Naruto tersungkur dan kepalanya menghantam sisi sofa. Entah keberapa kalinya ia tersungkur hari ini, sudah cukup rasanya ia mencium tanah. Orochimaru memberi tamparan keras saat ia pulang dan Naruto tak punya alasan untuk melawan. Ia tak pernah bisa melawan ayahnya sendiri.

"Kau bahkan belum selesai saat kami mendapat laporan... mengapa lama bagimu mengalahkan Sasori? Dia hanya manusia biasa!" bentak Orochimaru.

Naruto mendaki sofa dan duduk menyembunyikan muka.

"Ada apa dengan kemampuan bertarungmu? Aku melatihmu sejak berumur 10 tahun dan sekarang kau bilang.. kalah?"

Orochimaru berdiri dengan kemurkaan sebagai pijakannya. Kilatan mata reptil itu menyala terang dalam emosi. Ia marah karena kecewa dan ia marah karena Naruto pulang dalam keadaan tubuh setengah terhuyung. Ia marah karena ia memang takkan bisa menerima kegagalan.

"Aku bersusah payah menghilangkan potongan rambutmu dan bercak darahmu, bayangkan jika DNA mu mereka dapatkan?"

"Maafkan aku, ayah..." lirih Naruto.

"Jangan pernah meremehkan lawanmu.. aku selalu mengingatkan itu padamu..." Orochimaru menurunkan nada tingginya satu oktaf. "Sasori... biar aku yang mengurusnya..."

Naruto cepat menggeleng, "Jangan, ayah! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"

"Kau pikir kau tak bisa mati? Jika tidak ada yang menganggu acaramu tadi, kau pikir kau sekarang masih hidup?" sergah Orochimaru.

"Tapi, ayah, kumohon... berikan aku kesempatan sekali lagi, aku akan membereskan Sasori! Akulah yang harus membalas demi darah orangtuaku yang tertumpah, aku mohon..." Naruto meyakinkan ayahnya dengan nada menghiba.

Orochimaru memejamkan matanya dan bersedekap, satu hembusan nafas panjang menjadi tanda pengampunannya untuk Naruto. "Jika kali ini kau gagal, maka misi balas dendam ini akan kuselesaikan sendiri."

.

Naruto membuang langkah gontai menuju kamar. Debam pintu terdengar keras, bukan, bukan pintu kamarnya, tapi pintu rumah karena ayahnya kembali ke kantor S.A.C. Naruto berdiri dibalik bingkai jendela, menatap bulan yang berpijar temaram.

Pemuda itu membuka jendela, membiarkan angin malam mendinginkan rasa panas yang masih mendominasi di pipinya. Ini kali pertama Orochimaru menamparnya. Biasanya ia ditendang atau malah digantung, tapi itu dalam proses latihan, bukan saat-saat seperti ini.

Naruto mengumpulkan ludah di tenggorokan, menengadah pada bulan yang masih redup, membuang ludahnya ke atas. Meludahi bulan.

"Apa yang kau sombongkan? Kau cuma bisa diam disana." Ejeknya pada rembulan. "Menyedihkan... bahkan sinarmu bukanlah milikmu.. itu milik penguasa galaksi yang kau pantulkan."

.

.

Sasuke duduk di bingkai jendela dengan satu kaki tertekuk, menatap bulan yang sama, yang mungkin juga dipandang oleh seseorang di tempat lain. Satu tangannya memegang kaleng bir yang tak lagi dingin, sementara diantara jemarinya terselip sebatang rokok yang tinggal setengah.

Tembakau dan alkohol yang ia beli diam-diam adalah temannya saat ini.

Bukan karena ia tak memiliki teman.

Sasuke tak mau berteman.

Memaksa sahabat terbaiknya berpura-pura sebagai orang tak dikenal.

Tangannya singgah ke pipi sejenak, sudah tak terasa sakit, tapi entah kenapa kejadian dikelas tadi terus berulang dikepalanya. Ia tak sadar bagaimana ia bisa mengucapkan sesuatu yang tak ia mengerti.

Merubah dunia?

Manusia dan hero bisa hidup dalam sisi yang sama?

Cih!

Dia bahkan tak bisa mengenali dirinya sendiri sekarang.

Lenguhan panjang diakhiri tegukan dari kaleng bir yang kini kosong. Ia kembali menatap bulan yang pongah di atap langit.

"Kau juga berpura-pura kan?" tanyanya pada sang bulan, "Kau berlaku sebagai penerang di kegelapan, tapi kau memancarkan sinar yang bukan milikmu... lalu kenapa kau bangga disebut pelita malam?"

Angin malam yang menusuk membangkitkan remang pada kulit pucat pemuda tanggung itu, ia memandang nanar pada bulan yang tak beranjak dari titik orbitnya, "Jangan sombong, kau bahkan tak bisa berbuat apa-apa selain menampilkan sinar palsu dan berdiam disana."


HEROES

Chapter four

"We are hero and we are human"

Conflict begin!

Warning : Out of character & etc.


"Maaf membuatmu lama menunggu..." Orochimaru masuk kedalam mobil dan mulai menjalankan kendaraan dengan pelan.

Yamato yang sedari tadi menunggu didalam mobil menggeleng pelan, "Tidak, Orochimaru-san.. aku seharusnya berterima kasih karena Anda berbaik hati mengantarkanku pulang..."

"Karena aku ada keperluan pulang, sekalian aku mengantarmu, lagipula aku akan kembali ke markas."

"Anda pulang hanya memastikan keadaan rumah?" tanya Yamato berhati-hati. "Ah ya, berbeda denganku divisi non-lapangan, petugas lapangan seperti Anda memang tak memiliki jam kerja yang jelas."

"Tidak. Aku memberi pelajaran pada anakku."

Yamato sedikit menaikkan alis.

"Berani-beraninya dia pulang jam segini." Ujar Orochimaru tanpa nada yang berarti. "Dasar anak nakal..."

Yamato, pria dengan pelindung kepala dari besi bak Julius Caesar itu tertawa kikuk. "Berapa umur anak Anda?"

"Delapan belas."

"Anda sangat keras rupanya.. wajar jika remaja melakukan hal-hal diluar peraturan.. mereka selalu penuh dengan rasa keingintahuan."

Orochimaru tak berniat menanggapi. Yamato ikut terdiam, kapten divisi satu yang ada disampingnya memang terkenal dingin dan angkuh, tapi Yamato sedikit merubah persepsinya yang selama ini terbentuk dari 'bisik-bisik rekan kerja', Orochimaru bersedia mengantarnya pulang, menunjukkan rumah kapten sombong itu dan menceritakan kenakalan anaknya. Yamato bungkam hingga mobil membawanya sampai ke depan rumahnya. Rumah kecil di sisi kota dengan pagar beton setinggi dada mengitari rumah.

Yamato turun dan berjalan ke sisi pengemudi.

"Izinkan aku berterima kasih dengan secangkir kopi." Yamato membungkukan badan pada Orochimaru yang menurunkan kaca jendela mobil.

"Tidak perlu..." Pupil Orochimaru menajam, dengan cepat merekam seluruh kondisi dan lokasi rumah Yamato, "Aku harus kembali ke markas."

Yamato menegakkan punggung. "Sekali lagi, terima kasih, Orochimaru-san."

"Hn." Orochimaru menatap curiga salah satu ruangan yang jendelanya terbuka dan lampunya hidup. "Kau tinggal sendiri?"

"Benar..." Yamato berujar canggung, "Aku... tidak punya keluarga..."

"Kalau begitu, pastikan sebelum pergi ke kantor untuk menutup jendela dan mematikan semua lampu, anak muda." Orochimaru sedikit memberi wejangan.

Yamato kontan berbalik. Bola matanya melebar dan ia segera meninggalkan Orochimaru. Yamato berlari dan membuka pintu rumahnya.

"Kenopnya rusak!"

Ia makin menganga saat melihat isi rumahnya yang berantakan,Orochimaru turun dari mobil melihat gelagat tak lazim pada Yamato. Ia mengikuti dari belakang. Yamato segera berlari ke kamarnya. Berantakan. Benar-benar berantakan.

Orochimaru berhati-hati memijak lantai. Salah-salah pijak perabotan kecil milik Yamato bisa makin remuk. Ia berdiri di pintu kamar, menatap Yamato yang sedang mengorek-ngorek susunan buku yang berhamburan.

"Ada pencuri masuk!" Yamato memeriksa laci pada mejanya. Tergesa-gesa mencari sesuatu.

"Aku akan menelpon polisi, periksalah apakah ada barangmu yang hilang." Orochimaru meraih ponsel disakunya.

"File itu!"

Orochimaru manatap tajam Yamato.

"File itu hilang!" Yamato mengobrak abrik mejanya yang sedari awal telah berantakan.

"File apa?"

"File yang harus kulindungi, file yang berisi misi rahasia!"

Orochimaru mendekati Yamato, "Kau yakin?"

Yamato puct pasi membayangkan kemurkaan yang akan ia terima dari Kizashi. "Mati aku... aku bisa dibunuh Kizashi-sama."

"Cari lagi!" Orochimaru menaikkan nada.

"Aku sudah memastikan.. barangku yang hilang cuma satu itu.. pencuri itu mengincar file itu..."

Spekulasi liar menari dibenak Orochimaru. "Siapa? Siapa yang menginginkan file yang juga ku incar?!"

.

.

Naruto berusaha memejamkan mata, terbaring lelah di ranjang kecil nan empuk miliknya. Tapi saat matanya terpejam, memori bertahun-tahun silam muncul dalam benaknya. Saat ia yang masih sekolah dasar menanyakan ibunya pada Orochimaru.

Seorang bocah berumur sepuluh tahun dengan langkah gontai memasuki rumah. Wajahnya biru lebam dan bajunya kotor disana-sini. Ia melangkah menuju ruangan ayahnya, sebuah ruangan bawah tanah yang terhubung rahasia dengan dinding salah satu ruangan.

Ruangan gelap nan temaram itu terdengar berisik karena beberapa mesin kecil yang terletak diatas meja sedang menyala. Orochimaru terlihat sedang menakar serbuk putih dan mencampurkannya dengan serbuk putih lainnya. Naruto tahu apa itu, dan itulah pekerjaan ayahnya. Pekerjaan itulah yang menghidupi mereka berdua selama ini.

"Kenapa kau kemari?" tanya ayahnya dingin.

Naruto menatap punggung Orochimaru, "Ibu... apakah aku punya ibu?"

Orochimaru membungkus tepung itu kedalam plastik kecil. Naruto melirik ke arah timbangan digital yang menyala.

"Tentu saja kau punya, kau pikir kau lahir dari batu?"

"Lalu dimana ibuku?" Naruto duduk tak jauh dari ayahnya dengan wajah muram. "Kenapa ayah tak mau menceritakkan setiap kali aku bertanya.."

"Kau belum siap mendengarnya..."

"Aku siap." Ujar Naruto lemah, "Berkelahi dengan mereka yang mengolok-olokku karena tak punya ibu membuatku lelah..."

"Kau akan menyesal saat aku menceritakan yang sebenarnya.." Orochimaru menyeret kursi lalu duduk tepat dihadapan Naruto.

Orochimaru menatap anak kecil bersurai hitam yang terlihat menyedihkan di depannya. Ia masih berpikir dan menimbang, apakah sudah saatnya menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Naruto, karena akan banyak konsekuensi yang harus ia ambil setelah lisannya bertutur.

Tapi ia harus membentuk karakter Naruto sekarang.

"Aku bukan ayahmu."

Lontaran singkat itu membuat Naruto mendongak. Bocah itu menggigit bibir bagian dalam, "Sudah kuduga..." ujarnya ketir.

Iris reptil menatap biru langit yang mulai berkaca-kaca.

"Karena kau tidak seperti ayah ayah mereka."

Orochimaru paham siapa yang dimaksud Naruto.

Ayah dari teman-teman Naruto.

Yang selalu hadir saat pengambilan raport ataupun pertemuan wali murid.

Yang selalu menyediakan waktu sesekali berlibur di tengah padatnya rutinitas.

Sosok sebagai ayah yang hangat dan bersahaja. Yang sama sekali tak Orochimaru miliki.

"Lalu.." Naruto menuntut dengan nada pahit, "Dimana orang tuaku?"

Orochimaru meletakan kedua tanganya di pundak Naruto, "Mati."

Tubuh kecil itu gemetar dengan genangan airmata perlahan turun ke pipi. Hidung bocah itu basah mengeluarkan air kental. Isakannya tertahan, suara tangisannya lari ke dalam dada.

Sangat menyedihkan.

"Sepuluh tahun yang lalu..." Orochimaru mulai bercerita.


Sepuluh tahun yang lalu.

10 Oktober.

Di tengah hutan nan kelam, suara erangan dan rintihan terdengar dari sebuah gubuk. Bangunan kecil dari kayu itu nampak terang benderang dengan obor di sekelilingnya. Di bagian dalam, seorang wanita berambut merah panjang sedang berjuang hidup dan mati melahirkan satu generasi baru.

Seorang wanita paruh baya membantu proses persalinan. Terlihat dua orang wanita muda juga membantu disana. "Ayo Kushina.. sedikit lagi..."

"Berjuanglah Kushina... sedikit lagi..." seorang pria dengan surai kuning cerah berdiri disamping wanita berambut merah. Mengelus rambut halus yang kini lembab karena keringat.

Kushina menjangkau rambut suaminya, "Ini gara-gara kau brengsek! Semua salahmu, Minato!"

Minato meringis kesakitan sambil berusaha melepaskan jambakan istrinya, "Iya.. ini salahku! Kumohon berjuanglah sedikit lagi!"

"Dorong lagi Kushina!" wanita paruh baya yang berdiri diantara dua kaki Kushina yang mengangkan berseru.

"Chiyo-sama! Apakah masih lama? Kenapa Naruto belum keluar juga?! Apa yang dilakukannya didalam sana!" Minato panik, surai pirangnya masih belum lepas dari tarikan-tarikan maut tangan istrinya.

"Tutup mulutmu!" bentak Chiyo. "Tenangkan istrimu sana."

Kushina mengerang menahan sakit sambil menarik kerah baju suaminya. "Aku akan membunuhmu Minato!"

"Bunuh aku! Bunuh aku, sayang! Tapi sekarang kumohon berjuanglah sedikit lagi untuk Naruto!" Minato memelas. "Naruto... keluarlah.. Rambut ayahmu bisa rontok..."

"Sedikit lagi! Kepalanya sudah terlihat!" teriak Chiyo.

Minato mengenggam kedua tangan Kushina, "Sedikit lagi sayang, kepala Naruto sudah terlihat!"

Kushina menepis tangan Minato dan kembali menjambak rambut Minato sekuat tenaga, "Sedikit lagi! Sedikit lagi! Sedikit lagi! Itu saja yang kau bilang dari tadi! Ini gara-gara ulah 'kepala' mu yang satu itu laki-laki brengsek!"

Chiyo mendesah, pasangan didepannya adalah pasangan suami istri tergila yang pernah ia temui, dan sang bayi yang berkutat di dalam perut ibunya ia yakin adalah calon anak nakal, ini sudah waktunya keluar tapi bayi itu masih bersikeras di dalam.

"Aku akan membunuhmu, Minato!" Kushina menjerit sejadinya-jadinya.

"Bunuh aku! Bunuh aku Kushina!" Tubuh Minato ikut bergoyang karena rambutnya dijambak dan kepalanya di goncang.

"Laki-laki brengsek!"

"Aku memang brengsek!" Minato menjerit kesakitan dan pekikannya sama keras dengan Kushina.

"dasar 'kepala' biadab!"

"Tapi kau kan suka Kushina..."

"Diam sialan!" Kushian menjerit makin tinggi.

Dan diujung teriakannya, suara tangis seorang bayi memecah malam. Kushina terengah-engah, begitu pula Minato. Chiyo meraih bayi itu, mengendong dengan wajah berbinar.

Kushina menatap langit-langit kamar, nafasnya terdengar satu-satu dengan kesadaran diambang batas. Safir milik Minato melebar, tubuhnya bergetar.

Itu adalah... buah hatinya.

Buah hatinya dengan Kushina.

Dan tak ada lagi suku kata dari susunan alfabet yang bisa menuliskan kebahagiaan dirinya yang kini telah menjadi seorang ayah.

Minato segera sadar, memengang pundak Kushina. "Bertahanlah Kushina."

Dari kelima ujung jari tangan kanan Minato, keluar titik api berwarna biru. Ia membuka baju Kushina di bagian perut. "Ayo kita lakukan."

"Baiklah... aku akan menghadapinya di dalam." Ujar Kushina pelan sambil menutup mata.

Minato menemplakn jemarinya di perut Kushina lalu memuatr seraha jarum jam. Ia menekan jemarinya dengan wajah cemas.

"Arrrghhhh!" Kushian menjerit kesetanan.

Tiba-tiba simbol pusaran air muncul di perut Kushina namun dengan cepat menghilang lagi. "Sial. 'dia' melawan."

Minato kembali mengulang proses penyegelan dari tahap pertama lalu kembali menekan perut Kushina.

"Arrrghhh!" sekujur tubuh Kushina menegang. Kushina terbelalak dengan bola mata berubah seperti binatang buas.

"Jangan melawan!" bentak Minato pada kushina. "Setengah kekuatanmu ada padaku. Tenanglah... jika tidak Kushina bisa mati jika kau terus berontak."

Setengah wajah Miano terlihat berubah seperti Kushina.

Nafas Kushina seperti tercekat di tenggorkan, lalu ia lunglai dengan keringat bercucuran. Kedua matanya berubah seperti semula, begitu juga setengah wajah Minato juga kembali normal. Minato mendesah lega, lau dengan sekali sentakan, lambang pusaran air di perut Kushina kembali terbentuk.

Minato segera memeluk istrinya. "Sudah selesai... kita berhasil menahannya."

Chiyo dan dua asisten selesai memandikan Naruto dan membungkus orok yang tadi bersikeras di dalam perut Kushina itu dengan selimut hangat.

"Temuilah orangtuamu, Naruto..." ujar Chiyo pada bayi dalam gendongannya dengan wajah senang.

Wajah Minato jauh lebih terang daripada Chiyo, ia membuka kedua tangan hendak menerima Naruto. Airmata dengan tenang mengalir dari matanya. "Naruto... anakku..."

Chiyo melewati dan mengacuhkan Minato.

"Ibunya yang pertama menggendong!" ketus Chiyo.

Minato melongo.

Lalu senyumnya terkembang merekah melihat Kushina menangis bahagia saat menerima Naruto dari Chiyo.

"Anakku..." Kushina mencium kepala yang sangat kecil itu, "Selamat datang."

Minato meraih tubuh istrinya yang masih mengendong Naruto, mengecup kening Kushina yang basah oleh peluh, "Terima kasih, Istriku... menjadikanku lelaki paling bahagia di dunia ini..."

Kushina menagis haru, berulang kali mengecup kepala Naruto yang sedikit di taumbuhi rambut berwarna hitam. "Aku punya dua pahlawan dalam hidupku sekarang..."

Mianto menagis haru.

Air mata seorang lelaki dewasa yang menjadi seorang ayah.

"Kilau hitam rambutmu sama seperti ayahmu dulu..." jemari Kushina berhati-hati membelai rambut Naruto yang tipis dan jarang-jarang. "Tapi nanti saat kau mampu meraih sedikit kekuatan dari 'dia' rambutmu akan kuning seperti ayahmu... seperti matahari yang mampu menghangatkan hatiku..." Kushina mencium rambut Naruto, "Dan hati semua orang.."

.

Naruto tertidur pulas setelah disusui oleh Kushina, sementara itu Chiyo dan dua asistennya hendak pamit undur diri.

"Maafkan aku telah merepotkan kalian sehingga harus kembali ke kota malam-malam begini..." Ujar Minato sungkan, "Aku hendak mengantar tapi..." Ia melirik ke belakang, "Tak mungkin meninggalkan mereka."

"Tidak masalah..." Chiyo tersenyum, "Inilah tugas kami..."

Kushina dari ranjang menunduk hormat begitu pula Minato. "Terima kasih..."

Chiyo dan dua asistennya hendak menunduk sebelum rentetan peluru melubangi tubuh mereka dari belakang. Ketiganya jatuh tanpa nyawa.

Minato membelalakan mata. "Mereka disini!"

.

Lima petugas S.A.C berseragam dan bersenjata lengkap berdiri beberapa meter dari rumah kayu mungil tempat persalinan Kushina. Tiga orang berdiri di barisan depan dengan asap masih terlihat menari di ujung laras senapan mereka. Satu orang merangsek maju lalu mendobrak pintu kayu hingga remuk total.

Dua lainnya menyusul maju dan menondongkan senjata ke berbagai arah. Satu orang dari tiga petugas tersebut membuka helmnya, "Mereka menghilang... bagaimana bisa?"

Satu orang dari mereka yang memiliki tubuh paling besar dan terlihat bongkahan otot-otot dari balik seragamnya bergumam, "Tidak salah lagi, mereka adalah Yellow Flash dan Red Hanabero!"

Sementara di luar rumah, dua petugas S.A.C yang tidak masuk kedalam berdiri santai. Satu di antaranya membawa pedang besar di punggungnya. "Nah.. nah... ayo berburu..."

.

Minato membaringkan Kushina di rerumputan, mereka berdua terlindung cahaya karena berada di balik pohon besar. Minato terbatuk kecil.

"Minato... pundakmu tertembak!" Kushina kaget, suaranya setengah tertahan karena Naruto tertidur pulas dalam gendongannya.

"Tak apa..." Minato tersenyum hangat. "Kau beristirahatlah disini.. aku akan mengurus mereka."

Kushina menggeleng cepat, "Jangan! Kita harus pergi dari hutan ini secepatnya dengan jurus teleport-mu!"

"Saat kita kabur dari rumah itu, aku merasakan guncangan hebat saat teleportasi, chakra-ku melemah... karena menahan pergerakan dari 'dia' setelah proses persalinan tadi... karena itu juga..." Minato menatap pundaknya yang berdarah tertembus peluru, "Regenerasiku juga lambat."

"Lalu bagaimana ini! Chakra-ku juga melemah karena menahan 'dia' saat persalinan tadi! Bagaimana Minato?!" Kushina meraih tangan suaminya dan mengenggam erat jemari itu.

"Tenanglah... satu-satunya cara adalah menghabisi manusia-manusia itu dengan cepat lalu kita pergi dari sini..."

"Tidak... dengan kondisi kita seperti ini takkan bisa melawan mereka, kita tak tahu berapa jumlah mereka!"

Mendengar keributan Minato dan Kushina, Naruto terbangun dan menangis.

"Cup.. cup... jangan menangis Naruto... kumohon..." Kushina tiba-tiba menjadi panik. Suara tangisan Naruto di hutan nan sunyi ini akan menunjukan dengan jelas lokasi mereka.

Minato menatap dalam tubuh mungil Naruto yang kini di ayun sangat pelan oleh Kushina agar berhenti menangis. Sesaat setelahnya, wajah Minato menjadi suram.

"Kushina... sebaiknya kita memindahkan 'dia' saja..." Minato berkata pelan.

"Memindahkan? Apa maksudmu?" Kushina tersentak, ia menatap wajah Minato yang kalut, tapi ia mengikuti arah pandang Minato.

"Apa kau gila?!" Kushina tersadar bahwa Minato menatap Naruto.

"Kita harus... gila..." Minato meraih pundak Kushina. "Memindahkan 'dia' maka akan memusnahkan chakra-nya dari struktur komplek DNA kita, maka hanya ada gen bawaan di DNA kita jika mereka mendapatkan darah kita..."

"Ka-kau... ber-berkata seolah-olah kita akan..." Kushina tak bisa menyembunyikan airmatanya, "Mati."

"Kita sudah tahu dari awal bahwa kita akan mati kapanpun..." Minato berujar getir.

Tangisan Naruto makin menjadi, begitu pula tangisan ibundanya.

"Apa kita tak punya hak untuk hidup! Bumi ini bukan milik manusia saja!" erang Kushina marah.

"Kushina.. dengarkan aku baik-baik... jika kita mati dan 'dia' jatuh ketangan S.A.C dan mereka melakukan penelitian... maka habislah peradaban hero dan manusia... setiap tetes darah kita yang tertumpah sangat berarti bagi mereka..."

"Memindahkan ke Naruto? Kau gila , Minato! Kau gila!"

"Maka.. apakah pilihan yang lainnya?" Minato menyeka airmata istirinya.

Kushina sesegukan, mengelus rambut Naruto, "Tenanglah anakku.. jangan menangis, kami ada disini melindungimu..."

Minato terhenyak, bukan akhir seperti ini yang ia harapkan.

"Setelah kita memindahkan 'dia', kau harus berlari sejauh yang kau bisa hingga Orochimaru-sensei datang..." tegas Minato.

"Orochimaru-sensei?"

"Aku sudah beritahukan kepadanya bahwa kita akan bersembunyi disini untuk menunggu persalinan." Jawab Minato, "Kita semenjak kemarin tidak dirumah, aku yakin Orochimaru-sensei sedang menuju kesini sekarang.."

"Kushina... ini demi keselamatan Naruto..."

.

Lima orang keluar serentak dari balik bayang pepohonan. Mereka berlari menuju satu titik dimana mereka tadi mendengar suara tangis bayi. Kelima pasang kaki itu tiba-tiba terhenti.

"Altar?"

"Kenapa ada altar ditengah hutan begini?"

"Dan mereka berdua..."

Minato dan Kushina terlihat kelelahan di sisi altar. Minato berdiri berusaha tegak.

Salah satu dari lima petugas itu maju selangkah. "Kami akan mengakhiri hidup kalian disini!"

Minato mencibir, "Benarkah? Apa hidup kami milik kalian?"

Kushina membelai lembut Naruto yang kembali tertidur, "Naruto... tunggulah sebentar..." lalu ia berdiri sejajar dengan Minato.

"Ini adalah pertarungan hidup dan mati... karena intesitas chakra di DNA kita benar-benar menurun..." gumam Minato.

"Aku siap!" empat rantai keluar dari punggung Kushina.

Di tangan kanan Minato tercipta bola biru spiral. Kushina memegang lengan Minato lalu mereka menghilang dalam sepersekian detik.

"Kemana mereka?" lima anggota S.A.C terperangah. Petugas dengan pedang besar bersiaga dengan menghunuskan pedang besarnya.

"Disini..." jawab Minato yang tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka. "Rasengan!"

Mereka semua tak sempat berbalik saat Minato menghantamkan rasengan dan Kushina menyerang membabi buta dengan rantainya.


"Saat aku datang..." Ujar Orochimaru, "Mereka telah meninggal."

Naruto kecil meggigil. Airmata tanpa isakan deras mengalir. "Atas dasar apa... mereka membunuh orangtuaku?"

Orochimaru menatap Naruto yang kini makin gemetar di hadapannya."Karena mereka manusia dan kita adalah hero. Kita adalah makhluk buruan bagi mereka, makhluk yang harus diberantas dari peradaban manusia..."

Naruto memeluk tubuh sendiri. Merasakn getar demi getar dari getir kesedihannya.

"Karena kau sudah tahu kisahnya... maka mulai sekarang..." ia meraih pundak Naruto.

"Misi balas dendam, dimulai."

Naruto menyibakkan selimutnya, duduk di tepi ranjang sambil memijit kepalanya. Kisah kematian orangtuanya yang diceritakan oleh Orochimaru bertahun-tahun silam membuat kepalanya berdenyut.

Karena amarah.

Karena dendam.

"Dia..." Naruto bergumam pelan lalu menutup mata sambil berdiri di depan jendela yang kini ia buka.

Bukan bulan yang kini ia tatap.

Bukan pula angin malam yang memeluknya.

Tapi kegelapan.

Ia berada di ruang gelap dengan air dingin menggenang hingga mata kaki. Di hadapannya, terpampang penjara raksasa dengan jeruji besar.

Didalamnya pun hanya ada kegelapan.

Naruto mengepalkan tinju saat sepasang mata berwarna merah darah terlihat dari dalam bayangan kegelapan.

Geraman terdengar dekat, geraman menakutkan dari sosok yang tak terlihat.

.

Sasuke sampai pada tenggakan terakhirnya, alkohol serasa membakar lidahnya. Ia mengerang, ada yang lebih menyakitkan daripada lidah terbakar. Ia membungkus kaleng bir bersamaan puntung-puntung rokoknya ke dalam tas plastik kecil dam membuangnya di tempat sampah kecil di ujung kamar.

Setelah mengunci jendela, Sasuke memutuskan untuk berbaring di ranjang.

"Itachi-niisan..." Sasuke menatap langit-langit kamar, "Jika kau di posisiku saat ini... apa kau rasakan?

Jemari pucatnya menyentuh pipinya yang sedikit membengkak, bekas di tinju Iruka. "Kenapa aku melakukan hal itu di kelas tadi?"

...

Naruto menguap lebar dalam sela langkahnya di koridor. Tidurnya tidak terlalu nyenyak malam tadi, sesekali ia mematah-matahkan lehernya hingga berderak. Sesungging sumringah merekah saat ia mendekati loker tinggi, entah kebetulan atau tidak, lokernya bersebelahan dengan loker Sakura.

"Good morning, Sakura-chan..." sapa Naruto.

Sakura tengah asyik menyusun beberapa buku di dalam loker lalu memalingkan wajah ke sumber suara. Naruto pasang cengiran.

"Morning..." ujar Sakura semangat, "Sasuke-kun."

Naruto cengo.

Sasuke?

Ia merasakan ada seseorang mendekat dan berjalan melewati punggungnya. Orang tersebut kini berdiri di samping Sakura.

"Hn."

Jika ini kebetulan, loker mereka bertiga berjejer dengan posisi loker Sakura sebagai penengah, maka ini adalah kebetulan yang buruk.

"Bazeeeng!" rutuk Naruto.

"Morning, Naruto..." Sakura mengoleskan senyum tipis pada Naruto. 'Aku mendengarkanmu kok..."

Runtuh sudah jengkel Naruto. Satu kalimat dari Sakura langsung menguyur hatinya seperti air es.

"Hehehe..." cengiran lebar Naruto membuat matanya menyipit.

"Mau ke kelas bareng?" tanya Sakura.

"Ok!" jawab Naruto semangat. Namun saat bola matanya terbuka, ia kembali memasang wajah satir.

"Duluan saja..." Tukas Sasuke. Rupanya Sasuke yang di tanya Sakura.

"Oi pingky! Pergilah dari sini. Semakin lama kau disini, darah tinggiku bisa kumat!"

Sakura kembali berbalik ke arah Naruto. "Ada apa denganmu? Mulutmu tak pernah sekolah? Tadi kau terlihat baik tapi sekarang kau menunjukan perangai aslimu!"

"Mulutku hanya sekolah sampai SD, itupun tak lulus. Sekarang pergilah ke kelas, bukannya Sasuke mengusirmu barusan?" cerca Naruto.

"Sasuke tidak mengusirku, dia mempersilahkan aku berjalan di depan, begitulah seorang lelaki sejati, selalu ladies first!" sergah Sakura.

"Hah! Hebat!" Naruto makin sinis, "Seharusnya ladies safe! Begitulah laki-laki sejati!"

"Mulutmu benar-benar nggak pakai saringan..." Sakura tak mau kalah, "Bahkan terhadap seorang wanita muda."

"Wanita? Kau wanita?" tunjuk Naruto mengarah pada dada Sakura. "Kau bahkan lebih sangar daripada laki-laki.. dan catat! Kau bukan wanita muda, aku bahkan ragu kalau kau sudah menstruasi!"

"Baka!"

Naruto mengelus kepalanya yang dihantam Sakura. "Owch! Itu sakit!"

"Sakura..." interupsi Sasuke dari balik punggung Sakura, "Hentikan.." ujarnya sembari menutup pintu loker, "Pergilah duluan ke kelas..."

Sakura mengibaskan rambutnya panjangnya dengan kasar sambil berbalik pergi.

"Woaa... apa kau mau jadi model iklan samphoo?" kelit Naruto menghindari sabetan rambut Sakura.

Setelah Sakura menjauh, Naruto menatap tajam Sasuke yang kini juga sedang menatapnya.

"Katakan apa yang ingin kau katakan, Sasuke..." ujar Naruto serius.

Sasuke maju selangkah, menutup pintu loker Sakura yang tadi di tinggalkan begitu saja oleh si gadis merah muda. "Aku tak suka caramu memperlakukan Sakura..."

Naruto meninggikan satu alisnya.

Perlambang cemooh.

"Aku selalu mendengar kau mengusilinya di dalam kelas karena kalian berdua duduk di belakangku.. hentikan semua itu mulai dari sekarang..." ujar Sasuke dingin.

"Hoho... kau cemburu?"

Sasuke berbalik dan membuang langkah.

"Aku ingin bicara denganmu..." Naruto menatap punggung Sasuke.

Sasuke menghentikan langkah.

"Nanti di jam pelajaran ke tiga temui aku di atap bangunan utama." Sambung Naruto.

Sasuke kembali melanjutkan langkahnya yang di tunda Naruto tanpa memberikan respon. Naruto menatap tajam punggung tegak yang menjauh itu. Namun ia tiba-tiba terkejut dengan satu suara manja di sebelahnya.

"Dia juga berpura-pura..."

Naruto menoleh ke samping, "Kau mengagetkanku , Ino-chan... sejak kapan kau berdiri disitu?"

"Baru saja..." tukas Ino santai.

"Apa maksudmu berpura-pura? Siapa?"

"Seperti kita yang berpura-pura hidup normal dengan manusia, namun nyatanya kita memakai topeng kepalsuan..." ringan silabel Ino meluncur.

Naruto membuang pandang ke arah punggung Sasuke yang kini sudah sangat jauh dan tenggelam bersama bayang sosok siswa-siswa lain yang juga berjalan ataupun sekedar berdiri dan mengobrol di koridor. "Maksudmu dia berpura-pura seperti kita?"

Ino mengendikan bahu, tapi satu sanggahan ia nyatakan pelan. "Bukan dia..."

Alis Naruto bertaut. "Lalu siapa?"

Ino berjalan riang meninggalkan Naruto. Namun satu tangan Ino terlebih dahulu menepuk pelan pintu loker Sakura sebelum meninggalkan pemuda yang kini membelalakan mata.

"Di-dia?!" Naruto mengejar Ino dan berusaha bicara sepelan mungkin agar tak terdengar oleh yang lainnya. "Bukankah kau bilang bahwa Sakura bukan hero?"

Ino tersenyum, "Dia memang bukan hero..."

"Lalu apa maksudmu dia berpura-pura, Ino-chan?"

Ino mengerling nakal. Kerlingan yang mampu membuat seorang pria croot dan harus berurusan dengan sabun dan tisu.

Meninggalkan Naruto yang kini keningnya berlipat. "Apa maksudnya Sakura-chan berpura-pura? Tapi Ino-chan mampu membaca pikiran orang lain... jadi aku yakin dia tak berbohong hanya untuk menjahiliku..." gumamnya.

"Sakura-chan... misteri rupanya juga selimut untukmu..."

...

Jadilah Naruto, selama dua jam pelajaran pertama ini menghabiskan waktu menatap Sakura. Bertopang dagu dengan mata menerawang, mengacuhkan apa yang di terangkan pengajar di depan kelas.

Gadis merah muda itu sudah berkali-kali mengacungkan tinju, namun Naruto hanya membalas dengan ejeken di ujung bibir agar tak menimbulkan gaduh. Ino yang duduk di samping Sakura, hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mereka berdua.

"Apa sih maksudnya berpura-pura? Kenapa dia berpura-pura jika dia bukan hero?" gumam Naruto sambil mengetukkan jari di meja. "Ah sial.. aku nggak ngerti maksud Ino!"

...

"Rupanya kau juga tak suka pelajaran fisika, Sasuke..." Ujar Naruto menatap seseorang yang sudah terlebih dahulu berdiri di atap sekolah.

Sinar pagi masih belum terasa menyakitkan untuk kulit, Sasuke menatap halaman sekolah dari tempat berdirinya. Naruto masih berdiri di belakang punggung Sasuke terpaut jarak beberapa langkah. Setelah jam pelajaran berganti, Sasuke memanfaatkan celah waktu guru berikutnya masuk untuk keluar kelas.

Entah bagaimana cara Naruto keluar, Sasuke pun tak mau tahu.

"Apa yang kau ingin bicarakan?" Sasuke berbalik menatap Naruto.

"Hero jenis apa kau?" tembak Naruto tanpa tendeng aling-aling.

Sasuke menyembunyikan keterkejutannya.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke dingin.

"Kau tahu maksudku." Jawab Naruto tak kalah dingin.

Sasuke melangkahkan kaki, "Kukira kau ingin membicarakan hal penting..."

Naruto membiarkan Sasuke melewatinya. "Tapi itu penting buatku..."

Sasuke acuh tak acuh dan tetap melanjutkan langkah.

"Karena perkataanmu waktu itu... membuatku selalu memikirkanmu..."

Langkah Sasuke terhenti. Naruto berbalik menatap punggung Sasuke.

"Kau juga pasti terus memikirkan hal itu kan?" sambung Naruto.

"Jika kejadian kemarin itu yang ingin kau bahas..." ujar Sasuke, "Akupun tak sadar apa yang kukatakan..."

"Kau mau melucu?" cibir Naruto dengan nada penuh penekanan.

Sasuke berbalik.

Mereka berdua saling melempar pandangan menyelidik. Jika mata mampu membunuh, tatapan mereka berdua kini mampu menebas apapun.

"Pembelaanku terhadap hero bukan berarti menjelaskan aku adalah hero. Itu dua hal yang berbeda jauh." Tegas Sasuke.

"Dunia macam apa yang ingin kau rubah? Kebusukan sudah menggerogoti manusia sejak Adam memiliki putra-putri pertama mereka." tantang Naruto.

"Tahu apa kau tentang kebusukan?!" dua alis Sasuke bertaut. "Dan dunia macam apa yang ingin kau bentuk?"

"Aku setuju bahwa manusia dan hero bisa hidup selaras dengan manusia... itu adalah dunia yang ingin kau bentuk bukan?" Naruto membalas tanya.

Sasuke terdiam. Namun tak sedikitpun ia berkedip mata.

Kedua remaja itu mencoba menekan kedutan di pelipis mereka masing-masing.

"Aku juga tak sadar kenapa aku mengatakan itu..."

"Lalu kenapa kau tiba-tiba berdiri menghalangi tinju dari Iruka-sensei?"

"Sudah kukatakan, bahwa aku tak sadar kenapa aku berlaku seperti itu!"

"Kenapa kau mencoba menampikkan diri bahwa kau hero?! Apa susahnya kau mengaku sebagai hero?!" Naruto membentak.

Sasuke mengepalkan tinju. "Sebuah pengakuan." Aura seram melingkupi garis wajah Sasuke, "Mampu merubah banyak hal."

"Sasuke..." Naruto melunakkan suaranya, berusaha membuat suasana menjadi ringan. "Satu temanku pernah bilang, bahwa hero merupakan bagian dari manusia, hanya saja hero di beri mukjizat dari Tuhan dengan menyisipkan chakra pada DNA hero."

Sasuke diam menyimak.

"Tentu saja aku menentang pemikiran itu..." Naruto terkekeh di buat-buat, "Homo Neanderthalensis dan homo sapiens berbeda. Bagaimanapun kita menyangkal, itulah kenyataannya, tapi..."

Naruto sengaja menggantung kalimatnya.

"Bukan berarti hero dan manusia tak bisa hidup dalam satu sisi yang sama, aku sangat setuju dengan pemikiranmu."

"Manusia tak bisa menerima hero..." ujar Sasuke terpancing pembicaraan Naruto.

"Yaah... aku juga tak tahu bagaimana caranya agar hero dan manusia bisa saling menerima... tapi aku yakin... kita bisa hidup selaras..."

Safir biru langit dan obsidian kelam masih berseteru dalam kilatan-kilatan.

"Inti pembicaraanku adalah..." tukas Naruto, "Ayo kita cari cara agar dunia ideal itu terbentuk."

"Bwuahahaha..." Sasuke tertawa keras memegang perutnya. "Membentuk dunia ideal? Jangan konyol.. aku tak perduli pada ideologimu.. sudah kukatakan akupun tak mengerti kenapa aku menjadi tamengmu saat itu... lupakan saja semua perkataanku..."

"Itu karena kau belum bisa menerima dirimu..."

Sasuke tertohok.

"Dirimu yang sebenarnya.. adalah saat kau mengatakan bahwa dunia busuk ini akan kau rubah. Kini kau kembali menjadi Sasuke yang labil.. kau tak bisa menerima kenyataan bahwa dirimu adalah hero!"

Sasuke terbelalak. "Darimana dia tahu?!"

Sasuke kembali memasang wajah sinis. "Kenapa kau begitu yakin aku hero?"

"Terbuktikan..."

"A-apanya yang terbukti?" Sasuke kembali terkejut.

"Kau masih menyangkal dirimu sendiri." Sasuke tersenyum mencibir. "Terimalah dirimu sendiri, Sasuke..."

"Pembicaraan ini berputar-putar dan sama sekali tak penting, Naruto..."

Lalu keduanya hening.

Sasuke memejamkan mata dan menghela nafas berat. Begitu pula dengan Naruto.

"Berputar-putra ya...?" lirih Naruto, "Aku memang bukan pembicara yang baik..." namun ia tiba-tiba berbalik menatap halaman sekolah.

"Palang Merah?" tanyanya pada diri sendiri menatap beberapa mobil ambulan dari Palang Merah dan Rumah Sakit memasuki pelataran sekolahnya.

"Hari ini ada gerakan donor darah sepertinya..." Ujar Sasuke yang tiba-tiba berdiri disamping Naruto.

Naruto terbelalak.

"Ini gawat!"

.

Gaara sedang berjalan seorang diri di trotoar. Kedua tangannya tersimpan di saku. Beberapa orang yang berpapasan dengannya terkikik geli menahan tawa. Bukan karena gaya Gaara, pelajar yang sedang bolos sekolah terlihat berandalan dengan kancing atas seragam terbuka dan vest tersampir di bahu.

Tapi karena sepatunya.

Menganga seperti buaya.

Mau apalagi, ia tak punya sepatu lain. meminta uang pada Temari untuk beli sepatu baru hanya akan menambah beban finansial kakaknya. Ia berencana menjahit malam tadi, namun Kankuro sudah terlebih dahulu menghajarnya.

Gaara meraba pergelangannya. Ia mengira malam tadi seluruh tulangnya akan patah. Namun Kankuro tak pernah melayangkan pemukul kasti ke tubuhnya. Kankuro hanya meninju dan menendangnya seperti biasa.

Maka dari itu, pagi tadi ia mau tak mau harus berangkat sekolah agar Temari tidak marah padanya, kini daripada jadi bahan tertawaan, setelah puas jalan-jalan, ia bergegas menuju rumah karena Temari pasti sudah berangkat kuliah.

Namun ia terheran-heran dengan beberapa ambulan yang melintasi di jalan. Ia memutar kepala mengikuti arah laju ambulan dan mobil Rumah Sakit yang berjejer menuju satu lokasi.

"Kenapa mereka menuju ke sekolahku?"

...

Naruto menuruni tangga dengan cepat sambil menghubungi ayahnya. Saat ayahnya mengangkat telepon, ia langsung memburu ayahnya dengan pertanyaan.

"Ada Palang Merah di sekolah, kenapa ayah tidak bilang?"

"Palang Merah?"

"Ayah tidak tahu?"

Tak ada jawaban dari Orochimaru. Naruto telah sampai di koridor penghubung kelas.

"Itu pasti taktik dari divisi lain untuk mendapatkan DNA. Sepertinya mereka akan memeriksa satu persatu sisiwa di sekolah dengan kedok donor darah dan bekerja sama dengan Palang Merah."

"Lalu kenapa hanya di sekolahku?"

"Aku sangat yakin bahwa mereka bergerak disemua sekolah sekarang."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Kenapa kau bertanya? Sudah jelas, sembunyi."

"Bukan itu maksudku..." Naruto berjalan cepat di koridor sepi, semua siswa telah berkumpul di halaman sekolah rupanya. "Di sekolahku, ada empat hero yang kuketahui, pengendali pikiran, pengendali bayangan, transformasi dan satu lagi yang belum ku ketahui jenisnya... jika S.A.C mendapatkan darah mereka.. dipastikan hal buruk akan terjadi. Itu belum termasuk jika ada hero lain di sekolahku ataupun di sekolah lain."

"Tunggu informasi dariku baru kau melakukan pergerakan."

"Baik ayah."

"Naruto?" suara feminim mengejutkannya.

Naruto berhenti tiba-tiba. Ia tak sadar, rupanya ia sedang berada di depan kelasnya sendiri, "Sakura-chan?"

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura menatap tangan Naruto yang memegang ponsel masih menempel di telinga. "Kenapa kau tidak masuk kelas fisika tadi?"

Naruto segera mematikan telpon dan memasukannnya ke dalam saku.

"Aku.. aku..." Naruto memutar otak mencari alasan. "Ah! aku meminta ayahku menjemputku..."

Sakura menaikkan alis.

"Aku merasa kurang enak badan.. aku meminta ayahku menjemputku agar aku bisa beristirahat dirumah..." kelit Naruto sambil memijit keningnya. Ia melirik ke samping, kedalam kelas.

Ada Ino yang asyik membaca majalah, Chouji yang sedang makan keripik kentang dan Shikamaru yang tidur.

"Mereka sudah tahu..."

"Kalau begitu beristirahtlah di UKS."

Naruto kembali menoleh ke Sakura, ia tiba-tiba oleng dan Sakura buru-buru menahan tubuh Naruto.

"Aku pusing sekali...' ujar Naruto pelan.

"Aku akan membantumu..." Sakura memapah Naruto, "Kau berat sekali Naruto." Keluhnya.

...

Naruto terbaring di salah satu ranjang UKS. Sakura mengambil termometer yang terselip di mulut Naruto dan melihat angka dengan satuan celsius disana.

"Badanmu tidak panas..."

"Aku hanya merasa pusing..." jawab Naruto.

"Apa kau sarapan tadi pagi?"

Naruto menggeleng.

Sakura memutar bola mata, "Karena itu kau pusing..."

Sakura berbalik pergi namun Naruto menahan pergelangan tangan gadis merah muda. "Kau mau kemana?"

Sakura menatap tangannya yang di tahan Naruto.

"Oh.. maaf... hehe..." Naruto melepaskan tangan Sakura sambil nyengir.

"Aku mau kebawah... aku mau cek apakah aku memenuhi syarat donor?"

"Temani aku.." ujar Naruto takut-takut.

"Kenapa?" tanya Sakura tak mengerti.

"Karena aku ingin bersamamu."

Mereka berdua terdiam.

"Maksudmu?" Sakura bertanya pelan sekali.

"Apa aku pernah bilang kalau kau sangat cantik, Sakura-chan?" tanya Naruto.

"Cih! Apa kau sedang merayuku?" Sakura duduk di pinggir ranjang.

"Aku serius."

Sakura membuang muka.

Naruto bersandar di ranjang sembari terus menatap garis merah muda.

"Ohya.. kenapa Ino, Chouji, dan Shikamaru tidak ikut donor darah?" Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Ino? darahnya terlalu berharga untuk dibagi setelah ia melewati semua proses diet ketat dan pola hidup sehatnya, Chouji.. hmm..sepertinya obesitas dilarang donor mungkin.. mungkin, kalau Shikamaru.. kau tahu kalau dia memang pemalas." Jawab Sakura.

"Ohh... kalau begitu disini saja sampai kegiatan donor selesai..."

"Kenapa aku harus?"

"Sudah kubilang kan aku ingin bersamamu..."

Sakura kembali terdiam.

"Dasar baka..." ujarnya setelah hening membungkam beberapa saat.

Naruto tertawa kecil. "Terima kasih..."

...

Tidak ada Sakura yang bertampang pemuja Sasuke dihadapanya. Sakura dengan mata berbinar menatap si pemuda raven. Naruto menelaah tiap garis wajah Sakura, bahwa hanya ada keteduhan dari gadis merah muda.

Apa yang disembunyikan Sakura, pikir Naruto.

"Sakura-chan..." panggil Naruto.

"Hm?" Sakura menoleh pada si jabrik.

"Manusia... apakah kita semua hidup dalam kepura-puraan?" tanya Naruto sembari menjaga ketenangan intonasinya.

Sakura menatap lantai UKS, terlihat menimang silabel yang akan di utarakan. Ia tak tahu mengapa Naruto bertanya akan hal itu, tapi Sakura tak memikirkan itu, itu adalah pertanyaan yang mungkin selama ini menggelantung di benaknya.

"Ya..." jawab Sakura, berdiri beranjak menuju jendela, ia menatap bahwa di halaman kegiatan donor darah telah usai.

"Kenapa?"

Sakura menoleh sedikit ke belakang, dimana Naruto masih menunggu jelas jawaban darinya. "Karena kita makhluk tak berdaya... kita adalah makhluk lemah."

"Kita butuh topeng agar terlihat kuat di mata orang lain, menunjukan kesedihan kita... menunjukan luka kita.. apakah ada orang lain yang peduli akan hal itu?" lanjut Sakura pelan dengan mata menerawang.

Naruto terlihat berpikir, "Ah begitu rupanya..."

"Aku mengerti apa maksud Ino sekarang..."

"Bolehkah aku bertanya," Sambung Naruto, "Tentang hal pribadimu?"

"Silahkan..." Sakura tak melepas pandangnya dari lapangan sekolah yang kini berangsur sepi.

"Hubungan seperti apa yang pernah kau jalin dengan Sasuke?"

"Naruto, aku lupa mengatakan padamu kalau hari ini kita pulang cepat lagi, setelah donor darah selesai jam pelajaran dibebaskan..."

Naruto tersenyum tipis mendengar Sakura yang mencoba mengelak.

Dering ponselnya membuat Naruto menarik benda itu dari saku dan menjawab si pemanggil.

"Kau dimana?"

"Masih disekolah..."

"Kantong darah dari semua sekolah akan di kumpulkan di tiga ambulan, mereka akan dikawal oleh S.A.C saat mereka mulai menjauh dari lingkungan sekolah, jika kau inginkan menghentikan mereka, maka hentikan sebelum mereka mencapai markas S.A.C"

"Baik ayah, aku mengerti."

"Ada apa, Naruto?" tanya Sakura penasaran.

Naruto kembali memasukan ponsel ke dalam Saku, "Ayahku sepertinya sedang sibuk dan tak bisa menjemput, aku pulang sendiri jadinya..."

"Kau yakin? Kau sudah agak enakan?"

Naruto mengangguk. "Sepertinya aku cuma kurang tidur..."

Naruto turun dari ranjang dan memakai sepatunya, "Kau mau kuantar pulang?"

Sakura berbalik dan menggeleng, "Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri."

"Kalau begitu ayo kita turun sama-sama..." tawar Naruto.

"Aku masih ingin disini..."

Naruto menaikkan alis, tak mengerti maksud Sakura.

"Tak ada yang menungguku dirumah, Naruto." Sakura menunduk.

Naruto paham, ia ingat cerita Ino perihal kematian ibunda Sakura.

"Baiklah... jangan terlalu lama disini... kau tahu kan kalau disekolah banyak hantu..." goda Naruto sambil berlalu pergi.

"Setidaknya saat bersamaku..." Naruto memutar kenop pintu dan selangkah keluar, "Kau tak perlu merasa terbebani dengan topengmu itukan, Sakura-chan?"

Sakura tersenyum menatap punggung Naruto yang kini menghilang dibalik pintu. "Thank you, Naruto..."

Naruto berjalan pelan di koridor dengan kedua tangan di dalam Saku celana, lengkungan kecil tercetak di bibirnya, tersenyum seraya berbisik, "You're wellcome, Sakura-chan..."

...

Naruto kini berlari diatas gedung-gedung bertingkat, melompati jarak yang jauh antara satu bangunan dengan banguanan lainnya bukan kendala baginya. Dengan topeng rubah yang sudah terpasang serta jaket lengan panjang, Naruto mengikuti mobil yang ada di bawahnya.

"Tiga ambulan, di jaga mobil barakuda S.A.C di depan dan dibelakang."

Naruto berhenti melompat dan berdiri di atas plang sebuah perusahaan. "Mereka?"

Tiga hero terlihat berlari mengejar iringan mobil tersebut. Satu hero yang terlihat memiliki tubuh paling tambun membesarkan satu tangannya dan menahan mobil barakuda yang terakhir. Dengan sekali tarikan, hero tersebut melempar mobil anti peluru itu dan melemparkannya ke salah satu gedung.

"Siapa itu? Apakah itu Hulk?" Naruto berlari menuruni dinding-dinding kaca.

.

Kekacauan langsung terjadi di jalanan. Orang-orang di sekitar berlarian menyelamatkan diri. Kini jalanan hanya di isi oleh petugas S.A.C dan ketiga hero tersebut.

Iringan mobil itu terhenti. Dari dua mobil ambulan, turun empat anggota S.A.C bersenjata laras panjang dan siap menembak. Namun entah kenapa mereka secara serempak membuang senjata mereka masing-masing.

Salah satu dari mereka menunduk, matanya melebar melihat bayanganya memanjang dan menyatu ke salah satu hero dengan topeng rusa. Lengkap dengan aksesoris tanduk cabang tujuh di kepalanya.

Hero bertubuh tambun berlari ke arah mereka dan menghantamkan tinjuan hingga empat petugas S.A.C tersebut terlempar puluhan meter.

"Ambulan itu di kemudikan oleh S.A.C... Chou, bentuk formasi."

Chou, hero bertubuh gempal dengan topeng putih tapi memilik corak spiral seperti obat nyamuk di kedua pipinya, kepalanya juga memakai mahkota dari bulu-bulu unggas khas orang Indian. Tubuh bagian depan memakai sesuatu dari besi seperti rompi namun lebih mirip baju perang, begitu juga dengan kedua lengan dan betisnya memakai pelindung dari plat besi.

Shika, si pengendali bayangan, memakai topeng bercorak rusa lengkap dengan tanduk di kepala dan mengenakan jaket kebesaran dengan warna coklat.

Mereka berdua berdiri sejajar seolah melindungi satu hero perempuan di belakang mereka.

Ino, hero berambut pirang berkuncir tengah, mengenakan baju ungu yang hanya menutupi bagian atas tubuhya, memamerkan pinggang yang kecil dan pusar yang di tindik dengan berlian berwarna ungu. Mengenakan rok pendek ketat setinggi limabelas centi di atas lutut serta highheels setinggi sepuluh centi. Topeng yang ia kenakan hanya menutupi bagian mata, seperti topeng yang biasa di kenakan saat pesta-pesta tertentu. Ia meletakan jari telunjuk dan tengah yang dirpatkan tepat disamping kepala.

"Shika, empat orang bersembunyi di balik ambulan terdepan." Ujar Ino seolah mampu melihat menembus batas.

"Chou, hancurkan kedua ambulan di depan kita."

Chou melemparkan sesuatu berbentuk pipih seperti piring ke kolong mobil. Benda tersebut tiba-tiba menempel pada bagian bawah mobil dengan magnet yang sudah di tanam di benda tersebut, hanya dua detik sela waktu, hingga mobil di depannya meledak hebat.

Membakar habis semua kantong darah didalamnya.

Bayangan dari shika memanjang dan melewati kolong mobil yang tersisa, lalu empat orang tersebut keluar dari balik mobil.

"Ino!"

Ino mengendalikan satu orang dari empat petugas S.A.C dan membuat orang tersebut menembak rekan-rekannya lalu menembak dirinya sendiri.

Chouji melemparkan bom berbentuk piring ke ambulan kedua yang juga lansung meledak setelahnya.

Dari bagian belakang mobil barakuda yang kini terbuka turun beberapa petugas S.A.C bersenjata lengkap, satu di antaranya masuk ke satu-satunya ambulan yang tersisa dan tancap gas dari sana.

"Ino, berapa jumlah mereka?"

"Enam." Jawab Ino di belakang.

"Chouji, maju menyerang!" ujar Shika lalu ia memajangkan bayangannya lagi, mengunci pergerakan lima petugas S.A.C. dua diantara mereka menggunakan tameng dan mematahkan serangan bayangan Shikamaru, kedua melompat ke atas atap mobil.

"Sial!"

Chouji maju sambil berlari dan tubuhnya membesar seketika. Baju besi yang dikenakannya membuat ia tak terluka di terjang peluru.

"Wow... kombinasi serangan yang menarik, Ino-chan." Ujar Seseorang di belakang Ino.

Shikamaru menoleh sesaat lalu kembali fokus kedepan agar bayangannya tak terputus. "Killer Hunter?"

"Darimana kau bisa menebak ini aku, Naruto?"

"Naruto?!" Shikamaru makin terkejut, "Aku sudah menduga bahwa dia hero, tapi aku tak menyangka dia adalah killer hunter, pembunuh Mizuki-sensei!"

"Aku bisa mengenalimu dari bentuk bokong seksimu, Ino-chan..." kekeh Naruto dari balik topengnya.

Mereka berempat mendongak, menatap kedatangan helikopter stasiun TV. Dari satu sisi helikopter, salah seorang juru kamera mengeluarkan setengah badan dan menyorot mereka.

"Shika!" teriak Chouji dari depan.

Dua petugas S.A.C yang sedari awal terbebas dari ikatan bayangan Shikamaru berdiri di atap mobil barakuda dan menembaki Chouji. Setelah melumpuhkan tiga lawannya, Chouji melompat mundur dan menghindari serangan peluru yang bertubi-tubi.

Dua rantai muncul dari punggung naruto dan melesat cepat kedepan. Ujung rantai yang berbentuk sepeti pisau menghujam kedua tubuh petugas. Naruto menarik kedua rantainya dan kedua petugas itu ambruk ke aspal.

"Satu ambulan lolos, ayo kita kejar mereka!" Perintah Shikamaru.

Namun dari bagian depan mobil barakuda, turun dua petugas S.A.C dari masing-masing sisi mobil. Gaya mereka tenang tanpa senjata di tangan. Langkah mereka pasti tak menunjukkan gentar. Empat pasang mata hero menatap kedua petugas tersebut.

"Apa-apaan itu.." celetuk Naruto, "Duo serigala? Bukan! Duo sadako!"

Dua petugas S.A.C tersebut berdiri tenang di hadapan mereka berempat, rambut panjang mereka tergerai bebas, tidak ada pupil di sepasang mata mereka. satunya lelaki berwajah stoic dengan pelindung kepala berlambang Nazi, satunya gadis bertampang lugu dan polos.

"Killer Hunter, bisakah kau tangani mereka? kami akan mengejar ambulan yang kabur tadi, kita harus menjaga semua kemungkinan bahwa di dalam kantung-kantung darah tersebut ada darah hero lainnya yang tidak kita ketahui." Tanya Shikamaru.

"Ah.. kenapa kau yang memberi perintah disini... aku jadi tak terlihat keren..." keluh Naruto.

"Kuanggap kau setuju." Ringkas Shikamaru lalu Trio hero tersebut segera melesat meninggalkan Naruto.

"Takkan kubiarkan!" satu petugas S.A.C tersebut berhasil menghadang Chouji.

Chouji berkelit dan memberikan satu tendangan berputar, namun petugas S.A.C itu lebih dulu menendang Chouji hingga hero tambun itu terseret di aspal belasan meter.

"Itu bukan tendangan biasa..." Chouji berdiri sambil menepuk bajunya yang kotor berdebu.

"Chouji!" teriak Ino.

"Tinggalkan aku... bencong ini membuatku marah..."

"Celaka... tak ada yang bisa menahan kemarahan Chouji." Desah Ino lalu menyusul Shikamaru yang terlebih dahulu berlari.

"Arrrghhh!" Chouji berteriak marah. Tubuhnya membesar setinggi tiga meter.

"Kau kira kau saja yang bisa transformasi?" petugas itu tiba-tiba berubah jadi batu dan membesar seukuran Chouji.

Dua monster itu beradu tinju.

.

Kankuro yang sama sekali tak berminat dengan kegiatan donor darah di sekolahnya memilih pulang terlebih dahulu. Ia asyik tidur-tiduran disofa sambil menootnon TV. Ia membenarkan posisi duduknya saat breaking news menginterupsi kegiatan leha-lehanya.

Ia menatap dengan mata lebar judul besar pada berita dadakan itu.

S.A.C vs hero.

Kankuro bergegas berlari kegudang belakang. Ia masuk ke dalam mobil besar pengangkut kontainer milik ayahnya dulu. "Khu khu khu... tak percuma aku memanaskan mesinya setiap hari."

Kankuro turun membiarkan mesin mobilnya panas. Ia menatap tajam beberapa sosok makhluk mati yang berdiri di beberapa sisi gudang.

"Saatnya menguji coba kalian."

.

"Neji-niisan..." petugas perempuan yang ada dihadapan Naruto menatap pertarungan dua monster raksasa tersebut.

"Oi?! Kau mengacuhkanku?" teriak Naruto.

"Go-gomen..." ia tersadar bahwa masih ada satu hero yang tersisa.

Naruto berjalan mendekat padanya hingga mereka hanya berjarak dua langkah. "Apa kau benar petugas S.A.C?" Naruto seolah tak percaya dengan tampilan gadis didepannya.

"A-ano... aku seorang investigator." Jawab petugas tersebut sambil memainkan jari telunjuknya.

"Akkh... aku tak percaya..." Naruto menatap tagname pada baju tempur S.A.C gadis didepannya.

"Hyuuga Hinata?"

"Ha'i! Namamu siapa?" Hinata sedikit membungkuk.

"Naruto..." jawab Naruto enteng.

"A-ano Naruto-kun... a-aku harus menangkapmu..." Hinata menunduk malu sambil terus memainkan jari telunjuknya.

"Menangkapku? Ciyus? Miapah?" cecar Naruto.

"Ah?" Hinata mendongak.

Naruto tiba-tiba membuka topengnya. "Yang benar saja!" Naruto geleng-geleng kepala.

Suara hantaman demi hantaman menjadi background percakapan mereka. Naruto melongok sedikit kebelakang, Chouji sedang membanting Neji hingga aspal berlubang dan membentuk kawah.

"Tunggulah disini, aku mau membantu temanku..." Tukas Naruto.

"Tu-tunggu, Naruto-kun!" interupsi hinata.

"Ada apa?" Naruto menaikkan alis.

"Aku harus menangkapmu dan membawamu ke laboratorium untuk di teliti." Jawab hinata.

"Diteliti?" Naruto memiringkan kepala. "Kau kira aku beras plastik harus diteliti di laboratorium..." cemooh Naruto.

"Aku akan memaksamu kalau kau melawan." Hinata memasang wajah tegas.

"Haah... lucu sekali..." desah Naruto.

Braakk!

Naruto secara mendadak menendang perut Hinata hingga petugas wanita S.A.C tersebut terlempar dan terhenti saat punggungnya membentur bagian belakang mobil barakuda.

Hinata tertatih berdiri.

"Aku lupa bilang padamu... bahwa aku benci manusia berjenis moe!"

Dua rantai Naruto menari-nari dibelakang tubuhnya.

"Huh." Hinata memasang wajah sisni, "Apa kau lupa, Naruto-kun? Aku sudah bilang tadi bahwa aku adalah seorang investigator."

Tubuh Hinata berubah menjadi berlian.

Dari ujung kuku hingga ujung kaki.

Naruto bahkan bisa melihat tembus pandang dari tubuh Hinata.

Sinar matahari membuat tubuh Hinata berkilau indah.

"Jadi mereka menggunakkan kekuatan hero jenis transformasi... kakaknya, Neji, berubah menjadi batu dan dia berubah menjadi berlian."

"Ku ulangi lagi... aku benci moe!"

Dua rantai Naruto menerjang Hinata.

.

Orochimaru, Anko dan beberapa petugas divisi satu menonton televisi saluran berita. Dimana ditayangkan secara live pertarungan antara S.A.C dan hero.

"Apa-apaan ini?" Anko terbelalak menatap layar kaca. "Setelah belasan tahun mereka tak berani menyerang di depan publik... sekarang mereka menyerang secara terang-terangan?"

Orochimaru memkai headset miliknya lalu menghubungi komandannya. "Komandan Kizashi, beri kami perintah."

"Bergabung dengan divisi lain lima dan tujuh. Divisi empat akan menyusul."

"Semuanya, ayo bergerak!" perintah Orochimaru."

.

Zabuza melaju cepat di atas motor ducaty miliknya. Lilitan perban pada pedang besar di punggungnya melambai-lambai. Meliuk-liukan kendaraan balap itu di antara kerumunan mobil, mencari celah agar lebih dahulu mencapai tempat yang di tampilkan oleh berita tadi.

Tujuannya?

Menghabisi S.A.C dan hero.

.

Sasuke melaju di atas gedung sambil melompati gedung-gedung lainnya menuju posisi Naruto.

"Aku sudah sering berlatih diam-diam... sekarang saatnya aku mencoba kekuatan ini langsung..." matanya menajam ke arah bawah menatap hero yang terlihat berseteru dengan sesosok yang terbuat dari berlian atau kaca. Tak jauh dari sana dua monster juga sedang terlibat adu banting.

Sasuke melompati gedung dengan sekali sentakan tenaga di ujung kaki. Kini ia mendongak dan melihat satu helikopter terbang di ketinggian dan merekam semua kejadian di bawah. Sasuke menumpukan tenaga pada kaki kanan, melompat tinggi dan masuk ke dalam helikopter.

"Ka-kau?" juru kamera yang ada di dalam terkejut akan kedatangan mendadak Sasuke.

Sasuke meraih paksa kamera tersebut dan melemparkannya ke bawah.

Dari tangan kanannya kilatan petir mencicit tajam, membuat setiap nyawa menjadi ciut.

.

Ambulan yang membawa persedian kantung darah kini melaju cepat di keramaian, petugas S.A.C yang mengendarainya segera menghubungi markas.

"Markas! Mayday! Mayday! Aku berhasil lolos dengan membawa satu ambulan. Meminta bantuan secepatnya."

Petugas S.A.C itu menginjak pedal gas makin dalam, namun entah mengapa mobilnya tak melaju. Ia yakin mendengar raungan mesin tapi mobilnya sama sekali tak bergerak. Ia menoleh ke kaca samping, matanya melebar. Mobilnya terangkat sekian centi dari aspal.

Sesosok hero berambut merah dengan topeng racoon dan gucci besar di punggung berdiri tepat di tengah jalan. Dari gucci di punggungnya keluar pasir yang tak terhitung jumlahnya. Mengangkat mobil ambulan yang ada di hadapannya.

Pasir itu makin lama makin menutupi mobil hingga menjadi seperti telor. Telor pasir itu mengambang di udara dan makin memadat dengan cepat. Hero itu menjulurkan tangannya yang terkepal, lalu membuka telapak tangannya seketika.

Dan telor pasir raksasa berisi mobil itu meledak.

.

Hinata tak terlihat mengelak saat kedua rantai Naruto menyerangnya. Pisau pada ujung rantai tersebut bahkan tak sedikitpun meninggalkan bekas di tubuh berlian Hinata. Naruto dengan cepat menarik rantainya kembali.

"Kau tak tahu ya, Naruto-kun? Berlian adalah materi terkeras di muka bumi." Cemooh Hinata.

"Benarkah?" Naruto terlihat santai dengan pertarungan ini, sementara di belakang Hinata, Neeji, si manusia batu, memberikan mengunci satu tangan Chouji di belakang punggungnya sendiri. Chouji memberikan hantaman sikut berkali-kali ke arah belakang tepat disisi kepala Neji. Dengan satu bantingan khas Juudo, Neeji terputar kedepan dan punggungnya membentur tanah.

"Kemana muka polosnya tadi?" batin Naruto. "Kau tahu Hinata..." Naruto membuka telapak tangan kanannya, rasengan berpuat cepat bak gasing dan siap dihantamkan pada media apapun. Naruto berlari ke arah Hinata.

Hinata sendiri pasang kuda-kuda bertarung.

"Sekeras-kerasnya berlian..." Wajah Naruto berubah sangar, "Tidak bisa menghamili orang!"

Braak!

Naruto bahkan tak sampai ke tempat Hinata saat kepalanya ketiban kamera. Rasengan ditangannya menghilang karena kehilangan fokus. Naruto terjerembab dengan amarah memuncak.

"Jancuk! Siapa yang melempar..." Naruto mendongak. Matanya melebar menatap helikopter yang mendarat ke arahnya.

Bukan.

Bukan mendarat.

Helikopter itu terjun bebas.

Hinata melompat mundur menjauhi posisi Naruto.

Sementara si jabrik menganga melihat burung besi itu menuju titik berdirinya.

"Dafuq." Umpatnya sambil melompat belasan meter kebelakang.

Blaarrrmmm!

Naruto menatap ledakan besar di depannya. Ia menileh kesamping, Sasuke tanpa suara sudah berdiri disampingnya. "Oi, kau yang melempar kamera ke kepalaku?"

"Hn."

"Oi teme! Kau bahkan melempar helikopter padaku! Setidaknya ucapkan maaf!" Naruto mencak-mencak.

"Aku sengaja." Jawab Sasuke tenang.

Naruto menoleh ke kanan dan kekiri, ia mengambil tasnya yang tergeletak di sisi trotoar, ia meraih sesuatu didalam tasnya lalu menyerahkannya pada Sasuke. "Pakai ini."

Sasuke mengambil masker dari tangan Naruto dan mengenakkannya.

"Itu kupakai cadangan jika topengku rusak, lain kali pesanlah topeng." Saran Naruto.

"Hn."

Naruto kini mengambil ponsel disakunya setelah berdering sekali. Ia membaca pesan singkat dari ayahnya, "Puluhan anggota S.A.C bergerak ke tempatmu."

Hinata menginjak pecahan pecahan ledakan helikopter. Naruto dan Sasuke menatap kedatangan Hinata. "Bala bantuan?"

"Sasuke..." tanya Naruto pelan, "Kau suka cewek moe?"

Sasuke menggeleng. "Tidak sedikitpun. Aku hanya suka pada diriku sendiri."

Naruto kembali memakai topeng rubanhya. "Baiklah..." Aura seram menguar dari tubuh Naruto, "Saatnya serius."

Pertarungan yang sebenarnya dimulai!

To be continue