-Sequel of ChikinChikin-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, No Bash please ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

(A/N : Fix! Sudah diperbaiki... Katakan padaku lagi lewat review jika masih ada kesalahan. Thank you...)

.

.

.

Still You

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 4

What Happen...

Previous chapter

Kyungsoo tiba-tiba mencium bibir Jongin. Jongin sempat terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya Jongin memeluk tubuh Kyungsoo masih dengan bibir mereka yang sedang saling bertemu. Kyungsoo tiba-tiba menghentikan ciumannya. Kyungsoo lupa dengan Junmyeon yang sedang asik melihat adegan drama sepasang kekasih yang sedang melepas rindu.

Bibir lembut Kyungsoo kembali mencium bibir Jongin setelah meminta Junmyeon untuk pulang. Kyungsoo memanfaatkan waktu, perlu menunggu lama bagi Kyungsoo untuk bisa seperti ini dengan Jongin. Meski Kyungsoo tidak tahu apa Jongin benar-benar kembali ke Korea atau tidak. Terpenting sekarang adalah Kyungsoo melepaskan semua rasa rindu pada pria menyebalkan, yang tak lain adalah kekasihnya ini.

.

.

.

.

"Kau belum menemui halmeoni?".

"Belum. Setibanya aku di Korea aku langsung menemuimu".

"Kau ini. Jika halmeoni tahu dia pasti marah".

"Sekarang pulanglah dulu. Temui halmeoni".

"Halmeoni nanti saja. Sekarang aku masih sangat rindu padamu". Jongin mendekap tubuh Kyungsoo. Kyungsoo berontak karena sekarang Jongin terlalu kencang memeluknya, membuat wajah Kyungsoo menempel di dada Jongin. Sampai-sampai Kyungsoo sulit bernapas.

"Ya! Pulanglah dulu. Istirahat. Baru kau temui aku lagi".

"Kau ini. Aku baru saja datang dan kau sejak tadi mengomel padaku", protes Jongin.

"Datanglah dengan cara yang benar. Tidak perlu jahil. Juga katakan jika kau akan pulang, jadi ada yang bisa menjemputmu di airport".

"Ya, Do Kyungsoo ini kan kejutan".

"Kejutan? yang ada aku kesal padamu. Berpura-pura menyewa restoranku, menciumku tiba-tiba".

"Arasseo. Arasseo. Aku pulang", ucap Jongin sambil mencubit pipi Kyungsoo.

Jongin keluar dari restoran Kyungsoo. Kyungsoo tidak mengantar Jongin sampai dia naik taksi, hanya melihatnya dari dalam restoran. Setelah melihat Jongin menstop taksi, Kyungsoo kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan restoran. restoran tetap tutup, Kyungsoo hanya membereskannya saja. Setelah itu Kyungsoo akan pergi ke rumah halmeoni. Tapi, tiba-tiba Jongin kembali masuk dan menarik tangan Kyungsoo.

"Ya, mau kemana?".

Jongin tidak menjawab. Memaksa Kyungsoo masuk ke dalam taksi.

"Hari ini kau sanderaku".

"Heh? Ya! Kim Jongin, berhenti melakukan hal aneh. Restoran belum aku kunci". Jongin lalu mencoba mencari dimana handphone Kyungsoo. Setelah dapat, Jongin lalu mencari nama Junmyeon di phonebook Kyungsoo.

"Kau menelepon siapa?". Lagi-lagi Jongin tidak menjawab.

"Jun hyung? Ini aku Jongin, maafkan aku. Apa hyung bisa kembali ke restoran dan mengunci restoran? Kyungsoo ada keperluan sangat mendadak sekali sampai tidak sempat mengunci restoran. maafkan hyung, dan terima kasih".

Kyungsoo memukul lengan Jongin berkali-kali.

"Ah... sakit, Do Kyungsoo".

"Kau ini selalu melakukan hal aneh".

"Tapi kau tetap suka padaku, kan?".

"Jangan menggodaku!".

Akhirnya mereka sampai di rumah halmeoni. Kyungsoo turun dengan membawa beberapa barang bawaan Jongin lainnya selain koper. Kyungsoo tidak tahu apa isinya karena semua isinya dibungkus rapi dengan kertas kado. Sepertinya ini untuk halmeoni. Jongin menurunkan koper besarnya dari bagasi taksi. Kyungsoo masuk lebih dulu ke dalam rumah, pagar tidak halmeoni kunci jadi Kyungsoo bisa masuk tanpa harus meminta halmeoni membukanya.

"Oh, Kyungsooya? Ada apa? Kau tidak ke restoran?".

"Aku baru saja dari restoran, halmeoni".

"Lalu? Apa yang kau lakukan disini?".

Belum sempat Kyungsoo menjawab, Jongin masuk dengan memanggil nama halmeoni dengan suara keras.

"Halmeoni!", Jongin langsung memeluk halmeoni begitu sampai.

"Kau kenapa bisa datang bersama Kyungsoo?".

"Halmeoni, aku rindu padamu". Jongin tidak menjawab. Tiba-tiba halmeoni memukul punggung Jongin yang sedang memeluknya.

"Ah... ah... sakit, halmeoni. Kenapa? Wah... aku benar-benar tidak percaya, aku baru saja kembali dan semua wanita yang aku sayang menyambutku dengan memukulku".

"Kau tiba dan langsung menemui Kyungsoo?", omel halmeoni. Jongin hanya tersenyum menjawab pertanyaan halmeoni.

"Aigu... kau ini. Lalu itu, ada apa dengan rambutmu?".

"Aku tampak lebih keren kan, halmeoni?", tanya Jongin sambil berpose seperti model.

"Tidak sama sekali. Rambutmu tidak jauh beda dengan rambutku", ucap halmeoni lalu pergi dari hadapan Jongin. Kyungsoo menahan tawa mendengar apa yang dikatakan halmeoni. Jongin yang sadar, melirik ke arah Kyungsoo.

"Kau menertawaiku?".

"Tidak".

"Bohong".

"Benar".

Jongin lalu menggelitik tubuh Kyungsoo. halmeoni yang melihat apa yang dilakukan Jongin, lalu menghampiri Jongin dan kembali memukul punggung Jongin. Jongin pun berhenti membuat Kyungsoo kegelian.

"Hentikan! Bawa barang-barangmu ke kamar, ganti bajumu".

"Ne halmeoni". Jongin berhenti menggelitik tubuh Kyungsoo lalu naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Kyungsoo membantu Jongin membawa kopernya untuk bisa sampai ke kamarnya.

"Kopermu kau isi apa? Setahuku saat pergi kau kopermu tidak seberat ini".

"Aku membawa cintaku untukmu, Do Kyungsoo". Kyungsoo menghentikan langkahnya, melirik Jongin dengan tatapan aneh.

"Aishh, berhenti mengatakan hal itu. Telingaku geli mendengarnya".

.

.

.

.

"Halmeoni, ini untukmu". Jongin memberikan kotak yang terbungkus kertas kado bermotif bunga-bunga kecil berwarna pink pada halmeoni.

"Apa ini?".

"Hadiah".

"Memang aku ulang tahun hari ini?".

"Sudah, halmeoni terima saja, dan buka".

Halmeoni membuka kotak yang diberikan Jongin. Isinya sebuah syal rajutan berwarna merah dan coat berwarna coklat. Kyungsoo yang sedang membuat teh di dapur tersenyum melihat Jongin yang begitu senang bertemu halmeoni. Kyungsoo membawa nampan dengan tiga cangkir teh hangat diatasnya.

"Kyungsooya, bagaimana? Bagus?", tanya halmeoni yang sedang mencoba coat dan syal pemberian Jongin.

Kyungsoo mengangguk, "cantik, halmeoni".

"Terima kasih uri Jongin", ucap halmeoni sambil mengelus lembut pipi Jongin. Halmeoni lalu pergi menuju kamarnya untuk menyimpan pemberian Jongin. Tak lama halmeoni kembali keluar dari kamarnya. Sudah berdandan rapi.

"Halemoni mau pergi?", tanya Jongin.

"Ohh... aku sudah berjanji pada pamanmu di Ilsan untuk menemuinya hari ini".

"Aku baru saja datang dan halmeoni mau pergi?".

"Kau bisa ditemani Kyungsoo. Aku sudah berjanji, tidak enak jika harus membatalkan janjiku".

"Aku benar-benar seperti dibuang. Halmeoni pergi, dan aku ditinggalkan dengan dia, dia akan mengomel padaku terus, halmeoni", rengek Jongin.

"Itu salahmu sendiri, kembali kesini tanpa mengabari apapun".

"Arasseo. Maafkan aku, halmeoni. Mau aku antar?", tawar Jongin.

"Tidak perlu, kau istirahat saja. Aku pergi sendiri saja".

"Hati-hati, halmeoni. Hubungi aku jika ada apa-apa".

Sekarang hanya tinggal Jongin dan Kyungsoo yang ada di rumah. Kyungsoo merapikan meja, Jongin kembali masuk setelah mengantar halmeoni sampai depan rumah. Jongin duduk di sofa dan menarik Kyungsoo. Memaksa Kyungsoo untuk duduk. Lalu Jongin membaringkan tubuhnya dengan kepala yang tidur di pangkuan Kyungsoo.

"Tidurlah di kamar".

"Tidak mau".

"Lehermu bisa sakit jika kau tidur seperti ini".

"Kau tidak rindu padaku?".

"Memang kenapa?".

"Jawab pertanyaanku, Do Kyungsoo".

Kyungsoo tidak menjawab. Kyungsoo mengecup bibir Jongin. Lalu mengangkat kepala Jongin dan pergi, sehingga kepala Jongin sekarang tak lagi bersandar di pangkuan Kyungsoo.

"Kau mau kemana?".

"Ke luar angkasa", jawab Kyungsoo asal.

"Aku ingin makan ayam pedas manis buatanmu. Buatkan untukku, Kyungsooya".

"Ayam pedas manis? Biar aku periksa bahan-bahannya dulu". Kyungsoo lalu memeriksa isi kulkas. Apa bahan-bahan untuk membuat ayam pedas manis ada atau tidak, jika tidak Kyungsoo terpaksa harus pergi ke supermarket untuk berbelanja, itu pun jika Jongin tetap ingin makan ayam pedas manis.

"Jongina, daging aya-"

Kyungsoo melihat Jongin tertidur di sofa. Kyungsoo pergi ke kamar Jongin mengambil bantal untuk Jongin. Kyungsoo menutup sedikit goden agar Jongin tidak terganggu dengan sinar matahari yang masuk lewat jendela dengan kaca yang besar. Kyungsoo lalu pergi ke supermarket, membeli bahan-bahan yang kurang untuk membuat ayam pedas manis. Sebenarnya, Kyungsoo bisa saja mengambil bahan yang kurang di restoran tapi, lebih baik pergi ke supermarket.

Sesampainya di supermarket Kyungsoo langsung mencari daging ayam. Setelah itu Kyungsoo mencari bahan-bahan lainnya. Kyungsoo berhenti di tempat sayur-sayuran, Kyungsoo menyimpan keranjang belanjaannya di lantai. Kyungsoo memilih beberapa paprika untuk ia tambahkan nanti di ayam pedas manisnya. Setelah selesai memilih dan Kyungsoo akan memasukkan paprika ke dalam keranjang belanjaannya. Tapi, keranjang belanjaannya berisi barang-barang yang berbeda. Kyungsoo mengangkat keranjang belanjaan yang ada, memeriksa isinya. Itu benar bukan milik Kyungsoo. Kyungsoo melihat sekeliling, mencari seseorang yang belum jauh pergi dari tempatnya. Sampai Kyungsoo melihat seorang pria berjalan menuju kasir dengan membawa keranjang belanjaan milik Kyungsoo. Kyungsoo tahu karena Kyungsoo melihat bungkusan ayam yang dia beli. Dengan cepat Kyungsoo mengejar pria itu.

Pria itu sudah dikasir, menaruh keranjang belanjaannya di meja kasir. Sampai akhirnya dia sadar kalau semua itu bukanlah barang belanjaannya.

"Oh, ini bukan belanjaanku".

Kyungsoo akhirnya sampai di meja kasir tempat keranjang belanjaannya sekarang.

"Sebentar. Itu miliku".

Pria yang juga sedang bingung dengan isi keranjang belanjaannya yang berbeda menatap Kyungsoo yang sedang mengatur nafasnya.

"Kau salah mengambil keranjang. Itu milikku". Kyungsoo lalu pergi setelah mendapatkan kembali keranjang miliknya. Pria itu hanya mendang Kyungsoo dengan bingung dan tersenyum melihat Kyungsoo.

.

.

.

.

Kyungsoo kembali dari supermarket dengan sebelah tangan yang menjinjing plastik belanjaan. Kyungsoo melihat Jongin masih tertidur. Jika sedang tidur Jongin seperti anak kecil. Wajah menyebalkannya hilang jika Jongin sedang tidur. Kyungsoo menyimpan belanjaannya dan menghampiri Jongin. Kyungsoo membuka sedikit kaca jendela agar ada angin masuk. Karena Kyungsoo melihat ada sedikit keringat di kening Jongin.

Kyungsoo kembali ke dapur menyiapkan bahan-bahan untuk memasak ayam pedas manis untuk Jongin. Kyungsoo teringat dengan pria yang tadi salah mengambil keranjang belanjaannya di supermarket. Kyungsoo sepertinya pernah melihat wajahnya. Tapi Kyungsoo tidak yakin dimana dia pernah melihat wajahnya. Kyungsoo kembali fokus dengan masakannya. Masakannya sebentar lagi matang. Kyungsoo membangunkan Jongin.

"Jongina, bangunlah". Kyungsoo membangunkan Jongin dengan sedikit mengoyang-goyangkan tubuh Jongin.

Jongin menggeliat. Matanya perlahan membuka. Jongin melihat Kyungsoo sedang berjongkok di sampingnya.

"Bangunlah. Mandi. Sebentar lagi masakanku matang".

Jongin bangun, tak langsung berdiri. Perlu beberapa detik lagi untuk membuatnya benar-benar bangun. Jongin melihat plastik belanjaan di dapur.

"Kau pergi belanja?".

"Hmmm".

"Kenapa kau tidak membangunkan aku?".

"Aku bisa sendiri. Cepatlah mandi".

Jongin sudah lebih segar. Rambut berwarna putihnya basah karena Jongin baru saja keramas. Jongin langsung menuju meja makan. Sudah ada ayam pedas manis buatan Kyungsoo di meja makan.

"Wahh... ini pasti enak". Jongin langsung melahap masakan Kyungsoo.

"Enak sekali. Kau memang benar-benar hebat. Semua yang kau masak bisa seenak ini".

"Setelah kau makan, aku akan pulang".

"Kenapa? Temani aku. Halmeoni sepertinya akan pulang malam".

"Kau istirahat saja. Kau baru tidur sebentar tadi".

"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi". Sebelah tangan Jongin memegang tangan Kyungsoo. Isyarat bahwa Kyungsoo tidak boleh pergi.

Jongin selesai dengan ayam pedas manis buatan Kyungsoo. Jongin mengajak Kyungsoo ke halaman belakang. Tempat mereka biasa menghabiskan waktu berdua jika halmeoni tidak ada. Kyungsoo duduk di ayunan. Sudah lama sekali sejak Jongin pergi ke Amerika, Kyungsoo tidak pernah diam di halaman belakang dan duduk di ayunan besar ini lagi. Menikmati tiupan angin yang menggelitik wajahnya. Jongin datang membawa dua kaleng kopi dingin. Lalu Jongin duduk di samping Kyungsoo.

"Ah... sudah lama sekali".

"Iya. Aku pun baru duduk disini lagi".

"Ya, Do Kyungsoo apa yang kau lakukan saat aku pergi?", tanya Jongin.

"Aku? Aku pergi ke restoran. Oh, iya. Baekhyun akan menikah dengan Chanyeol tahun depan".

"Benarkah? Berarti Baekhyun tak lagi tinggal denganmu?".

"Ohh... kira-kira sudah dua bulan ini. Tapi Baekhyun tidak boleh hamil sebelum dia menyelesaikan studinya". tawa Kyungsoo pecah.

"Heh? Kenapa? Baekhyun yang meminta?".

"Tidak. Itu saranku. Lagi pula itu adil, orang tuanya ingin Baekhyun menyelesaikan studinya sedangkan Baekhyun ingin segera menikah dengan Chanyeol. Aku sarankan saja untuk seperti itu".

"Wahhh... pacarku ternyata pandai. Tapi kasihan Baekhyun dan Chanyeol. Jika seperti itu, sama saja mereka tidak boleh...", Jongin menatap Kyungsoo yang menahan tawa.

"Bagaimana hebat kan? Baekhyun begitu kesal padaku setelah sadar tentang itu". Tawa Kyungsoo dan Jongin pecah.

.

.

.

.

Kyungsoo menyilakan kakinya di ayunan. Jongin sedang asik membaca buku tentang management. Kyungsoo membiarkan kepalanya bersandar di pundak Jongin. Jongin tentu tidak berkomentar. Jongin malah senang jika Kyungsoo bermanja-manja seperti ini padanya. Lagu Loveholic-If Only Have You mengalun tenang di telinga Kyungsoo. Kyungsoo bangun melepas sebelah earphone yang ia pakai dan memasangkannya di telinga Jongin.

"Dengarkan lagu ini. Semua yang kau baca akan menempel lebih cepat di kepalamu", kata Kyungsoo.

"Sejak mengenalmu, selara laguku juga berubah. Tapi lagu ini tidak akan membuat buku ini menempel lebih cepat di kepalaku".

"Lalu?".

"Begini...".

Jongin menempelkan buku yang sedang dia baca ke wajah Kyungsoo hingga yang terlihat hanya bibir dan dagunya saja. Lalu Jongin mencium bibir Kyungsoo. Kyungsoo diam? Tentu tidak. Kyungsoo berusaha menyingkirkan buku itu dari wajahnya tapi tenaga Jongin terlalu kuat. Akhirnya Jongin tak lagi menempelkan buku itu dari wajah Kyungsoo setelah berhasil mencuri satu ciuman dari Kyungsoo.

"Ya!", Kyungsoo memukul Jongin berkali-kali. Sedangkan Jongin hanya tertawa melihat Kyungsoo.

"Kau ini", kesal Kyungsoo.

"Banyak cara untukku agar bisa menciummu Do Kyungsoo".

"Ah... aku harus memakai masker agar kau tak menciumku sesuka hatimu".

"Coba saja. Aku akan mendapatkan caranya nanti agar bisa memciummu".

"Isshhh... kau ini", satu pukulan lagi melayang ke lengan Jongin.

Jongin melanjutkan lagi membaca bukunya. Kyungsoo kembali mendengarkan musik dari handphonenya. Sekarang lagu Sweet Salt-Broken Time yang memanjakan telinga Kyungsoo.

"Ya, kau kembalikan rambutmu itu seperti dulu".

"Hmmm".

"Kau benar-benar tidak cocok dengan gaya rambut seperti itu Kim Jongin".

"Hmmm".

"Kau tidak akan kembali ke Amerika lagi, kan?". Pandangan Jongin beralih. Sekarang Kyungsoo yang dia tatap dalam-dalam.

"Kenapa?", tanya Jongin pelan.

"Aku hanya bertanya".

"Kau tidak ingin jauh dariku?".

"Bu... bu... bukan itu. Aku hanya bertanya saja".

"Aku hanya beberapa hari disini", jawab Jongin.

Raut wajah Kyungsoo seketika berubah mendengar jawaban Jongin. Jika hanya beberapa hari, itu artinya Kyungsoo akan seperti delapan bulan sebelumnya. Sendiri. Hanya bisa merasa kesal dan jengkel jika melihat pasangan yang berjalan-jalan dengan kekasihnya. Jongin bisa melihat dengan jelas ada rasa kesal dan kecewa di wajah Kyungsoo setelah mendengar jawabannya.

"Aku tidak akan pergi lagi". Kyungsoo kembali antusias.

"Benarkah?".

"Hmmm... tidak akan lagi meninggalkanmu".

Dua sudut bibir Kyungsoo terangkat. Senyum lebar kini muncul di wajah Kyungsoo.

"Aigu... lihatlah dirimu. Kau begitu kesal saat aku bilang aku hanya beberapa hari disini. Berhentilah bersikap malu-malu seperti itu", ucap Jongin sambil mengelus-elus kepala Kyungsoo dengan lembut.

"Jika kau tidak kembali ke Amerika, berarti kau tidak bekerja?".

"Aku bekerja. Perusahaan abeoji bekerja sama dengan salah satu perusahaan properti disini, dia memintaku untuk menjadi pimpinan tim disini".

"Kenapa hanya menjadi pimpinan tim? Kenapa tidak menjadi direktur saja? Ayahmu kan pemilik perusahaan".

"Hey, cantik. Aku baru saja lulus, dan baru menjadi sarjana. Aku baru belajar tentang perusahaan delapan bulan ini, bagaimana bisa dengan pengetahuanku ini aku menjadi seorang direktur. Aku tidak mau menjadi direktur yang bodoh", jelas Jongin.

"Oho... Kim Jongin, ternyata kau pintar juga".

"Kau bangga kan punya seorang kekasih sepertiku? Bukan. Bukan kekasih. Tunangan..."

"Tidak. Biasa saja", timpal Kyungsoo.

"Apa? Kemari kau...". Jongin langsung menggelitik tubuh Kyungsoo setelah mendengar jawaban Kyungsoo. Kyungsoo tertawa karena merasa geli.

.

.

.

.

Kyungsoo pergi ke restoran pagi-pagi sekali. Junmyeon bilang, ada temannya yang akan mengadakan pesta ulang tahun di restorannya. Kyungsoo harus menyiapkan semuanya. Kyungsoo juga sudah menyuruh Junmyeon untuk datang lebih pagi. Kyungsoo sebenarnya tidak tega menyuruh Junmyeon datang lebih pagi. Beberapa hari ini Kyungsoo jarang datang ke restoran. Junmyeon yang melakukan pekerjaan di restoran sendiri. Alasannya tidak lain dan tidak bukan, Kim Jongin. Sejak Jongin kembali ke Korea Kyungsoo sering pergi dengan Jongin dan membuat Kyungsoo sering meninggalkan restoran pada Junmyeon. Junmyeon tentu tidak marah. Kenapa? Karena setiap Kyungsoo memintanya untuk menjaga restoran sendiri karena dia harus pergi dengan Jongin, Kyungsoo memberikan bonus lebih untuk Junmyeon. Jadi, Junmyeon dengan senang hati jika diminta untuk menjaga restoran sendirian.

"Ada apa?", Kyungsoo menerima panggilan dari Jongin.

"Kau dimana?".

"Aku sedang di jalan menuju restoran".

"Sepagi ini?".

"Ohh... ada pesta di restoran".

"Heh? Pesta? Kau tidak mengundangku?".

"Aishh... bukan pestaku. Sudah, aku tutup. Nanti aku hubungi lagi".

Kyungsoo akhirnya sampai di restoran bersamaan dengan Junmyeon yang juga baru sampai.

"Hari ini tidak aku beri bonus untukmu. Karena aku tidak pergi dengan Jongin".

"Arasseo...".

"Siapa temanmu yang akan berpesta disini?".

"Aku tidak kenal".

"Heh? Tidak kenal?".

"Iya. Kau ingat, pria yang saat itu pernah memberikan kartu nama padamu, yang memintamu untuk memberikan kartu nama itu padaku?".

"Pria? Kartu nama?", Kyungsoo berusaha mengingat pria yang di maksud oleh Junmyeon.

"Ahh... iya pria itu. Kenapa dia menghubungimu? Bukan menghubungi nomorku atau nomor restoran?".

"Aku juga tidak tahu. Lagi pula aku tidak merasa memberikan nomorku padanya".

"Aku juga tidak memberikan nomormu pada dia. Tapi, Junmyeona. Bagaimana jika dia hanya main-main?".

"Main-main? Aku pikir tidak. Dari nada bicaranya dia serius. Lagi pula jika dia hanya main-main pun tidak masalah, kan? Kita tetap buka restoran seperti biasa saja".

Kyungsoo dan Junmyeon melanjutkan perkerjaannya. Meja-meja disusun menjadi dua meja dibuat satu, agar pestanya tidak terlalu kaku. Kyungsoo juga menempelkan balon-balon dan sedikit hiasan ulang tahun. Takut-takut teman yang Junmyeon bicarakan benar datang.

"Kyungsooya, pria itu meneleponku lagi. Dia bilang dia dan teman-temannya akan datang setelah selesai bekerja nanti, kira-kira jam 5".

"Sore? Coba kau periksa stock daging dan semuanya. Apa cukup jika kita membuka restoran seperti biasa terlebih dahulu".

Junmyen pergi ke dapur, memeriksa semua stock sesuai perintah Kyungsoo.

"Aku pikir cukup. Kita buka sampai jam 3 saja. Jadi kita bisa menyiapkan untuk pesta ini".

"Ahh... kau benar".

.

.

.

.

Kyungsoo memasang papan bertanda 'CLOSED' lebih cepat. Sesuai rencananya dengan Junmyeon. Agar mereka bisa menyiapkan semuanya untuk pesta ulang tahun. Sudah siap semuanya. Ada waktu untuk Kyungsoo dan Junmyeon untuk beristirahat.

"Junmyeona, kau benar tidak kenal dengan pria yang akan mengadakan pesta disini?".

"Tidak", jawab Junmyeon tidak peduli.

"Lalu dia tahu nomormu dari mana?".

"Sajangnim... tidak perlu dipikirkan, yang penting hari ini kau mendapat pemasukan lebih, berterimakasihlah padaku".

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya karena tidak puas dengan jawaban Junmyeon. Junmyeon memang seperti ini. Tidak peduli. Bukan tidak peduli pada orang lain jika membutuhkan bantuannya. Malah Junmyeon termasuk orang yang tidak bisa melihat orang lain susah. Junmyeon adalah orang yang selalu bisa mendengarkan cerita Kyungsoo setelah Baekhyun. Meskipun dia pria, tapi Junmyeon selalu mengerti posisi Kyungsoo sebagai seorang wanita.

"Tumben sekali Jongin tidak datang kesini", tanya Junmyeon.

"Aku melarangnya".

"Lalu tidak meneleponmu? Handphoneku juga sepi sejak tadi tidak ada panggilan darinya yang menanyakan kau".

"Lihat", Kyungsoo menunjukkan handphonenya pada Junmyeon. Di layar handphone Kyungsoo tertulis 53 panggilan tak terjawab dan semuanya dari Jongin.

"Astaga. Kau tidak menjawab teleponnya?".

"Nanti saja jika pekerjaan kita sudah selesai".

Akhirnya jarum jam menunjuk ke angka 5, Kyungsoo dan Junmyeon sudah siap dengan datangnya tamu-tamu. Akhirnya, beberapa orang dengan pakaian rapi datang ke restoran Kyungsoo. Sekitar 20 orang memenuhi restoran Kyungsoo. Kyungsoo mencari sosok pria yang menelepon Junmyeon bilang akan mengadakan pesta di restoran Kyungsoo. Tidak ada. Pria itu tidak ada. Kyungsoo ingat betul dengan wajahnya karena saat pertama ia datang adalah saat pria itu diam di restoran hingga restoran akan tutup.

Selang beberapa lama, pria itu datang ke restoran. Menggantungkan jasnya di lengan sebelah kirinya dan sebelah tangannya yang lain menenteng sebuah paper bag berukuran cukup besar. Pria itu langsung bergabung dengan teman-temannya. Kyungsoo dan Junmyeon menunggu di meja kasir. Kyungsoo tetap merasa ada yang aneh. Junmyeon bilang pria itu akan mengadakan pesta ulang tahun, tapi kenapa teman-temannya tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun pada pria itu.

Kyungsoo menyenggol lengan Junmyeon yang duduk di sampingnya dengan sikutya.

"Ya, kau bilang dia kemari karena pesta ulang tahun, tidak ada yang mengucapkan selamat padanya".

"Aigu... kau ini untuk apa peduli tentang itu. Biarkan saja itu acara mereka".

Kyungsoo kembali mengerucutkan bibirnya karena tanggapan Junmyeon yang biasa saja. Tapi Kyungsoo tetap merasa ada yang aneh pada pria itu. Kyungsoo pun ingat nama yang tertulis di kartu nama yang pria itu minta untuk memberikannya pada Junmyeon. Kim Jongdae. Itu nama yang tertulis. Sepertinya pria itu yang bernama Kim Jongdae. Karena sejak tadi teman-temannya memanggil pria itu dengan nama Jongdae.

Sudah hampir pukul 8 malam. Restoran Kyungsoo masih ramai dengan orang-orang yang sama sejak 3 jam yang lalu. Kyungsoo sudah ingin istirahat. Badannya sudah tidak ingin bergerak lagi. Kyungsoo melihat ke luar restorannya. Ada seseorang yang sedang melipat kedua tangannya di dada dengan wajah kesal. Kim Jongin. Dia datang ke restoran. Kyungsoo tahu Jongin akan datang karena panggilannya sejak siang tidak ada yang Kyungsoo jawab satu pun. Kyungsoo izin pada Junmyeon untuk keluar menemui Jongin.

"Ada apa?", tanya Kyungsoo.

"Heh? Ada apa? Kau bertanya ada apa?".

"Kau lihat di dalam, sedang ada yang mengadakan pesta. Aku harus kembali masuk".

Kyungsoo menarik lengan Jongin dan menyuruh Jongin duduk di kursi depan restoran.

"Kau menyuruhku menunggu?".

"Lalu? Kau mau masuk dan membantuku?".

"Arasseo. Masuklah".

Kyungsoo tahu Jongin sedang kesal. Kyungsoo senang melihat Jongin yang marah seperti ini. wajahnya terlihat lucu. Seperti anak TK yang sedang menerengek pada ibunya untuk dibelikan mainan. Kyungsoo kembali masuk, karena sepertinya mereka-yang-sedang-berpesta akan pulang. Semua orang sudah pulang, kecuali satu orang. Pria itu, pria yang membuat Kyungsoo merasa aneh. Junmyeon merapikan semua piring-piring, gelas, dan botol-botol yang begitu berantakan di meja. Pria itu perlahan mendekati Junmyeon.

"Junmyeona...", panggil pria itu pelan dan terdengar ragu. Junmyeon yang merasa namanya dipanggil lalu membalikkan badannya.

"Ya".

"Kau tidak ingat padaku?".

Junmyeon semakin bingung. Apa maksud pertanyaan pria ini? Mengingatnya? Bahkan merasa pernah bertemu dengannya sekali saja tidak.

"Maaf. Anda siapa?".

"Aku, Jongdae. Kim Jongdae".

"Maaf tuan, saya tidak mengenal anda". Pria yang mengatakan bahwa namanya Kim Jongdae itu lalu mengambil dompet dari saku jasnya. Lalu mengeluarkan sebuah foto. Foto dua orang anak kecil yang sedang berpelukan. salah satu anak di foto itu gigi bagian depannya tidak ada.

Pria itu menunjukkan foto itu pada Junmyeon. Mata Junmyeon melebar. Ekspresi wajahnya berubah. Junmyeon terlihat begitu kaget saat melihat foto yang ditunjukkan pria di depannya ini. Selain terkejut, terlihat juga rasa marah. Kyungsoo yang melihat itu hanya, memperhatikan apa yang terjadi tanpa berkomentar apa-apa.

"Kau..."

"Ohh... aku Jongdae".

Wajah Junmyeon berubah marah.

"Mau apa kau kesini? Tau dari mana aku bekerja disini?".

"Aku sudah mencarimu bebrapa bulan ini. Junmyeona, pulanglah. Ayah sedang sakit. Dia terus memanggil namamu".

Kyungsoo yang mendengar pembicaraan Junmyeon segera memutuskan untuk keluar dari dalam restoran. Karena Kyungsoo tahu pasti itu masalah pribadi Junmyeon. Kyungsoo keluar agar Junmyeon bisa lebih leluasa untuk bicara. Kyungsoo lalu duduk di samping Jongin yang sedang asik menjilati es krim.

"Kau sudah selesai?", tanya Jongin.

"Sssttt. Makanlah es krimmu", perintah Kyungsoo sambil menempelkan telunjuknya di bibir tanda Jongin untuk diam.

-Kembali ke Junmyeon-

"Ayah? Ayah siapa maksudmu?".

"Junmyeona...".

"Aku bahkan lupa siapa yang ku panggil ayah. Hebat sekali dia masih mengingatku setelah mengusirku di depan banyak orang".

"Junmyeona. Itu sudah lama. Maafkanlah ayahmu".

"Terima kasih kau sudah datang dan memberitahu kalau dia sakit. Tapi maaf, aku tidak ada niat sedikit pun untuk kembali bertemu dengannya. Selain itu, jangan lagi menemuiku dan menghubungiku".

Junmyeon lalu melepas apronnya dan melemparkan ke meja. Pergi meninggalkan pria yang sejak tadi bicara dengannya. Kyungsoo yang berada di luar berusaha mengejar Junmyeon tapi tidak berhasil. Kyungsoo lalu masuk mencoba bertanya pada pria yang tadi bicara dengan Junmyeon.

"Maaf, tuan..."

"Ah... maafkan aku. Apa aku bisa meminta tolong padamu lagi? Tolong berikan ini pada Junmyeon". Tanpa tahu apa-apa, Kyungsoo menerima barang yang diberikan pria itu.

"Tolong berikan itu pada Junmyeon. Hari ini dia ulang tahun, dan itu hadiah ulang tahun dariku".

"Dari anda?".

"Iya aku kakak Junmyeon, Kim Jongdae. Aku minta tolong berikan itu pada Junmyeon".

"Iya".

Pria bernama Kim Jongdae, yang katanya adalah kakak Junmyeon pergi dengan wajah kecewa.

"Ya, Jongina. Bantu aku mencari Junmyeon".

"Kau telepon saja".

"Ishh, menurut saja. Cari dia, jika kau temukan dia langsung hubungi aku. Tolong bantu aku, oke?". Kyungsoo lalu pergi ke arah Junmyeon pergi sebelumnya. Lalu Jongin pergi ke arah sebaliknya.

Jongin menelepon Kyungsoo. karena Jongin menemukan dimana Junmyeon berada. Junmyeon sedang duduk sendiri meneguk soju di kedai jajanan pinggir jalan. Jongin lalu menghampiri Junmyeon.

"Hyung...", panggil Jongin, lalu dia duduk di depan Junmyeon.

"Jongin? Apa yang kau lakukan disini?".

"Tidak enak jika kau minum sendirian".

"Pasti Kyungsoo yang menyuruhmu mencariku, kan?". Jongin tidak menjawab hanya memberikan senyuman pada Junmyeon.

Tak lama kemudian Kyungsoo datang membawa barang yang tadi diberikan oleh kakak Junmyeon.

"Untukmu", Kyungsoo langsung memberikan barang itu pada Junmyeon.

"Apa ini?".

"Itu? Bom".

"Eyy... kau ini".

"Ajumma, aku minta satu gelas soju", teriak Kyungsoo meminta gelas untuknya.

"Kenapa hanya satu? Aku?", protes Jongin.

"Kau menyetir. Aku tidak akan membiarkanmu minum ini. Pergilah untuk membeli jus".

"Kau ini benar-benar jahat, Do Kyungsoo". Jongin lalu berdiri, pergi untuk membeli jus.

Sekarang tinggal Junmyeon dan Kyungsoo. Kyungsoo menunggu waktu yang pas untuk bertanya pada Junmyeon. Junmyeon berusaha melihat isi dari paper bag yang dibawa Kyungsoo dan sekarang sudah berpindah tangan ke tangan Junmyeon.

"Iti dari kakakmu", kata Kyungsoo. Junmyeon berhenti untuk melihat apa isi dari paper bag itu.

"Kenapa?", tanya Kyungsoo. Junmyeon hanya diam dengan memasang wajah marah.

"Kenapa kau tidak bilang, kalau hari ini kau ulang tahun?".

Junmyeon masih diam. Kyungsoo tak lagi bertanya ada Junmyeon. Kyungsoo membiarkan Junmyeon untuk menceritakannya sendiri. Kyungsoo tidak akan memaksa jika Junmyeon tidak ingin. Jongin kembali dengan membawa plastik belanjaan berisi beberapa kaleng jus dengan berbagai rasa.

"Ada apa ini? Kenapa aku datang kalian diam? Kalian membicarakan aku saat aku pergi?".

Jongin berkata seperti itu bukan karena tidak tahu. Jongin sengaja agar Junmyeon tak terlalu gugup.

"Dia kakakku. Lebih teparnya kakak tiriku". Akhirnya Junmyeon bersuara. Kyungsoo dan Jongin lalu menyiapkan telinga mereka mendengarkan cerita Junmyeon.

"Aku sudah tidak bertemu dengannya sejak 10 tahun yang lalu. Hubunganku dengannya baik-baik saja. Hubunganku dengan...-". Junmyeon menghentikan perkataannya, menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Junmyeon melanjutkan ceritanya.

"Hubunganku dengan ayah yang tidak baik. Maafkan aku Kyungsooya karena telah berbohong padamu kalau aku ini seorang yatim piatu. Ayahku, dia menikah lagi dengan ibu Jongdae. Tidak ada yang salah dengan pernikahan ayahku dengan ibu Jongdae. Tapi, yang membuatku begitu marah adalah, ayah menikah saat ibuku baru saja 4 hari meninggal dunia. Ibu Jongdae adalah teman dekat ibuku. Jadi aku sering bermain dengannya dulu...", Junmyeon melanjutkan ceritanya.

Jongdae adalah teman bermain Junmyeon saat kecil. Ibu Jongdae adalah teman baik ibu Junmyeon. Ibu Junmyeon meninggal karena sakit. Baru saja 4 hari ibunya meninggal, ayahnya tiba-tiba mengadakan pesta pernikahan di rumahnya, tanpa sepengetahuan Junmyeon. Junmyeon yang saat itu masih berusia 14 tahun hanya bisa diam karena tidak mengerti. Tapi Junmyeon marah pada ayahnya, bagaimana bisa ayahnya mengadakan pesta pernikahan saat ibunya baru saja meninggal. Menikah tanpa bicara apapun pada Junmyeon. Lalu, yang semakin membuat Junmyeon marah adalah ayahnya yang menikah dengan ibu Jongdae.

Saat pesta pernikahan, Junmyeon bertanya pada ayahnya, sebenarnya apa yang terjadi. Junmyeon diseret oleh ayahnya keluar dari rumah. Ayahnya mengusir Junmyeon di depan semua orang yang berada di pesta. Junmyeon diusir hanya karena dia meminta penjelasan dari ayahnya. Sejak saat itu Junmyeon pergi dari rumahnya. Memilih tinggal di sebuah panti asuhan dan mengatakan kalau dia tidak memiliki orang tua. Kemudian sekarang, Jongdae menemui Junmyeon setelah sepuluh tahun berpisah. Jongdae, kakak tirinya tiba-tiba datang dan menyuruh Junmyeon untuk pulang dan bertemu ayahnya yang sedang sakit. Junmyeon kesal, kenapa setelah sepuluh tahun ayahnya baru mencari Junmyeon. Padahal Junmyeon setiap hari menunggu, bertahun-tahun Junmyeon menunggu agar ayahnya mencarinya.

"Hyung, tidak ada yang selalu berjalan sesuai keinginan kita. Aku tahu kau marah. Bahkan aku yang hanya mendengar ceritamu saja begitu kesal pada ayahmu. Tapi, menurutku lebih baik kau menemui ayahmu. Bukan untuk memperbaiki semuanya, karena aku tahu itu akan sulit dan kau perlu waktu. Biarkan ayahmu melihat wajahmu".

Junmyeon terdiam. Jongin tak mengatakan apa-apa lagi. Kyungsoo pun tak berkata apapun. Kyungsoo tidak ingin membuat Junmyeon merasa lebih buruk.

"Ya, Junmyeona. Hari ini ulang tahunmu. Berarti kau harus menraktirku malam ini. Lagi pula kau sudah mendapat banyak bonus dariku", kata Kyungsoo berusaha mencairkan suasana.

"Makanlah sepuasnya. Aku yang bayar. Tapi, maaf aku akan pergi lebih dulu", Junmyeon berdiri dan meninggalkan Kyungsoo dan Jongin berdua.

"Junmyeona... besok kau harus datang ke restoran!", teriak Kyungsoo.

Kyungsoo membenamkan wajahnya ke meja. Kyungsoo benar-benar lelah. Setelah seharian dia di restoran. Lalu tadi dia berkeliling mencari Junmyeon. Jongin mengelus kepala Kyungsoo.

"Jongina, aku tak sanggup untuk berjalan".

"Kau pasti lelah".

"Ohh... lelah sekali. Tubuhku seperti patah-patah".

Jongin lalu berjongkok, mengahadapkan punggungnya pada Kyungsoo.

"Ayo, cepatlah naik. Akan ku gendong kau sampai mobil".

"Benarkah?".

"Hoo... cepatlah. Sebelum aku berubah pikiran".

"Yehet!", Kyungsoo lalu naik ke punggung Jongin.

Jongin menggendong Kyungsoo sampai ke mobilnya.

"Ternyata kau lumayan berat, Do Kyungsoo".

"Benarkah? Padahal sudah dua hari ini aku tidak makan".

"Heh? Dua hari kau tidak makan?".

"Aku tidak lapar dan aku baik-baik saja", Kyungsoo berusaha menjelaskan sebelum Jongin mengomel.

"Kau ini. Aku kan bilang padamu, jaga badanmu. Untuk makan saja kau seperti ini. Bagaimana jika kau sakit? Kau tinggal sendiri, jangan membuat orang lain khawatir".

"Arasseo. Arasseo".

.

.

.

.

Jongin berhasil menggendong Kyungsoo sampai ke mobil. Sekarang tubuh Jongin penuh dengan keringat.

"Kau tidak apa-apa?", tanya Kyungsoo.

"Tidak apa-apa. Aku sudah lama tidak berolahraga. Menggendong tubuhmu itu salah satu olahraga".

Kyungsoo tersenyum, "terima kasih. Aku akan menurunkan beratku. Agar aku bisa terus memintamu menggendongku".

Jongin mengantar Kyungsoo pulang.

"Masuklah. Istirahat". Jongin memeluk Kyungsoo dan mencium kepala Kyungsoo.

"Jangan pergi. Tunggulah sampai aku tertidur, hmm".

"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau meminta ku diam disini?".

"Jangan berkomentar! Masuk dan temani aku sampai tertidur baru kau pulang".

"Oho... Do Kyungsoo. Kau menggodaku? Tiba-tiba manis padaku. Tanpa protes kau naik ke punggungku. Sekarang kau memintaku untuk diam disini sampai kau tertidur".

"Sudahlah. Lupakan. Pulanglah saja!". Kyungsoo berbalik dengan kesal. Jongin menahannya dengan memeluk Kyungsoo dari belakang.

"Baiklah. Baiklah. Aku menunggumu sampai kau tidur".

Kyungsoo sudah berganti pakaian. Jongin sudah menggelar alas tidur untuk Kyungsoo. Jongin menepuk-nepuk lantai menyuruh Kyungsoo berbaring disampingnya. Kyungsoo menurut, dia membaringkan tubuhnya di samping Jongin.

"Ahh... aku selalu suka wangimu", kata Kyungsoo yang sudah mulai memejamkan matanya.

"Memang ada apa dengan wangi badanku?".

"Tidak tahu. Aku hanya suka saja. Halmeoni juga memiliki wangi yang khas".

"Benarkah?", Jongin mencoba menciumi tubuhnya sendiri.

"Jika kau yang mencium tidak akan sama Kim Jongin". Jongin berhenti menciumi tubuhnya.

"Tidurlah", Jongin menepuk-nepuk punggung Kyungsoo yang tertidur menghadap ke arahnya. Kyungsoo mulai merasa ngantuk. Matanya mulai berat. Jongin masih menepuk-nepuk halus punggung Kyungsoo.

Jongin menatap wajah Kyungsoo yang sudah tertidur. Jongin merapikan helaian rambut Kyungsoo yang menutupi wajah Kyungsoo. Jongin terus memandangi wajah Kyungsoo dalam-dalam. Jari Jongin menyentuh bibir halus Kyungsoo. Jongin berpikir, kenapa dia sangat senang jika dia mencium Kyungsoo. Jongin lalu memeluk tubuh Kyungsoo yang sudah lemas karena sudah tertidur.

.

.

.

.

.

Selesai... ^^,

Maaf kalau ending chapter ini sedikit tidak jelas, atau mungkin sangat ga jelas...

Jeosonghabnida *deep bow*

Wait for next chapter yess...

Review juseyo yeoreobun... :))

Silent readernya selalu ditunggu reviewnya... jangan malu-malu ya ^^,

Thank you thank you...

Semoga ga bosen baca ff ini dan terus nunggu kelanjutannya...

Kamsahabnida ^^,

*bowing*

*kisshug*

*XOXO*