HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!

ATTENTION!: Contain rude and dirty talk, self harm, gore and physiologic!

NOTE: BACA JUGA 95 GRADUATION YA... FRIENDSHIP JIMIN & V + ROMANCE TAEJIN! LOVE YOU!

Gak pake basa basi dan banyak cincong lagi, HAPPY READING!

.

.

.

Sosok namja berwajah rupawan dengan mata indah itu masih terdiam, terduduk di pinggir kasur empuknya. Dagunya bertumpu pada tangannya sementara kedua tangannya bertumpu pada pahanya. Netranya terlihat menatap karpet yang terbentang di lantai namun tatapannya hampa. Dapat dipastikan bahwa pikirannya tidak berada di tempat itu namun mengembara pada objek permasalahan yang lain. Sesekali namja itu menghela nafasnya lalu berdecak. Hingga, akhirnya ia mengacak-acak surainya -yang tak bersalah- karena pikirannya justru menjadi semakin rumit.

"Lalu jika Taehyung adalah adik angkat Seok Jin maka kenapa ia menjadi kekasih Seok Jin? Tidakkah hubungan adik dan kakak sudah cukup dekat dan bahkan mereka bisa bertemu setiap hari, kan?", gumam sang psikiater muda itu setelah berhasil membuat tatanan rambutnya rusak seketika.

"Seok Jin hilang, Taehyung dan Jungkook yang terpaksa hidup dalam penderitaan, bahkan ada sosok namja pucat yang entah siapa namanya itu. Argh.. KENAPA SEMUANYA JADI RUMIT SEPERTI INI?!" seru Seok Jin yang semakin tak habis pikir akan kasus yang sedang ia tangani ini.

Seok Jin segera menggapai lampiran data diri Taehyung yang tergeletak di atas meja di samping kasurnya. Terdapat foto Taehyung di sana dan kumpulan huruf-huruf yang semakin membuat Seok Jin frustasi. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia turun tangan atas masalah Taehyung tapi bisa dibilang bahwa kehidupan Taehyung sangatlah menarik sekaligus menyiksa batin dan benak Seok Jin.

Lampiran data diri Taehyung terdiri atas 2 lembar dan Seok Jin hanya sempat membaca lembar pertama. Ia membuka lembar kedua. Ada banyak tulisan tangan Taehyung di sana. Di sana terlihat seperti penjelasan-penjelasan tentang kehidupan sehari-hari Taehyung. Di bagian terbawah dari lembar kedua, terdapat paragraf yang merupakan lanjutan dari pertanyaan tentang pekerjaan dan Seok Jin telah melewatkan itu.

"Sialan…", gerutu Seok Jin seraya menbaca kalimat itu.

Pekerjaan: Pengantar Koran

Waktu kerja: Setiap hari Minggu, 6 A.M hingga aku selesai mengantarkan koran-koran itu.

Alamat tempat kerja: Perusahaan koran itu ada di sekitar Gangnam. Karena saat itu aku masih berstatus pelajar, pihak perusahaan hanya memintaku membagikan koran di seputaran daerah Gangnam.

Gaji: - (aku dibayar tapi aku tak ingin menulisnya. Kau bisa bertanya)

N.B: aku melakukannya 4 tahun yang lalu tapi sejak 2 tahun yang lalu, aku berhenti melakukannya.

"Apa mungkin…mereka adalah sepasang kekasih sebelum akhirnya Taehyung diangkat oleh keluarga Jeon menjadi salah satu putra keluarga Jeon?", gumam Seok Jin yang hingga kapan pun tak akan dijawab oleh siapapun.

"Jika diasumsikan Seok Jin tinggal di Gangnam. Maka, kemungkinan yang akan terjadi adalah Taehyung selalu mengantarkan koran ke rumah Seok Jin maka mereka menjadi sepasang kekasih sebelum keluarga Jeon mengangkat Taehyung sebagai anak angkat mereka. Bukankah itu masuk akal?"

Seok Jin tersenyum bangga terhadap hasil pemikirannya itu. "Wah, aku baru sadar ternyata otakku lumayan brilian. Kau memang cocok menjadi seorang psikiater, Kim Seok Jin…"

Namun, tiba-tiba senyuman bangga itu hilang dari wajah Seok Jin, menyisakan wajah yang kebingungan. "Tapi, ada beberapa hal yang aku bingungkan, siapa sosok namja pucat itu? Insiden apa yang membuat Seok Jin menghilang bahkan dinyatakan meninggal oleh semua orang?"

Beberapa menit berlalu, gemelut pemikiran Seok Jin seketika pecah menjadi serpihan-serpihan yang sangat kecil ketika sosok namja kecil dengan wajah bagaikan malaikat tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Jungkook?"

Jungkook menguap sebelum akhirnya tersenyum kecil pada Seok Jin. "Apa aku menggangumu, Psikiater Kim?", tanya Jungkook dalam suara serak khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Seok Jin menggeleng dengan senyuman di wajahnya. "Tidak. Ada apa kau datang ke kamarku, hem?"

"Apa aku boleh masuk?"

Seok Jin mengangguk antusias, "Masuklah!"

Jungkook masuk ke dalam kamar Seok Jin dan mengambil tempat untuk duduk tepat di sisi Seok Jin. Seok Jin semakin sadar bahwa Jungkook sangatlah polos dan baik dan ini membuat Seok Jin dapat menarik kesimpulan bahwa keluarga Jeon merupakan keluarga yang mengerti dan memegang teguh tentang tata krama.

"Apa yang membawamu datang kemari, hem?"

"Aku sedikit bosan.."

Seok Jin tersenyum seraya mengelus surai hitam pekat Jungkook. "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku juga sangat bosan.", tanya Seok Jin ramah dan lembut.

"Apa kau tidak keberatan jika aku mengajakmu membentuk sesuatu dari origami?", tanya Jungkook dengan wajah polosnya.

"Sebenarnya aku tidak terlatih untuk berkreasi dengan origami tapi, tak ada salahnya kita melakukannya. Apa kau punya origami?", tanya Seok Jin seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ia merasa malu dengan pengakuannya pada Jungkook. Oke, setidaknya Seok Jin juga manusia yang memiliki kekurangan.

Jungkook mengeluarkan sebungkus origami berwarna-warni dari saku celananya. Ia meletakkannya di atas kasur, sebagai pembatas antara dirinya dan Seok Jin. Jungkook duduk bersila di atas kasur Seok Jin diikuti oleh Seok Jin yang juga duduk bersila berhadapan pada Jungkook.

Seok Jin mengambil selembar origami berwarna hijau muda sementara Jungkook berwarna biru. Seok Jin masih membeku menatap selembar kertas origami itu, tak tahu akan membuat apa dari kertas itu. Ia melirik Jungkook yang dengan lihainya membentuk selembar kertas itu menjadi sesuatu. Ingin menyerah tapi…itu akan terlihat sangat memalukan.

Perlahan, Seok Jin mulai melipat-lipat kertas itu, membuat sesuatu yang terlintas di otaknya. Selesai dengan bentuk yang sederhana, Seok Jin justru terkejut dengan hasilnya yang menjadi sangat kecil tapi itu bukanlah masalah besar. Setidaknya ada bentuknya. Ia kemudian mengambil pulpen dari sakunya, menggambarkan bentuk mata, hidung dan kumis-kumis pada origami itu.

"Aku selesai…", ucap Seok Jin bangga namun rasa bangganya itu tak berlangsung lama karena Jungkook telah selesai sejak beberapa saat yang lalu.

Seok Jin melihat hasil jadi miliknya yang bersanding dengan milik Jungkook. Oke, kalah jauh. Ia merasa seperti telah dipermalukan saat ini.

"Kau membuat sesuatu yang sama seperti yang Seok Jin hyung buat biasanya, Psikiater Kim…", ucap Jungkook seraya tersenyum kecil dan menggapai hasil karya Seok Jin.

"Apa ia biasanya membuat kucing?"

Jungkook mengangguk, "Kadang juga membuat burung atau bunga. Tapi kucing adalah yang paling sering."

"Apa kau sedih setiap mengingat hyungmu?", tanya Seok Jin seraya mengelus rambut hitam legam Jungkook.

Jungkook mengangguk. "Aku sedih mengingat bagaimana Seok Jin hyung benar-benar tersiksa selama insiden itu. Aku juga sedih melihat keadaan Taehyung hyung sekarang."

"Apa insiden itu terjadi selama berhari-hari? Maksudku, tak hanya 1 hari."

Jungkook mengangguk. "Kami diculik selama hampir seminggu, mungkin sekitar 5 hari."

Seok Jin menghela nafas panjang, tak sanggup mendengar bagaimana penderitaan yang telah Jungkook dan Taehyung lewati saat itu. "Sudahlah, jangan bersedih, Jungkook ah… Apa Taehyung hyung masih tidur?", tanya Seok Jin seraya tersenyum, berusaha mencari cara agar Jungkook tak lagi bersedih.

"Iya."

"Bagaimana kalau kita membeli teman untukmu dan Taehyung hyung?"

Jungkook seketika mendongak, kebingungan begitu kentara di netra indahnya. "Membeli teman?"

"Iya, membeli teman. Ikutlah bersamaku, kita akan membeli teman."

Pemikiran bocah polos mulai bergulir di benak Jungkook. Membeli teman? Jungkook yakin bahwa memperjual-belikan manusia sangatlah illegal dan melanggar hukum dan sekarang seorang psikiater yang sangat dekat dengan pihak kepolisian akan membeli teman untuk Jungkook dan Taehyung?

Jungkook hanya bisa ikut bersama Seok Jin tanpa ada niatan bertanya sedikit pun.


Sosok namja bersurai dirty brown mulai menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Keringat terlihat bercucuran dari dahinya, membasahi setiap millimeter wajah manisnya. Ia terlihat begitu ketakutan seraya meremas sprei putih yang menyelimuti kasurnya. Beberapa saat berlalu, ia terlonjak dan terbangun dari tidurnya.

"Seok Jin….", gumam namja manis itu dengan nafas tersengal-sengal. Mimpinya itu benar-benar terasa seperti nyata.

Butuh waktu bagi Taehyung untuk menormalkan nafasnya, menyadari bahwa faktanya, kejadian itu hanyalah sebuah mimpi, mungkin tepatnya ingatan masa lalu yang menjadi mimpi.

Ia melirik ke bagian samping tidurnya dan ia menemukan bahwa dirinya sendirian di kamar itu, tanpa Jungkook. Ia segera melangkahkan kakinya keluar kamar. Ketika ia sampai di ambang pintu kamarnya, ia menemukan seekor anjing kecil yang basah kuyup tengah terduduk manis di hadapannya dengan lidah yang menjulur. Ia tak yakin bahwa ini adalah anjing Seok Jin.

"Mana anak anjingnya?", ucap Jungkook yang baru saja masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup, hampir sama basahnya dengan anjing itu.

"Itu anak anjingnya…", ujar Seok Jin seraya menunjuk ke arah anjing kecil yang tepat ada di hadapan Taehyung.

Taehyung hanya bisa ternganga lebar melihat keadaan Jungkook dan Seok Jin yang benar-benar basah kuyup bahkan ada banyak busa sabun yang menempel di pakaian bahkan rambut Seok Jin. Ia yakin itu bukan busa sampo khusus manusia melainkan busa sampo khusus anjing. Ia segera menggapai anak anjing yang basah kuyup itu, memberikannya pada Seok Jin.

"Gomawo…"

"Taehyung hyung, ikutlah bersama kami memandikan anak anjing ini!", ajak Jungkook seraya bergelayut di tangan Taehyung. Jangan lupakan sampo anjing yang ada di genggaman tangan Jungkook.

Taehyung segera menatap tajam pada Seok Jin. "Di mana kau memungut anak anjing ini?", tanya Taehyung pada Seok Jin yang tengah menggendong anak anjing itu. Seok Jin benar-benar terlihat konyol dengan busa-busa itu di rambutnya.

Seok Jin mengkerutkan keningnya. "Kau pikir aku tak punya uang untuk membeli anak anjing ini?", alih-alih menjawab, Seok Jin justru bertanya balik dengan tatapan mengintimidasi pada Taehyung.

"Ayolah, Hyung…."

Taehyung menghela nafasnya. "Baiklah…"


Taehyung hanya bisa pasrah melihat bagaimana keadaan Jungkook dan Seok Jin bahkan keadaannya sendiri. Jungkook dan Seok Jin yang semakin basah kuyup dengan banyak busa di tubuh mereka. Setidaknya ia tak penuh busa seperti itu yah…walaupun ada juga yang menempel di rambutnya. Taehyung tak tahu siapa yang sebenarnya mandi sekarang. Anak anjing itu atau Seok Jin dan Jungkook? Atau justru mereka semua?

"Jungkook, tolong berikan selangnya padaku…", ujar Seok Jin yang tengah berjongkok dan menghadap Jungkook. Jangan lupakan anak anjing yang penuh busa yang memberi jarak di antara mereka.

Jungkook segera memberikan selang itu pada Seok Jin kemudian Seok Jin menyiram rambutnya dan rambut Jung Kook yang penuh busa dengan air dari selang itu.

"Bukankah ini pertama kalinya kau keramas di halaman rumah?", tanya Seok Jin seraya membersihkan busa dari bulu anak anjing itu.

Jungkook terkekeh tanpa menjawab apapun.

Selesai dengan kegiatan membersihkan anak anjing ini, Seok Jin melepas anak anjing itu sehingga anak anjing itu berlari ke arah Taehyung, membuat Taehyung hanya bisa menghela nafas panjang.

"Anak anjing itu menyukaimu, Hyung…"

Taehyung tersenyum kecil. Mengelus bulu basah anak anjing berwarna putih hitam itu. Ia tahu jenis anjing ini.

Siberian Husky

Namun senyuman Taehyung tak berlangsung lama ketika ia merasakan semprotan air menabrak dirinya, membuat dirinya semakin basah kuyup.

"SEOK JIN!", seru Taehyung kesal.

Seok Jin dan Jungkook hanya bisa tertawa bahagia di atas penderitaan Taehyung. "Kau sudah terlanjur basah, tidak apa-apa jika aku basahkan lagi, kan?"

Taehyung mendesis dalam kekesalan, membuat Seok Jin kembali menyemprotkan air dari selang itu pada Taehyung. Taehyung segera mengambil ember dengan air di dekatnya dan menyiramkannya pada Seok Jin sediki demi sedikit dan terjadilah pertarungan air di sana. Suara gelak tawa mereka dan gonggongan anak anjing itu memenuhi suasana sore itu.

Mereka masih tergelak dalam tawa walaupun tak lagi terjadi pertarungan air yang kekanakan itu.

"Kita harus mandi sekarang. Gunakan air hangat.", ucap Taehyung seraya memeras kaosnya yang telah penuh air.

"Bagaimana dengan Jjanggu?", tanya Jungkook.

"Jjanggu?", tanya Taehyung dan Seok Jin bersamaan.

"Anak anjingnya…."

"Bawa saja ke dalam rumah, jangan diajak mandi, oke?", ucap Seok Jin.

"Ne, Psikiater Kim…", ujar Jungkook dengan senyuman manis yang terpatri di wajahnya.


Seok Jin melangkahkan kakinya keluar kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk putih kecil. Ia merasa begitu senang akhirnya dapat melihat bagaimana senyuman manis Jungkook terlihat pertama kali oleh netranya. Menurutnya, senyuman itu sama manisnya dengan senyuman Taehyung tadi. Mereka benar-benar seperti kakak adik.

Ia melangkahkan kakinya menuju ke depan cermin yang tergantung di sisi dinding, melihat bagaimana wajahnya ada di seberang sana, memantul di cermin tersebut. Entah mengapa, sirat mata sosok Jeon Seok Jin tiba-tiba menghampiri benaknya. Selama ia menatap matanya sendiri di bayangan pada cermin, selama itu juga sirat mata Jeon Seok Jin berdiam di benaknya. Ia merasa seperti tengah menatap Jeon Seok Jin.

Tiba-tiba, ia merasa kepalanya seperti telah dipukul benda tumpul, begitu pusing. Ia mencengkram bagian kepalanya yang menurutnya merupakan pusat awal rasa sakit itu. Sesuatu seakan berputar di kepalanya, seperti sebuah video. Ia tak tahu apa itu namun semakin ia berusaha tahu, semakin sakit kepalanya.

Tubuhnya bergetar, keringat bercucuran dari dahinya. Ia bersimpuh lemas seraya mencengkram bagian kepalanya yang terasa sangat sakit. Ia mengerang tak tertahankan. Ia benar-benar tak kuat menahan rasa sakit ini.

Ruangan besar nan gelap…

Terdapat tangan dan kaki yang terikat.…

Seseorang bermasker mendekatinya, hanya terlihat gelap seperti bayangan….

Dua namja lainnya yang terduduk dengan kaki dan tangan terikat, terus meronta tak jauh darinya….

Suara teriakan melengking dan besi yang berjatuhan…

Semuanya sama sekali tak jelas…

Seok Jin semakin lemas seiring dengan rentetan 'video' yang tiba-tiba menghampiri otaknya. Nafasnya tersengal setiap detiknya. Ia dapat merasakan sesuatu beraroma anyiri mengalir dari dalam hidungnya.

"Seok Jin…", suara itu terdengar samar di indra pendengar Seok Jin. Ia tahu suara itu.

Taehyung segera berlari ke arah Seok Jin yang terduduk lemas di lantai kamarnya. "Apa yang terjadi padamu, huh? Seok Jin…", tanya Taehyung panik melihat wajah pucat dan tubuh lemah Seok Jin. Jangan lupakan darah yang mengalir dari hidung Seok Jin.

"Taehyung…", lirih Seok Jin sebelum akhirnya ia tak sadarkan di pangkuan Taehyung.

"Seok Jin.. sadarlah.. Seok Jin!"


Sosok namja dengan tatanan rambut yang jauh dari kata rapi itu perlahan membuka matanya. Ia menyipitkan matanya ketika dirasanya cahaya begitu menusuk matanya. Ia menghela nafasnya, merasakan bagaimana sisa-sisa rasa sakit masih menyerang kepalanya.

Ia menolehkan kepalanya pada sosok namja kecil yang tertidur di sampingnya. Terdapat handuk basah yang tertempel di dahi bocah polos itu serta selimut yang menyelimuti sosok bocah itu.

"Jungkook?", lirih Seok Jin.

"Seok Jin, kau sudah sadar?", suara itu seketika mengejutkan Seok Jin, membuat Seok Jin harus menolehkan kepalanya dengan cepat.

Taehyung tengah menatap khawatir padanya. Terdapat baskom berukuran sedang di tangannya dan juga seekor anak anjing yang membuntuti Taehyung.

"Ne…", akhirnya 1 kata itu keluar dari rongga mulut Seok Jin. "Apa yang terjadi pada Jungkook?"

"Dia demam…", ucap Taehyung seraya duduk di pinggir kasur dan memeras handuk kecil di baskom itu.

Seok Jin hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Taehyung.

"Dan kau juga demam, Tuan Psikiater…", ujar Taehyung seraya menempatkan handuk kecil itu di dahi Seok Jin. "Kau bahkan baru saja membeli anak anjing dan kau langsung sakit karenanya. Kau memang benar-benar tak tahu situasi untuk bermain air. Kau membuat adikku demam."

Seok Jin melirikkan matanya pada Jjanggu yang tengah bermain-main di karpet kamarnya.

"Apa kau merasa baikan? Apa yang terjadi padamu, huh? Kau benar-benar membuatku panik tadi.", tanya Taehyung.

Seok Jin mengingat apa terjadi padanya bahkan sangat ingat. Ia masih dapat mengingat bayangan-bayangan yang muncul di dalam kepalanya. "Aku…tiba-tiba merasa sakit kepala. Hanya itu. Tapi aku sudah merasa lebih baik.", jelas Seok Jin.

"Kau bohong…"

Oke, untuk kali ini, Seok Jin baru mengingat bahwa Taehyung dapat membaca pikiran orang lain.

"Apa yang terjadi, huh?"

Seok Jin menghela nafasnya. "Aku hanya…merasa seperti melihat sesuatu yang tak pernah terjadi.", sahut Seok Jin seraya mengucek mata kanannya.

Taehyung mengkerutkan dahinya dalam kebingungan. "Apa yang berusaha kau sampaikan sebenarnya?"

"Ada ruangan besar dan gelap, buku tebal di atas meja, tangan dan kaki yang terikat, suara teriakan, 2 orang namja yang terduduk di hadapanku. Tidak begitu jelas semuanya.", jelas Seok Jin seraya mengingat seluruh penggalan-penggalan 'film' aneh itu.

Taehyung membulatkan matanya dalam ketidakpercayaan. "Mungkinkah dia….Jeon Seok Jin?", gumam Taehyung dalam hati.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menatapku seperti itu?", tanya Seok Jin seraya membalas tatapan Taehyung, menusuk tepat di manik mata indahhnya.

Taehyung masih dalam keadaan yang tak cukup stabil untuk bicara dengan Seok Jin tapi ia tetap memaksakannya, "ah… er… aku hanya… rambutmu sangat berantakan…", ujar Taehyung yang tentu hanya dusta belaka.

Seok Jin bisa berusaha merapikan rambutnya yang kenyataannya memang sangatlah jauh dari kata rapi.

"Istirahatlah. Aku titip Jungkook padamu.", ujar Taehyung yang rasanya benar-benar ingin keluar dari kamar Seok Jin.

"Tunggu…"

Taehyung yang nyaris berada di ambang pintu segera menghetikan langkahnya, berbalik dan menatap pada Seok Jin. "Apa?"

Seok Jin masih kelihatan sangat enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun pada Taehyung sementara Taehyung benar-benar tak tahan untuk cepat-cepat keluar dari kamar Seok Jin. Ia tak suka suasana canggung seperti ini. "Apa kau mau menemaniku dan Jungkook? Maksudku seperti…aku dan Jungkook sedang sakit jadi…apa kau akan membiarkanku merawat Jungkook sendirian dalam keadaan seperti ini?", tanya Seok Jin seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.

"Kau memalukan sekali, Kim Seok Jin…", rutuk Seok Jin dalam hati.

Taehyung hanya bisa menampakkan wajah 'blank'-nya. Ia masih tak yakin harus menjawab apa tapi mengesampingkan segala kemungkinan yang ada, ia tetap saja tak boleh mementingkan perasaannya sendiri. Seok Jin sudah terlalu baik selama ini padanya dan Jungkook jadi, tidak mungkin rasanya ia menolak keinginan simple ini. Toh, juga Seok Jin dan Taehyung hanya berada dalam zona pertemanan semata. Belum tentu juga Kim Seok Jin ini adalah Jeon Seok Jin.

"Baiklah. Istirahatlah! Aku akan datang ke sini nanti.", ujar Taehyung seraya menutup pintu kamar Seok Jin.


Ketiga sosok namja itu hanya bisa berbaring dalam diam di bawah selimut tebal itu. Sosok namja bersurai dirty brown itu tak yakin dapat tertidur malam ini. Ada banyak bahkan terlalu banyak hal yang bergemelut di pikirannya.

Ruangan luas dan gelap?

Tangan dan kaki yang terikat?

Suara teriakan?

"Tidakkah itu hal-hal yang terjadi selama masa penculikan?", gumam Taehyung dengan volume kecil, berusaha tak membangunkan Seok Jin dan Jungkook.

"Berhentilah bergumam dan menggeretakan gigimu, Kim Taehyung!", ucap Seok Jin yang berbaring tak jauhnya darinya, setidaknya ada Jungkook sebagai pembatas di antara dirinya dan Seok Jin.

Taehyung melirik ke arah Seok Jin, "Kau belum tidur?"

Seok Jin hanya bisa menghela nafas dalam kekesalan. "Bagaimana bisa aku tidur dengan suara gertakan gigimu itu, huh? Buatlah setidaknya suara yang merdu hingga membuatku tertidur.", oceh Seok Jin seraya menghadapkan tubuhnya pada Taehyung.

"Kau yang menyuruhku di sini! Jungkook tak pernah secerewet dirimu ketika seranjang bersamaku.", oceh Taehyung balik dan tak bersedia untuk kalah.

"Apa kau pikirkan?"

"Apa urusanmu sehingga bertanya tentang pikiranku?", tanya Taehyung sinis.

"Aku hanya bertanya. Ternyata kau menyebalkan juga, ya…"

Taehyung menutup matanya, mendekap tubuh Jungkook yang masih terasa panas karena demam. "Berhentilah berdebat! Aku ingin tidur.", ucap Taehyung berusaha mengakhiri perdebatan tak berguna itu.

Samar, Taehyung masih dapat suara kekehan Seok Jin sebelum semuanya menjadi benar-benar sunyi ditemani suara dengkuran halus Jungkook dan mungkin juga Seok Jin? Taehyung hanya terfokus untuk menuju bunga tidurnya.

"Jika kau memang Jeon Seok Jin, apa yang harus aku lakukan, Kim Seok Jin?"


Pagi itu, segalanya berjalan dengan sewajarnya. Matahari berseinar cerah pada bumi, embun-embun berjatuhan dari satu daun ke daun lainnya dan burung-burung berkicauan seraya bertengger pada dahan-dahan kayu nan rapuh itu.

Kedua sosok namja itu masih tertidur pulas di bawah selimut tebal yang menghangatkan tersebut. Mereka benar-benar tenggelam dalam mimpi indah mereka, hampir terjebak di dalam sana selama lebih dari 9 jam. Wajah mereka benar-benar terlihat damai, sedamai keadaan pagi itu.

Namun, kosakata 'damai' nampaknya harus pupus seketika ketika terdengar suara dering ponsel yang terlampau keras dan nyaring. Kedua sosok yang masih tertidur itu seketika terusik kedamaiannya. Perlahan, mereka membuka netra, membiarkan netranya menatap satu sama lain. Hal pertama yang mereka temukan adalah…

Wajah mereka sangatlah dekat satu sama lain.

"KYAAA!", teriakan nyaring itu terdengar begitu nyaring pagi itu, membuat burung-burung yang bertengger di dahan kayu itu terbang seketika.

Namja bersurai dirty brown itu seketika menendang sosok di hadapannya hingga terjungkal dari kasur. Ia segera bangkit dan menghancurkan tatanan rapi selimut yang telah menghangatkannya semalaman.

"Mana Jungkook?", tanya Taehyung seraya berdiri dan melihat ke sekeliling kamar.

Seok Jin yang masih antara sadar dan tidak bahwa dirinya telah terjungkal dari kasurnya hanya bisa berusaha meraih ponselnya. Ketika ponselnya berada di tangannya, sebuah nama terpampang jelas di layar ponselnya.

Jung Hoseok.

"Yeoboseyo…", sapa Seok Jin dengan suara serak khas seseorang yang baru terbangun dari tidurnya.

Seok Jin terus mendengarkan bagaimana panjangnya penjelasan lawan bicaranya di telepon. Sesekali ia mengelirkan bola matanya mendengar bagaimana suara teriakan melengking Taehyung untuk memanggil Jungkook benar-benar telah merusak kedamaian pagi itu. Ia tahu Taehyung telah menjelajahi seluruh sudut rumahnya dengan teriakan itu.

Konyolnya, Jungkook baru saja keluar dari kamar mandi di kamar Seok Jin dengan wajah polos dan berseragam sekolahnya. Ia nampak sangat siap untuk menjalani hari yang baru.

"APA?", seru Seok Jin setelah mendengar suatu rentetan kalimat yang sangat-sangat asing bahkan tak ingin ia dengar sampai kapanpun.

"Dengar, Hoseok. Aku psikiater bukan pengasuh bayi!", imbuh Seok Jin dengan kerutan di dahinya.

"Oke, begini saja. Aku dan Taehyung akan datang ke sana setelah mengantar Jungkook. Kurasa Taehyung tahu masalah seperti ini…", ucap Seok Jin.

Seok Jin menutup ponselnya dengan frustasi.

"Bagaimana bisa berantakan begini rencanaku, huh?", gerutu Seok Jin seraya mengacak-acak rambutnya yang telah acak-acakan.

Beberapa saat berlalu, suara dering ponsel Seok Jin kembali terdengar memenuhi setiap sudut ruangan. Ia hanya bisa berdecak kesal seraya mengangkat saluran telepon tersebut.

"Apa lagi, huh? Tak cukupkah–"

"Ini masih terlalu pagi untuk mengomel, Psikiater Kim…", suara itu seketika menghentikan omelan Seok Jin. Ini bukan Hoseok dan Seok Jin telah merutuki kebodohannya itu.

"Kau siapa?", tanya Seok Jin dingin.

"Aku menunggumu di coffee bean café dekat sekolah Jungkook jam 9. Kuharap kau datang…"

Seok Jin merasa benar-benar dipermainkan saat ini, "Tunggu, kau siapa, huh?"

"Oh Sehun…"

.

.

.

TBC

NAH YO, GUYS! BAGAIMANA CERITANYA? TERASA SEMAKIN BERANTAKAN YAH? MAKIN GAJE DAN MEMBOSANKAN? OKE, THAT'S MY FAULT T_T. GAK TAU MAU NGOMONG APA LAGI NIH, LAST! PLEASE REVIEW(S), GUYS… DON'T FORGET…. THANK YOU VERY MUCH… ^^