"D-draco, emmnh... kau meninggalkanku?" desahnya melihat Draco menghempaskan tubuhnya di kursi super empuk. Ia hanya mengawasi Hermione yang menggerak-gerakan kakinya sambil berharap Hermione cepat tidur.
Menenangkan dirinya Draco mencoba memejamkan mata, tapi ia masih bisa mendengar gadis itu merengek untuk ditiduri. Ini benar-benar tidak masuk akal. "Draco Malfoyhhh... Sssshh...Malfoy ku mohon."
Meski matanya tertutup kening Draco mengernyit dan alisnya menaut, pertanda ia sama sekali tidak nyaman. Desahan Hermione yang terkesan makin liar mengusik sesuatu dalam dirinya, bagaimanapun juga dia adalah laki-laki normal yang sekarang sedang menahan diri untuk tidak tertarik dengan undangan pasrah Hermione.
"Uuuhhh... Draco, kenapa kau tidak menyentuhku... sssh kumohon kemarilah..."
Draco berdecak matanya terbuka sedikit melirik Hermione di kasurnya menggeliat tak nyaman, sedang meremas dadanya sendiri sambil mendongak memperlihatkan leher putih yang basah oleh keringat. "Oooohh... Draco." Desahnya tak pernah berhenti memanggil pemuda pucat itu.
Tidak yakin dengan pengelihatannya Draco mengedip tiga kali kemudian melonjak dengan mata terbelalak melihat pemandangan yang semakin erotis di depannya, gaun Hermione sudah tak lagi menempel di tubuhnya, begitu juga strapless bra yang tercampakan begitu saja di lantai marmer.
Draco menelan ludah, sementara gerakan Hermione semakin liar menggeliat, membasahi bibirnya dengan lidah sambil meremas dada dan memilin putingnya sendiri. Pemandangan berikutnya yang tak kalah panas ketika salah satu tangan Hermione mulai turun memasuki thong pants berbahan lace miliknya kemudian menyentuh kemaluannya sendiri sambil mendesah, "Aaaahh Draco, oouhh... sentuh aku di situ. Oouh...kumohon."
Draco masih menganga di tempat, jantungnya berdetak lebih cepat dari beberapa saat yang lalu dan sesuatu dalam dirinya terusik. Dentum jantungnya pun kian meningkat jika ia membiarkan Hermione terus berlaku semaunya, apalagi sekarang gadis itu sedang menggesek kemaluannya dengan jari tengah yang sedang naik-turun dari balik celana dalamnya. Merasa terganggu gadis itu mulai menurunkan sehelai kain yang menjadi satu-satunya penghalang tubuhnya.
"Mione berhenti!" Tidak mau hal itu terjadi cepat-cepat Draco mendekati Hermione lalu melompat ke tempat tidur tepat di atas tubuh Hermione. Ia tahan kedua tangan gadis itu, namun saat tersadar posisinya berada tepat di atas Hermione ia meneguk ludah. Mata itu begitu sayu menggoda, leher basah dan dada dengan puncak kemerahan yang naik-turun.
Draco mengerjap, ia melepas tangan hermioene berniat pergi tapi ternyata itu adalah sebuah kesalahan. Hermione dengan cekatan mengalungkan lagi tangannya di leher Draco lalu menariknya dan mempertemukan bibir mereka kembali. "Ellmmh..." Dengan lincah lidah wanita itu sudah menerobos masuk ke dalam mulut Draco, membelit lidahnya yang hanya kaku tak bergerak. Seharusnya Draco menampar wanita kurang ajar ini, ia juga mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa melakukannya, ia merasa tenaganya menguar begitu saja.
Semakin lama ciuman Hermione semakin menuntut, ia menekan kepala Draco seolah memberi sinyal pada pria itu untuk membalas ciumannya. Tak juga berhasil tangan Hermione berpindah ke punggung kokoh yang masih berlapis kemeja yang tadi ia buat kusut, menekan tubuh dengan berat dua kali tubuhnya itu hingga dada polos mereka saling bertemu, sedangkan kepala Draco jatuh di bantal Hermione tepat di perpotongan lehernya, Draco bisa mencium aroma keringat Hermione yang bercampur aroma susu.
"Ngghhh..."
Nikmat. Hermione merasa ribuan volt aliran listrik menyengatnya saat putingnya yang menegang bersentuhan dengan dada bidang Draco. Begitu juga dengan pria itu, ia merasa dua tonjolan kecil Hermione pada dadanya membuatnya merasa gemas tak tertahan. Draco sempat mengulum desahannya.
Si pirang masih belum menyerah untuk lepas dari Hermione, ia mengangkat tubuhnya tapi ada dua kaki yang menahan pinggulnya. Bukankah Draco sudah mengikatnya? Bagaimana simpul itu bisa lepas? Tanya Draco dalam hati. Detik berikutnya karena terlalu sibuk dengan stocking yang mudah melar itu tiba-tiba saja Hermione membalik tubuh Draco dan menduduki perutnya, mengerling binal seperti kuda betina dilanda birahi sambil menggerakan pinggulnya di sana dan membiarkan perut Draco basah oleh cairan dari kemaluannya.
"Mione..." desah Draco. Ia hampir tidak bisa bernapas, dia bisa gila dengan semua ini. Sibuk meratapi nasipnya lagi-lagi Hermione mengejutkannya saat jemari lentik itu sudah melonggarkan ikat pinggangnya kemudian menurunkan kedua lapis kain penutup bagian intim Draco.
"Mione berhenti!" tolak Draco menepis tangan putih itu, tapi tangan itu kembali untuk melakukan hal yang sama.
Hermione menggigit bibir bawahnya menemukan kelelakian Draco sudah membesar di depan wajahnya. Pemiliknya sendiri menyelipkan kelima jarinya di rambut Hermione dan menjauhkan kepala coklat itu dari sana. Bagi Draco ini memalukan, menolak Hermione dan sekarang wanita itu menangkap basah dirinya menegang oleh semua hal yang dilakukannya.
"He-hermio aah.." Kalimatnya terpotong, Draco tidak sempat mengelak. Ia mendesis, remasan pada rambut Hermione menguat saat merasakan lidah hangat si surai cokelat sudah bergerak pelan memutari glans miliknya yang mirip biji ek. Sensasinya lebih tidak masuk akal dari jilatan pertama gadis itu pada puting dadanya, ribuan kutu kecil bukan hanya menggelitik perut bawahnya tapi seluruh tubuhnya kini terasa geli dan meremang.
Draco hanya bisa menahan napas, mulutnya ternganga, wajahnya memerah menyerupai buah persik. Lidah Hermione terus bergerak menyapu habis seluruh permukaan kejantanannya, dari ujung ke pangkal dan sebaliknya seolah tak pernah bosan. Gadis itu juga tak ragu memasukan batang keras itu sedalam-dalamnya di rongga mulutnya hingga menyentuh kerongkongannya lalu menghisapnya dalam.
"Ooh! Shit!" mata granit Draco mulai sayu merasakan kenikmatan yang diberikan Hermione di bawah sana. Ia bisa gila, kepalanya terasa mau meledak saat Hermione menambahkan remasan lembut pada kedua bijinya. Puas dengan batang itu, Hermione mengerling padanya sambil meludahi telapaknya sendiri kemudian membasahi kejantanannya dan mengocoknya kasar. Mulut panasnya juga berpindah mencaplok dua buah menggantung di pangkal kepunyaan Draco menghisapnya di dalam mulut.
"Aaaassh... Hermiohhne." Draco terus mendesah, dia sudah menahannya tapi masih lolos karena kenikmatan itu mulai membuatnya lupa diri.
Pemandangan di depannya benar-benar sexy, wanita cantik dengan tubuh yang bagus, seorang artis yang digilai banyak pria tengah menjilati kepunyaannya dengan liar. Seharusnya Draco merasa sangat beruntung, ya sangat beruntung sampai ia merasa menyerah, dia tak tahan lagi, dia adalah laki-laki normal, sekuat tenaganya menahan agar tidak terpancing nalurinya berkata lain.
Draco menggeram, tubuhnya penuh peluh, ia mencengkeram lengan Hermione kuat-kuat. "Hermione."
Merasa semakin panas Draco berdecak, ia tak tahan lagi, Hermione benar-benar brengsek mempermainkannya sejauh ini. Dengan gemas mengangkat tubuh itu dan sekali sentak bertukar posisi menindih Hermione, "Kau lupa bahwa aku juga seorang lelaki." Geramnya, Hermione hanya memberinya tatapan nakal. Gadis itu bersorak dalam hati. Selanjutnya Draco melumat bibir Hermione, meremas dadanya, mengecup bibirnya gemas, menjilati bahkan menggigitnya seolah menumpahkan segala perasaan yang ia tahan sedari tadi.
"Akhh... Draco!" Hermione memekik ciuman Draco berpindah di telinganya, tak lama pemuda itu menjulurkan lidah menggelitik lubang telinga Hermione membuat si rambut cokelat mendesah-desah nikmat. Lidah itu kemudian turun di lehernya, si mata abu-abu mengawali dengan kecupan kemudian menyapukan lidahnya di seluruh permukaan kulit putih itu di sana, lalu menyesap leher asin itu dan meninggalkan beberapa bercak kemerahan. Hermione terus menggerakan tubuhnya gelisah di bawah kungkungan pria tampan itu, melampiaskan perasaan nikmatnya dengan terus mendesah menyebut nama Malfoy, mencengkeram kuat kedua lengan kokoh milik pria itu dan membuat si jantan semakin mengeras.
Ini kah yang diinginkan gadis itu sedari tadi? Draco Malfoy yang hilang kendali sedang menjajah tubuhnya, meremas dada mungilnya, menyesap lehernya. Tidak ada senyum menggoda Hermione, gadis itu terlalu terbuai dengan sentuhan panas pria yang dikasihinya, kedua alisnya menaut, matanya terpejam erat. Hanya ada kewanitaan yang berkedut pelan, terus mengalirkan cairan yang membasahi celana tipisnya. Desahan dan erangan sexy yang keluar dari bibir basah membengkak miliknya, memenuhi sesi kamar seolah mengatakan Hermione sangat menyukai ini.
"Kau yang menginginkannya Mione." Bisiknya dengan napas berat. Napas hangat itu kemudian menerpa salah satu puncak dada Hermione saat pria itu mendekatkan kepalanya di sana kemudian menjilatnya lembut.
"Aaaahh..." Hermione mendesah sexy. Lidah Draco bergerak cepat di atas puting merah mudanya, rasa geli nan memabukan itu mendera tubuhnya, rasa itu benar-benar membuatnya hampir gila.
Belum selesai dengan salah satu aset miliknya, mulut Draco menghisap puting itu dengan gemas. Tangan besarnya menelusuri kulit halus Hermione mulai dari dada, perut dan berhenti di atas gundukan kecil sebesar takupan sebelah telapaknya. Ia berhenti di sana meremasnya pelan disertai gigitan kecil di puncak dada pink yang sekarang basah kemerahan.
"Aaaahhh... Malfoy, ce-pat-aah." Ceracaunya. Pinggulnya terus bergerak gelisah, kewanitaannya membanjir ingin sesuatu mengisinya. "Malfoy...oouuhh...ini nikmat." Kepalanya mendongak, lehernya yang mengkilat-kilat oleh keringat dan ludah Draco naik turun, sepuluh jarinya ia selipkan di helaian bleach blonde itu dan menjambaknya gemas. Hermione sedang berada di puncak tertingginya dan ingin Draco segera menyelesaikannya.
Gayung tak bersambut, pangeran impiannya masih ingin bermain-main. Alih-alih segera menyatukan diri mereka, Draco mengangkat kepalanya tapi tidak dengan jemarinya. Jemarinya masih meremas kemaluan Hermione dari luar celana yang sudah basah, namun kali ini Draco menarik sisi-sisi lace dan menyatukannya dengan cara menarik ke atas sampai kain itu menyelip di lipatan kemaluan Hermione.
Desahan Hermione menjadi saat kain itu menggesek klitorisnya, "Aaassshh...eennnhmmm Draco..." ia menatap sayu Draco dari balik bulu matanya, "Draco please..." pintanya memelas yang dijawab dengan lumatan kasar pada bibirnya yang terasa lebih tebal.
Hermione tidak bisa menolak, ia menyambut sapuan lidah Draco pada bibirnya kemudian mengernyit merasakan bukan lagi kain yang menggesek klitorisnya, merupakan jemari Hangat Draco yang bermain-main di sana sambil menurunkan kain satu-satunya yang masih menempel di tubuhnya melalui kaki jenjangnya.
Sudah cukup, Hermione tak bisa lagi mengikuti permainan Draco. Dengan sisa tenaganya ia peluk punggung Draco, menariknya kemudian membalik tubuh Draco dan menindih perutnya. Dengan sorot penuh birahi Hermione menurunkan kedua celana Draco bersamaan, sementara dengan kemejanya ia tidak sempat. Ia tak sabar, diraihnya batang tegak milik Draco dan mengocoknya sebentar. Sambil mendesah pelan Hermione menggigit bibir bawahnya, ia sapukan bagian intim Draco ke bagian intim miliknya yang sudah basah.
"Ooooh... Draco." Lenguhnya dengan tatapan lelah saat kedua kelamin itu saling bergesekan, Draco membuka mulutnya bernapas berat mengulurkan tangannya untuk meremas dada Hermione, ia menunggu gadis itu membenamkan juniornya ke lubang panas milik gadisnya.
Gadis itu mengerling nakal, sambil menggigit bibir dan menatap wajah Draco ia menurunkan pinggulnya hingga seluruh batang kelelakian Draco terbenam di sana. "Oooouh Mione..." desisnya merasa bagian tubuhnya telah memasuki Hermione dengan lembut.
"Ssssh...aaaah... ini nikmat D-draco." mata Hermione terpejam. Ia terdiam di sana membiarkan kewanitaannya terbiasa dengan milik Draco. Pemuda itu mengerti, ia tarik kepala Hermione dan mengecup bibirnya dalam.
Tak lama Hermione bergerak, ia menggerakan pinggulnya maju-mundur menghantarkan panas yang membakar tubuh keduanya. Dengan gerakan pasti ia mempertegas gerakannya, lebih cepat cepat dan cepat hingga dirinya sendiri mendesah-desah meliukan tubuhnya diatas Draco.
"Mione...ooh..shit! lebih cepat!" Draco tidak sabar, ia meremas kuat kedua payudara Hermione, mengambil alih permainan dengan menghujamkan kejantanannya lebih kuat di lubang wanita itu. Mendapat sensasi menghujam lebih kuat tubuh Hermione melengkung, dadanya membusung di depan wajah Draco yang langsung disambut dengan mencaplok salah satunya.
"Ahhh... ... Malfoy, aku mencintaimu. Emmnnhhh... oouh, aah..i-ni terlalu...aaah. Nikmat Malfoy!" Ceracaunya di tengah persetubuhan itu. Draco diam fokus pada hujamannya yang membuat milik Hermione semakin basah menciptakan suara kecipak khas dua kemaluan yang bersatu.
Semakin lama gerakan Draco semakin kuat, perut Hermione terasa seperti diaduk-aduk, geli, nikmat dan penuh menjadi satu di sana menciptakan rasa yang benar-benar tidak masuk akal. Bosan, Draco menarik tubuh Hermione dan mengecup bibirnya, kemudian menggulingkan tubuh mulus itu lalu ia tindih sehingga Hermione kembali di bawah kungkungan tubuh atletis Draco.
Di sana Draco mengusap keringat di kening Hermione dengan tangannya, lalu kembali menurunkan kepalanya untuk menghisap puncak dada mungil itu. Suara decapan lidah Draco kembali terdengar seiring dengan desahan yang tak pernah berhenti dari mulut Hermione. Ciumannya turun perlahan menyusuri perut rata gadis itu, dengan tangannya Draco membelai paha Hermione dan menggesernya hingga paha itu melebar. Dengan begitu Draco bisa bebas menyentuh daerah pribadi dengan warna merah muda yang menggoda.
"D-draco...uuuhn..."
Hermione menggigit bibir saat kedua kakinya dilebarkan diikuti wajah pemuda itu yang menyongsong kewanitaannya. "Ooouh Draco!" jeritnya ketika sebuah kecupan menyusul dan jilatan mendarat di sana. Tubuhnya bergetar, tangannya bergerak menjambak helaian pirang itu, kakinya tersilang di belakang kepala Draco merasakan lidah pemuda itu menusuk lubang terintimnya. Menusuknya dengan gerakan maju mundur yang membuatnya gila.
"Draco... uuhh... lagi... lebih dalam..." Jambakan di rambut Draco menguat, namun si Malfoy junior ini terlalu sibuk menghisap cairan manis yang terus keluar dari pusat rangsang Hermione. Tidak peduli pemiliknya terus mendesah meminta untuk segera disetubuhi.
"Ahh D-draco...uuh..." Hermione meremas dadanya kuat-kuat, bulir keringat terus keluar melalui pori-porinya. Sensasi lidah Draco di kewanitaannya membuat segala hal ternikmat serasa terkumpul di perutnya. "Aaaaahh..." dan semua itu tak lagi biasa ia tahan.
"Ahhn...aaaahhhn..." tubuhnya tersentak beberapa kali sesuatu yang hangat keluar dari kewanitaannya membasahi wajah tampan Draco.
Puas dengan itu Draco kembali mengungkung Hermione dalam tubuhnya, ia kecupi wajah lelah Hermione menunggu gadis itu kembali siap menerimanya. Hermione tersenyum dengan mata sayunya, lalu menarik wajah Draco untuk melumat bibirnya.
Bibir mereka saling bertemu, lidah menjulur untuk saling mengait. Dan di bawah sana Draco Malfoy kembali melebarkan paha Hermione. Draco menggesekan kejantanannya yang masih kokoh ke kemaluan yang sudah basah oleh campuran salivanya dan cairan gadis itu. Tidak begitu sulit karena Draco sudah memasuki rongga panas itu sebelumnya.
"Enngghh... ahhh..." Hermione memejamkan mata merasakan perlahan batang milik Draco yang kembali memasukinya.
Untuk sesaat keduanya membisu dalam lumatan lidah yang panas, sementara pinggul mereka bekerjasama dengan sangat epik, insting sebagai makhluk biologis menuntun tubuh mereka untuk mencari kenikmatan yang dihadirkan oleh lawannya.
"Uuhhh...Draco...lebih cepat..aahh..aah." Tatap Hermione mengelus pipi Draco. Pemuda itu tersenyum menuruti permintaan Hermione mempercepat hujamannya. Ia menurunkan kepalanya mengecup bibir Hermione lalu menyusuri lekuk leher dan meninggalkan kissmark disana. Tak lupa menuruni bukit mungil namun begitu menantang, ia kulum lagi bulatan kecil diujung dada itu, membuat Hermione mendesis dan semakin erat memeluk tubuh Draconya.
Kecipak dua alat reproduksi yang beradu meningkahi deru nafas yang memburu. Rintihan penuh kenyamanan dari mulut Mione disambut dengan hangat oleh lenguhan Draco. Sesekali Hermione merentang lebar kedua pahanya seolah mempercayakan sepenuhnya kepada kepunyaan Draco yang keras tak henti menghujam kerelung lorong kewanitaannya.
"Aaaagghhhh... Draco... d-draco ma-malfooyyh..." Hermione berteriak histeris, nafasnya tersengal, merasakan sesuatu yang seolah dipaksa keluar dari tubuhnya, "Aaaaaaagghhh..!" tubuhnya mengejang, menggeliat, memeluk tubuh Draco dengan erat seolah ingin menghentikan gerakan pinggul pemuda blonde itu.
Tapi usahanya sia-sia, karena pinggul Draco justru menghentak lebih kuat dan lebih keras, pemuda itu juga tengah mengejar puncaknya yang bersiap menyapa, hujaman kejantanannya semakin kasar dan semakin jauh memasuki rongga kewanitaan Hermione, membuat tubuh gadis itu menggeliat semakin liar, merintih dirudung puncak rasa nikmat yang tak ada habisnya.
"Kau suka?" bisik Draco menggoda, sedangkan gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedari tadi memerah.
Hingga akhirnya nafas Draco tercekat, menyatukan dirinya dengan Hermione tak disangkanya senikmat itu. Perasaan yang bercampur aduk membuatnya semakin hilang kendali. Draco merasakan seluruh darahnya mengalir di kepala, terasa panas.
"Oouuhh...Mione!" Dalam hentakan yang kuat menusuk lebih dalam, dan menghambur benih kehidupan di rahim Hermione. Mengejat-ngejat mengantarkan cairan panas kekemaluan gadis bermata hazel yang mengangkat pinggulnya lebih tinggi seolah ingin memanjakan milik prianya.
"Aaaahhh..." Pemuda itu terjatuh di samping Hermione. Percintaannya barusan memang menguras seluruh tenaganya, dia tatap gadis berambut lembut itu juga sama seperti dirinya, dadanya yang tidak terlalu besar naik turun menandakan dirinya benar-benar kehabisan nafas dan tenaga.
Tangan kanannya meraih dahi Hermione, menyisir rambut itu kebelakang. Ada rasa bersalah yang sangat besar di dada Draco. Tak seharusnya dia melakukan ini pada Hermione, seharusnya dia bisa menahan napsunya.
Waktu di dinding kamar Hermione menunjukan angka 04.05. Di ranjang besar itu Draco yang baru saja membuka mata sedikit tersentak terbangun bukan di kamarnya sendiri, dan ia menemukan wanita berambut cokelat sedang berada dalam pelukannya, dan mereka berada di bawah selimut yang sama tanpa pakaian.
Draco mengusap wajah lelahnya dan mendesah. Ia masih ingat penyesalannya dan sebelum gadis di sampingnya terbangun Draco berniat pergi lebih dulu. Bukan, bukan karena ia brengsek hanya saja Draco belum tau apa yang harus dikatakannya pada Hermione. Sebut saja dia pengecut.
Ia pindahkan sepelan mungkin kepala Hermione dari dadanya, gadis itu sempat bergerak membuat Draco sedikit khawatir. Tapi hanya sesaat dan Hermione kembali nyaman pada bantal dan selimutnya yang hangat.
Draco turun dari tempat tidur, membenarkan kemejanya, memakai celananya kembali dan mengambil kunci di samping gaun Hermione yang tergeletak di lantai. Sebelum pergi ia tatapi tubuh polos di balik selimut tebal itu, wajah gadis itu pucat, bibirnya tak lagi berwarna pink menggoda seperti semalam, mungkin dia terlalu lelah.
Draco menghela napas lalu berjalan keluar, tak lupa ia pungut jas dan dasinya yang tergolek di dekat pintu.
Tanpa sepengetahuan Draco ada hazel sayu yang sejak tadi mengamatinya, mulai ia turun dari tempat tidur sampai pemuda itu menghilang di balik pintu. Hermione tau, Draco tidak suka ini. Draco tidak menyukainya, Draco menyukai gadis lain. Dan malam tadi seharusnya Draco bersama gadis yang dicintainya. Bukan menurutinya yang seperti jalang merayu pemuda itu habis-habisan. Dia tidak pernah merasa semalu ini.
Sementara itu di depan pintu Draco yang baru saja keluar dikejutkan oleh kemunculan gadis yang semalam ia tinggalkan begitu saja. Cho Chang mematung di depan pintu Luna Lovegood yang letaknya tepat di depan kamar Hermione.
Iris keabuan Draco melebar, begitu juga dengan Cho. Terlihat sekali keduanya tampak tidak siap dengan pertemuan mendadak ini. Terlebih dari pihak Draco, orang bodoh pun akan tau apa yang telah ia lakukan dengan penampilan seperti itu? Bercak merah pada dada dan lehernya. Tapi untuk menghindari Cho, itu adalah sesuatu yang terlambat.
"Ha-hai." Sapanya kemudian, sangat canggung. "Kau menginap di sini?"
Si gadis berwajah oriental tersenyum, "Ha-hai Draco." Jawabnya tak kalah canggung. "Iiya a-aku menginap, dan kau―" Cho menghentikan kalimatnya, tatapannya melewati kepala Draco membaca papan nama yang terukir di sana. "―miss Granger." lanjutnya. Ia juga sempat meneliti penampilan Draco, dan langsung tau apa yang sudah terjadi pada pemuda ini dan Miss Grangernya.
Draco mengangguk ragu, "Y-ya."
"Baiklah." Cho tersenyum.
"Err... maaf semalam aku ada se―"
"Aku memaafkanmu Draco. Dan aku mengerti." Potong Cho. "Ah iya aku meninggalkan sesuatu di kamar Luna, aku harus mengambilnya." Katanya lagi. Hal itu sangat kentara di mata Draco bahwa gadis ini hanya ingin menghindar. Draco paham, Cho pasti kecewa padanya.
"Satu lagi," Cho berbalik. "Aku akan merahasiakannya dari siapapun. Jadi sebaiknya kau cepat keluar sebelum semua orang terbangun dan memergokimu."
Cho benar. Draco mengangguk lemah. "Baiklah." Jawabnya, tampak seperti baru terbangun dari gua. Kemudian Draco melangkah pergi meninggalkan Cho. Di tempatnya gadis itu sedang menatap punggung Draco dengan sedih.
Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian malam erotisnya bersama Draco, Hermione tak lagi mengganggunya, pria itu juga tidak pernah lagi muncul di sekolah. Bahkan kemarin semua barang-barangnya dari Slytherin diangkut oleh orang-orang suruhan ayahnya.
Jujur Hermione masih sangat merindukannya, dan sebelum pergi dari London Hermione berharap bisa bertemu dengan Draco sekali lagi. Ia berencana pindah ke sebuah pedesaan di Gloucestershire dan meninggalkan dunia keartisannya karena suatu hal. Tapi Hermione mengurungkan niatnya, inilah batas di mana ia harus berhenti mengganggu Draco dan membiarkan pemuda itu hidup dengan gadis pilihannya.
Hermione menghela napas, hembusan hangatnya mengepul di udara kemudian menghilang. Salju sudah turun beberapa hari yang lalu, menutup sebagian atap Hogwarts dan permukaan daun di sekitar bangunan itu. Sangat dingin, bahkan beanie hat berbahan rajut yang menutupi kepalanya tak begitu membantu menghangatkan, begitu juga dengan syal merah yang melingkari lehernya. Mungkin ini rasa dingin yang berbeda, dingin yang berasal dari hati yang sesak merindukan Draco.
Ia rapatkan mantel, menyeret kopernya dari halaman Hogwarts. Chauffeur pribadinya berlari kecil saat melihatnya dan mengambil alih koper itu. Hermione menghentikan tungkai beralas winter boot-nya. Langkah terakhir yang akan dilaluinya nanti adalah langkah yang membawanya benar-benar keluar dari Hogwarts. Ia sempatkan melihat belakang, memandangi atap Hogwarts rumahnya selama tiga tahun ini, tempat di mana ia bertemu Draco, pemuda pemurung yang membuatnya terjatuh bangun karna cinta. Tidak ada alasan khusus untuk jatuh cinta pemuda itu, hanya berawal dari obsesi karna Draco mirip Tom Felton artis favoritnya semasa kecil.
Kedua sudut bibir pucat Hermione terangkat manis mengingat semua kenangannya dengan Draco. Tidak ada yang istimewa, hanya ada dia yang selalu berusaha mendekati pria itu diam-diam, segala penolakan Draco dan tatapan geli darinya.
"Maaf Miss, Mr Granger berpesan padaku anda tidak boleh berlama-lama di luar." Nostalgia Hermione berakhir oleh suara itu. Chauffeur kepercayaan ayahnya sudah kembali dan berdiri menunggu.
Hermione tersenyum. "Baiklah. Kali ini aku tidak akan membantahnya." lalu mengangkat kakinya. Tapi baru sekali langkah Hermione merasakan kepalanya berdenyut hebat. Langkahnya otomatis terhenti, bumi yang dipijaknya terasa berputar-putar.
"Anda tidak apa-apa Miss?" pria dengan seragam hitam itu cepat-cepat mengahampiri nona besarnya. Hermione hanya memberinya isyarat melalui angkatan tangannya bahwa ia tidak apa-apa.
Tapi ia tidak bisa berbohong lebih banyak lagi saat denyutan itu kembali menyakitinya, seperti ribuan jarum sedang menusuk bersamaan. Hermione meringis memegangi kepala, terlalu sakit sampai lututnya terasa lemas. Detik berikutnya ia merasa ada cairan berbau anyir yang keluar melalui hidung, Hermione tak sanggup lagi menopang tubuhnya, seluruh sendinya terasa lemas seperti tak berfungsi, tapi belum sempat terjatuh di atas salju ia sempat mendengar Chauffeur-nya berteriak dan menangkap tubuhnya sebelum ia kehilangan kesadaran.
BERSAMBUNG
