Mata delima Kurama bergerak-gerak tidak menentu. Kelihatan sekali kalau rubah merah ini gelisah. Begitu juga dengan Itachi yang wajahnya kaku. Gerak-gerik itu membuat Sasuke semakin yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Naruto saat dirinya sedang berada di Oto.


Judul

Not Only Acacia but also White Lily


Chapter 4

Poor Dog


Rate:

M


Main Pair:

Sasuke x Naruto

Itachi x Kurama


Disclaimer:

Naruto bukan punya kami, meski kami maunya gitu #dihajar Masashi Kishimoto

Naruto © Masashi Kishimoto


Warning:

AU, OOC, gaje, typo, YAOI of course :D

Fic collab saya dengan Sachi Alsace

Don't like don't read!


"Apa yang terjadi pada Naruto saat aku masih di Oto?" tanya Sasuke sekali lagi pada dua orang yang membisu di hadapannya itu.

Kalau memang benar apa yang diceritakan oleh Hyuuga padanya, terjawab sudah pertanyaan Sasuke tentang Itachi yang selalu mengawal Naruto.

Itachi saling tatap dengan Kurama sebelum akhirnya dia angkat bicara, "Saat itu…." Kurama menepuk bahu Itachi, wajahnya masih kaku. Itachi mengangguk pada Kurama lalu tersenyum padanya sambil mengelus rambut merahnya.

"Aku akan menjemput Naruto." Kata Itachi beranjak dari tempat tidur milik Kurama, meninggalkan Sasuke dan Kurama berdua saja. Sebelum keluar dari kamar, Itachi memungut pakaian Kurama yang berserakan di lantai dan menyerahkannya pada Kurama, lalu memakai pakaiannya sendiri. Karena shock, Itachi sampai lupa kalau mereka sedang telanjang di depan adiknya.

Kuro_Chii

Naruto melangkahkan kakinya menuju asrama—kali ini sendirian. Tidak biasanya Sasuke atau pun Itachi tidak menjemputnya. Lagipula, dia merasa tidak harus selalu diantar-jemput seperti ini. Naruto seorang laki-laki, bukan perempuan yang harus dikawal kemana pun ia pergi. Lagipula, memangnya hal buruk apa yang akan terjadi padanya selama berjalan menuju asrama?

Naruto melangkahkan kakinya dengan santai. Hari ini langit agak mendung dan jalanan juga sepi. GUSRAK! SRAK! Terdengar suara dari arah semak-semak di samping Naruto. Naruto menghentikan langkahnya. Terasa seperti déjà vu—tidak, ini bukanlah déjà vu. Naruto menelan ludahnya. Tidak mungkin ada rusa di dekat kampus, bukan? Naruto sedang menerka-nerka apa yang ada di belakang semak-semak itu. Naruto memberanikan diri untuk mendekati semak-semak itu. Dia berharap itu bukan pencuri yang sedang menyimpan barang curiannya.

"Astaga!" Naruto sangat kaget saat melihat apa yang ditemukannya di balik semak-semak itu. Ini bukan pencuri—apalagi rusa. Naruto menemukan seekor anak anjing berbulu warna putih kusam? Mungkin itu warna putih, hanya saja warnanya tertutup debu dan kotoran. Err.. yang jelas anjing kecil itu sangat kotor dan kelihatan sangat kurus. Naruto melihat ada sebuah kardus di dekat tempat anjing itu berdiri. "Kau dibuang pemilikmu, ya?" Naruto berjongkok untuk mengamati anjing kecil itu lebih dekat.

Naruto menatap anjing itu kasihan. Dia ingin sekali membawa anjing ini ke asrama dan merawatnya sampai ada orang yang mau memeliharanya, tetapi di asrama ada peraturan untuk tidak membawa masuk hewan peliharaan. Bisa repot kalau ketahuan.

Naruto menengadahkan kepalanya. Gerimis. Tanpa berpikir lagi, Naruto segera memasukkan anjing itu ke dalam kardus lalu berlari sambil membawa kardus itu menuju asrama sebelum hujan mengguyur mereka.

"Kau.., masuk kemari!" Naruto membuka jaketnya, menyuruh anjing itu untuk bersembunyi di sana. Setelah menaikkan ritsleting sampai batas diafragma, Naruto menutupi perutnya yang terlihat buncit dengan kardus agar tidak terlalu terlihat mencurigakan.

Naruto berlari melewati meja resepsionis asrama, namun langkahnya terpaksa harus terhenti karena salah satu dari resepsionis, Izumo, memanggilnya. "Naruto, kenapa terburu-buru? Dan.., apa isi kardus itu?"

"Kardus ini kosong!" Naruto menepuk-nepuk kardus yang memang kosong itu. "Uh! Aku harus segera ke toilet!"

"Kau sakit perut? Kalau begitu segeralah ke toilet, lalu minum obat," ujar Kotetsu, petugas yang lain.

"Terima kasih. Aku permisi dulu!" Naruto segera masuk ke dalam lift menuju kamarnya dan Itachi yang terletak di lantai lima.

Naruto memicingkan matanya begitu pintu lift terbuka di lantai lima, dia melihat Uchiha sulung yang berdiri mematung di depan lift. "Itachi-san? Kau baik-baik saja?"

"Ah, Naruto, maaf aku tidak menjemputmu." Itachi tersenyum tipis.

"Nggak apa-apa, kok." Naruto memandang wajah Itachi yang masih tersenyum, senyum yang agak dipaksakan. "Tenang saja, Itachi-san, aku nggak akan bilang ke Kyuu kalau Itachi-san lupa menjemputku." Naruto memukul lengan Itachi pelan sambil tersenyum lebar.

"Wouf!"

"Ups!"

"Suara apa itu, Naru?"

"Ah… i-itu…." Naruto segera berlari ke kamarnya. Itachi yang tidak mengerti, menyusul Naruto masuk ke kamar mereka.

Begitu pintu kamar ditutup, Naruto mengeluarkan anjing kecil yang baru dipungutnya itu dari dalam jaketnya.

"Kau dapat anjing itu darimana?"

"Aku memungutnya di jalan saat aku pulang dari kampus."

"Wouf!"

"Ssstt…." Naruto menaruh telunjuknya di depan bibirnya, meminta anjing kecil itu untuk tidak bersuara.

"Kau mau memeliharanya? Anjing, kan, dilarang di asrama."

"Iya, aku tahu itu. Tapi aku kasihan melihatnya, Itachi-san." Naruto mengangkat anjing kecil itu dan tersenyum. "Aku mau memandikannya."

Naruto masuk ke kamar mandi sambil menggendong anjing kecil. Setelah dibersihkan, ternyata bulu anjing itu benar-benar putih. Anjing itu suka berlari kesana kemari, duduk sambil menggoyang-goyangkan telinga dan ekornya. Ketika di gendong, dia suka menjilati pipi Naruto.

Naruto mengambil sekotak susu dan menuangkannya ke mangkuk, lalu memberikannya ke anjing kecil. "Kau lapar, ya." Naruto mengelus-elus kepala si anjing.

"Itachi-san, kau mau kemana?" tanya Naruto begitu melihat Itachi yang hendak membuka pintu.

"Ke kamar Kyuubi."

"Aku ikut! Aku ingin menunjukkan anjing ini pada Sasuke dan Kyuu!" seru Naruto sambil menggendong anjing itu yang sudah menghabiskan susu dalam sekejap dan memasukkannya ke dalam kaos yang dipakainya.

Itachi mengangguk.

Suasana di dalam kamar Kurama dan Sasuke masih suram. Kurama dan Sasuke pun masih berada pada posisi yang sama saat Itachi meninggalkan kamar, kecuali Kurama yang sudah memakai pakaiannya. Mereka berdua menoleh bersamaan ke arah pintu saat Itachi dan Naruto masuk.

"Suke! Lihat apa yang kutemukan!" kata Naruto ceria.

"Hn?"

"Ini rahasia ya…." Sambil berkata ta-da Naruto mengeluarkan anjing kecil dari balik kaosnya. "Dia manis bukan?"

Sasuke mengerutkan dahi melihat anjing kecil yang dibawa secara sembunyi-sembunyi oleh Naruto itu. Dan tiba-tiba dia membentak, "APA YANG KAU LAKUKAN, DOBE?"

"Eh?"

"Apa kau tidak tahu kalau anjing itu tidak diperbolehkan masuk ke asrama?!" tanya Sasuke masih dengan nada tinggi.

"Kau kenapa, sih, Teme! Tentu saja aku tahu peraturan itu!"

Sasuke memijit pelipisnya, "Lalu kenapa kau masih membawanya masuk?" Sasuke merendahkan suaranya. Dia merasa agak pusing dengan yang baru diceritakan Kurama sehingga marah-marah.

"Apa kau nggak merasa kasihan melihatnya terlantar di jalan?!" kali ini giliran Naruto yang meninggikan suaranya. Dia tidak terima dibentak begitu saja oleh Sasuke dengan tiba-tiba.

"Itu kan hanya seekor anjing."

"Kau benar-benar dingin, Sasuke!" bentak Naruto.

"Haish! Hentikan ocehan kalian!" Kurama menatap tajam ke arah Naruto dan Sasuke bergantian.

"Ada apa, sih, dengan kalian? Memarahiku tiba-tiba…." Suara Naruto agak bergetar. Dia memasukkan anjing kecil itu kembali ke dalam kaosnya dan pergi keluar dari kamar Kurama dengan agak membanting pintu. Kenapa mereka harus membentaknya dan menatapnya tajam?

"Naruto!" Sasuke mengejarnya.

Kuro_Chii

"Kakakku bersedia untuk merawatnya," Kiba mengelus kepala anak anjing itu.

Menanyai Kiba memang bukan ide yang buruk mengingat dia, ehm, keluarga Inuzuka adalah keluarga pecinta anjing, nama keluarganya saja sudah ada "inu" yang berarti "anjing". Kakak perempuannya bahkan adalah seorang dokter hewan muda yang bekerja di klinik kampus. Lihat, dia sebaik ini, kenapa Sasuke selalu mewanti-wantinya untuk tidak dekat-dekat dengan Kiba?

"Tenang saja, Naru, aku dan kakakku akan merawatnya dengan baik," kata Kiba lagi karena melihat Naruto yang terlihat sedih.

"Ya, terima kasih, Kiba." Naruto memaksakan senyumnya. Safirnya meredup. Sebenarnya bukan anjing kecil ini yang membuatnya sedih, tapi Sasuke yang tiba-tiba memarahinya itulah, yang membuatnya tidak bisa benar-benar tersenyum. Dia pergi menemui Kiba setelah bertengkar kecil dengan Sasuke dan meminta Kiba untuk merawat anjing kecilnya.

"Jadi, siapa namanya?" tanya Kiba.

"Eh?"

"Anjing ini mau kau namai siapa, baka?" tanya Kiba sekali lagi.

"Oh! Aku belum memikirkan namanya. Kau mau memberinya nama? Aku kira ramen adalah nama yang bagus."

"Sudah kuduga kau akan memberinya nama yang aneh." Kiba menggelengkan kepalanya.

"Kau menghina ramen, hah?"

" Aku saja yang memberinya nama. Bagaimana kalau Akamaru?"

"Cih! Akamaru juga nama yang aneh. Anjing ini, kan, warnanya putih bukannya merah."

"Cerewet! Akamaru lebih bagus dari Ramen, baaka!"

"Jangan memanggilku baka, Kibaka!"

"Kau!"

"Hahahaha."

"Akhirnya kau tertawa juga, Narubaka!" kata Kiba tersenyum sambil mengelus kepala Naruto, lalu ikut tertawa.

"Wouf! Wouf!"

Kuro_Chii

"Naruto, sampai kapan kau mau diam saja?" Sasuke menyamai langkahnya dengan langkah Naruto yang terburu-buru. Itachi tidak mengawal Naruto untuk hari ini. Dia sudah berkata pada Sasuke bahwa hanya hari ini saja dia memberikan mereka berdua waktu untuk menyelesaikan masalah mereka. Lagipula setelah berunding bertiga, Itachi, Sasuke dan Kurama, mereka memutuskan bahwa Itachi akan tetap mengawasi Naruto. Meski mengawasi, tetapi bukan benar-benar mengikuti Naruto kemana pun seperti sebelumnya. Mungkin hanya sesekali mengikuti atau diam-diam membuntuti Naruto. Hanya untuk jaga-jaga, karena Kurama sudah setuju Naruto sepenuhnya dipercayakan kepada Sasuke.

Naruto tetap diam, dia lebih memilih untuk mempercepat langkahnya. Sebenarnya, dia juga sudah tidak kuat terus mendiamkan Sasuke seperti ini, tapi dia ingin menunjukkan pada Sasuke kalau dia juga bisa merasa kesal kalau Sasuke membentaknya seperti kemarin. Mungkin beberapa orang akan mengatakan sikap Naruto seperti perempuan, tapi tidak. Ini bukan sikap perempuan saja. Ini manusiawi. Sangat manusiawi bila seseorang merasa sedih dan kesal bila dibentak oleh kekasihnya karena hal sepele semacam itu.

GREP! Sasuke menarik tangan Naruto cukup bertenaga. "Dengarkan aku, Naruto. Aku hanya tidak ingin kau terlibat masalah yang berhubungan dengan asrama." Sasuke tahu benar kalau melanggar peraturan asrama berarti harus siap menerima konsekuensinya. Mulai dari membersihkan toilet asrama selama seminggu penuh sampai dikeluarkan dari asrama.

Naruto tetap diam. Benar, dia tahu kalau Sasuke mengkhawatirkannya, tapi baginya ini keterlaluan. Sasuke memang terkadang suka berlebihan seperti ini. Tidak boleh terlalu dekat dengan orang lain, tidak boleh kemana pun tanpa memberi tahu Sasuke, bahkan tidak boleh memungut anjing kecil yang ditelantarkan pemiliknya? Dia benar-benar terlalu berlebihan.

Merasa kalau Naruto sedang merenungkan pembelaannya barusan, Sasuke pun melepaskan tangan Naruto. Naruto menatap dalam-dalam wajah Sasuke. "Hn," dan dia pun berjalan meninggalkan Sasuke.

Sasuke nyaris mengacak rambutnya frustasi kalau saja dia tidak ingat bahwa dia sudah berada di lingkugan kampus Naruto. Apa-apaan pemuda pirang itu? Seenaknya saja dia meniru gaya Sasuke. Sasuke melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul delapan. Sepertinya dia harus menunda sebentar acara berbaikannya dengan Naruto karena kelasnya akan dimulai sebentar lagi. Tenang, kau masih punya waktu sampai tengah malam untuk berbaikan, Sas.

Naruto berjalan cepat menuju kelas pertamanya hari ini. Dia bukannya terlambat, dia hanya tidak mau kalau Sasuke mengejarnya—itu pun kalau Sasuke mengejarmu, Naru. Dia mengutuk kebodohannya barusan. Harusnya dia tidak bertindak seperti itu. Harusnya dia berterima kasih atas perhatian Sasuke, atau setidaknya menganggukkan kepalanya seperti anak baik. Naruto menghela napasnya, "Bagaimana kalau setelah ini dia jadi kesal padaku?"

"Yo, Naruto!" terdengar suara seseorang memanggilnya dari arah belakang.

"Kiba." Naruto membalikkan badannya lalu berjinjit karena agak susah melihat Kiba yang tertutup oleh sekumpulan mahasiswi yang duduk di bangku taman di depan Kiba. Dia memilih untuk berdiri menunggu Kiba yang berjalan ke arahnya. Naruto memperhatikan pakaian yang dipakai Kiba hari ini. Tidak ada yang aneh dengan model atau warnanya, hanya saja.., terasa aneh bagi Naruto. Semakin dekat, semakin Naruto tahu letak keanehan pada pakaian Kiba. Bagian perutnya membesar. "Astaga, Kiba! Kau hamil?!"

"Baka!" Kiba memukul kepala Naruto keras. "Lihatlah!" Kiba membuka ritsleting jaketnya dan tiba-tiba kepala Akamaru menyembul keluar.

"HUA!" Naruto refleks berteriak karena kaget. "Kenapa kau bawa dia ke kampus, Kiba?! Bukankah kau bilang, dia bisa tinggal dengan kakakmu?"

"Semalam aku menelepon kakakku, tapi ternyata dia sedang ke luar kota. Aku bisa terkena masalah kalau sampai penjaga asrama menemukan Akamaru saat berkeliling."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan Akamaru?" Naruto menatap iba pada Akamaru. Dia pikir, semua masalah menyangkut Akamaru sudah selesai kemarin, tapi nyatanya belum. Ditambah lagi, kali ini dia tidak akan bisa membawa Akamaru ke asrama karena takut Sasuke akan membentaknya lagi. Sekarang, Naruto benar-benar menyesal sudah bersikap menyebalkan di depan Sasuke tadi. Sasuke pasti sekarang sangat kesal padanya.

"Kakakku pulang Sabtu besok, kita hanya perlu menyembunyikan Akamaru sampai besok Sabtu saja."

"Begitukah? Itu berarti hanya tiga malam bukan?"

"Benar. Tapi masalahnya, tadi pagi aku sempat mendengar kalau dua hari berturut-turut akan diadakan inspeksi pemeriksaan kamar asrama."

"Kau nguping?" Naruto tersenyum mencemooh.

"Bukan! Aku tidak sengaja mendengarnya saat melewati ruangan khusus penjaga asrama."

"Jadi..?" Naruto memandang iba pada Akamaru.

Saat mereka sedang memikirkan alternatif tempat tinggal sementara untuk Akamaru, terdengar kalau obrolan beberapa mahasiswi yang duduk di bangku taman tak jauh dari tempat mereka berdiri menjadi lebih seru. "Apa sih, yang mereka bicarakan? Aktor?" tanya Naruto malas.

"Bukan, saat aku melewati mereka, aku mendengar sedikit obrolan mereka tentang beberapa barang di laboratorium yang menghilang."

"Kau senang menguping, ya?" Naruto menatap malas Kiba.

"Aku tidak sengaja mendengarnya, Baka! Aku bukan tukang nguping!"

"Jadi, kenapa barang-barang itu menghilang? Apa mungkin ada mahasiswa yang membawa barang-barang itu pulang? Untuk apa?"

"Bukan. Kudengar sebelum laboratorium ditutup, para asisten praktikum selalu mengecek jumlahnya."

"Berarti pelakunya asisten praktikum, 'kan?" jawab Naruto enteng.

"Tidak mungkin. Soalnya dosen yang bertanggung awab atas laboratorium ikut mengecek."

"Berarti ada pencuri."

"Benar. Tapi masalahnya, untuk apa dia mencuri tabung reaksi, pipet, dan barang-barang tidak penting lainnya? Yah, kecuali kalau dia adalah professor gila yang mau ngelakuin penelitian secara rahasia?"

"Kau ngigo, ya, BakaKiba?" Naruto mendengus kemudian dia terdiam sebentar. "Aku ada ide, Kiba! Bukankah anjing itu biasanya ditakuti pencuri? Kita bisa titipkan Akamaru di sini selama tiga malam, dan selama tiga malam itu, Akamaru akan berjaga di depan laboratorium."

"Kau memang benar. Tapi, kita tidak bisa memutuskan seenaknya. Kita harus minta izin, Naruto."

"Aku tahu siapa yang bisa kita mintai tolong." Naruto berkata seperti itu sambil mengajak Kiba berjalan menemui seseorang 'yang bisa dimintai tolong'.

.

.

.

"Hm?"

Alis Gaara yang tidak ada itu terangkat secara transparan. "Kau ingin menitipkan anak anjing ini di laboratorium?"

"Hu-um. Aku dengar ada banyak kasus pencurian. Jadi, kupikir akan aman kalau kita menaruh anjing penjaga di laboratorium." Kata Naruto dengan nada meyakinkan seperti seorang salesman yang sedang beraksi.

"Tapi, Naru…. Ini hanya anjing kecil." Gaara memandang Akamaru yang sedang digendong Naruto. Gaara menatap dengan tatapan menyelidik yang menurut Naruto agak menyeramkan. Mungkin Gaara sedang mempertimbangkan usulannya. Setelah menatap Akamaru, Gaara kali ini balik menatap Kiba. Kemudian Gaara beralih menatap laporan yang sedang dinilainya.

"Lagipula, bukannya kalian ada kuliah pagi? Kenapa masih di sini?" tanya Gaara dengan nada datarnya yang kalem seperti biasa.

"Oh, ayolah, Gaara…. Apa kau nggak kasihan dengan anjing malang ini?"

"Hanya tiga hari saja?" Kiba ikut membujuk.

"Kumohon Gaara…." Naruto mengedip-ngedipkan matanya dan berusaha berwajah sesedih mungkin.

Gaara menggeleng.

Naruto pura-pura terisak, "Akamaru yang malang…."

"Kau bahkan sudah memberinya nama?" Ini bakal jadi lebih dari tiga hari, pikir Gaara.

"Gaara…." Naruto dan Kiba masih berusaha membujuk.

"Maaf, Naru."

"ARGH!" Naruto yang tiba-tiba berteriak itu membuat Gaara, Kiba bahkan Akamaru terkejut.

"AKU AKAN BOLOS KALAU KAU NGGAK MENERIMA AKAMARU DI SINI!"

"Eh?"

"K-Kau nggak boleh begitu, Naru!" kata Gaara dan Kiba berbarengan.

"Kiba! Sebenarnya kau dipihak siapa sih?"

"Ah…. Baiklah, baiklah. Kau bisa memeliharanya di laboratorium." Desah Gaara akhirnya.

"YAAYYY!"

"WOUF!" seolah-olah mengerti, Akamaru ikut bersorak.

"Tapi ingat! Hanya tiga hari." Kata Gaara sambil menunjukkan ketiga jarinya di muka Naruto dan Kiba.

"Hai, hai!"

Kuro_Chii

Dua hari sudah lewat sejak Naruto mendiamkan Sasuke. Bahkan Naruto sama sekali tidak menoleh ke Sasuke yang terus berusaha mendekatinya dan meminta maaf. Padahal Uchiha bungsu itu sudah bersusah payah membuang harga dirinya untuk meminta maaf, meski memang itu salahnya. Seluruh perhatian Naruto kali ini hanya kepada si anjing kecil sialan itu. Mengingat hal itu Sasuke jadi kesal dan meremat ponselnya hingga retak. Dia memandangi ponselnya yang layarnya sudah retak, kemudian dia mendesah. Sepertinya dia harus membeli ponsel yang baru.

Dua hari terakhir ini, Sasuke tidak bisa mengikuti Naruto. Kalau dia mendekat, maka pemuda pirang itu akan menjauh dan semakin mengabaikannya. Tidak mau semakin buruk, Sasuke hanya mengawasi Naruto dari jauh dan diam-diam.

Dia kesal karena harus menahan diri saat melihat kekasih pirangnya itu dekat-dekat dengan Gaara, pemuda yang katanya 'childhood friend' dari kekasihnya, atau saat Naruto dirangkul oleh Kiba. Dan anjing itu! Seenaknya saja dia memeluk Naruto dan menjilatinya dengan lidahnya yang kotor itu! Sedangkan Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa. Anjing itu yang jadi penyebab ini semua dan kenapa hanya Sasuke yang harus merasakan sialnya? Memangnya anjing itu bisa berbuat apa kalau Naruto dalam bahaya? Atau Kiba yang akan menolongnya? Atau si rambut merah yang bahkan asal-usulnya saja tidak Sasuke ketahui itu? Tidak ada yang punya kekuatan besar selain Uchiha. Sasuke punya uang, kekuasaan, dan penjagaan yang bisa diandalkan!

"Hah!" Sasuke mendesah keras. Naruto pasti akan membencinya kalau tahu pemikiran Sasuke ini.

Tapi apa peduli Sasuke? Itu sudah resiko Naruto yang mencintainya. Mencintainya? Benarkah?

"Lagi-lagi kau kelihatan banyak masalah, ya, Sasuke." Neji yang baru masuk ke kelas, mengambil tempat duduk di sebelah Sasuke.

Sasuke mengabaikan.

"Kalau ada penghalang, kau tinggal menyingkirkannya saja, kan?" saran Neji.

"Cih!" Sasuke mendecih lalu pergi meninggalkan kelas.

"K-Kau mau kemana, Uchiha-san?" tegur dosen Sasuke yang baru akan masuk kelas.

"Saya tidak enak badan, Sensei." Kata Sasuke lalu permisi untuk keluar kelas. Ini kelas sore, kelas terakhir hari ini dan Sasuke sudah tidak ada mood untuk ikut pelajaran.

Sasuke melihat jam tangannya. Dia memutuskan untuk pergi ke gedung Kedokteran Hewan sebelum dia kembali ke asrama. Berharap dia bisa menemani Naruto pulang. Yah, kalau saja pemuda pirang itu masih di kampusnya.

Sasuke terus berjalan dan dia sudah sampai di gedung yang ditujunya. Dia berjalan melewati laboratorium yang akhir-akhir ini selalu dikunjungi Naruto, lalu berhenti sejenak di depan ruangan serba putih itu. Sasuke tampak berpikir. Wajahnya berubah gelap kalau mengingat bagaimana Naruto bersenang-senang dengan anjing kecil itu dan mengabaikannya.

.

.

.

Kiba berlari di koridor menuju laboratorium disusul oleh Naruto. "Kau mencuri start, Kiba!" seru Naruto yang kesal karena Kiba berlari lebih dulu menuju laboratorium.

"Ha! Yang terpenting adalah yang kalah harus mentraktir makan siang pemenangnya, Naruto! Kau pikir aku akan rela kalau uang mingguanku habis hanya untuk mentraktirmu makan ramen? You wish!"

Naruto menyumpahi Kiba dalam hati. Padahal tadi dia sendiri yang membuat ketentuan seperti itu, tapi ternyata Kiba sendiri jugalah yang tidak mau kalau sampai uangnya keluar untuk mentraktir makan Naruto. Salahkan saja perut karet Naruto untuk hal itu. Naruto menambah kecepatan larinya demi ramen gratis yang akan mengisi perutnya nanti.

"Kau!" Kiba sangat terkejut saat Naruto bisa melewatinya. "Aku tidak akan kalah darimu, Naruto!" Kiba menambah kecepatannya.

BRAK! Naruto membuka pintu laboratorium dengan menendangnya. "Kau lihat Kiba? Akulah pemenang..," Naruto tidak menyelesaikan ucapannya saat melihat sesuatu yang akan menarik perhatian siapa pun yang membuka pintu laboratorium itu.

Kiba yang melihat Naruto tiba-tiba berhenti langsung saja melewatinya dan menerobos masuk ke dalam laboratorium.

"Aku yang menang, Naruto! Kau harus mentraktirku, salah siapa kau melamun begitu! Hahaha…." Suara tawa Kiba langsung menghilang begitu matanya melihat sesuatu yang membuat Naruto tiba-tiba berhenti.

Detik itu juga, Kiba memuntahkan semua makan siangnya dari perutnya. "Huekkkk! Uhuk… uhuk..,"

Naruto terduduk lemas di depan pintu laboratorium, lututnya serasa digerogoti dan membuatnya tidak bisa berdiri. Di hadapannya, agak jauh darinya dan Kiba, tergeletak seonggok daging merah bersimbah darah. Dari tengahnya, yang Naruto kira bagian perut, keluar usus yang terurai. Seperti habis dikoyak. Di sekitar seonggok daging itu tersebar rambut yang berwarna merah dan putih. Di lantai, tepatnya di hadapan bangkai itu tertulis kalimat poor dog.

Pikiran buruk menyerang Naruto. "Tidak, tidak mungkin…." Naruto berusaha berdiri dan mendekati bangkai itu. Bau karat dan bau kotoran yang keluar dari usus menyengat hidungnya. Tanpa mempedulikan bau tidak sedap itu, Naruto tetap mendekati bangkai yang sepertinya dikenalnya.

"A-Akamaru…." Airmata mengalir ke pipi Naruto tanpa sadar, suaranya bergetar saat dia memanggil nama anjing kesayangannya itu. "Huekkk…." Naruto menutup mulutnya, berusaha menahan muntah. Tapi cairan asam itu tetap memaksa keluar dari mulutnya.

Anjing kesayangannya itu, anjing malang yang periang itu, yang selalu menyambutnya dengan gonggongan semangat, kali ini hanya diam. Tidak, bahkan mungkin dia sudah tidak bisa lagi menggonggong atau pun melolong. Berlari menghampirinya pun Naruto yakin sudah tidak akan bisa lagi.

"AAAAAAA!" Naruto meremat kepalanya dan dia terjatuh lagi, terjatuh diatas genangan darah. Siapa yang tega melakukan ini pada anjingnya? Siapa yang tega membunuh makhluk yang tidak berdosa? Mengulitinya seperti ini? Sampai mengeluarkan isi perutnya? Siapa yang dengan tega melakukan ini?

Tidak! Itu pasti bukan Akamaru!

"Akamaru! Akamaru!" Naruto melihat ke sekeliling dan memanggil-manggil Akamaru, mencoba menemukan anjingnya.

Naruto terkejut melihat Sasuke yang sejak tadi sudah berdiri di dekatnya, di samping lemari dekat bangkai. Sasuke sudah di sini lebih dulu sebelum Naruto dan Kiba datang, Naruto tidak menyadarinya karena terlalu shock melihat onggokan daging dan usus itu. Sasuke menatap bangkai itu dengan pandangan kosong, tangan dan kemeja putihnya berlumuran darah. Lalu Sasuke menatap Naruto.

"Sa… Sasuke, apa yang kau… lakukan di sini?"

" Anjing itu…. Aku…."

.

.

.

TBC


Himawari Wia

Chi: Semoga saja … ._. Semoga, ya, Kuro~

Kuro: Iya, semoga aja bukan Sasu yang ngapa-ngapain Naru~ Hahaha. Abisnya Naru bakal lebih tidak 'aman' dengan Sasu *dalam tanda kutip*


Azurradeva

Chi: Dilanjut kok, tapi ngga ditulis. Takut kena sensor hahaha

Kuro: *timpuk Sasuke pake tomat* Gara-gara Sasuke-teme jadi berhenti deh Itachi n Kyuubi.

Sasuke: *nangkep tomatnya n dimakan* Aku cuma baca skrip-nya kok.


CCloveRuki

Chi: Ngaku gaaa? *ikut-ikut* *digetok Kuro*

Kuro: Bisa jadi, sih~ hehe. Ada, kan, orang yang bisa sampe berlebihan kalo mencintai orang lain. *serem, ah*


Randyhartawan

Chi: Coba minta diajarin Kuro-sensei~ Dulu dia yang ngenalin Chii ke dunia FF ini. :D terima kasih *kabur*

Kuro: Akh- saya bukan sensei tapi masih kouhai-desuuuu! Wahaha saya nggak mau ngajarin hal nista, ah *bercanda* Kan, nggak lucu kalo jadi guru mata pelajaran khusus Yaoi XD Wah, saya lupa mampir... Maaffff *langsung mampir sambil nyeret Chi*


Yamaguchi Akane

Chi: Hmm..Hmm.. .Pacarnya Kyuubi emang harus mau disuruh-suruh sama rubah bossy itu kan?Hahahaha :D Kalo memang dia orangnya, berarti dia orangnya ngga pro, dong.. ngga kayak Chii :D Image-mu hancur noh, Kyuu~ Ganbarimasu!

Kuro: N somehow stalker itu jga rada *dibungkem*

Oke, soal stalker ini kita bahas nanti yah~

Sasuke kayaknya belum bisa ngalahin 'harga diri' Uchiha-nya deh hehe


Kiria-Akai11

Chi: Gore-nya belum terasa, ya? Tapi nanti diusahakan ada dan terasa kok, mohon doanya~ terima kasih, ganbarimasu~~

Kuro: Iya, mau pake misteri dulu *sok misterius*


Chi: Terlambat update xDD Yang mesum, si Kuro~ Chii hanya memberi peluang dan mendukung, intinya Chii juga mesum xD Ini udah ada darahnya~ satu tewas, yang lain menyusul. Huahahaha

Kuro: S-Saya nggak mesum kok~

Saya suka ItaKyuu mesum2an~! Akh- keceplosan!

Yah, berdoa aja supaya bukan authornya yang jadi korban stalker *ngelirik Chi*


ethideidaraun

Chi: Silakan dilanjutkan dengan imajinasi Anda hahaha

Kuro: Jangan~ Nanti jadi piktor XD


Hatakehanahungry

Kuro: Yeyyy~~ Banyak yang suka adegan mesum~~ Ayo bermesum-mesum ria *sesat*


Axa Alisson

Chi: sudah dilanjut~ senpai~~ tolongin saya yak~~


.

Chi: lanjutannya ya..., *tahan nosebleed* Ini sudah lanjut~

Kuro: Iya! Sasuke kurang ajaaarrr! Harusnya Kuro aja yang masuk pas ItaKyuu lagi gituan *mencak2*


Well, makasih buat kalian semua yang sudah bersedia read n review atau pun yang sekedar read saja~

Makasih juga buat yang nge-fave n follow~

Kami ucapkan MAKASIH BANYAKKKKKK ATAS DUKUNGAN KALIAN, LUPH U ALL 3 *kiss bye*