Pendengaran Jimin masih berfungsi kok. Apalagi kalau Yoongi bilang ia sudah bertunangan dengan pemuda tinggi itu. Bahkan dengan manja Yoongi mengapit lengan pemuda yang bernama Seokjin tersebut dengan manja sambil tersenyum manis.
Matanya terasa iritasi.
Hahaha.
Bunyi kretek mengudara, memecah keheningan.
Sakit. Jimin merasa ngilu menyelimuti hatinya.
Ibarat pelajaran penjumlahan matematika. Aku + kamu + dia = potek.
.
.
.
Rikey present...
.
Blind date.
.
BTS. Park Jimin. Min Yoongi.
Chapter. Boy's love. Romance.
Enjoy!
.
.
.
Sendokkan terakhir ice cream masuk ke dalam mulut Yoongi. Dengan gembira pemuda itu meletakkan sendoknya di atas mangkuk bekas ice creamnya. Sebuah stroberry merah yang kelihatan segar masih manghias mangkuk kecil itu. Beberapa noda ice cream menghias sudut bibir Yoongi.
"Kamu emang monster ice cream, aku takut ibumu mengamuk kalau tau kamu makan ice cream sebanyak itu." Ujar Seokjin tersenyum kecil. Tangan Seokjin mengambil tissu, lalu membersihkan ice cream di sudut bibir Yoongi.
Yoongi menjulurkan lidahnya setelah Seokjin membersihkan bibirnya, "terserah, yang penting aku sembuh."
Seokjin jadi gemas sendiri melihatnya. Mesipun suara Yoongi masih terdengar sumbang dan hidungnya memerah karena tersumbat, tapi syukurlah kalau ia baik-baik saja.
Dan, bagaimana bisa orang sakit meminta ditraktir ice cream sebanyak tiga mangkuk yang setiap mangkuknya tiga scoop ice cream?. Belum lagi toppingnya yang manis-manis yang bisa saja membuat Yoongi sakit batuk. Tak sadarkah Yoongi bahwa dirinya sendiri saja sudah manis.
Oh iya, Seokjin jadi teringat tentang hoobaenya tadi di ruang kesehatan.
Setelah dengan polosnya Yoongi berkata bahwa mereka adalah tunangan, air muka adik kelasnya itu langsung berubah tak ramah padanya. Dan ketika ia berlari menjauh dari Seokjin dan Yoongi, hidung minimalisnya membentur daun pintu.
Yang makin membuat Seokjin heran adalah sikap Yoongi.
Kenapa juga Yoongi bisa tersenyum bahkan tertawa di saat ia sakit saat melihat Jimin berlari menjauh.
"Yoongi, yang tadi di ruang kesehatan itu Park Jimin dari kelas 1-D bukan?"
Yoongi mengangkat wajahnya, tangan Yoongi mendorong masuk buah merah itu ke dalam mulutnya. Stroberri itu seperti dipaksa masuk ke mulut kecilnya. Seokjin sampai gemas sendiri melihatnya.
Setelah menelan buah berbintik itu, Yoongi tersenyum antusias pada pemuda di depannya. "Iya yang tadi itu namanya Park Jimin. Kenapa? Kamu cemburu ya?" alis Yoongi naik turun, menggoda Seokjin.
Seokjin mendengus, "Park Jimin yang menyatakan cinta ke kamu waktu awal semester?"
"Iyap, tepat sekali." Yoongi tersenyum lebar.
Iris kecoklatan Yoongi bergerak menatap ke luar jendela. Awan gelap berarak memayungi daerah yang ia pijak sekarang. Mendung. Hitamnya awan menahan laju sinar mentari, masih terang tak tenggelam. Masih ada kemilaunya walau kian memudar.
Meskipun begitu, kilatan mata Yoongi berubah menjadi pancaran bahagia. Sudut pada tepi bibirnya terangkat tinggi manakala angin dingin mulai berhembus kencang. Yoongi speerti di manjakan, oleh bibir tipis yang menirukan alunan lagu yang di putar.
Retinanya bertumpu pada sosok lelaki yang sedang berjalan sambil menunduk di dekat jendela yang tengah ia amati. Moment tu tak mampu meruntuhkan senyum yang terulas di wajah Yoongi.
"Hei, Jin. Aku ingin kau berjanji satu hal padaku."
Ekpressi Seokjin yang terlihat seperti balasan 'apa' membuat Yoongi menarik dasi pemuda yang lebih tinggi itu untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Yoongi.
.
.
.
.
Pulang sekolah.
Jimin menunduk dalam, memandang ujung sneakernya yang sedikit kumal. Menghitung berapa banyak langkah yang ia rintis di atas semen trotoar. Ia bahkan tak sadar sejak kapan trotoar menjadi sebegitu menarik untuk di pandang. Fikirannya tak fokus, membuat maniknya selalu bergerak gelisah.
Entah apa yang di rasakannya sehingga ia menjadi orang pendiam seperti ini.
Biasanya kalau dalam perjalanan pulang dari sekolah, headseat akan menggantung di telinganya. Mendengarkan lagu. Irama musik dari lagu tersebut membuatnya berjingkrak-jingkrak tak karuan di trotoar lalu menjadi bahan tertawaan orang.
Seorang freak yang lagi patah hati mungkin cocok untuk julukannya sekarang.
Yah, namanya juga hidup. Pasti banyak cobaannya lah, kalo banyak cucian mah tempat laundry namanya.
Berkali-kali Jimin menghela nafas berat. Seakan sesuatu menyumbat kerongkongan, membuatnya sulit untuk bernafas lancar. Matanya pun terasa berat karena rasa kantuk, entah karena rasa kantuk atau menahan tangis.
Sakit, bruh.
Gebetannya udah punya tunangan. Haha, terus buat apa dia minta buat kencan buta sama Jimin. "Dasar cewe, maunya menang sendiri. Bilang mau kencan taunya kenalin tunangannya. Hahh ini hati bukan kos-kosan yang bisa pindah seenaknya!" gerutu Jimin.
Jimin, Yoongi itu lelaki tolong.
Playlist di mp3 handphone juga sepertinya sedang tak bersahabat karena memutar lagu-lagu galau. Dari lagunya Britney Spears – Everything, Taeyeon – If, Jessica – That one person, Kim Hyunjoong – Because i'm stupid, Afgan – Sadis, sampe Iwan Fals – Aku bukan pilihan.
Masih segar dalam ingatannya senyum manis milik sunbae mungilnya itu terulas di wajahnya, ketika mengenalkan Seokjin pada Jimin di ruang kesehatan pada jam istirahat tadi. Rasanya Jimin ingin membenturkan kepalanya agar mengenyahkan fikiran itu.
Kim Seokjin.
Ketua OSIS di sekolah menengahnya. Anak dari pasangan Kim Joonmyen dan Kim Yixing, guru fisika dan guru-guruan –maksudnya guru bahasa. Seokjin tampan, sifatnya pun selalu tenang tak seperti Jimin yang meledak-ledak, sikapnya ramah pada siapa saja, terbukti bahwa satu sekolah mengenalnya. Bahkan mba-mba penjaga kantin fans nomer satu Seokjin, yang setiap pemuda itu menyempatkan diri ke kantin pasti mba itu berteriak heboh layaknya fangirl.
Fisiknya juga tak mengecewakan. Tinggi, tampan, hidung mancung, senyum yang menawan, mata yang tidak terlalu sipit, dan tinggi. Apa saya tadi ngucapin tinggi dua kali? Maaf maaf aja sih.
Nyindir.
Point tinggi seorang Kim Seokjin juga karena ia pintar, prestasi di bidang olahraganya juga patut di acungi empat jempol –tambah jempol kaki. Dan yang paling penting ini lho... tinggi. Jimin minder banget. Serius.
.
Jimin berhenti ketika di depannya terdapat kerumunan orang yang terhenti karena lampu merah. Pemuda itu kembali menghela nafas. Rasa-rasanya ia terlihat kecil bila tenggelam di lautan manusia yang menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.
Hanya beberapa punggung terbalut jas dan rambut panjang wanita yang bergelombang menjadi pemandangan Jimin. Tinggi laki-laki di hadapannya membuat Jimin mendengus, belum lagi wanita berambut panjang itu memakai heels agar kelihatan tinggi.
Heol.
Bilang aja ini orang-orang pengen ngejek tinggi badannya karena dia pendek. Hah ngeselin amat. Apa perlu gitu Jimin pake egrang kemana-mana biar kelihatan tinggi?
Belom lagi iklan layanan masyarakat yang terpampang di atas gedung seberangnya yang tertulis hati-hati di jalan. Kan Jimin gak tahan buat bales 'iya sayang, kamu juga ya :*'
Efek galau jadinya gitu. Kesel sendiri, ngegerutu, jadi moody, dan sengklek.
Belom lagi mendung, bikin suasana hati Jimin makin terkoyak. Rasanya begitu memilukan sekarang. Jimin segera berlari menuju rumahnya ketika satu titik air terjatuh dari langit.
.
.
.
.
Berkali-kali Taehyung menggerutu pada Hoseok tentang uang sakunya yang ludes. Bendaharanya yang bernama Zelo itu sangat galak saat meminta uang iuran mingguan.
Hell, ini bahkan belum hari jum'at dan masa tak ada toleransi karena ini awal semester sih? Uang jajan yang dikeluarkan memang tak banyak, tapi hari ini Taehyung ingin membeli banyak komik untuk koleksinya. Jadilah uangnya habis sebelum waktunya.
Menurut Taehyung sekarang, sekejam-kejamnya preman di pasar, lebih kejam penarik uang kas di kelas.
Menyebalkan.
Kini Taehyung dan Hoseok berjalan beriringan menuju rumah masing-masing. Kuping Hoseok panas mendengar ocehan tanpa ujung Taehyung yang mersa sakit luar biasa karena uang jajannya. Mereka sudah berjalan selama dua puluh menit, dan selama itu pula perkataan tak berbobot Taehyung menjadi pelengkap acara pulang bersama mereka.
Satu rintik hujan terjatuh di atas hidung Taehyung, membuat Taehyung berhenti bicara dan menghadap ke langit. Oh, mendung. "Hoseok sunbae, mau berteduh dulu tidak?" jarinya menunjuk toko kelontong 24jam asal Amerika atau biasa di sebut, Sev*n El*ven.
Dahi Hoseok menyerit, "Kenapa harus meneduh?"
"Karena sebentar lagi mauㅡ"
ZRASSSHH
"ㅡhujan."
Air hujan membasahi sebagian pundak dan kepala kedua insan tersebut. Lengan Hoseok dengan sigap mengamit tangan Taehyung dan membawanya berlari masuk ke dalam tempat tongkrong anak muda yang yang berada di ujung jalan.
.
.
"Hujan. Lebih baik kita berteduh dulu, aku gak bawa payung." Ujar Hoseok kalem, menaruh ranselnya di atas meja.
Kepala Taehyung mengangguk patuh, beberapa tetes air terjatuh di lantai dari kepala Taehyung. Hoseok yang melihat itu tak tahan untuk mengusak kepala Taehyung untuk hilangkan air di kepalanya.
Sesudahnya Taehyung tersenyum lalu mengikuti Hoseok yang kembali menggenggam tangannya, mereka berjalan membelah rak display makanan ringan. "Pilih saja, aku yang bayarin kok."
Mengingat uang jajannya yang ludes, seketika membuat hati Taehyung mencelos. Galau lagi haha. Ternyata, Hoseok itu orang baik menurut Taehyung. Karena pertama kali bertemu di taman sekolah, Hoseok sempat memarahinya karena suara efek camera handphone yang sangat berisik. Belum lagi tongsis yang Taehyung bawa sempat mencium kepala Hoseok.
Wkwk.
Hati Taehyung jadi cenat cenut ga jelas gini nih, rasanya nyaman banget deket sama kakak kelasnya ini.
"Kok bengong? Pegel nih berdiri terus." Telapak tangan Hoseok memukul belakang kepala Taehyung.
Gemes banget liat Taehyung bukannya exited buat milih makanan kecil, sebagai camilan teman buat ngobrol di saat hujan *ini modus Hoseok sebenernya*.
Eh malah bengong masang tampang bloon. Kalo khilaf Hoseok pasti tega jejakin telapak sepatunya ke wajah lucu itu.
Taehyung meringis, "Gak usah nabok bisa kali." Dengan cemberut Taehyung berjongkok, menyamakan tinggi badan dengan produk chiki-chiki berukuran besar.
Busetdah, tau aja ini bocah makanan yang porsinya gede.
Hoseok cuma bisa say goodbye sama uang jajannya sembari memilih makanannya sendiri.
.
"Sunbae, aku mau yang ini."
Sambil nyengir, Taehyung mengangkat sebuah kripik kentang dengan ukuran besar rasa baberque. Hoseok sih hanya bisa iyain, soalnya 'kan dia yang bilang pengen bayarin. Malu kali sama gigi kalo bilang gak jadi.
Tapi, ketika Hoseok mengangguk setuju Taehyung malah manyun sambil mengamati bungkusan chiki nya.
Hoseok jadi takut Taehyung kesambet.
"Kenapa?"
Kepala Taehyung mendongak, menatap langsung kedua iris kecoklatan milik Hoseok. "Ini loh sunbae liatㅡ" Taehyung bangkit berdiri, mendekat pada Hoseok lalu menunjukkan sudut sisi kanan kemasan makanan ringan itu, "ㅡada tulisannya sobek disini."
"Terus kenapa?"
Kedua sudut bibir Taehyung melengkung ke bawah, "Aku gak mau sobek disini, aku maunya sobek di rumah aja."
Seketika Hoseok membenturkan kepalanya pada rak display makanan di dekatnya.
Haha.
.
.
.
.
Sore itu Jimin pulang dalam keadaan basah, namun tak terlalu kuyup, hanya sepatu karena rembesan genangan air dan rambutnya yang basah. Namun itu membuat Hakyeon memekik heboh, merapalkan berbagai sumpah serapah melihat anak semata wayangnya pulang dalam keadaan mengenaskan.
Sepatu yang dalemnya banjir, rambut hitam basah, pundak yang kelihatan lesu dan kuyup, serta idung pesek. Maaf yang terakhir salah fokus.
Dengan kekuatan ala emak-emak beranak, Hakyeon memukul pantat Jimin dengan brutal. Telinga Jimin terasa panas dan berdengung di waktu bersamaan karena ibunya itu berteriak tepat di telinganya.
Aneh, walau pun hujan tapi Jimin merasa kepanasan. Apa ini efek karena ia berlari sampai keringetan? Untungnya cuma lari sampe keringetan, kalo ari dari kenyataan yang ada keingetan.
Yaela baper.
Setelah mandi, Jimin duduk di sofa di temani segelas susu coklat buatan Hakyeon. Meskipun ibunya cerewet dan galak, tapi setiap wujud rasa sayang yang di tunjukkannya itu sangat manis. Jimin sendiri heran, kenapa ibunya bisa mendapat suami seperti orang-orangan.
Maksudnya, berwujud sih, ganteng pula, oh jangan lupa tinggi. Tapi... kenapa irit ngomong terus mukanya macem jalanan baru di aspal? Rata.
Tapi keluarga mereka seperti keluarga kebanyakan kok. Ayahnya juga bisa panik kalau terlambat berangkat ngantor dan harus mencari dasi. Dan disanalah ibunya hadir, dengan telaten mengikat dasi di leher sang ayah, kadang terlalu kencang hingga lelaki dengan status kepala keluarga itu mengerang lalu menjitak kepala istrinya.
Jimin iri.
Ia juga ingin punya keluarga kecil yang harmonis. Yoongi yang berperan sebagai ibu dan Yoongi sebagai ayah.
Bukankah lucu bila Yoongi setiap pagi mengenakan apron dengan renda di ujung jahitannya lalu berteriak-teriak seakan pita suaranya ingin putus untuk membangunkan anak mereka seperti yang setiap pagi ibunya lakukan.
Pipinya terasa panas memikirkan itu. Oh Jimin bahkan tak sadar umurnya baru 15 tahun tapi sudah berfikir sejauh itu. Ckck anak luar biasa.
.
.
Krucuk...
.
.
Hakyeon yang terlihat fokus dengan caranya televisinya seketika menoleh ke arah Jimin. Bunyi nyaring perut Jimin menghadirkan gelak tawa Hakyeon yang duduk tak jauh dari sofa yang di duduki Jimin sekarang.
"Laper ya? Umma gak masak, lagian appa-mu lembur hari ini." Hakyeon kembali sibuk ke tontonan gosipnya, "delivery aja gih."
Jimin sebenarnya malas harus memesan, lebih enak masakan ummanya. Tapi kalau difikir lagi, ia sudah jarang makan di luar. Jadi apa salahnya memesan makanan. "Pesen ayam ya, umma?"
Hakyeon mengangguk.
Dengan sigap tangan Jimin mengeluarkan ponselnya, mengusap layanya untuk membuka kunci.
Agak miris kalau melihat ikon perpesanan di menu utama benda portabel ini. Selalu ngingetin sama Yoongi. Hahaha. Pengen banget rasanya Jimin kirim pesan teks ke Yoongi, meminta penjelasan mengenai hubungan mereka. Jadilah Jimin mengetikkan pesan ke nomor tujuan Yoongi sebagai berikut.
Aku turut bahagia atas pertunanganmu, sunbae. Tapi ingat kalau kalian putus. Nomerku masih yang lama kok.
Dasar jones.
Baru di ketik kok belom di kirim, untung Jimin langsung sadar. Kalo khilaf dikit aja kepencet itu tombol send.
Remote di tangan Hakyeon berpindah ke kepala Jimin, "jadi delivery apa engga sih? Kenapa wajahmu melas begitu, kan makin keliatan jeleknya."
Jimin mendengus, "Sabar umma ih."
Jempol Jimin menekan beberapa dijit angka nomer telepon restoran fast food untuk memesan makanan setelah ibunya kembali terpaku pada tontonannya.
Awas typo tuh jempol, ntar malah nelpon Yoongi berabe urusannya. Suara sambungan telepon membuat Jimin sedikit melamun.
"Hallo, dengan Kentaky Preet Chicken. Ada yang bisa di bantu?"
Tersentak, Jimin hampir latah di buatnya. "Iya mbak, saya mau mesen ayam."
"Pesan ayam bagian dada atau paha?"
"Pesen pundak aja mbak, saya butuh sandaran."
"..."
"..."
Miris. Hakyeon ngerasa Jimin jadi jones sekarang. Aduh anak satu-satunya...
.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
WKWK Hallo!
Ceritanya fast update/? Makin gaje aja nih cerita bikin pengen cepet cepet end in aja=_=
Oke itu aja deh curahannya, yang maren ikutan galau karna saya bilang suga punya cewe siapa hayoooo buakakakak.
Last, Review please :'v
