyukkie Eonnie kan! Uhh..
"Bagaimana dengan yang ini?"
Kyuhyun merentangkan minni dress yang sangat cantik, paduan warna pink shock dengan butiran serbuk emas disisi-sisi dress membuatnya terlihat elegan dan cantik. Simple tapi memukau. Setidaknya untukku. Dress ini tidak bertali, sehingga bisa mengekspose bahuku.
Kyuhyun masih menimang-nimang dress cantik yang ada ditangannya.
"Bagus, tapi.."
"Yang ini saja yaa.."
Aku memohon padanya untuk tidak diganti lagi. Satu jam seperti ini membuat kakiku terasa sangat pegal. Akhirnya Kyuhyun menganggukan kepalanya.
"Baiklah. Kau coba yang ini~"
"Ah.. Ok."
Kyuhyun mengikutiku dari belakang. Namja itu mengambil tasku dan membawakannya sementara aku sedang mencoba minni dress yang tadi dipilihnya.
Saat aku ingin menutup pintu fitting room, aku mendengar suara desahan seseorang disebelah pintu fitting room-ku. Kyuhyun menautkan alisnya saat aku hanya diam saja diambang pintu.
"Ada apa?"
Aku segera menutup mulut Kyuhyun dan menaruh jari telunjukku didepan mulutku.
"Ada apa sih?" tanya Kyuhyun dengan suara sedikit berbisik.
"Kau dengar itu?"
"Akkhh.. henn… ssshh… uhh.. yahh disitu.."
'Gluk..
Tiba-tiba saja, wajah Kyuhyun terlihat sangat pucat sekali. Kemudian, wajahnya mulai menimbulkan rona merah.
"Siapa yang ada disebelah?"
Aku menundukan kepala dan melihat sepasang sepatu, lagi-lagi orang disebelah adalah Donghae Oppa dan Hyukkie Eonnie.
"Oppa.."
"Apa dia tidak punya tempat lain selain fitting room?"
"Aku juga tidak mengerti, Kyu. Mungkin karna Hyukkie Eonnie baru saja pulang dari Jepang, maka dari itu mereka melakukannya dimana saja selagi ada kesempatan."
"Tapi tidak disini juga kan?"
"Iya sih.. ahh.."
"Kenapa kau mendesah?"
"Siapa juga yang mendesah?"
"Tadi kau bilang 'ahh..' itu apa namanya kalau bukan mendesah."
"Itu, kau yang mendesah.."
"Aku hanya memberi contoh tahu."
"Isshh.. aku malu mempunyai Oppa yang yadong sepertinya."
Aku berusaha menutupi wajahku dan menyembunyikannya dari Kyuhyun. Rasanya seperti ada sesuatu hal yang ganjil saat mengetahui kalau Donghae Oppa juga bisa berbuat seperti itu.
"Kau malu atau kepengen sih? Sudahlah biarkan saja. Kita beli ini saja, kau pulang denganku."
"Ya sudah kalau begitu."
Aku dan Kyuhyun meninggalkan butik itu setelah namja keras kepala ini memintanya agar ia saja yang membayarkan dress yang akan aku pakai dihari pertunangan kami. Ya sudahlah kalau dia memaksa.
Saat ini kami sedang menuju ke rumahku. Sudah tidak ada hal yang perlu dilakukan lagi. Tiba-tiba saja, hujan turun sangat deras bersama suara petir menyambar-nyambar yang menampakan kilatnya.
"Huwaaa.."
Aku berteriak saat petir menyambar dengan suara yang keras.
"Kau takut?"
"Ah.. tidak."
"Sudah sampai."
"Eung.."
Aku mendongakan wajahku yang semula kututupi dengan telapak tanganku. Kyuhyun terkekeh geli melihatku yang begitu penakut.
"Baiklah. Aku akan menemanimu sampai Donghae Hyung pulang."
"Ya. Sebaiknya seperti itu."
"Hah.. kau ini lucu sekali."
Aku dan Kyuhyun masuk bersama kedalam rumah. Kyuhyun duduk disofa sementara aku mengambilkannya minuman dan beberapa camilan lalu menyalakan tv untuk mencairkan suasana. Saat tv menyala, ada sebuah berita yang menarik perhatianku.
"Malam ini, seperti yang sudah diramalkan bahwa kota Seoul dan sekitarnya sedang diterpa badai tahunan dengan hujan yang cukup deras. Untuk itu, kami menghibau agar seluruh masyarakat yang berada didaerah sekitar Seoul untuk tidak pergi keluar rumah. Sebab dapat membahayakan dan.."
'Zepp..
"Kyaaaa!"
"Oi! Oi! Lampunya hanya padam. Jangan berteriak."
Dengan susah payah, aku mengatupkan mulutku rapat-rapat. Saat membuka mata, ternyata jarak kami sudah sangat dekat sekali.
'Duuaarrrr..
"Kyaaa~!"
Tanpa sengaja, aku memeluk Kyuhyun dengan erat. Kyuhyun hanya diam dan membiarkanku memeluknya. Aku yang sadar pun segera melepaskan pelukanku padanya.
"Kalau kau masih takut, peluk aku saja lagi. Aku akan diam saja."
"Uh.. aku akan mengambil lilin dulu."
"Mau ku temani?"
"Tid.."
'Duaarr.. duaaarr..
"Ah.. iya, iya. Bantu aku!"
"Hahaha.."
"Jangan tertawa!"
"Kau lucu."
Akhirnya aku membuntut dibelakang Kyuhyun yang sedang memegangi senter sambil mencari lilin.
"Hey, kotak lilinnya kosong."
"Benarkah? Aish.. kalau begitu ambil dikamarku saja."
"Kamarmu ada dimana?"
"Diatas."
"Ayo!"
Aku kembali membuntutinya sambil memegang bagian belakang bajunya, keringat dingin mulai membasahi keningku.
"Dimana?"
"Itu, dilaci."
Kyuhyun pun mengambil lilin yang ada didalam laci meja belajarku, kemudian..
'Duaarr.. duaaarr..
"Kyaaa.."
Aku memeluk Kyuhyun dari belakang. Kali ini, aku benar-benar sudah tidak kuasa. Aku menangis dengan kedua kaki yang bergetar dan tubuhku rasanya lemas sekali. Ku akui, aku benar-benar takut dengan suara itu.
"Oi! Kau kenapa?"
"Hikss.."
"Kau menangis?"
"Hikkss.. aku takut."
"Takut? Tenang lah, ada aku disini."
Kyuhyun menggiringku keatas ranjang lalu menyalakan lilinnya, seketika keadaan kamarku berubah menjadi sedikit agak terang. Aku masih betah duduk menempel dengannya, takut-takut kalau suara itu datang lagi. Kyuhyun dengan cepat menutup gorden kamarku yang terbuka lalu duduk disampingku.
"Kau kenapa takut dengan suara petir? Apa karna suaranya terlalu keras?"
Aku menggelengkan kepalaku, "Lantas?"
"Hikss.. dulu, kakak kelas yang selalu melindungiku itu meninggal karna tersambar petir. Aku takut sekali.."
"O-oh, begitu? Lalu bagaimana dengan Donghae Hyung? Sepertinya dia tidak akan bisa pulang kerumah dengan cepat."
"Biarkan saja. Asalkan dia tidak tersambar petir."
"Kau ini bicara apa?"
Seketika keadaan menjadi hening, keadaan seperti ini membuatku merasa bosan dan mengantuk.
"Kau kenapa lagi?"
"Aku ngantuk."
"Ya sudah, tidur."
"Tapi, aku takut.."
'Ddduuuaaarrr!
Kali ini suara itu datang lebih mengerikan dari yang tadi, tidak hanya sekali tapi beberapa kali sampai-sampai telingaku terasa sangat sakit sekali.
"Huwaaaa.."
Aku menangis dengan kencang dan Kyuhyun langsung memelukku agar aku bisa jauh lebih tenang. Benar saja, aku langsung diam. Tidak berani mengatakan apapun. Pelukan Kyuhyun terasa hangat dan nyaman membuatku tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Sudah, ada aku disini. Jangan berteriak dan menangis lagi atau ku pukul kau. Telingaku sakit tahu."
"Kyu.. hikss.. takut."
"Ya sudah, sini."
Kyuhyun kembali memelukku, padahal bukan ini maksud perkataanku. Tanpa ada yang menyuruh, pandangan mata kami saling bertemu. Kyuhyun membuka sedikit mulutnya dan perlahan mendekat kearahku.
Aku hanya diam membeku, masih belum bisa melawan. Rasa takut dan ingin itu bercampur menjadi satu. Kyuhyun semakin dekat kearahku dengan kedua mata yang tertutup. Aku mengikutinya, menutup kedua mataku. Hembusan nafas Kyuhyun semakin dekat menerpa wajahku. Dan..
"Hatchhii…"
"Aish.. maaf."
Haisshh..
Kyuhyun bersin didepan wajahku. Tidak apalah, setidaknya aku tidak perlu berpikiran kotor lagi walaupun aku sedikit agak kecewa.
Kyuhyun menjauh dariku, memberi jarak lalu menatap kelangit-langit kamarku dengan canggung. Uhh.. sepertinya ini adalah keadaan yang paling sulit. Handphoneku bergetar, aku rasa yang menelepon adalah Donghae Oppa.
"Oppa.. ah, iya. Aku sedang bersama Kyuhyun dirumah. Baiklah.."
Klik..
"Ada apa dengan Donghae Hyung?"
"Dia akan pulang terlambat malam ini. Sekarang juga sudah tengah malam."
Kyuhyun mengangguk lalu berjalan menuju gorden kamarku yang tadi ditutupnya.
"Hujan sudah mulai reda."
"Kau mau pulang?"
Aku berdiri disampingnya dan dia menggelengkan kepalanya tanpa menatap kearahku.
"Tidak sekarang. Oppa-mu belum pulang kan?"
Aku mengangguk lega, karna Kyuhyun tidak akan meninggalkanku sendirian dirumah sebelum Donghae Oppa pulang kerumah. Walaupun bersama Kyuhyun terkadang membuatku merasa bosan karna dia lebih banyak diam, tapi setidaknya aku tahu bahwa dia adalah namja yang baik.
Klik..
Aliran listrik kembali menyala. Sekarang, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ternyata wajah Kyuhyun dibanjiri keringat padahal udara sedang dingin seperti ini.
"Ki-kita tunggu, Donghae Hyung dibawah saja."
Aku tersenyum melihatnya yang kembali gugup. Haha.. mungkin itu karna tadi kami yang hampir berciuman. Untung saja tidak jadi karna dia tiba-tiba dia bersin. Hah.. dia lucu sekali.
Setengah jam kemudian, suara mobil Donghae Oppa mulai terdengar dipelataran rumah. Aku segera keluar rumah untuk membukakan pintu untuknya, Kyuhyun ikut membuntut dibelakangku.
"Oppa.."
"Hai!"
"Bagaimana keadaan jalanan Hyung?"
Donghae Oppa duduk didepan Kyuhyun sedangkan aku duduk disisi samping mereka. Donghae Oppa tersenyum lalu menarik lurus kakinya.
"Lumayan macet karna ada beberapa pohon yang tumbang. Diluar juga masih hujan walaupun tidak sederas tadi. Sebaiknya kau menginap saja malam ini."
"Akh?"
"Ayah dan Ibu-mu juga pasti tidak akan melarangkan? Kau bisa tidur dikamar tamu. Saranku, kau jangan pulang dulu malam ini."
"Tapi, besok aku harus pergi ke sekolah, Hyung."
"Tidak apa. Besok pagi-pagi sekali, kau bisa pulang kerumah dan langsung pergi kesekolah."
"Begitu, ya?"
Kyuhyun mengusap-usap tengkuknya canggung. Aku rasa, apa yang dikatakan Donghae Oppa ada benarnya juga. Jika Kyuhyun tetap akan pulang malam ini juga maka hal itu akan menghabiskan waktunya dijalan. Kyuhyun tidak akan bisa istirahat dengan cukup sedangkan paginya kami harus pergi kesekolah.
"Baiklah.. aku akan menginap."
"Baguslah.. aku pergi kekamar dulu."
Donghae Oppa pun berlalu menuju kamarnya yang berdekatan dengan kamarku. Aku dan Kyuhyun saling diam dan memusingkan diri dengan pikiran masing-masing.
"Eung.. kau tidurlah. Besok pagi kita harus berangkat kesekolah."
Kyuhyun menekan bahuku, lalu pergi menuju kamar tamu. Pandangan mataku tertuju pada daun pintu kamar tamu yang mulai tertutup. Ada rasa kehilangan saat pintu itu tertutup rapat.
"Akh. Tidak!"
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, berharap semua imajinasiku itu tidak akan pernah terkabulkan. Tapi, cepat atau lambat Kyuhyun akan menjadi suamiku setidaknya hal-hal seperti itu akan terjadi seiring dengan berjalannya waktu.
Tidak bisa. Tidak bisa. Aku harus bisa mencapai cita-citaku dulu, setelah itu aku akan memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi, cita-citaku apa? Sampai saat ini juga aku belum punya cita-cita.
….
Tbc..
Gimana chapter ini?
Udah Free emoticon kan?
Biar saya jadi lebih bisa koreksi Ffn-nya sambil semangat, lanjutin reviewnya yaa..
