Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
Don't Like Don't Read
.
~ my little wife~
[chapter 04]
.
.
.
Hari libur Sasuke dan dia akan menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Sakura sedang ganti pakaian, dia baru saja pulang sekolah. Sedikit lelah dengan pelajarannya hari ini, Temari terus-terusan saja menjauhkannya dari Sasori. Ino memilih di pihak damai tidak ingin berpihak pada Sasori atau pun Temari.
Langkahnya terasa malas menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Dia butuh sesuatu untuk memperbaiki moodnya hari ini. Sakura membuka kulkas dan masih ada sepotong stroberi shortcake di sana. Memotongnya dan mengambil setengahnya untuk langsung di makan.
Bel berbunyi dan Sakura buru-buru menghabiskan kue yang masih ada di mulutnya.
"Iya, sebentar." Teriak Sakura, berjalan lebih cepat untuk menggapai gagang pintu dan membukanya.
Matanya melotot dan membuatnya membeku sejenak. Sakura sangat terkejut dengan orang yang datang ke rumahnya. Ibu mertuanya. Uchiha Mikoto.
"Apa kabar Sakura? ibu senang melihatmu kembali." Ucap Mikoto dan langsung memeluk Sakura. Tidak ingin di tanya aneh-aneh dengan ekspresinya tadi. Sakura berusaha tersenyum dan menampakkan wajah yang seakan-akan rindu juga dengan ibu mertuanya.
"Baik bu. Aku juga senang melihat ibu ke sini."
Mikoto melepaskan pelukkannya dan menatap Sakura. Wajahnya berubah menjadi cemberut saat menatap ke arah perut Sakura.
"Masih belum ada yaa?"
"Ha? Belum ada, apanya bu?"
"Ternyata benar belum ada, hmmpp. Ibu sedikit kecewa."
"Maksud ibu?"
"Ya sudah, dimana Sasuke?"
"Dia di ruang kerjanya."
"Ruang kerja? Anak itu."
Mikoto segera masuk dan berjalan cukup cepat untuk menghampiri ruangan yang tunjuk Sakura.
Masih sibuk dengan kertas-kertas laporannya, Tangannya tidak henti-hentinya mengetik beberapa data perusahaannya di laptopnya.
Suara ketukan pintu di luar ruang kerjanya itu cukup keras membuat Sasuke sedikit kesal, padahal dia sudah melarang Sakura untuk mengganggunya.
"Jangan menggangguku Sakura! Ingat 200 senti dari pintu!" Teriak Sasuke.
"Ini ibu!" Suara Mikoto jauh lebih keras, membuat Sakura yang berdiri dengan jarak 200 senti dari pintu menutup telinganya dan merasa sedikit takut dengan Mikoto yang marah setelah mendengar ucapan Sasuke.
Pintu ruangan kerja Sasuke terbuka dan menampakkan wajah Sasuke yang sedikit takut. Bukan Sakura yang mengetuk pintunya tapi ibunya.
"Ibu sudah bilang apa tentang pekerjaan?"
"Aku lupa bu."
"Pekerjaan ya di kantor, di rumah istirahat. Jangan membawa pekerjaan ke rumah."
"Maaf, bu, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku."
"Ayah dan anak sama saja. Kenapa melarang Sakura untuk ke ruanganmu?"
Sasuke menghindari tatapan langsung dengan Mikoto. "Aku hanya tidak ingin di ganggunya." Ucap Sasuke.
Mendengar ucapan Sasuke, Sakura langsung melemparkan wajah kesalnya ke arah Sasuke, dia bahkan tidak pernah mengganggu Sasuke saat di ruangannya, kecuali beberapa waktu yang lalu dia berusaha untuk masuk secara diam-diam saat Sasuke tidak ada di rumah tapi terkunci. Setidaknya Sasuke tidak mengatakan jika itu salah satu dari kesepakatan mereka berdua.
"Jangan urus pekerjaan di rumah, urus istrimu saja."
"Ah, Baik, bu."
Seperti acara persidangan, di ruang tengah, Mikoto sedang duduk berhadapan dengan Sakura yang duduk di sebelah Sasuke. Mikoto tengah memperhatikan anak dan menantunya. Sakura menjadi takut dan malah menundukkan wajahnya.
"Apa kau mengurus istrimu dengan baik?" Tanya Mikoto.
"Tentu saja bu."
"Kenapa dia semakin kecil saja?"
"Ibu, tubuh Sakura memang seperti ini."
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap kesal lagi ke arah Sasuke, dia serasa di jatuhkan begitu saja. Tubuhnya tidak kecil hanya terkesan pendek, sangat pendek.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Uhm, sekitar 5 bulan lebih bu." Ucap Sasuke.
"Sudah selama itu dan kalian belum bisa apa-apa?"
Sakura sedikit bingung dengan percakapan Mikoto dan Sasuke.
"Ibu, Sakura masih sekolah. Aku pikir biarkan dulu dia menyelesaikan sekolahnya bu."
"Ibu sedikit kecewa. Berharap setelah hari ini datang ibu sudah bisa melihat sesuatu dari Sakura."
Sakura semakin bingung, di lantai, kaki Sakura menyenggol kaki Sasuke. Dia berharap mendapat jawaban dari kebingungannya sekarang. Mau di senggol berapa kali pun, Sasuke tidak menoleh ke arahnya dan masih terfokus pada ibunya.
"Aku tidak bisa memaksanya. Dia juga masih terlalu muda."
"Baiklah. Ibu akan menunggu saja. Sudah tidak sabar ingin punya cucu."
Sakura sedikit terkejut. Ucapan Mikoto serasa ingin menghancurkannya berkeping-keping. Cucu? Mana mungkin dia bisa memiliki anak jika mereka tidak memiliki perasaan apa-apa, bahkan tidur mereka terpisah. Sakura masih belum memikirkan seseorang yang akan bersarang di perutnya. Dia masih ingin menikmati kehidupannya sebagai anak remaja normal yang pada umumnya.
Hanya Sasuke dan Mikoto yang berbicara, Sakura tidak berani ngomong di depan Mikoto, terasa canggung dan Sakura benar-benar tidak bisa berkata apa-apa jika Mikoto sangat mengharapkan cucu.
Mikoto akan pulang besok, Sakura menjadi panik. Dia harus tidur sekamar dengan Sasuke dan Mikoto akan menempati kamarnya. Sakura hanya mengucapkan kamar itu khusus untuk barang-barangnya saja. Dia tetap tidur di kamar Sasuke. Membohongi Mikoto dan Sakura merasa sedikit bersalah.
Saat makan malam, Mikoto memuji Sakura yang benar-benar handal dalam memasak, semua makanan yang Sakura buat membuat Mikoto sangat senang memiliki menantu seperti Sakura. Setelah makan malam selesai, Mikoto lebih dulu masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Sakura masih duduk di sofa ruang tengah dan belum juga beranjak dari sana. Sasuke sedang menyelesaikan bersih-bersihnya di dapur. Mereka sudah sepakat, Sakura yang akan masak dan Sasuke yang membersihkannya.
"Ada apa? Wajahmu terlihat aneh."
Sasuke berjalan dan menghampiri sofa dan duduk di sebelah Sakura.
"Aku pikir kau melarangku untuk masuk ke kamarmu."
"Benar. Tapi ini keadaan darurat, bisa saja ibuku curiga jika menemukanmu tidak satu kamar denganku, aku tidak keberatan kau masuk ke kamarku."
"Padahal dulu kau melarangku." Sakura menyipitkan matanya ke arah Sasuke.
Sasuke memegang belakang lehernya dan memalingkan arah tatapannya. "Hanya tidak ingin kau melihat sesuatu."
"Apa?" Sakura penasaran, padahal dia sudah masuk ke kamar Sasuke dan yang menarik perhatiannya hanya foto pernikahan mereka.
"Nanti saat kau masuk, kau bisa melihatnya."
Sakura menatap bosan ke arah Sasuke, dia malas akan hal yang di rahasiakan.
Sasuke lebih dulu berjalan dan Sakura mengekornya. Tiba di kamar Sasuke, gagang pintu di putar dan pintu kamar Sasuke terbuka. Sakura melirik ke sana ke mari dan melihat tidak ada yang membuatnya tertarik dan terkejut saat memasuki kamar Sasuke, masih terlihat seperti saat dia terakhir masuk.
"Tidak ada yang aneh kok."
Sasuke sedikit terkejut dengan tanggapan Sakura yang biasa-biasa saja, sebenarnya jauh di lubuk hatinya, dia sangat malu jika Sakura mendapati kamarnya dengan foto pernikahan mereka yang di bingkai sangat besar. Wajah Sasuke masih terlihat datar seperti biasanya, dia benar-benar pintar menyembunyikan ekspresinya saat ini.
"Hn, begitu yaa." Sasuke menarik lengan Sakura dan membawanya ke kamar mandi.
"Tu-tunggu Sasuke, kau mau apa?" Sakura jadi deg-degan dengan perubahan sikap Sasuke.
"Sikat gigi sebelum tidur. Memangnya kau mau apa? Ucap Sasuke datar.
"Ba-baiklah."
Mereka berdua sedang berada di dalam kamar mandi dan menyikat gigi bersama. Sakura menatap malas ke arah Sasuke. Dari pantulan cermin dia terlihat seperti anak kecil, perbedaan fisik mereka sangat jauh berbeda.
Sikat gigi sebelum tidur sudah selesai. Sakura masih berdiam diri dan bersandar di tembok. Sasuke sudah duduk di atas ranjangnya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke, Sakura masih belum juga naik ke atas kasurnya.
"Apa boleh aku tidur seranjang denganmu?" Sakura menundukkan wajahnya, dia merasa sedikit malu satu kamar bahkan satu tempat tidur dengan Sasuke.
"Kau bisa memukul dengan keras jika aku macam-macam padamu." Janji Sasuke.
Sedikit ragu-ragu, Sakura berjalan pelan mendekati sisi ranjang. Tatapannya masih ke arah ranjang kosong di sebelah Sasuke. Yang di lakukan Sakura hanya duduk dan belum juga berbaring. Ranjang Sasuke sedikit bergoyang saat Sasuke sudah merebah dirinya. Merasa Sakura masih canggung dan belum juga berbaring, Sasuke segera membalik posisinya tidurnya dengan membelakangi Sakura, mungkin dengan begitu Sakura tidak akan sungkan lagi untuk segera berbaring.
Kembali Sakura menatap foto yang ada di kamar Sasuke, dia menjadi penasaran dan kebetulan Sasuke sudah mempersilahkannya untuk masuk ke kamarnya, tidak ada salahnya untuk bertanya.
"Kenapa foto itu ada di sini?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Apa tidak sebaiknya di pajang di ruang tamu?"
"Aku pikir kau ingin menjadi orang numpang di rumah ini, bagaimana jika foto itu di pajang di ruang tamu?"
"Oh iya, kau jenius Sasuke."
Berbicara dengan Sasuke membuat Sakura sedikit lega, dia mencoba merebah dirinya di kasur Sasuke, tidak ada bedanya dengan kasur Sakura, sama-sama nyaman untuk di tiduri.
"Sasuke."
"Hn?"
"Aku, merasa tidak enak pada ibumu."
"Tidak usah di pikirkan."
"Bagaimana jika kita benar-benar tidak bisa memberi apa yang dia inginkan?"
Sasuke membalikkan posisinya ke arah Sakura. "Kau memikirkannya. Hn?"
"Bu-bukan begitu, hanya saja bagaimana jika sudah setahun pernikahan kita dan ibu masih menuntut untuk di beri cucu. Apa yang harus kita katakan padanya?"
Sasuke kembali ke posisinya membelakangi Sakura. "Berkata jujurlah pada ibuku, jika kau belum menginginkan anak."
"Aku takut mengatakannya. Takut melihat wajahnya menjadi kecewa, mungkin ibuku juga akan terlihat seperti itu, merasa sangat di kecewakan." Ucap Sakura dan wajahnya terlihat sedih.
Sejak awal pernikahan ini hanya dari orang tua mereka saja yang setuju, Sasuke dan Sakura memilih diam dan mengikuti apapun keinginan orang tua mereka. Tapi, ini juga hal yang salah, mereka tidak mungkin terus menurus membohongi kedua orang tua mereka.
"Sakura."
"Iya?"
"Kau tahu, hanya orang yang ku sukai yang boleh masuk ke kamarku."
Sakura tengah berpikir dengan kalimat Sasuke tadi, dia sendiri tidak paham dengan apa yang di ucapkan Sasuke. 'orang yang di sukai'. Semakin memikirkannya hanya membuat tanda tanya besar di kepala Sakura.
"Apa maksudmu?"
Sasuke tidak menjawab, dia sudah tertidur. Sakura bangun dan menoleh ke arah Sasuke, dia benar-benar tertidur dan tidak merespon ucapannya.
Sakura kembali merebah dirinya. Cara bicara Sasuke membuatnya sedikit kesal, sedikit-sedikit mengucapkan sebuah rahasia yang tidak ingin di bicarakan, bahkan jawaban tentang foto pernikahan mereka di kamar Sasuke masih belum jelas untuk Sakura. Dan lagi, orang yang di sukai Sasuke. Sakura menarik napasnya dalam-dalam. Sakura merasa sedikit lega, Sasuke memiliki orang yang di sukai. Tapi, entah mengapa saat Sakura memikirnya ada yang terasa mengganjal di hatinya.
.
.
OOO
.
.
Sehari setelah Mikoto datang ke rumah mereka. Sekarang tinggal Sasuke dan Sakura. Hari ini Sakura terlihat aneh bagi Sasuke. Seperti ada jarak antara mereka.
Saat Sakura berada di dapur, Sasuke lewat di samping Sakura dan langsung gadis mungil itu bergeser menjauh seakan-akan jijik dengan Sasuke. Begitu pun saat mereka sedang mencuci piring bersama, Sakura hampir menjatuhkan piring hanya gara-gara tangannya bersentuhan dengan Sasuke.
Apapun yang di lakukan Sasuke, Sakura seakan-akan menghindari darinya. Bahkan saat mereka sedang makan bersama. Biasanya Sakura akan menceritakan sesuatu dengan sangat antusias meskipun di tanggapi malas oleh Sasuke, Sakura tetap menyelesaikan ceritanya. Tapi, Sakura hanya terdiam dan menyantap makanannya dengan tenang.
"Ada apa?" Tanya Sasuke saat menemukan Sakura yang sibuk menonton.
"Apa?" Sakura malah tanya balik dan tetap fokus pada tv.
"Sikapmu aneh akhir-akhir ini. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada kok."
"Apa ada masalah di sekolahmu?"
"Tidak ada."
"Lalu?"
"Apa? Aku benar-benar tidak punya masalah." Sakura merasa kesal dan segera ke kamarnya.
Sasuke menatapnya pergi begitu saja, meskipun di cegat, Sakura akan semakin kesal padanya. Sasuke kepikiran jika dia sudah membuat hal yang salah sampai-sampai Sakura tidak ingin meresponnya lagi. Ada apa? Sasuke benar-benar bingung. Setelah Mikoto, ibunya pulang, sikap Sakura mulai seperti itu, apa mungkin dia tertekan dengan ucapan Mikoto. Sasuke benar-benar perlu berbicara serius dengan Sakura.
Suasana rumah menjadi tidak nyaman untuk Sasuke, di ruang kerja, Sasuke tidak berniat mengurus data-data perusahaannya, Sasuke memilih berbaring di sofa, yang di pikirannya, bagaimana caranya bisa berbicara dengan Sakura? Selalu jika saat Sasuke mulai pembicaraan Sakura pergi begitu saja.
Hari ini Sasuke menjemput Sakura dan mereka sudah tiba di garasi rumah. Sakura ingin membuka pintunya dan pintu mobil dalam keadaan terkunci.
"Kita perlu berbicara."
Sakura menoleh malas ke arah Sasuke. "Apa sangat penting sampai-sampai kau mengunciku di sini?"
"Cukup penting."
"Jadi, apa yang kau ingin bicarakan?"
"Tentang sikapmu akhir-akhir ini. Kau marah padaku?
"Tidak, untuk apa?"
"Kau seperti menjauh dan tidak senang jika bersamaku. Apa gara-gara ucapan ibuku?"
"Tidak juga. Aku menjauh? Tidak, untuk apa aku melakukan hal seperti itu?"
"Ceritakan saja jika kau sedang kesal padaku."
"Aku tidak mengerti Sasuke, lagi pula aku benar-benar tidak marah padamu dan merasa menjauh."
"Ya, kau menjauh."
Sakura terdiam, sikapnya akhir-akhir ini mungkin sedikit aneh. Sakura merasa sedikit tidak nyaman dengan Sasuke. Berpikir untuk menjuahi Sasuke demi tidak adanya salah paham antara mereka. Mungkin Sakura menghargai kata-kata Sasuke dengan sudah memiliki orang yang di sukainya.
"Uhm, maaf, mungkin aku sedikit menjaga jaga jarak, soalnya aku tidak mau orang yang kau sukai itu salah paham."
Sasuke mengerutkan alisnya. Dia sendiri tidak paham dengan apa yang di ucapkan Sakura. Orang yang di sukainya. Apa Sakura sudah mengetahui orang yang di sukainya?
"Aku tidak mengerti."
"Bodoh, aku hanya ingin dia tidak salah paham."
"Dia?"
"Orang yang kau sukai."
"Siapa?"
"Ma-mana ku tahu, kau sendiri yang mengatakannya."
"Kapan?"
"Saat berada di kamarmu dan kau sendiri yang mengucapkannya, kalau hanya orang yang kau sukai yang akan masuk ke kamarmu. Apa kau tiba-tiba lupa ingatan?"
Sasuke terdiam sejenak, menarik napasnya perlahan dan menghembuskannya.
"Kau salah paham Sakura."
"Salah paham? Jadi yang kau ucapkan itu tidak benar?"
"Bisa di katakan benar bisa juga tidak."
"Jangan membuatnya semakin rumit. Katakan yang sebenarnya."
"Apa?"
"Siapa gadis yang kau sukai itu?"
"Apa kau sangat penasaran ingin mengetahuinya?"
"Bu-bukan begitu, aku hanya ingin tahu saja, ha-hanya itu." Sakura merasa malu sendiri dengan ucapannya.
"Uhm..., badannya sedikit kecil, ucapannya sedikit kasar, dia lumayan mandiri dan jago masak."
"Aku tidak butuh ciri-cirinya. Ayo cepat, sebutkan saja namanya."
Sasuke kembali terdiam. Tatapannya fokus ke arah mata Sakura, dia benar-benar penasaran ingin mengetahui gadis yang di sebutkan Sasuke.
"Sakura."
"Apa?"
"Bukan. Namanya Sakura."
"Oh, namanya Sakura. Aku pikir siapa." Sakura tertawa pelan dan akhirnya dia mengetahui siapa gadis yang di sukai Sasuke. Detik berikutnya tatapannya berubah menjadi merona dan memerah total, di alihkan pandangannya ke arah Sasuke yang sejak tadi masih setia menatapnya. "S-Sakura siapa? Apa ada nama Sakura lain di kota Konoha ini?" Tanya Sakura mencoba mendapatkan kejelasan dari Sasuke, dia masih belum berpikir jika Sakura yang di maksudkan Sasuke adalah.
"Uchiha Sakura. Lengkapnya. Apa kau sudah puas nyonya untuk mengetahuinya?"
Sakura terkejut bahunya sedikit terangkat ke atas dan langsung kedua tangannya sendiri membungkam mulutnya. Wajahnya masih merona. Segera saja Sakura membalikkan wajahnya menghadap ke pintu mobil.
"J-jangan bercanda, ini tidak lucu Sasuke." Sakura menjadi gugup.
"Aku serius."
"Hahahaha, sudahlah, aku tidak percaya padamu." Ucap Sakura tanpa mengubah posisinya.
Sasuke bergerak mencondongkan tubuhnya ke arah punggung Sakura, wajahnya berada tepat di belakang Sakura.
"Apa perlu aku buat kau percaya?" Bisik Sasuke.
Sakura kembali terkejut dan berbalik. Sedikit lagi, tinggal 5 senti bibir Sakura hampir menyentuh bibir Sasuke, refleks Sakura mendorong Sasuke menjauh dan membuat kepala Sasuke terbentur.
"Sakura...!" Geram Sasuke. Kepalanya benar-benar sakit saat membentur kaca mobil.
"M-maaf. Maaf Sasuke. Aku tidak sengaja" Ucap Sakura panik. Dia juga bisa mendengar dengan jelas bunyi benturan kepala Sasuke.
"Ahk, sepertinya aku jadi lupa ingat." Canda Sasuke.
"Tidak lucu." Ucap Sakura, wajahnya menjadi malas melihat Sasuke.
Kunci pintu di mobil terbuka dan Sakura segera keluar. Sasuke menggosok belakang kepalanya, semoga tidak terjadi pembengkakan di sana, jika iya, mungkin sakura bisa di tuntutnya, kekerasan dalam rumah tangga. Sakura masih mematung dan belum juga pergi dari samping mobil. Wajahnya kembali merona saat mengingat ucap Sasuke, serasa ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.
"Sakura?" Ucap Sasuke, merasa Sakura seperti sedang berada di dunia lain dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
"Sakuraa.." Kembali panggilan itu terdengar dengan sedikit keras Sasuke mengucapkannya.
"Eh? I-iya, ada apa?"
"Jangan melamun dan segeralah masuk ke rumah."
Sakura menuruti perintah Sasuke. dia berjalan seperti mayat hidup, pikirannya kembali entah kemana.
"Sakura! awas pilar di depanmu!" Teriak Sasuke.
Sakura segera menyadarkan dirinya dan hampir saja wajahnya mendarat ke salah satu pilar yang menghiasi teras rumah mereka. Sakura sempat menampar pilar itu dan menggerutu sendiri, memarahi pilar itu.
"Siapa sih yang menaruh pilar ini di sini." Ucap Sakura kesal, melototi pilar itu sebelum menggapai pintu masuk.
Sasuke hanya memperhatikannya dari dalam mobil, senyum tipis menghiasi wajahnya dan sedikit merona. Dia sudah mengatakan yang sebenarnya.
Sejak awal bertemu dengan Sakura. Sasuke sedikit tertarik dengannya, setelah bertemu lagi, Sasuke semakin suka. Dia suka akan sikap tegas Sakura namun sedikit kasar, sikapnya memang masih kekanak-kanakan, tapi tidak membuat Sasuke mengurangi rasa sukanya. Dia lebih senang dengan gadis yang to the point, tidak berbelit dan tidak terkesan manja. Sakura gadis yang kaya, dengan banyak pembantu, tapi setelah mendengar ucapan Sakura, dia sadar jika Sakura bukan gadis manja yang Sasuke sudah pernah temui sebelumnya. Sasuke merasa bosan dengan tingkah wanita-wanita yang terlalu bersikap manja padanya.
.
.
OOO
.
.
Beberapa hari berlalu dan tidak ada tanggapan dari Sakura. Dia sudah mengetahui perasaan Sasuke, tapi tidak ada jaminan jika Sakura juga akan langsung menyukai Sasuke. Dia perlu memantapkan hatinya. Sikapnya yang masih labil dan tidak ingin memutuskannya begitu saja. Sakura merasa semakin tidak nyaman dan canggung pada Sasuke.
"Sakura." Panggil Sasuke saat di dapur.
Praanggg...!
Sakura menjatuhkan piringnya. Mau bagaimana pun, semua tingkah dan panggilan Sasuke membuatnya semakin gugup dan kaget-kagetan.
"Jangan bergerak." Pinta Sasuke.
Sakura berhenti melangkah dan diam pada posisinya. "Maaf, aku tidak sengaja." Rasanya Sakura ingin menangis, untuk pertama kalinya dia memecahkan piring yang ada di dapur.
"Tidak apa-apa." Ucap Sasuke.
Sasuke memungut satu persatu pecahan piring di lantai dan membuangnya ke tempat sampah, kembali Sasuke memperhatikan ke sekeliling lantai. Merasa semua pecahan sudah tidak ada, Sasuke memperbolehkan Sakura bergerak.
"Lain kali hati-hati." Ucap Sasuke dan menatap Sakura.
Sakura mengangguk dan wajahnya tertunduk. Berpikir untuk mengubah sikap Sakura. Sasuke merasa sikap Sakura saat ini jauh lebih parah dari sebelumnya. Dia memang tidak menghindar atau menjauh, tapi lebih ke salah tingkah dan seperti terlihat kebingungan.
Terdiam dan tidak melakukan apa-apa. Sakura masih ada posisinya berdiri dan mematung. Sasuke berjalan perlahan dan menghampiri Sakura.
"Mungkin sejak awal aku tidak perlu mengucapkannya." Sasuke merasa jika pernyataan sukanya mengganggu Sakura.
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap wajah Sasuke. "Apa sikapku mengganggumu?" Tanya Sakura hati-hati, dia kembali merasa tidak enakan pada Sasuke.
"Tidak. Aku rasa ucapanku yang membuatmu berubah. Aku tidak menuntut apapun dari rasa sukaku padamu, aku pikir kau bebas menentukan apapun."
"B-bukan begitu! Aku..aku uhm, aku sedikit senang mendengar ucapanmu. Sebenarnya, kau bukan orang yang pertama mengucapkan seperti itu padaku, hanya saja." Sakura terdiam sejenak, wajahnya kembali menunduk dan tatapannya melirik ke kiri dan ke kanan. Sasuke bisa melihat wajah Sakura mulai merona."Hanya saja. A-aku belum terbiasa dengan perubahan ini. Aku pikir kita masih teman baik untuk sementara waktu." Lanjut Sakura.
"Kau menolakku?"
Sakura segera mengangkat wajah lagi. "Tidak!" Tegasnya.
"Hn?"
"B-beri aku waktu, aku tidak bisa terburu-buru seperti ini." Wajahnya kembali menunduk, menyembunyikan rona merah di wajah putihnya.
"Ahk, baiklah." Ucap Sasuke. tangannya perlahan mengusap puncuk kepala Sakura dan membuat si gadis berambut softpink sedikit tersentak kaget, tapi dia tidak menolak perlakuan Sasuke.
.
.
OOO
.
.
Tanggal yang sangat bersahabat, di kalender tercatat tanggal merah jatuh pada hari sabtu. Sakura sangat senang dengan tanggal di bulan ini. Dia sudah menjadwalkan akan pergi berlibur di hari jumat setelah pulang sekolah, cukup banyak waktu untuk bersantai dan bersenang-senang, jumat pergi, nginap hingga minggu dan minggunya akan pulang. Sakura sudah menentukan tempat yang ingin di kunjunginya. Dia ingin ke pantai dan membujuk Sasuke untuk menginap di villa yang pemandangannya langsung menghadap pantai. Sasuke meng-iya-kan ajakan Sakura, mungkin dia juga butuh liburan untuk beberapa hari.
kamar sudah di pesan, barang-barang dan perlengkapan sudah siap. Sakura terlihat senang dan sangat bersemangat. Sampai-sampai tatapan Sasuke ke arahnya tidak di sadarinya. Sejam mereka akan tiba di pantai Konoha.
Wajah Sakura berubah menjadi suram dan semangatnya yang tadi saat berangkat hilang entah kemana. Cuaca di pantai sangat buruk,yang terlihat hanya angin kencan, langit gelap padahal belum malam dan juga hujan yang lebat. Sakura memandangi itu semua dari jendela kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya, di villa ini sangat ramai dan mereka hanya mendapatkan satu kamar.
"Sepertinya aku salah pilih tempat." Ucap Sakura dan masih menatap kaca jendela, wajahnya cemberut.
"Kita bisa ke tempat lain." Ucap Sasuke yang sedang berbaring di kasur.
"Tidak, aku ingin ke pantai, menikmati sinar matahari dan laut." Rengek Sakura, menatap Sasuke dan kembali menatap keluar jendela.
"Hujannya semakin lebat."
Wajahnya semakin cemberut mendengar ucapan Sasuke. Hujannya memang semakin lebat dan tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.
"Sakura."
"Apa?"
"Kemarilah."
Sasuke bangun dan duduk di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sedikit lelah, dia sudah berusaha menyelesaikan berkasnya sebelum liburan, cukup membuatnya tidak tidur berhari-hari agar bebas dari tanggung jawab sebagai direktur utama sejenak.
Sakura berjalan malas ke arah Sasuke dan menghampirinya. Saat Sasuke duduk di sisi ranjang, Sakura sedikit tinggi darinya, memudahkannya untuk menarik Sakura dan memeluknya erat.
"S-Sasuke. Apa yang kau lakukan?" Wajah Sakura sudah memerah, meskipun Sakura berusaha melepaskan Sasuke, pelukkannya semakin erat dan membuat Sakura menyerah, membiarkan Sasuke memeluknya.
"Sedikit dingin, apa mereka menyalakan acnya?"
"Aku pikir tidak."
"Hmm."
"Sasuke, a-aku sedikit tidak nyaman?"
"Kau tidak suka ku peluk?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"R-rasanya aku akan pingsan."
Sasuke segera melepaskan Sakura, membuat gadis itu mendur selangka setelah lepas dari Sasuke. Wajahnya sangat merah, dia sampai gugup dan deg-degan di peluk Sasuke. Ini untuk pertama kalinya ada pria yang memeluk Sakura selain ayahnya.
"Aku pikir kita masih menjadi teman yang baik kan." Ucap Sakura.
"Aku tidak bisa Sakura."
"Biasakan!" protes Sakura.
"Tidak."
"Kita sudah sepakat dengan memberiku waktu kan?"
"Itu berlaku hanya untukmu." Sasuke mengalihkan tatapannya ke samping. "Aku benar-benar menyukaimu, Sakura." Ucap Sasuke.
Jika ini adalah ruangan kedap suara, Sakura sudah berteriak histeris. Lagi-lagi ucapan Sasuke membuatnya sedikit melayang. Dia harus menahan dirinya untuk tidak mengucap sesuatu yang membuat Sasuke tidak senang, seperti membantahnya atau langsung mengatakan dia tidak bisa. Bukan seperti itu, Sakura masih menimbang-nimbang perasaannya. Dia butuh waktu untuk memikirkan perasaannya terhadap Sasuke, berharap itu bukanlah perasaan seperti hanya membutuhkan orang dewasa di sampingnya.
"T-terima kasih." Ucap Sakura malu-malu.
Sasuke kembali menatap Sakura. Tatapannya sangat kelam dan membuat Sakura sulit menebak apa yang di pikirkan Sasuke.
Tangan Sasuke terangkat dan seperti meminta Sakura untuk duduk di sampingnya. Sakura mengikuti perintah Sasuke. Mereka duduk bersebelahan. Detik berikutnya, Sasuke berdiri dan berjalan satu langkah ke depan, membalikkan badannya dan kembali menatap Sakura.
"Ada apa?" Tanya Sakura dan juga menatap Sasuke.
"Boleh aku menyentuhmu sebagai kesepakatan baru kita?"
"Heee! Aku tidak ma-"
Ucapan Sakura terputus, Sasuke sedikit merundukkan badan, mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Sakura cukup lama dan melepaskanya, wajahnya masih belum menjauh dari Sakura, pria si pemilik mata onyx ini masih senantiasa menatap wajah Sakura. Rona merah kembali menghiasi wajah putih Sakura, dia sangat terkejut dan langsung menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap Sasuke.
Sakura kembali merasakan ada yang menggeletik perutnya. Sasuke menciumnya, ini adalah hal yang Sakura tidak percayai. Bibirnya sudah di sentuh orang, tapi bukan masalah jika yang menyentuhnya hanya suaminya sendiri, dia bahkan sampai lupa jika Sasuke adalah suaminya. Kesepakatan yang sedikit konyol, Sasuke minta ijin untuk menyentuhnya. Sejujurnya, Sakura masih takut, dia takut jika Sasuke langsung menerjangnya. Kata-kata Ino seperti sudah melekat sangat erat di kepalanya. Kepikiran jika Sasuke itu adalah pria yang liar, membuat Sakura sangat percaya mengingat Sasuke adalah pria yang dewasa.
Tidak mendapat respon yang berarti, Sasuke mulai menjauhkan wajahnya. Tapi tangan gadis di hadapannya mencengkram pelan koas bajunya agar tidak menjauh dari hadapannya, gadis itu masih menunduk dan belum mengangkat wajahnya. Sasuke sedikit bingung dan tidak paham dengan tangan Sakura yang masih menahan bajunya.
"L-lagi." Ucap Sakura gugup. Di pikiran Sakura, mungkin jika hanya sebuah ciuman akan membuatnya baik-baik saja.
Tanpa aba-aba lagi, Sasuke kembali mencium bibir Sakura. Sangat lama dan sedikit menuntut Sakura untuk memperdalam ciumannya. Takut bercampur gugup, Sakura menuruti apapun yang Sasuke lakukan pada bibir dan mulutnya. Mata Sakura tertutup rapat dan segera di bukanya saat merasakan tangan Sasuke sudah menjelajahi bagian punggungnya dan melepas pengait branya, ciumanya pun sudah turun ke leher Sakura.
"T-tunggu dulu Sasuke." Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke untuk menjauh." Sasuke!" Teriak Sakura.
Merasa ada perlawanan, Sasuke segera menarik tubuhnya menjauh dari Sakura. Satu tangannya sudah naik dan menutup mulutnya, tatapannya menghindari Sakura. Wajahnya sedikit merona dan Sakura bisa melihatnya.
"Aku terbawa suasana." Ucap Sasuke.
"Maaf, Aku belum siap." Ucap Sakura dan napasnya sedikit tidak karuan.
"Hn, tidak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf."
Tatapan Sasuke mengarah Sakura dan dia menyesal sudah memaksakan egonya pada Sakura. Sedikit sulit untuk Sasuke menahan dirinya jika bersama Sakura setelah apa yang di ucapkannya. Dia berusaha untuk tetap memasang sikap dinginnya sebelum Sakura tahu perasaannya yang sebenarnya, dulu. Sekarang, Sakura sudah mengetahuinya dan dia butuh ijin dari Sakura.
"H-hanya ciuman aku pikir tidak apa-apa. Tapi, kau harus lebih mengendalikan dirimu tuan." Ucap Sakura.
Sasuke tersenyum tipis. Kembali mendekatkan wajahnya ke arah Sakura dan menciumnya sepintas.
"Ahk, baiklah nyonya."
Sakura tersenyum malu menatap Sasuke. Berharap segera memiliki perasaan yang sama dengan Sasuke.
"Aku pikir besok akan cerah." Ucap Sasuke.
.
~ TBC ~
.
Halo...~ hmm, auhtor sibuk dan susah untuk mengetik, cuman punya waktu mengetik hanya pada malam hari, yaah, bagus aja kalau tidak ketiduran, soalnya beberapa hari ini ketiduran mulu, hahahahahahah.
Author kasih rentang update itu 2 mingguan yaaa, padahal kepikiran sebulan, jadi update tiap bulan :D tapi nggk jadi, author udah tahu rasanya nunggu fic yang lamaaaaaa update. Kalau lewat tandanya lupa :D :D harap maklumlah, author manusia biasa yang hidup di dunia nyata XD *nggk ada yg nanya*
Sekali-kali, bikin Sasuke yang suka duluan, siapa tuh kemarin-kemarin yang review udah di bongkar, author mau timpuki pake sendal, hahahahah *bercanda*
Semoga terhibur dengan chapter ini. masih ada beberapa hal yang mau author ketik, tapi di next chapter aja. Sedikit tidak adil, beberapa author lain, kalau ngetik dikit banget..., nggak puas bacanya, *curhat lewat*
review yg kena april moop XD
terima kasih atas reviewnya, hahahahha, yah, author ndak bakalan marah balik kok sama reviewnya, XD *di tabok rame-rame reader*
Yoshimura Arai, Little pinky mouse, geegee (wowwoh), Guest , Misa safitri3, dianarndraha, Dobe Amaa-chan, Euri-chan, Cherrynia Uchiha, Uchiha Rinufa, Nakashima Rie, Yukihiro Yumi, teeeneji, sjxjs, Uchiha Pioo, fansanime, williewillydoo, QRen, Guest, A panda-chan, OnadVia,
Balas review ::
Hyuugadevit-Chery : mungkin bagusnya kasih obat insomnia aja, hahahahah, udah update yaa.
Niayuki : terima kasih,
echaNM : di kamar sudah ketahuan tinggal ruangan kerja Sasuke, hehe, apa yaa kira-kira yang di sembunyikan Sasuke di ruang kerjanya XD
Kiki Kim : hahahahah, semi ala kadarnya XD sudah update yaa.
kazehayaza : maafkan author yang sedang menghibur diri dengan sedikit mengganggu reader, *kena tabokan* XD belum ada masalah sih di chapter ini, mungkin chapter berikutnya *supiler*
UchiHaruno Sya-Chan : mungkin ini sudah manis, hehehehe, maaf, lagi nggk bisa update kilat, author udah curhat di atas XD
teeeneji : kamu yaa pelukanya yang bongkar-bongkar ide author..., *dan langsung di tabok* hhahahaha, *bercanda ceritanya* XD mau di edit sampe puluhan kali pun typonya kelewatan mulu, hahahahahah, ahk, maklum lah, kalau ngetik tengah malam udah nggk lihat baik2, apa lagi ngetik cepat, XD update...~
Niji Haruno : sudah update..
Euri-chan : author bukan orang suka PHP kok, hahahahaha, kecuali chapter 3 paslu waktu lalu XD yosh! semangat, sudah update yaa...
innerene : demi melindungi fic ini author kasih rated M soalnya ada konten yang menurut author khusus orang dewasa aja sih XD yaah, sebagai suami yang baik harus melindungi istrinya kan XD
QRen : sudah romantis dehh kyknya. *bersemangat*
kimberchan : karena sasori... nanti author cerita di next chapternya, heheheheh. lanjutt...~
Mustika447 : hehehe, no problem, okey, sudah update yaa..~
ArielLittleMermaid : sudah update yaa.~
Younghee Lee : next..~
meganeko-chan : Yoii...~ di balik lagi posisi mereka heheh, XD update!
Me : Thank you so much...~ update!
jamurlutan : heheh, terima kasih, update yyoo..~
A panda-chan : sudah update
Uchiha Junkie : uhmm, nanti author pikir-pikir dulu hahaha, nggk bisa janji jika alurnya mulus-mulus saja, *laugh devil* haa, maaf, author tidak terlalu suka Saku panggil -kun pada Sasuke. fic author semua nggk ada Saku manggil gitu, alasannya author kurang suka, terdengar saku untuk manja banget, diakan wanita kuat, hahahaha, *alasan macam apa itu* tapi intinya author tidak bisa, maaf.
devinamira : thanks!
Guest : maaf nggk bisa update kilat lagi yaa, baca curhatan author di atas, maaf, XD
azriel kanhaya : iya, datar-datar aja, hahahah, semoga fic ini cukup terhibur, hehehehe, sedikit membongkar perasaaan si abang sasu. hehehe
selesaibalas...~
next chapter nunggu lagi yaa, author sudah nggk bisa update kilat seperti "my little husband" -maaf-
