Ben 10 x Boboiboy Crossover
Rated: K+
Genre: Fantasy
Language: Main: Indonesia, plus a bit English
Warning: Alur mungkin kecepetan, action ga kerasa, adegan ngobrolnya banyak, ada Keselip Sho-Ai mungkin? tapi yg bisa "mendeteksi" kayaknya cuma Fujodanshi sih.
Ini fanfic yg "tercipta" karena aku bayangin gimana kalo Boboiboy dan Ben bertemu. Jadi memang banyak adegan ngobrolnya (dan lagi aku kurang bisa menjabarkan adegan pertarungan)
A/N: Hola! Maaf baru apdet!
Oke, di chapter 2, aku bilang kalo aku udah hampir menyelesaikan chapter 3. Emang bener kok, cuma...
Aku menghadapi ujian!
[ALERT: brain overload. Cannot find any idea]
Yah, kira-kira gitulah. Writer's Block or whatever its called ._.
(Aaaand giliran udh selesai, aku kelupaan publish mulu =w=)
Oh iya, ngomong2, did I mention that Fang wears glasses? Kayaknya nggak ya? Aku bilangnya anak rambut raven mulu ya?
Maaf, nih di chapter ini kacamatanya disebut ._.
Now, Here we go~
.
.
.
.
.
Tz19
.
.
.
"Kejadiannya 5 tahun lalu. Ketika itu ... "
.
.
.
Chapter 3
.
The Past and The Superpowers
.
.
.
.
.
"Ketika itu ... " Ben menarik napasnya, bersiap menceritakan kisah panjang.
"Aku sedang berkemah dengan kakek dan sepupuku. Lalu aku berjalan-jalan di hutan tempat kami berkemah. Aku mendongak ke atas, dan saat itu aku melihat sebuah bintang jatuh. Namun, tiba-tiba, bintang jatuh itu berubah arah, menjadi jatuh ke arahku! Aku yang untungnya selamat, mendatangi lubang dimana bintang —meteor, apalah— itu jatuh. Ternyata itu bukan bintang, meteor, atau apapun itu, melainkan sebuah bola logam. Saat aku memperhatikannya, aku terperosok ke dalam lubang. Bola itu terbuka, dan nampaklah sebuah jam aneh di dalamnya.
"Aku penasaran, kudekatkanlah tangan kiriku ke arah bola —kapsul— logam itu. Tiba-tiba, jam itu melompat sendiri ke tanganku! Aku berusaha melepasnya namun jam itu melekat pada tanganku!
"Yah, pada akhirnya, aku berhasil mempelajari cara pemakaiannya. Tapi, Omnitrix pada waktu itu masih proto-type Omnitrix. Proto-type Omnitrix itu sempat berganti wujud sekitar tahun lalu, dan akhirnya terpaksa kuhancurkan ketika jatuh ke tangan musuh. Aku ganti memakai Ultrimatrix yang kuambil dari musuhku yang lain yang mencurinya dari sang pembuat Omnitrix. Karena sekarang Ultimatrix itu sudah hancur juga, tak perlu kujelaskan lebih panjang.
"Akhirnya sih, Azmuth, alien yang menciptakan Omnitrix, memberiku Omnitrix yang ASLI —yaitu yang kugunakan saat ini," Ben mengakhiri ceritanya. Penjelasan Ben diiringi "wow", "gasp", "yeeey", dan berbagai ekspresi lainnya yang keluar dari mulut anak-anak yang antusias mendengarkan ceritanya.
"Oh iya, tadi kan kau sudah mau cerita tentang caramu mendapatkan jam milikmu, hanya saja terpotong oleh robot kuning itu," Ben menunjuk Boboiboy dan Ochobot, "Ayo, lanjutkan."
Boboiboy menarik napasnya. "Kejadiannya beberapa bulan lalu —atau setahun lalu ya? Waktu itu aku baru pindah ke Pulau Rintis ini—"
"Tunggu," potong Ben, "Pulau Rintis?"
"Iya, itu nama pulau ini. Kak Ben daritadi nggak tau?"
Ben menggeleng. "Aku terdampar disini ketika sedang mengejar Maltruant."
"Terdampar...? Maltruant...?"
"Nanti kuceritakan. Ayo, ceritakan kisahmu dulu."
Boboiboy berdehem, lalu menarik napas panjang. "Oke. Jadi, saat aku liburan itu, aku membantu Tok Aba menjaga kedai coklatnya. Saat aku sedang menjaga kedai sendirian, tiba-tiba ada robot aneh yang mencuri sekaleng bubuk coklat! Robot itu berwarna ungu, itulah Probe.
"Karena takut dimarahi Atok, aku pun mengejar Probe hingga masuk ke dalam sebuah pesawat alien. Di dalamnya aku melihat seorang —eh, sebuah? Seekor? Pokoknya, alien berwarna hijau yang kepalanya berbentuk kotak. Itulah Adu Du. Alien itu memasuki suatu ruangan dan dengan bubuk coklat kalengan yang dicurinya, dia berusaha mengaktifkan sebuah bola berwarna kuning di tengah ruangan itu—itulah Ochobot yang belum aktif sepenuhnya.
"Pokoknya sih, mereka pergi, dan aku berhasil mengambil kembali kaleng coklatnya meski isinya tinggal setengah. Hanya saja, aku sempat ketahuan. Adu Du mengejarku, dengan menaiki Probe yang sudah menjadi Super Probe —sepertinya sih, Adu Du memakai cokelatnya lagi.
"Akhirnya aku berhasil keluar. Tanpa kusadari, rupanya sang bola kuasa, Ochobot, mengikutiku. Dia mengira akulah yang mengaktifkannya, jadi dia memberikan kuasa kepadaku. Tadinya jam itu sepasang, namun sudah di-upgrade sehingga hanya ada satu seperti yang sekarang kugunakan. Oh iya, esoknya Adu Du menyerang dan aku tertangkap karena melindungi Ochobot, akhirnya Ochobot pun memberikan kuasa kepada Yaya, Ying, dan Gopal juga," Boboiboy mengakhiri ceritanya. "Meski awalnya, mereka bertiga tidak memercayaiku dan bahkan menganggapku gila," tambahnya sembari mendelik pada teman-temannya.
"Err, maaf Boboiboy, habis ceritamu sulit untuk dipercayai kecuali kalau kami melihatnya langsung," sahut Yaya.
Ben berpikir sejenak. "Bagaimana dengan Fang? Rasanya aku tak mendengar namanya selama kau bercerita."
"Oh, itu kisah lain lagi," sahut Boboiboy sembari menatap si kacamata, meminta orangnya sendiri yang menceritakannya.
Fang mendengus. "Pokoknya aku ditipu Adu Du dan Probe hingga menangkap Ochobot. Akhirnya sih aku berbalik membantunya kabur. Ketika aku dan Ochobot hampir tertangkap, dia yang sempat dimasukkan coklat, memberikan kuasa kepadaku."
Ben memutar matanya, agak tak mengerti dengan cerita Fang. Namun karena sifat anak itu yang tak disukainya, Ben mengurungkan niatnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
Ben menjentikkan jarinya. "Ngomong-ngomong, Adu Du dan— siapa tadi?"
"Probe."
"Ya, Probe— mereka itu alien hijau berkepala kotak dan robot besar berwarna ungu plus bermata merah kan?"
Boboiboy mengangguk. "Probe bisa berubah menjadi Super Probe, versi tempurnya yang berukuran besar."
"Yang menyerang kalian saat pertemuan pertama kita tadi kan?"
Boboiboy mengangguk lagi.
"Eeeeehh? Tadi kalian diserang Adu Du dan Probe, Boboiboy?!"
"Adu Du dan Probe menyerang lagi?!"
Ochobot dan Tok Aba memeluk Boboiboy serempak.
"Huhuhu... Kau tak luka kan?"
"Cucu Atok tak apa-apa?"
"Adoi! Sesak lah!" Pelukannya dilepas.
Boboiboy tersenyum lembut. "Aku tak apa-apa lah... Beruntung tadi Kak Ben datang menyelamatkan kami."
Tok Aba menjabat tangan Ben. "Terima kasih, terima kasih!"
"Err... Sama-sama...?" Ben agak canggung tiba-tiba dijabat tangannya oleh kakek-kakek.
"Oh iya, tadi Kak Ben menanyakan kuasa kita," celetuk Boboiboy. Ditunjukkannya jam kuasanya. "Kuasaku adalah elemen di bumi!" Dibuatnya keris petir sebagai demonstrasi. "Sejauh ini, elemen yang dapat kukendalikan adalah petir, angin, dan tanah. Aku dapat berpecah menjadi tiga dengan masing-masingnya mengendalikan tiap-tiap elemen, dan setiap elemen telah meningkat menjadi level dua, yaitu Halilintar, Taufan, dan Gempa," jelasnya.
"Aku kuasa Manipulasi Bayang." Tak mau kalah, Fang menjelaskan kuasanya. "Cara kerjanya seperti ini." Ia menyatukan kedua tangannya dengan ibu jari saling dikaitkan, sedangkan kedelapan jari lainnya membuka lebar. Tangannya itu membentuk bayang-bayang menyerupai burung.
"Elang Bayang!" Fang berseru, dan bayangan yang dibentuk oleh tangannya menjadi hidup. Wujudnya seperti seekor elang berwarna hitam dan bermata merah.
"Aku Manipulasi Waktu!" Kali ini giliran Ying. Dalam sekejap dia hilang, lalu beberapa detik kemudian kembali lagi sembari membawa es krim. "Aku dapat mempercepat maupun melambatkan waktu. Dengan begitu, aku bisa lari cepat!"
"Aaaahh! Es kriiiiiim!" Gopal mengejar Ying yang mana mustahil untuk dilakukan oleh bocah gempal seperti dirinya.
Yaya berdehem. "Kuasaku Manipulasi Grafitasi." Yaya melaju terbang. "Aku bisa terbang mengangkat benda-benda berat, dengan merubah-rubah grafitasi sekitarku." Yaya mengangkat sebuah motor yang diparkir dekat kedai. Ben sedikit terkesan melihat seorang gadis berhijab dan manis (?) seperti Yaya dapat mengangkat benda-benda berat. Lalu Yaya perlahan meletakkan kembali motor itu.
"Gopaaaal! Giliranmu!" Yaya menangkap Gopal yang masih berusaha mengejar Ying, dan membawanya ke hadapan Ben.
Gopal menghembuskan napas. "Aku kuasa Manipulasi Molekul. Aku bisa— OH IYA!" Tanpa menyelesaikan kata-katanya, Gopal memancarkan gelombang energi ke arah sebuah gelas kosong di meja kedai. Gelas itu seketika berubah menjadi es krim.
Oh, semacam bisa merubah wujud suatu benda? Batin Ben.
"Gelas Atoook!" Tok Aba memekik, "Gopal, hutangmu bertambah!" Tok Aba mengambil suatu buku catatan dan menulis disitu.
"Mmppph!" Gopal, yang mulutnya penuh dengan es krim perubahan dari cangkir —Ben mau muntah melihatnya— hanya mampu membelalakkan matanya.
Ben berdehem, agar perhatian semua orang —err... Dan alien?— kembali kepadanya (lagi).
"Oke, perkenalan selesai. Sekarang, aku mau bertanya, kalian sempat melihat... Alien —atau robot sih? Ntahlah, aku nggak yakin. Pokoknya warnanya agak kehitaman, dengan nuansa merah. Badannya lumayan besar dan terlihat gendut. Apa kalian sempat melihatnya?"
Semuanya menggeleng, membuat Ben mendesah kecewa.
"Ah!" Yaya tiba-tiba berseru. "Tadi aku sempat melihatnya! Robot besar, dan ada sesuatu di kepalanya, semacam kunci mungkin?"
"Iya, itu!" Ben sumringah mendengarnya. "Dimana dan kapan kau melihatnya?!"
"Tadi, ketika Adu Du menyerang, aku sempat terlempar. Nah, agak jauh dari tempatku terhempas, aku melihatnya. Robot itu sedang berbincang-bincang dengan seseorang berjubah ungu-hitam dan bertopeng —atau itu helm?—, modelnya aneh sekali..."
Ben tersentak. Eon!
Boboiboy memiringkan kepalanya. "Robot itu teman kakak yang namanya... Mo... Mal... Siapa tadi?"
"Maltruant. Dan jelas-jelas dia bukan temanku." Ben menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia salah satu musuh terbesarku. Aku terbawa banyak masalah karena dia."
"Misalnya?"
Ben menengok ke arah anak-anak itu yang menatapnya dengan mata berbinar-binar, nampak antusias mendengar ceritanya. Ben mendesah pasrah.
"Maltruant itu sejenis Chono-Sapiens," Ben memulai penjelasannya, "jenis alien yang bisa mengendalikan waktu— eh, sebentar, aku sendiri nggak begitu yakin dia itu alien atau robot." Digaruknya kepalanya meski tidak gatal.
"Lalu—"
"Ben Tennyson. Finally I find you."
Delapan kepala dan sang robot kuning serempak menengok ke arah sumber suara.
"Aw, man!" Ben menepuk jidatnya, mengetahui bertambah seorang lagi musuhnya yang harus dia hadapi hari ini.
Di sanalah dia berdiri, sang pemilik suara. Seorang anak kecil dengan kulit yang lebih pucat dari Ben, berambut putih, iris mata merah, dan memakai baju berwarna merah dengan garis hitam. Figurnya mirip dengan Ben sewaktu kecil.
"Albedo, why you have to be here, too..."
.
.
.
.
.
Tz19
.
.
.
.
.
TBC
.
A/N: maaf, maaf, isinya adegan ngobrol mulu, datar banget ya ceritanya =w=)a
Seperti yg udh kubilang, pokoknya aku ngebayangin mereka bertemu, konflik dgn Maltruantnya itu cuma imajinasi aku aja biar mereka bisa bertemu hehe =w=)a
Oh iya, maaf kalau ada kesalahan dalam fakta-faktanya ya ^^;;
Oke, chapter ini kubiarkan jadi lebih panjang. Nyari2 yg enak buat dipotong ga nemu, dan pengennya sih bikin cliffhanger biar seru, jadi biarlah panjang =w=)a
Err, ngomong2, kalo ada kesalahan aku suka edit2 (semua chapter termasuk prolog). Jadi, kalau udh lama sejak baca, kusaranin baca ulang. Mungkin alurnya masih sama, tapi adegannya atau diksinya mungkin aja udh kuubah ^^" *yah, seiring berjalan waktu, insya allah bisa impruv kan?
Sampai ketemu di chapter berikutnya!
