16 days
"Love never ends"

Disclaimer : naruto dan semua yang terlibat milik masashi kishimoto, saya hanya perantara.

Pair : Naruhina

Chapter 4

Seperti biasa hari sabtu semua jadwal mata kuliah kosong, hal itu dimanfaatkan oleh Hinata sebagai waktu untuk menyendiri di apartemen nya atau hanya sekedar berjalan-jalan ke taman untuk mengisi waktu luang nya yang sangat membosankan.

Kejadian kemarin masih di ingat jelas oleh Hinata, mengingat nya saja membuat perutnya mual.

"Oh betapa bodoh nya aku Kami-sama" ujarnya dalam hati.

Seprai bermotif bunga sakura itu ia cengkram kuat, mengingat semua itu membuat kepalanya berdenyut pusing. Yah, wajar saja kemarin ia baru saja menyatakan perasaannya kepada seorang Uzumaki Naruto di hadapan semua orang di kampus.

"Pemuda keras kepala yang sangat menyebalkan, dia bahkan menganggap bahwa aku gadis menjijikan" kesalnya sambil menjambak surai indigo nya yang indah.

Mengingat hanya membuatnya pusing akhirnya Hinata memutuskan pergi mandi dan berencana berjalan-jalan keluar mencari udara segar sekaligus menentramkan hati dan pikiran nya.

.

.

Hari ke-4 : Satu Lagi Kebenaran.

Jalan setapak itu sangat ramai dengan orang yang berlalu lalang, sepertinya keinginan untuk menyegarkan pikiran nya di taman harus di ganti. Karena banyak pasangan muda mudi dan juga keluarga-keluarga yang menghabiskan waktu akhir pekan mereka di taman tersebut.

Oh sungguh Hinata hanya ingin sendiri saat ini, akhirnya ia melangkah menyusuri jalan. Menyerahkan kepada kaki nya akan membawa kemana dirinya saat ini, Lama berjalan Hinata sampai di sebuah bukit. Diatas bukit tersebut terdapat sebuah pohon momiji yang berdaun kemerahan.

Perlahan ia melangkahkan kaki menaiki bukit tersebut, sesampai nya di atas ia duduk bersandar di batang pohon momiji. Semilir angin menerpa wajahnya yang elok, ia eratkan pelukan di kedua sisi tubuhnya menambahkan kehangatan. Kini musim gugur telah datang artinya sebentar lagi akan memasuki awal bulan November, yang berarti peringatan kematian ibu nya hanya tinggal seminggu lagi.

Ia masih mengingat jelas kenangan manis saat bersama ibunya, mata nya terpejam seolah meresapi kenangan-kenangan manis itu yang pasti nya tidak dapat terulang kembali. Kebahagiaan nya telah direnggut paksa tanpa ia inginkan, hingga ia sempat menyalahkan takdir yang telah Kami-sama berikan untuknya. Namun, seiring waktu Hinata mulai bisa menerima takdir pahit yang memilukan ini.

Kali ini ia merasa bahwa kenangan itu akan terukir kembali bersama seorang pemuda tampan dengan surai kuning menyala,kulit Tan dan tiga garsi seperti kumis kucing di wajahnya. Senyum hangat yang pemuda itu berikan tempo hari pada gadis kecil penjual bunga itu masih teringat jelas dalam pikiran nya.

Walaupun dikatakan mustahil tapi Hinata tidak akan berhenti mencoba, ia akan selalu ingat apa yang ibunya katakan yang terpenting dalam hidup adalah memiliki keberanian dan kebaikan hati. Ia yakin suatu saat pemuda itu dapat merubah sikap dingin nya kepada Hinata, tapi untuk saat ini biarkanlah hatinya tenang tanpa memikirkan hal-hal yang mengganggu konsentrasinya.

.

.

Mata yang terpejam itu kini terbuka menampak kan iris amethyst hinata nan indah bak rembulan yang redup cahaya nya, tak terasa tidur siang nya berlangsung cukup lama. Kini jam ditangan nya menunjuk kan pukul 1 siang, terik matahari seakan tak terasa dengan semilir angin musim gugur. Kali ini hati nya terasa lega dan pikiran nya kembali fresh, mungkin karena banyak oksigen yang sudah masuk ke paru-paru nya saat berada di alam seperti ini.

Dan sepertinya kegiatan ini harus rutin ia jalan kan untuk menghilangkan penatnya, tempat ini menjadi tempat yang cocok untuk dirinya sendiri. Tenang,sepi dan juga sejuk karena adanya pohon momiji yang menghalangi sinar matahari lagi pula ia bisa melihat pemandangan indah konoha dari atas bukit ini, hanya satu kata untuk tempat ini yaitu sempurna.

Merasa sudah cukup untuk bersantai sekarang saat nya ia harus pulang untuk makan siang dan juga belajar untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi akan di hadapi, ia tak ingin melepas beasiswa nya hanya karena sering membuang waktu. Tidak mungkin dalam kamus hidup Hinata.

Akhirnya ia berdiri memperbaiki tampilan nya yang sedikit berantakan, membersihkan polo shirt putih yang sangat pas di tubuhnya itu lalu menepuk pelan celana jeans hitam nya yang tertempel guguran dari daun momiji, sungguh sangat cantik dalam kesederhanaan. Apalagi saat ini rambut yang biasa tergerai itu kini di ikat dengan gaya ponytails dengan membiarkan poni nya menghadangi mata seperti biasa memberikan kesan yang sangat manis sesuai dengan kepribadian nya.

Setelah dirasa sudah rapi ia kemudian berjalan meninggalkan bukit tersebut, kembali menyusuri jalan setapak yang membawanya pada taman yang sebelumnya. Sudah cukup sepi kiranya tak tampak ramai seperti tadi pagi, mungkin karena matahari yang sudah di atas kepala. Para keluarga yang berlibur pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi siapa yang peduli, toh ia sudah memiliki tempat strategis untuk dirinya sendiri.

Baru beberapa langkah namun harus terhenti karena seseorang yang sangat tidak ingin di temui Hinata saat ini, yaitu Uzumaki Naruto.

"Sedang apa dia ada disini ?" gumam Hinata.

Penasaran dengan apa yang tengah dilakukan pemuda yang di tembaknya kemari itu, Hinata pun perlahan berjalan mengendap mendekati Naruto sambil bersembunyi dibalik pohon. Beberapa menit memperhatikan dengan seksama namun orang yang dilihat tak kunjung memberikan gerak gerik yang mencurigakan, ia hanya diam menatap lurus kedepan. Entah apa yang sedang ia tatap, jangan lupakan hal yang tak pernah tinggal dari Naruto adalah headset yang terpasang di kedua telingannya. Namun yang paling membuat Hinata heran saat ini adalah sebuah bingkisan besar yang ada di samping kursi taman tempat Naruto duduki saat ini.

Tak berapa lama beberapa orang anak datang menghampiri Naruto, mereka tampak bahagia sekali melihat kehadiran Naruto. Naruto sendiri jangan di tanya, senyum tempo hari yang dilihatnya kini terulang kembali. Hinata merasa seperti De javu, ia tak menyangka seberapa besarkah sihir dari senyum Naruto membuat perasaan nya bergemuruh menggebu-gebu. Tanpa pikir panjang ia keluarkan kamera handphone nya lalu merekam apa yang tengah dilakukan Naruto saat ini, tak perduli apakah itu akan ketahuan oleh Naruto sendiri Hinata tak menghiraukan itu semua.

Naruto membuka bingkisan yang membuat Hinata penasaran itu, ternyata isinya adalah beberapa kado. Langsung saja semua anak bersorak gembira dan berbaris rapi untuk mengambil kado yang diberikan oleh Naruto, semua anak mendapatkan kado mereka masing-masing. Kini tampak seorang wanita paruh baya yang berjalan menghampiri Naruto dan anak-anak itu, wanita dengan surai merah itu tampak membawa seorang anak perempuan yang memegang sebuah tongkat ditangannya.

"Sepertinya anak itu lumpuh" pikir Hinata.

Naruto berjalan menghampiri gadis tersebut lalu menggendongnya dan membawanya duduk di bangku taman tempatnya tadi, lalu Naruto pun menyerahkan sebuah kado yang dibungkus dengan sangat lucu berwarna pink kepada anak itu. Si anak perempuan itu kemudian memeluk Naruto dan pergi bermain bersama teman-temannya. Tampaknya sekarang Naruto tengah berbincang dengan wanita paruh baya itu entah apa yang mereka bicarakan, dengan inisiatif sendiri Hinata berjalan menuju gadis kecil yang tadi di gendong oleh Naruto.

"Ssttt, adik manis kemari" ucap Hinata pada gadis kecil itu, merasa terpanggil gadis kecil itu berjalan mendekati Hinata.

"Ada apa Nee-san memanggil ku ?" ucap anak tersebut.

"Ah perkenalkan nama Nee-san Hyuuga Hinata, kamu bisa memanggilku Hinata-Nee. Siapa nama mu ?" ucap Hinata tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya. Merasa Hinata tidak berbahaya gadis kecil itupun menyambut uluran tangannya.

"Umm, Kirara." Ucapnya membalas senyum Hinata tak kalah ramah.

"Nama yang sangat indah" ucap Hinata lagi

"Arigatou Hinata-Nee" jawabnya.

"Kirara-chan, bolehkah Nee-chan bertanya sesuatu"

"Tentu apa itu Hinata-nee"

"Siapa pemuda yang ada disana ?" tunjuk Hinata kearah Naruto.

"Oh, itu adalah Naruto-Nii. Dia orang yang sangat baik sekali" ucap Kirara dengan senyum yang mengembang.

"benarkah ?" dibalas anggukan oleh Kirara.

"Naruto-Nii sering sekali memberikan hadiah kepada kami, terkadang ia ikut membantu mengurus kami saat Baa-san sedang sibuk mengurus keperluan kami setiap hari nya" ujarnya panjang. Mendengar itu membuat Hinata menyerengit bingung.

"Siapa yang di maksud kami itu Kirara-chan ?" tanya Hinata.

"Tentu saja semua anak-anak panti asuhan sunny paradies Hinata-Nee, itu tidak jauh dari taman ini" mendengar penuturan dari gadis kecil itu membuat Hinata sangat terkejut.

"A-artinya kalian_ ya ampun Kami-sama" wajahnya menunduk sedih "Maaf Nee-san tidak tahu Kirara-chan"

"Tidak apa Hinata-nee, Naruto-nii bilang jangan bersedih karena matahari tidak akan bersinar kalau diwajah hanya ada kesedihan" ucapnya dengan senyum yang tak pernah lepas. Apa yang sebenarnya terjadi disini ? pemuda es itu mengajarkan pada anak-anak panti asuhan ini untuk jangan lupa tersenyum sedangkan dirinya sendiri bahkan sangat gersang seperti padang pasir yang panas. Berapa banyak kepribadian dan hal-hal baru yang Hinata tahu tentang Naruto, pemuda itu bagai poros kehidupan nya sekarang. Benar-benar misterius dan membuat Hinata penasaran setengah mati.

"Yah apa yang Kirara-chan katakan benar, terima kasih sudah berbicara dengan Nee-san kalau begitu Hinata-nee pergi dulu ya. Ah tapi ada satu hal sebelum itu" Hinata pun mengeluarkan sesuatu dalam tas kecilnya.

"Coklat ini untuk Kirara-chan, tapi dengan syarat" ujar hinata yang dibalas tatapan bingung oleh gadis itu.

"Kirara-chan harus merahasiakan pertemuan kita ini dari siapa pun, janji ?"

"umm janji Hinata-nee" ucapnya tersenyum mengambil coklat itu.

Kemudian gadis kecil tersebut pergi meninggalkan Hinata, segera saja Hinata mengeluarkan sesuatu di dalam tas nya. Benda persegi panjang itu tampaknya masih menyala menampilkan tanda perekam, artinya sedari tadi Hinata merekam percakapan antara dirinya denga Kirara.

Untuk apa sebenarnya semua itu ? tentu saja untuk bukti agar pemuda es itu tak bisa berkilah dihadapannya lagi seperti kemarin. Senyum mengembang di wajah Hinata membuat nya bertambah manis, ia bangga sekali akan hasilnya kali ini. Sekarang ia tidak akan ragu untuk mendapatkan pemuda pujaannya itu, karena sekarang Hinata tahu jalan mana yang harus ia tempuh.

Kami-sama berpihak pada nya saat ini.

.

.

TBC

.

.

Hai minna-san…

Maaf sudah lama tidak update, karena minggu ini sahi sibuk belajar buat ujian semester.

Jadi ide yang tertahan belum terkembang dengan sempurna lagi karena ketahan selama ujian berlangsung. Hehe tapi sekarang sahi udah update nih semoga suka sama cerita nya.

Mungkin sahi bakal update dalam jangka waktu yang lama, sahi bukan mau kepikiran Hiatus loh jadi jangan sedih.

Karena sahi minggu depan bakal ikut study tour nya dari kampus jadi mungkin gak akan sempat buat update karena laptop di rumah (haha malah curhat). Tapi sahi janji setelah pulang kasih 2 chapter sekaligus buat penggemar cerita ini. Dan bagi yang merasa cerita ini kurang panjang yah sahi rasa juga begitu, maaf banget tapi sahi usahain update yang mendatang akan lebih panjang lagi. (Tapi gak janji yah Cuma usahain)

Buat yang udah follow dan favorit kan cerita ini sahi ucapin banyak terima kasih, dan juga yang udah review makasih banyak banyak buanget. Sahi jadi semangat buat ngetik hehe

Tak bosan sahi ingatkan untuk tinggalkan review kalian karena kritik dan saran dari pembaca adalah bahan ajar dan juga semangat buat sahi ngetik dan membuat cerita ini.

Sekian terima kasih...