Melodi Gabungan

.

Peringatan: OoC, AR, Slash, dan Ingatan Fukumoto yang Simpang-siur.

.

Joker Game oleh Koji Yanagi

Melodi Gabungan oleh Putra Penipu

.

Chapter 4: Tentang Seorang Pria yang Membawa Teropong Bintang di Tangannya

.

Seorang penyair mencintai kata-kata, seperti halnya seorang komponis mencintai nada-nada. Tenar yang mereka sebut sebagai keindahan. Sayangnya, Fukumoto bukan keduanya. Ia hanyalah seorang pria pendiam yang terpesonakan oleh satu hal di balik itu semua; adalah keheningan. Sebuah keheningan, bagi Fukumoto, itulah keindahan sejatinya. Keindahan yang ia sebut sebagai cinta, yang dirasakannya kepada lelaki itu, pun tumbuh dari sana; tanpa kata, penuh rahasia, dan dalam hening.

Dua tahun Fukumoto mengenalnya — Sakuma. Itu dimulai sejak tahun 1937, sejak ia mengikuti pelatihan di D-Agency, dan menjadi salah satu dari delapan orang yang terpilih. Hanya dua tahun, sehingga ia sendiri bahkan tidak yakin seberapa kuat ingatannya tentang Sakuma. Itu sesamar wajahnya yang melintas pada cermin masa. Ironisnya, jika bisa menuliskan tentang itu, maka Fukumoto yakin ia bisa menuliskannya dengan mudah dan dengan lembaran kertas yang tak berbatas. Ia merasa bahwa selalu ada masokisme pada sebuah ingatan.

Ingatan itu diperoleh dari pengetahuannya tentang Sakuma yang memang tidak datang secara tiba-tiba. Hal itu disebabkan karena ia kerap mengamati. Ibarat Sakuma adalah bintang di langit, maka Fukumoto adalah seorang pria yang berdiri di belakang sebuah teropong bintang yang telah usang lalu dibuat takjub olehnya. Seorang pengagum rahasia yang ingin tahu segalanya, sedangkan Sakuma tidak tahu apa-apa.

Fukumoto mengamati Sakuma dari kejauhan, hanya dari jauh. Ia melakukannya dengan hening dan penuh ketentraman. Sekiranya tidak ingin mengusik Sakuma. Oleh karena itu, setakjub apapun Fukumoto dibuatnya ia tidak pernah mengikis jarak.

Nyatanya, jarak tidak dapat memisahkan satu dengan yang lainnya, pun hatinya dengan Sakuma. Oleh karena jarak itu pulalah Fukumoto belajar bahwa segala sesuatu yang berharga hendaknya memang diamati dan direnungkan, itulah arti eksistensi Sakuma untuknya. Sehingga, Fukumoto memahami hal-hal yang orang lain tidak ketahui, tidak ada satu orangpun yang memahami Sakuma sebaik dirinya. Pengetahuannya tentang Sakuma seakan-akan sudah mencapai titik zenit dan dirasanya bahwa Sakuma bagaikan telah menjadi bagian dari dirinya sendiri. Ya, sedekat itu, seintim itu.

Itu sebabnya, Fukumoto lebih memilih berdiri di belakang meja dapur kafetaria saat satu koleganya mengajak Sakuma untuk bermain poker yang disangkakan lelaki itu. Kesekian kalinya, dari kejauhan, ia mengamati Sakuma. Itu dilakukannya bahkan sampai hal-hal remeh sekalipun; caranya duduk, caranya mengapit rokok, hingga ekspresi mukanya saat ia mendapatkan kartu yang bagus dan secara spesifik Fukumoto tahu susunan lima kartu di tangan Sakuma.

Hal tersebut dikarenakan Odagiri yang duduk di belakang Sakuma sembari membaca kisah si Serigala Padang Rumput telah mengulang halaman yang sama setidaknya tiga kali hingga pada putaran kedua. Isyaratnya yang jauh dari kata berandang, bahkan mungkin tidak berarti apapun, tetapi ada bukan untuk diabaikan. Maka, saat isyarat lain dari Tazaki yang menopang kepalanya dengan keempat jemarinya di pipi membuat Fukumoto tahu bahwa kartu di tangan Sakuma akan kalah. Sekali itu, Fukumoto memutuskan untuk menjadi seorang desertir. Lalu, ia seka empat gelas keramik yang serupa dan tahulah mereka langkah selanjutnya. Ya, mereka semua kecuali Sakuma.

Jika memang Sakuma adalah bintang bagi teropong usang Fukumoto, maka lelaki itu adalah bintang yang mempesonakannya tanpa tahu dirinya sendiri akan mati. Sebuah bintang yang bersinar di langit kelam tanpa tahu kelak itu akan jadi makam. Lelaki naif itu yang menganggap dunia ini jujur dan adil. Dunia dalam angan-angan Sakuma yang bagi Fukumoto hanyalah sebuah kebohongan manis. Timbul karena dunia ini sudah selayaknya lalim dan memang seperti itulah kenyataannya. Keadilan adalah suatu ketidak hadiran, adalah suatu hal yang mustahil. Ia pun tahu bahwa terkadang orang-orang yang jujur akan hancur, setidaknya dalam permainan mereka. Satu hal itu jugalah yang saat itu sedang terjadi kepada Sakuma.

Fukumoto mengakui bahwa sejujurnya pemikirannya dan Sakuma sangat bertolak belakang. Namun, apabila Fukumoto sanggup merangkainya dalam kata-kata, meskipun hanya pura-pura, perbedaan itulah yang mempesonakannya. Perbedaan... jika suatu waktu orang lain menyebut itu sebagai dosa, maka ia menyebut itu sebagai cinta. Sakuma, lelaki itu yang tidak seperti dirinya ataupun mereka. Fukumoto yang mencintainya karena lelaki itu tidak memalsukan diri.

Sakuma yang jujur dan Fukumoto mengapresiasinya di antara dunianya yang bertentangan. Oleh karena itu pada suatu pagi di awal musim gugur, tetapi masih terlalu dini untuk membuat sarapan, Fukumoto bertekad untuk tetap pergi ke kafetaria. Di sana pula Sakuma telah duduk ditemani secangkir teh yang mengepul. Lelaki itu yang merasa sedikit kedinginan dan sudah tidak mengantuk.

Di kafetaria, pada suatu tempat hanya ada dirinya dan Sakuma. Satu hal yang membuat jaraknya menjadi tidak tentu, tetapi Fukumoto masih tetap membawa teropong bintang di tangannya. Seakan-akan ia ingin berkata. "Sakuma-san, aku tetap tidak ingin mengusikmu." Namun, bahkan Fukumoto tidak tahu, lelaki itu ataukah dirinya sendiri, yang sedang ia yakinkan.

"Ah, Fukumoto, selamat pagi. Semoga kau tidak keberatan karena aku memakai dapur untuk membuat teh."

Fukumoto masih mengamati Sakuma, yang berkata demikian sembari mengusapkan kedua telapak tangannya, sebelum ia menjawab, "ya, tidak masalah, Sakuma-san."

Lalu hening menyeruak di antara mereka. Fukumoto kembali kepada jarak dan Sakuma kepada cangkir tehnya. Namun, bukan berarti Fukumoto menjadi tidak acuh. Sesaat kemudian ia mulai menghidupkan tungku dan memutuskan untuk membuat sup tofu dengan jamur dan ekstra bawang putih sebagai menu sarapan yang sedikit lebih pagi. Kali ini, Fukumoto memasak dengan tempo yang tidak lebih cepat daripada biasanya, hanya karena ia memiliki lebih banyak waktu dan dengan sengaja membiarkan tungkunya tetap menyala.

Sesungguhnya, Fukumoto tidak ingin menjadi sok tahu. Namun, ia hanya sebagai seorang pengamat yang tidak ingin mengikis jarak dan tidak berani menyentuh Sakuma. Inilah semata-mata yang sanggup ia lakukan. Nyatanya, lelaki itu tidak lagi mengusap kedua telapak tangannya, berhenti mencoba menghangatkan dirinya sendiri. Lalu, Fukumoto mengulum senyumannya.

"Kurasa matahari sudah lebih tinggi. Udaranya menjadi lebih hangat bukan, Fukumoto?" Sakuma bertanya, entah hanya basa-basi atau tidak.

Fukumoto mengalihkan pandangannya dari pisau di tangannya menuju Sakuma. "Ya, Sakuma-san," kemudian Fukumoto melihat mata Sakuma yang beriris biru gelap berkilat bahagia.

Sekali lagi, dari belakang meja dapur kafetaria, Fukumoto mengamati Sakuma yang sesudah berkata demikian lalu beranjak dari duduknya. Lelaki itu berdiri seraya membersihkan celana panjangnya dari debu yang khayali dan berjalan menuju jendela. Setelah itu, Sakuma membuka kerai yang menutupinya.

Sinar matahari di awal bulan pemburu karenanya masuk berhamburan. Sinarnya, dalam perspektif Fukumoto, membiaskan garis-garis terang gelap di wajah Sakuma. Itu membuatnya teringat akan film-film noir yang terkenal di tahun-tahun sesudah itu. Fukumoto merasa bahwa Sakuma, atau lebih tepat disebut sebagai ingatan tentang lelaki itu, melampaui ruang dan waktu. Begitulah, sejak saat itu hingga kini, kepalanya selalu digunakan untuk memikirkannya (1). Namun, Fukumoto sendiri masih tetap bersembunyi pada jarak.

"Tidakkah kaumencintai sinarnya yang terang, Fukumoto?"

Kedua kelopak mata Fukumoto mengerjap cepat dan pikirannya mengalkulasikan, apakah itu sebuah pertanyaan lugas atau pertanyaan sindiran. "Ya," dan Fukumoto menjawab dengan singkat.

Lalu, Sakuma tertawa. Di telinga Fukumoto, tawa Sakuma terdengar semerdu suara ikan makarel yang dimasak dengan Riesling pada suatu waktu Fukumoto mengingatnya. "Bukankah itu agak kontradiktif?" Sakuma berkata demikian di antara tawanya.

Fukumoto sejatinya paham arah pertanyaan Sakuma, yang ia tidak pahami adalah lelaki itu menganggap pemahamannya dan Fukumoto tentang sinar yang terang adalah sama. "Kurasa... tidak."

"Bagaimana bisa? Itu sungguh bertentangan dengan keyakinan kalian."

"Mungkin kehidupan seorang mata-mata tidak pernah sesederhana itu," Sejujurnya Fukumoto menjawab demikian untuk sekadar menghindar dari konflik dan untuk sedikit membuat lelucon tentang dirinya sendiri. Meskipun tidak ada satupun dari mereka yang tertawa, tetapi sebaliknya.

Tawa Sakuma berhenti dan digantikan dengan kernyitan di dahinya. Itu membuat alisnya semakin menukik seperti sayap anggun burung merpati. Lalu, raut mukanya berubah menjadi serius. "Kau... kalian, benar-benar penipu ulung, bukan. Licin seperti ular."

Fukumoto mendengarkan Sakuma tanpa berusaha menginterupsinya. Ia tahu Sakuma adalah lelaki yang jujur dan itu murni pemikirannya. Namun, Fukumoto bertanya-tanya tentang satu hal. "Ular apakah aku menurutmu, Sakuma-san?"

"Entahlah, bahkan aku terlalu takut untuk memberinya nama." Sakuma berkata demikian setelah ia berpikir sejenak. "Fukumoto, jauh di lubuk hatimu, apakah itu tidak mengganggumu? Berpura-pura, segala sesuatunya di kehidupanmu yang selalu beralih rupa, dan tahu hanya ada kegelapan dan kekosongan di dalamnya?"

"Aku tidak akan menjadi salah satu yang terpilih jika merasakan itu, Sakuma-san."

Lalu, Sakuma tertawa lagi karena jawaban Fukumoto. "Kalian memang orang-orang brengsek yang percaya diri." Lalu, ada jeda sebelum Sakuma melanjutkan, "jika kau pun juga mencintai sinar yang terang itu berarti selalu ada harapan dalam kegelapan dan kekosongan, 'kan?"

"Apakah itu sebuah saran?"

"Ya, kurasa..." Sakuma menjawabnya, meskipun terlalu malu untuk mengakui. Nyatanya, ia memang terdengar memaksakan.

"Sakuma-san, tanpa adanya kegelapan maka tidak akan ada sinar terang."

Sakuma terdiam karena perkataan lawan bicaranya terdengar asing untuknya yang dengan gamblang mencintai sinar terang, sedangkan Fukumoto... "Jadi kau lebih memilih menanggung kegelapan untuk mencintainya?"

Diamnya Fukumoto adalah kalimat persetujuan dan Sakuma tahu itu. Lalu, lelaki itu merenung, sedangkan Fukumoto melanjutkan memasak sarapan yang sempat tertunda. Namun, segera setelah itu Sakuma kembali bertanya, "seperti apakah sinar terang yang kaucintai itu, Fukumoto?"

Sejujurnya, pertanyaan Sakuma mengejutkannya. Hal itu dikarenakan Fukumoto tahu benar jawaban dari pertanyaan tersebut. Meskipun demikian, raut mukanya tetap tidak berubah dan masih tetap pasif. Namun, satu pertanyaan Sakuma itu benar-benar membuat perhatiannya teralihkan.

Jika seorang pejalan ruang dan waktu mempertanyakan itu, maka dari sanalah ingatan Fukumoto dibentangkan. Ia tahu bahwa apapun yang berkaitan dengan Sakuma, termasuk ingatan tentangnya, selalu membuatnya bergelora seperti badai, dan badai mampu memecahkan ombak. Pada musim dingin hampir satu tahun yang lalu ia pernah merasakannya; ombak lautan yang dahsyat bergulung menghantam tubuhnya, menderu debur di sekelilingnya, dan seakan-akan meremukkan.

Ia, pun mereka, yang terus bergerak dan berenang membelah lautan musim dingin dalam hening. Lautan di musim dingin yang seolah membentang luas tak terbatas. Saat ia menyelam lautan seperti merefleksikan dirinya; melankolis dan gelap. Namun, anehnya, saat ia tengadah langit malamlah yang membuatnya takjub.

Dua hal yang saling bertentangan itu yang ternyata mempesonakannya. Fukumoto menyadari bahwa langit malam di atasnya membuat ia teringat kepada seorang lelaki yang baru saja ia kenal. Lelaki itu dengan iris matanya yang biru, sebiru langit malam bertabur bintang.

Kenyataannya, bintang itu memuai atau dunianya sendiri pun demikian. Fukumoto merasa mereka menjadi semakin jauh. Jarak tidak pernah terkikis pun horizon berbanding lurus dengan umur alam semesta (2) yang semakin menua, tetapi Fukumoto tetap tidak ingin kehilangan. Maka, sejak saat itu ia bersumpah akan selalu membawa teropong bintang di tangannya.

Perjuangannya menaklukkan lautan di tengah-tengah musim dingin dirasanya tidak akan pernah menjadi sia-sia. Oleh karena sesaat setelah Fukumoto mencapai bibir pantai ia melihatnya. Satu orang yang membuatnya terpesona dan di mata Sakuma Polaris (3) berpendar.

Fukumoto begitu terpesona hingga berada di satu titik ia tidak lagi mampu mempertanyakannya. Sesungguhnya, satu bintang terang itu memang tidak mengenal terbit dan tenggelam. Sinar terangnya selalu berada di sana, sedari dulu sampai sekarang, dan bahkan di setiap saat Fukumoto memikirkannya. Ia pun teringat bahwa satu pertanyaan Sakuma untuknya di kafetaria itu belum terjawab dan tidak akan pernah.

Ia seakan-akan tersesat di manik biru Sakuma yang berkilat indah dan lugu. Hingga Fukumoto tersadar bahwa atensi lelaki itu tidak lagi menjadi miliknya. Itu teralihkan karena di ruang mereka saat itu tidak lagi hanya ada dirinya dan Sakuma. Dunia Fukumoto seakan-akan memuai saat Letnan Kolonel Yuuki dan Tazaki memasuki kafetaria. Ia merasa menjadi orang ketiga atau keempat atau kelima dan, seperti Sakuma, ia takut memberi dirinya sendiri nama.

"Selamat pagi, ah, Sakuma-san."

Sakuma memandang dua orang pria yang sedang memasuki kafetaria dengan wajah memerah karena kulitnya tersengat matahari pagi dan dengan pupilnya berdilatasi. Kedua mata itu bahkan menjadi lebih indah dalam persepsi Fukumoto. "Selamat pagi Tazaki, Yuuki-san."

Tazaki tersenyum tenang mendengar sapaan balasan Sakuma dan Letnan Kolonel Yuuki mengangguk singkat. Sakuma berjalan mendekat ke arah keduanya dan berdiri di antara mereka yang masing-masing duduk di sisi kiri dan kanan di tempat cangkir tehnya berada. Bersamaan dengan keingin tahuannya yang lugu Sakuma bertanya, "apakah... kalian juga mencintai sinarnya yang terang?"

Mata beriris gelap milik Letnan Kolonel Yuuki menatap tajam Sakuma, tetapi tidak berkata apa-apa. Pria paruh baya itu memilih mengabaikan pertanyaan Sakuma dan mulai menyeduh kopi di cangkirnya dengan air panas karena bubuknya sendiri sudah terlalu matang untuk dijerang. Sedangkan, Tazaki menjawab Sakuma. "Ya, Sakuma-san, siapa yang tidak?"

Sekali lagi, Sakuma bertanya dan pertanyaan itu ditujukan bukan untuk Fukumoto. "Seperti apakah sinar terang yang kaucintai?" Ada satu hal yang tidak ingin dipahami Fukumoto melalui teropong bintang di tangannya. Dari sanalah Fukumoto melihat Sakuma meletakkan tangan kirinya di bahu Tazaki. Seolah Sakuma sedang merayu pria itu, meskipun dengan manis dan tulus dan tanpa disadarinya.

Tazaki tersenyum karena pertanyaan Sakuma dan kali itu dengan senyumannya yang misterius. "Ia yang menjadi dirinya sendiri di antara kegelapan," demikian Tazaki menjawabnya. Fukumoto merasa bahwa Sakuma tidak pernah begitu terganggu dengan keberadaan Tazaki dan itu berarti banyak hal. Salah satunya karena pria itu tidak pernah mengonfrontasinya, tidak secara langsung, dan hal itulah yang membuatnya merasa nyaman dan tidak khawatir.

Selama ini Fukumoto mengenal sosok seorang Sakuma yang tenang. Namun, bukan berarti lelaki itu tidak pernah merasakan kekhawatiran. Rasa itu suatu waktu timbul karena ia menerima tekanan langsung yang di luar kuasanya.

Rasa khawatir Sakuma dan sebotol sake bertaut. Ingatan Fukumoto terlempar di saat-saat Sakuma khawatir karena merasakan gairah yang tidak lazim atau sentuhan yang asing atau sebuah angan-angan dari pria lain yang memabukkan. Itu sekeras sake yang ditenggaknya.

Pada pukul 20. 46, selepas makan malam, Fukumoto mendengar spirit yang dituang dari arah kafetaria yang telah ditinggalkan. Secara spontan, pandangan mata Fukumoto menangkap sosok Sakuma di sana. Namun, sebelum ia sempat memberi lelaki itu ruang Sakuma telah melihatnya. "Fukumoto?"

Fukumoto memutuskan mendekat setelah mendengar panggilan Sakuma hanya untuk sopan santun, sama halnya ketika ia menuangkan sake di cawan Sakuma yang kedua. Lalu, menjauhkannya karena ia tahu bahwa setidaknya Sakuma akan tumbang di cawannya yang keempat. Hal itu pula dilakukannya untuk menghindarkan Sakuma dari jackpot di lantai kafetaria.

Dahi Sakuma mengernyit tanda tidak suka saat Fukumoto mengganti sakenya dengan air mineral. Namun, sebelum ia sempat memprotes tindakan pria itu, Fukumoto sudah terlebih dahulu berkata demikian, "Sakuma-san, air mineral baik untuk mengatasi mabuk juga tekanan darah rendah."

Sejujurnya, Sakuma sudah cukup kacau untuk sekadar bertanya perihal itu. Namun, siapa yang menyangka. "Dari mana kaumengetahuinya?"

Fukumoto memandang Sakuma dan berkata, "hanya menganalisis. Itu bisa menjadi salah satu sebabnya kau cepat mabuk."

Sakuma mengangguk-angguk dan berucap pelan. "Sok tahu," lelaki itu menjadi lebih vokal saat ia mabuk dan semua tahu itu, tetapi kata-katanya selalu dapat dimaafkan pun Fukumoto lebih tertarik dengan ucapan orang mabuk yang biasanya jujur.

Seharusnya, Sakuma memang belum cukup mabuk untuk mulai meracau. Namun, saat itu rasa khawatir mengalahkannya. "Ini semua terasa lucu," ada jeda sebelum ia melanjutkan. Lelaki itu yang bercerita tentang... "ada sebuah magnum opus yang tercipta karena penderitaan."

Fukumoto tidak mengerti, tentu saja, ia pria pendiam yang tidak menyukai kegaduhan. Sejatinya, ia adalah seorang pengamat dan bukan seorang seniman. Namun, ia mengerti tentang cinta yang hening dan tentram, bukan sebaliknya, membawa derita. "Jangan khawatir, Sakuma-san," ia hanya bisa berkata demikian.

Sakuma diam; tidak menyetujui ataupun menegasikan. Namun, lelaki itu mendengarkan. Kiranya, kata-kata dari seseorang yang sedikit bicara itu memang layak untuk didengar. Meskipun, rasa cemas itu belum hilang dan tidak akan bisa hilang.

Mereka tahu ada seorang pria yang mencintai Sakuma. Namun, bahkan Sakuma sendiri tidak tahu kenapa atau bagaimana bisa ataukah untuk apa. Selalu ada detik-detik yang terbuang untuk melukiskan deritanya. Itu membuat Fukumoto bertanya-tanya, mungkinkah selalu ada fantasi di antara cinta dan logika?

Fukumoto tahu bahwa karenanya Sakuma sudah cukup menderita. Maka, pria itu memutuskan untuk tetap bersembunyi di dalam jarak. Ia yang tidak akan pernah menjadi lancang untuk menawarkan kepada Sakuma keindahan miliknya yang lain.

Apabila Fukumoto mau mengakuinya, maka ia pun merasakan kesedihan. Oleh karena, ia mendapati seorang pria tinggi, kurus, dan terasing yang juga membuang waktunya dalam hening dan tentram. Pria yang serta mengalami dan ternyata menimbulkan penderitaan.

Sekali lagi, Fukumoto memilih mengisi jarak dengan keheningan. Sakuma pun yang tidak tahu lagi harus berkata apa. Hingga jam bergetar, berdetak-detak seperti cahaya bintang.

Malam itu waktu hampir menunjuk angka 22. 00 dan dengan ritmenya yang harmonis Sakuma berkata, "aku... sebaiknya aku pergi tidur," dan mengakhiri keheningan di antara keduanya. Lelaki itu dengan sedikit terhuyung mendorong tempat duduknya ke belakang dan Fukumoto masih tetap tidak berani menyentuhnya. Lalu, dengan kehati-hatian Sakuma berjalan menuju pintu keluar dan menoleh ke belakang sebelum pintu tertutup. "Terima kasih, Fukumoto. Selamat malam."

"Ya, Sakuma-san. Selamat malam." Fukumoto berkata demikian dan mendapati pintu di belakang Sakuma lalu ditutup perlahan.

Fukumoto memahami bahwa keheningan di antara jarak menyelamatkannya dari penolakan, tetapi tetap tidak akan bisa menyelamatkannya dari derita. Apakah gerangan yang dikatakan Sakuma benar bahwa ia hanyalah salah satu pria yang pengecut? Oleh karena sejak tahun 1937 sampai dua tahun setelah itu, hingga entah kapan, Fukumoto mengerti bahwa cintanya akan selalu terkantuk-kantuk di malam hari, dalam angan semata, dan tersisih jauh dari kata-kata.

.

Selesai

.

Catatan:

1. Dialog yang diucapkan oleh Michael O'Hara dalam sebuah film noir berjudul The Lady from Shanghai.

2. Berdasarkan Teori Relativitas Umum.

3. Sebuah bintang paling terang pada rasi Ursa Minor atau disebut sebagai The Little Bear yang merupakan salah satu konstelasi sirkumpolar dan... dan ternyata... Ah, sepertinya saya tidak bisa berhenti menulis tentang ini.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

.

23 Oktober 2017