Err.. Hi, minna-san~

#curhat dikit ya#

Setelah tiga tahun hilang, akhirnya saya memberanikan diri untuk melanjutkan fanfic ini.

Saya sampai harus membaca fanfic ini 2 kali dari chap 1-3 agar bisa kembali mendapatkan ilham tentang fanfic ini.

Ini berkat review dari teman2 semua. Saya terharu dengan kalian yang menyukai cerita fanfic ini.

Sebenarnya, satu tahun terakhir ini saya berpikir untuk kembali menulis fanfic. Tapi, saya merasa tidak yakin. Saya sempat minder, saya merasa fanfic buatan saya sama sekali tidak layak publish. Apalagi di medsos, saya berteman dengan beberapa Author yang selalu membuat Thread yang kadang bikin author pemula seperti saya jadi putus asa (?)

Tapi, beberapa hari terakhir ini saya sadar bahwa, saya tidak boleh terpengaruh dengan hal seperti itu. Saya seharusnya menghargai setiap karya yang saya buat, bukan malah terjerembab dalam lembah keputusasaan(?)

Oke, Ini saya membawa Chapter 4. Semoga tidak mengecewakan :)

Disclaimer : Masashi Kisimoto punya, saya cuma minjem beberapa karakter :D

Tittle: Between Hate and Love

Genre: Drama, Romance dll

Rate: T.

Warn!: OOC, Typo(s), Gaje, Ide pasaran, Fem!Naru, gender-bender

Happy reading~

"Hentikan senyum mu itu, Sasuke"

Itachi mulai jengah melihat Sasuke yang sudah tiga hari ini terlihat seperti orang gila. Dia menyadari akhir-akhir ini, Adik semata wayangnya itu tidak seperti biasanya. Dia melihat wajah adiknya sedikit.. Cerah.

Itachi mendengus sebal karena Sasuke sama sekali tidak menggubris tegurannya. Dia pun beranjak meninggalkan Sasuke yang masih dengan setia tersenyum seperti orang gila. Itachi berhenti di ambang pintu lalu berbalik.

"Ingat, besok pertemuan akhir pekan klan. Jangan sampai kau beralasan lagi dan tidak mau datang" Itachi mengingatkan bahwa hari minggu besok adalah hari pertemuan akhir pekan Klan Uchiha. Sasuke satu-satunya anggota klan Uchiha yang sangat jarang menghadiri pertemuan itu. Maka dari itu, Itachi menperingatkan agar Sasuke tidak mengelak lagi dari pertemuan itu minggu ini, mengingat Sasuke selalu lebih memilih pergi bersama teman-temannya.

"Hn" sahut Sasuke singkat, membuat Itachi menghela nafas panjang. Adiknya yang keras kepala dan susah ditebak itu memang selalu membuatnya jengah. Meskipun begitu, Itachi sangat menyayangi Sasuke.

Sasuke masih termenung, senyum di bibirnya masih belum hilang sejak tadi. Pikirannya sibuk mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Haha.. Rasakan kau, dobe! Batin Sasuke senang. Namun dia menyadari bahwa selepas kejadian di cafe malam itu, dia belum pernah bertemu dengan Naru. Bahkan bayangan Naru pun tidak pernah muncul di hadapannya. Mungkin terlalu malu, pikirnya. Sasuke tidak menyangka, satu ciuman bisa membuat gadis kurang ajar itu kalah telak. Entah kenapa, Sasuke sangat ingin melihat wajah Naru. Dia merindukan gadis pirang itu.

.

.

.

.

Naru menghempaskan tubuhnya yang lelah diatas tempat tidur di kamarnya. Minggu ini memang minggu yang berat bagi gadis pirang itu. Selain karena tiap malam harus pulang sedikit larut karena bekerja di cafe Sasori, akhir-akhir ini dia sedikit disibukkan dengan beberapa project ilmiah disekolah yang membuatnya pulang agak sore. Naru kurang istirahat. Tapi hari ini dia sudah bisa bernafas lega, karena salah satu projectnya sudah di acc dan itu membuat pihak sekolah yakin bahwa mereka tidak salah memberikan beasiswa penuh pada Naru.

"Hahh~" helaan nafas lelah sekaligus lega sesekali terdengar dari mulut Naru. Naru memejamkan mata. Tangannya terulur menyentuh bibirnya sendiri. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Uchiha berengsek itu menciumnya. Naruto geram. Dia mengusap bibirnya kasar sambil terus mengumpat, menyumpahi Sasuke. Naru memegang kepalanya yang terasa panas dan sekali lagi helaan nafas lelah terdengar dari mulutnya.

"Aku butuh mandi" desah Naru lemas sambil beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi.

Tiga puluh menit berlalu, Naru sudah menyelesaikan mandinya. Dengan hanya memakai celana pendek dan kaos longgar, Naru berjalan menuju dapur untuk makan malam. Dia tidak menemukan apapun yang bisa di makan selain ramen instan. Naru tidak ingat kapan terakhir kali terakhir dia belanja untuk keperluan dapurnya. Naru segera menyedu ramen instannya. Selang beberapa menit, Naru pun segera menyantap ramen itu hingga habis.

Gadis pirang itu berjalan masuk ke kamar saat menyelesaikan makan malamnya. Dia benar-benar lelah. Dia bersyukur Sasori memberinya libur malam ini. Pemuda berambut merah, pemilik Cafe tempat Naru bekerja itu sedikit khawatir karena Naru sedikit pucat. Sasori mengerti akhir-akhir ini, gadis pirang itu sedikit sibuk dan Sasori juga tidak ingin terlalu memaksakan Naru bekerja. Boss yang sangat baik, batin Naru bersyukur.

Naru merapikan buku-bukunya yang sedikit berantakan di atas meja belajarnya. Dengan telaten, jemari lentiknya menyusun buku-buku itu hingga terlihat sedikit lebih rapi. Beberapa benda dia masukkan ke laci. Seketika matanya terpaku pada sebuah kotak yang berukuran tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Naru menyentuhkan telunjuknya diatas permukaan kotak tersebut lalu mengusap debunya. Dengan pelan dia mengeluarkan kotak tersebut dan membukanya. Sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas. Di usapnya liontin kalung yang bertuliskan 'Naru' dengan lembut. Dia ingat, sebelum meninggalkan panti asuhan, salah satu pengasuh di panti memberikan kotak yang berisikan kalung dengan liontin bertuliskan 'Naru'. Pengasuh itu berkata bahwa hanya itu satu-satu benda berharga yang melekat pada dirinya saat seorang polisi wanita membawanya ketika masih bayi. Pengasuh itu juga menjelaskan bahwa orang tua Naru meninggal dalam kecelakan mobil, beruntung dirinya masih bisa selamat. Setidaknya itu yang dikatakan oleh polisi wanita yang datang membawa Naru ke panti asuhan saat itu.

Dada Naru terasa nyeri. Dia sama sekali tidak mengenal sosok orang tuanya. Sampai detik ini dia sendiri tidak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Sempat terlintas satu pertanyaan dalam hatinya, jika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, kenapa dia harus di bawa ke panti asuhan? Tidak adakah kerabatnya yang bisa merawatnya? Tanpa Naru sadari, bulir bening yang sudah menumpuk dipelupuk matanya, meluncur bebas di pipinya. Naru menggeleng keras. Tidak, dia tidak boleh menyalahkan takdir. Dia mengusap air matanya lalu tersenyum. Dia meyakinkan dirinya bahwa orang tuanya adalah orang yang baik dan sangat menyayanginya.

Naru pun kembali memasukkan kotak itu kedalam laci dan menutupnya. Dia lalu naik ke tempat tidur, dia merasa sudah sangat lelah dan ingin segera tidur. Beberapa menit kemudian, hanya deru nafas teratur yang terdengar menandakan gadis pirang itu sudah tertidur lelap.

.

.

.

.

Suasana minggu pagi di kediaman Uchiha terlihat sedikit sibuk. Banyak pelayan yang berlalu lalang dalam rumah bak istana itu. Dilantai dua, tepatnya disebuah kamar, seorang pemuda yang berparas tampan sedang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah tertekuk. Dia mengutuk kakaknya, Uchiha Itachi, yang masih terlalu pagi sudah menggedor-gedor pintu kamarnya membuatnya harus terbangun dari mimpi indah yang jarang sekali diberikan Tuhan kepadanya.

"Sasuke! Apa kau sudah bangun?" Itachi mengetuk pintu kamar Sasuke terus menerus membuat telinga Sasuke panas. Dengan kesal, Sasuke mengambil sepatu yang berada tak jauh dari tempat tidurnya dan melempar ke arah pintu hingga menimbulkan suara debaman yang cukup menghentikan Itachi.

"Urusaii!" Sasuke menggeram sambil berjalan ke kamar mandi. Dari luar, Itachi bisa mendengar suara shower yang di nyalakan. Well, setidaknya dia sudah bangun. Itachi membatin sambil berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai dua dengan lantai satu. Beberapa pelayan membungkuk saat Itachi berjalan melewati mereka. Dia pun mendudukkan dirinya di sofa. Seorang pelayan datang meletakkan secangkir kopi untuknya. Itachi mengangguk sambil tersenyum lembut. Tidak berselang lama, Sasuke turun dan berjalan menghampiri Itachi. Itachi melirik Sasuke dari ekor matanya. Itachi menyipitkan mata memandangi Sasuke dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Kenapa kau memakai pakaian nonformal seperti itu, Suke? Setidaknya pakailah jas." Tegur Itachi. Sasuke hanya memutar bola matanya bosan.

"Kita hanya pergi ke pertemuan klan, bukan mengadakan rapat dengan presiden." Ucap Sasuke dengan nada sinis membuat Itachi menghela nafas. Mata Sasuke bergerak menelusuri tiap sudut rumah megahnya ini seperti sedang mencari sesuatu, Itachi yang tau apa yang dicari oleh adiknya, dengan santai melenggang mendahului Sasuke.

"Ayah dan Ibu sudah berangkat lebih dulu. Ayo, kita sudah terlambat"

Sasuke pun tanpa banyak bicara mengekori Itachi menuju mobil yang sudah disiapkan. Juugo membukakan pintu untuk kedua Tuan mudanya lalu mereka pun berangkat menuju Desa yang ada dipinggiran kota Konoha, dimana di desa itu ada wilayah khusus untuk distrik klan Uchiha. Perjalanan mereka akan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Keheningan melanda mobil yang ditumpangi Uchiha bersaudara. Keduanya memilih diam membiarkan suara mesin mobil yang menjadi melodi perjalanan mereka.

.

.

.

.

Cuaca cerah membuat siang hari ini terasa panas. Tidak seperti biasanya. Naru beberapa kali mengipasi wajah dan lehernya dengan tangannya sendiri. Keringat mengucur deras di wajahnya. Dia membuka kaca jendela Bus yang dia tumpangi membiarkan angin berhembus masuk dan menerpa wajahnya. Naru menghela nafas lega.

Sekitar empat puluh lima menit berlalu, Naru akhirnya sampai di pemberhentiannya. Dia turun dari bus dengan hati-hati sambil sesekali mengatakan 'permisi' ketika dirinya tidak sengaja menyenggol penumpang lain. Bus itu pun berlalu pergi meninggalkan Naru. Senyum Naru terkembang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia kesini. Dia selalu menyukai hawa pedesaan yang sangat sejuk dan tenang. Desa dipinggiran kota Konoha ini memang masih sangat asri dan belum tersentuh oleh industri pembangunan, jadi wajar jika desa ini sangat enak dipandang. Gadis itu pun memulai langkahnya.

.

.

.

Disebuah rumah bergaya klasik yang dilengkapi ornamen-ornamen berukiran rumit, berkumpul beberapa orang yang sedang makan siang. Suasana makan siang berlangsung dengan khidmat. Semuanya tampak menikmati santapan makan siangnya, kecuali satu orang. Sedari tadi Sasuke terus saja menekuk wajahnya. Meskipun tidak begitu kelihatan karena Sasuke memang minim ekspresi. Tapi beda dengan Itachi, dia tahu betul bahwa Sasuke saat ini sedang sangat bosan. Dia sudah memperhatikan Sasuke sejak baru tiba di distrik Uchiha sampai saat ini. Ya, Itachi benar, Sasuke saat ini sedang sangat bosan. Apalagi saat pertemuan klan tadi. Semua orang hanya membicarakan bisnis, dan itu membuat Sasuke muak dan ingin kabur dari sana saat itu juga.

"Ehem!" Seorang pria tua yang terlihat masih Gagah yang berada diujung meja berdehem keras karena merasa suasana makan siang ini terlalu kaku. Dia mencoba membuat suasana menjadi lebih hangat dengan bertanya kepada cucu-cucunya.

"Bagaimana pekerjaan mu, Itachi?" Itachi menoleh ke arah pria tua itu dan tersenyum lembut.

"Semuanya lancar, Kek"

Uchiha Madara, nama kakek itu, membalas senyum Itachi dan menatap cucu paling tuanya itu dengan tatapan bangga. Dia kemudian melirik Sai yang sedari tadi begitu tenang menyantap makanannya.

"Sai?" Sai mendongak dan menatap wajah kakeknya. Detik berikutnya dia tersenyum dan mengatakan bahwa sekolahnya lancar membuat Madara mengangguk puas. Mata hitamnya lalu menatap Sasuke.

"Bagaimana denganmu, Suke?" Tanya Madara lembut. Sasuke hanya mendengus memutar bola matanya bosan.

"Hn."

Itachi dan Fugaku, ayah Sasuke dan Itachi, secara bersamaan mendelik tajam kearah Sasuke. Sedangkan Sasuke cuek dan tidak peduli dengan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Kakak dan Ayahnya. Madara hanya geleng-geleng memaklumi kekurang ajaran cucu kesayangannya itu.

.

.

.

.

Naru mengelap peluh yang mengalir di pelipisnya. Sudah cukup jauh dia berjalan. Namun dia tersenyum saat melihat tempat yang menjadi tujuannya. Dia semakin mempercepat langkahnya.

Setelah semakin dekat, Naru menghentikan langkahnya saat matanya menangkap sosok seseorang yang sedang duduk dibawah pohon yang teduh dengan benda putih dihadapannya. Naru menyipitkan matanya menajamkan pandangannya. Naru mengira itu hanya fatamorgana, tapi setelah mendekat perlahan, dia tahu kalau orang itu benar manusia.

"Siapa orang itu?" Naru bergumam pelan. Dengan langkah pelan, dia mendekati pohon itu dan alangkah terkejutnya dia saat melihat ternyata orang itu adalah Sai.

"Sai?"

Sai menoleh kearah suara yang memanggilnya. Sai sama terkejutnya dengan Naru. Gadis pirang itu tersenyum lalu berjalan kearah Sai.

"Naru? Apa yang kau lakukan disini?" Sai bertanya saat Naru sudah duduk disampingnya.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Sai." Balas Naru sambil menaikkan alisnya. Sai terkekeh pelan lalu menjelaskan bahwa dia kesini karena ada urusan keluarga di desa ini. Naru mengangguk paham.

"Kau sendiri?" Naru tertawa renyah.

"Aku kesini karena aku merindukan tempat ini" jawab Naru sambil menatap telaga yang ditumbuhi bunga teratai. Kening Sai saling bertaut. Naru menoleh dan menghela nafas sambil tersenyum.

"Dulu waktu aku masih di panti asuhan, aku selalu datang kesini bersama teman-temanku. Aku sangat menyukai telaga ini."

Sai mengangguk paham. Naru merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan dua buah roti dan sekotak susu. Sai melirik Naru dan tersenyum tipis. Naru membuka kemasan roti dengan buru-buru dan langsung memakannya.

"Kau mau?" Naru menyodorkan sebungkus roti kearah Sai dengan mulut penuh membuat Sai tersenyum gemas dan menggeleng pelan.

"Tidak, Naru. Sepertinya kau lebih membutuhkannya daripada aku. Lagipula tadi aku sudah makan" Naru menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sasuke, kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu!"

Sasuke mendengus saat Itachi terlalu ingin tahu setiap apa yang ingin di lakukannya. Dia bukannya benci dengan Itachi, dia hanya tidak suka karena kakaknya itu terlalu mencampuri urusannya.

Sasuke menghentikan langkahnya saat melihat dua orang yang sangat di kenalinya sedang duduk berdampingan dibawah pohon sambil bersenda gurau.

"Apa yang dilakukan dobe itu disini?" Sasuke bertanya entah kepada siapa. Dia tidak menyadari tangannya terkepal sampai buku-buku tangannya memutih. Sasuke menggeleng keras, menendang jauh perasaan aneh yang dia rasakan.

Dengan perlahan dia mendekati Sai dan Naru. Di menepuk tangannya berkali-kali seakan sedang bangga akan sesuatu, membuat Sai dan Naru menoleh. Naru membelalakkan matanya saat melihat wajah Sasuke ditambah ekspresi pemuda itu yang begitu menyebalkan menurutnya. Gigi Naru bergemelutuk keras. Dia menatap Sasuke dengan tajam membuat Sasuke mendengus dan balas menatap Naru sarkastis. Sai yang merasakan hawa permusuhan hanya bisa diam acuh.

Sasuke semakin mendekat kearah Sai dan Naru membuat Naru mendesis tak suka.

"Apa yang membawamu kesini? Merindukan ciumanku, eh?" Kata Sasuke santai sambil melempar seringainya ke arah Naru yang wajahnya kini memerah. Sai melongo, dalam hati ia bertanya apa Sasuke dan Naru pernah berciuman? Tapi apa itu mungkin? Sai berfikir keras.

"Brengsek! Jaga mulutmu, Uchiha!" Hardik Naru yang entah sejak kapan sudah berdiri dan hendak melayangkan pukulan ke wajah Sasuke.

"Seharusnya itu kau, Dobe! Jangan bicara soal tata krama jika kau sendiri tidak punya tata krama." Balas Sasuke membuat mata safir Naru berkilat marah. Sial! Orang ini benar-benar membuat Naru naik pitam. Sai berdiri dan menarik lengan Naru. Dia berusaha menenangkan sahabatnya itu berharap tidak usah meladeni Sasuke. Naru menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri. Sai bersyukur, karena Naru adalah gadis yang dengan cepat bisa mengendalikan emosinya.

"Apa yang dia lakukan disini?" Naru setengah berbisik kearah Sai.

"Sudah ku bilang, ada urusan keluarga. Kau tau sendiri kan aku dan Sasuke sama-sama berasal dari klan Uchiha" Sai menjawab pelan membuat Naru mengangguk paham.

Sasuke mendecih tak suka. Dia melirik Sai dengan sinis, namun tak dipedulikan oleh Sai.

"Cih! Dasar bodoh!"

Naru melotot kearah Sasuke. Dia sudah hilang kesabaran. Dia kemudian mencengkram kerah jaket Sasuke dan memperpendek jarak. Sasuke lagi-lagi tersenyum sarkastis menatap Naru dengan tatapan meremehkan.

"Kenapa? Mau merasakan bibirku lagi, huh? Aku tidak tahu kau begitu agresif, Nona beasiswa yang BODOH!"

"Diam kau! Brengs- aaaaaargh!"

"Naruuu/dobeee!"

.

.

.

.

Entah kenapa, perasaan tidak enak tiba-tiba mendera hati seorang laki-laki berusia 26 tahun yang sedang menyeruput tehnya. Matanya menatap kosong kolam berenang yang ada dihadapannya. Sang pelayan, yang sedari tadi setia berdiri disamping sang Tuan, tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya melihat perubahan wajah Tuannya yang sangat tiba-tiba.

"Kyuubi-sama?" Dengan suara pelan namun terdengar tegas, dia memanggil Tuannya. Sedikit takut, dia mengulangnya lagi.

"Kyuubi-sama?" Sang Tuan menoleh ke pelayan setianya, dia tersenyum menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja. Sang pelayan menghela nafas lega.

"Saya yakin, anda pasti sedang memikirkan adik anda. Benar begitu, Kyuubi-sama?"

Laki-laki itu mengangguk lemah. Sudah delapan tahun terakhir ini dia mencari adiknya yang hilang, tapi tak ada satu pun keterangan yang bisa memberinya petunjuk dimana adiknya sekarang berada. Dia hampir putus asa. Apa mungkin adik kecilnya juga sudah meninggal? Kyuubi mengepalkan tangan kuat. Sebuah tangan bertengger diatas bahunya memaksanya untuk menoleh.

"Dia pasti masih hidup, Kyuu. Aku yakin!" Sang pelanyan yang tadinya berucap secara sopan kini menanggalkan formalitas antara tuan dan pelayan. Dia bahkan memanggil Tuannya dengan nama kecilnya. Kyuubi tersenyum dan mengangguk. Akhirnya teman sejak kecilnya ini tidak menggunakan embel-embel -sama lagi di namanya. Kyuubi sebenarnya berulang kali memperingatkannya untuk tidak terlalu formal. Namun, dia bersikukuh. Bagaimanapun Kyuubi adalah Tuan dan dia adalah pelayan, Kyuubi pasrah.

Cukup lama mereka terdiam hingga suara Kyuubi mengiterupsi keheningan.

"Utakata.."

Pelayan itu, Utakata, menoleh kearah Kyuubu dan menatap Tuan sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan lembut.

"Aku akan ke konoha. Aku sendiri yang akan mencari adikku."

Utakata yang mendengar keputusan Kyuubi hendak protes, namun dia bisa melihat tekad dari mata Kyuubi, jadi dia memilih untuk diam saja.

"Aku ingin kau tetap disini, dan menjaga perusahaan sampai aku kembali"

"Baik kyuu"

Senyum lembut terpatri diwajah tampan Kyuubi. Dia benar-benar berharap pada Kami-sama agar memberinya kesempatan untuk bertemu dengan adiknya. Kyuubi memejamkan mata, membiarkan bulir bening yang sedari tadi dia tampung meluncur bebas di pipinya. Dia bergumam pelan, menggumamkan nama adiknya.

"Namikaze Naruto.."

Sai dan Sasuke berusaha menarik Naru yang beberapa waktu lalu tergelincir saat hendak memukul wajah Sasuke. Naru menggigil karena dinginnya air telaga ditambah angin sore yang berhembus menusuk-nusuk kulit sampai ketulangnya. Sai berusaha membuka jaket Naru yang basah tapi tangan Naru menepisnya dengan cepat. Naru berusaha berdiri. Meskipun dia merasakan nyeri di kepalanya, dia tetap berhasil berdiri.

"Naru?" Sai berusaha menahan tangan Naru saat hendak melangkah pergi. Lagi-lagi, Naru menepis tangan Sai. Naru tetap berjalan. Matanya begitu panas. Dia tidak menyadari bahwa dirinya kini berlari menjauh dari Sai dan Sasuke yang masih diam membatu. Dia menangis, entah karena apa. Dia mengusap air matanya kasar sambil terus berlari.

Sai memungut kanvas dan alat melukisnya yang lain serta mengambil tas Naru yang di tinggalkannya.

"Kau berlebihan, Sasuke" Sai melewati Sasuke dan berjalan pergi. Sasuke masih diam mematung. Disatu sisi, dia senang saat melihat gadis pirang itu menderita, tapi disisi lain dia merasa sesak saat melihat tatapan kebencian Naru kepadanya. Lamunan Sasuke berhenti saat merasakan ponsel di sakunya bergetar. Dia mendapat pesan dari Itachi. Itachi memberitahunya bahwa dia sudah kembali lebih dulu ke konoha karena ada urusan dan meninggalkan mobil untuknya dirumah kakeknya. Sedangkan Itachi sendiri meminjam mobil kakeknya.

Sasuke pun berjalan meninggalkan tempat itu dan kembali ke distrik Uchiha.

Angin sore berhembus semakin kencang membuat Naru semakin menggigil. Wajahnya sudah pucat dan bibirnya membiru. Dia merasakan ada mobil yang berhenti di sampingnya, tapi dia tidak peduli. Dia masih berjalan meskipun sempoyongan. Pengemudi di dalam mobil itu menurunkan kaca mobilnya.

"Hei, Nona? Kau tidak apa-apa?"

Naru tidak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Dia masih berjalan dengan tatapan kosong.

"Nona?"

Naru akhirnya berhenti dan menoleh kearah mobil itu, tatapannya begitu datar.

"Kau mau kemana? Kenapa pakaian mu basah? Dan hei? dahimu terluka!"

Tanya pengemudi itu lagi, cemas. Naru meneliti wajah orang yang ada dalam mobil itu. Naru tidak punya firasat buruk dengan orang ini. Dia lalu meraba dahinya yang memang sejak tadi berdenyut nyeri. Saat dia menurunkan tangannya, dia melihat darah di jarinya.

"Aku mau ke kota" jawab Naru singkat seakan tidak peduli dengan darahnya sendiri, lalu berjalan meninggalkan mobil itu. Lagi-lagi, mobil tesebut mengikutinya dan berhenti di sisi Naru.

"Naik lah. Hari sudah sore, lagipula aku juga mau ke pusat kota" tawar pengemudi itu tulus. Naru masih ragu, namun dia tidak punya pilihan lain. Dia baru saja menyadari bahwa tasnya tertinggal, dan dompetnya berada di tas itu.

"Tenanglah, aku bukan orang jahat."

Naru tersenyum tipis lalu naik dan duduk disampung kursi pengemudi. Pengemudi itu memberikan sapu tangan kepada Naru dan menyuruh Naru menekan lukanya agar darahnya berhenti keluar, Naru mengangguk mengerti. Mobil itu pun melesat pergi meninggalkan desa. Suasana di mobil begitu hening. Naru hanya bicara sekali saat menjelaskan dimana letaknya rumahnya. Setelah itu, dia hanya diam memandangi langit yang mulai berubah menjadi jingga menandakan hari sudah semakin sore. Si pengemudi juga memilih untuk tidak bertanya-tanya. Dia yakin, suasana hati gadis remaja ini sedang tidak baik.

Sekitar kurang lebih empat puluh menit, akhirnya mereka sampai dirumah Naru. Naru turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih.

"Siapa nama mu, Tuan?"

"Itachi" Jawab pengemudi itu ramah.

Naru tersenyum dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Dia pun segera masuk setelah mobil Itachi pergi. Dia mengambil kunci cadangan yang dia simpan dibawah pot untuk berjaga-jaga dan segera masuk ke rumahnya.

.

.

.

.

Para murid silih berganti memasuki gerbang Sekolah terkenal seantero jepang, Konoha High School. Beberapa mobil mewah juga terlihat memasuki gerbang sekolah elit itu.

Naru berjalan gontai menuju kelasnya. Beberapa sapaan murid hanya dibalas dengan senyuman tipis. Naru terlalu malas untuk mengeluarkan suara hari ini. Dia merapatkan switer rajut yang digunakannya. Banyak murid menatapnya aneh. Kenapa dia memakai switer di musim panas begini. Mereka hanya tidak tahu bahwa Naru sedang sakit. Sesekali dia terbatuk membuat tubuhnya sedikit berguncang.

Langkah Naru terhuyung ketika akan memasuki kelasnya. Dia hampir jatuh tersungkur kalau saja Kiba tidak cepat menangkapnya. Dia sedikit terkejut melihat wajah temannya ini begitu pucat. Hinata menghampiri Naru dan menatap temannya itu dengan cemas.

"Kau sebaiknya pulang saja, Naru. Kau tidak sehat." Naru hanya menggeleng. Dia berusaha membenarkan posisinya dan berjalan menuju tempat duduknya. Hinata membantu Naru. Naru tersenyum sebagai tanda terima kasihnya. Tidak lama kemudian, seorang guru pun masuk dan proses belajar mengajar pun di mulai. Naru berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus meskipun kepalanya sudah sangat berdenyut sakit, sedangkan Hinata sedari tadi hanya melirik Naru, cemas.

Seharian ini Naru hanya diam saja sambil menelungkupkan kepalanya diatas tangannya. Hinata, Sakura, dan Ino sudah mencoba membujuk Naru untuk ke UKS. Namun Naru hanya menggeleng dia. Naru keras kepala, batin mereka bertiga kompak.

Saat istirahat makan siang, Hinata membawakan beberapa roti untuk Naru. Naru tersenyum dan memakan roti itu dengan pelan.

"Apa yang terjadi?"

Naru diam. Dia melirik Sai yang dari tadi melihatnya dengan tatapan cemas. Naru memalingkan wajah lalu tersenyum kearah Hinata. Hinata hanya menghela nafas.

Satu persatu murid sekolah elit ini meninggalkan sekolah saat bel tanda jam sekolah telah usai beberapa menit yang lalu. Naru masih terduduk lemas di tempat duduknya. Ino dan Sakura sudah pulang lebih dahulu karena ada urusan keluarga. Sedangkan Hinata masih bersikeras membujuk Naru untuk pulang bersama.

"Ayolah, Naru. Kau sedang sakit. Aku akan mengantarmu pulang."

Naruto tersenyum dan menggeleng lemah. Dia meminta Hinata untuk pulang duluan karena dia ingin ke toilet dulu. Lagipula, dia sudah merasa lebih baik. Hinata dengan setengah hati pun pergi meninggalkan Naru.

Naru menghela nafas berat. Dengan susah payah dia berjalan keluar kelas dan berjalan menuju toilet. Kepala Naru sudah sangat berdenyut sakit dan keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Dia berjalan sambil berpegangan pada tembok. Namun, pandangannya mengabur saat dia berada didepan toilet. Kepala Naru semakin terasa berat, Naru pun akhirnya ambruk tidak sadarkan diri.

TBC

Maaf ya, Minna-san kalo chapter 4 tidak memuaskan. Saya sangat minta maaf :)

Saya akan lebih berusaha membuat chapter-chapter berikutnya lebih baik dan lebih jelas lagi.

Ini kok alurnya makin aneh yah hehe, Maaf~

Arigatou gozaimas~

Michi mikacang ^^