Tahun 2004, bulan 1, hari 17.

Apa yang sebenarnya dia lakukan di tempat itu, Mort sama sekali tidak ada ide. Tidak ada ide dalam arti kata ia tidak mengerti kenapa L tiba-tiba memaksanya untuk ikut ujian masuk Universitas Touou. Mort yang hari ini berpakaian tidak mencolok seperti gadis yang baru lulus SMA, memutar pensilnya dengan malas sambil menatap selembar kertas yang penuh dengan soal-soal ujian di atasnya. Mungkinkah L tahu Mort telah bertemu dengan Light sebelumnya dan ingin mengkonfirmasi hal itu? Tapi harusnya L tetap menyuruhnya memakai baju gothic serba hitam agar mencolok karena Light sama sekali tidak menyadari Mort yang duduk di pojokan depan sebelah kiri.

"Kau... Peserta no.162."

Mort menoleh ke belakang. Seorang pengawas ujian menghampiri L.

"Tolong duduk yang benar," tegur pengawas.

Mort tidak heran kalau L ditegur. Mana ada orang normal mengerjakan ujian sambil menempelkan jari kaki ke atas meja. Saat itu, Mort langsung tersadar ketika ia melihat Light menoleh untuk melihat siapa yang ditegur oleh pengawas, L melakukannya untuk menarik perhatian Light yang duduk di deretan 2 bangku di depan L. Mereka saling menatap dengan sebelum kembali pada kertas mereka dan mengerjakan ujian dengan tenang. Mort pun kembali pada soal ujian dan mengerjakannya dengan pikiran yang melalang buana ke tempat lain. Di ruangan yang hanya terdengar suara guratan pensil dan kertas dibalik itu, Mort merasa ia dapat mendengar suara Ryuk yang terkekeh-kekeh, mengejek Light yang tidak menyadari keberadaan Mort, juga mentertawai Mort yang memakai pakaian 'orang biasa'.

Huruf-huruf kana dan kanji yang tercantum pada lembar soal membuat Mort bosan. Perntanyaan-pertanyaannya memang sulit namun bukan masalah bagi Mort yang harus tahu segala teori ilmu pengetahuan. Kalau saja L tidak dari awal melarangnya untuk mengerjakan soal dengan sempurna mungkin Mort tidak akan sebosan itu. Apa maksud dan tujuan L, Mort tidak begitu paham. Seakan tidak punya pilihan, Mort mengikuti apa mau sang detektif. Termasuk menuliskan nama palsu 'Enchou Yorume', nama seorang penyanyi terkenal.

Tidak seperti yang Mort perkirakan, L tidak menghampiri Light setelah selesai ujian. Pemuda berambut hitam itu malah menarik Mort dan buru-buru pergi. Mort tidak memprotes, ia sudah biasa dengan sikap waspada acuh tak acuh L.

"Kau belum memberitahuku alasanmu menyuruhku mengikuti ujian masuk universitas ini," Mort berkata ketika mereka di mobil dalam perjalanan menuju hotel, "kuharap kau bisa memeberitahuku sekarang." Suaranya datar namun terdengar memaksa.

"Walau aku tetap menganggapmu pembunuh yang sama seperti Kira, aku ingin kau membantuku menyelediki Yagami Light. Entah kenapa aku ada keyakinan kalau kau bisa membantuku tanpa melakukan pembunuhan lebih lanjut. Makanya aku ingin kau masuk universitas ini agar bisa berinteraksi dengannya," jawab L dengan tenang. Pemuda itu mendekap kedua lututnya dengan kedua tangan, meringkuk di atas kursi, "tapi kalau kau sampai mendapatkan nilai tertinggi itu akan merepotkan karena kau sangat mencolok."

"Apa maksudmu?" Mort menolehkan kepala untuk menatap L.

"Orang yang mendapatkan nilai tertinggi otomatis akan terpilih menjadi orang yang akan memberikan sambutan sebagai perwakilan mahasiswa baru. Seorang wanita akan terlalu mencolok jika berdiri di atas panggung. Semua orang akan mengingatmu tanpa bisa melupakanmu dan mereka akan mencoba mendekatimu untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang dirimu." L beralih untuk balik menatap Mort, "kau memiliki wajah dan tubuh yang menarik. Kulit putih dan bersih, rambut hitam yang panjang, mata besar namun tajam dan unik. Itu ciri-ciri gadis idaman di negeri ini."

"Jadi itu kah alasanmu menyuruhku mengepang rambutku menjadi dua seperti anak TK dan memakai kaca mata bingkai hitam seperti anak kutu buku?" Mort berkedip sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Kalau dipikir-pikir," ujarnya, "kau lebih menarik perhatian dari pada aku. Hari ujian saja sudah menarik perhatian sampai ditegur oleh pengawas."

"Yah," L mengambil sebungkus marshmallow yang ada di kantung belakang kursi depan dan membukanya, "kalau orang semacamku sih tidak akan diingat." Ia menyantap sebuah marshmallow dan menyodorkan sisanya pada Mort. "Yang ada mereka akan pura-pura tidak melihatku."

Mort merogohkan tangannya ke dalam bungkusan dan mengambil satu. Ia tidak berkomentar sebelum atau sesudah melahap marshmallow yang diambilnya. Gadis idaman? Mort berpikir kalau dia memang terlihat seperti anak-anak dari pada gadis idaman.

"Kenapa tidak menyapa Light hari ini?" tanya Mort ketika mobil berhenti karena lampu merah.

"Aku ingin membuatnya lebih dramatis," jawab L santai sambil mengunyah marshmallow. "Aku akan memberitahu identitasku padanya sesudah pidato perwakilan mahasiswa baru, kalau dia benar-benar Kira dia pasti akan sangat terkejut dan tidak bisa mengendalikan diri."

Mort menoleh.

"Aku dan Light pasti mendapatkan nilai tertinggi."

"Percaya diri sekali," cemooh Mort datar.

"Ini lebih dari kepercayaan diri. Aku sudah pernah lulus universitas," L melahap sebuah marshmallow lagi.

Mereka sudah pindah hotel. Mau pindah kemanapun juga L selalu menyewa kamar yang paling luas. Katanya agar memudahkan penyelidikan, tapi bagi Mort itu salah satu langkah yang mencolok juga. Mort menyarankan agar L menyewa sebuah gedung dan L bilang ia akan memikirkannya.

Penyelidikan memang tidak ada henti-hentinya, namun sesekali L menghentikan aktivitasnya untuk tidur sambil duduk. Ketika itu Mort akan membangunkannya dan menyuruhnya tidur dengan benar. Biasanya akan berujung pada perdebatan dingin yang menurut Matsuda tidak penting.

Sampai hari itu, Mort memang tidak membunuh siapapun, atau paling tidak L sudah tahu bagaimana caranya Mort membunuh. L memang tidak bertanya kalau-kalau Mort punya cara lain untuk membunuh, yang jadi pertanyaannya adalah 'apakah Kira juga memiliki cara yang sama atau mirip?'. Namun L tidak melontarkan pertanyaannya. Seperti biasa ia akan duduk diam di sebuah sofa yang empuk ditemani oleh makanan minuman manis yang berjejeran di atas berpikir, sambil menonton, sambil membaca dokumen, sambil mencari informasi. Itu lah L sehari-hari, paling tidak itu yang Mort tahu.

Malam hari itu sangatlah tenang. Mort yang hanya berdiam diri di dalam kamar hanya bisa menatap langit dari jendela kamarnya. Malam itu terlihat banyak bintang yang bertaburan. Entah karena ia berada di tingkat tertinggi atau cahaya gemerlap kota memang sedang sangat redup. Tangan putih Mort yang seperti krim susu menyentuh kaca jendela dengan pasif, menempelkannya seperti ingin meraih bintang-bintang.

Mort bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa sang Tuhan tetap membiarkannya di atas tanah dan di bawah langit. Mort sama sekali tidak bisa mengingat kesalahan yang bisa membuatnya diturunkan. Ataukah ada tujuan lain yang sangat penting. Sudah berkali-kali Mort memanggil King of Death di dalam hatinya, berharap sang raja dapat memberikannya penjelasan. Tapi hanya kehampaan yang ia dapatkan sebagai jawabannya. Mort merasa ia seperti sedang berada di neraka dunia manusia, terkurung di dalam sangkar seperti halnya putri yang ada di atas menara, di balik jeruji. Mata peraknya tidak terlepas dari bintang-bintang di langit. Mort yang harusnya tidak memiliki takdir, seperti sedang terbelit benang kehidupan yang diputar oleh Clotho, salah satu dewi nasib.

"L, shitteiru ka-"

Suara familiar itu membuat Mort menoleh ke arah pintu dimana sang detektif, yang lagi-lagi tanpa repot-repot berpikir untuk mengetuk pintu, masuk ke kamar Mort.

"-shinigami wa ringo shika tabenai." L berhenti di depan Mort, "itu pesan dari Kira untukku," lanjutnya. "Shinigami," nada L seperti menuding gadis yang di depannya adalah sang shinigami itu sendiri, "apakah benar mereka hanya makan apel?" tanyanya.

"Apel?" Mort memiringkan sedikit kepalanya, ia mencoba mengingat dewa-dewi kematian di dunia shinigami. Apel memang makanan kesukaan shinigami tapi bukan berarti mereka hanya bisa makan apel, namun Mort sendiri tidak pernah melihat mereka makan makanan lain. Mort kemudian menyentuh pipinya dengan jari telunjuk. "Aku tidak tahu, aku bukan shinigami," jawab Mort akhirnya.

L tidak mengerutkan kening sebagai tanda kebingungannya, hanya saja kantung matanya terlihat jadi lebih lebar. "Lalu kau itu apa?" tanya L.

"Mort Zapiska," jawaban yang Mort selalu berikan, "juga Kuroko dan Enchou Yorume," tambahnya.

L hanya diam mendengar jawaban Mort.

-00-00-00-

Tahun 2004, bulan 1, hari 22.

L terlihat agak aneh sejak ia menerima sebuah berita kemarin. Pemuda itu terlihat agak hampa dengan tangan yang menggenggam segelas teh yang manisnya tidak karuan. Sesekali ia akan melihat keluar jendela dan sesekali ia akan menatap sinar dingin dari layar laptopnya. Mort pun hanya bisa melihatnya dengan tatapan datar dari jauh. L tidak banyak bicara, begitu pula dengan Watari. Seakan-akan mereka telah kehilangan sesuatu.

"Kira pasti akan aku temukan dan kutangkap," kata L tiba-tiba ketika Mort melangkah melewati belakang sofa, mendekatinya.

Mort tidak bisa membaca pikiran L ataupun menebak dari wajahnya. Hanya saja di telinga Mort, suara L terdengar sayu dan cukup lirih. "Kau terlalu banyak makan makanan manis," kata Mort ketika berhenti tepat di belakang L. Entah apa yang ada dipikirannya ketika itu, Mort menjulurkan tangannya dan memegang kepala L seperti ia sedang mengelus kepala anak kecil. Tangan Mort tidak bergerak, ia hanya memegang, merasakan rambut kasar L di telapak tangannya. Karena L tidak berkomentar, Mort memutuskan untuk bertanya, "kau sedang sedih?"

"... Aku hanya sedang kesal, setengah mati," jawab L pelan dan datar.

-00-00-00-

Tahun 2004, bulan 4, hari 5.

Hari itu adalah hari Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Touou Tahun 2004. Mort sebenarnya ingin memprotes lebih lanjut tentang pakaian yang dikenakannya saat itu. Kemeja dengan blazer dan rok span selutut sama sekali tidak membuatnya nyaman. Kalau saja Watari juga tidak meminta Mort memakai pakaian formal, Mort tidak akan memakainya. L bilang ia tidak ingin Mort terlihat mencolok, tapi L sendiri hanya memakai kaus lengan panjang putih, celana jeans, dan sepatu kets yang diinjak di bagian belakang bahkan talinya tidak diikat. Menurut Mort, kali ini L terlihat lebih mencolok, bahkan terlalu mencolok karena hanya dia satu-satunya yang berpakaian santai seperti anak jalanan. Karena itu Mort menolak mentah-mentah ketika L menyuruhnya untuk mengepang rambut dan memakai kacamata lagi. Ia tidak suka ketika rambutnya menjadi kusut dan bergelombang setelah karetnya dilepas, kacamatapun terasa berat di batang hidungnya.

Seperti yang sudah L perkirakan dan katakan, dia benar-benar jadi perwakilan mahasiswa baru dan memberikan pidato di atas panggung bersama Light. L yang memakai nama artis terkenal 'Ryuuga Hideki' telah membuat peserta upacara berbisik satu sama lain: ada yang bertanya-tanya, berkomentar aneh, mengejek, dan lain sebagainya. Light dan L memang terlihat sangat kontras di atas sana.

Mort dapat melihat mereka berdua yang menuruni panggung. Walau sangat jauh, Mort bisa menangkap keterkejutan dari wajah Light. Tampaknya L telah memberitahu identitasnya yang sebenarnya. Light yang langsung mengubah ekspresinya menjadi tenang setenang danau yang sangat dalam, menjabat tangan L dengan bersahabat.

Sampai upacara selesai, Mort sama sekali tidak merasakan ada ketegangan di antara L dan Light. Mereka terlihat sangat tenang dan tidak ada konflik. L menghampiri Mort terlebih dahulu sebelum keluar dan menanyakan kesannya terhadap Light. Mort hanya menjawab pertanyaan itu dengan protesnya akan baju yang ia kenakan.

"Aku ingin segera melepas baju yang sangat tidak nyaman ini," kata Mort sambil sedikit menahan suaranya.

L segera menyetujuinya ketika menyadari banyak mata yang memandangi mereka berdua dengan tatapan aneh juga kagum. Sedang apa L yang dikira mahasiswa miskin itu bersama seorang gadis cantik? Itu lah yang ada dalam pikiran orang-orang. L segera menghubungi supirnya lewat ponsel dan menyuruhnya agar menunggu di depan gerbang parkir. Mereka berdua berjalan menuju gerbang parkir dan melihat Light sedang berjalan menuju arah yang sama.

"Yagami-kun," tanpa Mort duga, L memanggil Light, "Yagami-kun." Ketika Light menoleh, L segera menganggukan kepalanya, "hari ini terima kasih ya."

"Oh, sama-sama-" Light yang tadinya melemparkan sebuah senyum, terkejut setengah mati ketika matanya melihat sosok di sebelah L. Kini Light baru menyadari kenapa Ryuk terkekeh-kekeh sejak upacara di mulai dan kekehan sang shinigami berubah menjadi tawa.

Menyadari kalau Light malah memandangi gadis di sebelahnya, L juga segera beralih pada Mort yang tidak memberikan ekspresi sama sekali. "Kenapa dengan rekan saya, Yagami-kun?" L pun melontarkan pertanyaan.

Kepanikan luar biasa ada di dalam otak Light sementara bagian luar wajahnya tersenyum dengan sempurna. "Tidak, aku hanya kaget dia sangat cantik," kata Light dengan tenang walau di dalam hatinya ia sedang mengutuk dalam seribu bahasa. Yang dipuji pun tidak berkomentar.

Siapa yang akan menyangka kalau orang yang dihindari Ryuk berada di pihak L. Terlalu banyak kejutan untuk Light hari ini. Pemuda jenius itu pun mengutuk Ryuk yang tidak memberitahu apapun tentang keberadaan Mort di sana. Kalau begitu, apakah L juga memiliki Death Note? Apakah L sudah mengetahui jati diri Kira yang sebenarnya? Apakah L di sini untuk menangkapnya? Semua pertanyaan Light langsung terjawab ketika ia kembali mengingat percakapannya dengan L ketika menuruni panggung. L belum tahu siapa Kira sebenarnya. Kalau begitu kenapa penyihir itu bisa bersama L? Sampai rumah nanti, Light akan membanjiri Ryuk dengan beribu pertanyaan.

"Mobil sudah datang, Hideki," ujar Mort ketika ia melihat mobil mereka sudah ada di depan gerbang parkir. Mort menganggukkan kepalanya pada Light sebagai tanda perpisahan dan masuk ke dalam mobil dari pintu yang dibukakan oleh sang supir. Hal itu membuat heboh orang-orang, semua mata tertuju pada mereka bertiga. Sesuai dugaan Mort, mereka memang terlalu mencolok. Di tambah lagi L masih menggunakan limousine lengkap dengan supir. Siapa yang menyangka L yang terlihat lusuh akan pulang dengan mobil semewah itu, bersama mahasiswi cantik pula.

"Kalau begitu, sampai bertemu di kampus," kata L pada Light sebelum masuk ke dalam mobil.

"Ya, sampai jumpa..." Saat itu suara Light terdengar seperti menahan geram di telinga Mort.

Mort sedikit menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat Light sebelum mobil melaju. Senyum simpul yang terlihat selayaknya seringai tanggung, menghiasi bibirnya yang berwarna lembut seperti kelopak sakura yang berterbangan di luar.

Mata L melirik ke arah si gadis dan menangkap senyumnya. Enggan rasanya untuk bertanya karena senyumnya sangat menawan untuk para iblis yang ada di neraka. Tapi pada akhirnya ia bertanya juga karena ia memiliki rasa penasaran sebagai seorang detektif. "Senyummu itu menandakan apa?"

"Aku hanya membayangkan sesuatu yang menarik," jawab Mort tanpa menghilangkan senyumnya, memberikan L sebuah tatapan brilian yang mematikan.

L terdiam beberapa detik sebelum bertanya lagi, "seperti?"

Senyum Mort makin terlihat mengerikan. "Kalau dia benar-benar Kira atau sama sekali bukan Kira."

Tidak ada yang bisa L tanyakan lagi dari jawaban itu. Ia hanya bisa menempelkan ibu jarinya di bibir, seperti sedang berpikir. Mort sudah tidak lagi menyunggingkan senyumnya dan kembali ke ekspresi datarnya. Mereka tidak bicara satu sama lain sampai mereka tiba di hotel.

"Besok kita akan kuliah," kata L di ruang tamu. Ia melompat ke atas sofa dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir. "Kau harus ikut, Kuroko," lanjutnya sambil mengaduk-aduk teh dengan sendok kecil untuk melarutkan gula.

"Aku mengerti," Mort menjawab sebelum menutup pintu kamarnya.

Cepat-cepat Mort melepaskan pakaian luar yang ia kenakan dan merasakan kebebasan yang berlebihan ketika hawa dingin menyentuh kulitnya yang halus seperti kain sutera. Hanya dengan memakai terusan tipis berwarna putih, Mort memandangi dirinya di depan cermin tanpa ingin repot untuk membereskan baju yang baru saja ia lepaskan, membiarkan mereka tergeletak di atas lantai karpet berwarna cokelat muda. Menyadari bahwa tubuhnya seperti mayat hidup dari pada boneka porselen, Mort lebih mendekatkan diri ke cermin untuk memperhatikan iris matanya yang seperti kawah meteor. Dia juga memperhatikan lengannya yang sudah tidak ada lagi bekas luka. Regenerasi tubuhnya memang terlalu pesat, itu adalah bukti kecil kalau dia memang bukan manusia.

Mort mengadahkan tangan kirinya sampai setinggi wajahnya. Di tengah telapak tangannya sebuah garis hitam muncul, garis itu makin lama makin lebar lalu membuka menyerupai sebuah lubang portal, mengeluarkan selubung-selubung hitam seperti air mancur yang tercemar racun. Selubung hitam menari-nari di atas telapak tangan Mort sampai sebuah belati keluar secara perlahan dimulai dari gagangnya. Tangan kanan Mort menarik belati keluar dan selubung hitam menghilang bersama dengan lubang yang menutup. Seperti itu lah yang biasa ia lakukan ketika menyembunyikan tangannya ke belakang dan mengeluarkan benda-benda seperti sulap. Biasanya Mort melakukannya dengan secepat kilat, namun hari ini ia ingin memastikan lebih lanjut akan kekuatannya.

Ukiran pada gagang belati berupa ukiran melingkar yang unik berwarna keperakan. Bentuk ukirannya seperti angin namun jika di lihat dari sisi lain terlihat seperti jalar mawar liar. Beratnya cukup ringan untuk belati berukuran dua puluh senti. Mort mengangkat belati agar matanya bisa meneliti benda gaib tapi nyata itu dengan seksama. Namun matanya terhenti pada cermin yang merefleksikan bayangan orang lain: L berdiri di ambang pintu, tidak bergerak sama sekali. Mort pun hanya bisa terpaku pada bayangan L di cermin, tidak bergerak sama sekali. Mungkin saat yang seperti itu lah yang disebut awkward moment. Sejak kapan L berada di sana, Mort terlalu fokus pada dirinya sendiri untuk mengetahuinya.

Bukan maksud L untuk mencairkan suasana dengan masuk dan menutup pintu rapat-rapat. L ingin mengetahui lebih lanjut apa gerangan yang barusan ia lihat. "Yang barusan itu apa?" tanya L tanpa ingin mendekati Mort.

Si gadis menurunkan belatinya secara perlahan dan berbalik secara perlahan pula. Wajahnya tidak terlihat panik, marah, atau pun malu walau seanggapannya ia pada saat itu seperti susu di dalam gelas transparan, tertutup namun tidak tertutup.

"Ini?" Mort menunjuk belatinya.

"Bukan. Sebelumnya," kata L tanpa memperjelas maksudnya.

Otak Mort langsung menyimpulkan kalau L telah memperhatikannya sejak ia membuka lubang kegelapan di tangannya. "Ini?" Dengan tanpa beban dan keraguan, Mort menjulurkan telapak tangannya pada L. Sama seperti yang ia lakukan ketika ia mengeluarkan belati, selubung-selubung hitam mencuat-cuat keluar dari telapak tangan Mort. "Aku menyebutnya 'portal ilusi'," Mort menjelaskan, "dari sini aku bisa mengeluarkan benda-benda yang kuinginkan."

"Kenapa ilusi?"

"Karena benda yang kukeluarkan memang hanyalah sebuah ilusi." Mort berbalik ke cermin dan menempelkan telapak tangan kirinya yang masih mengeluarkan selubung hitam. "Seperti layaknya bayangan kita di dalam cermin ini. Terlihat nyata dan sempurna, namun ia hanyalah sebuah bayangan, sebuah ilusi yang memabukkan." Mort menatap L lewat cermin, ia memperlihatkan sebuah senyum simpul yang dapat memberikan kegusaran dari suasana menekan.

Sudah 3 bulan lebih mereka hidup bersama, bukan berarti L sudah terbiasa dengan senyum mengerikan Mort. Gadis itu memang tidak biasa, L susah untuk beradaptasi dengan aura Mort. Untuk kesekian puluh kali L memutuskan untuk tidak terpengaruh oleh senyum mengerikan Mort. Dengan langkah yang dipaksakan L melangkah mendekati Mort. Dengan keberanian yang dipaksakan pula, L menarik tangan kiri Mort yang ditempelkan di cermin. Rasa penasaran sekaligus ngeri, L menyentuh selubung hitam dengan jarinya. Tidak ada yang istimewa dari selubung yang selayaknya asap hitam itu. L tidak merasakan apapun. Tapi justru karena tidak ada rasa apapun L merasa aneh pada akhirnya.

"Hati-hati," ujar Mort, "manusia sepertimu bisa tertarik ke dalamnya."

L masih memperhatikan selubung. "Lalu kau adalah Mort Zapiska." Mata hitamnya bergerak ke atas untuk menatap sepasang mata perak. "Death note. Apa maksudnya dari nama itu?"

"Aku sudah bilang, 'kan?" Mort melipat jari-jarinya untuk menutup portal ilusi. "Kalau itu silakan tanyakan pada Tuhan."

Mana mungkin Tuhan menjawab secara literal. Itu lah yang ada di dalam pikiran L. Tanpa berkata apa-apa dia melepas tangan Mort dan melangkah keluar. Masih banyak hal lain yang lebih penting yang harus ia lakukan. Masalah Mort juga penting namun masih bisa ditunda karena ia tidak akan lari kemana-mana. Tidak akan? Entah dari mana L mendapat keyakinan seperti itu.

Mort menatap pintu yang telah tertutup lagi sebelum meletakkan belati di atas meja rias. Ia bahkan lupa kenapa ia memilih untuk mengeluarkan belati bukan benda lain yang lebih aman. Kembali, ia memakai pakaian serba hitamnya.

-00-00-00-

Tahun 2004, bulan 4, hari 6.

"Kau benar-benar mencolok," komentar L sambil berjalan di koridor kampus.

"Kau juga mencolok," balas Mort yang berjalan di sampingnya.

Mereka benar-benar menjadi pusat perhatian seperti pesirkus yang sedang melakukan pertunjukan. Mort yang memakai pakaian serba hitam gothic-nya dan L yang memakai kaus putih santainya. Pemandangan kontras yang cukup aneh di mata mahasiswa normal. Bahkan ketika mereka sudah sampai di kelas dan duduk, masih banyak mata yang memandangi mereka. Kelas menjadi sunyi untuk beberapa detik sebelum penghuninya melanjutkan apa yang mereka lakukan.

Light pun hampir mengerutkan dahinya ketika memasuki kelas. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Mort akan memakai pakaian itu dan L duduk dengan menekuk kakinya ke atas kursi. Tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya, Light duduk di kursinya dan beberapa menit kemudian kelas pun dimulai.

Di luar dugaan L, Mort benar-benar memperhatikan pelajaran. Mort tidak pernah belajar di dalam sebuah kelas sebelumnya. Pengetahuan yang ia punya ia dapatkan begitu saja dari sang Penguasa. Sungguh sangat menarik di matanya, manusia berkumpul untuk mendengarkan satu manusia yang dianggap paling pintar.

Mort baru saja akan membalikkan lembar buku catatannya yang kosong ketika ia merasakan keberadaan Ryuk di depannya. Mort menaikkan wajahnya untuk menatap Ryuk yang yang tidak bisa dilihatnya.

"Kau ini benar-benar menyeramkan," kata Ryuk walau ia tahu Mort tidak bisa mendengarnya, "kok bisa tahu aku di sini sih?" shinigami itu menggaruk rambutnya yang jabrik. "Eh?" Ia tertawa dengan canggung ketika Mort menuliskan "Jangan terbang-terbang di atasku. Udara di atasku jadi tidak enak" . Mort menatap Ryuk dengan tatapan tajam walau sebenarnya dia menatap langit-langit yang berwarna kecoklatan.

"Dasar sial," umpat Ryuk sambil terbang ke tempat Light, "Mort memang tidak pernah ramah. Jangan marahi aku lagi Light. Seperti yang sudah kubilang kemarin, Mort sangat sulit didekati."

Light hanya melirik sebelum beralih pada papan dosen di depan kelas. Wanita adalah makhluk bodoh dan mudah ditipu bagi Light, tapi ia merasa akan sulit untuk memanipulasi wanita jadi-jadian seperti Mort. Light mencoba mencari ide ditengah-tengah kegiatan mencatatnya.

Hari itu bukanlah hari yang panjang untuk Mort. Ia bahkan memberitahu L kalau ia tertarik dengan tempat yang dinamakan 'kampus' itu. L hanya menyarankan Mort agar tidak kemana-mana untuk memuaskan ketertarikannya.

"Jangan jauh-jauh dariku," kata L, "aku tidak ingin orang bertanya macam-macam padamu."

"Kalau ditanya, aku akan menjawab seperlunya loh," Mort menirukan gaya bicara L.

L tidak berkomentar lagi. Kali ini ia memutuskan untuk melaksanakan rencananya: mengajak Light untuk main tenis besok. Ketika ditanya Mort kenapa tenis, L menjawab kalau Light adalah juara nasional tenis waktu SMP dan kebetulan L sendiri pernah menjuarai pertandingan tenis junior di Inggris.

"Eh? Tenis?" Light terlihat bingung ketika L memintanya.

"Ya, Yagami-kun. Aku ingin kita bermain tenis bersama," kata L, "aku ingin kita bisa berteman dan mempererat tali persahabatan melalui tenis. Yagami-kun waktu SMP main tenis kan?"

"Iya sih," jawab Light, masih terlihat bingung walau dipikirannya ia sudah menuding L macam-macam.

"Kalau saya kalah, saya akan berusaha memenuhi permintaan Yagami-kun jika Yagami-kun membutuhkan sesuatu," lanjut L, "termasuk kalau Yagami-kun ingin kencan dengannya," lalu menunjuk Mort yang ada disampingnya.

Mort memasang poker face, begitu pula Light dan Ryuk. Mungkin L memang bercanda, tapi wajahnya itu sulit untuk dibilang kalau dia benar-benar bercanda. Tanpa basa-basi Mort menghantamkan buku catatannya ke kepala L yang kemudian mengaduh dengan datar. Walau Mort sebenarnya tidak begitu peduli, kalau di'jual' seperti tadi gadis normal mana yang tidak akan protes. Untuk itulah Mort kemudian mengancam tanpa emosi, "kubunuh kau, Hideki," ia beralih pada Light, "jangan menganggap serius perkataannya yang tadi."

Sebenarnya ketika Mort mengatakan "kubunuh kau,-" tadi cukup membuat kedua pemuda dan sang shinigami bergidik ngeri karena suara Mort terlihat lebih serius dari pada L. Kalau suara Enchou Yorume yang asli selalu menenangkan hati pendengarnya, Enchou Yorume versi Mort Zapiska selalu membuat pendengarnya merasa terancam.

"Dia benar-benar bisa membunuh. Hati-hati." Peringatan dari Ryuk membuat Light bertambah cemas.

Tidak ingin berpikir macam-macam, L bertanya pada Light, "bagaimana dengan tawaranku, Yagami-kun?"

Suara L menyadarkan Light dari kecemasannya. "Baiklah," Light tersenyum, "sudah lama juga aku tidak bermain tenis."

"Kalau begitu sampai ketemu besok," kata L singkat, "ayo pulang, Yoru-chan." Ada pun L membuat panggilan itu agar dirinya bisa merasa lebih tenang berada di samping Mort.

Sebelum melangkah mengikuti L, Mort memberikan senyum terbaiknya yang bisa ia lakukan saat itu pada Light. Senyumnya terlalu mengesankan di otak Light: mengerikan dan jahat. Persis seperti waktu mereka pertama kali bertemu.

"Oi, Ryuk," panggil Light ketika tidak ada orang di sekitarnya. "Enchou Yorume itu nama aslinya?"

"Bukan," jawab Ryuk seperti sedang mengeluh, "namanya Mort Zapiska."

"Hmn.. Kalau begitu L pasti menyuruhnya untuk menggunakan nama palsu," Light memasukkan tangannya ke dalam saku. "Apa aku bisa membunuhnya dengan Death Note?"

Ryuk memandang Light dengan miris. Mungkin Light sudah benar-benar marah atau mungkin benar-benar depresi untuk menyingkirkan Mort. Sebenarnya bukan masalah jika Mort tidak di sisi L. Ancaman kombinasi mereka berdua sangatlah mengganggu Light.

"Tidak bisa," jawab Ryuk lagi, "jangan bertanya lagi. Mort bisa membasmi kita nanti kalau dia marah."

Pernyataan itu membuat rasa penasaran Light mengalahkan rasa takutnya.

-00-00-00-

"Aku tidak mau yang terlalu manis," kata Mort ketika L menyodorkannya secangkir teh.

"Ini cuma pakai 2 balok gula," L makin menyodorkan cangkir, memaksa Mort untuk mengambilnya.

Mort akhirnya menerima cangkir dengan kedua tangannya. "Kau benar-benar suka memaksakan kehendakmu." Mort meminum tehnya sedikit, sesuai dugaan, rasanya sangat manis. Dengan tatapan curiga, ia beralih pada L.

"Benar-benar 2 balok loh," L menunjukkan balok-balok gula berukuran 3x3 cm.

Kalau Mort bisa mengumpat, ia ingin sekali mengatakan hal yang tidak pantas pada L. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja, tidak ingin meminum tehnya lagi.

"Kuroko," panggil L pelan setelah meneguk tehnya, "aku ingin kau memberitahuku apapun yang kau tahu tentang Yagami Light."

Mort tidak menjawab L. Pikirannya tiba-tiba saja melayang ke tempat lain. Bukan mau Mort untuk melayangkan pikirannya, tiba-tiba saja bayangan-bayangan kejadian yang entah dari mana dan kapan masuk ke dalam pikirannya. Seseorang gadis berambut pirang tersenyum dengan manisnya; kerangka dan sayap putih yang kaku disibakkan; L, Light, dirinya, dan seorang lagi berputar-putar di sebuah ruangan; dirinya yang terengah dan tangannya yang berlumuran darah.

"Kuroko."

Panggilan L menyadarkan Mort.

"Kau kenapa?"

"Itsuka..." Mort memejamkan matanya, "akai chi ga te o someru," ujarnya pelan sambil membuka mata.

L diam sejenak sebelum menambahkan tehnya beberapa balok gula kecil. "Kau sudah melumurinya.."

"Kalau ini secara literal," kata Mort sambil mengambil cangkirnya yang ia letakkan di atas meja. L tetap diam sampai Mort hampir tersedak tehnya. Gadis itu lupa kalau tehnya terlalu manis.

"Ternyata kau bisa juga lupa," L tersenyum dengan senang.

Mort menatap L dengan dingin, "kurasa kau benar-benar ingin dibunuh."

"Lalu tentang Yagami Light-"

"Aku tidak tahu," kata Mort cepat, "dia terlihat seperti Icarus," lalu tidak berkata apa-apa lagi.

-00-00-00-

Tahun 2004, bulan 4, hari 7.

Hari itu L dan Light benar-benar akan bermain tenis. Mort hanya mengikuti mereka dari belakang dengan menenteng sebungkus senbei. Katanya dia ingin menonton permainan ini seperti halnya orang-orang menonton pertandingan tenis akbar: menonton sambil makan cemilan. Tapi kalau kata Light, yang seperti itu harusnya dilakukan di rumah.

"Ryuuga, kau mengajakku main tenis untuk mempererat persahabatan. Apa kau sudah tahu kemampuanku?" tanya Light sesampainya di lapangan tenis.

"Jangan khawatir, Yagami-kun," kata L datar, "saya pernah menjuarai tenis junior di Inggris."

"Berarti kau orang Inggris?" tanya Light lagi setelah mengambil raketnya.

"Hanya pernah tinggal di sana selama 5 tahun. Jangan takut. Kalau hanya itu, tidak akan membahayakan identitas L," jawab L, "Yoru-chan juga tadinya di Itali."

Light langsung mengerutkan dahi pada Mort yang sudah berjalan menuju bangku penonton di sebelah tempat wasit.

"Nah, bagaimana kalau kita bermain 6 set?" tanya L sebelum melangkah ke sisi yang lain.

Light mengangguk sambil mengambil posisi, "boleh."

L memantul-mantulkan bola sebelum melakukan servis dengan sekuat tenaga. Mort berkedip melihatnya, begitu pula Light. Mereka berdua terlihat agak terkejut, L terlihat serius. "15-0," ujar sang detektif sambil memantulkan bola lagi.

"Oi, oi, Ryuuga," Light tertawa dengan nada bercanda, "belum apa-apa sudah serius, ya?"

"Yang pertama beraksi, dialah pemenangnya," jawab L santai.

Ekspresi Light berubah, terlihat seperti ingin melempar L dengan raket. Mort membuka bungkus senbeinya. Pertandingan super serius pun dimulai. Mereka bertanding sangat sengit, Mort sampai harus melirik dan menengok kiri kanan dengan cepat, sulit untuk menikmati senbeinya dengan tenang.

"Go, go, Ryuuga Hideki..." Mort mengacung-ngacungkan senbeinya ke atas sebagai tanda penyemangat. Suara dan ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menyemangati. Sekitar satu menit kemudian Mort menyadari suara-suara lain dari belakangnya. Para mahasiswa lain telah berkumpul untuk menonton permainan Light dan L dari belakang pagar lapangan tenis. Entah dari mana mahasiswa-mahasiswa itu datang, Mort sama sekali tidak memperhatikan Mereka terlihat takjub, bahkan beberapa dari mereka sampai menganga. Sudah mahasiswa baru, punya nilai tertinggi, permainannya selayak profesional pula. Permainan tenis mereka sangatlah mencolok. Ketika L mengembalikan bola dengan backhand, Light mengembalikannya lagi dengan pukulan keras forehand ke arah kiri. L mengejar bola namun tidak sempat untuk bisa memukulnya kembali.

"Game count 4-4." Entah sejak kapan wasit sudah ada berada di kursinya.

Mort melirik ke atas untuk melihat ke arah wasit yang sepertinya adalah anggota klub tenis dan melirik ke kanan kiri untuk melihat seorang penjaga garis di masing-masing kubu. Mort lalu menyemangati kedua pemain yang sudah terengah-engah. "Go, Hideki, go~ Go, Light, go~." Suaranya yang keras nan datar membuat Light dan L mendelik ke arah Mort dengan wajah sebal seperti mengatakan, "diamlah sedikit."

Kedua pemuda jenius melanjutkan permainan mereka lagi. Permainan mereka tentu lah lebih cocok disebut dengan 'pertandingan'. Mereka sangat sengit. Bola dipantulkan dan dipukul dengan sangat keras. Baru kali itu Mort melihat L benar-benar menggerakkan seluruh tubuhnya, berlari ke sana ke mari. Mungkin L dulu memilih tenis sebagai kegiatan olah raga hanya sebagai alasan agar dia bisa tetap mempertahankan pose bungkuk.

Pukulan backhand yang keras dan cepat dari Light membuat L tidak berkutik. Bola memantul dengan mulus dan lurus menghantam pagar jaring besi. Penonton yang sedari tadi menahan napas langsung bersorak ketika wasit menyatakan Light sebagai pemenang. Kedua pemain langsung menuju tengah lapangan dan bersalaman.

"Tapi sebelumnya ada yang ingin saya katakan."

Mort bisa mendengar kalimat L ketika ia berjalan mendekati mereka.

"Apa itu?" Light tidak terlihat terganggu saat melihat Mort melangkah mendekatinya.

"Sebenarnya saya curiga kalau Yagami-kun mungkin adalah Kira," kata L.

Wajah Light langsung berubah masam dan waspada, tetap tidak peduli walaupun Mort sudah ada di depannya. Yang terpenting adalah L tidak melihat ekspresinya, itulah alasan kenapa ia melangkah lebih dulu: agar L hanya bisa melihat punggungnya.

"Meskipun begitu," lanjut L, "sebisa mungkin saya akan memenuhi permintaanmu."

Light membuat senyum palsu yang sempurna dan tertawa sambil berbalik ke arah L. "Aku Kira?"

L menenteng raket dengan cara menyeretnya. "Kecurigaan saya hanya 1 persen. Tapi yang jelas, saya percaya dengan kemampuan analisismu yang hebat. Karena itu, saya ingin sekali meminta bantuanmu dalam penyelidikan."

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Light sebagai respon. Ia menyimpan raket ke dalam tasnya.

"Ngomong-ngomong," Mort membuka suara, "mau senbei?" ia menyodorkan bungkusan yang ada di tangan kanannya.

Lagi-lagi dibalas dengan tatapan sebal dari kedua pemuda.

"Tidak ya?" Mort menarik senbeinya kembali, mengambil satu lalu menggigitnya pelan-pelan. "Permainan kalian terlalu mencolok," kata Mort , "kalau mau membicarakan masalah Kira atau kasus sebagainya, lanjutkan di tempat lain yang sepi saja. Terlalu banyak orang di sini."

"Enchou benar," ujar Light sambil berdiri.

"Ayo pindah tempat," lanjut L sambil melihat ke sekeliling.

Mort tidak ikut Light dan L ke cafe dan memilih kembali ke hotel. Mort tidak tertarik untuk ikut berdiskusi dan L pun mengizinkannya pulang. Mort merasa agak lelah walau bukan dia yang bermain tenis. Sepanjang perjalanan pulang, Mort memandangi pemandangan di luar. Masih banyak pohon sakura yang masih memiliki bunga mekar di dahan-dahannya, sangat cantik.

-00-00-

"Oh, Kuroko.."

Mort mengangkat wajahnya dan melihat Souichirou di depan pintu kamar hotel. "Yagami-san, baru sampai juga?"

"Begitulah," jawab kepala penyelidik itu, "mana Ryuuzaki?" Wajahnya terlihat sangat lelah.

"Masih di kampus bersama Light. Mungkin sekarang masih mengob—" belum selesai Mort bicara, Souichirou jatuh sambil memegangi dadanya. Ayah Yagami Light terlihat sesak dan menahan sakit. Mort berkedip sesaat karena terkejut sebelum menyerbu masuk ke dalam. "Watari! Semuanya!" panggilnya, "Yagami-san roboh!"

"Apa!" Mogi langsung berlari keluar dan mengecek. Ia memanggil-manggil nama atasannya sambil mengguncangkan tubuhnya. "Gawat! Matsuda, panggil ambulans! Sepertinya beliau terkena serangan jantung!"

"B-Baik!" Matsuda langsung menyambar telepon.

Watari langsung menghubungi L dan Aizawa langsung menghubungi rumah Yagami.

-00-00-

"Light bukan Kira?" Mort terdengar ingin tertawa setelah mendengar cerita L tentang percakapannya dengan Light dan Souichirou di rumah sakit. "Kau berbicara seperti itu hanya untuk menenangkan dia kan?"

"Yah..." L menekan lututnya dengan gagu. Ia terlihat tidak puas dengan kesimpulannya sendiri. "Tapi tidak berarti dia bukan Kira 100 persen," lanjutnya, "analisanya terlalu sempurna. Kecurigaanku malah bertambah."

"Kau terdengar plin-plan, Ryuuzaki," cemooh Mort sambil menyodorkannya sepiring kue berkrim, "kau harus punya pendirian."

"Aku punya pendirian, loh," L meraih piring yang disodorkan dan mulai memakan kuenya dengan garpu kecil, "kesimpulanku yang lain adalah walau Kira memiliki cara yang sama sepertimu untuk membunuh yaitu mengetahui wajah dan nama asli korbannya, Kira tidak perlu repot-repot berdiri di depan korbannya sambil mengucapkan mantra. Dengan kata lain, Kira memiliki suatu benda yang bisa digunakan untuk membunuh dari jarak jauh. Kira adalah manusia." L mengunyah kuenya sambil melihat ke arah Mort, "ngomong-ngomong," dia berbicara walau kue masih dalam mulutnya, "makhluk sepertimu di dunia ini ada berapa?" sudah lama sekali ia ingin bertanya hal itu.

Mort tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Pertanyaan yang sangat bagus." Senyum Mort Zapiska memang tidak pernah menyenangkan hati. "Kalau kau bertanya pada tanggal 13 bulan depan, aku akan menjawabnya."

==00==00==00==00==00==

Trivia~

"L, shitteiru ka? Shinigami wa ringo shika tabenai": "L, apa kau tahu? Shinigami hanya makan apel."

"Itsuka... akai chi ga te o someru": "Suatu saat nanti... Aku akan melumurkan tanganku dengan darah merah." Kalimat Mort ini dipakai oleh L saat ia berbincang dengan Light di sebuah cafe untuk membahas Kira. L menggunakannya sebagai foto surat ke-4 palsu yang ia siapkan untuk menjebak Light.

Mort terlihat lebih manusiawi di sini. Alasannya sudah dikatakan oleh L di salah satu kalimat, jadi tidak perlu saya jelaskan :p.

Baju-baju Mort yang lain, termasuk baju formal dan baju gothic serba hitam yang lain, dibelikan oleh Watari.