Halo mina-san~ yaampun author tidak berguna ini memang benar benar tidak berguna. Pasalnya author baru inget kalau ternyata author belum update fic ini! Gomen mina-san~. Ini fic author update setelah berbulan bulan lamanya terabaikan. Author sedikit kehilangan feel dari fic ini, gomen kalau misalnya rada nggak nyambung sama chapter sebelumnya, tapi semoga tidak mengecewakan ya mina.

ENJOY READING~

Disclaimer :Naruto © Masasi Kishimoto

Pairing :NaruHina slight SasuHina, NaruSaku, YahiKonan

Rate :T

Genre :Romance, Hurt/Comfort.

Warning :OOC, Abal, Typo(s), sedikit (banyak) ngga nyambung ama judul, multichap, don't like don't read! Mind to RnR. Warning inside.

"Normal" = present

"Italic" = flashback

'bla bla bla' = inner

KEYS,

Between You And Me

By: Black Skull 'Untdeks'

"Bukankah itu Hinata kekasihmu itu, Naruto?" tanya Yahiko begitu mereka sampai di dapur, sedikit berbisik.

"Benar, senpai."

"Lalu kenapa aku tak boleh menyapanya?" Yahiko bertanya bingung.

"Karena pemuda yang duduk di sebelahnya tadi itu adalah calon tunangannya yang dipilihkan langsung oleh Papanya." Naruto merunduk sedih. Yahiko memperhatikan juniornya, dia tahu apa yang dirasakan Naruto. Sakit itu, dia pernah merasakannya, bahkan sampai sekarang dia masih tak bisa menghilangkannya.

"Apa Hinata membuangmu juga?"

"Tidak, senpai. Hinata tidak membuangku, dia tak punya kekuatan untuk melawan Papanya. Kau tahu sendiri bagaimana sikap tuan Hiashi."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

"Entahlah, senpai. Tapi yang jelas aku akan merebut Hinata kembali, dan akan aku buat Hiashi menyerahkan putrinya untukku, dengan ikhlas."

"Dengan cara apa?"

"Kau akan tahu nanti, senpai." Naruto tersenyum, lalu berjalan kembali ke arah ruang tamu dimana tamu tamunya itu berada. Sementara Yahiko hanya memandang punggung Naruto yang hilang di balik pintu, ada senyum di wajahnya. "Berjuanglah, Naruto." Bisik Yahiko.

.

.

=Chapther 4 =

.

.

.

Sampai titik ini Naruto masih belum menemukan cara untuk merebut Hinata kembali. Dia memang sudah bilang pada Yahiko bahwa dia memiliki rencana, tapi demi Kami-sama sampai saat ini belum ada setitik rencanapun yang dia punyai. Naruto menjambak rambutnya gemas, mencoba mencari ide bagaimana dia bisa merebut Hinata. Apa dia harus benar-benar menggunakan cara jahat dengan mengajak Hinata kawin lari? Tidak! Dia tidak ingin begitu, yang dia mau Hiashi menyerahkan Hinata untuk hidup bersamanya dengan sukarela, bukan dengan cara kawin lari. Selain itu juga, Naruto yakin Hiashi akan segera menemukannya dan menangkapnya dengan tuduhan penculikan.

"Arrrggghhh..." Naruto meraung kesal pada dirinya sendiri.

"Kau kenapa, Naruto?" tanya Sakura yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamar Naruto. Gadis pink itu memang masih tinggal di apartemen Naruto karena alasan dia sedikit takut untuk tinggal sendiri di Konoha.

"Ti-tidak apa-apa, Sakura."

"Berhentilah menyembunyikan kesedihanmu dariku, Naruto. Aku tahu betul kau sedang terluka. Dan aku bisa melihat tatapanmu pada gadis itu. Terlihat...berbeda,"

"Gadis itu? Gadis mana maksudmu?" tanya Naruto sedikit kaget, apa mungkin Sakura tahu?

"Gadis mana lagi? Tentu saja calon tunangan Sasuke- Hinata. Hyuga Hinata."

"Apa kau gila, Sakura? Mana mungkin aku dengan gadis itu hahahah.." Naruto mencoba mengelak dan tertawa canggung.

"Sudahlah, Naruto, aku sudah tau," Sakura memegang tangan Naruto, lembut, "Gadis itu menceritakan semuanya padaku. Dia sangat mencintaimu, Naruto."

Naruto terdiam, bagaimana bisa Hinata bercerita pada Sakura? Setau Naruto, Hinata bukanlah gadis yang dengan mudah membagi ceritanya dengan orang lain, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya seperti Sakura. Dan lagi, kapan mereka ngobrol berdua?

"Berjuanglah untuknya, Naruto." Sakura tersenyum lembut, dan beranjak meninggalkan Naruto sendiri dengan pikirannya.

"Tunggu, Sakura." Naruto menahan Sakura, "Kau mendukungku untuk merebut Hinata dari Sasuke?"

Sakura mengangguk sambil masih tersenyum, mengisyaratkan keyakinan penuh. Gadis pink itu kembali duduk di samping Naruto. Emerald-nya menatap blue sapphire Naruto.

"Kau tahu, Naruto, apa yang membawaku kembali ke Konoha?" tanya Sakura lembut dan dijawab gelengan Naruto.

"Oke, akan aku katakan padamu, tapi aku mohon jangan berfikir aku ini jahat," Sakura berhenti sebentar menunggu reaksi Naruto, "aku datang lagi kesini karena aku ingin membalaskan dendamku pada Sasuke dan keluarganya."

"Membalaskan dendam? Apa maksudmu?" tanya Naruto tak habis pikir, teman pinknya ini benar benar mencintai pemuda Uchiha itu, dia akan selalu melakukan apapun demi kebahagiaan sang Uchiha bungsu tersebut. Paling tidak itu yang selalu tertanam di benak Naruto.

"Tiga tahun lalu aku masih bersama Sasuke, tapi entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Sasuke membuangku begitu saja. Sasuke bahkan entah kemana saat keluarganya dengan semena-mena mengusirku dan kedua orang tuaku dari rumah kami sendiri. Dan seperti yang kau tahu, sekarang kami menjadi semakin nelangsa. Kaa-san jadi kembali gemar mabuk dan berjudi sedangkan tou-san kembali bermain wanita. Keluargaku benar-benar menjadi hancur akibat ulang keluarganya. Mereka membuat bisnis orang tuaku hancur. Mereka benar-benar berniat membuat kami menjadi gelandangan, seperti yang kau lihat sekarang. Dan kau tau dimana Sasuke saat itu? Dia sedang bersenang-senang dengan perempuan lain, cih!" kata Sakura penuh dengan emosi, Naruto sedikit terkejut mendengar penuturan Sakura. Dia ingat tiga tahun lalu saat orang tua Sakura bangkrut dan Sakura dengan terpaksa DO, Sakura bilang itu karena orang tuanya yang tidak berguna itu terlilit hutang karena kecerobohan mereka. Selama ini Sakura menyembunyikan ini darinya.

"Kenapa kau baru cerita sekarang, Sakura?"

"Entahlah, aku hanya ingin bercerita padamu saat ini." Jawab Sakura enteng.

"Jangan bilang kau datang sekarang karena kau dengan Sasuke akan segera menikah."

"Yup, kau benar sekali, Naruto."

"Lalu apa rencana balas dendammu?"

"Aku dengar pernikahannya dengan gadis Hyuuga itu untuk menyatukan kedua perusahaan besar itu, aku juga dengar kalau tidak segera ditolong akan hanya tinggal nama. Tadinya aku berfikir untuk mencuri hati Sasuke lagi, tapi setelah aku bertemu dengannya hari ini aku benar benar muak pada makhluk itu dan tak sudi untuk bersamanya lagi. Jadi, mungkin aku akan membantumu merebut Hinata kembali." Jawab Sakura lagi, terdengar enteng dan tanpa beban.

"Jadi ini alasanmu membantuku, Sakura? Aku kira kau menyemangatiku karena kasihan padaku, ternyata karena niat burukmu itu." Naruto pura pura kesal.

"Tidak, Naruto, tentu saja karena aku ingin benar benar membantumu. Aku tidak ingin gadis sebaik Hinata mendapat suami seperti Sasuke. Dan lagi, aku tidak ingin melihat kau menyerahkan gadis yang kau cintai pada Sasuke, untuk kedua kalinya." Ujar Sakura lembut, yah, dia tahu betul kalau pemuda Uzumaki itu mencintainya sejak kecil. Dan dia dengan tidak tahu terimakasih selalu menolak dengan kasar ajakan kencan pemuda itu dan malah dengan tololnya mengejar cinta sang Uchiha bungsu.

"Naruto, berusahalah lebih keras lagi. Karena aku yakin Hinata juga sangat mengharapkan untuk menikah denganmu, bukan dengan Sasuke. Aku yakin kalian pasti akan bersama." Sekali lagi gadis pink itu memegang tangan Naruto lembut, emeraldnya memancarkan ketulusan.

"Terimakasih, Sakura."

.

.

.

.

Suasana ramai terjadi di kediaman Hyuuga, orang berlalu lalang membawa alat alat pengukur. Memang acara pertunangan Sasuke-Hinata masih sebulan lagi, tapi segala persiapan sudah mulai dilakukan. Berdiri seorang pria dengan rambut orange jabrignya yang sedang berperan sebagai komandan mengatur orang orangnya untuk bekerja. Yahiko, seorang interior designer kini bekerja di sebuah Event Organizer sebagai koordinator lapangan. Dia tidak sembarangn mengambil pekerjaan, dan tentu saja dia menerima tawaran pekerjaan ini karena ini pesta yang diadakan oleh Hiashi. Dia dapat memastikan kalau dia pasti akan dapat dengan mudah bertemu Konan. Dia tak perlu khawatir Hiashi akan curiga padanya, karena dia memang tak pernah bertemu langsung dengan Hiashi.

"Permisi tuan, kau yang bertanggung jawab terhadap desain pesta ini?" Suara lembut yang sangat dia kenal, suara yang sudah sangat-sangat dia rindukan.

Yahiko membalikan badannya, memasang senyum terindahnya. Hatinya benar benar seperti genderang saat ini, berdegup dengan dahsyatnya. Sudah tiga tahun lebih dia tak bertemu dengan gadisnya, tidak bukan gadisnya, tapi wanitanya, wanita yang dia cintai.

"Ya-yahiko!" Konan benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia sama sekali tak mengira akan bertemu pemuda ini lagi, apalagi disini, di rumah suaminya. Air matanya tiba tiba turun tanpa dikomando.

"Ya, Konan, ini aku, Yahiko." Yahiko tersenyum, dia benar-benar bahagia bisa melihatnya lagi, ingin rasanya dia peluk wanita di depannya, tapi dia sadar kalau dia tidak mungkin melakukan ini karena di sekitarnya sangat ramai.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" Air mata Konan semakin deras mengalir, dia benar benar merindukan sosok di depannya.

"Aku merindukanmu, Konan, sangat." Yahiko sudah tidak tahan lagi ingin memeluk wanita di depannya.

"Tidak, Yahiko. Jangan." Konan menampik tangan Yahiko yang hendak memeluknya membuat beberapa orang orang yang dibawa Yahiko menatap aneh kepada dua orang itu.

"Mama, ada apa ini, kenapa ramai sekali?" tanya Hinata kaget yang baru turun dari kamarnya di lantai dua, sepertinya gadis itu baru saja menangis, terlihat dari matanya yang masih merah dan jejak jejak air mata di wajahnya.

Kedua orang tadi, Yahiko dan Konan, saling menjauhkan badannya canggung. Yahiko tak berani berbalik badan, dia tidak ingin Hinata mengenalinya.

"Me-mereka ini yang bertanggung jawab terhadap desain pesta pertunanganmu nanti, sayang." Ucap Konan lembut, seperti halnya seorang ibu pada anaknya.

"Kau kenapa? Menangis lagi?" tanya Konan lagi lembut sambil membelai rambut putri tirinya. Dia mengajak Hinata untuk berjalan ke ruang tengah berusaha menghalangi agar Hinata tidak mengenali Yahiko.

"Tunggu, Mama." Konan menghentikan langkahnya, memperhatikan seorang pria yang sedang sibuk dengan kertas dan bolpoint di tangannya. "Sepertinya aku mengenali pria itu."

"Tidak, Hinata. Kau tidak mengenalinya, percayalah." Konan sedikit memaksa Hinata, tapi gadis itu bersikeras menghampiri Yahiko.

"Kau..." Hinata menggantung kalimatnya, Yahiko sedikit panik begitu menyadari Hinata sudah berdiri di depannya. "Bukannya kau itu Yahiko-senpai?"

"O-oh i-iya, Ha-halo apa kabar, Hinata?" jawab Yahiko canggung dan gagap.

"Baik. Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Hinata curiga.

"Aku yang akan bertanggung jawab terhadap desain pestamu nanti, Hinata."

.

.

.

.

"Sakura, bisakah kita pulang sekarang?" tanya Naruto untuk kesekian kalinya, kini dia sedang di sebuah pusat perbelanjaan. Sudah hampir tiga jam dia berkeliling menemani Sakura, keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya. Kini di tangannya sudah ada beberapa kantong belanjaan, dan tentu saja itu semua milik Sakura. Sahabat pinknya itu benar benar menyukai belanja!

"Bisakah kau diam, Naruto? Kau sudah menanyakan hal itu berulang kali." Sakura mendengus kesal.

"Sampai kapan kau mau belanja?"

"Sudahlah, Naruto, ikuti saja aku. Lagi pula aku tidak memintamu untuk membayarkan belanjaanku bukan?"

"Tapi kita sudah berkeliling hampir tiga jam, Sakura!" Naruto ngotot.

"Baru tiga jam, Naruto. Bukankah kau berjanji untuk menemaniku belanja seharian dan aku akan membantumu meluluhkan hati Hiashi. Itu sudah perjanjiannya, Naruto~,"

"Tapi bisakah seharian itu diganti menjadi tiga jam? Aku sudah benar benar lelah, Sakura." Sakura berjalan mendekati Naruto yang sudah kursi panjang yang terletak di depan sebuah toko sepatu.

Sakura tersenyum tepat di depan wajah Naruto, memperhatikan wajah lelah Naruto yang terlihat sangat kacau. "Setidaknya kau bisa melupakan rasa sakitmu, Naruto. Aku hanya ingin membantumu melupakannya. Aku lebih suka melihat wajahmu yang kacau akibat kelelahan menemaniku belanja daripada aku harus melihat wajah kacaumu karena kau terus menerus memikirkan gadis itu tanpa kau bisa melakukan apapun."

Naruto berpikir sejenak, benar juga kata Sakura, dia memang sedikit melupakan kesedihannya. Setidaknya dia bisa sedikit bersenang senang dengan memarahi Sakura. Paling tidak dia masih bisa menikmati ramen dengan nikmat tanpa memikirkan sakit hatinya, walau dia memikirkan betapa kesalnya dia pada Sakura yang tak berhenti memasuki satu demi satu toko lalu mencoba entah itu sepatu, baju, aksesoris dan lain lain yang toko itu jual.

"Aku hanya ingin menghiburmu, Naruto. Setidaknya saat kau lelah dan marah marah padaku kau akan lupa bahwa kau punya masalah berat yang kau hadapi."

"Terimakasih, Sakura." Naruto tersenyum tulus, Sakura membalasnya dengan senyum lembut.

Hening beberapa saat.

"Jadi berhentilah mengeluh dan cepat jalan lagi, Naruto." Tiba-tiba Sakura kembali berjalan meninggalkan Naruto yang masih duduk dengan kantong belanjaan yang bertambah, yah, Sakura meninggalkan kantong belanjaan yang tadi dibawanya untuk dibawa Naruto.

"Sial kau, Sakura. Awas kau!" teriak Naruto yang sibuk mengatur bagaimana dia bisa membawa kantong belanjaan sebanyak itu.

Sakura tersenyum mendengar bunyi gedubrak berulang kali tanda kantong belanjaannya pasti jatuh berkali kali. 'Aku hanya ingin membuatmu sejenak melupakannya dan kembali menjadi Naruto yang ceria, yang seperti aku kenal dulu, Naruto.'

.

.

.

.

"Kau yakin akan bertunangan dengan pemuda itu, Hinata?" tanya Yahiko tanpa melihat ke arah Hinata yang duduk di bangku seberang mejanya. Pria itu sedang memperhatikan air mancur kecil yang terletak di taman Hyuuga mension. Konan sedang mengambil beberapa cemilan untuk orang orang Yahiko yang sedang beristirahat di ruang tamu.

"Aku tidak yakin, senpai." Lagi, gadis Hyuuga itu kembali menunduk, amethyst-nya terlihat mendung.

"Lalu kenapa kau melakukan?"

"Karena memang tidak ada cara lain selain aku harus bertunangan dengannya."

"Lalu apa kau tidak memikirkan perasaan Naruto? Dia begitu hancur, Hinata. Dia bahkan tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk hidup setelah kau mencampakannya." Ujar Yahiko pelan, namun penuh penekanan apalagi dibagian 'mencampakan', pria itu masih enggan mengalihkan pandangannya dari air mancur dan beberapa burung yang sekarang bermain di sekitarnya.

"A-aku tidak mencampakannya, senpai." Hinata kembali menangis entah untuk keberapa kalinya hari ini, dia tidak bermaksud mencampakan Naruto, tidak sama sekali!

"Lalu apa namanya Hinata? Kau meninggalkannya begitu saja dan lalu menikah dengan pria lain? Apa itu bukan mencampakan namanya? Kau pasti gila kalau berpikir laki laki itu akan baik baik saja. Tidak, Hinata, dia tidak akan baik baik saja. Dia akan terus merasa sakit dan merasa tidak berguna karena dia tidak bisa mempertahankan wanita yang paling dia cintai." Kali ini Yahiko berkata penuh dengan emosi, seperti dia sedang mengatakan apa yang dirasakannya selama ini. Dia sama sekali tak mempedulikan perasaan Hinata yang seperti dicabik cabik mendengar penuturannya. Untuk saja saat itu di sana hanya ada mereka berdua jadi tidak ada yang mendengar ucapan Yahiko.

"Lalu kau akan tetap meninggalkannya? Membiarkan pria yang kau cintai merasa menderita sepanjang sisa hidupnya, dan membiarkan dia pergi unt..."

"CUKUP, YAHIKO!" entah sejak kapan Konan sudah berada disana, memotong kalimat penuh emosi Yahiko.

"Ko-konan,"

"Cukup, Yahiko, cukup. Jangan membuat Hinata merasa lebih bersalah dengan ucapanmu. Dia sudah cukup menderita, Yahiko." Konan sedikit terisak, dia juga merasa sakit mendengar penuturan Yahiko, bahkan mungkin lebih sakit dari Hinata. Karena dia tahu, apa yang di ucapkan Yahiko itu ditujukan untuknya.

"Cih," Yahiko memalingkan wajahnya, emosi. Apakah wanita ungu di depannya sama sekali tidak tahu penderitaannya selama ini? Mungkin dia sudah bahagia dengan hidupnya sekarang sebagai Nyonya Hyuuga.

"Hinata, kau masuklah, tenangkan pikiranmu dan berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Konan lembut.

"Baiklah, mama, aku permisi." Hinata beranjak dari kursinya, mencoba menata hatinya, mencoba berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

"Jangan keterlaluan begitu padanya, Yahiko." Konan duduk di kursi yang tadi diduduki Hinata, matanya tidak dia arahkan pada Yahiko melainkan pada bunga ungu, bunga kesukaan Konan.

"Cih," lagi, pria itu kembali memalingkan wajahnya kesal.

"Kau memang tak pernah berubah, Yahiko. Masih saja keras kepala dan bersikap semaumu,"

"Aku memang tak pernah berubah, Konan, tak pernah bisa berubah walaupun aku ingin. Sama seperti perasaanku padamu yang tak pernah berubah, walaupun aku sangat ingin mengubahnya."

"Cukup, Yahiko, kau tak pantas berkata seperti itu pada seorang wanita yang sudah bersuami,"

"Cih, kau benar benar sudah berubah, Konan. Aku yakin kau bahkan sudah tidak pernah mengingatku sama sekali!" Konan terkesiap mendengar penuturan Yahiko. Tidak, apa yang diucapkan Yahiko tidak benar, dia bahkan tidak pernah bisa melupakan pria brandalan di sampingnya. Dia masih merasa sakit kalau mengingat nasibnya. Dia merasa sakit lebih dari Yahiko, karena dia harus berpura pura telah melupakan pria itu dan bersikap bahagia berperan sebagai Nyonya Hyuuga. Dia harus menyembunyikan perasaannya dari siapapun, dia bahkan tidak bisa membiarkan air matanya jatuh dengan leluasa.

"Diam, kau hanya diam, berarti benar kan kalau benar benar sudah melupakanku semenjak kau membuangku begitu saja?" Yahiko menekankan kata 'membuang' membuat kata itu terdengar lebih menyakitkan.

"Tidak, Yahiko, aku tidak pernah membuangmu!" Konan sudah tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi, pria di depannya benar benar membuatnya merasa bersalah.

"Kau membuangku, Konan! Kau mencampakanku! Kau pergi meninggalkanku begitu saja dengan alasan kau harus menikahi pria itu dengan alasan kau terpaksa melakukan ini demi keluargamu! Kau tau? Tiga tahun ini aku benar benar merasa tersiksa tanpamu! Aku seperti orang gila, aku tak tahu harus kemana dan aku kehilangan tujuanku! Aku menjadi pria brengsek dengan mengencani banyak wanita demi melupakanmu tapi ternyata aku tak bisa! Disini, disini masih tetap hanya dirimu! Aku menjadi semakin gila setiap kali berfikir mungkin kau telah bahagia berperan sebagai Nyonya Hyuuga daripada harus menjadi istriku! Orang orang di sana memanggilku Pein! Kau tahu kenapa? Karena menurut mereka aku ini menyedihkan dan lambang dari kesakitan! Aku gila, Konan, sampai aku berfikir untuk kembali ke Konoha dan merebutmu kembali! Aku mencintaimu, Konan! Masih-Sangat-Mencintaimu! Aku..."

PLUUKK

"Ko-Konan...?"

Tiba-tiba saja Konan memeluk Yahiko. Wanita itu benar benar sudah tidak tahan mendengar keluh kesah Yahiko. Dia tahu, Yahiko pasti merasa sangat sakit. Konan memeluk Yahiko begitu erat, seolah ingin membuat pria itu tahu kalau dia juga merasakan sakit yang sama. Kalau dia juga tak ingin takdir mempermainkan mereka seperti ini.

"Maafkan aku, Yahiko, Maafkan aku," Konan terisak di dada Yahiko, rasanya antara sakit dan damai, dia benar benar sudah merindukan pelukan dari pria yang dicintainya ini. Pria itu tidak menjawab, hanya membalas pelukan Konan lebih erat lagi.

"Aku masih mencintaimu, aku benar-benar masih mencintaimu dan tak pernah sedikitpun melupakanmu, Yahiko."

Yahiko mencium puncak kepala Konan, kini dia yakin hati wanita itu seutuhnya masih menjadi miliknya, bukan orang lain. Dia sadar, Konan pasti lebih menderita darinya.

.

.

.

.

"Kau masih belum tidur, Naruto?" tanya Sakura begitu melihat Naruto masih berdiri di balkom sambil memegang secangkir white coffee.

"Aku masih menunggu Yahiko-senpai pulang. Dia tadi menelponku dan mengatakan ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku." Kata Naruto lalu menyesap kembali white coffe di tangannya. Yup, sekarang Yahiko masih tinggal di apartment Naruto, setidaknya dengan dua sahabatnya tinggal bersamanya, Naruto akan sedikit terhibur.

"Baiklan, kalau begitu aku tidur dulu ya, Oyasumi~ Naruto." Sakura langsung menghilang dibalik pintu kamarnya.

Naruto tersenyum melihat tingkah Sakura yang menurutnya lucu, sepertinya sahabat pink-nya itu kelelahan setelah seharian belanja. Naruto kembali menyesap sambil menatap langit yang malam itu cukup cerah, menampilkan bulan yang dikelilingi bintang.

.

.

"Lihatlah, Naruto-kun, ada bintang jatuh." Teriak Hinata girang sambil menunjuk arah langit.

"Itu bukan bintang jatuh, Hinata, itu komet yang sedang bergerak," jawab Naruto cuek, pemuda itu masih asik mencomot snack keju, mereka saat ini sedang berdiri di balkon apartment-nya.

"Ah masa bodoh dengan itu, ayo cepat kau harus membuat permohonan." Hinata cepat cepat menutup matanya, mulutnya seperti komat kamit. Naruto tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya yang begitu kekanakan. Namun dia ikut juga memejamkan matanya dan berdoa, bukan, bukan pada bintang jatuh itu, tapi pada Tuhannya.

"Kau bilang tidak percaya, tapi kenapa kau ikut membuat permohonan?" tanya Hinata cemberut, ternyata gadis itu memergoki Naruto sedang berdoa.

"Tidak, aku tidak meminta permohonan pada bintang itu, tapi pada Kami-sama,"

"Alasan saja kau, tuan besar~," Hinata menggoda Naruto dengan menjulurkan lidahnya.

"Ah, kau tidak percaya? Awas kau ya?" Naruto yang merasa gemas pada gadis berambut indigo itu langsung menggelitiki gadis itu.

.

.

Naruto masih tenggelam dalam lamunannya saat Yahiko masuk dan menemukannya sedang senyum senyum sendiri. Yahiko mendekatinya dengan perasaan sedikit khawatir, jangan-jangan Naruto benar benar sudah gila.

"Apa yang sedang kau lakukan disini, Naruto?" Naruto sedikit kaget dengan kedatangan Yahiko yang tiba-tiba.

"Se-senpai, sejak kapan senpai ada disitu?" tanya Naruto sedikit kaget.

"Baru saja, aku masuk dan melihatmu sedang senyum senyum sendiri, apa yang sedang kau pikirkan, hah, Naruto?" tanya Yahiko yang sekarang sedang melepaskan jaket kulitnya.

"Tidak ada, senpai. Oh, iya, ngomong-ngomong apa yang ingin senpai sampaikan padaku?"

"Begini, Naruto, aku sedang menangani sebuah project, apa kau mau membantuku, Naruto?" Yahiko duduk di sofa dan mencomot cemilan yang ada di meja.

"Maaf senpai, bukannya aku menolak, tapi aku juga sedang lumayan sibuk dengan pekerjaanku sebagain freelancer designer," kali ini Naruto ikut duduk bersama Yahiko dan meletakkan cangkir white coffe yang sudah kosong.

"Tapi aku yakin kau akan merasa terbantu dengan project ini. Ini project untuk pertunangan Hinata."

"Pertunangan Hinata?" Naruto sedikit kaget mendengarnya. Ini benar benar pekerjaan yang tepat untuknya, untuk bisa membuat Hiashi melihatnya bukan sebagai seorang pemuda yang tak punya harapan melainkan seorang designer yang bisa diandalkan.

"Baiklah, aku terima." Jawab Naruto mantap.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

.

.

Huaaaaawww ternyata chapter ini lumayan panjang ya permirsaaahhh~ gomen kalau misalnya nggak memuaskan reader semua. Author udah lumayan lama nggak nulis jadi sedikit banyak mengurangi feel author dalam menulis. Selain itu sepertinya chapter ini ga ada NaruHinanya malah lebih mengarah YahiKonan, soalnya author lagi jatuh cinta sama nih pairing. Maaf juga kalau di chapter ini sedikit terasa hurt-nya, soalnya authornya lagi ga galau sih hehehehe.

Author nggak becus ini memang udah lama nggak update tapi author janji deh mulai sekarang bakal lebih rajin updatenya soalnya kebetulan author lagi libur 2 bulan soalnya abis ujian semester genap jadi bisalah meluangkan waktu buat update fic secepatnya.

Oke, buat semua yang baca author mohon untuk review-nya, soalnya review sebagian dari vitamin untuk author hehehehe. Buat yang mau ngasih kritik dan masukan juga author terima kok asal kritiknya beralasan dan membangun. Dan lagi maafkan author kalau betebaran typos dimana mana, buat yang mau ngasih masukan gimana enaknya ngeluluhin hati hiashi juga boleh, atau yang mau ngasih concrit buat fic ini? Silahkan~ REVIEW REVIEW REVIEW RIVIEW