| Slow Dance |

Disclaimer : all characters that's Masashi Kisimoto own

Genre : romance/drama

Rate : Mature

Bab IV

| NOW ON |

Maafkan untuk segala bentuk typo ataupun kesalahan lainnya.

Saya akan sangat senang dan mengghargai jika kalian berkenan memfollow, mereview dan memvote jika kalian menikmati setiap cerita yang saya tulis.

Terima kasih..

SELAMAT MEMBACA

SLOW DANCE

HEXE & ICHIMACCHAN_

.

.

.

"Selamat pagi, gadis magic."

Hinata menoleh ketika pintu toko terbuka otomatis. Sebuah sapaan akrab menjadi penyambut harinya pagi ini, Nona Tsunade tersenyum dan bersandar di samping pintu kemudian berjalan menghampiri Hinata yang tengah sibuk dengan adonan roti dan pemanggangan.

"Selamat pagi, Nona Tsunade."

Nona Tsunade melambaikan tangan singkat, instruksi agar Hinata tidak perlu repot-repot menjemputnya di depan pintu. Wanita cantik berambut pirang itu menajamkan indera penciuman, semburat senang merambat cepat di pipinya mengalahkan polesan blush on yang tidak pernah tertinggal.

"Kau membuat roti baru? Sepertinya akan sangat enak!"

Gerakan Hinata yang sedang membentuk adonan roti di atas loyang terhenti sejenak, senyum lebar nyaris membelah wajahnya.

"Ini semua berkat anda, Nona Tsunade!"

Nona Tsunade tertawa keras. Mendudukkan diri di salah satu kursi pelanggan.

"Kau yang menciptakan ini semua, gadis magic!"

Gadis magic. Adalah sebutan dari Nona Tsunade untuk Hinata, atas keberhasilan gadis itu menyulap toko roti yang awalnya terbengkalai menjadi sebuah surga ragi yang telah menarik banyak minat masyarakat. Toko roti yang kini diberi nama 'San Backery' itu berjalan dengan sangat sukses, mengalami renovasi bangunan yang begitu signifikan juga rating kepuasan pelanggan yang mencapai taraf tinggi.

Nona Tsunade tidak pernah menyangka, bahwa Hinata yang dulunya hanya gadis dengan cangkang lemah, kini berhasil merintis usahanya sendiri dengan keringat dan akal yang tak pernah terputus. Gadis berambut indigo itu terus menciptakan inovasi baru dari jenis roti yang sudah ada, mengkombinasikan pengganti karbohidrat itu dengan berbagai varian; sayur, buah, keju, susu, nyaris semua bahan yang memungkinkan telah gadis itu coba dalam eksplorasinya.

Waktu 5 tahun tidaklah sebentar bagi Nona Tsunade. Melihat gadis yang kini tumbuh menjadi perempuan cantik itu sukses dibawah asuhannya, membuat wanita awet muda itu tidak pernah menyesali keputusannya untuk mau menaungi 3 anak malang yang kini telah sukses di jalannya masing-masing.

"Ngomong-ngomong, usiamu berapa tahun, Hinata?"

Nona Tsunade bertanya ketika akhirnya Hinata selesai berkutat dengan tepung dan adonan. Gadis yang biasa dipanggil Hicchan oleh dua sahabatnya itu menoleh, menunjukkan gigi lewat senyum senang seraya mengelapi tangannya yang masih ternodai partikel putih terigu.

"Tahun ini usiaku genap 20 tahun, Nona Tsunade."

"Bagaimana dengan si manis dan si rambut pantat ayam?"

Ketika mendengar rambut pantat ayam, ingatan ketika Gaara mengenalkan Sasuke pada Nona Tsunade 5 tahun yang lalu kembali terputar di memori Hinata. Gadis itu menahan tawanya, berusaha untuk fokus membuatkan wanita paling berjasa dalam hidupnya itu secangkir teh sebagai jamuan pertama.

"Owl –usia mereka 22 tahun, Nona Tsunade."

Secangkir teh panas tersaji di atas meja. Nona Tsunade berterima kasih lewat anggukan kepala, diikuti Hinata yang duduk di seberang kursinya.

"Tidak terasa, kalian sudah dewasa sekarang. Untuk sesaat aku merasa bahwa aku sudah tua . ."

Nona Tsunade menatap pantulan wajahnya di cangkir teh yang kini dipeganginya. Iris gold brown itu terlihat sendu, kembali bernostalgia pada saat-saat 3 anak asuhannya dalam masa susah hingga akhirnya bisa menang seperti sekarang. Iris amtehyst Hinata ikut menatap sendu, air mata nyaris jatuh dari ujung pelupuknya.

"Bagi kami, Nona Tsunade akan selalu cantik dan muda."

Gold brown melebar sesaat. Nona Tsunade menatap kaget gadis di depannya, kemudian tertawa sambil menepuk jidatnya.

"Astaga, kau bisa saja menggodaku!"

Hinata ikut tertawa.

"Saya tidak sedang menggoda, Nona Tsunade memang awet muda!"

Gelak tawa antara dua kaum hawa itu terhenti ketika pintu toko kembali terbuka. Keduanya spontan terdiam dan menoleh, sosok pria dengan rambut putih jabrik dan berpakaian Hawai datang tersenyum pada mereka.

"Yo! Sedang apa, sayang-sayangku?"

Nona Tsunade mendelik marah ketika pria itu mendatangi mereka. Berbeda dengan Hinata yang segera berdiri dan merapikan diri, menundukkan badan untuk menyambut kedatangan pria yang dihormatinya itu.

"Selamat pagi, Jiraiya-san."

Pria bernama lengkap Namikaze Jiraiya itu balas menunduk, mengabaikan tatapan kesal dari Nona Tsunade kemudian duduk diantara dua kaum hawa itu.

"Mau apa kau kemari, pak tua mesum?"

Pertanyaan pedas menjadi pembuka obrolan antara 3 manusia penghuni salah satu meja di toko roti tersebut. Hinata cukup tersenyum maklum, meskipun bersikap kasar dengan mulut yang tajam, Nona Tsunade adalah seorang istri yang baik bagi Jiraiya yang memang sedikit aneh dan penuh selera humor itu. Hinata selalu menyukai bagaimana interaksi antara pasangan itu berlangsung, penuh dengan ejekan dan keterbukaan tanpa meninggalkan rasa enggan apalagi sikap yang tertutup antara satu sama lain.

Hinata berharap dirinya bisa menjadi seperti mereka, suatu saat nanti.

Entah dengan si burung hantu, atau dengan si pangeran yang memang cukup memenuhi kepalanya.

"Mana ciuman paginya, anata?"

Terlalu asyik menonton, Hinata tidak sadar bahwa adegan ciuman yang tidak pernah dilakukannya itu tengah berlangsung secara terang-terangan. Yah, memang ini bukan pertama kalinya ia melihat Nona Tsunade dan Jiraiya berciuman mesra. Tapi tetap saja, bagi perempuan awam sepertinya, adegan seperti itu tetaplah membuat jantungnya memompa darah lebih cepat sehingga warna merah terakumulasi di wajah dan telinganya.

Ketika melihat Hinata yang blushing dan berusaha menutup matanya, Nona Tsunade mendorong dada sang suami dan mengelap bibir.

"Maaf, Hinata. Dia memang pria mesum."

"Pria mesum yang kau cintai."

Sebuah pukulan ganas melayang. Benjolan merah terbentuk imajiner di kepala putih Jiraiya. Hinata tertawa kaku.

"Tidak apa-apa, Nona Tsunade . ."

Jiraiya menyamankan diri di kursinya seraya mengelus kepala yang terkena pukulan maut sang istri. Bibirnya sedikit mengerucut, namun tiba-tiba pria berambut putih itu terlonjak ketika ingat sesuatu yang membuatnya datang ke toko.

"Ah! Aku kesini untuk menjemputmu, anata!"

Nona Tsunade dan Hinata menoleh bersamaan. Jiraiya mengacungkan jari telunjuk, berusaha memberi gestur pada Nona Tsunade untuk berusaha mengingat schedule mereka pagi ini.

"Apa hari ini Naruto wisuda?"

Kini fokus Hinata kembali beralih pada wanita berdada besar itu.

"Naruto?"

Jiraiya menimpali cepat.

"Benar juga, kau dan dua temanmu itu tidak pernah bertemu Naruto. Dia adalah keponakan kami, usianya mungkin sama seperti kalian."

Hinata mengangguk sambil ber –oh pelan. Nona Tsunade tersenyum kepadanya.

"Maaf, Hinata. Kami harus pergi ke kampus Naruto. Hari ini si bodoh itu lulus dari kuliahnya."

"Tidak apa-apa, Nona Tsunade."

Hinata mengantar pasangan suami istri itu sampai di teras toko. Namun sebelum memasuki mobil yang telah disiapkan Jiariya, Nona Tsunade menoleh dan bertanya kepadanya.

"Ngomong-ngomong, Hinata. Apakah kau berniat untuk menikahi salah satu dari dua sahabatmu itu?"

Deretan kalimat tanya itu meninggalkan tanda tanya besar di benak Hinata. Mungkin Nona Tsunade hanya bergurau karena tawa senang segera meluncur setelah pertanyaan itu terucap, namun tentu saja, Hinata sendiri tidak bisa mengganggap itu sebagai sebuah gurauan.

Hinata menghela napas. Ia ragu jawabannya akan datang.

.

.

.

.

.

.

"Owl!"

Hari telah menginjak petang. Setelah selesai menutup toko dan membereskan kursi, Hinata pulang ke apartemen dan menemukan sesosok pria manis berambut merah yang menyambutnya di pintu.

Apartemen tempat mereka tinggal masihlah apartemen tua yang sama seperti 5 tahun lalu. Apartemen dengan ruangan multifungsi pemberian Nona Tsunade itu telah diperbaiki setelah pendapatan mereka bertiga mulai menghasilkan lebih, sehingga tidak heran jika apartemen yang dulunya tua dan terlihat rapuh itu kini berganti menjadi apartemen elite dengan furnitur modern juga beberapa ruang tambahan sebagai perluasan privasi.

Gaara tersenyum tipis dan menghampiri Hinata. Sebuah pelukan dihadiahkan, Hinata tertawa dan menggeliat ketika napas Gaara menggelitik tengkuknya.

"Kebiasaanmu tidak pernah berubah, Owl!"

Tawa Hinata melantun di lorong apartemen. Derap langkah Gaara terdengar lebih berat, lengan kekarnya memangku bobot gadis yang tertawa dalam pangkuannya seperti anak kecil. Kebiasaan seperti itu masih mereka lakukan meskipun keduanya telah menginjak usia dewasa. Meskipun semburat merah malu tidak bisa disembunyikan, keduanya tetap menikmati waktu yang ada.

"Okaeri, Hicchan. Dan turunkan dia dari pangkuanmu, pervert Owl!"

Protes terlontar ketika Hinata dan Gaara memasuki ruang tv. Seorang pria tampan berambut hitam yang tengah sibuk memakai kemeja terlihat menukik alisnya, menunda sebentar kegiatan mengancingkan untuk sekedar melayangkan tinju pada sosok merah yang menyeringai penuh kemenangan padanya.

Hinata turun dari pangkuan Gaara. Dengan kemeja yang belum terkancingi sepenuhnya, Sasuke merentangkan tangan dan menyambut Hinata dalam pelukannya.

"Bagaimana toko hari ini, Hicchan?"

Hinata dibimbing Sasuke agar duduk di sofa sementara si merah pergi berlalu ke ruangan belakang. Satu-satunya gadis di apartemen tersebut merekahkan senyumnya, mengingat hari ini roti-roti buatannya tetap terjual seperti biasanya.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ouji."

Sang Ouji turut tersenyum. Tangannya meraih belakang kepala Hinata, membawa wajah itu mendekat kemudian ciuman di kening ia daratkan.

"Kerja bagus, Hicchan."

Warna magenta menjalar cepat di pipi-pipi si gadis.

"Ap –apakah kau belum berangkat kerja, Ouji?"

Seakan kembali dari mimpi indah, Sasuke terjengit ketika mendengarnya. Sadar bahwa sebagian besar badan bagian atasnya masih terekspos bebas, kancing-kancing kemeja seolah sengaja membisukan diri agar sang pemakai tetap berpenampilan panas di depan gadis kesayangannya.

Sasuke berdehem. Ia berdiri dan memunggungi Hinata, segera memasangkan kancing kemeja dengan telapak tangan yang berkeringat. Hinata yang melihatnya cukup tertawa kecil.

Ketika sebuah sentuhan lembut di bahu ia rasakan, gadis itu menoleh. Owl melingkarkan lengannya pada dada Hinata.

"Cepat mandi, Hicchan."

"Tentu."

Setelah mengucapkan 'Ganbatte, Ouji!', Hinata pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sesuai dengan perintah sang Owl yang kini berkacak pinggang di depan sang Ouji. Merasa dirinya ditatapi dengan sorot tajam, Sasuke menoleh.

"Apa? Iri pada ketampananku?"

Ketika mengatakannya, Sasuke dengan sengaja menyisir rambut hitamnya ke belakang dan sedikit berpose layaknya model-model majalah fashion sebagai gestur tambahan. Gaara mendengus ingin tertawa, dengan cepat pria dengan tato kanji Ai itu menahan lengan Sasuke, menariknya ke depan kemudian kaki sebelah kanannya menyenggol kaki Sasuke. Alhasil, keseimbangan sang Ouji tidak bisa dipertahankan hingga akhirnya pria tampan itu terhuyung ke belakang.

Selalu ada banyak cara bagi Gaara untuk menggoda Sasuke. Jelas, ia tidak akan membiarkan si pantat ayam terhuyung dan jatuh di bawah kakinya begitu saja. Dengan sigap si merah merengkuh pinggang ramping sang Uchiha, membuat yang direngkuh pinggangnya merasa setengah terkejut.

Sasuke seperti seorang perempuan yang dalam posisi dansa, tengah dirangkul mesra oleh pasangannya.

Wajah Sasuke memerah geram, sadar bahwa ia sedang dilecehkan oleh sahabatnya itu. Tanpa pikir panjang Sasuke berusaha menonjok wajah Gaara, namun si merah dengan cepat menghindar dan malah memutarbalikkan Sasuke seperti boneka.

"Kau –fuck! Hentikan itu Owl!"

Tawa Gaara yang sangat jarang terdengar kini menggema di setiap penghujung ruang apartemen. Si merah mundur tiga langkah, menjaga jarak dari Sasuke yang siap meledak kapan saja. Namun diluar dugaan, objek godaan itu tidak melakukan apa-apa. Hanya merapikan pakaiannya sebentar, kemudian menenteng jas hitam dan berjalan menuju pintu utama.

Kening Gaara berkerut. Sangat tidak biasanya si pantat ayam menjadi tenang setelah ia goda habis-habisan seperti tadi.

"Pertahananmu sangat kurang, Ouji."

Gaara mengatakannya sambil mengikuti Sasuke dan berdiri di belakang pria tampan itu. Sasuke sendiri tidak banyak menjawab, tetap diam dan mengenakan sepatunya tanpa sudi melirik pada si merah.

Owl menghela napas.

"Kau tidak boleh pulang telat, ingat malam ini malam apa."

Gaara berbalik dan membiarkan Sasuke dengan kemarahannya. Belum ada 1 menit ia berjalan, derap kaki berlari kembali terdengar di apartemen, tanpa sempat menoleh ke belakang, sebuah tendangan ganas mendarat di pinggangnya. Sasuke datang menerjang dengan wajah dingin menahan tawa. Gaara tersungkur cukup jauh hingga keningnya menabrak lengan sofa, giliran tawa Sasuke yang menggema.

"Mana mungkin aku lupa, Owl."

Si merah setengah mengutuk. Sasuke pergi bekerja dengan mood yang luar biasa, meninggalkan Gaara dengan posisi menungging disana. God. Sasuke memang selalu bisa membalasnya.

Kala Hinata datang dari kamar mandi dengan pakaian tanpa lengan dan celana hot pants, Gaara melirik lewat sudut mata.

"Owl? Apa yang kau lakukan dengan –k-kenapa kau menungging seperti itu?"

Si merah mendelik malu. Ia memang ceroboh atas aksi diam Sasuke tadi.

"Bisakah kau lupakan ini dan kita pergi berbelanja saja?"

Gaara bangun dan berusaha duduk dengan punggung lurus saat mengatakannya. Hinata setengah menahan tawa, ia menunduk sambil menyisir helaian rambut merah Gaara ke belakang.

Si merah terpaku. Membiarkan beberapa detik berlalu agar ia bisa menyelami lebih dalam bagaimana jernihnya iris amethyst yang selalu memancarkan cahaya kehidupan bagai mentari.

"Ini minggu malam, Hicchan."

Owl mengatakannya karena ia benar-benar tidak sanggup jika mereka terus seperti itu. Tidak ada yang tahu batas kontrol pria manis itu terhadap gadis yang telah lama mendiami hatinya tersebut.

"Aku tahu, Owl."

Bibir lembut mengecup lebam merah di kening akibat terjangan Gaara pada lengan sofa tadi. Owl memejamkan mata, menghirup rakus aroma sabun yang sebenarnya sama seperti apa yang selalu dipakainya.

"Kita akan berbelanja untuk perayaan setelah keningmu kempes."

Aah, Gaara bersyukur Sasuke bekerja pada malam hari.

.

.

.

.

Tidak pernah ada yang menduga bahwa pekerjaan yang akan Sasuke geluti, adalah menjadi boneka bagi wanita-wanita kesepian yang ditinggal suami workaholic ataupun mereka yang memang hanya menjadi simpanan dan kurang perhatian.

Skenario bahwa Orochimaru-san akan mengajaknya untuk bekerja sebagai seorang host tidak pernah Sasuke pikirkan sebelumnya.

Itu terjadi ketika usia Sasuke menginjak 18 tahun. Orochimaru-san datang ke bar tempatnya bekerja, dengan membawa wanita-wanita cantik yang menggelayut di lengannya. Jujur saja, dalam hati kecil Sasuke, ia sangat tidak sudi melihatnya. Ketika Orochimaru-san datang ke meja bartender dan memesan brandy, pria berkulit pucat itu berkata jujur.

"Kau, sangat cocok jadi seorang host. Apakah kau akan menerima tawaranku untuk mulai bekerja di tempatku? Tidak usah khawatir masalah bayaran."

Itu adalah kalimat pertama diantara Sasuke dan Orochimaru-san, yang akhirnya memajang senyum lebar setelah Sasuke menerima tawarannya. Butuh sekitar 2 minggu lebih bagi pria pemilik club itu agar mendapat persetujuan Sasuke, namun ia sama sekali tidak keberatan karena permata memang tidak pernah mudah didapat.

Sasuke pribadi, menyimpan alasan yang besar mengapa ia menerima tawaran itu. Posisi ia dan 2 sahabatnya sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkan, Hinata butuh modal lebih untuk mengembangkan usahanya sementara Gaara –untuk beberapa hal yang kurang jelas, pulang ke rumah dengan luka berat sehingga tidak dapat bekerja dan membantu finansial ketiganya.

Sayangnya, meskipun Hinata dan Gaara telah mendapatkan penghasilan memadai, Sasuke tetap tidak dapat melepaskan pekerjaannya sebagai seorang host. Alasannya cukup manusiawi; ia tidak perlu lelah apalagi berkeringat untuk mengeluarkan tenaga, menaruh perhatian juga beberapa sentuhan ringan pada wanita-wanita kesepian sudah sangat cukup untuk membuat lembar demi lembar uang tersarang di saku jasnya.

Sang Ouji tahu ini bukanlah pekerjaan yang jantan. Namun ia sadar bahwa inilah hidup, selama ia memiliki Hicchan dan si merah sialan, semuanya terasa baik-baik saja.

"Oh, Sasuke? Sudah datang kah."

Seperti biasa, ketika si pantat ayam datang ke club dan bersiap-siap untuk melayani deretan pelanggan, seorang host berambut hitam panjang dengan mata perak akan menyapanya singkat. Yang Sasuke tahu, host yang sok akrab itu bernama Neji. Kepribadian mereka cukup mirip, sehingga Sasuke tidak terlalu keberatan untuk terlibat beberapa percakapan dengan Neji yang memang cukup terkenal di club.

"Sasuke-kun, kau datang."

Orochimaru-san datang menyambutnya dengan senyum lebar yang aneh seperti biasa. Sasuke cukup menjawab 'hn' dengan kedua tangan disimpan dibalik saku, menghindari jabatan tangan Orochimaru-san yang selalu terasa bahaya bagi dirinya.

"Kau kedatangan pelanggan yang luar biasa. Kau benar-benar beruntung."

Luar biasa?

Sasuke mengerutkan kening namun tidak bertanya lebih jauh. Neji menepuk pundaknya, tersenyum tipis.

"Dulu dia pelangganku, hanya saja aku sudah punya wanita kaya keturunan Chinese yang selalu setia menyuapiku."

Sang Ouji mendecih.

"Wanita bernama Tenten?"

Neji tertawa singkat.

"Yup, kau benar. Pelangganmu, yang disebutkan oleh Orochimaru-san, memang luar biasa. Kaya."

"Oh?"

Ketika dua host tampan itu sibuk mengobrol, tanpa sepengetahuan mereka, Orochimaru-san datang membawa seorang wanita cantik yang mengenakan dress beludru selutut berwarna merah muda. Cincin berlian di jari manis berkilat ganas diterpa cahaya remang. Sasuke melebarkan mata.

"Sasuke, perkenalkan. Dia Nyonya Hatake Sakura."

Orochimaru-san menyeringai senang. Neji membisiki telinganya.

"Dia adalah wanita simpanan."

Wanita cantik dengan rambut sewarna bunga sakura itu menepis udara dengan tangan. Senyum kaku terlukis di bibir peach nya, Sasuke menggulirkan mata ke sudut ruangan. Merasa bahwa wanita itu muda dan terlalu menawan.

"Mou, Orochimaru-san. Panggil saja aku Haruno Sakura, ne?"

Orochimaru -san mendelik dengan mata yang menyipit.

"eh? Apa kau sudah menanggalkan nama Hatake, Nyonya Sakura?"

Sasuke dan Neji hanya diam memperhatikan. Tidak sepatutnya host seperti mereka yang memang tidak tahu apa-apa ikut menimpali urusan bos dan pelanggan istimewa. Tawa renyah nan anggun melantun dari wanita bernama Sakura itu.

"Maaf, tapi . . bisakah aku segera berbincang dengan Sasuke-kun?"

Orochimaru-san sontak tertawa. Pria pemilik club itu mengisyaratkan pada Neji agar segera mengikutinya lewat tatapan mata, Neji yang sadar segera mengangguk kemudian berpamitan singkat pada Nyonya Sakura.

Sasuke bahkan tidak dapat merasakan keringat yang menetes dari pelipisnya. Wanita yang identik dengan musim semi itu tersenyum dan mendekat, tidak melakukan kontak fisik yang hebat namun dengan tatapan mata yang melekat.

"Yoroshiku ne, Sasuke-kun."

.

.

.

.

.

.

Apa pekerjaan Gaara sebenarnya, masih menjadi misteri bagi Hinata maupun Sasuke.

Si merah tidak pernah mengatakan apa-apa tentang apa yang ia lakukan selama pergi keluar. Jawaban 'bekerja sampingan, kuli bangunan, supir sewaan' selalu menjadi pemadam tanya yang terkadang masih menghantui Hinata, meskipun gadis itu kerapkali menaruh curiga tatkala Gaara pulang dengan luka fisik dari yang ringan hingga berat sekalipun.

Tidak hanya itu, kepulangan si merah sering ditemani dengan aroma yang sangat tidak sedap. Sebut saja aroma seperti tumpukan sampah, atau bau amis yang tentu berbeda dari bau keringat ataupun debu jalanan yang biasanya menempel di pakaian. Pernah sekali, pria manis itu membawa bau bangkai busuk yang membuat Hinata ingin muntah, namun alibi yang sayangnya sangat meyakinkan, Gaara utarakan pada dua sahabatnya.

"Mengangkat bangkai anjing mati yang mengapung di sungai saat aku menjadi petugas kebersihan."

Memang, Sasuke pernah berkata pada Hinata bahwa sang Ouji pernah menemukan Gaara dalam balutan baju pegawai kebersihan kota tepat saat aroma bangkai itu masuk ke apartemen mereka.

Hinata pernah berpikir, apakah pekerjaan asli Gaara adalah sebagai tukang sampah, yang tidak pernah diutarakan karena pria itu merasa malu atas pekerjaannya yang bisa dibilang tidak keren. Namun, penghasilan Gaara yang ia ketahui tidak tanggung-tanggung terus meninggalkan tanya yang tidak pernah terjawab, tapi Hinata telah memutuskan untuk tidak mengungkitnya lebih jauh karena ia sudah sangat puas dengan kehidupannya sekarang.

Tanpa sadar gadis indigo itu melirik pada pria merah yang berjalan di sampingnya. Udara malam terasa dingin menusuk, Hinata mengeratkan jaket Gaara yang dipakaikan kepadanya, sementara si merah sendiri terlihat sangat santai dengan tangan membawa tumpukan kresek belanja yang tentu tidak bisa dibilang ringan.

Hinata tersenyum lebar. Minggu malam ini akan sangat menyenangkan. Ia akan memasak banyak makanan, menyediakan berkaleng-kaleng bir untuk mereka yang siap mabuk sampai fajar menjelang. Toh besok adalah hari libur, toko roti Hinata terjadwal dari Senin sampai Sabtu.

"Kau tidak apa-apa?"

Hinata menggeleng singkat atas pertanyaan dari Gaara ketika mereka sudah kembali ke apartemen. Si merah berjalan duluan untuk menaruh kresek belanjaan di dapur, ia memeriksa tangan dan kening Hinata guna memastikan bahwa Hicchan tidak menggigil kedinginan.

"Aku baik-baik saja, Owl."

"Baguslah."

Keduanya mulai memasak hidangan untuk perayaan Minggu malam nanti. Gaara memasukkan berkaleng-kaleng minuman bir ke dalam kulkas, lewat pintu kulkas si merah melirik pada Gramaphone beserta piringan hitam musik yang biasa mereka pakai sebagai pengiring perayaan minggu malam.

Alat musik klasik itu berhasil Gaara dapatkan ketika ia mampir ke kediaman salah satu targetnya yang memiliki rumah dengan furnitur serba klasik yang sudah sangat jarang ditemui. Mengingatnya membuat si merah menyeringai senang, alat musik klasik tersebut adalah hasil bawaannya yang paling bagus selain aroma tidak sedap ataupun luka fisik.

"Hinata, musik apa yang akan kita pakai malam nanti?"

Lewat pintu dapur Hinata memunculkan kepalanya.

"Second Waltz; Andre Rieu."

Gaara menghampiri almari tempat piringan hitam musik tersimpan. Iris jade mencari-cari piringan dengan judul yang Hinata sebutkan, seulas senyum kembali terukir.

"Nice choose, Hicchan."

.

.

.

.

Sasuke pulang tepat ketika hidangan perayaan juga berkaleng-kaleng bir telah tersaji di atas meja. Penat dan lelah atas kejadian mengejutkan di tempat kerjanya seolah hilang seketika, Hinata dengan baju tanpa lengan juga hot pants menyambutnya di pintu depan.

"Okaeri, Ouji!"

Sebuah pelukan sangat ingin Ouji dapat, namun ketika melihat sosok merah yang sudah melipat tangan dan standby di belakang Hinata membuat si pantat ayam menghela napas.

"Tadaima, Hicchan. Shitty Owl."

Ketika melihat semua persiapan untuk minggu malam mereka nanti, Sasuke begitu bersemangat melepas pakaian dan berlari ke kamar mandi. Ini adalah salah satu momen yang sangat ia tunggu-tunggu. Merayakan Minggu malam dimana ia akan berdansa dan mabuk-mabukan bersama dua orang yang paling berarti dalam hidupnya. Melupakan problema kehidupan sejenak dan tenggelam di lautan bintang serasa berada di surga buatan.

Gaara mencibir Sasuke yang mandi cepat karena si pantat ayam tidak menghabiskan lebih dari 10 menit untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Hinata tertawa dan memulai perayaan, seperti biasa gadis itu akan berdiri dan mengangkat tangan dengan bir di genggaman, tawa lebar tidak segan ia lontarkan mengingat ini adalah malam dimana mereka bisa melakukan semuanya.

"Untuk kehidupan yang lebih baik, cheers!"

Makan malam yang telah dibuat Hinata mulai ludes dari tempatnya. Gadis itu mulai mabuk setelah menenggak tiga kaleng bir, Gaara tersenyum dengan mata sayu seraya menyalakan piringan hitam musik yang telah ia pilih tadi. Alunan musik Second Waltz; Andre Rieu mulai terdengar memenuhi ruangan, Hinata tertawa senang kemudian mengajak Sasuke untuk berdiri dari duduknya.

Dua sejoli itu melakukan gerakan dansa yang pelan dan monoton. Sesekali tubuh Hinata diputar kemudian gadis itu cekikikan mabuk, Gaara hanya menyandarkan pinggangnya pada almari di belakangnya sambil mengomentari gerakan dansa Sasuke yang payah.

Sasuke sedikit mendekat pada si merah, efek mabuk membuatnya tidak ragu untuk menarik kerah baju sang Owl dan mengundang paksa untuk turut serta dalam dansa. Hinata bertepuk tangan, kaki-kaki telanjang menghentak kekanakan dan berisik. Gaara mulai terbawa suasana dan menghabiskan satu kaleng bir dalam sekali tenggakan, mengabaikan tenggorokan yang panas juga akal waras yang kian menipis seiring dengan berdentingnya jam menuju tengah malam.

Mereka bertiga tenggelam dalam gerak slow dance meskipun ritme musik kian meningkatkan adrenalin. Mereka seperti orang kesetanan, berteriak dan tertawa bersama, mengabaikan sisa makanan yang terkadang terinjak ataupun cipratan bir dari kaleng yang mereka bawa. Malam ini benar-benar luar biasa. Mereka bersyukur masih bisa hidup hingga saat ini.

Hingga saat mereka masih bertiga. Masih.

Hinata adalah orang pertama yang tumbang setelah lebih dari 3 jam lelah berdansa di atas lantai. Tubuh gadis itu dibopong ke atas sofa, disandarkan dengan posisi asal-asalan karena dua pria lain juga nyaris tumbang dimakan waktu. Sasuke dan Gaara menghempaskan diri di samping Hinata. Gaara untuk sisi kanan, sementara Sasuke untuk sisi lain.

Pandangan mereka berkunang-kunang dan buram. Sasuke menolehkan kepala pada Hinata, menatapi gadis yang bersandar dengan pertahanan terbuka.

Iris onyx melotot pada bagian-bagian tubuh tertentu.

"Lihatlah, Hicchan kita sudah menjadi seorang Venus."

Gaara melirik lewat sudut mata. Mengerti betul maksud dari perkataan Sasuke. Tidak ada yang bisa tahan menatap buntalan lembut yang menyembul dibalik kaus ketat tanpa lengan dengan perpotongan bahu yang terbuka. Jangan lupakan kaki-kaki mulus yang hanya terlindungi hot pants, aah, bahkan Gaara bisa saja menyelipkan tangannya disana.

"Tidak diragukan lagi. Venus. Seorang Dewi. Hicchan."

Sasuke menimpal balik.

"Pria manapun akan bereaksi jika melihat Hicchan seperti ini."

Dengus tawa terlontar dari bibir Gaara. Pria bersurai merah itu menatap langit apartemen yang remang, menghela napas lalu menutup kedua mata dengan tangan.

"Kau sangat beruntung, Ouji. Setidaknya kau bisa bereaksi pada Hicchan."

Sasuke menjauhkan pandangan, berusaha untuk menangkap ekspresi Gaara ketika mengatakannya.

"Apa yang kau katakan?"

Gaara menimpali cepat.

"Menurutmu?"

Jeda waktu Sasuke pakai untuk menghela napasnya. Berpikir ketika kewarasannya terkikis bukanlah waktu yang tepat. Namun perkataan dari Gaara tidak bisa membuatnya tenang. Sasuke menatap Gaara dan Hinata secara bergantian.

"Jangan katakan bahwa kau adalah seorang homo. Jika diingat lagi, kau sempat modus untuk memegang tubuhku tadi sore. Kalau itu memang benar, kau sangat menjijikan."

Tidak ada 2 detik hingga tawa keras menyusul praduga Sasuke. Gaara kini mendudukkan diri dengan punggung diluruskan, menatap Sasuke dengan senyum simpul.

"Lebih buruk dari itu,"

Sasuke melebarkan mata.

"Aku impoten, Ouji."

Butuh waktu yang cukup lama bagi Sasuke untuk menerima apa yang Gaara katakan padanya. Dengan dengus ragu yang terdengar keras, si pantat ayam memejamkan mata.

"Bullshit, Owl."

Gaara tersenyum tipis.

"Terserah."

Menit selanjutnya, tidak ada lagi percakapan yang mengisi Minggu malam. Langit perlahan memakan kesadaran keduanya hingga dengkur nyenyak menggema disana.

.

.

.

BERSAMBUNG