Wahahaa~~ sudah lama aku nggak publish nih cerita
Disclaimer: Kingdom Hearts jelas bukan punyaku lahh~~ hahaha, aku hanya punya alur di cerita ini XD
Genre: Mystery and Horor
Chara: Sora, Riku, Nenek Ichi (My OC)
Thank's to: Sora Van dan Azza . makasih banget yah dah mbantuin aku. Heheee~ dan juga All Readers and Teman-teman yang sudah merepiew ^^
Oke deh.. Met baca Readers
" Aku ingin ke rumahnya Vanitas, mau menemaniku?"
Chapter 3: memori tentang anak yang terlupakan
Aku dan Riku berjalan masuk ke sebuah kompleks perumahan. Hum, letaknya tidak terlalu jauh dengan sekolahku, namun cukup melelahkan kalau berjalan.
Yeah, aku sedang berjalan menuju rumah Riku. Tepatnya sih menuju rumah Vanitas. Tadi, Riku bilang kalau rumah Vanitas berada di dekat rumahnya. Dan selagi hari masih terang, masih pukul 3 sore, jadi sekalian saja aku berkunjung ke rumah Vanitas.
Wahh... ternyata perumahan di kompleks ini sangat mewah. Banyak rumah yang cukup besar, bahkan dengan halaman yang luas. Sungguh keren.
Ada rumah yang simpel, namun halamannya luas. Ada juga rumah dengan halaman yang penuh dengan karangan bunga-bunga. Sungguh indah karena penataannya pas. Kata Riku, itu adalah rumah Aerith-senpai, keponakan dari guru UKS tadi.
Aerith-senpai sangat menyukai bunga, karena itu rumahnya penuh dengan karangan bunga. Kata Riku, yang mendesain halaman dan meletakkan posisi bunga Aerith-senpai. Awalnya aku tak percaya, tapi karena cerita Riku yang terlihat serius, aku jadi percaya. Hahaha, aku aneh.
Anyway, aku melihat sekeliling. Kok jalan menuju rumah Vanitas, berubah jadi seperti daerah perhutanan. Sepi, banyak pohon besar yang sangat rindang. Jalan setapak yang jadi penunjuk jalan tadi sudah hampir hilang.
Di ujung jalan, ada sebuah rumah tua yang sepertinya sudah tidak terurus. Ada banyak puing bangunan yang berserakan, dan juga tang penyangganya juga sudah rusak dan patah. Rumput liar yang terlihat mengganggu menghiasi halaman.
" Err, Riku, kita tidak salah tempat?" tanyaku. Masa rumah tua ini adalah rumahnya Vanitas.
" Yeah, tidak salah lagi. Ini rumahnya. Mau masuk?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak, " ayo mungkin ada sesuatu di dalam." kataku sambil tersenyum. Kami memasuki rumah itu.
Aku membuka pintu rumah tua itu, lalu masuk bersama Riku.
"Hallo? Anybody here?" kataku dengan sedikit keras. Suaraku juga menggema.
Hum, di dalam rumah tua ini juga berantakan. Seperti ada pertengkaran yang membuat semua barang pecah dan tidak ada yang membersihkannya. Di sisi kanan, ada pintu. Kami memasuki pintu itu,
" Ini... Ini tempat meja makannya. Dulu tempat ini sangat bersih. Meja makanya juga tidak hancur seperti sekarang ini." kata Riku dengan sedikit sedih.
Hah, seharusnya aku tidak mengajaknya kemari, pasti dia merasa bersalah. Aku menatapnya dengan sedih.
Kami keluar dari ruang makan menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba,
" Siapa di sana?" tanya seorang nenek dengan suara serak khasnya. Aku langsung menatapnya dengan kaget. Nenek itu sepertinya penghuni rumah ini.
Aku dan Riku sama-sama terkejut. Bukannya takut, tapi heran. Nenek itu mau tinggal di sini. Apa Nenek itu tidak takut yahh, (sepertinya) sendirian dan kesepian? Jujur saja, aku juga tidak akan mau tinggal di sini.
"Mengapa kalian diam? Siapa kalian dan apa maumu?" tanya nenek itu sekali lagi.
"Ma-maaf, aku Sora dan ini Riku. Maaf kami mengganggu Nenek." Kataku meminta maaf sambil memperkenalkan diri. Aku melirik ke arah Riku, mukannya terlihat bingung, matanya menyipit dan alisnya berkerut. Pandangannya tidak lepas dari nenek itu.
"Tak apa, tetapi apa yang membawa kalian kemari?" Tanya Nenek itu. Sepertinya nenek itu ramah.
"Hum, kamu ingin bertanya ke pada Nenek membantu?" tanyaku.
"Hum? Tanya apa? Nenek sudah tua, dan tak yakin kalau dapat membantu kalian," jawab si Nenek. "tapi, ayo masuk ke kamar nenek. Di sini tidak enak untuk berbicara," kata nenek mempersilahkan aku dan Riku. Kami menaiki tangga, dan memasuki ruangtan di sisi kiri. Kamar ini ada di lanatai 2.
Berbeda sekali dengan ruangan makan, dan ruang sebelumnya. Kamar ini rapi, dan dinding, meja, korden, semuanya serba putih cerah. Yeah, memang ada banyak kertas yang berserakan sih, tapi cukup nyaman dan rapi dari pruangan sebelumnya.
"Baiklah, kalian mau tanya apa?"
"Nenek, ini benar rumah Nenek?" Tanya Riku to the Point.
"Sebenarnya ini bukan rumah nenek. Ini rumah Almarhum orang tua cucu Nenek." Katanya pelan.
"Kalau begitu, nenek ingat siapa cucu Nenek, nama atau keadaan fisiknya?" tanyaku. Namun nenek hanya menggeleng lemah.
"Nenek tidak ingat nama cucu nenek. Bagaimana mukannya, namun sifatnya nenek masih ingat." Kata nenek.
"Hum, Nenek kok bisa tinggal di sini sendirian?" tanyaku hati-hati takut menyinggung Nenek.
-Flash back-
(A/N: di sini, jika ada nama (…) berarti itu adalah nama cucunya Nenek Ichi. Karena nenek tidak ingat nama cucu, jadi kubuat nama (...). Hahahaha)
Nenek Ichi adalah Nenek yang paling berarti bagi cucunya. Ayh dn Ibu sdari cucunya, selalu saja berengkar. Mereka broken Home, dan selalu melampiaskan ke anaknya. Karena itu, si Cucu itu lebih dekat kepada neneknya, dan Nenek Ichi juga selalu berusaha membuatnya tersenyum, walau tu senyuman sinis, ataupun senyuman yang di paksa.
Setiap pulang sekolah, (…) selalu mampir ke rumah Nenek Ichi. (…) tidak mau pulang ke rumanya karena ia tidak tahan dengan kelakuan orang tuannya. Nenek Ichi selalu membugnya agar si cucu mau pulang ke rumahnya. Dengan terpaksa, (…) pulang ke rumahnya.
Karena kelakuan Orang tuanya yang tidak mendidik, (…) selalu diam, sinis, dan tidak berperasaan, tidak tau yang namanya "Kasih Sayang Orang Tua". Dan itu bukan salah (…) itu adalah salah kedua orang tuanya. Itu pendapat Nenek Ichi.
Sampai suatu hari (…) masuk ke rumah Nenek Ichi dengan kasar.(...) langsung memeluk dan menagis. Ini ke-5 kalinya (...) memeluk Nenek Ichi dengan erat. Nenek Ichi pikir, (...) menangis, ternyata tidak.
"Nenek, (...) sudah nggak mau tiggal sama Papa dan Mama," kata (...) dengan suara yang sedikit bergetar. Nenek mengelus Rambut si cucu.
"Ada apa (...)?"
"Papa dan Mama mau pisah, dan saat itu (...) kena pukulan di pipi. Biasanya pukulan itu tidak sakit, tapi sekarang sakitnya di hati. Aku tak tau mengapa…" kata (…)
Tiba-tiba pintu rumah Nenek Ichi terbuka, Papa dan mama (…) datang dan menyeret si (…) kasar.
"Dasar anak tak tahu diri! Mulai sekarang, kamu tidak akan pernah bertemu dengan Nenek sialan Ini!" kata Papa (…) sambil menyeret.
"APA! Beraninya kamu bilang Kaa-san NENEK SIALAN! Kamunya yang kurang ajar tau. Sama Kaa-san saja tidak hormat. Pantas sana (…) hidupnya seperti itu. Tertekan karena kalian berdua." Kata Nenek Ichi dengan marah.
"Kaa-san tidak usah ikut campur. Ini masalah kami," kata Papa (…). Setelah itu mereka pulang ke rumahnya. Nenek Ichi tidak tinggal diam, Nenek langsung ikut ke rumah (…). Sampai di rumah, Nenek terkejut, (…) sudah tergeletak tak berdaya dengan beberapa sayatan di tubuh (...) dan tangannya juga berlumurn darah. Nenek langsung berlari dan memeluk (...) tapi, (...) pingsan. Sepertinya (...) terlalu syock. Rumahnya juga berantakan,seperti kapal pecah. Barang barang pecah.
Ketika mamanya (...) tau kalau Nenek Ichi ada di rumahnya, dia langsung mengusir Nenek Ichi dengan bentakan yang kasar. Terakhir yang nenek ingat di rumah itu, Papa (...) juga tergeletak tak berdaya dengan perut yang berlumuran darah.
-End Flash Back-
"Setelah itu, nenek tidak ingat lagi apa yang terjadi. Nenek lupa dengan rumah nenek. Yang Nenek tau, hanya rumah ini."
"Nenek, apa cucu nenek berambut Hitam, bermata emas, spiky seperti Sora?" Tanya Riku mendadak.
"Da-dari mana kamu tau? Seingat Nenek, cucu nenek hamper mirip seperti Sora. Tapi dari mana kamu tau?" Tanya nenek kaget.
"Err.. hanya menebak." Kata Riku berbohong. "nenek, sudah hampir petang. Kami pamit dulu yah." Lanjut Riku sambil melihat ke arah luar jendela. Lalu, Riku memandangku.
"Iya Nek, maaf kami mengganggu Nenek. Kapan-kapan kami main ke sini," kataku.
"Baiklah. Nenek tunggu yah."
Aku dan Riku berjalan keluar. Setelah kami keluar dari halaman rumahnya Vanitas. Tiba-tiba kami menjadi diam. Sepertinya kami berkutat dengan pikiran kami masing-masing..
"Riku, tadi…"
"Cucu Nenek itu?" Riku memotong perkataanku.
"yeah, jangan jangan cucu Nenek itu... Vanitas?" tanyaku.
"Betul. Aku sudah menduga kalau itu adalah nenek vanitas saaat aku bertemu dengannya. Aku ingat kalau di rumahnya ada foto Nenek Ichi. Tapi aku sudah sedikit lupa." Kata Riku.
'Pantas saja, tadi mukanya Riku terlihat bingung. Tapi nasibnya Vanitas bagaimana yahh? Dan aku jadi bungung mengapa Vanitas bisa menghilang. Si Nenek sudah tidak ingat lagi. Ke mana aku harus mencari tau?' batinku. Kami berdua menjadi diam.
Masih banyak pertanyaan di pikiranku. Tentang mengapa perut papanya Vanitas itu bisa berdarah, dan apa sebabnya? Aku masih nggak ngerti itu. Lalu, Kemana si Vanitas? Mengapa aku bisa tau memory-nya? Apakah aku ada hubngannya degan Vanitas? atau gara-gara jam tua itu? Arrrrggg, aku bingung. Aku mengacak-acak rambutku.
"Hum? Ada apa Sora?" tanya Riku heran dengan tingkahku tadi.
"Huh? Ta-Tak apa kok. Hehehee" jawabku dengan tertawa garing.
Setelah itu, aku mampir ke rumahnya Riku. Rumahnya mewah banget. Halamannya juga luas. Yeah, jelas lah Riku kan salah satu anak terkaya di sekolahku. Aku makan malam bersama Riku, lalu aku diantar pulang oleh Riku.
Sesampainya di rumah, aku langsung berbaring di kasurku. Aku memejamkan mataku, untuk merilekskan diri.
"Hari yang melelahkan..." gumamku. "mungkin, besok aku akan mencari tau lagi tentang Vanitas..." tiba-tiba aku merasa sangat ngantuk. Padahal, aku baru saja mandi, tapi rasa kantuk ini tak bisa ku tahan lagi. Akhirnya akupun tertidur.
To Be Continued
Hahahaa~~
Bagaimana Readers? Ada yang kurang? Ada bagian yang aneh? Hehehe..
Oke deh Readers, segini dulu Chapy 4-nya Repiew?
