[FF ONESHOOT] ~ OUR FAMILY - TWO DAYS WITH APPA ~ / KYUMIN / GS

Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper

Cast : kyumin

genre : family

warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.

..

.


-Kyumin-


Tepat pukul 4 pagi, Sungmin terlihat sudah sibuk sendiri. Ia sibuk memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper kecilnya, terlihat sangat terburu-buru. Raut wajahnya juga terlihat cemas sekali.

"Kyuhyun" panggilnya setelah kopernya sudah siap.

Iapun berjalan kearah kasur tempat sang suami tengah terlelap, "Kyuhyun" panggilnya sekali lagi.

Tangannya kini sibuk menggoyang-goyangkan lengan suaminya itu.

"Wae?" tanya Kyuhyun pelan dengan suara yang serak, khas orang bangun tidur.

"Barusan umma menelponku, katanya umma dan appa akan ke Jepang, urusan bisnis" jawab Sungmin.

Kyuhyunpun mendudukkan tubuhnya yang masih dililit oleh selimut itu, matanya bahkan masih terpejam.

"Lalu?" tanyanya lagi.

"Aku akan ke rumah umma, menjaga halmonie" jawab Sungmin.

Sesekali ia menatap kearah jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya, berharap waktu akan berhenti untuk beberapa saat agar ia tak terlalu terburu-buru seperti ini. Tapi nyatanya jam itu terus saja berputar tanpa diperintah.

"Jadi, kau yang menjaga anak-anak ne?" lanjutnya.

Kyuhyun langsung saja membuka kedua matanya, terbelalak kaget.

"Kenapa tidak halmonie saja yang kemari? Atau anak-anak bisa ikut denganmu" bantah Kyuhyun.

"Jaraknya terlalu jauh, Kyu. Anak-anak terlalu kecil, dan halmonie sudah tidak muda lagi" jelas Sungmin berusaha tenang.

Kyuhyun membenarkan kata-kata Sungmin dalam hatinya. Dan dengan rasa tak rela, iapun menganggukkan kepalanya.

Sungminpun segera mencium bibir Kyuhyun kilat, pertanda ia sangat senang mendapati jawaban sang suami.

"Berapa lama?" tanyanya dengan nada menyedihkan.

"Mungkin hanya dua hari" jawab Sungmin santai.

Sungmin beranjak dari kasur, mengambil kopernya, kemudian menyeretnya keluar.

Kyuhyun yang baru menyadari adanya koper itu, segera berlari menyusul Sungmin, "Sekarang?" tanyanya.

Sungmin hanya mengangguk saja, berjalan kearah mobilnya yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

"Bye bye! Ah, kalau bisa jangan beli makanan di luar" ujar Sungmin sebelum masuk ke mobilnya.

Wajah Kyuhyun yang sudah sedih itu semakin keruh saja mendengar ucapan Sungmin. Dengan dramatisnya, ia melambaikan tangnnya, membalas lambaian tangan Sungmin yang semakin menjauh dari rumah itu.

"Bye bye!"

Setelah menutup pintu, Kyuhyun beranjak kearah kamarnya, berniat akan kembali tidur. Namun, niatannya ia urungkan kala mendengar tangisan Sunghyun yang menembus gendang telinganya.

Dengan langkah lunglai, iapun beranjak menuju kamar anak-anaknya. Ia menghembuskan nafas lega saat mendapati Minjung dan Minhyun tidak terbangun akibat tangisan adiknya.

Segera saja ia angkat tubuh gembil itu, beranjak keluar sebelum membangunkan si kembar.

Sesaat setelah berada di gendongan ayahnya, Sunghyun langsung saja berhenti menangis. Ia hanya menggumamkan kata-kata tak jelasnya berulang kali.

Kyuhyun membawa Sunghyun ke dapur, membuatkan bayinya itu susu, berharap Sunghyun akan tidur lagi.

Namun, sudah setengah jam setelah susu Sunghyun habis, bayi itu sama sekali belum memejamkan kedua mata bulatnya. Bahkan sekarang ia sibuk berjalan di pinggiran sofa ruang tengah, berpegangan pada pinggiran sofa tentu saja.

Sedangkan Kyuhyun hanya menatap Sunghyun dengan mata setengah terpejam, tengkurap di karpet yang berada di depan sofa.

"Sungie baby, kenapa tidak tidur lagi? Ini masih terlalu pagi" ujar Kyuhyun.

Sunghyun yang namanya terpanggil itupun segera membalikkan kepalanya, menatap ayahnya sekilas, sebelum kembali pada kegiatannya. Karena rasa kantuk yang menyergapnya, Kyuhyun tertidur tanpa sadar, membiarkan Sunghyun melakukan apa yang ia mau.


Minhyun bangun terlebih dahulu, dan langsung saja ia beralih membangunkan adik kembarnya, Minjung, yang tidur di tempat tidur sebelah tempat tidurnya.

"Jungie, bangun!" serunya seraya mengguncangkan lengan Minjung. Sesekali ia menepuk-nepuk pipi gembil yeoja cilik itu.

"Eung~"

Minjungpun menatap kesal pada kakak kembarnya yang sudah membangunkannya Bibirnya melengkung ke bawah, pertanda ia akan menangis.

"HUAAAA!"

Dan pecah sudah tangisan cempreng bocah itu, membuat Minhyun menatapnya dengan pandangan bersalah.

"Jangan menangis, ada oppa disini" ujarnya menenangkan.

Namun, nampaknya Minjung tidak begitu saja menerima bujukan kakaknya, ia terus saja menangis dengan kencangnya.

"Ada apa lagi?" tanya Kyuhyun yang baru saja membuka pintu kamar anak-anaknya itu.

Tampangnya masih terlihat kusut, baju yang ia kenakanpun sudah tidak mulus lagi, rambutnya juga acak-acakan.

Ia berjalan mendekati kasur puterinya.

"Pegang dulu" perintahnya pada Minhyun seraya mengalihkan Sunghyun ke gendongan Minhyun.

Kyuhyun langsung saja membawa Minjung ke dalam pelukannya, menggendongnya keluar kamar, meninggalkan Minhyun yang terlihat kesusahan menggendong Sunghyun. Tentu saja susah, Sunghyun itu gemuk, dapat dipastikan jika ia berat.

Minhyun menurunkan Sunghyun ke atas lantai. Kemudian ia menuntun Sunghyun keluar menyusul ayahnya. Ia rasa caranya cukup efektif, daripada menggendong bayi gemuk itu. Bisa-bisa mereka jatuh berdua.

Kyuhyun kini tengah menggendong Minjung, sebelah tangannya ia gunakan untuk mengaduk susu Minjung. Sedangkan Minjung sendiri sudah tidak menangis lagi, terlihat lebih tenang.

"Jungie mau sarapan apa?" tanya Kyuhyun mengajak sang buah hati berbicara.

"Omulaise!" jawab Minjung semangat.

"Omurice? Aigoo, tidakkah ada yang lebih mudah lagi?" gumam Kyuhyun merana.

Setelah susu Minjung siap, Kyuhyunpun menurunkan sang anak, kemudian memberikan gelas kecil berisi susu itu pada pemiliknya.

"Minum di ruang tengah, ne? Appa akan memasakkan omurice Jungie" ujar Kyuhyun sebelum Minjung beranjak mematuhi perintah ayahnya.

Setelah Minjung pergi, Kyuhyun segera saja memasak nasi, walaupun ia sendiri tak tahu bagaimana cara kerja magic com di dapurnya itu.

Dengan sangat hati-hati, ia memencet tombol yang ada di magic com, setelah menyiapkan beras yang sudah dicuci dan dimasukkan kedalamnya bersama dengan air.

"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.

Bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bahkan bahan dan cara memasak omuricepun ia tak tahu. Benar-benar seorang pemula.

Kyuhyun mengambil ponselnya yang ada di kamar, kemudian mencari resep omurice di internet.

Iapun menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkannya, kemudian mencucinya satu persatu.

"Appa, Hyunnie juga mau susu sepelti Jungie" ujar Minhyun yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Kyuhyun.

Kyuhyunpun mendengus kesal, namun tetap membuatkan sang buah hati susu yang ia inginkan.

"Sekalian untuk Sungie, ne" ujarnya.

"Tapi, Hyunnie tidak bisa membawanya" balas Minhyun seraya menunjukkan kedua tangannya yang ia gunakan untuk membawa gelasnya.

"Kalau begitu, Hyunnie bawa susu Hyunnie dulu, lalu nanti kembali lagi mengambil susu Sungie. Otte?" saran Kyuhyun.

Minhyun mengangguk patuh, kemudian berjalan menuju ruang keluarga, dan kembali ke dapur dengan tangan kosong.

Setelah Minhyun pergi membawa botol susu Sunghyun, Kyuhyunpun kembali ke aktivitasnya semula. Mencuci bahan-bahan.

Dengan bantuan resep dalam ponselnya, Kyuhyunpun memasak omurice dengan kemampuan yang jauh dari rata-rata itu.

Dan hasilnya, walaupun tidak sebaik dan seenak masakan Sungmin, setidaknya omurice milik Kyuhyun masih dapat dikonsumsi.

Setelah selesai, iapun tersadar, "Kenapa aku memberi Sunghyun susu sebelum sarapan, dia pasti sudah kenyang" ujarnya seraya menatap mangkuk kecil berisi bubur Sunghyun.

"Appa! Sungie buang air besar!" teriak Minjung keras dari arah ruang tengah.

Kyuhyun yang mendengarnya langsung saja beranjak kearah sumber suara. Ia segera menggendong Sunghyun.

"Sarapan kalian sudah siap, kalian sarapanlah dulu" ujarnya sebelum berjalan kearah kamar anak-anak.

Minhyun dan Minjung melonjak senang, mereka bahkan berlari kearah ruang makan. Sangat lapar sekali mungkin.


"Kita mau kemana appa?" tanya Minjung dari kursi belakang mobil.

"Kemana lagi? Tentu saja ke kantor. Appa harus bekerja" jawab Kyuhyun santai.

Minjung dan Minhyun mengangguk paham, beda halnya dengan Sunghyun yang sibuk sendiri dengan boneka labu miliknya.

"Apa disana banyak mainan?" tanya Minhyun antusias.

"Tentu saja tidak ada, baby" jawab Kyuhyun yang masih fokus menyetir.

Minhyun dan Minjung yang mendengarnyapun mendesah kecewa. Bibir mereka mengerucut secara otomatis.

"Lalu, kami halus melakukan apa, appa?" tanya Minjung dengan nada kesal.

"Appa kan sudah membawakan mainan kalian di dalam bagasi" jawab Kyuhyun.

Minhyun dan Minjung terlihat kurang puas dengan jawaban ayah mereka, namun mereka dengan ajaibnya menutup mulut, diam saja.

Tak beberapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Kyuhyun telah tiba di parkiran kantor. Kyuhyunpun turun dari mobil, kemudian membantu ketiga anaknya untuk keluar juga.

Dengan Sunghyun yang ada di kereta bayinya, si kembar yang berjalan beriringan seraya mendorong kereta bayi Sunghyun di samping ayah mereka, tas kerja di tangan kanan, tas anak-anak di tangan kiri, Kyuhyun sudah siap masuk ke dalam kantor.

Sesaat setelah memijakkan kakinya di dalam kantor, Kyuhyunpun langsung saja menjadi pusat perhatian, ah tidak hanya Kyuhyun, Minhyun, Minjung, dan Sunghyun juga.

Para karyawan membungkuk sedang, tanda penghormatan mereka. Dan seseorang yang tengah berlari ke arah Kyuhyun.

"Selamat pagi, Sajangnim" sapanya hormat seraya membungkuk singkat.

Lelaki yang ternyata adalah sekertaris Kyuhyun itupun segera mengambil alih tas-tas yang Kyuhyun bawa.

"Selamat pagi juga, Sekertaris Kim" ujar Kyuhyun ramah.

"Eoh? Cucuku!" teriak seorang namja paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kantor itu.

Namja paruh baya itu berjalan cepat kearah dimana sang cucu berada.

"Halaboji!" teriak Minhyun dan Minjung tak kalah semangatnya

"Ah, baguslah. Paling tidak ada yang membantu" gumam Kyuhyun lirih, benar-benar lirih sampai tak ada yang mendengarnya.

Cho Hangeng segera saja menggendong salah satu dari ketiga cucunya, yaitu Minjung, membuat anak itu memekik senang.

"Kenapa kau membawa mereka kemari?" tanyanya seraya berjalan menuju kearah lift.

"Umma mereka sedang ada urusan, appa" jawab Kyuhyun seraya menggendong Minhyun.

Daritadi, bocah itu menarik-narik celana panjang ayahnya agar ia digendong, sama seperti adik kembarnya.

"Ah, appa beritahu ummamu saja, biar dia kemari" ujar Hangeng.

Kyuhyun hanya mengangguk saja, mungkin dengan adanya sang ibu, ia akan lebih mudah menyelesaikan pekerjaannya, tanpa gangguan anak-anaknya tentu saja.


Kini Heechul sudah duduk manis di atas karpet berbulu tebal yang ada di ruang kerja Kyuhyun. Memang ada sebuah ruangan rahasia yang ada di dalam ruang kerja Kyuhyun. Ruangan itu biasanya dipakai Sungmin bila ia tengah berkunjung, jadi ia tak bosan hanya menatap Kyuhyun yang tengah bekerja saja. Ruangan itu hampir mirip seperti kamar, karena terdapat tempat tidur di dalamnya.

Heechul sengaja membuka pintu penghubung ruangan itu dengan ruang Kyuhyun bekerja, agar lebih mudah memanggil Kyuhyun jika ia membutuhkan sesuatu.

"Sungie baby, ikuti ucapan halmonie, ne?" ujar Heechul mengajak Sunghyun berinteraksi.

Sunghyun yang merasa namanya dipanggil itupun segera mendongak dan menatap neneknya dengan kedua bola mata bulatnya itu.

"Sungie..." ujar Heechul.

Bukannya mengikuti ucapan yang Heechul keluarkan, Sunghyun malah mennggigit mainan labu karetnya, namun tetap menatap kearah neneknya.

"Halmonie..." ujarnya dengan kata yang berbeda.

Sunghyun melepas mainannya, menimbulkan air liur yang langsung saja menggenang di permukaan bibirnya.

"Niee..." ujar Sunghyun dengan pelan.

Heechul nampak antusias, "Kyuhyun! Kyu!" teriaknya girang.

Kyuhyun yang namanya disebut itupun beranjak dari depan laptopnya, berjalan kearah sang ibu.

"Waeyo?" tanyanya.

"Sungie baby memanggilku!" jawabnya antusias.

Langsung saja senyum yang semula terulas di bibir Kyuhyun, kini hilang, dan menyisakan wajah datarnya saja.

"Hanya itu?" tanyanya dengan nada malas.

Heechul mengangguk antusias, "Bukankah itu menakjubkan?" ujarnya.

Kyuhyun segera berdiri, kemudian kembali kearah laptopnya tertata rapi diatas meja kerjanya.

"Bahkan ia sudah memanggilku sejak berumur sembilan bulan, umma" ucap Kyuhyun.

Heechul mendengus pelan, kemudian kembali beralih ke cucu-cucunya.

"HUWAAAA!" tangis Minjung tiba-tiba saja keluar begitu saja.

Minhyun juga tiba-tiba saja berlari kearah Kyuhyun, segera naik ke pangkuan Kyuhyun dan memeluk tubuh tegap itu.

'Pasti berbuat nakal lagi' batin Kyuhyun jengah.

Pasalnya, ini bukan yang pertama Minhyun berbuat nakal pada dongsaengnya, entah itu mengambil mainan milik dongsaengnya, mengganggu dongsaengnya bermain, atau yang lainnya.

Kyuhyun terpaksa menghentikan kegiatannya dengan sang laptop. "Apa lagi kali ini?" tanya Kyuhyun pelan.

Minhyun menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang ayah, mungkin takut jika sang ayah akan memarahinya.

Tak mendapat jawaban dari putera sulungnya, Kyuhyunpun beranjak dengan Minhyun yang ada di gendongannya.

Ia melangkah kearah sumber suara puteri satu-satunya itu. Minjung masih saja menangis, dan Sunghyun entah karena apa juga ikut menangis.

Kyuhyun menghela nafas berat, ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok jika itu bisa menyelesaikan tangisan anak-anaknya. Namun, ia harus berfikir jernih untuk kali ini. Hhh... istrinya bahkan baru beberapa jam pergi, ia harus bersabar.

"Apa yang terjadi, umma?" tanya Kyuhyun.

"Minhyun mendorong Minjung dari atas kasur" jawab Heechul santai.

Kyuhyunpun menatap pada kepala yang masih betah pada posisinya itu, "Benarkah itu, Hyunnie?" tanya Kyuhyun pada Minhyun.

"Hyunnie hanya belcanda" jawab Minhyun hampir tidak dapat dipahami karena ia masih tetap pada posisinya.

Kyuhyunpun mendengus pelan, kemudian beranjak kearah Minjung yang masih saja menangis itu.

"Mana yang sakit, baby?" tanyanya lembut.

Minjungpun berhenti menangis, kemudian menunjukkan sikunya yang seperti tak terjadi apapun, masih putih bersih seperti biasanya.

Kyuhyunpun mengerutkan dahinya heran, kemudian menatap benar-benar siku yang ditunjukkan Minjung. Dan hasilnya, tetaplah sama.

"Ini?" tanyanya yang disetujui dengan anggukkan oleh Minjung.

Dibolak-baliknya lengan kecil Minjung yang katanya 'sakit' itu, menimbulkan rasa ingin tahu dari sang pemilik lengan.

"Masih sakit?" tanya Kyuhyun.

Minjung mengerjap-kerjapkan matanya dengan lucunya, masih menatap pada lengannya.

"Hhh..."

Kyuhyun menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian melepaskan pelukan Minhyun dari tubuhnya.

"Minta maaflah pada Jungie!" perintah Kyuhyun dengan menekan rasa kesalnya.

Kemudian Kyuhyun beranjak kembali menuju kursi dan meja kerjanya. Ia meminum secangkir teh yang ada di mejanya, berusaha untuk lebih bersabar lagi.


-KYUMIN-


"Appa, Jungie mau beli!" seru Minjung dengan semangatnya.

"Beli?" tanya Kyuhyun heran.

"Bukan beli appa, tapi beli!" sangkal Minjung.

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya saja, pertanda ia tak ambil pusing akan keinginan puterinya itu.

Kyuhyun mengambil beberapa bahan makanan yang berada di rak, memilah-milah apa yang akan ia beli.

Kyuhyun dan anak-anaknya kini tengah berada di sebuah supermarket yang berada tak jauh dari kantornya. Tadi, Sungmin sudah menghubunginya dan memberitahu apa yang harus dimasak oleh sang suami, dan disertai resepnya juga. Makan siang tadi, Heechul yang memberi makan pada anak-anaknya, dan makan malamnya, mau tak mau ialah yang harus memasak.

Sunghyun diatas trolley tengah menikmati biskuit bundar yang ia pegang, Minhyun dan Minjung berlarian di sekitar Kyuhyun, kejar-kejaran nampaknya.

"Kenapa harus ada sayurnya?" gerutu Kyuhyun saat melihat resep yang Sungmin berikan.

Dengan setengah hati, Kyuhyunpun meletakkan sayur-sayuran yang ia butuhkan kedalam trolleynya.

"Kita kesana, kaja" ajak Kyuhyun pada si kembar agar mengikutinya.

"Appa, belinya mana?" tanya Minjung saat ia tak mendapati 'beli'nya di dalam trolley.

Kyuhyunpun bingung, bahkan ia tak tahu dengan ucapan puterinya itu.

"Eum, Jungie cari sendiri, ne? Appa temani" ujarnya.

Minjungpun mengangguk semangat, kemudian berlari ke tempat 'beli'nya berada.

Kyuhyun hanya pasrah saja mengikuti langkah kecil Minjung, dengan Minhyun yang menggandeng tangannya.

"Ah, berry rupanya" gumam Kyuhyun saat Minjung menunjuk kotak-kotak berisi buah berry yang berada di rak atas, jauh dari jangkauannya.

"Hyunnie juga mau appa! Tapi yang bilu ya" seru Minhyun semangat.

Kyuhyunpun mengangguk, kemudian mengambilkan sekotak redberry, dan sekotak blueberry, meletakkannya ke dalam trolley.

"Ada lagi?" tanyanya seraya menatap Minhyun dan Minjung secara bergantian.

"Pelmen!" jawab mereka bersamaan

Kyuhyunpun menggelengkan kepalanya, "Tidak" ujarnya singkat.

Dua anak itu langsung saja menunjukkan raut wajah kecewa mereka, seraya menarik-narik celana yang ayah mereka kenakan.

"Umma bilang tidak untuk permen" ujar Kyuhyun, mengingat pesan singkat sang istri.

"Kan umma tidak di lumah" ujar Minhyun.

"Umma tidak akan tahu" sambung Minjung.

Kyuhyun tetap pada pendiriannya, "Tidak" ujarnya kukuh.

Dua bocah kembar itupun mengerucutkan bibir kecil mereka dengan lucunya, melepaskan tarikan tangan mereka pada celana Kyuhyun.

"Bagaimana dengan puding?" tawar Kyuhyun.

Minhyun dan Minjung terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk bersamaan, disertai senyum cerah dari keduanya.

"Kaja, kita membeli bahan-bahannya terlebih dahulu" ujar Kyuhyun seraya menggiring si kembar kearah rak-rak lainnya.

"Ah, tunggu dulu. Appa mau beli daging sebentar" ujar Kyuhyun saat melewati tempat rak daging.

Ditelitinya sekilas jenis-jenis daging yang diperjualkan, "Daging sapi" ujarnya saat membaca label yang tertera pada salah satu kotak daging.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya seorang pegawai supermarket.

Seorang wanita muda mengenakan seragam pegawai, dengan senyum centilnya mendekati ayah tiga anak itu.

"Eum, daging mana yang biasanya digunakan untuk memasak kimbap?" tanya Kyuhyun tanpa ragu.

Tatapannya masih meneliti daging-daging di hadapannya, tidak tertarik sama sekali dengan wanita muda di sampingnya. Sungmin hanya menuliskan daging saja, tanpa menyebut daging apa yang harus ia beli.

Sedangkan Sunghyun, bayi montok nan sehat itu menatap sang pegawai dengan bola mata bulatnya. Namun, tak lama berselang, iapun bosan dan beralih mengambil seikat daun bayam yang masih berlapiskan plastik, memain-mainkannya.

"Daging sapi cocok untuk kimbap tuan" ujar pegawai itu dibuat semanis mungkin.

"Ah, gurae? Lalu, daging sapi yang mana?" tanya Kyuhyun masih saja bingung.

Pegawai itupun semakin mendekati Kyuhyun, kemudian mengambilkan sebuah kotak berisi daging sapi. Ia sengaja menyentuhkan lengannya ke lengan sang pria tampan.

"Yang ini, tuan" jawab pegawai itu.

Kyuhyun hanya menanggapinya dengan anggukkan, kemudian mengambil kotak itu dari tangan sang pegawai dan meletakkannya ke dalam trolleynya.

"Appa, kaja!" seru Minhyun seraya menarik tangan Kyuhyun menjauh.

Minjung berbalik ke arah sang pegawai, menjulurkan lidahnya pada yeoja itu, kemudian berlari mengikuti ayahnya.

Sang pegawai mengeluarkan kata-kata kasar, meluapkan perasaan kesalnya, apalagi bocah kecil tadi mengejeknya, membuatnya semakin kesal saja.


-KYUMIN-


Sembari menunggu sang ayah yang tengah memasak, tiga bersaudara itu duduk tenang diatas sofa.

Tenang?

Tentu saja, karena kini mereka tengah menonton kartun favorit mereka, Pororo, yang sengaja Kyuhyun putarkan di TV.

Tangan Minjung sibuk menyuapkan redberry ke dalam mulut kecilnya, begitupun Minhyun dengan blueberrynya. Sunghyun tengah memakan apa yang ada di tangannya, sebuah lembaran rumput laut kering. Nampaknya bayi itu menyukai makanan yang terbilang baru di lidahnya itu.

Kyuhyun sendiri sedikit tersenyum lega karena anak-anaknya yang begitu tenang menonton, itu artinya ia bisa berkonsentrasi memasak.

Terlebih dahulu ia memasak puding, karena membutuhkan waktu pendinginan yang cukup lama.

Setelah meletakkan puding ke dalam kulkas, iapun kembali kearah sayur-sayuran yang seakan menantinya itu.

"Hhh... kenapa kau ada disini?" tanyanya pada sayur yang tergeletak itu.


"Sekarang waktunya tidur" ujar Kyuhyun.

Setelah membereskan sisa-sisa makan malam mereka, Kyuhyunpun beranjak ke ruang keluarga.

Digendongnya Sunghyun terlebih dahulu sebelum mematikan layar TV.

Tap~

"APPA!"

"HUWEEE!"

Teriakan dan tangisan langsung saja saling bersahutan saat tiba-tiba saja lampu padam.

"Hhh... Apa lagi sekarang?" desah Kyuhyun pelan.

Kyuhyunpun segera menarik tangan Minhyun dan Minjung kearah kamarnya, dengan hati-hati dan pelan-pelan tentunya.

"HUAAA!"

"PAPAPAPA!"

"APPA!"

"Jangan menangis, jangan berteriak!" ujar Kyuhyun agak keras, agar anak-anaknya dapat mendengarnya.

Suasana tenang sesaat, karena ketiga anak itu kaget dengan suara keras ayah mereka.

"Appa carikan lilin atau senter dulu, ne" ujarnya setelah meletakkan tiga anaknya diatas kasur king sizenya.

"Appa, jangan pelgi!" cegah Minhyun.

Iapun mengeratkan pegangan tangannya pada Kyuhyun, ia benar-benar takut sekarang.

"HUWEEE! MAMAMA!"

Sunghyun yang tidak tahu situasi itupun menangis dengan kencangnya, yang ia tahu ia tengah berada dalam kegelapan yang menakutkan kali ini, dan yang dapat ia lakukan hanya menangis saja, itulah pemikirannya.

"Baby, jangan menangis terus, ne? Apa Sungie tidak lelah menangis terus, heum?" bujuk Kyuhyun.

Sunghyun tetap saja menangis dan menangis, membuat kepala Kyuhyun semakin pening saja.

Dengan sekejap, Kyuhyunpun keluar membawa Sunghyun dalam pelukannya, meninggalkan si kembar di dalam kamarnya.

"APPAA!" teriak keduanya bersamaan.

Minjung ingin rasanya segera berlari menyusul ayahnya, namun kegelapan yang mengitarinya membuatnya mengurungkan niatnya.

"Oppa~" ujarnya lirih seraya menggapai-gapai Minhyun.

Minhyun yang sebenarnya juga tidak begitu berani itupun berusaha untuk menahan rasa takutnya, ia sadar jika ia yang harus bertanggung jawab akan adik-adiknya, karena ialah yang tertua.

"Kemali~" ujar Minhyun seraya membawa Minjung ke dalam pelukannya.

"Oppa, Jungie takut" ujar Minjung lirih.

"Jangan takut, ada oppa disini" tenang Minhyun seraya mengusap lembut rambut halus Minjung.

Minjungpun mengangguk pelan dalam pelukan kembarannya itu. Entah mengapa, gadis kecil itu merasa aman dalam pelukan oppanya.

Tiba-tiba saja sebuah cahaya masuk ke dalam kamar itu, membuat dua bocah yang masih berpelukan itu menoleh.

"APPA!" teriak mereka saat mendapati ayah merekalah yang telah membawa cahaya itu masuk, sebuah senter.

Kyuhyunpun berjalan mendekat, kemudian meletakkan Sunghyun diatas kasur empuk itu.

"Appa buatkan susu dulu, ne" ujarnya seraya kembali ke dalam kegelapan, meninggalkan senter itu di kamar.

"Wah, telang!" takjub Minjung seraya merebut senter dari genggaman Sunghyun.

Bayi kecil itu nampaknya tak terima saat cahaya yang ia dapat diambil paksa seenaknya saja, iapun mengomel dengan bahasa bayinya sendiri.

Minhyun langsung saja berdiri dan melompat-lompat diatas kasur, diikuti Minjung yang sekaligus mengarahkan senter yang ia pegang kearah langit-langit, menggoyang-goyangkannya. Seperti suasana di diskotik.

Mereka berduapun menyanyi dengan kerasnya, diikuti Sunghyun yang juga tertarik dan ikut menggoyangkan tubuh montoknya.

Kyuhyun yang berada di ambang pintu dengan tiga botol susu di tangannya, hanya dapat menghela nafas berat untuk kesekian kalinya hari ini.

"Yah, setidaknya mereka tidak menangis saja" gumamnya pelan.

Iapun berjalan perlahan mendekat kearah kasur, kemudian duduk diatasnya dengan senyum yang mulai terkembang.

"Minum susu dulu, kemudian tidur" ujar Kyuhyun.

Tiga anak itu segera saja beranjak menuju kearah sang ayah, kemudian mengambil botol mereka masing-masing.

Kyuhyun membaringkan mereka berjejer, dengan posisi Minhyun, Minjung, Sunghyun, kemudian ia sendiri. Ah, jangan lupakan sebuah guling yang berada tepat di samping Minhyun, menjaganya agar ia tak terjatuh.

Setelah beberapa saat, Kyuhyun dapat bernafas lega karena anak-anaknya yang mulai terlelap.

Iapun mengambil botol-botol kosong dari genggaman anak-anaknya, kemudian meletakkannya diatas nakas. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk ikut terlelap menyelami alam mimpinya.


-KYUMIN-


END~

Ini yang end cuma Day One-nya aja...

terinspirasi dari variety show korea 'The Return of Superman'... Dan juga saya yang pingin makan omurice... :-(

And jangan lupa RnRnya~