.
.
.
"Kataomoi"
Disclaimer: Semua chara Kurobas ada di tangan Fujimaki Tadatoshi-sensei, saia minjem doang buat mewujudkan imajinasi liar saia, .w.)/
Warning: OC, OOC, AU, word tak tentu, Ejaan Yang Diragukan, ruwet, muter-muter, lebih kaya curcolan, de-es-be-de-es-be~
~CHAPTER FLASHBACK~
Summary: Mempunyai cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan, apalagi jika orang yang kau sukai malah tidak tahu soal perasaanmu. Akankah kau mampu mempertahankan perasaanmu? Atau memilih untuk mencari cinta yang baru?/Kumpulan oneshots bersambung Kagami Taiga x OC/Reader/RnR?
.
.
.
Sudah dua hari berlalu sejak aku berdiskusi dengan Kagami-kun di perpus, Kagami-kun pun mulai serius mengerjakan tugasnya. Dia sering mampir ke perpus dan bertanya padaku soal majas, rasanya lega Kagami-kun bisa menuangkan sedikit semangat basketnya pada tugas kali ini. Aku masih belum tahu puisinya tentang apa dan bagaimana sih, dia bilang akan merahasiakannya sampai hari diskusi tiba. Mou...
Hari ini sudah hari ketiga tugas, yang artinya kami hanya bisa berdiskusi selama tiga hari lagi. Kali ini kami akan berdiskusi di atap sekolah karena di sana lebih tenang saat istirahat seperti ini. Aku mengambil kotak bekalku dan berdiri, ingin segera bergegas ke atap karena tadi aku sudah melihat Kagami-kun keluar.
"Eh? Mau kemana?" tanya sahabatku, Kayano Rui. Ah, iya sih, aku biasanya makan bersama Rui-chan dan Miho, serta dengan beberapa teman gadisku yang lain. "Hari ini tidak makan bersama kami?"
Aku tersenyum meminta maaf, "Maaf, Rui-chan. Aku hari ini akan makan bersama Kagami-kun sambil mendiskusikan tugas,"
"Hmmm," Rui-chan mengangguk-angguk. "Akhir-akhir ini kau jadi makin dekat dengan Kagami-kun ya? Apa nanti puisi yang kau buat soal cinta?" godanya.
Aku menggembungkan pipiku dan menarik pelan pipi Rui-chan, "Berhenti mengurusi urusan orang lain, sebaiknya kau urusi partnermu sendiri,"
"Haah, Rei ya? Yaampun dia tidak bisa diatur sama sekali, sudah dua hari dan kami masih belum menghasilkan apa-apa," curhat Rui-chan, aku tertawa kecil.
"Semangat yah, kau pasti bisa menaklukan dia," ucapku, Rui-chan memandangku aneh. Eh? Memangnya ucapanku salah?
"Kau membuatnya terdengar seperti aku berusaha menjinakkan hewan liar," komentar Rui, aku tertawa karenanya.
"Yahh, yasudah... atau nanti dia yang akan menaklukanmu?" aku mengedipkan sebelah mataku, menggoda Rui-chan. Rui-chan pun wajahnya memerah.
"Aku tidak akan takluk padanya, aku tidak menyukainya kalau itu yang kau maksudkan," ucap Rui-chan, aku tersenyum lebar.
"Jangan bilang begitu, nanti kata-katamu menyerang balik dan mengkhianatimu loh," nasehatku, Rui-chan memalingkan mukanya dan mendengus.
"Sudahlah, bukannya kau sudah ditunggu Kagami-kun? Aku sudah melihatnya keluar dari tadi, maaf menahanmu lama, selamat bersenang-senang~" ucap Rui-chan datar, aku kembali tertawa .
"Jangan bernada seperti itu, itu menyeramkan," gurauku, "Baiklah, aku ketemu Kagami-kun dulu, sampai nanti Rui-chan. Sampaikan maaf dan salamku pada semuanya nanti,"
Rui-chan balas melambai padaku, aku kemudian keluar kelas membawa kotak bekalku dan langsung menuju ke atap. Karena pembicaraanku dan Rui-chan tadi cukup lama, mungkin Kagami-kun sudah ada di atap setelah membeli makanan di kantin.
Aku perlahan menaiki tangga menuju ke atap, biasanya atap memang agak sepi saat jam istirahat karena para murid lebih suka makan di kantin dan tempat yang indah seperti taman. Biasanya aku makan di taman belakang bersama teman-temanku, jadi baru kali ini aku ke atap dan makan di sana.
/Krieet/
Suara pintu itu langsung membuatku menjadi pusat perhatian bagi dua orang yang sedang di atap. Oh, Kagami-kun bersama seorang perempuan. Mereka sepertinya sedang dalam suasana yang bagus... aku mengganggu ya? Haaah, berarti aku harusnya tadi tidak bergegas ke sini, apa aku seharusnya pergi ya?
Ah, dia teman sekelasku juga, namanya Amegawa Yuna, dia adalah gadis mungil yang baik, sayangnya ada beberapa rumor tidak mengenakkan tentangnya diantara para senpai. Jadi ya begitulah, kalau aku sendiri sih, aku tidak begitu dekat dengannya jadi aku tidak terlalu peduli.
"Ah, apa aku mengganggu?" Aku membungkuk sebentar dan tersenyum canggung. Yuna menatapku tidak suka sepertinya, tapi Kagami-kun menatapku kaget.
Huh? Kenapa dia sekaget itu? Apa dia lupa kalau kita ada rencana diskusi? Dan bukannya dia bilang kalau ingin mendiskusikan project ini berdua saja dan memilih atap karena tempat ini selalu sepi, tapi sekarang apa kenyataannya? Dia malah membawa seorang gadis yang bukan anggota kelompok, bikin canggung dan kesal saja... Eh? Kenapa aku harus kesal? Huft...
"Anoo, maaf, aku mengganggu kalian? Aku bisa pergi kok, kalau memang menganggu," tanyaku lagi karena sedari tadi tidak mendapat jawaban, Kagami-kun dan Yuna menggeleng. Tatapan tajam Yuna tadi entah bagaimana sudah hilang diganti dengan senyum ramah. Apa tadi hanya halusinasiku saja ya?
"Tidak kok, mau diskusi soal puisi ya? Boleh aku ikut?" tanya Yuna semangat, aku memutar kedua bola mataku. Aku mengangkat bahu dan mengendikkan daguku kepada Kagami-kun, dengan santai aku duduk dihadapan pemuda berambut merah itu dan membuka kotak bekalku.
Kagami-kun terdiam sejenak dan melihatku, aku menatapnya datar sejenak dan kemudian tidak memedulikannya. Aku segera memakan bekalku dengan tenang, Kagami-kun kemudian menghela napas dan kemudian berucap, "Maaf, Yuna. Mungkin lain kali? Tidak seru dong kalau kau tahu puisi kami sebelum kami mempresentasikannya,"
Yuna cemberut, "Eeeeh, kok gitu banget sih?"
Kagami-kun tersenyum canggung dan sepertinya melirikku... Ah, pasti cuma perasaanku saja. Kagami-kun pun berusaha meyakinkan Yuna untuk membiarkan kami berdiskusi, walaupun si gadis terus merengek minta ikut. Aku berusaha tidak memedulikan keributan kecil mereka, tapi mendengar suara melengking Yuna, membuatku irritated entah kenapa.
"Ayolah, kau juga seharusnya berdiskusi dengan partnermu 'kan? Dia mungkin sedang mencari buku referensi di perpus, kenapa tidak kau bantu?" ucap Kagami-kun, Yuna kembali mengerucutkan bibirnya, namun akhirnya mengangguk.
"Baiklah," ucap Yuna. Ah, dia kedengarannya sangat kesal. Aku tetap berfokus memakan makananku walaupun diam-diam aku melirik keributan kecil mereka. Etto, apa mereka kenal baik ya? Kagami-kun kelihatannya baik banget sama Yuna, padahal di kelas aku tidak pernah melihat mereka bersama.
AH! Apa mereka pacaran dan backstreet? Uwaah, aku jadi orang ketiga dong karena mengganggu mereka dari tadi dan malah merasa kesal nggak jelas. Eh? Tapi kenapa aku dari awal kesal ya? Aku bahkan tidak punya hubugan apapun dengan Kagami-kun...
Apa aku menyukainya?
.
.
.
.
.
Ah, itu tidak mungkin, aku baru beberapa hari berbicara normal dengan Kagami-kun dan aku tidak percaya love at first sight. Haaah, aku terlalu banyak memikirkan kejadian aneh... apa kujadikan cerita saja ya?
Tanpa kusadari aku sudah tenggelam dalam lamunanku, Kagami-kun pun menjentikkan jarinya di depan mataku dan itu berhasil membawaku kembali.
Kemudian aku mendengar langkah kaki menjauh, pintu atap yang terbuka dan tertutup kembali. Aku masih mengunyah bekalku dengan nikmat–yang tadi sempat terhenti karena aku melamun–sebelum menelannya, "Kenapa tidak kau izinkan saja? Aku tidak keberatan,"
Kagami-kun mendengus, "Auramu mengatakan sebaliknya,"
"Ah, untuk seorang BaKagami, kau lumayan pintar membaca suasana," sarkasku, Kagami-kun memutar bola matanya.
"Bisa kita mulai diskusinya?" pintanya tidak sabar, aku tertawa kecil dan kemudian memulai diskusi kami.
Sejak kapan ya kami bisa berbicara dan bercanda normal seperti ini?
.
.
.
.
.
Tidak kusangka diskusi kami kali ini berjalan lancar, masih banyak yang harus diperbaiki sih, tapi setidaknya Kagami-kun sudah melakukan yang terbaik.
"Tapi aku tidak menyangka Kagami-kun akan membuat puisi tentang alam, rasanya tidak cocok dengan image-mu," komentarku, Kagami-kun mendengus.
"Terus menurutmu aku harus membuat puisi tentang apa?" tanyanya ketus, aku tertawa kecil.
"Tentang basket dan segala peraturannya mungkin," candaku, Kagami-kun kembali mendengus.
"Kau sendiri membuat puisi yang tidak kumengerti," komentarnya.
"Hm? Aku menulis apa yang ada dipikiranku saja," ungkapku, "Atau mungkin Kagami-kun ingin aku menulis puisi cinta untukmu?" aku tersenyum miring.
Aku sekilas melihat wajah Kagami-kun memerah... kenapa aku sering berhalusinasi sih hari ini?
"Cerewet," semburnya, aku menggembungkan pipiku.
"Jahatnya, aku tidak secerewet itu kali," balasku, Kagami-kun memalingkan wajahnya dariku.
Aku tersenyum kecil, "Yaahh, mungkin kalau Kagami-kun bisa membuatku jatuh cinta padamu, mungkin nanti aku bisa menulis puisi cinta~"
Kagami-kun menatapku kaget, ada semburat merah tipis di wajahnya.
Uwaah, lucu banget!
Aku tertawa melihatnya, "Hahaha, just kidding, Kagami-kun. Jangan menatapku seolah kau baru melihat hantu seperti itu,"
Kagami-kun merengut, "Itu karena kau mengatakan hal yang tidak masuk akal,"
"Haha, sudah kubilang aku hanya bercanda 'kan? Nanti juga kalau aku berubah pikiran aku bisa saja menulis puisi cinta," ucapku, Kagami-kun mendengus lagi.
"Iya, iya, aku mengerti, nona jenius literatur-san." Komentarnya, aku pun mencubit lengan Kagami-kun karena sarkasmenya barusan.
"Sudah ah, lebih baik kita masuk sebelum bel berbunyi," ajakku, aku segera membereskan barang-barangku dan berjalan ke kelas, diikuti Kagami-kun dibelakangku.
"The only thing that I understand is I am fell in love with you before I knew it"
A/N::
Minna-san, o-genki desu ka?
Chiao kembali dengan membawa lanjutan Kataomoi desu~
Masih ada yang nungguin? Ada? Ah, syukurlah~ #hoi
Masih chapter flashback, niatnya sih saia bakal nyeritain seminggu kebersamaan mereka ngerjain tugas ini. Setelah itu baru move ke hari-hari SMA mereka...
Tapi saia bingung harus membuat cerita SMA-nya kayak gimana, padahal chapter endingnya malah udah selesai... baru kali ini saia tahu akhirnya tapi engga tahu gimana perjalanannya, padahal biasanya saia tahu perjalanannya engga tahu endingnya harus gimana, =A=
Pokoknya doain terus minna-san agar saia kebanjiran ide terus, atau ada yang mau curhat sama saia buat ngeberi saia inspirasi? Kolom review sama PM selalu terbuka kok! #desh
Terus sekali lagi makasii buat para reviewer dan reader yang bersedia ngebaca cerita ini! Yang fav sama follow juga, arigatou gozaimasu!
Minna-san tidak tahu seberapa berharganya suppport kaian kepada hidup saia! TAT *lebay* #dor
Yosh! Pokoknya setia terus nungguin tiap senen apdetan Kataomoi ya! Semoga aja saia nggak kena WB dan terpaksa menghiatuskan cerita lagi, =_=a #oi
See you in the next chapter~
