Expectation of Love

Disclaimer : Mamashi Kishimoto

By : wf

Pairing : naru x?, sasuruko, gaasaku, shika x?, sai x?, neji x?, dll

Warning : smart!naru, cool!naru, OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murbi dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...

Capther 4 : I can't believe

"..no.. ino" ucapku pelan, aku sungguh khawatir, kenapa kau melakukan ini, aku tidak habis pikir, kenapa kau dengan mudahnya melakukan itu hanya karena alasan yang aku sendiri tidak tahu, apa karena sewaktu dikelas aku mengejekmu? Kalau iya, kenapa hanya karena sebab itu kau melakukan ini, namun aku merasa janggal, kalau iya karena itu aku akan meminta maaf padamu, aku tidak bermaksud mengejekmu dengan serius, itu hanya caraku untuk mencoba mendekatkan diri lagi denganmu, karena beberapa minggu terakhir ini, kau menjauhiku dengan alasan yang aku sendiri tidak tahu. Atau ada alasan lain yang menyebabkanmu menjadi seperti ini. Ahh, dari pada aku memikirkan penyebabnya, lebih baik aku menolongnya dulu.

Aku segera menghampirinya dan menghubungi telpon gawat darurat, agar ia segera mendapatkan penanganan, aku mencoba menghentikan darah yang mengalir di tangannya dengan sapu tanganku. Semoga, kau dapat selamat. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, aku merasa takut dan khawatir sekali, karena gadis ini. Aku tidak tahu kenapa aku dapat berbuat seperti ini pada gadis yang baru aku kenal beberapa bulan terakhir.

Skip time

Setelah cukup lama menunggu akhirnya, mereka datang. Aku mengikuti mereka dengan mobilku dari belakang. Aku terus berdo'a semoga tidak terjadi sesuatu padanya .

Sesampainya di rumah sakit ino segera di tangani oleh para dokter, aku duduk di depan ruang icu, sambil berdoa semoga ino dapat selamat. Aku merasa separuh jiwaku pergi ketika melihat gadis itu tergeletak tak berdaya saat ia menyayat tangannya dengan gunting itu.

Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika ia mengalami hal yang tidak diinginkan, karena aku yang pertama kali menemukannya disana. Jadi, jika hal terburuk terjadi aku yang akan menjadi yang pertama di pertanyakan. Aku mendudukan diriku di kursi tunggu didepan ruang icu itu.

Aku juga sudah menghubungi teman-temanku, dan juga sensei. Aku kembali teringat rangkaian kejadian sehari ini, sebelum aku menemukan ino sudah tergeletak di atap dengan berlumuran darah.

Flashback

"hm, soal semudah itu, kau tidak bisa, ck baka" ejekku padanya, jujur aku tidak bermaksud mengejeknya, tapi melihat wajah penuh emosinya membuat ku semakin terhibur, tingkahnya lucu jika sedang marah. Tanpa sadar aku menikmati segala tindakan dan sifatnya itu. ck, apa yang sedang aku pikirkan. Apa jadinya jika aku sungguh menyukai gadis ini.

"hm, apa kau bilang naruto-kun, kau menyebalkan" sungutnya penuh emosi membalas ejekanku. Hahaha, aku sungguh ingin tertawa melihat tingkah lucunya, tanpa aku sadari aku terkekeh pelan. "kenapa naruto-kun tertawakan" sahut gadis yang ada disampingku ini. Aku baru menyadari ada seseorang yang berada disampingku.

"hn" gumamku sebagai balasan untuk pertanyaannya. Aku dapat merasakan ia menghela nafas pelan. Jujur, aku tidak bisa menyukai gadis yang telah menjadi tunaganku ini lebih dari teman. Aku telah mencoba, namun wajah seseorang selalu menghantuiku dalam mimpi, aku tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya. Namun, mimpi itu sudah mengacaukan piliranku, ketika aku mencoba membuka hati untuknya.

Namanya, Hyuuga Hinata, ia sebenarnya gadis yang cantik, lembut, penyayang, dan juga baik hati. Tapi, aku tidak bisa menyukainya lebih dari seorang teman. Hanya akhir-akhir ini, ada satu nama gadis yang selalu menganggu pikiranku.

"ne, naruto-kun, ayo kita kekantin, aku lapar" rengeknya manja sambil memeluk lenganku, yang kemudian membuyarkan lamunanku. Sebenarnya aku merasa risih dengan sikapnya ini, hm, tapi tidak ada salahnya jika pergi kekantin dengannya, aku juga merasa lapar. Aku menganggukkan kepalaku pelan, "yey, ayo" teriaknya sambil menarikku keluar dari kelas.

Diperjalanan menuju kantin aku dapat mendengar dengan jelas teriakan dari para siswi disekolah ini. Aku hanya diam saja, menatap tajam dan dingin kearah depan.

Aku tahu hinata menatap kearah mereka tajam, memberitahu mereka seakan kalau aku ini adalah miliknya. Kami-sama, apa salahku hingga kau memberikanku cobaan seperti ini. Ini semua menganggu ketenanganku. Setelah kami sampai dikantin ia segera memesankan makanan kami, walau aku tidak mengatakan apa yang akan aku pesan ia sudah memesankannya. Sepertinya ia tahu makanan yang aku suka.

"hm, kalian mau mesan apa, biar aku saja yang memesannya" ujar seseorang. Aku mendengar suara yang aku kenal, iya, itu suara salah satu teman sekelasku, kalau tidak salah namanya temari dan aku menolehkan wajahku pada sumber suara itu.

"hm, aku miso ramen aja, aku kangen dengan ramen minumnya lemon tea" jawab salah satu dari mereka. Namun, bukan itu yang membuat ku terpaku, tapi pada gadis berambut pirang yang tengah terseyum manis pada temari saat ia menanyakan sesuatu "baiklah, kalau kau ino" Tanya temari padanya. "hmm, apa ya, sushi aja, minumnya juga lemon tea" jawabnya. Jadi makanan, favoritnya sushi ya, aku masih menatapnya dengan intens, aku menatapnya seperti tidak ada makhluk yang lebih indah darinya, senyum lembutnya menghangatkanku, sama seperti senyum kaa-san. Tanpa sadar aku tersenyum tipis. Oke, apa benar aku sudah mulai menyukainya. Ck, aku tidak yakin dengan itu.

"hmm, naruto-kun, ini makan siangmu" sebuah suara menyadarkanku akan dunia nyata. "hn" ujarku pelan, sambil menerima semangkuk ramen itu, ia segera menduduki dirinya di sampingku, selama makan siang, ia bercerita apapun padaku, yang aku hanya menanggapinya dengan gumaman khasku.

Setelah selesai makan siang, aku teringat dengan pesan kakashi sensei, agar aku keruangannya pada jam makan siang. "hm, hinata, duluan saja kekelas, aku akan pergi keruangan kakashi sensei, tadi ia menyuruh ku kesana" ujarku padanya. Ia mengangguk. "hai, aku duluan ya naruto-kun" setelah mengatakan itu, ia segera berlalu dari hadapanku untuk kembali kekelas.

Aku segera berjalan menuju kantor para guru, namun aku terhenti sejenak mendengar suara yang sangat aku kenali juga berada di dalam sana.

"hmm, sensei, ada apa, kenapa anda menyuruh saya kesini" ujar seseorang dengan suara yang aku kenal.

"yamanaka-san, kemarin tuan yamanaka, datang kesekolah, karena ia tidak sengaja melihat hasil ulangan tengah semestermu kemarin, kau kan tahu nilaimu bahkan lebih jelek daripada nilai lee. Jadi ia datang kesini, untuk meminta agar kamu diberikan untuk kelas tambahan" jelas kakashi sensei padanya.

Tapi, sepertinya suasananya cukup canggung, karena aku tidak mendengar suara mereka lagi.

"…-san, yamanaka-san" suara kakashi sensei yang aku yakin itu sebuah teguran. "yah, sensei" suara gadis itu terkejut sebagai reaksi yang ia berikan pada kakashi sensei. Terdengar Sensei menghela nafas pelan, "jadi, kau harus mengikuti kelas tambahan, dengan orang yang telah sensei tentukan." Ujar kakashi sensei. "hai sensei".

Setelah itu aku memutuskan untuk masuk sambil berkata "hmm, ada apa sensei memanggil saya" dengan suara dinginku, dapat aku rasakan terkejutan dari ino.

"oh, kau sudah datang naruto-kun" basa basi sensei padaku. "hn" gumamku singkat. "jadi, karena kalian sudah di sini, sensei akan memberitahu, kalau naruto-kun akan mengajarkan yamanaka-san pelajaran tambahan sampai ujian semester tiba" jelas kakashi sensei. "apaa" sahut ino kaget dengan yang dikatakan sensei, sebenarnya aku juga kaget tapi aku dapat menyembunyikan kekagetanku. "apa kau tidak salah, kakashi sensei, kenapa harus aku, masih ada yang lain selain aku" aku mencoba protes dengan nada datar, walau tidak dapatku pungkiri aku juga agak senang, jadi aku dapat mencoba kembali dekat dengannya.

Aku kembali merasakan hawa kecewaan darinya, walau tidak tampak dari wajahnya,

"yang lainnya terlalu tidak bisa diandalkan, hmm, jadi sensei sangat mengharapkanmu, naruto-kun" ujar kakashi sensei yang mencoba membujukku lagi. Dengan agak berat hati aku mengiyakannya "hn, baiklah". Aku menoleh kearah satu-satunya perempuan yang ada disini, ia membulatkan mata aquamarine nya, ekspresinya sungguh lucu, jika terkejut, aku semakin ingin menciumnya, isssh apa yang aku pikirkan.

Setelah tidak ada lagi pembicaraan yang akan kami bicarakan, kamipun pamit pada kakashi sensei untuk kembali kekelas.

"ayo, ikut aku ino" ujarku padanya sambil menarik tangannya, aku menariknya kearah atap sekolah. Sesampainya diatap, "hn, baiklah jam 10 di taman besok pagi" ujarku sambil berjalan menjauh darinya. "jangan sampai telat" tambahku sebelum aku benar-benar menghilang dari balik pintu akses menuju atap itu. Aku tersenyum tipis mengingat ekspresinya itu.

Namun, aku tidak segera kembali kekelas, aku menuju toilet terlebih dahulu. Setelah, lima belas menit, aku memutuskan kembali kekelas, sesampainya dikelas aku segera mendudukkanku dikursi disamping hinata.

Namun aku merasa janggal kemana perginya hinata, terserahlah, kenapa aku harus peduli dengan gadis itu. aku menolehkan kepalaku kearah dimana ino duduk, kenapa gadis itu belum kembali kekelas, kemana dia?.

"tadi, kau darimana naruto-kun, aku mencarimu untuk memberitahukan kalau sensei sudah masuk" ujar hinata padaku. Kenapa aku tidak merasakan ia sudah berada disampingku ya, aku hanya diam dan kembali memperhatikan sensei yang sedang mengajar.

Skip time,,

"Yey, akhirnya selesai juga" teriak tenten. "iya, akhirnya kita bisa pulang" sambung temari dengan nada yang tidak kalah semangat.

"hm. Tapi teman-teman, kenapa ino tidak kembali kekelas ya" tanya sakura pada mereka dengan nada khawatir. Aku sebenarnya juga heran kenapa ia belum kembali juga ya, "hm, mungkin ia membolos," ujar sai,. Kenapa ucapan tunangan dari sepupuku ini terlampau polos, "hm, iya juga sih, ini kan memang kebiasaan nya jika pelajaran sejarah ia sering sekali membolos" tanggap tenten dengan nada menyetujui ucapan sai. Ya, Tuhan, kenapa kebiasaannya buruk sekali.

"tapi, kenapa tasnya tidak ia bawa ya" tanya sakura masih dengan nada khawatir dan cemas. "sudahlah sakura-chan, ia kan memang seperti itu, kita bawakan saja tasnya pulang bagaimana" jawab hinata dengan nada lembut sambil mencoba menenangkan sakura.

Ya, Tuhan, kenapa aku tidak bisa menganggap gadis ini sebagai tunanganku, dan mencintainya sebagai laki-laki. Ia memang sosok gadis yang diimpikan para laki-laki. Tapi, aku tidak. "baiklah, kalau begitu" ujar sakura pada akhirnya.

"hoam, ayo pulang, aku mengantuk" kata shikamaru dengan nada malas. Aku heran ia dari pagi hanya tidur kerjaannya, tapi kenapa ia masih merasa mengantuk ck, apa peduliku. "ck, dasar rusa pemalas, kerjanya cuman tidur, kenapa yang ada dikepalamu hanya tidur shikamaru, ayo, aku pulang, aku akan laporkan pada baa-san prilakumu ini" omel tenten padanya sambil menjewer telinga shikamaru. "ck, lepaskan, panda, sakit" kata shikamaru dengan nada lemas.

Dasar pasangan aneh, "dasar, kalian tidak bisa apa akur sehari saja" gerutu temari, "tidak" ujar mereka tanpa sengaja secara bersamaan. "ciee, kalian memang pasangan yang kompak ya," goda sakura pada mereka. "apaan sih temari, kami kan memang seperti ini, salahkan saja dia, karena tidak mau mengalah padaku" sebal tenten sambil mengembungkan kedua pipinya.

Aku berani bersumpah, aku dapat melihat pipi shikamaru memerah walau sangat samar, apa jangan-jangan shikamaru memang suka dengan gadis tomboy ini. "dan lagi, aku dan shikamaru bukan pasangan, sakura" tambah tenten. Aku kembali menatap shikamaru, aku dapat melihat raut kekecewaan dari wajahnya.

Jadi, benar, ia menyukai gadis tomboy ini. "sudah-sudah, kalian daripada berdebat, lebih baik kerumah ino sekarang" ujar temari sebelum mereka mulai berdebat lagi. "hai" ucap mereka kompak, walau hanya anak perempuan saja.

"tapi, tunggu naruko-chan dimana" tanya neji. Aku kembali menemukan raut tidak senang dari seseorang mendengar ucapan neji. Dan orang itu, tenten. Apa ia menyukai neji. "mereka sedang pacaran di sana neji," jawab sai sambil menunjuk kearah sasuke dan naruko yang sedang belajar.

"hmm, jadi seperti ini caranya, suke-kun" ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepala pada sasuke. Hn, jawab sasuke, "wahh, sake-kun, memang hebat, aku cepat mengerti dengan yang diajarkan suke-kun dari pada baka aniki itu" pekik naruko sambil memeluk sasuke, membuatku terkejut, adalah ia mencium sasuke didepan kami semua, walau itu hanya dipipi saja.

Ya, kaa-san, tou-san, kenapa adik kembarku tidak tahu malu, "ehkm, ruko-chan, sudah selesai dengan bermesraannya" tegur sakura. Yang dapat membuat naruko salah tingkah. "hehheheh, ya sudah ayo, kita pulang" ajak naruko, dengan wajah merah padam.

"ayo, pulang, temari, hime-sama" ajak neji sambil menarik tangan temari dan mengenggamnya, yang membuat gadis itu memerah, "teman-teman kami pulang dulu ya" sahut temari pada kami semua. "naruto-kun, aku duluan ya" ujar hinata, aku hanya menganggukkan kepalaku, yang kemudian hinata juga mengikuti mereka dari belakang. Dapat aku lihat, wajah tenten kecewa melihat neji menarik temari itu. "hm, ayo pulang panda" ajak shikamaru sambil menarik tenten pulang.

"hm, kami juga pulang ya" sahut tenten sambil menyamakan jalannya dengan shika. "kami juga ya," ujar sakura,sambil menarik tangan gaara. Sai juga sudah pulang tanpa pamit pada kami, ck, kebiasaan, pasti ia tidak sabar ingin segera menghubunginya, dasar.

"emm, nii-san, aku akan pulang dengan suke-kun, jadi nii-san bisa pulang sendiri, ayo pulang suke-kun" ujarnya sambil menarik tangan sasuke tanpa ingin mendengar tanggapanku. Ck, dasar adik kembar tidak sopan.

Huh, aku menghela nafas pelan, aku memutuskan untuk keatap dulu, sebelum pulang, karena entah kenapa hatiku menuntunku kesana.

Aku membuka pintu akses, keatap itu, aku terkejut melihat ino.

"..no.. ino" ucapku pelan

End of flashback

Lamunanku terhenti saat melihat dokter yang menangani ino, keluar dari ruang icu. "Bagaimana keadaan teman saya dok" tanyaku pada dokter itu. "syukurlah ia baik-baik saja, hanya saja mengalami luka yang lumayan parah, ia menyayat tangannya hingga melukai arterinya dalam, itu yang mengakibatkan ia banyak kehilangan darah. Tapi, untungnya ada yang menghambat aliran darahnya dengan sapu tangan, sehingga ia dapat selamat, dari kekurangan darah yang terlampau banyak, jadi hanya perlu dijahit" jelas dokter itu padaku.

"syukurlah" ucapku sambil menghela nafas lega. "apa ia sudah bisa dijenguk dok" tanyaku lagi. "bisa, ia sekarang berada dikamar 2013, sebentar lagi ia akan sadar dari pengaruh biusnya" jawabnya. "terima kasih dok, kalau begitu saya akan menjenguknya dahulu, permisi" pamitku padanya. "iya, silahkan" ujar dokter itu sambil berlalu dariku.

Akupun segera mencari kamar gadis itu, setelah menemukannya aku segera memasukinya, dengan langkah pelan aku menghampirinya.

Dapat aku lihat keadaannya sungguh memprihatinkan, aku mendekatinya dan mendudukkan diriku dikursi disamping kasurnya. Aku memperhatikan wajahnya, sungguh pucat, tidak seperti aku lihat tadi pagi, sangat berseri dan ceria. Namun, sekarang wajah itu sangat lah bertolak belakang.

Sebenarnya apa yang terjadi sehingga kau melakukan itu pada dirimu sendiri. Apa kau tidak menyayangi hidupmu.

"hmm" sebuah suara menyadarkanku. "kau sudah sadar, akan aku panggilkan dokter" ujarku padanya. Akupun keluar untuk mencari dokter.

End of someone pov

"hmm" rintihku pelan, sungguh aku merasa semua badanku sakit, terutama bagian pergelangan tanganku. Tapi dimana ini, oh, aku berada dirumah sakit. "kau sudah sadar, akan aku panggilkan dokter" perkataan seseorang mengembalikanku pada kesadaranku.

Dia, apa dia yang membawaku kerumah sakit, kalau iya, aku sungguh tidak percaya akan hal itu. sebenarnya apa yang terjadi dengan ku sebelum, aku berakhir disini, aku mencoba mengingat runtutan kejadian itu. o, iya aku baru ingat setelah naruto-kun pergi, orang itu menghampiriku, ia mengancamku, setelah itu aku kembali menyayat tanganku.

Krett..

Pintu kamar rawatku kembali terbuka, dia dan dokter itu memasuki kamar rawatku. "bagaimana perasaanmu sekarang yamanaka-san," tanya dokter itu setelah memeriksa keadaanku. "aku merasa sudah baikan, dokter" jawabku dengan lirih.

Dokter itu hanya mengangguk tanda ia mengerti, "hmm, baiklah kalau begitu saya permisi dulu, tolong setelah ini, pastikan ia makan dan minum obat diresep ini ya, namikaze-san" sahut dokter itu pada dia.

Ya, dia yang ku maksud adalah naruto namikaze. Pemuda yang menurutku ia sudah tidak memperdulikanku lagi, terlebih ia sudah mempunyai seorang tunangan.

"hai, dokter" balas naruto-kun pada dokter itu. setelah dokter itu pergi ia menghampiriku. "bagaimana keadaanmu sekarang ino" tanyanya padaku. "aku baik-baik saja" jawabku padanya. "bagaimana kau baik-baik saja, kalau kau aku temukan dalam keadaan berlumuran darah, aku sungguh khawatir, apa yang sebenarnya terjadi hingga kau menyayat dirimu sendiri, baka" ujarnya padaku dengan nada yang sedikit tinggi.

Apa? Ia mengkhawatirkanku, aku sungguh senang mendengarnya. "jawab, baka" perintahnya padaku. "aku,,aku,,aku.." aku tidak tahu mau menjawab apa. Aku bingung apa aku harus menceritakan semua yang terjadi padaku. Apa ia akan percaya dengan ceritaku. Kami-sama apa yang harus aku lakukan sekarang.

Aku mendengarnya menghela nafas pelan, "baiklah, kalau kau tidak ingin menceritakannya sekarang, ya sudah ayo makan, aku akan menyuapimu, setelah itu kau minum obat dan istirahat" ujarnya padaku.

Aku sungguh minta maaf padamu naruto-kun, tapi sungguh aku belum siap menceritakan yang sebenarnya padamu. Ia kemudian meraih bubur di atas meja disampingku, kemudian ia menyuapiku dengan telaten.

"kyaa, ino sebenarnya apa yang terjadi" teriak seseorang yang memasuki kamar rawatku dengan tergesa-gesa. "sakura, masuklah dengan perlahan dan jangan berteriak dirumah sakit" tegur suara berat dari arah belakang orang berteriak itu.

"heheh" sakura hanya memamerkan cengiran khasnya ketika di tegur oleh sang pacar. Aku tersenyum geli melihatnya.

"kau baik-baik sajakan pig" tanyanya padaku. "iya, aku baik-baik saja forehead, o iya, darimana kau tahu aku berada disini" ujarku padanya. "sebelum aku tahu kau disini, kami kerumahmu dulu, untuk mengantarkan tasmu, tapi kata pelayanmu kau belum pulang, makanya aku khawatir, apalagi mendapat kabar dari naruto, kau berada di rumah sakit, kau tahu seberapanya aku mencemaskanmu" jelasnya padaku.

Aku tersenyum lembut padanya, walau begitu aku masih belum dapat percaya orang itu dapat melakukan itu padaku.

Tak lama setelah sakura datang, teman-temanku yang lain datang. Mereka sungguh mencemaskanku.

.

.

.

Diluar ruang rawat itu, terlihat seseorang yang menatap benci kearah ino,

"yamanaka, kenapa kau tidak mati saja" ujarnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit itu.

TBC

Hehehhe, hai reader-san, kembali lagi dengan author gaje yang satu ini, dengan lanjutan fic Expectation of love capther 4 selamat membaca. Author memohon maaf jika Update nya lama...

Jangan lupa RnR ya reader-san, terima kasih untuk selalu menunggu dan mendukung author,,,