#Note : Maaf, pendek lagi (T^T) ngetik pakek hape capeknya tuh disini. *angkat jempol* kalau alurnya diluar ekspektasi nggak seperti yang diharapkan, saya minta maaf lagi.

Chapter 4 : 1949 words.

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

AU. OOC. SasuSaku. Fantasy.

.

.

Fokus! Aku harus fokus. Tingkat keberhasilan ilmu sihir tergantung dari kemampuan penggunanya dalam memusatkan pikiran. Inoichi pernah memberitahuku, bahwa banyaknya penyihir yang mati dalam pertarungan adalah karena mereka merasa panik di saat terjepit.

"Panik merupakan wujud dari ketakutan. Rasa panik yang berlebihan akan membuat kerja otak lumpuh. Kau akan lupa pada hal-hal penting, dan hanya melakukan hal-hal dasar yang bisa membuatmu cepat terbunuh.

Misalnya saja, dalam sebuah perang. Pertempuran satu lawan satu. Kau berhadapan dengan musuh menakutkan yang memiliki kekuatan luar biasa. Apa yang akan kau lakukan? Lari? Itu hanya akan memperpanjang umurmu selama beberapa detik.

Cobalah untuk tetap tenang dan melawannya. Ingatlah, sebagai penyihir, kita memiliki keunggulan hafalan ribuan mantra, dan juga kekuatan sihir yang sudah kita miliki sejak lahir. Jadi jangan pernah takut, dan lari dari apapun."

Ooke. Aku coba mengumpulkan keberanian setelah mengingat nasihat Inoichi. Berbalik, aku melemparkan tatapan tajam pada si Orc jelek yang masih mengejar dan bernafsu untuk menjadikanku santap siangnya.

"Ada apa gadis kecil? Kau sudah menyerah dan siap untuk dimakan?" ledeknya disertai tawa seram memuakan.

Cih. "Maju saja kau mahluk jelek!" ketusku sembari berusaha tenang dan tetap fokus. Ya fokus! Aku harus fokus agar bisa tetap hidup, dan bertanya pada Inochi tentang asal-usul dan juga sebagian ingatanku yang hilang.

Aku merasakan sebuah tarikan aneh di perutku, yang perlahan merangkak naik menuju ke atas. Seolah membawa energi untuk melindungi dan melingkupiku seperti kepompong.

Jantungku mulai bertalu kencang dan terasa panas. Orc jelek hampir mendekat, dalam dua langkah panjang dia pasti bisa menggapaiku. "Expetrum patro ..."

SAKURA!

"GRRAWR!"

Tak sempat membaca mantra lebih lanjut, aku dikejutkan oleh sebuah suara familiar yang berteriak di dalam kepalaku, disusul suara geraman primitif (sekawanan serigala besar)yang berasal dari belakangku. Seekor serigala hitam, sebesar dan setinggi kuda pacu menerjang, menabrakan diri ke arah si orc. Disusul serigala-serigala lainnya. Mereka terus menyerang, tanpa peduli bahwa tubuh mereka terpental akibat kena sabetan tangan raksasa orc.

'Ya ampun, mahluk apa ini? Dan kenapa dia bisa ada di sini?' aku tersentak mendengar suara asing-tapi-familiar yang tiba-tiba bergaung keras di dalam kepalaku.

Apa-apaan ini?

"Sasuke?" ucapku agak ragu menyebut namanya.

Aku tahu Sasuke itu manusia serigala, tapi aku tidak pernah melihatnya dalam wujud wolf.

Serigala hitam paling besar dalam kawanan menoleh, mata lebarnya yang sekelam malam menatapku sedih. Untuk sesaat dia melupakan keberadaan teman-temannya yang sibuk melawan mahluk raksasa dari dunia bawah.

'Sakura? Kau ...,' seekor serigala betina berbulu cokelat pasir tiba-tiba memekik keras, tubuhnya terpental diantara pepohonan. 'RIN! SIALAN! GRRR. RAWRR!'

Serigala Sasuke meraung marah. Dia menerjang orc yang memiliki tubuh tiga kali lebih besar dari dirinya, menggigit dan mencakar, membuat orc kewalahan.

Tidak mudah melukai bangsa orc, kulit mereka seperti terbuat dari beton. Aku sangat bersyukur kalau gigi serigala Sasuke bisa tetap utuh di tempatnya, setelah menggigit mahluk buruk itu.

Melihat perjuangan (sia-sia) para serigala dalam usaha merubuhkan si orc, membuatku merasa tak berguna.

Mereka datang ke sini untuk menyelamatkanku kan? Mereka tidak tahu dan bahkan tidak punya bayangan seperti apa bangsa Orc dan jenis kekuatan mereka.

Walau ini adalah kali pertama aku bertemu dengan Orc, tapi aku memiliki banyak informasi dan refensi tentang mahluk itu dan bagaimana cara mengalahkannya. Aku tidak boleh takut. Aku ini penyihir, walau aku tidak memiliki taring tajam dan juga fisik yang kuat seperti vampir atau manusia serigala, aku memiliki kemampuan yang lebih bagus daripada dua jenis mahluk mitos tersebut. Bakat sihir dan hafalan mantra.

Aku memberanikan diri untuk maju, memasuki arena pertarungan sekawanan serigala dan satu orc besar (yang selalu berhasil membuat para serigala terlempar, dan banyak diantaranya yang terluka).

'Sialan Sakura, apa yang kau lakukan? Cepat pergi dari sini!'

Mengabaikan seruan panik Sasuke di dalam pikiranku, aku mulai merapal mantra, sebelum orc besar tersebut makin membahayakan para pengepungnya.

"Expetrum patronum!" sebuah lingkup energi panas yang menyala bagai api, samar terlihat muncul di sekelilingku,

Energi tersebut menyebar ke depanku, lalu membentuk sebuah bayangan besar seperti seekor serigala. Tingginya sekitar lima meter. Dan sekelilingnya dilingkupi oleh api yang menyala-nyala. Serigala yang tercipta dari mantra sihirku itu melolong keras, mengagetkan Sasuke dan semua anggota packnya. Setelah itu dia menerjang si Orc, menjatuhkan dan mengoyaknya tanpa ampun.

Suara patahan tulang dan sobekan daging disertai lolongan menyedihkan dari si Orc jelek, terdengar mengerikan di telingaku. Tak butuh waktu lama, serigala yang tercipta dari mantra sihirku mengoyak dan melahap habis tubuh si orc. Setelah itu ... dia menghilang, berubah menjadi abu.

Hening.

Semua masih diam, tampak shock, sepertinya sedang berusaha mencerna kejadian barusan.

'Yang tadi itu ...'

Sepertinya aku harus pergi.

"Sakura!" Ino tiba-tiba berada di sampingku, mata birunya memancarkan sorot kekhawatiran. Dia kemudian menatap marah pada kawanan serigala yang masih termangu di sekitar kami. Ino pasti berpikir kalau kawanan serigala Sasuke berusaha menyakitiku. "Tadi aku merasakan kekuatanmu. Dan aku segera melakukan teleportasi kemari."

Ino tak bertanya tentang apa yang terjadi. Dia hanya meletakan tangan kanannya di dahiku, lalu membisikan mantra untuk membaca pikiran. Melihat secara detail apa yang barusan terjadi. Mata Ino melebar ngeri setelah mengetahui kejadian yang sesungguhnya.

"Demi jenggot Merlin. Yang barusan itu ..."

"Orc."

"Kita harus segera menemui Papa untuk memberitahukan hal ini," kata Ino khawatir, "Oh ya ampun, apa yang sedang terjadi di dunia bawah? Kenapa para peri penjaga jadi begitu ceroboh dengan membiarkan orc melewati gerbang?"

Tanpa mempedulikan keberadaan para manusia serigala di sekeliling kami. Ino segera melakukan teleportasi ke rumah, dengan membawaku bersamanya.

'Sakura.' Dalam perjalanan kilat menggunakan teleportasi. Aku masih dapat mendengar suara Sasuke di dalam kepalaku, walau samar.

.

.

.

Inoichi terlihat cemas dan panik saat mendapat informasi dariku, mengenai adanya mahluk Orc yang berhasil melewati gerbang dunia bawah. Dia segera menulis surat pos kilat untuk 'Ayah kandung'ku di dunia bawah, menanyakan apakah ada kekacauan yang sedang terjadi di dunia para mahluk mitos? Karena tidak biasanya para peri membiarkan mahluk seperti orc melewati gerbang.

Inoichi mengirim pos kilatnya menggunakan burung hantu berbulu putih, yang biasa bebas keluar-masuk dunia bawah dan dunia manusia. Menurut waktu dunia bawah, burung hantu pos kilat itu membutuhkan waktu dua hari sebelum sampai ke tangan penerima, sementara menurut waktu normal dunia manusia ... Yah, cukup tujuh menit.

"Menurut Ayah, apa yang sedang terjadi di dunia bawah?" tanyaku sambil memperhatikan Inoichi yang berjalan mondar-mandir di ruang makan, terlihat tak sabar menunggu balasan surat dari Ayah Kakashi di dunia bawah.

"Kaum Orc dibantu penyihir hitam memberontak, atau ada kudeta yang terjadi di kerajaan sihir dan kerajaan peri. Entahlah, Ayah tidak punya bayangan."

Dia mengacak rambut pirangnya frustrasi.

"Apa menurut Ayah kejadian ini berbahaya?" sejujurnya aku bingung dengan reaksi Ino dan Inoichi, yang menurutku berlebihan, "bukankah ini hanya satu orc yang berhasil melewati gerbang perbatasan? Siapa tahu hanya satu yang lolos, dan itu karena kelalaian penjaga." aku mencoba untuk berpikir positif.

Ayah dan Ino saling berpandangan.

"Sakura, mahluk seperti Orc tidak akan bisa melewati gerbang perbatasan kalau tidak ada yang membantu. Segel yang dibuat oleh leluhur kita dan para peri di pintu gerbang, cukup kuat untuk menghalau mahluk sejenis orc, dracula, atau para son of the mon. Mereka tidak bisa lewat kecuali ..." Inoichi tersentak, wajahnya tiba-tiba memucat. Sebuah opsi yang mengerikan melintas dipikirannya.

"Kecuali ...?" Aku berharap Inoichi melanjutkan kalimat, dan tidak menggantung seperti ini.

"Kecuali ada anggota keluarga kerajaan yang membantu," bisiknya ngeri.

Ino menatapku dengan sorot bingung, seolah bertanya ; maksudnya apa? Dengan sangat menyesal aku hanya bisa menggedikan bahu, pertanda aku sama tidak tahunya dengan dia.

"Sial! Orc tidak bisa melewati perbatasan kecuali dia mendapat segel kuasa dari anggota keluarga kerajaan. Tapi kerajaan mana?" kepanikan Inoichi naik tingkat menjadi defcon satu. "Kerajaan Fey atau Frigard? Tapi diantara kedua kerajaan itu, siapa anggota keluarga kerajaan yang sudah berani memberikan segel kuasa pada Orc? Dan apa tujuannya?"

Inoichi terus mengomel sendiri. Dan rasanya kepalaku hampir terbakar karena bingung dengan apa yang dia katakan.

Oh ya, kerajaan Frigard ... seperti yang kujelaskan tempo hari, adalah kerajaannya para kaum penyihir di dunia bawah. Berbeda dengan Circewitch yang merupakan nama wilayah tempat para tetua dewan sihir (yang cukup jago untuk urusan sihir-menyihir) tinggal. Ada yang bilang kalau Circewitch adalah tanah bertuah, dimana leluhur kami Circe mengubur kekuatannya. Penyihir manapun yang mengadakan pertarungan disana, kemampuan sihirnya akan meningkat sepuluh kali lipat. Amazing. Sedangkan kerajaan Fey merupakan kerajaannya para peri (sekutu penyihir). Mereka kuat dan pintar, mengatur banyak hal dalam sistem kehidupan dunia bawah. Bahkan sebagian jabatan penting di kerajaan Frigard konon katanya dikuasai para peri. Contohnya Ayahku, Hatake Kakashi, dia menjabat sebagai penasihat di Frigard lho. Makanya dia tidak bisa bersamaku di dunia manusia.

Sebuah benda berwarna putih masuk lewat jendela, bergerak langsung menuju Inoichi.

Burung hantu pos kilat sihir!

Inoichi mendapat balasan surat dari Ayahku. Dengan tergesa, pria dewasa rupawan yang memiliki wajah sangat mirip Ino itu membukanya. Selama beberapa saat mata biru Inoichi menekuri tulisan Ayah Kakashiku, setelah selesai dia menatap Ino dan aku dengan ekspresi tak terbaca. Tampak berat untuk mengungkapkan sesuatu.

"Ada apa Papa?" tanya Ino cemas.

"Kita ... harus bersiap-siap untuk perang."

"APA?!" Mataku dan Ino membeliak ngeri. Perang? Sungguhan? Ya ampun, melawan apa?

"Sebenarnya apa yang terjadi, Yah?" tanyaku mendesak Inoichi. Ini sangat membingungkan. Apa satu orc lolos melewati gerbang dunia bawah bisa menjadi pertanda perang? Lalu apa penyebabnya? Duh, lama-lama bingung seperti ini rambut merah mudaku bisa berubah warna menjadi merah api.

"Seminggu yang lalu, menurut waktu dunia bawah, Pangeran Mitsuki dari kerajaan Frigard diculik. Dalam penyandraan dia dipaksa mengeluarkan sihir pemberi segel kuasa untuk ratusan Orc dan vampir."

Ino menarik napas keras mendengar penjelasan Ayah.

"Lalu bagaimana keadaan Pangeran?" tanyaku.

Inoichi menggeleng sedih. "Tidak ada yang tahu, Kakashi bilang, kemungkinan dia sudah dibunuh. Kaum peri dan penyihir mencoba mengirim pasukan pencari terbaik, tapi hasilnya nihil."

Pangeran yang malang.

"Kakashi memberi kita misi."

Apa?

"Kita ditugaskan untuk mencari pintu keluar gerbang dunia bawah. Itu ada di suatu tempat di dunia manusia ini," jelas Inoichi.

Bibir Ino mengerucut. Dia terlihat serius. "Itu pekerjaan sulit, karena gerbang keluar dunia bawah berpindah tempat tiap menitnya di dunia manusia. Lagipula Pap, kau sendiri kan yang bilang kalau ada ratusan orc dan vampir yang siap menerobos pintu. Bagaimana cara kita menghadapi mereka?"

"Kakashi sudah mengirim bantuan tenaga tambahan untuk kita. Mereka dalam perjalanan."

Oh.

"Segera siapkan semua keperluan. Kita akan memulai misi," perintah Inoichi.

"Ooke." Aku dan Ino segera beranjak menuju kamar untuk menyiapkan semuanya.

Misi pertamaku. Wow.

"Sakura ...," aku menoleh. Inoichi menatapku sedih. "Nanti berhati-hatilah. Dan jangan memaksakan diri."

"Iya. Yah."

.

.

.

[NORMAL POV]

Di suatu tempat di kerajaan Fey, dua orang peri yang berasal dari keluarga bangsawan Hyuuga, diam-diam mengadakan pertemuan penting untuk membahas masalah yang terjadi di kerajaan penyihir sekutu mereka.

"Sampai kapan kita harus terus membantu? Sejak Raja Tobirama wafat, Frigard tidak pernah becus mengurus segala hal," lelaki tua rupawan peri Hyuuga, yang memiliki mata beriris rembulan itu mengeluhkan kerajaan sekutu mereka.

"Itu karena mereka dipimpin oleh Ratu Shion anak Ratu Mito, dia masih sangat muda dan tidak berpengalaman," Hyuuga Hiasi menjawab kalem keluhan saudara kembarnya.

"Aha! Lalu apa kau masih berniat menjodohkan anakku, Neji, dengan Ratu muda tidak becus itu?" tanya Hisashi dengan nada kesal yang kentara di suaranya.

Hiashi mendesah. "Hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Hyuuga mendapatkan tampuk kerajaan di dunia peri dan penyihir. Dan pula, apa kau sudah lupa tentang ramalan itu?"

"Ramalan?"

"Ramalan besar yang diucapkan oleh Oracle Frigard, pada masa Raja Hashirama. Yang intinya mengatakan bahwa suatu saat, salah satu pewaris perempuan kerajaan Frigard akan menjadi penyebab terjadinya perang besar di dunia bawah, dan juga akan melahirkan anak kuat dari ras campuran yang bisa membawa perdamaian atau kehancuran bagi dunia mahluk mitos."

Hisashi mendengus. "Oh ya, aku tahu cerita tentang ramalan itu, membuat Hashirama dan Tobirama mengeksekusi dan membuang putri mereka karena memiliki hubungan dengan manusia serigala. Itu konyol. Tapi apa kau yakin, ras campuran yang dimaksud adalah keturunan dari peri dan penyihir?"

Hiashi mengangkat bahu tak acuh. "Entahlah. Tapi kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu."