No Excuse
Chapter 4
Author : zyjizhang
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Byun Baekhyun, all member EXO
Rate : T
Genre : Entahlah
Desclaimer : Semua cast bukan milik saya. Tapi cerita ini asli punya saya, dari pikiran saya juga.
Author
Nah, sepertinya saya harus mengklarifikasi sesuatu disini. Karena kemaren ada yang PM saya nanya "Zhang-nim, cowok ya? Kok kemaren waktu nyebut Minseok, pake hyung?" Nah, sebenarnya saya cewek. Ya, cewek tulen. Saya pake Hyung karena saya agak gemana getoh kalo manggil Oppa, lebih suka aja dengar hyung sih ya. Dan saya line 95, ngomong-ngomong *nggak ada yang tanya-_-*
Masalah cerita ini, kayaknya tinggal satu chapter lagi. Jadi ndak akan lama lagi penderitaan ini akan selesai :D hahaha *apadah
Oke, terima kasih udah review chapter sebelumnya. Dan ini bukan HunBaek! Tak akan ada yang namanya HunBaek, saya hanya rela Baekhyun jadi uke kalo sama Chanyeol :D
Nah, udahan bacotnya ya. Mari kita baca saja cerita absurd ini.
..
..
..
Happy Reading…
..
..
Don't be a plagiator
..
..
..
Setelah apa yang terjadi pada hari dimana aku marah pada Baekhyun hyung, suasana dorm menjadi sangat canggung. Jongin sementara itu tak henti-hentinya bertanya ada apa denganku dan Baekhyun hyung. Biasanya saat dia mulai menanyakan hal ini, Jongdae hyung dan Lay hyung akan dengan senang hati menyeretnya ke gedung SM untuk di ajak latihan. Jongin yang tak tahu apa-apa, akhirnya menurut saja. Dia itu agak sedikit maniak latihan sebenarnya, dia bertekad ingin selalu menampilkan yang terbaik pada fans kami.
Di sisi lain, aku dan Baekhyun hyung, aku tak tahu bagaimana harus menjelaskan hubungan kami. Kami bukannya tak saling tegur atau bagaimana, hanya saja kami menjadi terlalu sopan terhadap satu sama lain, yang memberi indikasi jelas pada hyungdeul yang lain bahwa kami belum sepenuhnya melupakan perselisihan yang terjadi malam itu. Sering kali saat kami berbeda pendapat dalam memilih makanan atau hal lain, kami akan langsung berpura-pura bahwa kami tak mendengar apa yang di katakan yang lain.
Sampai pada hari dimana kami memiliki jadwal untuk latihan bersama di gedung SM, sebelumnya pagi-pagi sekali Kyungsoo hyung sudah berada di dapur untuk masak dibantu Lay hyung. Karena memang hanya mereka berdua yang bisa masak tanpa membuat dapur menjadi terbakar. Yah, Chanyeol hyung juga sebenarnya, tapi dia terlalu malas untuk bangun pagi hanya untuk masak.
"Kita latihan lagi? Padahal kan kita sudah menghafal di luar kepala gerakan dance itu." Suho hyung menggerutu. Saat itu kami sedang duduk melingkar di meja makan. Dan kebetulan Baekhyun hyung duduk di depanku, kebetulan yang tak mengenakkan. Jongin sendiri duduk di antara Minseok hyung dan Kyungsoo hyung. Dia tampak lahap sekali menyuap makanannya.
"Kau leader! Tak seharusnya kau berkata seperti itu hyung." Cela Chanyeol hyung, sementara tangan kanannya yang memegang sumpit dia acung-acungkan untuk menunjuk Suho hyung.
"Kita latihan saja masih banyak melakukan kesalahan, apalagi tidak," Jongin berujar tanpa memandang satupun di antara kami. Perkataannya membuat kami tertohok, karena apa yang di katakannya memang benar.
Diam lama setelah Jongin mengucapkan hal tersebut, hanya terdengar bunyi gelas beradu dengan meja makan, serta sumpit-sumpit yang menyentuh dasar piring. Jongin adalah orang pertama yang menyelesaikan sarapannya. Dia berdiri begitu saja dari tempat duduknya,
"Nah, aku jalan duluan." Katanya, datar. Kemudian, tanpa memandang satupun di antara kami, dia berjalan keluar. Meninggalkan kami dengan keadaan bingung.
"Dia kenapa? Tampaknya ada yang menganggu pikirannya," Minseok hyung berujar, sumpitnya tertahan di udara. Aku perhatikan Kyungsoo hyung tak menggerakkan sama sekali tangannya. Dia tampak cemas.
"Sebenarnya sejak tadi dia seperti itu, dia bahkan tak mau berbicara padaku saat aku mengajaknya bermain games." Jongdae hyung menimpali. Ini jadi semakin membingungkan. Jongin? Tidak mau bermain games? Sudah pasti ada sesuatu yang terjadi. Karena Jongin suka bermain games, bahkan sudah mendekati level gamers.
"Jadi, dia kenapa?" aku bertanya cemas, dan sialnya disaat yang bersamaan Baekhyun hyung juga menanyakan hal yang sama persis. Sesaat aku memejamkan mata, kemudian aku berpura-pura bahwa aku tak mendengar suara siapapun selain suaraku.
"Apapun itu, lebih baik sekarang kita menyusulnya." Kyungsoo hyung berujar sambil berdiri dan menaruh piringnya sendiri di wastafel. Kemudian kami semua mengikuti jejaknya. Berjalan dengan agak cepat, kami masuk ke dalam mobil. Manajer memberi tahu kami bahwa tadi Jongin pergi bersama dengan salah satu trainee SM. Perutku bergolak tak nyaman mendengar hal itu. Tak salah lagi, sesuatu memang terjadi.
..
..
..
Saat kami tiba di gedung SM, Kyungsoo hyung dan Minseok hyung segera melesat ke dalam gedung tanpa menunggu kami. Aku pun demikian, aku khawatir dengannya. Terakhir kali dia bersikap seperti ini, adalah waktu dia menyembunyikan bahwa dia sedang mengalami cidera pinggang. Untung saja waktu itu kami cepat-cepat datang kemari dan mendapatinya dengan wajah pucat karena menahan rasa sakit.
Di koridor, aku bertemu dengan beberapa sunbae-nim yang lain. Aku membungkuk dengan tergesa dan hampir tak melihat siapa saja yang menyapaku. Pikiranku terlalu kalut. Namun sesampainya aku di depan ruang latihan kami, aku malah mendapati Kyungsoo hyung dan Minseok hyung berdiri di luar. Mata mereka memandang apapun itu yang ada di dalam. Merasa penasaran, aku melongok melalui celah antara Minseok hyung dan Kyungsoo hyung. Dan yang aku lihat di dalam membuatku bernafas lega.
Di belakangku muncul Baekhyun hyung, kemudian di susul Suho hyung, Chanyeol hyung, Lay hyung dan Jongdae hyung. Mereka menatap kami dengan raut wajah bertanya.
"Tidak, tidak, bukan begitu Taeyong. Seharusnya tanganmu seperti ini, nah tidak sulit kan?" terdengar suara Jongin dari dalam. Dan raut wajah semua member menjadi rileks lagi. Ya, Jongin sedang ada di dalam mengajari gerakan dance pada salah satu dongsaeng kami, Taeyong, yang akan debut dekat-dekat ini.
"Wah, aku tidak tahu gerakan ini akan terlihat bagus. Gomawo Kai sunbae." Kali ini terdengar suara Taeyong. Kami masih berdiri di luar, takut menganggu kegiatan mereka. Aku perhatikan Baekhyun hyung bergerak-gerak gelisah, nampak sudah gatal untuk membuka saja pintu itu.
Bertekad tak akan membiarkan Baekhyun bertindak lebih dulu, aku langsung membuka pintu itu tanpa meminta ijin pada hyungdeul yang lain. Jongin dan Taeyong menoleh saat aku membuka pintu itu. Taeyong membungkuk untuk menyapaku, dan Jongin tersenyum melihat kedatanganku. Ini membuatku bingung. Karena tampaknya Jongin tak nampak berbeda, tidak seperti waktu di dorm tadi.
"Kai sunbae, aku pergi dulu kalau begitu. Terima kasih untuk bantuannya." Taeyong membungkuk pada Jongin. Jongin mengangguk dan kemudian Taeyong pergi dari sana.
Sepeninggal Taeyong, hyungdeul memasuki ruang latihan itu dan mereka mencuri-curi pandang pada Jongin setiap menit sekali. Berusaha memastikan apakah si beruang itu benar-benar tak kenapa-napa. Tapi percuma saja kami melihatnya sampai mata kami copot sekalipun, karena Jongin tampak terlalu biasa-biasa saja, dalam artian dia sama sekali tak tampak seaneh waktu di dorm. Jongdae hyung malah terlihat terlalu kentara bahwa dia kebingungan, karena berkali-kali dia melihat Jongin saat dia menyanyi, membuatnya lupa lirik dengan mendadak.
Jongin sementara itu malah sibuk menggerak-gerakkan badannya, dia bahkan tak menghiraukan sama sekali kelakuan kami. Dia terkadang memang lupa diri kalau sudah praktek dance begini.
"Haruskah kita latihan Call me Baby? Aku sudah lama tak berla…." Tapi sisa kalimat Lay hyung terputus, karena saat itu pintu ruang latihan terbuka lagi. Memperlihatkan Taemin yang segera menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Menyuruh kami untuk diam. Aku tahu maksudnya, karena saat ini Jongin belum kembali ke Bumi. Dia masih berada di dunianya sendiri.
Taemin berjalan berjingkat mendekati Jongin. Setelah dia sampai di belakang Jongin, Taemin hyung masih diam, barangkali memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengejutkan Jongin. Kami sementara itu hanya terdiam menunggu kelanjutan kisah dua sahabat karib yang akhirnya bertemu setelah satu bulan lebih lamanya. Kemudian Taemin hyung melompat ke depan Jongin, membuat Jongin terlonjak dan serentak mundur ke belakang. Aku agak sedikit jengkel melihat Taemin hyung membuat Jongin kaget sedemikian rupa.
"Tada!" kata Taemin sok dramatis. Tapi sialnya Jongin malah terlihat senang sekali.
"Taemin hyung!" Jongin berujar keras. Setelahnya Jongin menubruk Taemin hyung, memeluknya erat sekali. Yah, erat sekali sampai aku sesak nafas. Untuk sesaat aku membayangkan bagaimana kalau aku yang berada di posisi Taemin hyung, itu akan benar-benar membahagiakan.
"Nah, nah, lihat aku membawakanmu apa Kai!" ujar Taemin hyung sambil mengacungkan kotak yang tak terlalu pipih. Jongin mengambilnya dengan senang dan langsung membuka kotak itu Isinya topi, yah, topi. Kenapa aku melupakan bahwa Jongin suka topi? Sepertinya aku dan Baekhyun hyung harus melakukan kursus kilat dengan Taemin hyung. Karena tampaknya pengetahuan kami tentang Jongin masih kalah jauh di bandingkan Taemin hyung.
Jongin melihat topi itu dengan mata berbinar-binar, "Aku membelikannya saat konser ke Thailand kemarin dulu. Kau suka?" Taemin hyung bertanya, walaupun aku yakin sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
"Suka! Ini topi yang waktu itu aku tunjukkan padamu kan, hyung? Gomawooo!" ujar Jongin dan langsung memakai topi itu di kepalanya. Taemin terkekeh melihat kelakuan Jongin. Sementara aku mengalihkan pandang. Tak kuat melihat interaksi mereka berdua. Dan tampaknya aku tidak sendiri. Karena hyungdeul yang lain bertingkah seakan mereka terpaksa menelan pil pahit. Belum lagi Suho hyung yang meremas-remas kertas lagunya dengan kesal yang segera di tegur Lay hyung. Baekhyun, dia sudah menyumpal telinganya dengan earphone dan berlagak seakan dia buta.
"Aku senang kau menyukainya. Kalau begitu aku harus pergi sekarang, latihan yang baik oke?" kata Taemin hyung yang sangat aku setujui dalam hati. Lebih cepat dia hengkang dari sini, lebih baik. Dia itu lawan yang benar-benar tak tertandingi. "Aku pergi dulu kalau begitu," Taemin menyapa kami dengan senyuman yang sialnya mirip dengan senyuman Jongin. Terlalu banyak keberuntungan yang memihak Taemin hingga aku merasa ini tidak adil.
Kami mengangguk saja saat Taemin hyung pamit, dan memperhatikan bagaimana Jongin menatap Taemin hingga sosoknya tak terlihat karena pintu menutup di belakangnya. Hening beberapa saat setelah Taemin pergi, Jongin masih sibuk membenarkan letak topi di kepalanya. Kemudian dia menatap kami semua dengan senyum mengembang.
"Kita jadi latihan call me baby?" Jongin berujar. Oh, aku tak menyangka dia mendengar Lay hyung berkata seperti itu. Aku kira dia benar-benar tenggelam dalam dancenya tadi. Hyungdeul semuanya mengangguk dan mulai berdiri, begitupun aku. Jongin mengambil posisi di depan, tentu saja, dia kan machine dancing.
"Kau tak ingin melepas topi itu dulu? Itu akan menganggu," aku berujar, agak sakit hati. Aku merasa seperti benar-benar di kalahkan oleh Taemin hyung dan itu benar-benar tak enak. Jongin menoleh untuk menatapku.
"Tidak mau! Aku kan baru saja mendapatkannya dari Taemin hyung," katanya dengan nada membangkang. Kemudian—setelah membenarkan sekali lagi letak topinya—Jongin berbalik membuatku ingin berteriak frustasi. Astaga! Tidakkah dia merasa bahwa aku sedang cemburu? Apa dia sebegitu tak pekanya?
"Usaha bagus, tapi sayang, tak cukup bagus." Baekhyun hyung berujar sarkas, membuatku melempar pandangan jengkel padanya. Tapi tampaknya Baekhyun hyung masih belum mau melihatku, karena saat dia mengatakan itu, dia malah melihat Minseok hyung di depannya.
"Berusaha tapi gagal jauh lebih baik daripada berdiam diri saja," sahutku sewot. Kata-kata mendapat hadiah tatapan memperingatkan dari Minseok hyung yang membuatku agak sedikit merasa bersalah.
"Oh diamlah kalian berdua!" Suho hyung yang ada di sebelah kiriku berujar bosan.
Setelahnya tak ada yang berbicara lagi. Sikap serius Jongin dalam latihan kali ini perlahan mempengaruhi semua member. Membuat latihan kali ini akhirnya berjalan sesuai dengan apa yang telah di rencanakan.
..
..
..
Latihan kami kali ini berakhir kira-kira sekitar jam tujuh malam. Dalam waktu yang panjang itu, bukan kami habiskan untuk latihan penuh. Malah kami terkesan terlalu yah tak terlalu serius. Satu jam pertama, kami bahkan tak menyadari apa yang terjadi saking seriusnya mengikuti latihan. Tapi memasuki satu jam ke dua, konsentrasi kami surut. Chan hyung bahkan menyanyikan part rap-nya di lagu growl dengan ogah-ogahan. Baekhyun hyung menyanyikan Miracles in December dengan suara seperti orang tercekik, Kyungsoo hyung menyanyi dengan mendayu-dayu hingga membuat kami semenit sadar dan semenit kemudian tertidur. Pasangan SuLay—yang sama-sama masuk vocal line juga—berkolaborasi seakan dunia milik mereka berdua yang membuat kami cepat-cepat menutup mata kalau tak ingin muntah. Jongdae hyung lain lagi, dia berteriak kencang sekali saat menyanyikan bagian yeahyeah di lagu growl hingga kami semua terlonjak. Aku dan Minseok hyung, aku tak tahu bagaimana kami, karena kami hanya duduk diam. Bahkan tak mau bersusah payah menggerakkan tangan saat kami latihan Call me baby, aku terlalu malas sementara Minseok hyung terlalu kosong. Minseok hyung memang seperti itu kalau latihan.
Jongin sementara itu, latihan semua dance dengan telinga di sumpal earphone. Sama sekali tak ingin mengikuti latihan secara bergrup setelah Chanyeol hyung mengacaukan latihan History dengan mengguncang saku celananya tanpa henti. Tampaknya itu mengganggu Jongin dan dia mulai menggunakan earphonenya sendiri. Bahkan tampak tak peduli saat dia mulai menabrak hyungdeul yang lain saat dia latihan overdose. Yah, akhirnya hyungdeul dan aku menyerah dan memutuskan untuk duduk melihat saja Jongin latihan sendiri. Itu bukan tontonan yang membosankan karena penarinya saja semenarik Jongin.
Jongin masih sibuk menggerakkan kaki dan tangannya saat kami sudah bersiap-siap akan pulang. Aku memandang Jongin lagi, aku mengerti kebutuhannya untuk menari seserius itu, karena aku tahu ini mimpinya sejak dulu.
"Ayo kita pulang," ujar Suho hyung saat Jongin sudah berhenti menggerakkan badannya. Tangan Suho hyung memegang lengan Lay hyung, seakan tak ingin Lay hyung menghilang mendadak. Aku bertanya-tanya kapan aku dan Jongin bisa seperti itu.
"Pastikan membawa semua barang-barangmu Kai." Kyungsoo hyung berujar sedikit keras dari tempat yang tak bisa ku lihat. Mungkin saja dia berada di belakang Chanyeol hyung, yang tingginya bisa menutupi keseluruhan tubuh Kyungsoo hyung. Aku mendengar Jongin bergumam sesuatu tentang bukan anak kecil lagi.
Kemudian kami semua keluar dari ruang latihan itu dengan perasaan lega. Setidaknya latihan yang sangat membosankan ini membawa dampak lumayan positif untukku. Walaupun harus aku akui, kedatangan Taemin hyung tadi bukan termasuk dampak positif.
Aku sudah hampir tiba di pintu keluar gedung SM saat aku menyadari dua orang tak ada dalam rombongan kami. Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Dan tetap saja tak ada Jongin dan Baekhyun hyung. Sekali lagi perasaan tak enak menghinggapiku. Jongin dan Baekhyun menghilang bersama, ini bukan merupakan hal baik kalau kalian bertanya padaku.
"Hyung, kalian duluan saja. Sepertinya aku melupakan sesuatu di ruang latihan tadi." Kataku, dan tanpa menunggu tanggapan mereka, aku berbalik. Aku punya dugaan kuat bahwa mereka saat ini masih berada di ruang latihan.
Aku memelankan langkah kakiku saat aku mendekati tempat latihan kami tadi. Dan beruntung sekali aku mendapati pintunya sedikit terbuka, barangkali siapapun yang keluar paling terakhir tak menutupnya karena mengira Jongin atau Baekhyun akan menutupnya untuk mereka.
Semakin dekat aku pada pintu itu, semakin jelas terdengar bahwa memang ada orang—atau orang-orang—yang bergerak di dalam. Aku menajamkan telingaku, aku tak memiliki banyak pengalaman dalam mencuri dengar, maka aku tak tahu bagaimana mestinya ini di lakukan.
"Tidak! Kau sudah berjanji padaku. Kau berjanji pada hyung, Kai, bahwa kau tidak akan seperti itu lagi. Kau dengar?" itu suara Baekhyun hyung yang tampaknya dia tahan agar tak berteriak murka pada Jongin. Sementara itu aku belum mendengar suara Jongin, hanya terdengar gesekan sepatu pada lantai, yang aku yakini ditimbulkan Jongin saat dia bergerak gelisah.
"Tapi hyung…" ah, ini dia suara Jongin. Suaranya terdengar memelas dan putus asa. Seakan dia meminta Baekhyun melakukan sesuatu, tapi Baekhyun menolak.
"Tidak Kai, dengarkan aku! Tunggu sebentar lagi, ini belum waktunya. Kau…Hyung sudah berjanji padamu, dan kau juga. Mari kita ingat lagi janji itu, Kai, oke?!" Baekhyun berujar final, nampak jelas dalam suaranya bahwa dia ingin Jongin menurut. Perutku bergejolak aneh saat mendengar percakapan ini, seakan aku mencuri dengar sesuatu yang pribadi, yang tak seharusnya aku campuri.
"Aku ingat hyung, aku ingat, tapi rasanya… rasanya semakin tak tertahankan…" dan dengar perasaan ngeri aku menyadari bahwa suara Jongin pecah di akhir kalimat itu. Jongin, apa dia menangis? Tidak, Jongin jarang sekali menangis kecuali tentang sesuatu yang memang tak tertahankan, sesuatu yang besar atau terlalu mengerikan.
Dengan masih berusaha untuk mengontrol kecemasanku, aku mengintip sedikit melalui celah pintu itu. Dan apa yang aku lihat membuat hatiku mencelos. Jongin dalam pelukan Baekhyun hyung yang sedang menepuk-nepuk punggungnya, tampak menenangkan Jongin. Jongin sendiri menenggelamkan wajahnya pada bahu Baekhyun hyung.
Darahku menggelegak, aku marah dan getir. Bagaimana mungkin mereka berpelukan disini sekarang saat hanya ada mereka berdua?! Keinginan kuat untuk masuk ke dalam dan merenggut Jongin jauh-jauh dari Baekhyun menguasiku. Dengan susah payah aku menahannya, bagaimanapun marahnya aku sekarang, aku masih memiliki cukup tatakrama yang membuatku tetap berdiri tegak di luar pintu ini walau dengan tangan terkepal erat. Aku memutuskan untuk pergi dari sini, tapi tidak sebelum aku mendengar Baekhyun hyung berujar pelan, "Hyung tetap disini, Kai. Jadi tunggulah sebentar lagi…"
Aku tidak tahu apa maksudnya itu, tapi aku sudah cukup marah tanpa harus mendengar kelanjutan percakapan mereka.
Aku berjalan tergesa dan memasuki van yang telah menunggu kami. Masuk kesana dengan cepat dan duduk diam.
"Oh, Sehun? Dimana Baekhyun dan Kai?" Chanyeol hyung bertanya padaku.
"Di dalam." jawabku datar. Tak sanggup membuka mulutku lebih banyak tanpa membuatku berteriak. Maka aku memilih berbicara sesedikit mungkin. Aku melihat tatapan Minseok hyung yang tajam, tapi aku berusaha untuk mengabaikannya. Aku hanya ingin kepekaan Minseok hyung untuk saat ini mati sebentar saja. Tak ingin dia bertanya macam-macam yang pastilah akan membuatku lepas kendali.
"Kau baik-baik saja Sehun?" Minseok hyung bertanya pelan, aku hanya mengangguk, kaku. Setelahnya Jongin dan Baekhyun hyung datang, aku segera memalingkan wajah agar tak melihat mereka dalam usahaku untuk tak menjadi semakin marah. Mereka memilih tempat duduk di belakang, berhimpitan dengan Jongdae hyung dan Chanyeol hyung.
Saat mobil van ini mulai berjalan, aku mendengar Chan hyung berujar, "Kau tahu Baek, kau tak bisa lagi berpura-pura buta terhadap masalah ini…" perkataannya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya.
Tak ada yang bersuara lagi sementara mobil van yang kami duduki membelah keramaian malam kota Seoul.
..
..
..
..
..
*Masih Berlanjut*
