Thanks banget buat yang nge-review seperti: apple ocha (Aduh kayaknya nggak mungkin bias tuh Naruto jadi mentri atau penasehat Hokage. Soalnya Naruto dah benci banget ama Sasuke. Apalagi si Tsunade orang yang paling keras kepala. Tapi gw cari jalan keluarnya deh biar Naruto dianggap lagi), .hoshi.na-chan. (iya tuh, bener banget ntar gw coba pake POV. Thanks), Sora Aburame (untung aja nih cewek dah kagak bawa golok lagi, padahal gw bawa shotgun dibalik jaket Akatsuki gw, emang si Naruto nggak nganggep si teuchi kakek ya?? Gw kira dia manggil teuchi kakek. thanks infonya), raichan-wiibb (maaf ya mbak, gw belum maksud ama usulanna tolong dijelaskan sekali lagi. Maklum gw agak lemot. Masih pake Pentium 3 sih. MAKSUDNYA??). Demikian pembukaannya, and like a usual give me more reviews. Gw selalu menunggu review kalian yang sangat menarik itu. GW TUNGGU…
Oh iya kali ini, mungkin gw agak ngerubah cerita gw.
Disclaimer: masashi kishimoto (what ever lah siapa pembuatnya) yang membuat kartun Naruto. Gw hanya menyalurkan hobby…
Forgive MeAfter visiting Naruto (red: maaf gw lupa ini kan bahasa Indonesia ya) Setelah mengunjungi Naruto dan sempat menahan pertarungan yang akan terjadi antara Naruto dengan Neji. Hinata pergi dari apartemen Naruto. Dia pergi mengikuti Neji, untuk meyakinkan Neji tidak akan kembali lagi dan juga tidak mengusik Naruto lagi. Neji berjalan menuju tempat latihan teamnya. Neji menengok ke Hinata.
Hinata
Neji:Hinata-sama, Kenapa kamu mengikuti saya?
Hinata:Ma-maaf Neji ni-san, sa-saya hanya mau tahu ka-kamu mau pergi kemana. Hanya I-itu. (dalam terakhir pembicaraannya Hinata berkata pelan sekali)
Neji:Hinata-sama, saya hanya ingin berlatih bersama Ten-ten, Rock Lee dan Gai-sensei. Saya tidak akan menantang Naruto, selama Naruto tidak berbuat ulah lagi terhadap kamu, Hinata-sama.
Hinata:Ohh, go-gomen, Neji ni-san. Kalau begitu saya akan pulang saja ke rumah. Sa-sampai nanti, Ne-Neji ni-san.
Hinata pun berlalu dari hadapan Neji. Dia berjalan pulang ke rumahnya di kompleks Hyuga.
'Naruto-kun sebenarnya kamu kenapa? Dua hari yang lalu setelah kejadian itu, sikap mu hanya berubah jadi pendiam. Tetapi sekarang kamu malah menjadi pemarah dan brutal. Ada apa dengan kamu?'
Hinata terus berjalan sampai di depan pintu gerbang kompleks. Dia masuk ke dalam kompleks dan menuju ke kamarnya. Tetapi langkahnya terhenti karena Hinata mendengar ada yang memanggil namanya. "One-chan" panggilan itu terdengar lagi. Hinata berpaling ke arah asal suara itu. Dia pun tersenyum ke orang yang memanggilnya.
Hinata:Ohayou, Hanabi. Ada apa memanggil saya?
Hanabi:One-chan, ayah mau bertemu. Dia sekarang ada di ruang meditasi. Katanya ada yang mau dibicarakan.
Hinata:Ohh, gitu ya. Baiklah saya akan menuju ke sana setelah mengganti pakaian ini.
Hinata tersenyum kepada adiknya, dan segera berlalu untuk mengganti pakaiannya. 'Hari ini, bikin aku pusing. Hari ini aku mau istirahat di taman belakang setelah bertemu ayah dulu'. Hinata mulai berganti pakaian. Dari baju yang biasa dipakai untuk berlatih diganti menjadi t-shirt putih untuk bersantai di rumah. Diapun bergegas menuju ruangan meditasi, dimana ayahnya (Hiashi Hyuga) telah menunggunya.
Hinata kemudian membuka ruangan tersebut dan masuk ke dalam.
Hinata:A-Ayah, Ada apa ayah memanggil saya? A-Apakah ada sesuatu yang penting?
Hiashi:Hinata, kemarin malam Neji bilang kamu menangis. Apa benar?
Hinata:I-Iya ayah, me-mangnya kenapa?
Hiashi:Hinata, bilang sama ayah siapa yang membuat kamu menangis dan dia melakukan apa sampai kamu menangis?
Hinata:A-Ayah, sa-saya menangis bukan menangis karena sesuatu sebab. Sa-saya menangis karena me-mengingat ibu.
Hinata mencoba untuk menyembunyikan penyebab ia menangis kemarin malam.
Hiashi:Hinata, kamu tidak usah menyembunyikan itu. kalau kamu tidak ingin memberitahukan itu, ya sudah. tapi berjanji jangan menangis lagi ya. kalau ingin menceritakan sesuatu, cerita saja sama ayah. ayah dengan senang akan mendengarkannya.
'Tumben ayah baik sekali. Ada apa ya?'
Hinata:Baik ayah. Ayah saya mau ke taman belakang dulu ya.
Hiashi:Ya sudah. taman itu menjadi kenangan yang mendalam buat ayah.
Hinata:Ayah, apakah ayah rindu ibu?
Hiashi:Hmmp. Ayah rindu ibumu Hinata. Ya sudah kamu ke sana saja nanti ayah mau ke sana.
Hinata:Sampai nanti ayah.
Kemudian Hinata melangkahkan kaki menuju taman belakang kompleks.
Naruto
Naruto hanya melihat dan mendengar perkataan Hinata. Naruto terus terngiang-ngiang dengan perkataan Hinata 'Gw pernah mendengarkan perkataan itu sebelumnya dimana ya? kapan? 'Saya nggak mau lihat Naruto menderita'. Naruto terus mengingat-ingat, dimana dan kapan dia mendengarkannya. Naruto bergegas menuju kamar mandi untuk mandi pagi. Setelah mandi dia bergegas mencari makan.
'Waduh, gw dah nggak enak ama teuchi oji-san. kemaren gw dah gak sopan ama dia' Naruto masih mengingat kejadian kemaren malam. Dia terus berjalan menuju ke Ichiraku Ramen. Sampai di sana, Naruto ragu-ragu untuk masuk ke dalam.
Teuchi:Hey Naruto, kalau mau makan masuk saja. Jangan berdiri di situ mengganggu pelanggan saya yang lagi makan neh.
Naruto pun masuk dan duduk di bangku ke tiga dari para pelanggan Ichiraku.
Naruto:Sumimasen, Teuchi oji-san. saya mau pesan yang seperti biasa Teuchi oji-san.
Teuchi kemudian memberikan pesanan Naruto seperti biasanya. Satu mangkuk besar ramen beserta beberapa potong daging ayam. Naruto menerima mangkuk itu kemudian dia mulai memakannya.
Setelah habis 6 mangkuk, Naruto tidak bergegas pergi. Dia menunggu warung itu sepi. Setelah para pelanggan pergi Naruto memanggil Teuchi.
Naruto:Teuchi oji-san, saya mau bilang...
Ucapan Naruto terpotong oleh Teuchi
Teuchi:Naruto, kemarin tak usah dipikirkan lagi. Saya juga maklum karena kamu maih dalam tahap perkembangan menjadi orang dewasa. emosi kamu belum bisa terkontrol dengan baik.
Memang Teuchi tidak mengetahui masalah yang dihadapi Naruto.
Naruto:Teuchi oji-san, saya memang lancang sekali kemaren. Saya merasa bersalah sekali kemaren. saya minta maaf. kalau Teuchi oji-san mau membalasnya, saya akan terima segala perbuatan yang akan Teuchi oji-san lakukan.
'Mmm kayaknya Naruto bener-bener merasa bersalah. apa yang harus saya lakukan? Oh iya... hehehe. mungkin bisa dilakukan dengan itu' Teuchi tersenyum dengan ide yang sedikit jahil.
Teuchi:Baiklah Naruto. bener kamu gak marah dan kesal?
Naruto:Saya tidak akan marah dan saya akan melakukan apa saja yang Teuchi oji-san suruh.
Teuchi:Oke dah, kalau gitu kamu saya suruh untuk mengantarkan beberapa pesanan ramen. Gimana kamu mau?
Naruto:Baiklah saya terima itu.
Naruto kemudian mengambil pesanan ramen yang akan diantar orang yang memesan. Salah satunya ke Kompleks Hyuga.
After 30 minutes
Naruto mengantarkan pesanan terakhir yaitu ke kompleks Hyuga. Pertama sih Naruto agak ragu untuk mengantarkan pesanan itu, karena sudah terlanjur menerima persetujuan oleh Teuchi akhirnya Naruto menyanggupi untuk mengantarkan pesanan itu. Sampai di depan pintu gerbang, Naruto diberhentian oleh seorang penjaga gerbang.
Penjaga:Berhenti. Ada urusan apa kamu ke kompleks Hyuga? (Dengan tampang yang disangar-sangarkan)
Naruto:Saya hanya mau mengantarkan pesanan ramen ke sini.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari dalam wilayah kompleks Hyuga. "ADA APA ITU RAME-RAME DILUAR?". Penjaga gerbang kemudian menoleh ke arah suara itu.
Penjaga:Ohh Hiashi-sama, ini ada pemuda yang mau mengantarkan pesanan ramen. (mukanya kelihatan tegang setelah menatap Hiashi)
Hiashi:Suruh pemuda itu masuk dan menemui saya.
Penjaga:Baik Hiashi-sama.
Kemudian penjaga gerbang itu kembali ke arah Naruto.
Penjaga:Hey kamu disuruh masuk dan bertemu Hiashi-sama di dalam.
Naruto:Kan tadi gw dah bilang kalau yang mesen itu si Hiashi, dasar lu penjaga bego sia (tatap Naruto dengan senyum yang sinis ke arah penjaga gerbang itu)
Naruto kemudian melangkah masuk ke dalam kompleks Hyuga.
'Wah, luas banget tempat latihan kompleks hyuga ya. Besar juga lagi rumahnya. Pasti enak banget tinggal di rumah sebesar ini. Beda dari kamar apartemen gw' Naruto sadar kembali dari lamunannya setelah ditegur oleh Hashi.
Hiashi:Hey kamu jangan melamun terus. cepat antarkan pesanannya ke taman belakang sana.
Hiashi menunjukan taman yang berada di samping tempat latihan Hyuga.
Naruto:sumimasen, tadi Bapak bilang apa ya? tadi saya tidak mendengarkannya.
Naruto sedikit tertawa untuk menutupi rasa malunya dan rasa bersalah karena tidak mendengarkan perkataan Hiashi.
Hiashi:Dasar kamu, makanya kalau ada orang ngomong tuh, ya mbok di dengerin dulu sih. (red: disini ada logat Jawa-nya) Kamu ke sana tuh, kamu liat ada dua orang anak perempuan yang sedang ngobrol bareng. kamu kasih ramen itu ke mereka. Oh iya si teuchi kemana? kok bukannya dia atau Ayame yang mengantarkan?
Naruto:Oh Teuchi oji-san lagi sibuk di warungnya, banyak pelanggan (Naruto cuma berbohong). Oh ya gomen nih, bapak siapa dan namanya siapa? Oh apa bapak pelayan di sini?
Naruto tidak mengenal betul tentang Clan Hyuga, jadi dia tidak tahu Hiashi. Dia hanya tahu si Neji, Hinata dan kesombongan Clan Hyuga tentang kelebihan yang adadi mata mereka. sama seperti Clan Uciha (red: ini berdasarkan film Naruto yang mendapatkan misi untuk mencari harta karun).
'Kurang ajar anak ini. Dia tidak mengenal saya' pikir Hiashi.
Hiashi:Hey anak muda, kamu tidak mengenal saya?
Naruto hanya menggelengkan kepala.
Hiashi:Saya adalah ketua Clan Hyuga. Nama saya Hiashi Hyuga (dengan angkuh menatap Naruto).
Naruto hanya terperangah, seolah tidak percaya. 'Apa bener ini orang ketua Clan Hyuga? rambut panjang pake baju kimono untuk laki-laki berwarna putih dan tampangnya juga tidak menunjukan dia seorang pemimpin' pikir Naruto.
Hiashi:Ya sudah, kamu saya maafkan. Cepat kamu antarkan ramen itu sebelum dingin. Kalau sudah dingin ramennya jadi gak enak dimakan. Anak-anak saya sudah menunggu, cepat sana.
Naruto:Hi, Hyuga-sama.
Naruto segera berlari ke arah ke dua orang perempuan yang sedang mengobrol di taman belakang itu.
'Dasar pemuda yang tidak tahu sopan santun. Tapi semangatnya besar juga ya' pikir Hiashi.
Naruto kemudian menyapa kedua perempuan yang mengobrol itu.
Naruto:Hay one-chan, saya mau mengantarkan pe-
Omongan Naruto berhenti setelah melihat Hinata di taman itu dan hanya memandangi Hinata. Terus menerus dia tidak berhenti dan bertanya kenapa Hinata ada di taman itu. Kemudian Hinata bangun dari tempat duduknya menuju Naruto.
Hinata:Na-Naruto-kun, sedang apa kamu disini?
Naruto:Hinata, ngapain kamu ada di sini?
Hanabi:Eh yang sopan ya ama kakak gw, ditanya malah nanya!
Hinata:Ha-Hanabi, yang sopan ama orang lain.
Hanabi:Gomen, one-chan.
Naruto:Hinata itu adik kamu?
Hinata:I-Iya itu a-adikku. me-memangnya ke-kenapa?
Naruto:Nggak, beda aja ama sikap kamu. dia kayaknya bukan adik kamu.
Hinata:Ma-maksud kamu a-apa?
Hanabi:Iya maksud loe apa?
Hinata memandangi adiknya untuk berlaku sopan terhadap temannya. Hanabi cuman tersenyum ke Hinata.
Naruto:Maksud gw tuh, kamu pemalu dan berperilaku baik sama orang lain. tapi adik kamu malah nggak tau malu dan kasar ucapannya.
Hanabi hanya bergidik mendengar ucapan Naruto.
Hanabi:Apa kamu bilang. Kamu mau ngajak bertarung apa? (pasang kuda-kuda untuk bertarung)
Hinata:HANABI. Go-gomen Na-Naruto-kun, a-adikku emang begitu si-sifatnya. Oh i-iya kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.
Naruto:Oh iya aku mau mengantarkan ini.
Naruto menunjukan pesanan ramen yang dia pegang dan diberikan ke Hinata. Hinata menerima tas yang berisi tiga mangkuk ramen. Selang beberapa menit setelah Hinata menyiapkan ramen pesanan, Hiashi datang bergabung untuk menyantap ramen pesanan. Naruto hanya melihat keluarga yang rukun itu.
Kembali Naruto dirundung kesedihan. Dia rindu dengan yang namanya keluarga dan kehangatan sebuah keluarga. Apabila dia mengingat Sasuke, Sakura dan Tsunade, dia hanya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu dan itu sangat menyakitkan. Takterasa air matanya keluar. Hinata kembali memandang Naruto. Dia melihat Naruto seperti menangis.
Hinata:Na-Naruto-kun ada apa?
Naruto:Huh, apa Hinata? maaf aku tidak mendengarkan.
Hiashi:Hey anak muda makanya jangan banyak melamun.
Hinata:Na-Naruto-kun, ka-kamu menangis.
Naruto:Tidak, aku tidak menangis.
Hinata:Te-terus kenapa mata kamu berair?
Naruto:Oh ini, aku hanya kelilipan debu saja.
Naruto mencoba untuk menyembunyikan perasaannya yang sedih.
Hiashi:Hey anak muda, nama kamu siapa tadi?
Naruto:Namaewa Naruto Uzumaki, Hyuga-sama
Hiashi:Ohh. Kamu tunggu di sini dulu ya. Saya mau ambil uang pembayarannya.
Naruto:Hi, Hyuga-sama.
Hiashi bergegas meninggalkan taman itu menuju kamarnya untuk mengambil uang pembayaran ramen. Hanabi sedang asyik makan ketika Hinata berjalan mendekati Naruto.
Hinata:Na-Naruto-kun ada apa? Ka-kamu keliatan sedih sekali. Oh i-iya kalau kamu mau berbagi cerita sama a-aku tentang masalah yang sedang kamu hadapi, a-aku akan mendengarkannya dengan baik kok. Ka-kalau aku bisa bantu nanti a-aku berikan solusi untuk mengatasi masalah yang kamu hadapi.
Naruto kembal mengingat kejadian semalam. Dia mengingat ketika memarahi Hinata dan menyuruh pulang dengan kasar. Dia melihat tangan Hinata yang terbalut dengan perban. Naruto kembali mengingat pertanyaan yang mau dia katakan ke Hinata.
Naruto:Hinata tangan kamu kenapa?
Hinata mengangkat tangannya ke depan perutnya dan kemudian dia menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.
Hinata:Oh, a-aku terluka pa-pada saat sedang latihan sendiri di tempat latihan.
Naruto mengetahui Hinata berbohong saat itu. Dia mencari cara agar Hinata memberitahukan penyebab tangannya terluka.
Naruto:Oh, terluka apa terbakar? kayaknya tangan kamu terbakar deh. soalnya balutan seperti itu berbeda dari luka lainnya.
Naruto mengerti berbagai jenis balutan dari Sakura.
Naruto:Apakah hari itu kamu yang memeluk gw dari belakang sebelum gw pingsan?
Hinata sudah mati langkah. Dia tidak bisa menyembunyikan mukanya yang memerah.
Naruto:Sudah kamu jujur saja, gw nggak mungkin bisa dibohongin. abis gw tannya temen-temen gw, mereka nggak tau siap yang menolong gw dan gw tau ciri-ciri orang yang nyelametin gw. Pasti tangannya terbakar oleh cakra yang keluar dari tubuh gw.
Hinata kali ini bener-bener dah nggak bisa cari ide untuk berbohong. Hinata cuma menganggukkan kepalanya saja.
Naruto:Jangan cuma menganggukkan kepala. Bilang iya kalau kamu yang menyelamatkan gw.
Hinata:I-Iya Naruto-kun.
Kemudian Naruto secara refleks memeluk Hinata.
Naruto:Terimakasih Hinata-chan, kamu sudah menyelamatkan gw dari pengaruh kekuatan kyubi itu.
Hanabi terperangah melihat kakaknya dipeluk Naruto dan tidak bilang apa-apa 'Gila nih anak, masa tau-tau memeluk kakak gw. Berani amat nih orang'.
'Apa, Naruto-kun memeluk aku. Aku nggak percaya ini. Kami, jangan pingsan, please jangan pingsan. Dia juga memanggil aku Hinata dengan akhiran chan. Wah maksudnya apa ini?' Pikiran Hinata berkecamuk
Hinata:Na-Naruto-kun cu-cukup. A-ada adikku.
Naruto melepaskan pelukannya dan memandang Hanabi dengan senyuman. Kembali pandangan Naruto ke Hinata.
Naruto:Gommenosai Hinata-chan. Gw sudah berkelakuan kasar ama kamu waktu semalem. Gw nggak bermaksud untuk kasar ama kamu. Tapi emang aku cuma pingin sendiri. Sekali lagi gw minta maaf sama kamu.
Naruto kemudian meraih kedua tangan Hinata yang disembunyikan dibalik punggungnya. Dia memegangnya dan mulai berpikir 'Gw telah menyakiti orang lain. gw nggak nyangka bisa kayak gini akibat dari kelalaian gw dengan membiarkan kyubi untuk ikut larut dalam emosi gw. Tangan ini, tangan temen gw.'
Mukanya Hinata memerah ketika tangannya dipegang Naruto 'Naruto-kun, kamu mau ngapain dan mau diapain tanganku ini?'
Naruto:Maafin gw ya Hinata-chan. Akan perbuatan gw sampe-sampe tangan kamu seperti ini.
Hanabi terus bertanya-tanya dalam pikirannya 'emang ada apa dengan kakak gw. Tangannya terbalut, kemaren dia bilang ama ayah terluka karena mencoba memotong kayu dengan ilmu jyuken.'
Hinata kemudian melepaskan tanganya dari Naruto dan tersenyum dengan muka merahnya.
Hinata:Na-Naruto-kun, lupain aja yang lalu-lalu. A-aku dah maafin Naruto-kun kok.
Naruto:Thanks ya, Hinata-chan. Kamu memang memiliki sifat yang ramah dan pemaaf.
Mukanya Hinata tambah memerah. Hanabi mulai curiga akan sikap kakaknya.
To be continued
Cerita kali ini panjang dan cuma berisikan penyesalan Naruto aja. Oh ya gw tunggu (review, kritik dan saran)-nya.
Tunggu Cerita Selanjutnya ya...
