She Is My Girl, Isn't She?


Disclaimer : J. K. Rowling ©

Note : I decided to re-write this fan fiction because of some personal reasons.

I hope you guys can enjoy this one.


Chapter 4


"Asterella sudah tidur?" tanya Al begitu Rose keluar dan menutup pintu kamar putrinya. Rose mengangguk lalu berjalan ke arah dapur.

Dia mengambil sebotol Wiski Api dan dua buah gelas kosong tanpa sihir. Dia lalu meletakannya di meja makan dan duduk di seberang Al. Dia lalu menuang ke dalam dua gelas itu dan menyodorkan satunya untul Al, lagi-lagi dia melakukannya tanpa sihir.

Al menerima gelasnya, tetapi tidak seperti Rose, dia tidak langsung menegak isinya. Dia mengawasi sepupunya itu dengan hati-hati.

"Aku—aku tidak mengira Thea akan bersikap seperti itu padanya," kata Rose setelah menghabiskan isi gelasnya. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Al, apa aku melakukan kesalahan?" dia menatap Al tepat di manik matanya, sementara itu matanya sudah basah.

Al tidak langsung menjawabnya. Dia menegak isi gelasnya dahulu dan kembali menuang untuk mereka berdua. "Aku tidak bisa menilai siapa yang bersalah di sini, tapi aku tahu bahwa kalian berdua sudah membuat putri kalian menjadi korbannya," jawabnya kemudian.

Air mata Rose mulai berjatuhan, dia berusaha menghapusnya dengan cepat. Dia sungguh tidak menginginkan semuanya berakhir seperti ini. Dia tidak ingin menyakiti siapapun, entah itu Asterella ataupun Scorpius. Tapi, dia melakukannya.

Dia memang tidak ingin Asterella mengetahui mengenai Scorpius ataupun sebaliknya, tetapi dia juga tidak pernah ingin Asterella membenci ayahnya sendiri. Apalagi bukan salah Scorpius jika selama ini dia tidak pernah hadir sebagai ayah untuk Asterella. Sama sekali bukan salah pria itu, karena dialah yang bersalah. Dialah yang menyembunyikan semuanya dari pria itu.

"Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang baginya, Al. Aku tidak mau menjadi masalah baginya dan keluarganya," katanya lagi kemudian.

"Tapi, kau sudah jadi masalah baginya bahkan sebelum kalian berdua sama-sama menyadarinya," balas Al.

Rose melebarkan matanya, tidak mengerti apa yang dimaksud Al.

Maka, Al pun mulai menjelaskan, "pergi dan menghilang? Apa kau pikir semua itu membuatmu berhenti menjadi masalah baginya? Sayangnya, tidak, Rose. Aku tahu kau menyembunyikan semua ini pasti karena pernikahannya dengan gadis Zabini itu, kan?"

Al menatap Rose dan Rose balik menatapnya. "Al, aku mengetahui mengenai kehamilanku seminggu sebelum pernikahannya. Apa menurutmu aku harus memberitahunya dan menghancurkan pernikahan mereka?"

Al menyeringai. "Dimana kau saat mengetahui kehamilanmu?"

"Rumania, aku—aku kan dialihtugaskan ke sana setelah KTT Sihir di Vienna," jawabnya.

"Dialihtugaskan? Menurutku, kau yang sengaja meminta semua itu," kata Al lagi. "Kita semua tahu kalau pemerintahan sihir di Rumania agak ketat soal informasi, kudengar di sana juga memberlakukan suatu sistem dimana penyihir tidak bisa dengan bebas ber-Apparate masuk negara itu dengan bebas. Bukankah itu jadi tujuan yang tepat untukmu melupakannya? Dengan menutup semua aksesmu untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi di Inggris termasuk pernikahannya, kau berharap akan lebih mudah untuk melupakannya, bukan?"

Rose tidak tahu harus menjawab apa, Al menjelaskannya dengan tepat.

"Sayangnya, seperti yang kukatakan sebelumnya, pergi dan menghilang tidak menyelesaikan masalah," lanjut Al. "Kau masih menjadi masalah bagi Scorpius Malfoy. Tapi, sayangnya kau tidak ada di sana untuk mengetahuinya."

"Al, aku tidak mengerti apa yang kaumaksud dengan—"

"Scorpius tidak pernah menikahi gadis Zabini itu, Rose."

Rose merasakan hatinya mencelos, seakan terjun bebas ke dasar perutnya.

"Dia membatalkan pernikahannya setelah dia tahu kau pergi ke Rumania. Itu sekitar dua minggu setelah keberangkatanmu ke sana. Aku memang tidak melihatnya berusaha menjangkaumu setelah pembatalan pernikahan itu. Tapi, aku tahu persis alasannya membatalkan pernikahan itu pasti karenamu."

Rose masih belum pulih dari keterkejutannya. Dan Al kembali melanjutkan:

"Dia bilang dia menyadari sesuatu, dan dia tidak bisa menikahi gadis yang tidak dicintainya. Zabini awalnya tidak menginginkan pembatalan ini, tentu saja, hingga akhirnya Scorpius berbohong padanya bahwa sebenarnya dia adalah seorang homoseksual," Al berhenti sebentar untuk tertawa, "jujur, harus kuakui Scorpius memang nekat. Tapi, itu berhasil. Zabini akhirnya setuju untuk membatalkan pernikahan."

Al berhenti untuk menegak wiskinya lagi.

"Zabini memang tidak mengatakan masalah homoseksual itu ke publik. Tapi, orangtuanya yang marah atas pembatalan pernikahan itu entah bagaimana membuat gosip itu cepat sekali menyebar di masyarakat. Draco Malfoy tentu saja marah besar saat mendengar gosip itu, ya dia memang sudah tidak senang saat tahu Scorpius menolak menikahi Zabini, tapi begitu dia tahu alasannya, dia murka. Scorpius keluar dari manor dan berhenti bekerja di Malfoy Corp akhirnya. Masa-masa itu agak sulit buatnya mengingat Scorpius tidak terbiasa hidup susah, dia tinggal di tempatku selama beberapa waktu sampai dia akhirnya mulai merintis bisnisnya sendiri. Awalnya memang kecil-kecilan, tapi sekarang penghasilannya sudah berlipat-lipat dari gajiku sebagai Auror. Orang tuanya pun akhirnya mulai memahaminya dan menerimanya lagi, ya, waktu memang obat yang paling mujarab," dia menjelaskan.

"Aku—aku tidak tahu kalau—"

"Tentu saja, kau tidak tahu. Kau menghilang selama bertahun-tahun. Kau bahkan tidak tahu kan kalau James sudah menikah?"

Rose menggeleng. "Maafkan aku, aku—"

"Tidak perlu minta maaf," potong Al cepat. "Tapi, Uncle Ron dan Aunt Hermione cukup sedih karena memikirkanmu, mereka selalu mengkhawatirkanmu."

Rose menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hatinya terasa begitu kelu begitu mendengar nama kedua orang tuanya. Dia sungguh putri yang buruk bagi mereka berdua, dan sekarang dia juga sudah menjadi ibu yang buruk untuk putrinya.

"Kau akan ikut pulang bersamaku kan setelah semua ini?" tanya Al.

"Aku—aku tidak tahu apakah aku masih pantas untuk pulang atau tidak, Al," jawab Rose sedih.

"Rose, apa yang kaubicarakan? Kami semua menyayangimu, mengapa kau harus tidak pantas untuk pulang?" balas Al. "Lagipula, aku sudah menunggu sekian lama untuk bisa menikah, aku tidak berniat menunggu lebih lama lagi. Aku sudah cukup tua, tahu."

"Apa hubungannya pernikahanmu denganku?" tanya Rose bingung.

"Apa menurutmu aku akan menikah tanpa kehadiranmu di pernikahanku, begitu?"

"Demi Celana Merlin, Al, kau tidak mungkin melakukan itu? Bagaimana kau bisa melakukan itu? Bagaimana jika kau tidak pernah menemukanku dan aku tidak pernah pulang, akankah kau tidak pernah menikahi pacarmu?"

Al tertawa. "Aku tahu kau pasti akan pulang makanya aku menunggumu," jawabnya. "Tapi, sebelum kita pulang, kurasa kau harus membereskan masalahmu dengan Scorpius dulu. Maksudku, kalian tidak bisa berakhir seperti ini."

"Aku sudah membuat begitu banyak kekacauan, Al. Aku tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Scorpius bahkan sekarang pergi entah kemana."

"Kita akan menemukannya, dan semuanya akan baik-baik saja, percayalah," kata Al sungguh-sungguh.

Rose menatap sepasang mata hijau itu dalam-dalam, dia sungguh ingin mempercayainya. Dia sungguh-sungguh ingin percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Dulu aku memang menginginkan Dad, tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah tidak mau lagi."

Scorpius menegak isi gelasnya lagi. Dia bahkan tidak ingin sudah berapa gelas yang ditegaknya sepanjang sisa malam itu. Dia memejamkan matanya, berharap kegelapan segera menelannya.

"Kumohon, aku tidak mau lagi."

Suara itu terus menerus terdengar di dalam kepalanya. Pikirannya tidak mau berhenti seolah semua yang diminumnya tidak memberi efek apapun. Haruskah dia memantrai dirinya sendiri untuk menghentikannya?

"Mom, suruh dia pergi…"

Belum pernah dia merasa sesakit ini sebelumnya. Tentu saja, memang ada kesakitan yang lebih menyiksa dibanding seorang ayah yang ditolak putrinya? Putrinya sendiri, darah dagingnya…

Putri yang bahkan tidak dia ketahui eksistensinya sampai kemarin.

"Anakku tidak tahu apa-apa soal dirimu, yang dia tahu dia hanya punya seorang ibu…"

"…tolong biarkan aku membawanya pulang, kembalilah ke Inggris—"

"Pergilah dari sini, Scorpius…"

"Brengsek!"

Bersamaan dengan keluarnya makian kasar khas Muggle itu dari mulutnya, Scorpius melempar gelasnya, menciptakan bunyi keras saat beling itu membentur lantai marmer ruangan itu dan hancur berkeping-keping. Sebenarnya apa kesalahannya sampai dia harus dihukum dengan cara seperti ini?

Mungkin seharusnya dia tidak menemui mereka. Dia seharusnya mendengarkan Rose sejak awal untuk pergi dan menjauh. Atau seharusnya dia tidak pernah ke Kanada dan tidak pernah menemukan mereka sama sekali.

Toh, Rose juga sudah merawat putrinya dengan sangat baik selama ini, dan pria asing itu, pria itu juga terlihat sangat menyayangi putrinya. Mereka berdua sudah memiliki kehidupan yang baik. Mereka tidak membutuhkannya. Mereka tidak menginginkan kehadirannya.

Harusnya dia memahami ini sejak awal.


Aku sudah ke apartement-nya dan ke Malfoy Manor. Tapi, dia tidak di sana. Kurasa dia memang tidak di Inggris. Jangan khawatir, urus saja keponakanku dengan baik, aku akan kembali bersamanya.

Rose membaca pesan singkat yang dikirim Al. Al langsung ber-Apparate ke Inggris begitu pagi menjelang. Dia berjanji akan kembali bersama Scorpius. Tapi, bahkan jika Al menepati janjinya, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada pria itu.

Dia sungguh tidak menyangka putrinya akan bersikap seperti itu dan menolak kehadiran pria itu. Asterella memang sudah mulai berhenti menanyakan tentang ayahnya sejak awal tahun lalu, namun dia sama sekali tidak mengira bahwa sikapnya akan menjadi seperti itu. Penolakan Asterella kepada Scorpius juga membuatnya sakit dan merana.

"Rose?"

Dia tersadar dari lamunannya, Dave sudah berdiri di depannya.

"Apa yang kau pikirkan? Kau sampai tidak mendengarku mengetuk pintu sejak tadi," kata pria itu. "Untung aku memiliki ini," katanya lagi sambil menunjukan kunci lalu menyimpannya.

"Aku—"

"Dimana Thea? Dia baik-baik saja, kan?" Dave bertanya. Tapi, tanpa menunggu jawabannya, pria itu beranjak dan berjalan ke arah kamar gadis kecil itu.

"Dia baik-baik saja, tapi tadi dia masih tidur," jawab Rose sambil mengikuti Dave. "Kau pulang lebih cepat? Bukankah seharusnya siang ini kau masih ada pertemuan?" tanyanya sambil menahan pria itu.

Dave berhenti, membalik tubuhnya untuk menatap Rose. "Aku menundanya. Menurutmu, bagaimana aku bisa memikirkan bisnis sementara aku tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada putrimu?"

"Aku kan sudah bilang dia baik-baik saja," balas Rose.

"Aku tetap ingin memastikannya," kata Dave lagi lalu membuka pintu kamar Asterella. Rupanya gadis kecil itu baru saja bangun dari tidurnya. Dia menggeliat pelan di ranjangnya sebelum tersenyum begitu berpaling ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.

"Dave!" teriaknya dengan bersemangat.

Dave memeluknya, "apa yang terjadi padamu? Hah? Kau membuatku khawatir."

"Aku baik-baik saja, aku hanya melihat cahaya biru dan kaget," jawab gadis kecil itu dengan polos sambil melepaskan pelukan pria itu.

"Cahaya biru?" tanya Dave.

"Iya, cahaya berwarna biru keluar dari tanganku. Seperti penyihir-penyihir di dalam film, aku takut sebenarnya tapi Mom bilang itu wajar," jawab Thea.

Dave menatap Rose. "Apa maksudmu wajar?"

"Ah—itu… Aku—"

"Jadi, kau pulang lebih cepat, Dave?" tanya Thea, memotong ibunya.

"Iya, seperti yang kubilang, kau membuatku cemas. Jadi, aku pulang lebih cepat," jawab Dave.

"Kalau begitu aku harus lebih sering membuatmu cemas," balas Thea dengan bersemangat. "Jadi, sekarang kau akan mengajakku nonton film dan makan es krim, kan?"

"Tidak sekarang, Tuan Putri. Kau baru saja mengalami—"

"Aku tidak apa-apa. Lihat, aku bahkan tidak terluka sedikit pun," potong Thea. "Kumohon, aku ingin keluar."

Dave menatap Rose lagi.

"Boleh, ya, Mom?"

Rose tersenyum. "Jika Dave mau mengajakmu, tentu saja, pergi bersenang-senanglah," jawabnya.

"Yeay! Kau tidak mungkin menolakku, kan, Dave?" Thea berpaling pada Dave dan menatapnya dengan mata membulat.

Dave tersenyum, mengulurkan tangannya untuk membelai puncak kepala gadis kecil itu. "Tentu, sekarang bersiap-siaplah dulu," katanya lalu keluar kamar. Asterella bersorak gembira lalu berlari ke kamar mandinya.

Rose lalu keluar kamar menyusul Dave. "Kau mau kopi?" dia menanyai pria itu sambil berjalan ke arah dapur. Dave mengangguk dan duduk di kursi tinggi di dapur. Sementara, Rose mulai membuatnya.

"Kau tidak serius menganggap imajinasinya soal cahaya itu wajar, kan?" tanya pria itu saat Rose meletakan secangkir kopi di depannya. "Dan ini bukan kali pertama dia membicarakan hal-hal aneh seperti itu."

Rose tidak langsung menjawabnya.

"Rose, umurnya sudah delapan tahun lebih. Imajinasi-imajinasi semacam itu—kurasa dia seharusnya sudah melewati masa itu," kata pria itu lagi.

"Dave, kau tidak perlu terlalu mencemaskannya. Dia baik-baik saja," jawab Rose sambil berusaha tersenyum.

Namun, Dave masih terlihat tidak yakin. "Entahlah, kurasa kau juga seharusnya mulai memberikan pemahaman padanya, bukannya malah mengatakan padanya bahwa hal-hal seperti itu wajar."

Rose tidak menganggapinya lagi. Tentu, tentu saja itu wajar. Dia penyihir dan sihirnya mulai terlihat. Harusnya pemahaman itulah yang dia berikan pada putrinya itu.

"Oh iya, ngomong-ngomong kau tidak bersiap-siap?" tanya Dave setelah menghirup kopinya.

"Tidak, aku tidak ikut. Kalian saja yang pergi," jawab wanita itu sambil membenarkan ikatan rambutnya.

"Baiklah, aku tahu kau pasti tidak tidur semalaman karena menjaganya. Istirahatlah dulu sebentar, matamu terlihat butuh dipejamkan," kata pria itu lagi sambil tersenyum.

Rose mengangguk.

"Dan soal pria yang kemarin, siapa dia, Rose?" tanya Dave kemudian. "Kau terlihat terkejut dan tidak menyukai kehadirannya. Apa yang diinginkannya darimu? Maksudku, jika dia teman lamamu, apakah ada hal yang tidak baik terjadi di antara kalian?"

Rose ingin sekali menghindari pertanyaan ini. Tapi, tidak. Dia sudah terlalu banyak menyakiti Scorpius dengan semua kebohongannya. "Dia—"

"Mommy!"

Rose berhenti.

"Mom, aku tidak bisa menemukan pakaianku!" teriak Asterella lagi.

Rose menatap Dave sesaat sebelum beranjak dari kursinya dan pergi ke kamar putrinya itu. Asterella yang masih memakasi handuk sedang membongkar isi lemarinya, dia menatap ibunya begitu mendengar pintu kamarnya terbuka.

"Mom, dimana mantel hijauku?" tanyanya.

"Kau kan baru memakai mantel itu kemarin, sayang," jawab Rose sambil menghampirinya.

"Bukan yang itu," Asterella menggeleng. "Yang satunya, yang hijau muda itu, Mom."

Rose mengingatnya sesaat, dia lalu membuka pintu lemari yang paling kanan dan mengeluarkan sebuah mantel hijau muda dengan aksen di bagian pinggangnya. "Yang ini?" dia menunjukkannya kepada Asterella.

"Sempurna," katanya mengambil mantel itu dari ibunya. "Terima kasih, Mom," katanya lalu pergi ke kamar mandi dengan membawanya.

Rose merapikan pakaian lainnya yang berantakan. Menatanya kembali satu persatu ke dalam lemari. Deretan pakaian berwarna atau bernuansa hijau memenuhi sebagian besar kabinet-kabinet di dalam lemari itu. Dia bahkan pernah bertengkar dengan putrinya itu karena putrinya itu menolak menggunakan sweater merah yang dibelikannya. Tentu saja, sepanjang sejarah dia belum pernah menemukan rambut platina Malfoy terlihat indah dalam balutan busana berwarna merah. Hijau dan hitam memang yang paling cocok.

"Mom, bagaimana? Cantik, kan?" Asterella sudah muncul lagi di hadapannya dengan mengenakan rok hitam pendek, legging hitam, dan mantel hijaunya tadi.

Rose mengangguk. "Kapan sih putriku ini tidak terlihat cantik?" dia menghampiri Asterella dan memeluknya singkat. "Ayo, biar Mom menata rambutmu."

Asterella tersenyum dan langsung duduk di depan meja riasnya. Rose mengambil pengering rambut dan mulai mengeringkannya. Dia lalu mengambil sebuah sisir dan mengepang sisi kiri rambut putrinya.

"Bagaimana? Kau suka?" tanyanya begitu selesai.

"Tentu saja," Asterella tersenyum memandang ibunya. "Mom memang yang terbaik," tambahnya.

Rose membalas senyuman putrinya, dia lalu berjongkong di depannya. Dia mengulurkan tangannya dan menyelipkan beberapa helai rambut ke telinga kanan putrinya. "Kau mirip sekali dengan ayahmu," ucapnya pelan.

Raut wajah Asterella tiba-tiba berubah. Dia memalingkan wajahnya. "Dulu setiap kali aku ingin membicarakannya Mom selalu menghindar, tapi kenapa sekarang Mom yang malah memulainya," katanya.

"Thea, kau tidak bisa bersikap seperti ini. Dia ayahmu."

"Dave menungguku!" seru Asterella seolah tidak mendengarkan. Dia lalu melompat turun dari kursinya dan berjalan keluar kamar. "Dave, aku sudah siap. Ayo, berangkat!"

Rose menghela napas. Lalu menyusul putrinya.

"Nah, Mom, kami berangkat, ya?" tanya Asterella begitu melihatnya keluar. Rose mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk membelai kepala putrinya.

"Jangan menyusahkan Dave, ya," dia mengingatkan.

Asterella mengangguk lalu berlari ke luar. "Ayo, Dave!"

"Baiklah. Kami pergi dulu, ya," kata Dave sambil memeluknya singkat. "Tidurlah beberapa jam setelah ini."

"Tentu," Rose tersenyum. "Hati-hati," tambahnya sebelum Dave menyusul Asterella.


Rose baru saja akan menutup pintu depan ketika tiba-tiba Al ber-Disapparate di depan rumahnya. Tapi, dia tidak sendiri. Sepupunya itu menepati janjinya. Dia kembali bersama Scorpius. Namun, ada yang janggal. Al seperti menangga tubuh Scorpius agar tidak ambruk.

"Apa yang terjadi, Al?" dia berlari menghampiri mereka.

Darah segar terlihat mengalir dari kaki sebelah kanan Scorpius membasahi hitam yang dikenakannya. Dan bukan hanya itu, wajah kedua pria itu juga babak belur. Bahkan sedikit warna yang tertinggal di wajah Scorpius mulai terkuras habis.

"Dia mabuk, dia menolak ikut denganku. Kami berkelahi tapi aku akhirnya aku berhasil menyeretnya," jelas Al sambil memapah Scorpius masuk. "Tapi, kurasa aku tidak memukulnya terlalu keras—"

"Al! Splinching!" teriak Rose. Dia merobek celana Scorpius dan menampakan sepotong daging tidak ada di sana, seolah diiris dengan pisau.

"Demi Salazar!" Al menatap luka terbuka itu dengan horor. "Aku selalu menganggap splinching adalah sesuatu yang konyol," gumamnya pelan. Dia lalu segera menggunakan mantra layang pada Scorpius dan membawanya masuk.

"Ke kamarku, ke kamarku saja!" teriak Rose saat Al akan membaringkan Scorpius di sofa depan. Sementara itu, dia berkeliling dengan panik. Esens Dittany… Dimana dia menyimpannya? Dia lalu mengambil tongkatnya sendiri dan menggunakan mantra panggil.

"Accio dittany!"

Sebuah botol cokelat kecil meluncur keluar dari dalam laci penyimpanan di dapur. Rose menangkapnya dengan cepat dan segera berlari ke kamarnya. Al sudah membaringkan Scorpius di ranjangnya. Mata Scorpius setengah terpejam, hanya seleret putih bola mata yang kini kelihatan di antara pelupuknya.

Rose duduk di tepi ranjangnya. Lalu dia berusaha mencabut tutup botol kecil itu, tapi tangannya gemetar.

"Sini," Al merebut botol itu dan membukakannya. "Ini," dia mengembalikannya kepada Rose.

"Terima kasih," ucapnya lalu meneteskannya ke luka yang berdarah. Asap kehijauan mengepul ke atas dan setelah asap itu lenyap, luka itu sudah berhenti berdarah. Rose meneteskannya sekali lagi dan luka itu kini keliatan seperti sudah beberapa hari, kulit baru kemerahan membentang di atas apa yang tadinya hanya daging terbuka.

"Hanya itu yang kurasa aman untuk dilakukan sekarang. Ada mantra-mantra yang bisa membuatnya kembali utuh, tapi aku tidak berani mencobanya, aku takut akan membuatnya makin parah… dia sudah kehilangan banyak sekali darah…"

Rose menatap bagian kanan ranjangnya yang mana seprainya sudah penuh dengan bercak-bercak merah.

"Aku—aku tidak tahu kalau akan seperti ini…" kata Al lalu duduk di samping Rose. "Apa tidak kita bawa dia ke St Mungo saja? Atau rumah sakit sihir apa yang ada di sini?"

"Apa tidak masalah untuknya ber-Apparate sekarang?" Rose balas bertanya.

"Kau benar, mungkin kita harus menunggu hingga lukanya sedikit membaik dulu," kata Al kemudian.

Rose mengangguk lalu menggunakan tongkatnya untuk memperbaiki hidung Scorpius yang patah dan memulihkan beberapa bekas lukanya. Setelah selesai, dia berpaling kepada Al.

"Tidak, tidak," Al menggeleng. "Aku bisa melakukannya sendiri."

Rose mengangguk. "Kau seharusnya tidak memaksanya," katanya kemudian.

"Aku tahu," balas Al. "Tapi, kupikir kalian harus menyelesaikannya bagaimana pun juga…"

"Dimana kau menemukannya, ngomong-ngomong?"

"Di sebuah hotel di pusat kota, tempat dia menginap sebelumnya," jawab Al. "Aku tidak tahu berapa banyak yang diminumnya, tapi saat aku datang, dia sudah benar-benar mabuk."

Rose mengalih tatapannya. Dia menatap Scorpius yang sekarang matanya sudah terpejam sempurna dengan perasaan bersalah.

"Rose, aku harus pergi sebentar. Aku harus membereskan kekacauan yang dibuatnya di penginapan Muggle itu," kata Al sambil berdiri. "Aku akan segera kembali," lanjutnya sebelum menghilang.


Kepalanya rasanya sakit bukan main, seperti baru saja dihantam palu godam raksasa. Tapi, bukan hanya kepalanya. Tubuhnya pun terasa remuk, mungkin seseorang baru saja mengutuknya dengan Kutukan Crusiatus. Dia berusaha membuka matanya dengan perlahan. Otot-otot wajahnya bahkan terasa kaku dan sulit digerakan. Dan hal terakhir yang bisa diingatnya adalah Albus Severus Potter yang meninju wajahnya. Demi Salazar, apa yang telah brengsek-Potter itu lakukan padanya?

"Scorpius?"

Suara itu, suara wanita itu. Kenapa sekarang suaranya terdengar olehnya? Tapi, tidak hanya suaranya, ketika dia sudah berhasil membuka matanya, dia menemukan sosok wanita itu sedang memandangnya. Ya, bukan hanya memandang tapi mengawasinya dengan penuh perhatian. Dia bahkan bisa melihat kecemasan berpijar di kedua netra hangat wanita itu. Tapi, tapi, apakah itu artinya wanita itu mencemaskannya? Ah, tidak. Ini pasti hanya mimpi. Dia pasti sedang bermimpi.

Dia lalu memejamkan matanya lagi, berusaha bangun dari mimpi menyiksa nurani ini. Namun…

"Scorpius, kau baik-baik saja?"

Sialan! Kenapa suara wanita itu terus terdengar olehnya sih?

Dia membuka matanya lagi, wanita itu tidak menghilang. Sosoknya malah semakin nyata. Dia pun ternyata bisa membaui aroma lembut vanili yang menguar dari rambut merahnya. Siluet ruangan itu pun juga semakin terbentuk dengan jelas. Dia ada di dalam sebuah ruangan, sebuah kamar. Dia terbaring di sebuah ranjang berseprai salem sekarang. Dan wanita itu duduk di tepi ranjang, dia mencoba menggerakan anggota tubuhnya yang terasa kaku, tangannya, tapi ternyata tangannya digengam, tangan kanannya ternyata berada di dalam genggaman wanita itu.

"Scorpius? Kau bisa mendengarku?" tanya wanita itu lagi, tapi kali ini wanita itu juga mengulurkan tangannya. Menyentuh wajahnya, mengusap pipi kanannya. Dan sentuhan ini terasa sangat nyata.

Dia lalu menggerakan tangan kirinya yang bebas, meraih tangan kanan wanita itu yang bergerak di wajahnya. Dia bisa menyentuhnya ternyata. Dan wanita ini nyata.

"Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau tidak, tapi jika ini mimpi maka aku tidak ingin terbangun lagi," kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa bisa dicegahnya.

Wanita bersurai merah itu sontak bercucuran air mata begitu mendengarnya, dan tanpa izinnya, wanita itu tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Dan menangis keras di dadanya. Dan dia, di tengah-tengah kebingungan ini, tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain merengkuh wanita di dalam dekapannya ini, memuaskan dirinya membaui aroma vanilinya, berharap jika suatu saat nanti dia terbangun, semua itu akan cukup untuk dikenangnya sendiri.

"Aku minta maaf," desis wanita itu di tengah-tengah isakannya. "Kumohon, maafkan aku…"

Dia hanya mengelus lembut punggung wanita itu sementara wanita itu terus menerus menggumamkan, "maaf, Scorpius… Maafkan aku…", berkali-kali.


To Be Continued...


Author's note:

Hai:) Ternyata bener ya beberapa review bisa bikin semangat nulisnya. Maaf kalo masih belum memenuhi ekspektasi. Semoga menghibur kalian, terimakasih yang sudah meluangkan waktunya buat baca, apalagi kalau sampai memberikan review :)