Chapter 3
"Noona," Jungkook sedikit berbisik pada seorang resepsionis berumur dua puluh lebih dengan name tag Lim Nayoung. "Ya?"
"Tadi itu, siapa?" ada jeda sesaat, "Meme bilang mereka orang baik, tapi meme tidak mengatakan apapun saat ku tanya siapa mereka. Noona tahu?"
Nayoung sedikit berjengit, sudah pasti Jungkook akan mempertanyakan siapa orang-orang tersebut yang sudah biasa berkunjung kemari. Jungkook tak begitu senang kerja di kantor, imajinasinya lebih luas jika di rumah untuk menggambar desain, oleh sebab itulah Jungkook tak pernah tahu asal mula orang-orang tersebut, "Maaf tuan, saya juga tidak tahu. Mereka jarang bertamu kemari."
Jungkook mengernyit bingung, Nayoung berkata gugup.
"Masa? Lalu jika mereka jarang kemari, Noona tidak mau melaporkan hal-hal ganjil seperti tadi kepada Meme?" Jungkook menghujani berbagai pertanyaan, memuaskan rasa penasarannya akan orang sok berkuasa tadi. "Iya. Seperti yang ibu bilang, mereka orang baik. Jadi buat apa saya melapor."
Jungkook mengangguk, sedikit percaya pada sang resepsionis walau dalam hati kecilnya ia ingin sekali mengetahui siapa dalang dari orang-orang tersebut.
"Yasudah, bilang ke Meme kalau aku pulang. Terimakasih, noona."
Jungkook tersenyum, melambaikan tangannya pada sang resepsionis.
Saat kakinya melangkah menuju parkiran, suara notifikasi terdengar dari ponsel yang berada di dalam saku celana bahan Jungkook.
Beloved Prince
Sayang, maaf, sepertinya aku tidak bisa malam nanti. 12.04pm
Aku harus lembur untuk mengerjakan skripsi akhirku. 12.05pm
Jungkook memberenggut kesal, sungguh. Ia merindukan sosok tinggi yang senantiasa menjadi sumber moodnya. Namun apaladaya, sang kekasih juga kini hampir menyelesaikan studi S2nya.
Jungkook mencoba untuk tidak egois, namun tetap saja hatinya mendorong untuk sesekali bersikap egois pada kekasihnya. Segera ia menepis segala pemikiran bodoh dari kepalanya.
Jeon Jungkook.
Tak apa. 13.35pm
Semangat untuk skripsi mu! :D 13.36pm
—No Promises—
Jungkook memutar arah dari rumahnya menuju sebuah kedai dekat perusahaan Memenya. Sudah lama sekali ia tidak mencicipi cemilan dari kedai ini.
Ia memarkirkan mobilnya, membuka pintu kedai yang di sambut suara bel masuk tanda ada seorang pelanggan lain. Ia menatap sekeliling, mencari bangku kosong dan—
"Eh?"
Jungkook melangkahkan kakinya menuju meja seorang lelaki dengan balutan jas mahal, lengkap dengan sepatu pantopel mengkilat yang membungkus kaki panjangnya. Lelaki tersebut kini tengah menatap jengah ke arah layar MacBook silver miliknya.
"Kim?"
Jungkook memanggil sekali lagi, pria tersebut mendongakkan kepalanya, sedikit kaget melihat Jungkook dengan balutan kemeja merah maroon tengah berkeliaran di kedai ini. "Jeon? Buat apa kemari?"
"Ah, itu," Jungkook menarik kursi di hadapan Taehyung, mendudukkan dirinya dan memanggil pelayan. "Aku memberikan rancangan busana pada Meme, karena belum makan siang, aku memutar jalan dan memilih makan di sini."
Pelayan yang di panggil Jungkook melangkah mendekati mereka, menanyakan pesanan Jungkook dengan sopan. "Aku teh dan croissant saja."
Pelayan tersebut mengangguk, berbalik dan melangkah menuju kasir.
"Kupikir kau di gedung utama." Taehyung menghela napas, mematikan laptopnya dan menatap kedua onyx Jungkook. "Ya, aku bosan di kantor dengan berbagai tugas, jadi aku membawa MacBook ku kemari sembari meminum kopi."
Jungkook mengerucutkan bibirnya kesamping, "Saat aku ke kantor, ada orang-orang yang menyeret karyawanku dengan paksa. Mereka bilang sudah diijinkan oleh bos mereka, dan Meme bilang mereka orang baik. Menurutku tidak, karena aku belum tahu tentang mereka."
Taehyung mengerutkan dahinya, "orang-orang yang menyeret karyawanmu?" Jungkook mengangguk, "ya, mereka memakai jas dengan bos mereka yang menggunakan kacamata hitam."
"Mungkin ibumu benar." Taehyung menjawab sekenanya.
"Penjualannya lancar?" Jungkook mengubah topik, menarik MacBook Taehyung dan menyalakannya, sesaat muncul lah berbagai grafik peningkatan dari bulan ke bulan.
Taehyung mengintip sekilas ke layar MacBooknya, menggeser kursor untuk membuka halaman selanjutnya. "Ya, mereka senang dengan desain musim semi yang kau buat tahun lalu. Penjualannya meningkat bahkan hingga sekarang." Tangan panjang Taehyung menunjuk ke arah sebuah grafik garis yang menunjukkan peningkatan dari bulan ke bulan.
"Aku tengah dibanjiri ide kala itu." Taehyung hanya mengangguk mengiyakan, menarik MacBook nya dari hadapan Jungkook. "Kau sudah mulai bekerja sekarang?"
Taehyung memandang layar MacBooknya seksama, bola matanya seakan mengikuti gerakan kursor di layar, "Ya. Tak ada yang menggantikan posisiku jika aku terus menerus meminta cuti. Lagipula, aku tidak terlalu suka berdiam diri."
"Workaholic." Jungkook menyeletuk, membuat Taehyung sukses tertawa pendek.
"Ya, bisa dikata seperti itu." senyap selama beberapa sekon sebelum ponsel miliknya menyala, tanda ada telepon dari seseorang, "Maaf," Taehyung beranjak dari kursinya setelah diberi anggukan oleh Jungkook.
Jungkook menoleh kebelakang, menatap bahu lebar milik suami—coret— Taehyung. Ia terlihat kesal, terbukti dengan raut wajahnya yang mengeras ketika menjawab obrolan dari seberang dengan kedua tangannya yang terkepal.
"Maaf tuan? Ini pesanannya."
Jungkook sedikit terkejut akan kedatangan pelayan dengan nampan berisi teh dan croissant miliknya. "Ah, ya. Silahkan taruh saja."
"Em, bisakah kau membungkuskan satu croissant lagi?"
"Tentu, tuan." Sang pelayang tersenyum halus, menempatkan nampan hitamnya di dada. "Terimakasih."
Kring
Jungkook menoleh ke arah pintu masuk, memperlihatkan Taehyung yang tengah tergesa-gesah berjalan ke arahnya. "Ingin kembali?"
"Ya. Ada masalah di kantor," Taehyung menarik MacBooknya, menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal, "dan, selamat siang."
Ia membalikkan badan, berjalan tergesa-gesa menuju mobil audi yang ia parkir di depan kedai.
—No Promises—
"Tae!"
Jungkook berlari tergesa menuju Taehyung yang tengah membuka pintu mobil. "Apa?"
Jungkook menyerahkan bungkusan berlogo kedai yang ia masuki barusan, "ambil, aku tahu kau tidak makan dari pagi. Jagalah kesehatan meski banyak pekerjaan."
Taehyung mengambil bungkusan tersebut, terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil ke arah Jungkook, "Terimakasih, dan sampai jumpa."
Jungkook tetap terpaku dalam pijakannya, menatap mobil Taehyung yang semakin lama semakin hilang di telan jarak. Hingga mobil milik Taehyung menghilang dari penglihatan Jungkook, barulah ia kembali memasuki kedai.
Memang apa salahnya memberi sedikit ekhem perhatian kepada temanmu. Tidak di larang kan?
—No Promises—
Seorang lelaki mengetuk pintu ruangan berwarna krem dengan beberapa lukisan yang tergantung apik di sebelah pintu masuk. Seorang lelaki lain terlihat membuka pintu, menampilkan senyuman selamat datang dan mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk pada sofa yang telah di sediakan.
Ia menutup kembali pintu, setelah sebelumnya mengecek keadaan sekitar yang benar-benar sepi.
"Sudah kuduga kau akan datang,"
Lelaki tersebut tersenyum remeh, menyeruput secangkir teh tawar dengan seringai khasnya. "Oh, tidak mungkin saya tidak datang."
"Ya, tipikal orang sepertimu pasti bukan termasuk yang 'menusuk dari belakang'." lelaki yang tengah menyeruput tehnya tertawa ringan, gigi putihnya terlihat sangat jelas serta kedua matanya menyipit. "Mungkin memang aku lebih senang akan menusuk secara terang-terangan. Kupikir, ayolah, kurang seru jika kau harus bermain di belakang."
"Anda sangat berbahaya," lelaki parubaya di depannya berkata ringan, menempatkan sebuah dokumen bersampul merah ke arah tamu di depannya. "Kupikir ini yang anda mau, namun sayang sekali, sisanya harus anda bayar dengan harga yang mahal."
Lelaki tersebut menegakkan badannya, mengambil dokumen yang berisi suatu biodata seseorang, lengkap dengan berbagai foto tempat terakhir di temukannya. "Mungkin ia bagus, dilihat dari riwayatnya, bisa saja ia berharga mahal."
"Ah, siapa dia?"
"Permata. Kunci untuk dapat menaklukkannya." pria tersebut menaikkan alisnya, tersenyum penuh arti dihadapan tamunya yang kini menampilkan seringai lebar di wajah keriputnya. "Aku ambil. Senang bisa berbisnis dengan mu. Akan ku kirim biayanya setelah ini."
"Anda memang selalu mencari yang seperti ini,"
Kedua orang tersebut berjabat tangan, saling menyunggingkan senyum sebelum salah satunya keluar dengan menenteng map berisi biodata seseorang yang rahasia.
Saat ia keluar dari kantor tersebur, seringai di wajahnya tak kunjung hilang. Ia melangkah angkuh, seluruh pegawai yang melewatinya menunduk takut.
"Lama tak bertemu, namun kupastikan kita bertemu dengan kau yang menunduk kalah." gumamnya pelan.
—No Promises—
haii fast update nih :3
dann aku agak kecewa sih sama capt kemaren, yg review dikit bangetttt beda sama siders yang buaaanyak banget huhuhu. maaf kalau ffku ga bagus bagus amat. masih amatir soalnye wehe
dan sesuai janjiku aku up seminggu sekaliii! 1! ya kalau ndak mager wkwk. terimakasih, EnJoy!!
-formyv
