UNSOLVED CASE

.

.

Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.

Warning : Typo, AU, Sasuke/Sakura/Naruto/Sasori/Hinata, Rated M, OOC, Mengandung unsur kekerasan dan Gore.

.

.

PREVIOUSE CHAPTER

.

.

.

"Detektif Sasuke? Aku ingin berbicara dengan anda. Aku mohon." Wanita tersebut yang ternyata adalah Sakura memandang Sasuke dengan tatapan memohon. Sasuke balas memandangi wanita tersebut. Sebelum ia membuka mulutnya Naruto telah terlebih dulu berbicara pada wanita itu.

.

.

Hinata beringsut. Memojokkan badannya pada lemari dibelakangnya. Ia memperhatikan Sora sambil terisak pelan. Ia tak tau apa yang tengah Sora lakukan sekarang. Ia hanya menangis tertahan. Mencoba meredam tangisnya. Tak mau mengganggu apapun yang tengah Sora lakukan dan semakin membuat pria itu murka.

.

.

.

CHAPTER III

.

.

.

Kiba menggeserkan sebuah kursi untuk diduduki Sakura. Ia memperhatikan penampilan wanita dihadapannya dengan seksama. Mencoba menelisik keganjilan yang bisa saja terlihat padanya. Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengaku sebagai korban ataupun keluarga korban dari orang-orang yang ditemukan hanya agar bisa muncul ditelevisi dan menjadi terkenal ataupun mempermainkan polisi maupun detektif.

Ia sudah cukup bosan menghadapi orang-orang itu. kadang-kadang mereka terlihat begitu meyakinkan sama seperti wanita yang ada dihadapannya sekarang ini. meskipun ia memang terlihat sangat meyakinkan dengan raut wajah khawatir dan penampilan yang berantakan bukan berarti itu semua bukanlah akting belaka. Akhir-akhir ini banyak sekali artis-artis dikalangan masyarakat.

Naruto menepuk kepala belakang Kiba dengan tangan kanannya. Ia juga memperhatikan jika sedari tadi bawahannya itu memandang penuh curiga pada wanita yang entah dengan tujuan apa mencari rekan kerjanya.

"Tidak seharusnya kau memandang seseorang seperti itu. Tidak sopan" Naruto berbicara cukup keras untuk didengar semua orang diruangan kerja mereka seraya mendudukkan dirinya pada kursi disamping Sakura.

"Aku hanya waspada." Kiba menggedikkan bahunya tidak peduli. Disampingnya Tenten hanya menoleh sekilas sebelum berlalu untuk menyediakan minuman pada semua orang yang ada disana. Semenara Sasuke terlihat sama sekali tidak peduli dan mengambil sebuah kursi dan menempatkannya dihadapan Sakura.

"Apa yang membawamu kemari?" Sasuke mulai mengajukan pertanyaan pada Sakura.

"Adikku. Aku menghawatirkannya." Sakura memandang pada Sasuke.

"Memangnya kenapa dengan adikmu?" Naruto menimpali perkataan Sakura. Ia menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Dia menerima panggilan dari seseorang yang menawarinya pekerjaan sebagai model freelance." Sakura memandang pada Naruto. Ia melihat bahwa pria tersebut tak balik memandangnya dan justru mengambil sebuah rokok dari dalam kantong jasnya.

"Lalu? Kenapa kau sampai begitu khawatir padanya?" Sasuke kembali menanyakan pertanyaan.

"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa kalau adikku sekarang dalam bahaya. Aku bisa merasakannya." Sakura mencoba menerangkan pada mereka. Saat itu Tenten menghampirinya dan menyerahkan segelas kopi padanya.

"Insting, eh?" Naruto kembali berkomentar.

Ia menyesap rokoknya. Sakura memandangnya sekilas sebelum ia kembali memandang pada Sasuke yang hanya memandanginya tanpa memberikan komentar apapun.

"Kalian sedang mempermainkanku?" ia memandang sinis pada Sasuke.

"Kalian tahu? aku sempat berfikir bahwa kalian bisa membantuku. Kalian adalah harapanku satu-satunya. Ternyata aku salah." Sakura hendak bangkit dari kursinya.

"Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengaku sebagai keluarga korban ataupun mengaku kalau keluarganya hilang. Tapi nyatanya mereka sedang berbohong." Sasuke memberikan isyarat pada Sakura untuk duduk kembali dengan tangannya.

"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Demi Tuhan!" Sakura memandang Sasuke kesal. Ia mengacuhkan isyarat yang diberikan Sasuke.

"Mungkin saja." Kiba memberikan komentar. Ia sedari tadi memang tidak pernah mempercayai wanita dihadapannya ini seratus persen.

"Dengar, aku tahu mungkin kalian menganggap aku gila. Tapi selama dua puluh tahun hidupku aku selalu tahu jika terjadi sesuatu pada adikku. Dan aku tidak pernah salah." Sakura sudah benar-benar putus asa sekarang. Ia membantingkan tubuhnya dikursi.

Tak ada seorangpun yang bersuara diruangan itu sekarang. Mereka terlihat sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Sasuke menghela nafasnya pelan. Ia lantas memandang pada Sakura.

"Jam berapa adikmu hilang? Bisa kau ceritakan apapun yang kau anggap ganjil atau.." Sasuke mengangkat bahunya seraya menarik nafas panjang sebelum kembali menghembuskannya sambil berujar.

"Apapun."

Sakura menegakkan pundaknya. Ia mencoba mengingat semua kejadian yang terjadi sore ini.

"Aku tidak tahu kapan adikku mendapatkan panggilan itu. Yang aku tahu hanya saat aku pulang ia tengah membereskan barang-barangnya. Dan mengatakan padaku bahwa ia akan melakukan pemotretan." Sakura menghentikan perkataannya untuk mengambil nafas.

"Dan sekitar jam dua lebih tiga puluh dia berangkat. Dia tidak mengatakan kemana dia akan pergi, dia hanya mengatakan kalau seseorang akan menjemputnya."

"Kau yakin itu jam dua tiga puluh saat adikmu meninggalkan rumah?" Sasuke bertanya pada Sakura. Disampingnya terlihat Kiba tengah menuliskan sesuatu.

"Ya, aku sangat yakin. Karena pada jam itu aku selalu menonton acara favoritku di salah satu stasiun tv kabel." Sakura menganggukkan kepalanya.

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Naruto mematikkan rokoknya yang sebenarnya masih cukup panjang.

"Aku mencoba menghubungi adikku saat acara itu masih berlangsung. Tapi yang menjawab bukan adikku melainkan seorang laki-laki. Dia mengatakan kalau adikku tidak bisa menerima panggilanku karena ia sedang sibuk. Tapi aku sama sekali tidak mendengar keributan sedikitpun disana. Biasanya jika adikku sedang melakukan pemotretan akan terdengar suara gaduh. Tapi tidak saat itu. Suasananya sangat tenang." Sakura memejamkan matanya sebentar sebelum kembali melanjutkan.

"Dan malam tadi aku merasakan firasat itu. Aku merasakan kalau telah terjadi sesuatu padanya. Jadi aku mencoba menghubingi ponselnya. Tapi tak ada seorangpun yang menjawab." Sakura menghembuskan nafasnya berat.

"Apa kau sudah mencoba menghubungi adikmu lagi?" Sasuke memandang pada Sakura.

"Sebanyak yang aku bisa" Sakura memandang Sasuke dengan putus asa. Perasaannya sangat tidak tenang. Ia takut terjadi sesuatu pada adiknya.

Untuk sesaat suasa diruangan menjadi hening, tak ada satupun yang berkomentar. Sasuke, memandang pada Naruto yang masih dengan bahkan mungkin terlalu tenang memperhatikan catatannya bahkan Kiba yang biasannya berkomentar pedas pun tampak sibuk dengan dunianya sendiri, sesekali tangannya mengetuk-etuk meja dihadapannya.

Sasuke menghela nafas pelan, ia kemudian berdiri dan dengan isyarat tangannya juga meminta Sakura untuk ikut berdiri.

"Akan kami usahakan yang terbaik, untuk saat ini sebaiknya anda pulang dan beristirahat. Kabari kami jika ada kabar apapun." Ia mengambil sebuah kartu nama di atas meja kerjanya dan memberikannya pada Hinata.

Wanita itu hanya mengangguk pelan, dan saat sebelum meninggalkan ruangan sekali lagi ia berbalik memandang pada Sasuke, matanya menyiratkan permohonan yang mendalam.

Saat punggung Sakura sudah tidak lagi terlihat Naruto bangkit dari duduknya dan menghampiri Sasuke.

"Apa kau yakin wanita itu bukan para penipu yang setiap hari berkeliaran dikantor kita?"

Sesaat Sasuke tampak ragu sebelum menghela nafas berat dan mendudukkan dirinya di atas kursi dengan keras.

"Aku tidak tahu, informasi sedikit apapun sangat berharga saat ini." Ia mengusap wajahnya dengan lelah.

Tidak bisa dipungkiri ia juga lelah. Selama beberapa hari ini ia bahkan tidak bisa tidur.

Kiba bangkit dari duduknya dan mengambil jas yang ia letakkan di kursinya, mengambil beberapa berkas dan menyesap kopi yang mulai mendingin diatas meja kerja.

"Aku harus pulang sekarang ada yang harus aku lakukan dirumah." Ia bergegas meninggalkan ruangan tanpa memperdulikan para seniornya yang hanya mengangguk pelan sebagai balasan.

Sepertinya mereka semua butuh istirahat. Tapi, kasus baru yang datang pada mereka beberapa menit yang lalu menghalangi mereka terlebih lagi Sasuke. Ia mengambil kembali berkas-berkas diatas mejanya dan sekali lagi untuk kesekian kalinya mempelajari setiap detil kasus yang bahkan sudah ia hapal diluar kepala.

...

Sora menuangkan kopi yang masih mengepulkan uap panas dari dalam ceret. Pelan ia menghampiri Hinata yang masih meringkuk dipojok ruangan dengan ketakutan. Ia bahkan tidak berani memandang padanya. Tangan Sora mengelus pelan rambut Hinata dan menyodorkan kopi ditangannya.

"Minumlah." Suaranya yang pelan dan hangat akan sangat menentramkan jika saja Sora tidak memperlakukannya seperti beberapa menit yang lalu.

Dengan takut-takut Hinata mendudukkan dirinya dan menerima Kopi tersebut. Pelan ia meminum cairan tersebut. Matanya sesekali memandang lekat orang dihadapannya sekarang. Sora masih dengan setia tersenyum lembut padanya seakan sama-sekali tak terjadi apapun. Ia bahkan mengambil sebuah kotak P3K dan mulai mengubati luka memar ditangan Hinata yang menggelang luka lebam karena sebuah rantai besi melingkari pergelangan tangannya.

Sesekali lolos senandung dari dalam mulutnya, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya Sora merawat luka-luka ditubuh Hinata dengan telaten. Ia bahkan berseru senang saat ia telah selesai mengobati semua lukanya.

Hinata hanya membiarkan apapun yang tengah dilakukan Sora tanpa mampu melawan ataupun menolak, ia bahkan hampir tak mampu berkedip. Terlalu takut untuk membuat sora kembali terbangun dari mood bahagianya dan kembali menyerangnya. Tak mau mengambil resiko terlalu besar. Terlalu menyeramkan.

"Apa masih sakit?" Sora memandangnya dengan lekat matanya menelisik mencari jejak-jejak luka lain yang mungkin saja terlewatkan olehnya.

Hinata hanya menggeleng pelan, ia bahkan tidak tahu dibagian mana saja ia terluka. Sora kembali tersenyum padanya.

"Habiskan minumannya, nanti aku antarkan ke kamarmu."

Rasanya air liur tersendat dikerongkongan Hinata. Ia tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Apa ia hanya akan dibiarkan tertidur atau justru dibuat 'tertidur' selamanya. Air mata tak bisa ia tahan untuk tidak mengalir dari matanya.

"Ssstt jangan menangis, tidak apa-apa tidak akan terjadi apapun padamu. Aku janji. Untuk saat ini."

Seharusnya kata-kata itu bisa menenangkannya tapi kata-kata terakhir Sora justru memperburuk perasaannya. Mungkin Hinata akan lolos kali ini, tapi bagaimana besoknya? Atau besoknya lagi? Atau apakah masih ada kata besok?

Dengan halus Sora mengambil gelas ditangan Hinata dan membingbing wanita itu berdiri, ia bahkan repot-repot membetulkan pakaian Hinata yang kusut karna terlalu lama meringkuk dilantai yang keras.

Dengan pelan digandengnya tangan Hinata memasuki sebuah kamar dengan cat dinding berwarna merah menyala dengan ukiran-ukiran indah disetiap sudut dindingnya. Sebuah kamar mewah meskipun tidak terlalu luas tapi kemewahan masih tercetak jelas disana. Ranjang ukuran queen size dengan penyangga ranjang berwarna emas dan bertahtakan malaikat-malaikat kecil yang cantik. Sebuah permadani mahal berwarna hitam terhampar dibawah kaki merek. Bulu-bulunya yang halus bahkan mampu membuat kaki Hinata yang telanjang merasa nyaman.

"Kau suka kamar barumu? Penghuni sebelumnya sedikit mengotori sepreinya jadi aku menggantinya. Semoga kau menyukainya."

Hinata memperhatikan ranjang dengan seprei sutra sewarna darah tersebut dengan nanar. Ia tahu persis apa yang dimaksudkan Sora dengan kata 'mengotori' tadi. Ia hanya menurut saat Sora membimbingnya mendekati sisi ranjang dan mendudukkannya disana. Ia hanya memandang nanar kakinya tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Ia bahkan masih terdiam saat Sora beranjak kearah lemari di seberang ruangan mengambil gaun tidur sutra berwarna gading. Ia bahkan masih saja sibuk dengan pikirannya saat Sora menyodorkan gaun itu padanya.

"Pakailah, pakaian ini akan terasa sangat nyaman dipakai saat tidur. Percaya padaku." Sora menyerahkan gaun itu dengan senyum yang masih terkembang diwajahnya.

Hinata mengambil gaun itu dan memandang balik wajah Sora dihadapannya. Belum sempat ia mengambil gaun tersebut tiba-tiba saja Sora menjambak rambutnya dan berteriak keras tepat depan wajahnya membuat Hinata tersentak kaget dan memekik karna rasa sakit dikepalanya dan juga rasa takut yang mulai membuncah kembali.

Sora melepaskan jambakannya dengan keras dan mulai berjalan mondar-mandir dihadapannya wajahnya menampakkan ekspresi tak senang seperti seseorang tengah mendebatnya walaupun tak ada seorangpun yang berbicara padanya diruangan tersebut.

Sesekali ia bergumam tak jelas dengan gerakan tangan menolak sesuatu, membantah sesuatu ataupun seseorang. Sesekali ia memandang pada Hinata yang kini kembali gemetar ditempatnya terduduk.

Dengan cepat Sora menghampiri Hinata dan mengguncang pundak Hinata.

"Pakai itu sekarang sebelum aku yang memaksamu memakainya, dan aku bersumpah aku tidak akan memperlakukanmu dengan lembut."

Dengan tangan gemetar dan tergesa Hinata mengambil gaun tidur yang tergeletak dibawah kakinya. Ia tidak perduli jika sekarang ia tengah berganti pakaian dihadapan orang asing yang menyeramkan. Apapun akan ia lakukan asalkan ia bisa selamat, setidaknya untuk saat ini.

"Haa, bagus-bagus. Anak pintar." Sora menyeringai menampilkan deretan giginya.

Ia kembali menghampiri Hinata dan menangkup wajah Hinata keras dengan satu tangan. Ia menghirup bau apapun yang menguar dari tubuh wanita itu dengan rakus seakan Hinata adalah oksigen yang akan membuatnya bertahan hidup.

"Wangi ini... tak ada bau plastik. Aku menyukainya. Begitu alami." Sora menjilat pipi Hinata kasar dan terkekeh pelan.

Hinata bersumpah ia pasti akan terkencing sekarang jika saat Sora tidak melepaskannya dan melompat mundur satu langkah dihadapannya seperti anak kecil yang begitu puas akan mainan baru yang didapatnya.

"Selamat tidur Hinata."

Ia melambai dengan tingkah kekanakan padanya sebelum meninggalkan kamar. Hinata baru saja kan bernafas lega saat pintu kamarnya tiba-tiba kembali terbuka menampilkan Sora dengan seringai melompat memasuki kamar kembali.

"Bercanda!"

Dengan semangat ia menerjang Hinata yang memekik ketakutan dalam pelukannya. Sora memeluknya dengan erat diatas ranjang seakan Hinata adalah guling ternyaman didunia.

"Malam ini aku ingin tidur denganmu." Ia menyamankan kepalanya dipunggung Hinata. Tak perduli jika wanita itu justru tengah menangis tersedu ketakutan.

...

Suasana kacau terlihat di kantor penyidikan, kertas yang berserakan. Telpon yang terus berdering dari para saksi-saksi palsu maupun dari para wartawan haus berita. Umpatan-umpatan kasar juga terdengar sesekali saat kopi panas menyenggol lengan maupun dada bidang mereka. Erangan frustasi menghadapi segala kekacauan dipagi hari siap mengiringi hari mereka hingga petang menjelang.

Naruto memandang bosan segerombolan penjahat kelas teri yang digiring polisi keruang introgasi, matanya sesekali memperhatikan para wanita tua yang mengiba karena dijatuhi hukuman penjara hanya karena mencuri seonggok singkok untuk mengisi perutnya yang lapar. Rasa iba sudah lama mati dalam hatinya. Yang tersisa hanya pandangan kosong dan tak peduli meskipun sesekali bagian-bagian tubuhnya bersenggolan dengan mereka. Hukum memang terkadang terlalu ketat bagi rakyat kecil dan longgar bagi kalangan atas. Lalu mau bagaimana lagi? Ia sudah terlalu lama hidup ditengah-tengah kekacauan. Terlalu bosan untuk merasa iba.

"Apa kau melihat Sasuke?" Neji berbicara dibelakangnya dengan map ditangannya. Ia bahkan tidak perlu repot-repot memandang lawan bicaranya.

"Kau pikir sedang apa aku di lobi sepagi ini?" sekali lagi dengan nada bosan Naruto menjawab pertanyaan Neji.

Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kain yang dipakainya.

"Berikan ini padanya. Dan katakan untuk segera menemuiku saat ia selesai membaca isinya. Aku ada di ruanganku."

Naruto hanya mengangguk pelan menjawab permintaan Neji. Wajahnya masih lurus memandang pintu depan saat tangannya menerima map dari Neji.

Tak lama ia bisa melihat Sasuke memasuki kantor sambil berbicara dengan Kiba. Sepertinya mereka bertemu didepan gerbang atau di parkiran atau dimanapun Naruto bahkan tidak perduli. Ia sudah cukup bersyukur melihat partnernya.

"Apa yang kau lakukan sepagi ini?" Sasuke bertanya heran melihat sahabat sekaligus partnernya tersebut berada dikantor sepagi itu.

Meskipun jam 8 bukanlah waktu yang terlalu pagi tapi merupakan subuh buta bagi Naruto yang terbiasa datang jam setengah sepuluh pagi.

"Aku tidak bisa menghubungi ponselmu. Bukti baru dan kasus baru."

Naruto menyodorkan map ditangannya pada Sasuke yang langsung membalik-balik halamannya.

"Ponselku tertinggal dikantor sepertinya baterainya habis jika kau memang tidak bisa menghubunginya. Dan kasus baru? Fresh atau korban baru?"

Masih dengan perhatian yang terpokus pada berkas ditangannya Sasuke berjalan beriringan dengan Naruto menuju ruangan mereka.

"Kasus baru mungkin. Tak ada korban. Belum. Hanya pakaian tanpa noda darah ditemukan di hutan dekat kuburan korban kemarin."

"Tapi?" Sasuke menutup map ditangannya dan berbalik memandang Naruto.

"Ada noda muntahan dan air seni."

Sasuke menautkan alisnya berfikir sejenak. Mungkin hanya kasus ringan tentang segerombolan remaja pemabuk yang konyol melepaskan seluruh pakaian untuk lelucon. Atau mungkin saja sengaja dibuang karena terlalu malas mencuci noda yang tertinggal. Di dekat kuburan korban pembunuhan? Terlalu mencolok kecuali memang sengaja ditinggalkan disana. Untuk apa?

"Untuk mengejek kita para aparat kurasa."

Naruto memandang Sasuke, ia tahu pasti apa yang ada dipikiran sahabatnya tersebut saat ini. Karna ia juga tengah memikirkannya.

"Sudah keluar hasilnya siapa pemilik pakaian itu?"

"Kau pasti akan kaget mendengarnya." Sekali lagi Sasuke memandang Naruto dengan bingung.

"Hinata. Adik dari wanita yang kemarin datang pnejiu."

Sasuke mengumpat pelan dan bergegas naik kelantai atas tempat Neji bersarang dengan berbagai alat-alat sains miliknya dan segala kegilaan akan organ-organ dalam manusia.

Tanpa perlu repot-repot mengetuk pintu Sasuke menghampiri Neji yang tengah sibuk bermain dengan korban yang mereka temukan kemarin dihutan.

"Disana, aku menggantungnya dekat lemari pendingin." Tanpa repot-repot melihat siapa yang datang bahkan tanpa mendengar sepatah katapun Neji menunjukkan letak pakaian yang ditemukan para pencari kayu dihutan. Pakaian yang bisa saja menjadi barang bukti baru kasus yang tengah mereka tangani.

Sasuke memakai sarung yangan steril sebelum memeriksa pakaian tersebut. Beberapa lipatan dan tekanan dipakaian tersebut mengindikasi jika pemakainya melepaskannya dengan tergesa atau dilepaskan? Sepertinya pemakainya yang melepaskannya sendiri karena tidak ada kancing-kancing yang hampir putus yang menjadi tanda jika pakaian tersebut dilepaskan pihak luar.

Noda muntahanannya sendiri mengindikasi jika pemakainya sedang dalam posisi duduk saat ia memuntahkan isi perutnya. Begitu pula dengan noda air seni yang tertinggal di celananya. Jelas sekali jika orang tersebut tengah terduduk saat ia mengompol. Bukan tertidur karena tidak ada noda air seni di pakaiannya.

"Apa ini?" Sasuke memperhatikan percikan gelas dibagian paha celana jins dihadapannya.

"Kopi." Neji menghentikan kegiatannya dan menghampiri Sasuke.

"Ini bagian yang aneh, kenapa kopi? Dari waktunya kopi ini terpercik dalam keadaan masih panas dan beberapa jam setelah orang ini muntah dan mengompol."

"Kenapa dia meminum kopi? Jika dia bisa membuat kopi kenapa dia tidak kabur?" Naruto berhenti sejenak.

"Jika dia memang korban juga." Lanjutnya.

"Dia memang korban. Lipatan-lipatan yang terdapat dipakaiannya mengindikasi jika saat itu pemakaiannya dibawah tekanan. Beberapa kali dia pasti mencoba melepaskan diri. Noda darah dibagian dalam pergelangan tangan dan kaki pakaiannya menjelaskan jika orang ini pasti diikat saat itu."

Sasuke kembali memperhatikan pakaian itu dengan teliti. Naruto mengehela nafas pelan. Ia buntu.

"Hidangan terakhir menurutku." Neji kembali menjauhi kedua detektif tersebut.

"Wanita ini juga meminum kopi sebelum kematiannya."

Naruto dan Sasuke memandang Neji bersamaan. Menunggu kalimat berikutnya yang pasti akan dikatakan Neji.

"Aku sudah membedahnya kemarin. Terdapat sisa kopi dilambungnya. Sayangnya hanya kopi. Perutnya sudah dikuras habis. Dimuntahkan kemungkinan besar. Ciri yang sama. Tinggal menunggu kapan mayatnya akan dibuang."

Neji melepaskan sarung tangan sterilnya dan meminum soda jeruk yang selalu setia menemaninya setiap saat.

Sasuke mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia tidak bisa tinggal diam. Kali ini mereka sepertinya telah diberikan peringatan sebelum badai yang sebenarnya datang. Ia merasa dipermainkan.

Naruto hanya bisa mengusap tengkuknya lelah. Ia melirik Sasuke sesaat. Ia tahu sahabatnya tersebut pasti dalam suasana hati yang buruk saat ini.

Pembunuh ini siapapun dia pasti sedang mempermainkan mereka saat ini.

...

TO BE CONTINUE

.

.

.

AUTOR NOTE :

Hallo amogo~~~

Saya kembali dengan fict yang satu ini mencuat kepermukaan~~~

Adakah yang menanti-nanti fict ini? Saya sedang dalam mood pengen buat fict detectife hehehe... maaf ya saya belum sempat lanjut fict yang lain.. satu-satu yaa sabar~~~ kemarin saya baru sakit jadi baru sempat hehehe...

Terima kasih yang udah menanti-nanti fict-fict saya.. aku padamu bebeb~~~~

Sampai ketemu di fict WOMEN atau MONSTER neee~~~~~