Heyaaa! Saya balik lagiii! :'D #readers: yah, si author berisik balik lagi-_-" *buru-buru nyumpal telinga*

Sekedar kasih tau nih, saya dulu dikenal sebagai Lyvia Fullbuster, tapi karena satu dan lain hal, saya ganti penname jadi Yukihina Eight-prince. Silakan mampir ke bio saya jika masih kepo dengan alasan saya ngubah penname.

Fic ini sendiri sebenarnya udah pengen saya ubah statusnya jadi 'DISCONTINUED'. Ide sebenarnya udah ada dari kapan tahu, cuma saya rada ogah-ogahan buat ngelanjutin fic yang kurang peminatnya ini. Lebih baik ngelanjutin dua fic multichap lain yang peminatnya lebih banyak, karena saat itu saya tidak punya banyak waktu luang.

Tapi, kurang peminat bukan berarti gak ada, kan? Rasanya tega banget kalo sampe nelantarin fic ini cuma gara-gara kurang peminatnya. Makanya, mumpung ada waktu, saya memutuskan untuk melanjutkan fic ini.

Dan inilah chapter 4 yang penuh misteri (?) dari fic Ice Castle~


Disclaimer:
[CHARACTERS] Fairy Tail © Hiro Mashima

[STORY] Ice Castle © Me, Yukihina Eight-prince

Warning(s):

AU, OOC, typos, shounen-ai hints

A.N: Kalau udah baca, sangat diharapkan untuk memberi review


"Sial! Lagi-lagi aku kalah dari Lyon-teme!" seru seorang bocah laki-laki berambut biru gelap pada diri sendiri. Dia layangkan tinjunya ke tanah di sekitarnya.

Di hadapannya, seorang bocah laki-laki berambut keperakan yang kira-kira sebaya dengannya tertawa penuh kemenangan. "Masih terlalu cepat bagimu untuk menang dariku, Gray-kun. Tapi, aku hargai sikapmu yang cukup berani menantangku."

"Eh?" Sang bocah berambut biru heran sekaligus agak terkejut ketika dirasakannya telapak tangan teman sekaligus rivalnya itu mendarat di pipinya.

"Ini... bentuk penghargaanku atas sikapmu yang berani itu."

Detik berikutnya semuanya gelap gulita ...

.

.

.

Kedua manik jade yang tadi sempat terkatup itu kini terbuka. Nafas sang empunya iris menderu. Jantungnya berdegup seirama derap kaki kuda di landasan pacu. Mengapa?, satu pertanyaan terlintas di benaknya. Mengapa aku memimpikan kejadian waktu itu?

Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, seraya berusaha untuk menenangkan diri. "Tenanglah, Lyon … Sudahlah, semuanya sudah lewat. Tak perlu kau ingat lagi…"

Diliriknya jam yang menggantung di dinding ruangan tempat dia berada sekarang. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.55. Dia mendesah pelan, "Daripada itu ... di mana kau..?"

Baru saja dia berkata begitu, seseorang membuka pintu ruangan dengan kasar, hingga pintu itu menghantam dinding dan menimbulkan bunyi berdebam. Begitu melihat siapa yang sedang terengah di pintu masuk itu, dia berseru, "Hoi, Juvia!"

Gadis itu mengangguk seraya berjalan menuju ke arahnya. Tentunya, setelah menutup pintu ruangan yang tadi benar-benar menjeblak.

"Maaf telat! Tadi piket dulu," ujar Juvia spontan.

"Ooh, kukira kau lupa sama janjimu. Aku sampai ketiduran saking lamanya menunggumu."

"Maaf deh, maaf! Hm, tapi kalau soal itu sih, emang dasar kamunya aja yang tukang tidur. Nunggu gak nyampe setengah jam aja udah bisa melayang ke alam mimpi."

"Eh, asal aja kalo ngomong!" bantah Lyon. Tampangnya sih cemberut, tapi sebenarnya, dia cukup suka dengan candaan perempuan di sampingnya.

"Bercanda, elah. Terlalu serius juga gak baik, lho..."

"Huh, terserah."

Juvia terkekeh. Lama-lama dia mulai terbiasa dengan tingkah cowok bermata elang di sampingnya ini. Tidak hanya terbiasa, bisa dibilang dia ... cukup tertarik dengan sifat Lyon yang jutek dan rada-rada misterius.

Heh, apa? Nggak, nggak, mana mungkin aku tertarik dengannya! batin Juvia. Pikiran yang baru saja terlintas itu membuatnya sedikit canggung dengan pemuda di sampingnya.

"E.. Eto, Lyon, bisa kita mulai pelajaran yang tadi sempat tertunda itu?"

"Tentu, tapi setelah kau temani aku ke Pasar Magnolia," jawab Lyon. Seolah mengerti apa yang dipikirkan Juvia setelah mendengar kata 'pasar', Lyon segera melanjutkan kalimatnya, "Miss Laki meminta tolong padaku untuk membeli alat-alat pahat yang baru karena yang ada di sini sudah banyak yang tumpul. Dia tidak bisa membeli karena ada jadwal kerja sambilan siang ini."

"Memangnya tidak bisa beli di hari lain sampai-sampai harus kau yang membelinya?"

"Waktunya tidak cukup, Juvia. Alat-alat itu harus segera ada karena dua hari lagi kelasmu bakal mendapat tugas yang sama seperti kelasku, sedangkan kau tahu Miss Laki itu guru honorer yang juga kerja paruh waktu di mana-mana. Orang yang paling mungkin dia tunjuk yaa, aku, soalnya aku paling sering main ke sini kalau nggak ada guru atau ada guru tapi pelajarannya gak terlalu penting."

"Kok mendadak gitu, sih? Sudah tahu sibuk, kenapa dia nggak direncanain dari dulu-dulu?" keluh Juvia. "Hmm, tapi, ya sudahlah. Berhubung ini demi kelasku, aku mau ikut denganmu."

"Nah, gitu dong," kata Lyon. Senyum kecil terulum di bibirnya. Entah kenapa, setelah melihat senyum itu, Juvia jadi sedikit gugup. Walau menyebalkan, harus dia akui, Lyon memang cukup tampan. Rasanya wajar jika perempuan manapun menjadi gugup (baca: dagdigdug doki-doki~) setelah melihat senyumannya yang—

"EEEEHHHH! Mikir apa sih, Juviaaa..!" seru Juvia, seraya menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar. Teriakannya yang tiba-tiba ini tentu membuat orang-orang yang ada di sana terlonjak saking kagetnya. Beberapa dari mereka langsung memberi death-glare pada gadis berambut biru itu.

Juvia jadi salah tingkah. Tapi bukan hanya Juvia, Lyon yang berada di dekatnya pun turut merasa malu dengan ulahnya. Setelah meminta maaf pada orang-orang yang ada di ruangan, buru-buru Lyon menarik lengan Juvia lalu menyeretnya ke luar.

"Kau ini kenapa, sih, tiba-tiba teriak gaje begitu?!" koarnya, mirip seperti kakek-kakek yang ngomelin bocah bengal nyolong buah dari pohon miliknya.

"Maaaf, Lyooon, maaf! Aku juga nggak tahu, tiba-tiba aja refleks teriak kayak gituu..."

"Haah, sudahlah! Yang penting, jangan lakukan hal itu lagi di pasar! Aku gak mau ikut-ikutan diomeli gara-gara kau!"

"Iya, iya! Janji deh, gak bakal ngelakuin hal aneh kayak gitu lagi. Aku nggak mau mukamu yang udah kusut itu jadi tambah kusut gara-gara diomelin sama preman-preman pasar dan emak-emak yang sibuk nawar harga sama abang-abang yang jualan..."

"APA KAUBILANG?!"

Perjalanan mereka ke pasar Magnolia pun diwarnai dengan penuh canda tawa—ralat, saling adu mulut dan tuding-menuding. Ada pepatah 'rasa suka dan benci itu bedanya setipis kertas', kan? Yah, siapa tahu, hubungan keduanya yang sekarang ini mirip Tom and Jerry versi manusia dapat berakhir menjadi seperti Rama dan Shinta …

Sementara itu, di tempat lain …

Cana hendak meneruskan langkah kakinya ketika perasaan itu kembali terbesit dalam benaknya. Perasaan yang membuatnya tidak berniat untuk meneruskan perjalanannya menuju 'rumah'nya. Padahal, dia sudah sampai di depan gang kecil dekat 'rumah'nya. Tinggal masuk ke sana lalu berjalan sedikit, dan sampailah dia.

"Sial! Kenapa perasaan sialan ini lagi-lagi menggangguku?" gumamnya pada diri sendiri. Perlahan, airmata menggenangi pelupuk matanya. "Ayah..." gumamnya lagi, seraya meremas bagian samping rok sekolahnya.

"Tidak, aku tak boleh seperti ini. Aku harus kuat."

Cepat-cepat dihapusnya airmatanya sebelum jatuh ke kedua pipinya. Dia menghela nafas, lalu hendak berlari menuju 'rumahnya' yang ada di dalam gang kecil itu—

—ketika sebuah suara membuatnya menghentikan langkahnya untuk yang kedua kalinya.

"Kangen sama ayahmu, eh, Cana?"

Pupil sang gadis berambut coklat itu membesar. Suara ini, suara yang amat dikenalnya. Namun, tak seharusnya dia ada di sini …

Dia pun menengok ke sumber suara dan mendapati entitas pemuda berambut biru gelap yang usianya kira-kira sebaya dengannya. Wajah Cana memucat seketika tatkala melihat seringai lebar terpampang di wajah pemuda itu.

"Gray…"

-to be continue-


Special thanks to Ayren Christy C, Regina Moccha L, rezha056, Yukina, miamia, FT's Lover, lia and intan, and Hibiki Kuze for supported me to continue this fic :)

Author's Corner (again :p)

Maaf kalau chapter ini terlalu pendek, bisa dibilang ini chapter ujicoba. Eight (panggil aja 'Eight' atau 'Yuki' sekarang, tapi kalau masih ada yang mau manggil saya Lyvia, yaa, boleh-boleh aja) mau lihat gimana respon kalian terhadap fic yang semakin lama konfliknya makin bertambah ini.

Mulai dari chapter depan, hubungan Gray dan Lyon di masa lalu akan terungkap, walau perlahan-lahan. Karena ceritanya agak berbelit, saya memutuskan untuk mengubah genrenya jadi Drama dan Friendship, karena romance-nya di sini emang gak terlalu kentara. Mungkin juga ratingnya bakal saya naikkan di chapter depan.

Karakter Juvia juga saya buat rada tsundere kalau sama orang biasa, tapi bisa jadi dandere kalau sama orang yang dia sukai. Juvia juga nggak sering-sering mengganti kata 'saya', 'aku', atau 'gue' dengan namanya sendiri demi kecocokan karakternya di fic ini.

Terimakasih buat kalian yang udah ngusulin ide buat kelanjutan fic ini. Maaf kalau ide yang kupakai akhirnya jadi berbeda dengan usulan kalian …

Semoga kalian nggak kecewa, dan tetap mau memberikan saya review yang membangun. Karena review kalian lah saya tergerak untuk melanjutkan fic ini :)

Sign,

Yukihina Eight-prince