Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Luhan baru saja selesai mengantar Sehun beristirahat di kamarnya dan setelah melewati perdebatan pelik mengenai dimana dia harus tidur malam ini, akhirnya Sehun mengijinkan Luhan untuk pergi kekamar miliknya sendiri dengan syarat saat dia membuka matanya esok pagi Luhan sudah berada disampingnya. Luhan pun mau tak mau menyetujui syarat dari Sehun agar dirinya bisa istirahat dikamarnya sendiri tanpa harus mengganggu Sehun beristirahat.

Di perjalanan menuju Gedung B dimana kamarnya berada, Luhan tersenyum senang menyadari kalau Sehun dan dirinya memang tidak bisa saling membenci mau bagaimanapun juga. Dia juga sangat gemas melihat wajah kesal Sehun saat harus berdesakan di bis namun tetap memaksa menautkan jemari mereka karena takut seseorang akan mengganggu dirinya.

"Aku akan mimpi indah malam ini." gumam Luhan dan membuka pintu utama gedung B

"Darimana saja kau?"

Suara yang sangat tidak ingin Luhan dengar beberapa tahun ini memanggilnya. Dia pun menoleh melihat wanita yang terpaksa ia panggil dengan sebutan ibu sepertinya memang sedang menunggu kedatangannya.

"Aku bekerja tentu saja." katanya mengingatkan wanita didepannya ini.

"Jika tidak ada hal lain aku ingin beristirahat." Luhan sudah kembali berjalan namun wanita didepannya ini terus menghalanginya.

"Aku punya pekerjaan untukmu." katanya mencengkram erat lengan Luhan

"Aku sudah tidak mau melakukan pekerjaan kotormu lagi. Kalau kau ingin memberitahu Yunho dan Sehun lakukanlah. Aku sudah lelah hidup di tekan olehmu." ujarnya menatap tajam wanita didepannya ini.

"Jadi lepaskan tanganku nyonya!" Luhan menghempas kasar tangannya dan kembali berjalan melewati wanita yang sudah menyuruhnya beberapa kali melakukan pekerjaan kotor seperti menjual obat-obatan terlarang

"Kau mulai egois sepertinya. Kau hanya memikirkan dirimu tanpa memikirkan ibumu yang sedang sekarat dan membutuhkan banyak uang untuk melakukan transpalasi hati. Dasar anak tidak tahu diri."

Luhan kembali menghentikan langkahnya dan mengepalkan tangannya erat menahan rasa marahnya yang begitu besar terhadap adik ibunya ini.

"Kau tahu anak sialan? Jika kau melakukan pekerjaan ini, kau akan mendapatkan uang banyak. Kau bisa langsung memindahkan ibumu yang penyakitan itu ke Seoul Hospital dengan segera."

"Darimana kau tahu semua itu?" Luhan bertanya berusaha tenang namun gagal

"Kau itu seperti kartu AS untukku. Kau akan melakukan apa saja untukku selama aku memegang kartumu. Kau mungkin bisa mengatakan tidak memperdulikan dirimu sendiri, tapi aku berani bertaruh kau tidak akan pernah bisa melihat dua bersaudara itu menyakiti ibumu kan Luhannie?" katanya tertawa menjijika terdengar di telinga Luhan.

Luhan semakin mengepalkan tangannya erat dan terpaksa menatap ke arah wanita menjijikan didepannya ini "Aku harus melakukan apa?" katanya bertanya menahan getaran marah yang hampir sudah tak bisa ia tahan.

"Anak pintar…." Minah mencibir Luhan yang memang tak bisa berkutik jika sudah menyangkut ibu kandungnya.

"Besok malam aku ingin kau mengantar barang dengan seseorang yang aku kenal. Mereka terlalu menarik perhatian dan membutuhkan seseorang dengan wajah terlalu bodoh. Aku rasa kau cocok untuk peran itu."

"Barang apa?" katanya tak mempedulikan peran apa yang harus dimainkan.

"Hanya obat-obatan seperti biasa anakku. Bekerjalah dengan baik, kau akan langsung dibayar dengan jumlah besar jika berhasil. Apa aku masih terlihat sangat jahat di matamu."

"Ya" Luhan menjawab dengat tegas membuat wajah Song Minah, wanita yang harusnya ia panggil bibi itu tampak memerah karena marah.

"Kau akan berterimakasih padaku nantinya. Aku sarankan kau jangan sampai gagal. Jika gagal, kau akan menanggung akibatnya. Dah Luhan. Selamat malam"

Dan wanita kejam itu pun meninggalkan Luhan yang sudah sama sekali tak mengantuk, Luhan terlalu marah hanya untuk sekedar beristirahat. Dia lelah diperlakukan seperti binatang oleh ibu angkatnya. Keinginannya hanya menyembuhkan ibunya kemudian mengakui semua kebenaran tentang orang tuanya pada Yunho dan Sehun. Berharap ada sedikit rasa iba dari kedua bersaudara yang sudah menganggapnya seperti keluarga.

..

..

..

Dan disinilah Luhan, di malam yang dingin dirinya harus berada di tempat gelap dan harus kembali berbohong pada Sehun dengan mengatakan dirinya ingin tidur lebih awal, dia sedikit menghela nafas lega karena Sehun sama sekali tak mencurigai alasannya dan mengijinkannya untuk istirahat lebih awal.

"Apa kau Luhan?"

Luhan menoleh karena seseorang memanggilnya dan melihat seseorang bertampang sangat menjijikan mendekatinya.

"Ya…dan kau?" Luhan bertanya pada pria yang sepertinya memiliki umur tak jauh darinya

"Aku? Ah-…kau tak perlu tahu namaku." Katanya tertawa memberitahu Luhan.

"Ya kau benar! Aku juga tidak peduli. Cepat katakan apa yang harus aku lakukan?" katanya bertanya mulai tak sabar.

"Cih…kau benar-benar keras kepala sama seperti kata ibumu."

"Dia bukan ibuku." Balas Luhan mendesis.

"Terserah saja. Apa kau sudah siap?"

"Lebih dari siap. Aku sudah muak sebenarnya." Katanya tertawa memberitahu pria didepannya.

Pria tersebut tampak kesal karena menurutnya Luhan sangat menyebalkan dan tak bisa bekerja sama "Baiklah kita mulai." Katanya merangkul Luhan namun Luhan mengehempasnya.

"Paketnya ada di dekat tempat sampah itu. Polisi sudah tahu keberadaannya dan hanya menunggu kita datang lalu mereka akan menangkap kita dengan mudah."

"Apa tugasku?"

"Mudah saja, kau hanya perlu berjalan ke tempat sampah itu dan mengambil paket yang dibungkus dengan kotak sepatu. Setelah itu kembali kesini dan aku akan membayarmu." Katanya memberitahu Luhan yang merasa tugasnya sama sekali tak sulit.

"Kalau kau pikir ini mudah kau salah." Pria itu seakan membaca pikiran Luhan membuat Luhan mengernyit bingung.

"Sudah ada tiga polisi menyamar disini. Satu yang berbaju merah dan dua lainnya menunggu di mobil yang terparkir di taman."

"Kau gila." Katanya mendesis menyadari apa yang sebentar lagi akan ia lakukan.

"Welcome to the new world." Katanya sedikit mendorong Luhan ke tempat umum agar bisa langsung mengambil paket yang diinginkannya.

Luhan menjadi sangat gugup sekarang. Namun dia tidak mau menarik perhatian, dan dengan seluruh keberanian yang dia miliki, Luhan perlahan berjalan menuju tempat sampah yang sudah menjadi incaran polisi, dia mengangkat topi jaketnya dan berjalan berusaha santai menuju tempat sampah.

Luhan sedikit mempercepat langkahnya saat melihat rombongan wisata yang sedang beristirahat dekat dengan tempatnya akan mengambil paket dan tanpa kesulitan

Sret…!

Luhan berhasil mengambil paketnya setelah sebelumnya menukar isinya dengan tepung yang ia bawa. Setelah paketnya berada di jaketnya dia menoleh kekanan dan kekiri mengecek polisi yang sedang berjaga, merasa cukup aman dia pun kembali berjalan menuju tempat semula.

Luhan sedikit mempercepat langkahnya sampai

"Hey.." seseorang memegang pundaknya, menghentikan langkahnya membuat dia seketika tegang.

"Ya ada apa?"

Luhan membalikan tubuhnya menjawab berusaha setenang mungkin dan tak terlihat panik. Menyadari seorang wanita yang dia kenali sebagai polisi menyamar sedang bertanya padanya.

"Kenapa kau terburu-buru?" katanya melihat Luhan dari atas sampai bawah.

"Aku harus menemui ibuku."

"Ibumu?" si polisi mengulangi ucapan Luhan.

"Ya nyonya. Ada apa kau memanggilku?" Luhan berbalik bertanya membuat si polisi merasa ragu karena wajah sepolos Luhan bukanlah seseorang yang harus di curigai.

"Aku melihatmu berjalan dari arah sana. Apa aku boleh memeriksamu?"

"Memang ada apa ?" tanya Luhan yang jantungnya sudah berdebar sangat tak beraturan.

"Hanya memastikan."

Luhan pun mengangguk dan memperbolehkan si polisi memeriksanya. Dan setelah mendapat persetujuan dari Luhan, polisi wanita itu pun menggeledah Luhan dan tak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Luhan.

"Baiklah kau bersih. Maaf mengganggu waktumu."

"Tidak apa nyonya. Saya permisi." Luhan membungkuk dan terlihat kembali terburu-buru meninggalkan tempat berbahaya itu.

Brak…!

Kini Luhan sudah berada di sebuah bar tempat dimana dia dan pria suruhan ibunya membuat janji, dia langsung melempar paket yang diinginkan ke atas meja selagi pria tersebut mencumbu seorang wanita.

"Ini barangmu. Mana uangku?"

Pria itu pun menatap tak percaya pada Luhan yang dengan mudahnya mendapatkan barang yang dijaga ketat oleh polisi.

"Astaga…untuk amatir sepertimu kau bekerja terlalu sempurna Luhan. Bagaimana caramu melakukannya?"

"Apa itu penting sekarang?" katanya sarkatis kehabisan kesabaran.

"Ckkck…kau benar-benar mengagumkan. " pria itu pun mulai mengeluarkan beberapa ratus won menghitungnya didepan Luhan.

"Ini bayaranmu! Pergilah bersenang-senang. Aku ingin kau bekerja lagi untukku."

Luhan mengambil uangnya di meja dan menghitungnya, dia kemudian tersenyum puas dan menatap meremehkan pada pria didepannya "Dalam mimpimu saja." Desisnya meninggalkan bar untuk segera kembali kerumah.

"ckck….kita akan segera bertemu lagi anak muda." Gumamnya menyeringai melihat kepergian Luhan yang begitu keras dan sangat tak bisa bekerja sama.

..

..

..

Keesokan paginya Luhan sudah harus kembali menyiapkan sarapan untuk kedua bersaudara Oh yang mana si bungsu akan mencarinya jika dirinya tak menampakan wajahnya di kediaman mereka pada pagi hari. Luhan sendiri baru tidur pukul empat pagi dan sudah harus kembali membuka matanya pada pukul enam pagi, membuat seluruh badannya melemas dan dirinya tak fokus melakukan banyak hal.

"Hey selamat pagi." Seseorang melingkarkan tangannya di pinggang Luhan dan meletakkan dagunya di bahu Luhan, sesekali menciumi leher Luhan sebagai ucapan selamat paginya.

"T-tuan muda. Anda tidak perlu seperti ini."

Luhan semakin melemas karena kali ini bukan hanya rasa lelahnya yang membuat lemas tapi karena perlakuan Sehun padanya.

"Apa tidurmu nyenyak. Coba aku lihat."

Sehun memutar tubuh Luhan dan mengernyit menyadari mata Luhan yang terlihat sangat kelelahan.

"Kenapa ada kantung mata di matamu? Kau tidak tidur?" katanya memprotes Luhan.

Luhan menggeleng dengan cepat, mencegah kemarahan Sehun di pagi hari "Aku tidur dengan baik semalam. Sungguh." Katanya memberitahu Sehun yang masih menatapnya curiga.

"Kau tidak bohong kan?"

"Tidak-..tidak tentu saja." Luhan sedikit berteriak agar Sehun percaya padanya.

"Ummhh…. baiklah…. Aku percaya." Gumamnya mencium lama bibir Luhan dan bersiap di meja makannya.

Luhan menghela nafasnya lega dan kembali menyiapkan sarapan untuk Sehun dan Yunho.

"Luhan apa kau siap hari ini?"

Yunho yang baru saja menuruni tangga bertanya pada Luhan yang tampak bingung.

"Bersiap kemana?" seperti biasa, Sehun yang menjawab jika itu menyangkut Luhan.

"Ikut ke kantorku tentu saja. Aku ingin kau menghadiri rapat penting mengenai kerjasama kita dengan perusahaan China dan menerjemahkan klient dari Cina langsung untukku. Kau tidak lupa kan?" katanya kembali menatap Luhan yang tampak salah tingkah.

"Ah itu…" Luhan mengelap tangannya di apron yang ia gunakan dan segera menatap Yunho.

"Saya akan segera bersiap direktur." Katanya berpamitan dan berlari kekamarnya untuk mengganti kemeja dan jas menghadiri rapat penting di kantor Yunho.

"Kau membuatnya kebingungan." Cibir Sehun pada kakaknya.

"Aku sudah memintanya sebelumnya, harusnya dia sudah siap."

"Banyak yang harus dia kerjakan, jadi berhenti menyalahkan Luhanku."

"Iya iya…terserahmu saja. Cepat habiskan sarapanmu dan segera berangkat." Kekeh Yunho mengusak asal rambut adiknya.

..

..

..

"Direktur maaf membuatmu menunggu."

Luhan tampak terengah berlari mendekati Yunho yang sudah menunggunya.

"Tidak masalah. Ayo berangkat."

Yunho pun memberikan kunci mobilnya pada Luhan, Luhan mengambil kunci tersebut dan membukakan pintu belakang untuk Yunho. Setelah Yunho duduk nyaman di bangku belakang kemudi. Luhan langsung memutari mobil masuk kedalamnya dan segera menjalankan mobil milik Yunho.

"Luhan.."

Didalam perjalanan Yunho tiba-tiba memanggil Luhan, Luhan melirik sekilas dan mendapati sesuatu sedang mengganggu putra tertua keluarga Oh ini.

"Ya direktur."

"Apa Sehun sudah memberitahumu?"

Luhan kembali melirik Yunho melalui kaca spion depan dan menebak-nebak kenapa wajah Yunho begitu tegang "Memberitahu apa ?"

"Ah-…sepertinya dia sengaja tidak memberitahumu. Karena setiap kali dia mengatakan tentang hal itu kalian selalu bertengkar."

Luhan mendadak merasa mual karena menebak ada sesuatu yang sedang terjadi.

"Sa-saya tidak mengerti direktur." Katanya berusaha tenang dan menampik pikiran buruk.

"Sehun menemukan petunjuk baru tentang pembunuh yang membunuh orang tua kami."

Ckit…!

Luhan tiba-tiba mengerem mendadak membuat Yunho terkejut karena saat ini mobil di belakang mereka membunyikan klakson mereka dengan sangat marah.

"Luhan apa kau baik-baik saja?" Yunho sedikit berteriak membuat Luhan tersadar.

Dia kemudian kembali menjalankan mobilnya dan meminta maaf pada Yunho "Maaf direktur, saya hanya terkejut mendengar kabar itu. Tuan muda Sehun pasti sangat senang." Ujarnya menggenggam erat kemudi mobilnya.

"Dia tidak bahagia sama sekali. Sebaliknya dia kelihatan begitu menderita."

Luhan terdiam mendengar penuturan Yunho, dia memutuskan hanya mendengarkan Yunho berbicara "Dia merasa akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuknya jika dia terus mencari. Aku mengkhawatirkannya Luhan." Lirih Yunho yang memang selalu menjadikan Sehun prioritas utamanya untuk hal apapun.

"Kau bisa menjaganya untukku kan?"

Luhan semakin mengeratkan pegangannya ke stir kemudi, dia tahu saat ini pria dibelakangnya bukah sedang memerintah melainkan memintanya untuk menjaga satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Luhan."

"Ya direktur. Aku akan selalu menjaga Tuan muda Sehun." Gumamnya merasa tertohok dan takut kalau dirinya akan menjadi alasan semua kesedihan dan kemarahan Sehun.

Luhan dan Yunho sampai di perusahaan milik keluarga Oh, keduanya langsung bergegas menuju ruang rapat. Luhan sendiri tidak menyangka jika rapat yang dimaksud Yunho akan semegah dan sebesar ini karena beberapa klient yang ia tebak dari Negara lain tampak menghadiri rapat yang akan segera dipimpin oleh Yunho.

Luhan menatap takjub pada kesuksesan Yunho yang dengan jerih payahnya sendiri bisa mempertahankan usaha ayahnya tanpa mengurangi sedikitpun rasa kepercayaan pemegang saham baik yang berada di Korean maupun di luar Korea.

Dirinya masih melihat ke seluruh tamu undangan sampai matanya merasa familiar dengan kehadiran sosok cantik yang melebihi dirinya sedang tertawa dan seperti menemani seseorang dalam rapat besar yang diadakan Yunho.

"Jaejoong hyung!"

Luhan tak sengaja berteriak membuat bukan hanya Jaejoong namun Yunho yang sedang berjalan didepannya berhenti melangkah.

Jaejoong pun menyadari kehadiran Luhan dan tersenyum mendapati Luhan sudah berjalan ke arahnya.

"Hyung kau disini?" katanya bertanya bersemangat melihat Jaejoong yang tampak berbeda.

"Hmm…aku menggantikan ayahku. Harusnya Kai yang berada disini. Tapi dia bilang dia ada urusan mendadak. Apa kabarmu Lu? Sudah lama sekali." Katanya memeluk Luhan sekilas dan menatap rindu pada Luhan karena selama dirinya berhubungan dengan Yunho, keduanya memang terkenal dan terlihat sangat dekat satu sama lain.

"Aku baik hyung. Kau juga terlihat baik, syukurlah."

Luhan merasa senang mengetahui Jaejoong baik-baik saja setelah berpisah dari Yunho, dia bahkan merasa sangat bangga pada kakak kandung Kai ini, karena jika dirinya yang berpisah dari Sehun, dia tidak akan pernah setegar dan sekuat Jaejoong saat ini.

"Perasaanku saja atau memang kau terlihat lebih gemuk hyung?"

Luhan bertanya polos membuat Jaejoong seketika salah tingkah dan terlihat bingung menjawab.

"Luhan cepat kemari!"

Luhan sedikit tersentak saat suara Yunho memanggilnya dengan berteriak membuat beberapa pasang mata melihat ke arah Yunho yang tampak tak peduli.

"Sepertinya bos besar sudah memanggilmu Lu. Cepat temui dia sebelum dia berulah." Gumam Jaejoong yang menatap tak berkedip melihat ke arah Yunho yang juga menatapnya dingin.

"Aku akan segera menemuimu hyung. Sampai nanti." Luhan membungkuk dan segera berlari ke tempat Yunho berada.

"Maafkan saya direktur."

"Jangan berbicara dengan orang asing. Kau mengerti kan?" gumamnya masih menatap tajam Jaejoong di depan sana.

"Tapi itu Jae-.."

"Jangan bicara lagi, kita pergi."

Dan tanpa banyak bertanya apapun Yunho pergi meninggalkan Jaejoong yang masih menatapnya sambil terus memegangi perutnya, tersenyum lirih berusaha menguatkan dirinya karena sikap Yunho yang sangat berubah.

..

..

..

Rapat yang menegangkan untuk Luhan itu pun akhirnya berakhir. Beberapa perusahaan tampak tak setuju dengan rencana Yunho yang akan menjadi penyumbang terbesar untuk anak yatim dan terlantar dengan membangun sekolah dan tempat tinggal layak untuk mereka. Karena menurut pihak yang tidak setuju itu sangat membuang-buang uang dan waktu, namun tentu saja Yunho tetap pada kepputusannya karena menurutnya tidak ada yang salah dengan membantu anak yang sudah tidak memiliki orang tuan dan rumah yang layak untuk dihuni.

Luhan saat ini sedang berjalan mengekori Yunho yang tampak sibuk mendengarkan penjelasan dari asistennya dan beberapa orang yang terlihat mengantri untuk berbicara dengan calon perdana menteri Korea Selatan tersebut, sesekali dia melihat wajah Yunho yang marah karena ide yang diberikan sangat tidak masuk akal, namun tak jarang pula dia memuji kinerja asistennya yang menurutnya bagus dan bemanfaat untuk perusahaan.'

Luhan masih sedikit bergesa mengikuti Yunho dari belakang sampai matanya kembali melihat Jaejoong yang tampak kesakitan karena dua asistennya sudah berada di samping kanan kirinya, dia mengernyit berniat memberitahukan kondisi Jaejoong pada Yunho.

Merasa tidak mendapat kesempatan untuk berbicara langsung dengan berusaha menyeruak ke kerumunan orang yang sedang mengikuti Yunho dari belakang, dia kemudian menyadari ada seseorang tepat di belakang Yunho yang mencurigakan.

Luhan masih memperhatikan orang tersebut sampai kemudian dia membelalak melihat orang tersebut mengeluarkan sebilah pisau dan semakin berjalan mendekati Yunho. Luhan semakin menyeruak ke kerumunan orang dan semakin panik saat orang tersebut mulai mengarahkan pisaunya ke arah Yunho.

"Hey"

Luhan mencengkram erat tangan si pelaku, membuatnya menoleh dan keduanya bertatapan sekilas, merasa panik pria mencurigakan itu menghempas kasar tangan Luhan dan

Sret….!

Pisau yang digenggamnya menggores dalam pipi Luhan yang kini mengeluarkan darah segar

"Ta-tangkap orang itu!"

Luhan berteriak sambil memegang pipinya yang terus mengeluarkan darah, membuat Yunho secara otomatis membalikan badannya dan terkejut mendapati darah di pipi Luhan mengalir sampai ke tangannya.

"Luhan!"

Yunho menghambur menghampiri Luhan yang kini tampak memucat. Luhan hanya diam sambil menunjuk pria yang kini sedang berlari dan dikejar oleh anak buah Yunho.

Jaejoong yang sedari tadi merasa mual sudah merasa lebih baik dan berniat berpamitan pada direktur Oh yang merupakan mantan kekasihnya dengan menyapanya langsung, dia sedang menaiki tangga sampai dirinya mengernyit melihat keributan yang terjadi di lantai dua.

Jaejoong dan pria yang berniat menusuk Yunho berpapasan di tangga, Jaejoong pun menyadari ada sesuatu yang aneh dari pria didepannya yang tampak terburu-buru dan mencurigakan

"JAE AWAS DIA BERBAHAYA!"

Jaejoong mendongak ke atas dan mendapati Yunho berteriak memperingatinya, merasa terancam pria itu pun berlari mendekati Jaejoong dan berniat melewatinya sebelum Jaejoong mencengkram erat lengannya.

"Lepaskan aku sialan!" geramnya mendorong kasar Jaejoong yang tampak tak bisa menjaga keseimbangannya.

"JAEJOONG!"

Jaejoong tidak mengerti apa yang sedang terjadi, yang jelas ia merasa seluruh tubuhnya tak bisa digerakan dan kini hanya ada suara Yunho yang memanggilnya. Jaejoong sempat melihat wajah panik Yunho sebelum dirinya benar-benar tak sadarkan diri karena pria penyusup tadi mendorong kencang tubuhnya jatuh kebawah tangga.

..

..

..

Tap….Tap….

Terlihat seorang dengan wajah pucat dan paniknya sedang berlari kencang untuk segera menemui kakak serta pria yang memiliki separuh hidupnya yang saat ini berada di rumah sakit. Sehun begitu marah saat mendengar kekacauan terjadi di perusahaan kakaknya. Dia bersumpah tidak akan mengampuni siapapun jika sampai terjadi sesuatu pada Yunho dan Luhan

Pikiran Sehun kosong, dia tidak mau melakukan apapun selain melihat Yunho dan Luhan dengan kedua matanya sendiri.

"Hyung!"

Sehun berteriak menghambur memeluk Yunho erat saat melihat kakaknya berdiri di luar ruangan seperti sedang menunggu seseorang yang sedang diperiksa dokter.

"Hey Sehunna." Lirihnya membalas pelukan adiknya yang begitu erat.

"Ka-kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka?" Sehun bertanya sudah hampir menangis karena mengkhawatirkan kakaknya.

"Aku baik Sehunna-…Luhan dan Jaejoong mereka yang terluka."

Mendengar nama Luhan disebut, mata Sehun mencari dan mendesah lega melihat pria cantiknya sedang duduk tak jauh dari tempat Yunho berdiri, Luhan menoleh ke arah Sehun sekilas dan kemudian kembali menunduk tak berani menatap Sehun.

Sehun merasa ada yang salah dengan Luhan, dia kemudian berjalan mendekati Luhan dan sudah mengepalkan tangannya erat saat menyadari kalau ada sesuatu seperti perban di tempelkan di pipi Luhan.

"Lihat aku."

Sehun berjongkok di depan Luhan dan meminta Luhan untuk melihat ke matanya.

"Luhan." Suara Sehun kali ini memperingatkan membuat Luhan menatap Sehun yang terlihat sangat marah karena melihat keadaannya saat ini.

"Kurang ajar." Geram Sehun dan

BUGH!

"KENAPA KALIAN MEMBIARKAN BAJINGAN ITU MENYENTUH LUHAN DAN KAKAK KU?"

Sehun menghajar telak kedua bodyguard Yunho yang berdiri didekat Luhan, membuat Luhan sedikit tersentak takut namun tahu tak bisa membiarkan Sehun mengacau di rumah sakit.

BUGH..!

"JIKA AKU HARUS MEMBUNUH…AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN DARIPADA BAJINGAN ITU."

Geramnya semakin menjadi dan bersiap kembali memukul bodyguard kakaknya yang tampak tidak berguna untuknya

"Sehun cukup…aku mohon! Aku dan Yunho kami baik-baik saja. Jae Hyung yang terluka, aku mohon tenang Sehunna."

Luhan berlari kedepan Sehun dan memeluk erat Sehun yang akan kembali memukul kedua pengawal Yunho.

"Tenanglah Sehun aku mohon." Katanya terus meminta pada Sehun sambil terisak kencang.

Sehun melihat ke arah Yunho yang juga terlihat frustasi dia kemudian berhenti memukuli pengawal Yunho dan membawa Luhan kembali duduk di tempatnya semula.

"Apa sakit?" katanya memegang perban yang menutupi pipi Luhan.

Luhan menggeleng lemah menenangkan pria tampannya "Ini akan sembuh. Kau jangan khawatir." Gumamnya juga membelai wajah Sehun.

"JONGIE HYUNG!"

Kembali terdengar suara teriakan namun kali ini Kai yang berteriak seperti orang gila diikuti Kyungsoo yang tampak ketakutan berlari di belakang Kai.

Kai berhenti di tempatnya saat melihat Yunho berada di depan ruangan kakaknya. Tangannya mengepal erat dan segera berlari menghampiri Yunho

"Kurang ajar." Geram Kai dan

BUGH…!

Kali ini Yunho yang merasakan pukulan Kai yang terasa panas di wajahnya

"KIM JONGIN!"

Sehun berteriak dan segera berlari ke depan Yunho saat menyadari Kai akan kembali memukul kakaknya.

"Minggir!" desis Kai menakutkan.

"Apa yang kau lakukan?" Sehun tak kalah mendesis tak terima Kai memukul kakaknya begitu saja.

"Cih…apa yang aku lakukan? HARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADA PRIA PENGECUT DIBELAKANGMU!" Kai kembali berteriak membuat Sehun mengepalkan tangannya.

"Sehun cukup."

Yunho menarik lengan Sehun dan kembali berhadapan dengan Kai

"Aku akan segera pergi darisini, jadi jangan buat keributan dan jaga Jaejoong."

Yunho berniat mengalah dan pergi agar tidak memancing kemarahan Kai lebih banyak lagi.

"Ya benar! Pergilah…. Pergi tinggalkan kakakku dan anakmu. Kau puas!"

Yunho menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kai "Apa maksudmu?" katanya bertanya tak mengerti.

"Apa maksudku?" Kai tertawa sangat mengerikan menatap Yunho, terdengar dia mengambil dalam nafasnya dan

"SETELAH MENINGGALKAN JAE HYUNG… APA KAU JUGA BERNIAT MENINGGALKAN CALON ANAKMU HAH!? JAE HYUNG HAMIL DAN SIALNYA ITU ADALAH ANAKMU!"

Bukan hanya Yunho yang membeku, hal demikian juga terlihat pada raut wajah Sehun yang tampak membeku dan tiba-tiba terdiam. Sejenak suasana menjadi tegang dan semakin canggung. Hanya terdengar suara isakan Kyungsoo yang memeluk erat Kai menenangkan kekasihnya yang begitu marah dan emosi.

Cklek….!

"Keluarga Kim Jaejoong?"

Dokter Kim yang menangani dan mengobati Jaejoong tampak keluar dari ruangan Jaejoong untuk memberitahukan kondisi Jaejoong.

"Aku adiknya." Kai menyela mendekati dokter yang menangani kakaknya.

"Bagaimana keadaan kakak ku?" Kai kembali bertanya dan sedikit lega saat dokter Kim tersenyum menjawabnya.

"Keduanya sehat, Tuan Kim Jaejoong dan bayinya sehat,"

"Syukurlah." Gumam Kai yang memeluk Kyungsoo bersyukur lega berbanding terbalik dengan kakak-beradik Oh yang tampak memucat karena mendengar sendiri bahwa Jaejoong benar-benar mengandung anak Yunho.

"Apa kakakku sudah boleh pulang?" Kai kembali bertanya.

"Saya rasa belum.. Tuan Kim mengalami memar di beberapa bagian tubuh membuatnya harus menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit."

"Ah begitu…baiklah..terimakasih dokter." Kai berjabat tangan dengan dokter yang mengurus Jaejoong dan segera masuk ke ruangan Jaejoong meninggalkan Yunho dan Sehun yang masih terdiam di tempat masing-masing.

Sehun merasa kesal pada Yunho yang hanya diam tak bereaksi dia kemudian mengepalkan tangannya erat dan segera memasuki ruang perawatan Jaejoong. Luhan yang takut Sehun kembali berulah langsung mengejar Sehun masuk kedalam ruang perawatan Jaejoong.

"Jae Hyung.."

Sehun tanpa berbasa-basi memanggil Jaejoong yang tampak sedang berbincang dengan Kai dan Kyungsoo.

"Sehun-….Hay Lu…apa kau baik-baik saja?" Jaejoong melihat Luhan yang tampak bersembunyi di belakang Sehun.

"Aku baik hyung. Bagaimana denganmu?" katanya bertanya pada Jaejoong.

"Hanya sedikit merasa nyeri di lenganku Lu. Selebihnya aku baik." katanya tersenyum memberitahu Luhan.

"Ada apa Sehunna?" Jaejoong kembali bertanya pada Sehun yang sepertinya sedang melihatnya dari atas ke bawah.

"Apa benar kau mengandung calon anak Yunho? Calon keponakanku?" katanya tanpa berbasa-basi membuat Jaejoong membelalak kaget.

"A-apa yang kau bicarakan? Tentu saja tidak."

"Mereka sudah tau." Kai berbisik memberitahu kakaknya yang tampak memucat. "Kai-..kau benar-benar." Jaejoong sedikit menggeram memarahi adiknya.

"Aku ingin bicara berdua dengan Jaejoong. Bisakah kalian keluar sebentar."

Kali ini suara Yunho yang menginterupsi, membuat keempat pria yang lebih muda darinya menoleh dan menatap bertanya pada Yunho yang terus memandang Jaejoong tak berkedip.

"Kai biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka. Kita tunggu mereka diluar."

Sehun mendekati temannya dan berharap kali ini Kai mau bekerjasama dengannya.

Kai mengangkat kedua bahunya "Baiklah aku setuju. Aku menunggu diluar hyung." Katanya berbisik memberitahu Jaejoong yang semakin mengeratkan pegangannya di lengan Kai.

"Ini untuk keponakanku." Katanya memberitahu Jaejoong yang tampak mengalah dan mulai melepas pegangannya di lengan Kai.

Setelah Kai bangun dari tempat tidur Jaejoong, dia merangkul Kyungsoo dan segera berjalan ke pintu keluar begitupun dengan Sehun yang sedari tadi menggenggam tangan Luhan dan segera membawa Luhan untuk menunggu diluar.

Keempatnya pun menunggu dengan resah diluar, untuk Kai dan Sehun ini lebih menegangkan daripada harus mendengarkan nilai kelulusan mereka di akhir semester. Sementara Kyungsoo dan Luhan meyakini akan segera mendapat kabar baik setelah Yunho membuka pintu ruangan Jaejoong.

Cklek….!

Dan benar saja, setelah hampir tiga puluh menit menunggu diluar, Yunho membuka pintunya dan mengijinkan keempat adiknya untuk kembali masuk kedalam ruangan "Masuklah." Katanya membukakan pintu dan membiarkan keempat pemuda itu masuk kedalam ruangan.

Sehun sedikit mengernyit menyadari kalau suasana di ruang perawatan Jaejoong semakin tegang dan dingin, dia melihat mata sembab Jaejoong yang menandakan bahwa Jaejoong baru selesai menangis karena saat ini masih terisak.

"Hyung kau kenapa?"

Kai kembali menghampiri Jaejoong yang malah menghambur ke pelukan adiknya memeluk Kai dengan erat.

"Apa dia menyakitimu lagi? Apa dia berniat meninggalkanmu lagi?"

"Sayangnya tidak Kai. Kau akan sering melihat wajahku mulai saat ini." ujar Yunho menatap Kai penuh arti.

"Apa maksudmu?"

"Aku dan Jaejoong-….kami memutuskan untuk menikah bulan depan."

Satu…

Dua..

Tiga…

Tak ada yang memberikan respon dari pernyataan tiga detik yang lalu sampai

"ASTAGA!"

Suara pekikan pertama terdengar Luhan yang langsung berpelukan dengan Kyungsoo yang juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Sementara Kai dan Sehun-..keduanya menarik nafas lega karena pada akhirnya kedua kakak mereka bisa kembali bersatu.

"Selamat hyung. Keponakanku akan lahir di keluarga yang lengkap." Kai mencium kepala Jaejoong dan tak hentinya mengucapkan selamat pada Jaejoong.

"Aku akan memiliki keponakan. Terimakasih untuk keputusan hebatmu hyung."

Sehun pun mendekati kakaknya dan memeluk haru Yunho yang akhirnya bisa membuat keputusan yang benar untuk hidupnya.

..

..

..

Dan malam harinya Sehun segera membawa Luhan untuk beristirahat. Kali ini tanpa bisa menolak Luhan akan tidur dikamarnya. Selain karena suasana hati Sehun sedang baik tentang rencana pernikahan Yunho dan Jaejoong, dia juga ingin memastikan Luhan tidur dengan nyaman mengingat perban yang ada di pipinya harus dilepas pada malam hari dan itu pasti akan menyakitkan untuk pria cantiknya.

"Kenapa belum ganti baju?"

Sehun yang sudah bersiap dengan piyama tidurnya sedikit kesal melihat Luhan yang belum mengganti bajunya.

"Aku mau kebawah sebentar, kau bilang ingin minum." Katanya mengingatkan Sehun yang memang sudah ribut mengatakan haus sejak mereka sampai dirumah.

"ah kau benar-." Ujarnya mengangguk dan membenarkan ucapan Luhan. "Kalau begitu cepat ambil air dan segera kembali kemari." Katanya memberitahu Luhan yang langsung mengangguk mengerti.

Luhan pun segera menuruni tangga untuk mengambil air yang Sehun minta, dan saat berada didapur dirinya berpapasan dengan ibunya yang sedang bercakap-cakap di telepon.

Luhan secara otomatis mengepalkan tangannya erat dan tiba-tiba mencengkram lengan wanita jahat didepannya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Minah memekik saat menyadari Luhan sedang mencengkram erat tangannya.

"Kau keterlaluan sialan."geramnya menghempas kasar tangan adik tiri ibunya.

"Siapa yang kau bilang sialan hah?"

"KAU!." Luhan menggertak semakin menatap marah ke wajah ibu angkatnya.

"Kau sudah sangat berani padaku?" katanya mengancam Luhan.

"Dengar…jika kau memegang kartuku aku juga memegang kartumu. Karena siang tadi seseorang yang mencoba menusuk direktur Oh adalah pria yang sama saat aku mengantarkan paket untuknya. Dan aku berani bertaruh kalau pria itu adalah putra kandungmu nyonya Song." Katanya mengejek menatap wanita yang berada didepannya ini yang tiba-tiba memucat.

"Berani sekali kau!" geram Minah hendak menampar Luhan tapi Luhan menampis tangan bibinya.

"Jika kau berani mencoba mencelakai Yunho atau Sehun lagi, aku akan turun tangan dan membalas apa yang kau lakukan pada mereka." Luhan memperingatkan Minah dan segera pergi meninggalkan

"Ya benar….cepat atau lambat salah satu dari kita akan merasakan kemarahan Yunho dan Sehun, tapi daripada sibuk mencari kesalahanku aku rasa mereka lebih tertarik mengetahui siaa kau sebenarnya."

Luhan kembali terhenti dan mendengarkan celotehan Minah dengan sangat marah "Kau tahu?" katanya kembali menoleh menatap adik ibunya.

"Siang tadi anakmu hampir membuat Yunho kehilangan calon anaknya. Keturunan pertama keluarga Oh dan Kim. Apa kau pikir Sehun, Kai dan Yunho akan membiarkan anakmu begitu saja? Tidak Nyonya. Mereka akan mencari anakmu sama seperti mereka mencariku dan ibuku. Jadi apa menurutmu mereka lebih tertarik padaku? Aku rasa kau sudah tahu jawabannya."

Setelah selesai menggertak ibu angkatnya dengan rentetan kalimat yang mengancam, Luhan sedikit menyeringai dan meninggalkan wanita tua yang tampak geram padanya karena sudah berani mengancamnya.

Tentu saja gertakan hanyalah gertakan untuk Luhan, karena mau bagaimanapun status dirinya terasa sangat mengganggu dan menyesakan. Dia sudah tidak bisa lebih lama lagi menyembunyikan siapa dirinya pada Yunho terutama Sehun. Dia ingin hidup sebagai dirinya yang sebenarnya bukan sebagai orang lain.

Namun saat dia memutuskan untuk menceritakan semua ketakutan kembali menguasainya, ketakutan akan kemarahan Sehun, ketakutan akan kebencian Sehun yang teramat. Dia belum siap untuk itu. Karena Sehun hidupnya dan dia akan mati jika hidupnya sendiri menolaknya.

Cklek….!

Luhan kembali membuka pintu kamar Sehun, terlihat pria tampannya sedang menyiapkan kotak obat yang Luhan tebak untuk dirinya. Dia kemudian tersenyum semakin takut membayangkan semua perhatian Sehun padanya hanya tinggal menghitung hari, sebelum Sehun benar-benar muak pada dirinya.

"Hey sayang… cepat kemari, aku akan mengganti perbanmu." Sehun menepuk-nepuk bagian yang kosong dari ranjangnya dan meminta Luhan untuk segera duduk dihadapannya.

Luhan pun tersenyum dan perlahan berjalan mendekati Sehun.

"Minum ini dulu." Katanya memberikan Sehun segelas air dan dalam sekejap Sehun menghabiskan seluruh isinya.

"Cepat duduk." Giliran Sehun yang memerintah Luhan. Luhan pun kemudian duduk bersila menghadap Sehun dan tanpa sengaja kembali mengagumi wajah tampan nan sempurna milik pria didepannya.

"Aku tahu ini akan sakit. Jadi jangan banyak bergerak, oke?" katanya mencoba mengingatkan Luhan yang terlihat tak mau disentuh.

Sret….!

"Arghhh.." Luhan sedikit meringis saat Sehun dengan tiba-tiba membuka perbannya.

"Maafkan aku…maaf." Katanya menyesal, meniup-niup bekas goresan yang cukup panjang di pipi Luhan.

"Aku akan memberi pelajaran pada bajingan itu jika bisa bertemu." Geramnya sedikit memegang luka di wajah Luhan, membuat Luhan kembali meringis.

"Aku janji bekas luka ini akan hilang. Tahan sebentar ya."

Sehun pun kini membasuh sedikit alkohol menggunakan kapas lalu mengusap luka Luhan dengan kapas tersebut perlahan, rasa dingin yang perih itu kembali Luhan rasakan membuatnya menggigit kencang bibirnya.

"Apa sakit?" Sehun bertanya cemas menatap Luhan, dan mencium Luhan memaksa Luhan untuk berhenti menyakiti bibirnya karena terus menggigitnya kencang.

"Biarkan aku tahu kau kesakitan. Apa sakit?" katanya kembali bertanya sambil mengoleskan cream obat yang diresepkan oleh dokter.

Luhan pun mengangguk dan menatap Sehun berkaca "Sakit Sehun…Aku takut."

Sehun semakin menatap tak tega pada Luhan saat tiba-tiba Luhan terisak begitu kesakitan. Dia sempat ingin menghentikan kegiatannya membersihkan luka Luhan karena sangat bingung pada Luhan yang terus menerus mengeluh sakit.

"Aku sakit Sehunna…Aku takut.."

Untuk Luhan, dia menggunakan kesempatan itu untuk menangis sejadinya dihadapan Sehun. Dia sudah lama sekali ingin melakukan hal itu tapi sama sekali tak memiliki alasan yang bisa membuat Sehun mengerti, dan malam ini adalah malam yang tepat baginya untuk memberitahu Sehun betapa sakit dia menjalani hidupnya saat ini dan betapa ketakutannya dirinya harus terus membayangkan kehilangan Sehun dan tak ada Sehun lagi dihidupnya.

"Maafkan aku sayang. Aku janji sakitnya akan berkurang."

Setelah mengoleskan cream obat untuk Luhan, Sehun segera membawa Luhan yang masih terisak berbaring di ranjangnya. Dia kemudian memeluk Luhan erat sambil mengelus sayang punggung Luhan membuat mau tak mau Luhan merasa terlalu nyaman dan akhirnya terlelap dalam tidurnya.

Sehun terus mengecupi pucuk kepala Luhan, dia sesekali melihat ke wajah Luhan yang sudah tertidur. Merasa Luhan sudah cukup tenang. Sehun pun berniat menggantikan kemeja Luhan dengan piyama tidur agar pria cantiknya tidur lebih nyenyak dan nyaman.

Sehun sedang membuka satu persatu kemeja Luhan, sesekali dia menatap mengagumi betapa indahnya Luhan dan seluruh yang dia miliki pada dirinya, membuatnya tak bisa menahan diri untuk mengecupi tubuh yang selalu membuatnya menginginkan lebih dan lebih.

Sehun masih terus mengecupi tubuh Luhan, sampai dia merasa Luhan menggeliat tak nyaman barulah dia tersadar untuk menghentikan kegiatan mengganggu Luhan dan memutuskan untuk "mengambil" Luhan saat Luhan dalam keadaan sepenuhnya sadar dan sepenuhnya mengijinkan dirinya untuk menyatukan gairah cinta keduanya.

Setelah berhasil memakaikan dan mengancingkan piyama di tubuh Luhan, Sehun kini beralih untuk mengganti celana Luhan. Dia melepas celana kerja Luhan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena takut tergoda dan tak bisa menahan diri. Dia pun kemudian bersorak bangga pada dirinya setelah berhasil menggantikan baju Luhan sepenuhnya tanpa mengganggu pria cantiknya sedikitpun.

Sehun kembali menatap wajah Luhan dan mengecup lama kening Luhan sebelum membawa pakaian kotor dan kotak obat ke tempat pakaian kotor.

Brak…!

"Eh?"

Sehun terkekeh mendapati dompet Luhan yang terjatuh dari celananya. Dia pun segera memungutnya dan tak sengaja melihat dompet Luhan terbuka. Karena merasa sudah lama tak melihat dompet Luhan pun, Sehun membukanya dan tersenyum mendapati foto mereka berdua yang masih menghiasi dompet Luhan, karena sama seperti Luhan, dompetnya pun hanya berisi wajah Luhan dan foto mereka berdua.

Sehun sudah kembali menutup dompet Luhan, sampai sesuatu mengganggu penglihatannya. Dia kemudian melihat ada selembar foto yang diletakkan terlalu dalam di sela-sela dompet Luhan. Karena penasaran pun Sehun mengambilnya dan tak lama terduduk lemas di tepi ranjangnya melihat foto yang Luhan simpan seperti disembunyikan di dompetnya.

"A-apa ini?" gumamnya menggenggam erat foto yang Luhan simpan sesekali melihat ke wajah tenang Luhan yang sedang tertidur pulas.

Sehun kemudian mencengkram foto yang berada di tangannya itu sambil menatap tajam Luhan tak berkedip. Bertanya-tanya mengapa Luhan menyimpan foto yang sama seperti foto yang ia miliki dan ia simpan. Selembar foto yang merupakan satu-satunya petunjuk yang bisa membantunya menemukan siapa yang bertanggung jawab atas kematian orang tuanya.

Sehun bertanya-tanya mengapa Luhan menyimpan foto pembunuh orang tuanya di dompet miliknya.


tobecontinued...


.

.

.

How Sehun reaction in next chap? please wait fot the Restart chap 5 ;)

update ASAP!

.

.

see ya...happy reading n review :)