Title : Wish Princess
Disclaimer : Grand Chase Indonesia dan juga milik KOG Korea. Cuman meminjam karakternya aja
Pairing : Edel x Rufus
Rating : T
Genre : Suspense & Mystery & Family & Angst
Warning : Tulisan Gaje, Typo dimana-mana,dll
Summary : "Sudah saatnya aku minum sekarang!" Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Memperlihatkan gigi taring yang sangat tajam/'Aku Sangat Suka Darah'/Sapphire bertemu Crimson keduanya masih saja saling menatap/Karena kau milikku,Hanya milikku.'/ Sorry Ga pinter bikin Sumary/Pair Edel x Rufus.
HAPPY READING & Don't Like Don't Read
Chapter 4
.
.
.
*Kembali beberapa hari yg lalu*
Saat ini Edel sedang berada di alam bawah sadar atau kata lainnya ia sedang bermimpi sekarang. Dengan kekuatan Rufus dia memperlihatkan pemandangan yang luar biasa tentang perbedaan vampir 'Murni' & 'Liar'
.
-Edel Dream Start-
"Dimana ini?" Pikir Edel. Edel hanya melihat kegelapan yang ada disekelilingnya. Entah kenapa ia tidak bisa berjalan ataupun berlari. "Aku harus segera keluar dari sini" Gumam Edel. Kemudian ada sebuah cahaya kecil dari jauh. Lama kelamaan cahaya itu semakin membesar dan mendekati Edel dengan cepat.
Saat cahaya itu sudah dekat dengannya. Cahaya itu berubah wujud menjadi portal yang berbentuk lingkaran. Secara otomatis Edel pun masuk ke dalam portal. Dan terlihatlah sebuah dunia yang sangat luas didalam sana.
*Hutan*
Begitu masuk portal, Edel langsung pindah tempat dalam sekejap ke dalam hutan. Edel melihat seorang vampir sedang meminum darah dari seekor rusa yang sudah mati.
Vampir itu berjenis kelamin laki-laki dan wajahnya pun menyerupai manusia pada umumnya. Asik dengan dunianya sendiri vampir ini tidak sadar kalau ada sekumpulan orang dibelakangnya.
4 orang tepatnya. Salah satu dari mereka mengangkat senjatanya, dan...
Dor!
Tangan kiri vampir itu tertembak. Darah langsung mengalir dengan deras ditangan kirinya. Vampir itu membalikkan badannya. Segera mencari tau siapa yang menembak tangan kirinya barusan.
Dia melihat 4 orang berbaju serba hitam sedang mengepungnya dari arah depan. Nafasnya terengah-engah karena tangan kirinya mengeluarkan darah terus menerus.
"Siapa kalian? Kenapa menembak tanganku?" Dengan nada keras vampir itu berbicara.
"Kami adalah Vampir "Hunter". Dengan darah setengah manusia dan setengah vampir kami ada. Tugas kami adalah membunuh semua vampir 'Liar' yang ada dimuka bumi ini." jawab orang yg menembak.
"Jadi, kalian mau membunuhku?"
"Tentu saja. Aku dengar kau sudah membuat keresahan diperkotaan dekat sini. Kau sudah meminum paksa darah 10 orang manusia diperkotaan sebelum kesini. Dan hal itu cukup membuat heboh masyarakat disana."
"Kalian tak akan bisa membunuhku. Aku bisa kabur dari sini dengan cepat. Sedangkan kalian bukan vampir secara penuh. Kalian pasti tak akan bisa mengikutiku." Vampir itu terlihat bersiap-siap kabur.
"Ah, memang benar perkataanmu. Tapi jangan salah dulu. Aku sudah mengantisipasi jika kau mau kabur dengan 'ini'." Orang yang menembak tadi mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna merah pekat didalamnya.
"Ini adalah darah 'Abadi'. Darah seorang vampir murni ada didalam sini. Jika kau meminumnya maka kau akan bisa menjadi vampir 'Murni'." Lanjutnya kemudian.
Vampir itu membalikkan badannya begitu mendengar perkataannya. "Aku tidak akan termakan rayuamu, itu!" jawab vampir itu berteriak.
"Percuma saja kau melawan. Insting vampir 'liar'mu berbeda dengan insting vampir 'murni'. Vampir 'Murni' memang masih bisa mengendalikan rasa haus darah. Tetapi Vampir 'Liar' tak akan pernah bisa mengendalikan rasa haus darah. Sekuat apapun, mereka akan tetap tergoda oleh darah." Orang asing itu menggoyangkan botol darah itu.
Dalam sekejap mata Vampir laki-laki itu menjadi kosong seperti terhipnotis oleh sesuatu. Perlahan-perlahan vampir itu berjalan kearah 4 orang misterius tersebut.
"Lihatlah. Dengan keadaannya yang seperti ini. Tak akan ada bedanya dengan seekor hewan. Inilah perbedaan antara vampir 'Liar' dan 'Murni'." Orang misterius itu berbicara dengan 3 orang temannya. Mereka hanya diam tak berbicara menyaksikan kejadian didepan mereka.
Saat vampir laki-laki itu sampai didepan persis orang misterius itu. Dia mengarahkan senjatanya ke dahi vampir laki-laki tersebut dan menembaknya...
Brukk! Vampir itu mati ditempat dalam keadaan mengenaskan.
.
.
'Astaga, aku baru tau kalau ada perbedaan antara kedua vampir yg berbeda jenis ini.' Pikir Edel. Setelah melihat semua ini, Edel langsung berpindah tempat lagi menuju ke sebuah gua yang gelap dan sangat jauh.
.
*Cave Gelhs*
Disinilah sekarang Edel berada. Dengan tubuh Edel yg transparan ia bisa menembus semua labirin yg ada digua ini dan masuk ke dalam inti gua 'Gelhs' ini.
Hanya ada batu bercahaya emas yang diletakkan diatas meja altar dengan 2 obor menancap didinding kiri dan kanan. Itulah pemandangan didalam inti gua itu.
Edel hanya bisa terdiam melihat semuanya. Ia tak bisa menyentuh maupun memegang semua benda disana. Ia hanya bisa terdiam menunggu keadaan.
Selang beberapa lama ada 2 orang pemuda masuk ke dalam inti gua ini. Terlihat sekali kalau pakaian mereka seperti para penggali bebatuan atau tambang. Mereka telah berada dipintu depan inti gua. Edel yg mendengar suara pintu segera menoleh dan melihat interaksi antara 2 orang tersebut.
"Hei, lihat kita berhasil menemukannya." orang 1 mengeluarkan suaranya.
"Bagus. Akhirnya kita tidak akan hidup sengsara lagi." Ujar orang 2.
" 'Wish Stone' akhirnya kita temukan. Konon batu ini bisa memberikan 1 permohonan apa saja." Orang 1 memberikan penjelasan.
'Oh, begitu. Rupanya batu itu punya kekuatan luar biasa. Pantas saja mereka terlihat senang ketika menemukannya.' Pikir Edel.
"Hahaha...Kita akan kaya dalam sekejap, dengan uang itu kita akan bermain-main dengan banyak wanita." Orang 2 berceloteh sendiri.
"Jangan banyak omong cepat ambil batunya!" Perintah orang 1.
"Baik..."
Orang 2 itu segera mengambil 'Wish Stone' .
"Cepat serahkan padaku!" Perintah orang 1 lagi. Setelah menyerahkan batunya orang 1 mengucapkan keinginan mereka berdua. Entah kenapa tidak ada sesuatu yg terjadi. Melainkan...
Wusshh!
Tubuh mereka perlahan terbakar. Karena tak ada yg menolong mereka mengingat mereka masih didalam gua. Tbuh mereka menjadi hangus terbakar dan tak berbentuk lagi.
'Kenapa mereka terbakar seperti itu?' Edel merasa ngeri melihat orang yg terbakar.
Tanpa mendapatkan jawaban sama sekali. Edel dibawa keluar dari dunia mimpinya. Dan sekarang Edel sudah mengetahui permasalahan tentang ras 'Vampir'.
-Edel Dream End-
.
.
.
Seminggu berlalu sejak kejadian diatas. Dan selama itu pula Edel mampu menahan rasa nafsunya. Edel termasuk vampir 'Liar' atau 'Murni'? Tentu saja ia termasuk vampir 'Liar' karena ia menjadi vampir karena digigit oleh vampir keturunan 'Murni'. Sehubungan dengan hal itu sangatlah hebat ia mampu menahan nafsunya sampai hampir seminggu.
Ok. Pada hari ke-7 ia sudah tak kuat lagi menahan rasa nafsunya...
*SSHS*
Pucat! Itulah yang bisa dikatakan ketika melihat Edel pagi ini. Dengan warna kulitnya yg pucat, wajahnya juga pucat, bibirnya pun juga sama. Sungguh keadaan ia sekarang sama seperti mayat hidup.
"Hei, Edel kamu nggak apa-apa? Kamu terlihat pucat, lho!" Kata Elesis menyapa.
"Hm, aku nggak apa-apa, kok. Cuman kurang tidur kemarin." Jawab Edel lemas.
"Ya sudah. Kalau kamu sakit bilang aja. Nanti kutemani kamu ke ruang UKS." Ujar Elesis.
"Terima kasih, Elesis."
"Sama-sama."
Teng, teng, teng
Jam pelajaran pun dimulai. Semuanya mengikuti pelajaran dengan tenang kecuali Edel tentunya. 'Ah, aku sudah tak kuat lagi' Gumam Edel. Tubuh Edel bergetar dengan hebat karena saking haus akan darah. Bahkan dimata Edel semua orang yang ada dikelas adalah kumpulan-kumpulan darah yang enak tuk diminumnya.
"Tahanlah sampai waktu istirahat." Sebuah suara berbicara dikepala Edel.
Mendengar suara tersebut, sudah pasti ia tau siapa orangnya. Siapa lagi kalau bukan Rufus teman duduk sebangkunya.
"Tapi aku sudah mencapai batas. Aku ingin segera minum darah." Kata Edel dalam pikirannya.
Rufus menggigit jari telunjuk tangan kirinya. Dan itu menyebabkan darah keluar dari sana.
"Minum ini untuk sementara. Lakukan dengan cepat sebelum ada yg melihatnya." Perintah Rufus.
Edel pun tampak ragu-ragu. "Kenapa? Kau meragukan darahku. Asal kau tau saja darah vampir 'Murni' bisa menghambat pertumbuhanmu menjadi vampir 'Liar' yg sebenarnya. Kau harus meminum darahku jika tak mau menjadi vampir 'Liar'!" Ucap Rufus.
Mendengarnya Edel langsung mengambil jari Rufus yg mengeluarkan darah dan langsung meminum darahnya. Posisi mereka saat ini cukup strategis. Dengan bangku paling belakang dan paling pojok dikelas membuat kegiatan mereka tidak dilihat guru maupun siswa.
Rufus menarik kembali jari telunjuknya dari dalam mulut Edel, dan dia berkata dengan pelan "Kalau masih lapar datanglah ke atap sekolah saat istirahat nanti". Tanpa sadar Edel hanya menganggukkan kepalanya.
.
.
*Saat Istirahat*
Sesuai janji Edel datang ke atap sekolah untuk melanjutkan 'kegiatan'nya tadi.
(Skip Scene)
Seusai meminum darah Rufus, Edel langsung saja pingsan karena Rufus mengendalikan pikirannya.
"Aku tau kau ada disana. Keluarlah!" Kata Rufus pada seseorang dibalik pintu. Orang itu membuka pintu dan ternyata dia adalah...
"Sudah kuduga ternyata itu kau, Adel." Ujar Rufus sambil menyeringai senang.
"Wow. Kau hebat juga. Bisa tau keberadaan seseorang tanpa melihatnya."
"Aku mencium bau darahmu. Maka dari itu aku tau kalau kau dibalik pintu dari tadi."
"Hahaha..." Adel tertawa dengan cukup keras.
"Apa tujuanmu menemuiku?" Tanya Rufus to the point.
"Yah... aku sebenarnya punya permonohan kepadamu."
"Apa itu?" Tanya Rufus.
"Aku ingin mulai hari ini bawa Edel bersamamu. Jagalah Edel, Berikanlah ia kebahagiaan, dan katakan kepadanya kalau aku menyayanginya." Kata Adel sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Adel barusan membuat Rufus seperti ingin mati. 'Apa maksudnya barusan?' Pikir Rufus.
"Kenapa kau bilang begitu?" Tanya Rufus.
"Aku merasa kalau malam nanti aku akan mati."
"Hah? Kenapa kau berpikiran begitu? Memangnya siapa yg mau membunuhmu?" Tanya Rufus bertubi-tubi.
"Aku tidak tau siapa yg akan membunuhku. Firasatku mengatakan kalau malam ini aku akan mati. Itu saja." jawab Adel tenang.
"Tapi ba-"
"Cukup Rufus. Aku ingin kau menjaga Edel dengan baik." Adel memotong perkataan Rufus.
"Tanpa perlu kau suruh pun, aku tetap akan mengabulkan permintaan kawan lamaku."
"Hehehe... Aku titip Edel, ya!" sesudah mengatakan itu Adel keluar dari atap sekolah menuju ke kelasnya.
Rufus menolehkan pandangannya kembali ke arah Edel yg sedang tertidur. "Kau akan menghadapi takdir yg mengerikan. Bersiap-siaplah Edel Frost."
Rufus menggendong Edel dibahunya ketika ia Rufus membawa Edel ke ruang UKS agar tidurnya tidak terganggu.
.
.
.
*Sore hari*
Angin bertiup kencang disore hari ini. Matahari sudah berada dibarat bersiap-siap untuk terbenam. Begitu juga dengan 2 tokoh utama kita yaitu Rufus dan Edel yang masih berada di ruangan UKS.
"Huahh.." Edel baru saja terbangun dari tidurnya yg panjang.
"Akhirnya kau bangun juga."
"Hah... Kenapa kau ada disini?" Tanya Edel.
"Aku menunggumu disini dari siang tadi. Semua orang sudah pulang dari sekolah jadi kau tenang saja."
"Huh.. Harusnya kau tak usah menungguku. Aku tak mau merepotkanmu." Kata Edel khawatir.
"Tidak masalah. Soalnya hari ini kau akan tinggal bersamaku." kata Rufus tenang.
"Apa maksudnya 'tinggal' bersamamu?"
"Kakak kembarmu Adel tadi menemuiku. Katanya kau disuruh tinggal sementara denganku."
"Benarkah itu? Aku tidak yakin kalau kakak mau menitipkanku dirumah orang yg tidak dikenalnya." Tanya Edel curiga.
"Sayang sekali aku dan kakakmu itu sudah sangat lama saling mengenal. Maka dari itu kakakmu tak ragu menitipkanmu padaku." Jawab Rufus tenang.
"Aku mau pulang ke rumah terlebih dahulu. Menanyakannya pada kakak tentang ini." Edel mulai beranjak bangun dari kasurnya mau segera pergi dari sana. Tapi...
Grep!
Rufus menahan tangan kanan Edel. Sehingga Edel tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Sontak dengan hal ini membuat Edel emosi.
"Apaa maumu, hah? Aku hanya ingin menemui kakak. Apa itu tidak boleh?" Edel berteriak cukup keras.
"Kakakmu sudah mempercayaiku untuk menjagamu sementara waktu. Kenapa kau tidak mau mempercayai perkataanku dari tadi?" Tanya Rufus sarkastik.
"Aku hanya -" Belum selesai menyelasaikan perkataannya.
"Hanya apa? Kalau kulihat dari caramu menjawab kau masih tidak mempercayaiku. Ayolah aku ini sedang tidak bohong. Masa kau tidak bisa membedakan orang bohong. Kupikir kau lebih pintar dari ini." Cerca, ejekan dilontarkan Rufus dengan sangat lancar.
"Cuku-"
"Ternyata kau ini tak lebih dari anak seorang raja yang manja."
"Cukup!" Edel menghentikan semua hinaan Rufus dengan satu teriakan keras.
"Hiks..hiks..hiks aku bukannya tak percaya padamu. Aku juga bukan tuan putri manja pada umumnya." Edel mulai menangis dan nada bicaranya pun terdengar lirih. Rufus hanya diam mendengarkan perkataan Edel.
"Aku hanya tak ingin jauh dari kakak. Sejak kecil aku jarang bertemu ayah dan ibu hanya kakak yang selalu menemaniku. Maka dari itu aku belum pernah berpisah dengan kakak."
Edel masih saja terus menangis. Perlahan Rufus mulai mendekati Edel yg masih menangis dalam keadaan berdiri. Dan Rufus memeluk Edel sambil menenangkannya dengan mencium puncuk kepala Edel.
"Maafkan aku jika berkata kasar padamu barusan. Aku tak tahu kalau masa kecilmu begitu kelam. Yah kupikir kau hidup seperti tuan putri yg manja."
Edel hanya menggangguk pelan dalam pelukan Rufus sambil tetap menangis.
"Sudah, sudah. Jangan menangis terus. Lebih baik sekarang ayo kita pulang ke rumahku." Ajak Rufus.
Sadar dalam posisi berpelukan seperti ini. Membuat Edel sedikit blushing.
"Ba-baik." jawab Edel gugup dan malu.
.
.
.
*Kediaman Edel*(Malam Hari,Pukul 10 PM)
Adel terlihat merenung dikamarnya. Yah dia masih memikirkan tentang Edel yg marah padanya karena menitipkannya pada Rufus.
'Maafkan aku, Edel.' Pikir Adel. Saat berpikir begini ada yg mengganggunya.
Tok, tok, tok
"Masuk saja." Kata Adel dari dalam kamarnya.
Kriett..
"Ah, ternyata Ayah dan Ibu." Adel menyapa kedua orang tuanya.
"Adel bagaimana kabarmu, sayang?" Seorang wanita berambut coklat bergelombang seperti bunga. Ia mempunyai mata berwarna sapphire. Ia berjalan mendatangi Adel yg duduk dikasurnya.
"Aku baik-baik saja, Bu!"
"Baguslah kalau begitu. Oh, ya mana Adikmu?" Tanya Ibu Adel.
"Edel menginap dirumah temannya. Mereka ada tugas kelompok disekolah buat besok. Makanya Edel menginap." jawab Adel bohong. Tentu saja Adel pun tak ingin orang tuanya tau tentang keadaan yg akan terjadi berikutnya.
"Oh, begitu baguslah kalau Edel sudah mempunyai teman." Wanita itu terlihat sedikit senang mendengar perkembangan positif dari putrinya.
"Kenapa Ayah dan Ibu pulang?" Tanya Adel.
"Ah, kami kan rindu dengan kalian berdua." Sang Ibu mencoba membuat suasana lucu.
"Kami pulang karena ada berkas-berkas yg tertinggal dilaci meja. Selain itu Ibumu rindu pada kalian berdua makanya hari ini kami pulang." Kata Pria dewasa dengan rambut jabrik sebahu berwarna silver keunguan, matanya berwarna hitam pekat atau onxy.
"Oh begitu! Ini sudah malam aku mau tidur dulu. Selamat tidur, Ibu, Ayah!" Ucap Adel sambil berbaring tidur.
"Selamat tidur, my honey !" Ucap sang Ibu sebelum keluar dari kamar Adel bersama sang Ayah.
.
.
*2 jam kemudian*
Tok, tok, tok
.
"Tuan, tuan besar!" Sang Butler mengetuk pintu kamar sang tuan besar yaitu Ayah Adel dan tentu saja istrinya yg satu kamar dengannya.
"Ada apa? Kau membuatku bangun dimalam hari begini!" Nadanya terdengar marah.
"Ada yang menyerang rumah anda, tuan!" Ucap Butler ketakutan.
"Apa maksudmu?" Tanya balik sang Tuan besar.
"Sekitar 10 menit yg lalu, pintu gerbang telah dihancurkan oleh beberapa orang yg tak dikenal. Kami tak berhasil mendapat informasi siapa orangnya karena orang kita yg berada dipintu gerbang saat ini tidak bisa dihubungi."
"Maksudmu orang yg menyerang kita belum diketahui keberadaannya?"
"Benar, tuan besar."
"Cih, kau keluarlah dulu. Aku mau berganti pakaian dan akan ikut mencari tau siapa yg menyerang!?" Si butler pun menurutinya dengan cepat. Tuan besar A.K.A Ayah Adel dan Edel segera mengganti pakaiannya dan...
"Ada masalah serius, sayang?" Tanya sang Nyonya. Terlihat sekali kalau ia juga baru bangun dari tidurnya.
"Iya, rumah kita diserang oleh orang tak dikenal. Tenang saja aku akan segera mengatasi masalah ini dan -"
Bruak!
Pintu besar yg menutupi kamar mereka terbuka seketika. Terlihat ada 4 orang memakai jubah hitam agar wajahnya tak diketahui.
"Dimana semua pengawalku!?" Tanya sang Tuan besar.
"Mereka semua sudah mati." Jawab Pemimpin dari 4 orang itu.
"Apa!? Bagaimana mungkin?" Tuan besar sedikit shock mendengar anak buahnya sudah mati semua.
"Mudah saja! Gerakan kami jauh lebih cepat dari manusia biasa. Dengan itu kami tinggal menusuk jantung mereka secara cepat dan tanpa suara."
"Siapa kalian? Dan mau apa kalian kesini?"
"Kami adalah 'Asassains' Vampir. Kami memang sama seperti vampir 'Hunter'. Setengah manusia dan setengah vampir. Hanya saja tugasnya yg berbeda." Jawab pemimpinnya.
"Vampir? Bukankah vampir itu cuma mitos belaka!?"
"Vampir itu ada. Mau Percaya atau tidak itu terserah kau. Itu tidak penting karena sebentar lagi kau akan mati."
Dia mengarahkan pedangnya dan...
Jleb! Ayah Adel langsung tewas seketika ketika jantungnya ditikam.
"Kyaaa..." Terdengar teriakan dari Istri sang Tuan besar atau Ibu Adel. Melihat suaminya terbaring membuat ia menjerit keras sambil menangis.
"Hiks...hiks... Kenapa kalian membunuhnya?" tanya sang nyonya.
"Kami melakukannya karena mendapat perintah dari seseorang. Dan itulah yg membedakan kami dengan vampir 'Hunter. Jika Vampir 'Hunter' memburu vampir maka kami memburu manusia untuk kami bunuh."
"Hah... Aku terlalu lama mengoceh tentang vampir. Cepat kalian bunuh perempuan itu!" Kata pemimpin itu sambil menunjuk ke arah Ibu Adel.
"Kumohon jangan. Aku tidak ingin ma-"
Jleb! Berakhirlah kedua nyawa orang tua Edel malam hari ini.
"Kurang 2 orang lagi maka misi ini akan sukses!" Kata pemimpin itu. "Ayo, kita pergi ke kamar tuan pangeran dirumah ini."
.
.
.
*Kamar Adel*
Assasains Vampire sudah berada diluar kamar Adel dan mereka akhirnya masuk ke dalam. Disana mereka melihat sosok Adel sedang duduk tertunduk ditengah kasurnya. Kepala Adel tidak menghadap ke arah mereka berempat melainkan memunggunginya.
"Jadi kalian berempat berniat menghabisiku malam ini?" Tanya Adel tanpa perlu melihat mereka.
"Hm, rupanya kau sudah tau. Akan kupercepat kematianmu agar tidak terasa sakit."
"Sebelum aku mati ada hal yg ingin kutanyakan."
"Apa itu?"
"Siapa yg menyuruh kalian membantai keluargaku sekarang?" Tanya Adel.
"Akan kujawab pertanyaanmu sebagai permintaan terakhir. Yang menyuruh kami membunuh keluargamu adalah Veigas Terre. Dia merupakan vampir 'Murni' yg menyewa kami untuk membunuh semua keluarga bangsawan yg ada dikerajaan Serdin ini." Jawab pemimpin itu.
"Entah apa alasannya yang penting kami hanya disuruh membunuh semuanya. Apa jawabanku cukup memuaskanmu?" tanya pemimpin itu.
"Sudah cukup jelas informasi yg kau berikan. Terima kasih sudah memberi tau aku."
"Tak perlu terima kasih karena kau tak akan bisa memberi informasi ini pada orang luar karena sekarang kau akan mati!"
Jleb! Habis sudah nyawa Adel dimalam hari ini.
"Sudah selesai lebih baik kita kembali ke markas. Lagi pula Edel Frost tak ada dirumah ini. Kita harus cari ia sampai ketemu dan membunuhnya" Ucap pemimpin.
"Baik, Kak Lass." Ucap mereka bertiga serempak.
.
.
.
*Kediaman Rufus
Saat ini Edel berada dikamar yang sudah disediakan oleh Rufus tuk ditempati ia sementara. Edel sedang mencoba untuk tidur tapi tampaknya tak berhasil terus.
"Huh.. Aku tidak bisa tidur nih. Padahal besok harus bangun pagi!" Gumam Edel. Tangan Edel bergerak mengambil kalung liontin yang ada dilehernya. Membuka isi liontin tersebut yg ternyata adalah foto ia dan kakaknya Adel.
'Kakak terlihat tampan kalau sedang tersenyum seperti ini.' Pikir Edel.
Deg...
Entah kenapa Edel merasa ada sesuatu yg tidak biasa. Matanya melirik ke liontinnya dan ia melihat foto bagian Adel tersobek sedikit padahal sebelumnya tidak ada goresan atau robekan sama sekali.
'Kuharap kakak baik-baik saja!' Pikir Edel sedih memikirkan perasaannya tersebut.
.
.
.
TBC
Author Curhat:
Gomenasai... Dikarenakan author sakit selama 4 hari membuat Fic ini terlambat selama beberapa hari. Nih sudah selesai chap 4 nya silakan dibaca kalau berkenan. Maaf lagi kalau tulisannya rada gaje soalnya gw sempatin buat nih fic pas badan gw sakit. Yah kuharap readers bisa pahami itu.
Kesimpulan chap 4 :
1. Udah tau kan bedanya Vampir 'Liar' ama 'Murni'
2. Edel akan mengalami trauma yg menyakitkan di chap 5 nanti (mungkin)
3. Gw buat tuh tentang muka Ayah dan Ibu Edel meski itu full ngarang tolong bisa dipahami sebaik mungkin.
4. Assasain Vampir tuh bakal ngincer Edel buat dibunuh.
Assasains Vampir diatas ada 4 orang :
1. Pemimpin = Lass Isolet
2. Anggota = ?
3. Anggota = ?
4. Anggota = ?
Oh yah di Assasains Vampire menyebut kakak sama dengan bos. Intinya kakak= nama panggilan bos atau atasan.
Thanks To :
AkaneMiyuki, Ester, Puni, Perfect Maid Haruka, All Silent Readers
^Yang udah dukung bwt lanjutin nih fic^
.
.
+Review Please+
