Disclaimer : Aoyama Gosho


Chapter 4

Twist of Fate

.

.

.

Saguru Hakuba memegang cangkir kopi dan memutarnya perlahan. Dia lalu menyesapnya perlahan, menikmati bagaimana pahitnya rasa menjalari lidahnya dan meletakkannya ke atas meja kembali. Mereka sedang duduk di salah satu ruang keluarga Hakuba Mansion yang luas di pinggir kota Paris.

"Aku lebih suka racikan kopimu," sahut Saguru tersenyum kecil, matanya mengerling ke arah Shiho. Bibir gadis itu terbuka sedikit untuk meniup kepulan asap yang menguar dari cangkirnya lalu menyesapnya. Detektif blasteran itu mengamati gerak-gerik Shiho dari ujung matanya—dia menyukai gaya elegan gadis itu, seperti sweater Kashmir coklat dipadu padan dengan rok mini abu-abu tua yang memamerkan kaki jenjangnya.

"Hm…" ujar Shiho, mendengus, "benar—kopi racikanku lebih lezat." Gadis itu mengangkat ujung bibirnya, memamerkan senyum langka dan mendongakkan kepalanya dengan percaya diri.

"Jadi bagaimana? Kau ingin berbagi rahasia resepmu?" tawar Saguru tersenyum, matanya tak lepas dari wajah Shiho. "Jika kau—" kata gadis itu terhenti karena seseorang mendekati meja mereka. Seorang pria tinggi menawan dengan rambut hitam melangkah dengan santai dan berhenti tepat di samping Saguru. Pria itu tersenyum—senyumannya sedikit menyebalkan—menurut pendapat Shiho.

"Saguru? Sedang apa kau disini?" tanyanya dengan antusias. Matanya masih tak beralih dari Shiho. Saguru mendehem, "Ini pertanyaan retoris—yang seharusnya aku tanyakan padamu. Menurut Fukuyama-san, kau seharusnya masih berada di Ibiza, bersenang-senang dengan kekasihmu yang terbaru."

Pria itu tertawa, "Wah, tak kusangka kau peduli pada kehidupanku. Ini tidak salah… tapi ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku." Dia mengedipkan matanya pada Shiho dan mendekati Saguru, "Aku akan menghadiri rapat nanti sore. Oh ya, jangan lupa… paman tak suka kau membuka café baru tanpa persetujuannya. Adios!" ujarnya sambil melenggang pergi. Shiho mengangkat alisnya dan menggumam, "Koreksi aku jika salah—Takeshi Hakuba, sepupu satu-satunya dan pemilik 20% saham Hakuba Corporation. Kenapa dia tiba-tiba muncul? Biasanya dia tak pernah kelihatan tertarik mengurus perusahaan?"

"Benar. Ini untuk pertama kalinya kau bertemu dengan playboy-brengsek itu," desis Saguru. "…dan dia muncul karena kau."

"Aku? Apa hubungannya?" tanya Shiho heran. Saguru mendehem, "Kau tampil sebagai tunanganku. Dia pasti menduga kalau kita akan menikah—suatu saat nanti. Dan mungkin kau berpengaruh… pada kelangsungan konglomerasi."

"Hm… Seperti pembukaan Magnolia café?"

Saguru terkekeh, "Magnolia café tak ada hubungannya denganmu." Shiho memutar bola matanya dan menjawab dengan sarkastik, "Hakuba Corporation hanya berpusat pada perusahaan investasi, tambang, farmasi, properti dan teknologi. Kau tak pernah tertarik pada divisi Food and Beverages, menurut Fukuyama-san, bagimu retail dan franchise adalah hal yang sia-sia serta tidak menguntungkan. Pembukaan café ini karena kau ingin membuktikan kata-kataku kalau kau harus siap mengeksplorasi bisnis yang tak pernah kau pegang sebelumnya."

Senyuman Saguru melebar, "…dan karena kau sangat suka dengan kopi. Ini salahmu kalau aku mulai kecanduan kopi."

"Wah, jadi kau bisa setiap hari mendatangi café ini tanpa rasa bersalah."

"Tidak. Aku kecanduan kopimu," ujar Saguru pendek tapi sanggup membuat wajah Shiho memerah. Aku kecanduan kopimu baginya terdengar aku tergila-gila padamu. Dan merahnya wajah Shiho tak luput dari pengamatan Saguru. Dia bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya lagi, hatinya terasa hangat.

"J-jadi bagaimana dengan Mr. Takeda?" tanya Shiho berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Saguru mengerutkan keningnya, "Mr. Takeda berjanji akan menghubungiku setelah bahannya pasti ada."

"Mr. Takeda adalah pria yang selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya selagi ada kesempatan. Lagipula tanduk yak itu benar-benar langka dan mahal…"

Shiho teringat perjumpaannya dengan beberapa hari lalu. Pria benar-benar tipikal pria yang hanya tertarik pada uang, uang dan uang. Dengan rambut hitam berminyak dan wajah pucat lembek, dia menggumamkan seberapa mahal yang harus dia bayar untuk memperoleh informasi tentang tanduk yak dan apa yang dia lakukan itu tak sebanding dengan uang yang akan dia terima nantinya. Saguru memotong gumamannya, memastikan kalau dia akan membayar semuanya, termasuk ongkos yang telah dikeluarkan.

"Kita punya dana tak terbatas," kata Saguru pendek. Shiho mendengus, "Kau yang punya dana tak terbatas. Aku harus berusaha lebih keras untuk memperoleh hak paten yang akan membayar semua ini."

Saguru tertawa, "Bukankah sudah pernah kubilang kalau kau telah menghasilkan begitu banyak uang bagi perusahaan kami?"

Shiho hanya mengangkat alisnya dan mencoba mengalihkan pembicaraan lagi, "Sepupumu akan menghadiri rapat untuk pertama kalinya. Kau tak merasa itu aneh? Pria yang tak pernah kelihatan tertarik pada bisnis? Dia tipe orang yang hanya menikmati hasil tanpa perlu kerja keras."

"Kau tak perlu cemas, Shiho. Walau aku yakin kalau punya maksud tertentu—jangan lupa, aku masih punya 55% yang merupakan saham mayoritas. Dia tidak berpengaruh pada setiap keputusan yang akan diambil manajemen nantinya." Saguru terdiam sebentar lalu melanjutkan, "Kau bertemu dengan Kudo kemarin. Apa ada yang terjadi?"

Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Saguru lurus-lurus. "Tidak… Kami hanya bertemu sebentar karena ada pembunuhan."

"Oh, begitu." Saguru tak mendesak lagi tapi mata awasnya mengawasi Shiho. Gadis itu kelihatan termenung, ada sesuatu yang ada di pikirannya. "Jika kau ingin cerita, aku siap untuk mendengarkan," katanya lagi. Dia mengulurkan tangannya ke atas meja dan menyentuh ujung jemari gadis itu.

Shiho sedikit tersentak begitu tangan Saguru yang hangat bertemu kulitnya. "Thanks, Saguru." Dia tersenyum, "tapi aku masih bisa mengatasinya sendirian."

.

.

.

"Bourbon?"

Shinichi segera mendekati Shiho dan meletakkan salah satu tangannya pada bahu gadis itu. Dia hanya menggumam, "Miyano… dia salah satu dari kita."

"Apa maksudmu?" tanya Shiho sambil menyipitkan matanya. Inspektur Lestrade tertawa, "Nama asliku Furuya Rei, salah satu anggota PSB. Public Security Bureau."

"Apa kau serius?" Shiho masih tak percaya, walau dia melihat kalau Shinichi tak menunjukkan aura permusuhan pada pria yang mengaku anggota salah satu divisi kepolisian Jepang itu.

"Ya, kode namanya Bourbon alias Tohru Amuro. Dia banyak membantu tim Akai sewaktu penyerangan Black Organization yang terakhir," kata Shinichi.

"Ya, Miyano-san. Kita pernah bertemu dulu walau tidak secara langsung. Di kereta api Bell Tree Express. Kupikir kau sudah tewas karena ledakan itu—ternyata belum. Jadi kau sekarang menjadi tunangan salah satu konglomerasi terbesar di Inggris? Hm… menarik."

Bourbon. Salah satu musuh terbesar dari Rye. Gin dulu juga sangat membencinya. Walau Shinichi meyakinkannya kalau pria ini adalah sekutu mereka, dia sama sekali tidak percaya padanya. Shiho hanya terdiam, memperhatikan Inspektur Lestrade dengan seksama. Lalu dia bertanya lagi, "Kenapa kau menggunakan nama Inspektur Lestrade disini alih-alih menggunakan nama aslimu?"

"Kami dan FBI harus berkerja sama mengejar semua sisa-sisa anggota Black Organization. Aku tidak mungkin menggunakan nama asliku, seperti kau, Miyano-san. Namamu telah dihapus dari data organisasi oleh Kudo, jadi kau aman."

Shiho melirik Shinichi yang kelihatan sedikit gugup. Pria itu menggaruk hidungnya dan tidak mau membiarkan matanya bertemu dengan mata tajam Shiho. Apa yang paling dibenci Shiho adalah—Shinichi selalu menyimpan rahasia darinya—membiarkannya dalam kegelapan. Dalam peseteruannya dengan Vermouth, Bourbon serta penyerangan final Black Organization. Detektif itu memilih merahasiakan semuanya darinya untuk melindunginya.

"Oh ya, aku harus bersama Inspektur Lestrade karena ada kasus pembunuhan yang dilakukan Numabuchi. Um…karena janji kita batal—bagaimana kalau kita bertemu nanti malam saja?" tawar Shinichi. Shiho menggelengkan kepalanya, "Aku ada janji dengan Saguru. Nanti saja kita atur ulang janji kita."

"Baik, aku masih berada di Paris untuk beberapa hari ke depan. Lagipula—hal yang ingin kubicarakan, tidak begitu penting. Sampai ketemu, Miyano." Selesai berkata begitu, Shinichi melambaikan tangannya dan melenggang pergi.

Shiho memperhatikan Shinichi yang menjauh bersama Inspektur Lestrade. Kudo, kita harus bicara tentang penghapusan namaku dari data organisasi… tak kusangka kau berbuat begitu jauh demiku….

.

.

.

"…Pembangunan Summerset Tower telah dimulai dengan penanaman tiang pertama kemarin. Walau mengundang begitu banyak protes dari masyarakat sekitar, semua bisa diatasi selama ini. Pembelian tanah yang merupakan tempat Tower dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan harga pasar. Dengan pendirian Tower ini seharusnya bisa menaikkan pangsa dominasi kita di bidang property sebanyak 10%. Keuntungan meningkat 25% dari tahun kemarin, sebagian besar disumbang dari divisi property, saham dan hasil tambang…"

Takeshi Hakuba adalah pria tanpa ambisi dengan tipikal orang yang bisa kau temui pada anak pewaris konglomerasi raksasa. Dia sangat menikmati hidup, seperti berburu di Afrika atau bermain kartu poker di salah satu casino terbesar Las Vegas atau bersenang-senang dengan gadis-gadis molek di kapar pesiar yang melaju kencang membelah air laut di Las Palmas, Spanyol. Selama dua puluh tujuh usianya, baginya—uang adalah untuk dihabiskan dengan tujuan-tujuan mulia seperti membeli Ferrari tipe terbaru atau kondominium di pengcakar langit Manhanttan. Dia tidak seperti Hakuba, yang termasuk lulusan Cum Laude dari Harvard, dia drop out dari Princeton—tidak, bukan berarti dia bodoh, dia cuma tertarik dengan bagaimana menghabiskan uang secepat kau menghasilkannya.

Dia selalu meremehkan sepupunya—yang selalu serius dan tergila-gila dengan Sherlock Holmes. Takeshi tau kalau Saguru sebenarnya membenci posisinya sebagai pewaris konglomerasi. Dia lebih tertarik menjadi detektif dan ingin menjadi inspektur polisi suatu saat nanti.

Takeshi terkekeh pelan, matanya memperhatikan bagaimana Saguru berdiri di depan slide proyektor yang menampilkan diagram, tabel-tabel, angka-angka, dan menjelaskan dengan lancar di depan pemegang saham yang terdiri dari pria-pria tua berjas Armani dengan tampang suram.

Hakuba Corporation yang memiliki jaringan hingga lima benua—diwariskan pada pria yang bahkan tidak pernah tertarik untuk mengembangkan bisnisnya. Sungguh ironis, bukan? Takeshi menyembunyikan senyumnya—dia akan merebut semuanya dari pemuda blasteran itu dan menghancurkannya hingga tak tersisa. Toh, Hakuba sebenarnya tidak tertarik mengembangkan bisnisnya, kenapa harus bersusah payah menyukai sesuatu yang kau benci setengah mati? Dia hanya berusaha menolong Hakuba—sepupunya adalah sahabatnya dari kecil. Yah, walau Hakuba tak pernah menganggapnya sahabat semenjak peristiwa itu tapi dia hanya mencoba membantunya.

Membantu menghancurkannya.

.

.

.

Pembukaan Magnolia Café yang merupakan franchise dari salah satu restoran terkenal telah mengundang begitu banyak atensi masyarakat. Apalagi ini merupakan pertama kalinya Hakuba Corporation menanamkan dominasi pertamanya pada dunia franchise restoran. Publik, pemegang saham stakeholder serta media ramai membicarakan hal ini—sepertinya semua yang berkaitan dengan Hakuba selalu membuat orang penasaran.

Setelah menembus barisan wartawan antusias dan paparazzi di pintu depan—Shiho dan Saguru memasuki ruangan VIP Magnolia Café, disana telah ditunggu beberapa orang penting. Shiho seperti biasa memainkan peranannya sebagai tunangan yang baik. Dia mengenakan gaun coklat polos dengan potongan rendah di bagian punggung yang memamerkan kulit mulusnya. Sedangkan Saguru dengan stelan Armani hitam putihnya asik berbicara basa-basi dengan walikota, artis ternama, pengacara, dan barisan orang penting lainnya. Ketika Shiho berpaling untuk mengambil red wine, matanya bertemu dengan seorang pria yang berdiri di sudut. Kemiripan pria itu dengan Shinichi luar biasa, Shiho bahkan harus mengerjapkan matanya sekali untuk menyadari kalau bukan detektif itu yang berdiri disana. Sepertinya pria itu menyadari kalau Shiho sedang menatapnya, dia mengangkat gelas kristal di tangannya dan mengedipkan mata. Shiho mendengus dan segera berbalik, hampir bertabrakan dengan seseorang. Takeshi Hakuba tersenyum simpul melihat kegugupan gadis itu.

"Miyano-san? Gaun Balenciaga ini sangat cocok denganmu," gumamnya senang.

"Oh, thanks," balas Shiho sambil mengangkat bibirnya sedikit, "…partnermu juga cantik." Takeshi menoleh gadis yang berdiri disampingnya, kemiripannya dengan Ran Mouri sangat kentara. Orang yang bisa menduga kalau dia dan Ran adalah saudara kembar.

"Perkenalkan Aoko Nakamori," gadis itu mengangsurkan tangannya yang diterima Shiho dengan hangat, "Miyano-san, aku telah membaca semua beritamu di koran dan majalah. Kau dan Hakuba-san adalah William-Kate versi Japan!" Matanya berbinar-binar. Shiho hanya tersenyum kecut. William-Kate versi Japan? Label media memang menakjubkan.

"Nakamura-san! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Saguru sambil mendekati mereka. Shiho melirik pria itu, yang sepertinya kurang suka dengan kehadiran Aoko. "Apa aku boleh berasumsi kalau kau berada disini, maka Kuroba-kun juga disini?"

"Benar. Aku disini," Kaito Kuroba—atau yang kita kenal dengan Kaitou Kid—berjalan santai sambil menyimpan kedua tangannya di saku celana katun hitamnya. Bahkan gaya berpakaiannya sangat mirip dengan Shinichi.

Saguru menyipitkan matanya, "Seingatku kau tak masuk daftar undangan terbatas ini."

Kaito tertawa, "Kau boleh memeriksanya, Tuan Muda Hakuba. Ada namaku dan Aoko disana. Lagipula aku belum pernah ke Paris sebelumnya. Kota yang indah."

"Oh, pastikan kau menikmati undangan kami. Permisi sebentar,"

Saguru hanya mendeham dan dia menggandeng tangan Shiho untuk memberi kode mengikutinya. Gadis itu mengerti dan menemani pria itu duduk di salah satu sofa. "Playboy itu hanya akan menghancurkan hati Aoko." Kata-kata Saguru yang pertama keluar tanpa tertahan. Shiho mengangkat alisnya sebentar lalu menggumam, "Kupikir sepertinya Nakamura-san bukan tipe Takeshi Hakuba."

"Benar, kau benar. Semua wanita yang pernah dikencaninya itu merupakan wanita blasteran." Saguru berhenti, matanya menatap Shiho lekat-lekat. Gadis itu mengerti apa yang dipikirkan Saguru—yang tidak perlu dikatakannya dengan terus terang. "Aku tidak tertarik dengannya," sahut Shiho pendek tapi mampu memadamkan sedikit percik kecemburuan yang membakar hati Saguru semenjak beberapa minggu ini—setelah kedatangan Shinichi Kudo itu.

"Yah. Kau selalu punya ketertarikan tertentu pada detektif dan pemain sepakbola." Shiho terkesiap, dia mengerutkan keningnya, "Kau tak punya dasar bukti yang tepat untuk menjelaskannya."

Saguru terkekeh, "Jangan mengelak, Shiho. Jelaskan padaku kenapa kau merekam semua pertandingan Ryuusuke Higo dan memutar ulang setiap video-videonya." Gadis itu memerah dan menyembunyikan wajahnya dari balik poni, "I-itu bukan… yah, itu bukan hal penting. Tapi kau belum menjelaskan soal detektif."

Pria blonde itu hanya tersenyum lebar. Dia senang melihat bagaimana Shiho gugup atau mencoba mengelak karena dia terlihat sangat manis.

Tak jauh dari sana, Aoko terlihat bertengkar dengan Kaito. Takeshi Hakuba langsung meninggalkan mereka berdua, dia tak pernah tertarik melihat pertengkaran orang lain. Lagipula dia tadi mengajak Aoko ke pembukaan Magnolia café ini karena mereka bertemu di salah satu pesta yang dihadiri ayah Nakamori. Dia pria cerdas—dia tau kalau Aoko merupakan cinta pertama Saguru, walau sudah bertahun-tahun lewat, dia masih ingin menggunakan informasi ini untuk kepentingannya sendiri. Tapi sayangnya, sepertinya perasaan itu sudah hilang karena sepupunya itu kelihatannya telah jatuh cinta mati-matian pada tunangannya sendiri. Ya, mati-matian. Takeshi tak pernah melihat bagaimana Saguru memandang wanita lain dengan tatapan mata mendamba dan penuh emosi. Sungguh lucu untuk pria arogan seperti Saguru bisa bertekuk lutut karena cinta.

Takeshi melayangkan pandangannya pada Saguru dan Shiho yang sedang duduk bersama di atas sofa. Matanya menyipit melihat bagaimana wajah gadis itu memerah dan Saguru keliatan senang.

Ketika dia hendak berbalik, Aoko mendekatinya, "Hakuba-san…" nafas gadis itu masih terengah-engah dan masih ada sisa amarah yang terbayang. Takeshi mengerti. "Bagaimana kalau kuantar pulang dulu, Aoko-chan?" Yang ditanya mengangguk dan mereka meninggalkan ruangan VIP itu disertai pandangan marah Kaito.

Begitu Takeshi dan Aoko duduk di jok kulit Porsche merah, pria itu menoleh dan menampilkan senyum terbaiknya. "Kau ingin ke tempat lain dulu? Jika kau mau—kita bisa mampir ke Le Chic Club."

"A-aku mau. Lagipula aku hanya beberapa hari di Paris dan belum sempat berkeliling sama sekali." Aoko kelihatan gembira sekali. Takeshi tersenyum puas dan menstarter mobil dengan satu tarikan luwes. Mesin menderu menembus kegelapan malam.

.

.

.

"Aku benci detektif."

"Hey, aku dan Shinichi Kudo detektif—jika kau lupa."

"Itu salah satu alasannya."

"Ha-ha." Saguru memutar bola matanya, dia melirik ke arah seberang ruangan dan menemukan kalau Kaito, Aoko dan Takeshi telah meninggalkan ruangan VIP Magnolia Café.

"Sepupumu merencanakan sesuatu," gumam Shiho.

Saguru menatap Shiho balik dan mengangguk lambat-lambat. "Benar. Kami memang tidak dekat tapi aku tau kalau dia tak pernah tertarik pada bisnis. Dia lebih tertarik pada berapa juta dollar yang bisa masuk ke rekeningnya setiap tahun dan cara menghabiskannya."

"Dia bilang kalau pamanmu tidak setuju dengan pembukaan café ini. Apa itu masalah besar?" tanya Shiho. Saguru menggeleng, "Ayah Takeshi sama kelakuannya dengan anaknya. Mereka hanya tertarik pada uang. Dia tidak akan bisa menentang apapun keputusanku. Lagipula aku sedang berkonsentrasi pada pembangunan Summerset Tower. Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu ada banyak masalah. Seperti demo yang tak henti-hentinya, sabotase pada bahan bangunan, generator yang selalu bermasalah, kecelakaan pegawai hingga tempat yang konon berhantu. Begitu banyak isu yang beredar sehingga mereka menghentikan pembangunan."

Shiho terdiam. Dia tau kalau Summerset Tower merupakan proyek prestisius terbaru Hakuba Corporation. Bangunan ini akan terdiri dari lima tower yang saling berhubungan dan memiliki kompleks plaza, perkantoran, apartemen, condominium terbesar di London. Saguru mempertaruhkan segalanya pada proyek ini karena merupakan tugas pertama pentingnya setelah ditunjuk sebagai pewaris. Nama baiknya dipertaruhkan. Begitu ada kegagalan sedikitpun, hal ini bisa membuat saham perusahaan turun sehingga menyebabkan kerugian besar.

"Jadi kau harus balik ke London secepat mungkin?" tanya Shiho. Dia teringat dengan janjinya pada Shinichi. "Benar, kita balik besok pagi," kata Saguru, "ada apa? Kau kelihatan bingung?"

Gadis itu menggeleng, "Tidak apa-apa." Lagipula Shinichi bilang itu bukan sesuatu yang penting. Walau reuni mereka hanya sebentar tapi pasti ada kesempatan untuk bertemu lagi. Lagipula dia masih harus sibuk di lab untuk menyelesaikan proyeknya. Proyek terpenting dalam hidupnya.

.

.

.

tbc


A/N : Kaito dan Aoko muncul karena gw masih butuh mereka untuk sub plot cerita. Juga Takeshi Hakuba, OC dengan tipe pria egois dan memiliki sifat apatis dengan sekelilingnya. Dia juga cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh tujuannya.

Akan lebih banyak drama di chapter-chapter berikutnya lagi. hehe

Thanks untuk a.m, Poppy8123, guest, Shinju Yoichi, misca, saniaMiyano, guest, guest, Rinidesu, lolita-chan, uchiha-yui, sherrylover, miyano, chairunnisahailey, furntancy, sodako yamamura, guest, guest, marutaro yang telah meninggalkan reviews.

SPOILER! jangan dibaca! Bourbon memang merupakan mata-mata dari PSIA atau PSB, belum ada keterangan konkrit. Bisa dibaca di chapter terbaru DC. Sungguh aneh kalau hampir semua anggota BO merupakan spy, agen ganda, berkhianat atau telah mati terbunuh. Terlalu banyak orang baik juga jadi ga seru kalau pihak antagonisnya cuma itu-itu saja dan lemah. Untung ada RUM, yang merupakan anggota BO terbaru dimana merupakan tangan kanan Boss dan jabatannya diatas Gin.

Thanks for reading ^_^