Obon
By: Ietsuna G. Ventisette
G27
Cast: Giotto (Ieyasu Sawada); Tsunayoshi Sawada; Nana Sawada
Rated: G
Genre: Drama, Family
Katekyo Hitman Reborn!
©Akira Amano
[!]
OOC
GiottoxTsuna
PuriTsuna
•••
Agustus, 15 merupakan hari perayaan Obon. Dipercaya, arwah para leluhur akan turun ke bumi untuk menemui keluarganya, anak-cicitnya. Tepat saat itu, Sawada Tsunayoshi kecil tengah bermain di halaman belakang rumahnya sendirian. Sementara ibunya, Sawada Nana, tengah sibuk memasak di dapur tercinta.
"Wah..." Tsuna takjub akan sosok yang tiba-tiba muncul di bawah pohon rumahnya. Pria asing berjubah dan seluruh tubuhnya tampak bercahaya.
"Tsunayoshi," kata sang pria. Dia merentangkan kedua tangannya dengan senyuman.
Tsuna tersenyum riang dan menghampiri pria itu. Ia loncat memeluk pria yang menurutnya tak asing itu. "Oji-san!" Tak lupa ia pun menatap penuh minat mata jingga yang jernih itu.
"Kau tampak sehat, Tsunayoshi." Giotto memeluk erat cicitnya. Sudah sejak lama ia menantikan hari ini. Ia benar-benar sangat ingin bertemu dengan Tsunayoshi. Karena kelak ia akan menjadi penerusnya.
"Oji-san?" Tsuna menatap polos Giotto dengan kedua bola mata cokelatnya yang jernih. Ia memiringkan kepalanya. Sangat menggemaskan.
Giotto ingin sekali mencubitnya. Seandainya saja ia masih hidup... Giotto menghela napas. "Kau akan menjadi anak yang kuat, Tsunayoshi," katanya dengan satu kecupan di kening Tsuna.
Tsuna tak mengerti dan ia malah tertawa riang. "Oji-san!"
Giotto menepuk pelan kepala Tsuna dan menurunkannya. "Sampai jumpa," katanya. Giotto melambaikan tangannya.
"Dah, Oji-san!" Tsuna membalasnya dengan lambaian dua tangan.
"Tsuna?" Nana heran dengan putranya yang sedang melambai-lambai itu. "Ayo, makanan sudah siap." Nana menggendongnya masuk dengan senyuman. Ia sedikit mengerti.
•••
Di tahun-tahun berikutnya Giotto terus menemui Tsuna di waktu yang sama. Namun, saat Tsuna beranjak remaja, Giotto tak menemuinya secara langsung. Hanya melihatnya dari kejauhan.
"Dia sudah mendapatkan banyak teman," gumam Giotto. Ia tersenyum tipis.
Tsuna sendiri merasa ada sesuatu yang kurang. Entah apa sesuatu yang kurang itu. Ia memandangi pohon di halaman belakang rumahnya. Seperti ada yang sedang memerhatikannya di sana.
"Siapa?" kata Tsuna dengan suara tercekat. Di usianya yang sudah remaja ini, Tsuna mempunyai kepercayaan tersendiri. Ia takut akan makhluk halus. Dengan kata lain, hantu.
Dengan keberanian yang tak seberapa, Tsuna berdiri di bawah pohon itu. Ia merasa dingin. Rasa takut mulai menghinggapinya.
"Tsunayoshi."
Suara itu. Tsuna mengenalnya. Ia menoleh pada sumber suara. Matanya membelalak. Sosok itu...
"Kita bertemu lagi, Tsunayoshi," katanya. Ia tersenyum hangat. Giotto merentangkan kedua tangannya.
"Primo!" pekik Tsuna. Ia menghamburnya dengan pelukan.
Rasa rindu yang tak terbendung kini telah memuai dalam sebuah pelukan hangat. Tsuna merindukan segala cerita dari kakeknya, Giotto. Lama ia tak melihat sosoknya. Namun, ia selalu merasakan kehadirannya.
Giotto adalah sosok yang terkecuali di matanya. Tak ada rasa takut. Justru ia sangat merasa nyaman dengannya. Begitu pula dengan Giotto. Ia memerhatikan perkembangan Tsuna dari kacamata dunianya.
"Decimo."
•••
•Fin•
ありがとうございます。
Thanks for reading minna-san!
Ciao!
[Ietsuna G. Ventisette]
