Lost Saga
Disclaimer :
I'm not owner anything,
this is purely a fanfiction which I made to spend my boring time.
Rate: T+
Genre : Fantasy, Sci-Fi
Inspired by :
Many manga or Light Novel which have Fantasy and VRMMORPG contents
Warning :
Abal, GaJe, Garing, OOC, OC, (miss) Typo,
Full of game's content, Change POV without Alert etc
###
A/N : Mohon maaf karena update lama. Ah, sharing dikit ya—setelah prolog sampai di chapter ini saya tidak menggunakan tata bahasa atau cara penulisan yang berat. Kalaupun ada, itu hanya pada cara saya menggambarkan keadaan lingkungan sekitar dan bukan pada cara berpikir ataupun dalam interaksi antar tokoh. Saya tidak memungkiri, pemikiran cerdas dari tokoh yang ada dalam cerita lalu cara interaksi yang hanya menggunakan ekspresi wajah serta penggambaran keadaan lingkungan yang seperti kalimat – kalimat pada puisi (dan masih banyak yang lainnya) bisa membuat cerita lebih menarik. Namun, saya hanya merasa bahwa itu 'belum saatnya'. Mungkin di chapter – chapter ke depan cara penulisan saya akan sedikit demi sedikit mengarah ke arah sana seiring terdapatnya konflik utama serta munculnya rival maupun musuh yang mempunyai daya pikir tinggi. Ah, disini saya juga sedikit kesulitan dalam penulisan sound effect, terutama pada suara – suara beruntun (lebih dari tiga atau empat suara berkelanjutan).
Maaf karena pada bagian Author Note saya selalu banyak bicara. Tapi saya juga ingin meningkatkan kemampuan menulis saya. Saya akui kemampuan saya masih jauh dari kata baik, untuk itu pada 'A/N' saya selalu menjelaskan apa yang saya pikirkan serta masalah apa yang sedang saya hadapi dan berharap para reader bersedia memberikan masukan agar kemampuan menulis saya menjadi lebih baik nantinya. Terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya ini.
.
Master Level
Pertarungan yang cukup sengit baru saja ia lakukan. Walaupun kubunya telah memenangkan peperangan tersebut, namun nyatanya tidak ada ekspresi senang yang terlihat dari Naruto saat ia keluar dari ruangan tempatnya fulldive. Justru sebaliknya, ia saat ini sedang terlihat marah.
"Sial sial sial sial–—" umpat Naruto sambil berteriak. Melihat hal ini tak ayal membuat Itachi penasaran sehingga ia pun bertanya.
"Hei hei ada apa denganmu Naruto? Kalaupun kau kalah tak perlu merasa sefrustasi itukan?" tanya Itachi penasaran karena merasa aneh dengan sikap Naruto.
Naruto tak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya menatap Itachi dengan tatapan yang tajam, lalu berjalan kembali ke arah pintu keluar. Melihat tatapan itu, ia hanya dapat memiringkan kepalanya serta bertanya dalam hati 'Apa aku salah bicara?' batinnya penasaran.
Namun, saat sampai di depan pintu keluar Naruto berhenti sejenak sambil berbicara tanpa menoleh pada Itachi.
"Timku menang, tapi yang membuatku kesal player yang menjadi lawanku itu berhasil menembakku tepat di tengah – tengah dahiku, yah— walaupun aku juga berhasil mengalahkannya sih." ujarnya sambil kembali berjalan keluar.
Mendengar itu membuat Itachi memegang dagunya dan mengangguk-angguk tanda bahwa ia mengerti, tapi saat mendengar suara lonceng pertanda ada seseorang yang membuka pintu ia pun berteriak.
"Hei, tunggu Naruto!— Jangan pergi dulu, kau masih belum membay-" Itachi menghentikan teriakannya setelah melihat sosok tersebut telah menghilang dari pandangannya.
'Uh sial, anak itu datang dan pergi seenaknya, kalau begini terus uang gajiku akan habis bahkan sebelum aku sempat menggunakannya.' pikir Itachi sambil menangis dan meratapi nasibnya entah mengapa selalu sial jika bertemu dengan pemuda pirang itu.
"Hoooo pemuda yang menarik, kau mengenalnya?" ujar suara feminim dari belakang, tak ayal membuatnya membalikkan badan.
"Bukankah kau pemain yang barusan berhadapan dengannya di WGO tadi? Untuk apa kau menanyakan tentangnya?" ujar Itachi menanggapi suara tersebut.
"Hanya penasaran, tak banyak orang yang bisa mengimbangi skillku dalam bermain game FPS. Aku hanya berharap bisa bertanding dengannya lagi suatu hari nanti." balas gadis tersebut dengan nada datar.
"Hmmmm begitu yah, itu tak mengherankan sih. Dia memang selalu menjadi salah satu pemain top veteran di dalam setiap game yang ia mainkan apapun genrenya." jawab Itachi enteng seakan tak peduli.
"Hoooo jika kau tau sebanyak itu aku rasa skillmu juga tak kalah darinya." ujar gadis tersebut sambil berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan Itachi, nada bicaranya sedikit berubah seakan – akan dengan tulus mengucapkan kalimat tersebut.
Mendengar kalimat yang secara tak langsung merupakan pujian bagi dirinya tak ayal membuat Itachi bangga, ia dengan semangatnya menjelaskan betapa hebat dirinya hingga membuatnya bahkan tak sadar jika gadis tersebut telah dekat dengan pintu keluar. Namun sebelum gadis itu sempat membuka pintu, teriakan Itachi menghentikannya.
"Stoooop! Berhenti kau di situ! Sial bahkan gadis kecil sepertimu sampai berani menipuku, dalam satu hari aku hampir tertipu dua kali. Kembali kau ke sini dan bayar biaya internet yang telah kau gunakan." teriak Itachi sambil mengacak – ngacak rambutnya frustasi.
"Hehehe maaf aku lupa.." ujar gadis tersebut setelah berbalik sambil memasang senyum polos seolah yang diucapkannya adalah yang sebenarnya terjadi, walaupun nyatanya ia mencoba meniru apa yang dilakukan Naruto sebelumnya. Bersikap seakan tak peduli lalu membuat Itachi tak fokus sehingga ia bisa pergi tanpa harus membayar.
###
Tap Tap Tap—
Suara langkah kaki terdengar saat seseorang pemuda menaiki tangga dengan langkah santai serta irama yang teratur.
Kriet… Dum—
Suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali, ia sampai di dalam ruang seluas enam tatanami yang merupakan kamar miliknya lalu melirik ke arah jam dinding.
Masih ada waktu satu jam sebelum waktu perjanjian mereka bertemu, jam setengah sembilan malam, tapi Naruto ingin log in lebih awal dan menghabiskan waktu untuk leveling ataupun mengumpul item yang nantinya mungkin bisa digunakan untuk meng-enhance[1] equipmentnya.
Dia dengan cepat melepaskan celana dan kemeja katunnya, lalu menggantung mereka di gantungan pakaian, melepas pakaian dalam bagian atasnya dan melemparkannya kedalam keranjang yang letaknya cukup jauh karena berada di pojok ruangan layaknya seorang shooter dari tim basket professional. Melangkahkan kakinya menuju lemari pakaiannya serta membukanya, mengambil celana training panjang serta kaos untuk membuatnya terasa nyaman.
Setelah mengatur pendingin ruangan sehingga udaranya tidak terlalu panas, ia duduk di pinggir tempat tidur. Meminum air mineral dari botol berukuran sedang yang telah ia siapkan sebelumnya dan meminumnya hingga habis untuk menghindari dehidrasi lalu membuang botol kosong tersebut ke dalam tas daur ulang. Ia lalu pergi ke kamar mandi menggosok gigi, menggunakan toilet, mencuci tangan dan muka sebelum kembali ke kamar.
Handphonenya telah diubah ke mode diam, pintu juga jendela telah benar – benar telah terkunci. Ia telah menyelesaikan PRnya yang akan diserahkan besok siang tadi di sekolah dan semua hal sepele yang ia khawatirkan di dunia nyata telah teratasi.
Memakai Brain Linker di kepalanya dan menekan saklar untuk mematikan lampu, ia lalu berbaring di tempat tidur. Mengambil nafas yang dalam dan menghembuskannya, Naruto menutup matanya dan menekan tombol yang akan memindahkan jiwanya.
Sensasi dari gravitasi horizontal yang tubuhnya rasakan tiba – tiba menghilang, dan perasaan melayang menggantikannya. Selanjutnya, langit dan bumi terasa berputar 90 derajat. Jari kakinya menyentuh lantai keras dan membuka matanya saat indra dari tubuh palsunya sepenuhnya terhubung.
Pertama, apa yang muncul di depan matanya adalah pemandangan yang biasa terlihat pada kota pada umumnya. Berbagai macam jenis toko berjajar rapi di sepanjang jalan utama kota ini dimana di dalamnya terdapat NPC[2] yang menawarkan berbagai jenis barang yang mereka jual. Beberapa player juga terlihat hilir mudik di sepanjang jalan ini. Meskipun dirinya mengalami disconnect di dalam dugeon Santuary Cave, teman – temannya juga tak mungkin sejahat itu membiarkan tubuh avatarnya tak berdaya di dalam gua tersebut, sehingga setidaknya mereka membawanya ke dalam save area di kota ataupun desa terdekat.
Naruto muncul di daerah dekat gerbang bagian selatan dari kota bernama « Aria City» ini. Mengayunkan jari tengah dan telunjuk tangan kirinya dari atas ke bawah, disertai suara music yang khas muncul window yang berfungsi mengatur segala hal yang berhubungan dengan game ini. Menekan salah satu menu yang berfungsi menunjuk general information ia lalu menekan tabulasi yang bertuliskan 'Map'.
Sepersekian detik kemudian muncul window yang menunjukkan peta dari kota yang sedang ia kunjungi saat ini, di tengah - tengahnya terdapat icon hijau berbentuk panah yang dapat ia simpulkan bahwa itu merupakan tempatnya berdiri saat ini. Meletakkan tangan kanan pada pojok kanan atas window dan tangan kiri pada pojok kiri bawah, ia lalu menggerakkannya berjauhan guna memperbesar informasi peta yang sedang ia lihat sekarang. Setelah mendapat informasi yang dibutuhkan, ia kembali menekan bagian tengah pada peta guna menutup window tersebut. Melangkahkan kakinya ke depan ia memutuskan melakukan sedikit hunting monster di hutan sebelah timur kota sebelum bertemu dengan kedua sahabatnya di alun – alun kota empat puluh lima menit lagi.
###
Setelah perburuan singkatnya, Naruto segera menuju ke alun – alun kota. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan kedua sahabatnya karena seseorang yang memakai jubah yang terlihat sedikit kumuh yang biasa di kenakan oleh Sasuke bukanlah sesuatu yang sering dikenakan oleh kebanyakan pemain pada umumnya. Para pemain biasanya menggunakan pakaian mewah yang terlihat mencolok ataupun armor tebal yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap serangan fisik maupun sihir. Opsi pakaian pertama jelas tidak dipakai oleh Naruto dkk, mereka benci terlalu mencolok karena pasti akan sering mendatangkan masalah, dan opsi kedua armor tebal bukanlah style mereka dalam bertarung karena walaupun mempunyai daya tahan yang besar, itu harus dibayar dengan beban armor yang berat dan nantinya akan mengorbankan kecepatan serta ketangkasan mereka karena beban tersebut dalam bertarung. Dan kalaupun mereka menghadapi pemain yang mempunyai daya tahan lebih tinggi itu tak akan menjadi masalah, cukup memberikan damage yang jauh lebih besar dari pertahanan mereka dan semuanya selesai.
Di dunia ini, ada beberapa factor yang menentukan besarnya jumlah damage yang ditimbulkan.
-Pertama adalah senjata yang digunakan. Semakin baik kualitas senjata dan semakin banyak upgrade atau penguatan terhadap senjata maka damage yang ditimbulkanpun akan semakin besar.
-Kedua adalah daya tahan terhadap serangan fisik ataupun sihir dari pakaian atau armor yang digunakan lawan. Semakin baik kualitasnya semakin sedikit pula kerusakan yang diterima pemain tersebut.
-Selanjutnya kecepatan dari sejata tersebut saat diayunkan. Semakin cepat senjata diayunkan semakin besar pula daya rusak yang ditimbulkan, namun hal ini hanya berlaku bagi senjata yang memberi luka secara fisik.
-Serta yang terakhir akurasi dari serangan yang diluncurkan. Jika serangan tersebut mengenai daerah vital manusia seperti jantung atau kepala maka damage yang dihasilkanpun juga semakin bessar.
Dalam kasus mereka point kedua merupakan hal yang patut diperhatikan, namun hal itu juga dapat mereka atasi dengan ketiga point yang lainnya.
"Yo Sasuke, Sakura.." sapa Naruto sambil melambai ke arah kedua sahabatnya.
Melihat Naruto yang melambaikan tangannya dari kejauhan membuat mereka berdua mendekat ke arahnya.
"Dari mana saja kau Naruto? Saat aku baru saja log in dan melihat daftar 'Friend List' kelihatannya kau sudah online dari tadi?" tanya Sakura penasaran.
"Haha kau benar, aku log in sekitar satu jam sebelum waktu bertemu kita. Yah karena sebentar lagi akan ada update, sebelum itu aku mau me'Masteri' job Swormanku.." Ujar Naruto bersemangat.
"Yosh— jangan buang banyak waktu, kita lanjutkan perjalanan kita ke «Dragon Island». Sekarang berangkat, Let's Go!" teriak Naruto bersemangat sambil mengangkat tangannya ke atas. Melangkahkan kakinya ke depan, namun moodnya yang baik saat ini justru membuat dirinya tidak konsentrasi terhadap keadaan sekitar.
"Seharusnya sikapmu saat ini jangan hanya saat kita online saja tapi juga kau terapkan di sekolah." ujar Sasuke pelan dengan nada sarkastik.
Bruk—
"Aduh-du-duh, It-ttai-" ringis Naruto setelah terjatuh sambil mengelus – elus pantatnya yang mendarat terlebih dahulu karena menabrak seseorang.
"Hei kalau jalan lihat – lihat dong.." teriaknya marah kepada seseorang yang menabrak dirinya hingga terjatuh.
"Kau tak apa – apa bocah?" kalimat tersebut diucapkan tanpa sedikitpun menutupi nada menghina yang terdapat di dalamnya. Seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun ke atas saat ini tengah memandang Naruto yang terjatuh di bawahnya dengan tatapan merendahkan.
"Kau memanggilku apa pak tua? bocah? bocah—?" ujar Naruto pelan sambil menahan emosinya tapi itu tak bisa mencegah aura hitam yang kian pekat keluar dari tubuhnya.
Satu hal yang selalu membuat Naruto lepas kendali adalah jika dia dipanggil dengan sebutan bocah. Walaupun dibandingkan kedua sahabatnya memang dialah yang paling pendek, tapi hei—dia masih dalam masa pertumbuhan kan? Jadi dia masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi.
"Akan ku bunuh kau pak tua—!" teriak Naruto yang sudah di puncak amarahnya, ia bangkit mencabut pedang di punggungnya lalu menerjang pria tersebut. Walaupun di dalam save are HP tidak akan berkurang tapi impact dari setiap serangan akan tetap bisa dirasakan, hal ini menyebabkan pertarungan di dalam save area mungkin menjadi tempat penyiksaan abadi.
Namun sebelum sempat ia maju, Sasuke telah mengunci pergerakannya dari belakang dan membuat Naruto memberontak sambil mengatun – ayunkan pedangnya ke sembarang arah.
"Lepaskan aku Sasuke, aku akan memmhmmh—" sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya, mulutnya telah terlebih dahulu di bekap oleh Sasuke.
"Ahahaha tolong maafkan temanku, bocah ini memang sedikit pemarah" ujar Sasuke kepada pria yang sedang berdiri dihadapan mereka saat ini.
"Ap-p-pa katamu Sasuke? Kau mau aku hajar hah?" ucap Naruto pelan sambil menoleh kebelakang.
"Diamlah Naruto, ini juga terjadi karena kesalahanmu sendiri.." bisik Sasuke kepada Naruto.
UGH—
Tak bisa menjawab ataupun membantah lagi Naruto hanya bisa terdiam.
Namun…
"Hahahahahaha" terdengar suara tawa, dua orang anak kecil berjenis kelamin laki – laki berambut pendek berwarna pirang dan coklat terlihat sedang berdiri di belakang pria tersebut. Dari penampilan mereka mungkin saat ini mereka masih bersekolah di kelas lima atau enam sekolah dasar.
"Kau dengar itu? Dia bilang mau me'Masteri' jobnya? Ahahaha dasar bodoh, aku rasa dia tidak terlalu mengerti tentang game Lost Saga ini." ujar anak berambut pirang.
"Apa maksudmu?" tanya pria yang sempat ditabrak Naruto kepada anak berambut pirang tersebut.
"Ah, begini Tuan Asuka, dalam game Lost Saga ini jika kau bisa mencapai level seratus maka akan diberi julukan «Master Level» namun untuk mencapai level tersebut tidaklah mudah. Butuh setidaknya tujuh ribu jam online agar bisa mencapainya dimana duapertiganya dihabiskan untuk leveling." ujar anak berambut coklat menanggapi.
Mendengar nada manis yang buat – buat tersebut membuat Naruto memutar bola matanya bosan 'Cih dasar penjilat' pikirnya dalam hati.
"Hmmm begitukah?" tanggap pria yang dipanggil Tuan Asuka oleh kedua bocah tersebut.
"Yah, itu benar Tuan Asuka. Sejak game Lost Saga diluncurkan sekitar dua tahun yang lalu serta dari ratusan ribu player game ini, yang berhasil mencapai level seratus ke atas mungkin hanya berjumlah belasan. Dan sepuluh pemain terkuat diantaranya mendapat julukan «Kings», di samping itu setiap pemain dari top ten player tersebut juga mempunyai julukan yang berbeda - beda sesuai dengan «Warna yang mencerminkan karakter avatar mereka» ditambah dengan Tag «King» di belakangnya." ucap bocah berambut pirang.
"Jadi walaupun saat ini Tuan sudah level 85, masih dibutuhkan setidaknya setengah tahun lagi agar bisa mencapai «Master Level»." ujar bocah pirang melengkapi.
"Lalu apa kalian pernah bertemu dengan mereka?" tanya pria itu kembali.
"Kami belum pernah bertemu dengan mereka secara langsung, namun kabarnya mereka sering berkeliaran di kota – kota besar yang di sekitarnya terdapat dugeon berlevel tinggi. Tapi meskipun begitu kami pernah secara tidak sengaja melihat salah satu dari mereka yang sedang bertarung melawan monster dari jarak yang agak jauh." ucap bocah berambut pirang.
"Kalau boleh aku tau siapa itu?" tanya pria bernama Asuka itu lagi.
"Dia adalah «White King» selain itu ia juga sering dipanggil orang – orang dengan julukan «Sang Paladin», ia mengenakan armor berwarna putih yang terlihat sangat kuat serta perisai besar berbentuk salib di tangan kirinya dan juga one hand sword yang berukuran cukup besar di tangan kanannya. Julukan «Sang Paladin» diberikan kepadanya karena ia mempunyai serangan serta daya tahan yang kuat. Namun yang paling diperhitungkan darinya adalah pertahanannya yang tak tertembus karena 'perisai aegis'nya." ucap anak berambut coklat yang kali ini menjawab.
"Menurut rumor ia bahkan bisa bertahan beberapa jam sendirian menghadapi «Khmer» yang merupakan naga berkepala tiga yang dikatakan mempunyai serangan terkuat dibandingkan monster lainnya di game ini." ujar bocah pirang menambahkan.
"Hmm kalian mengetahui banyak tentang game ini ya? Selama ini waktuku online hanya kuhabiskan untuk leveling dan jarang berinteraksi guna mencari informasi, kalaupun pernah mungkin hanya berhubungan dengan tempat ataupun spot yang bagus untuk berburu." ujar pria itu lagi.
"Walaupun level kami kecil namun pengetahuan kami tentang game ini tidak kalah dengan para pemain veteran tersebut." ujar bocah berambut coklat memuji dirinya sendiri.
Sementara itu, saat ini Naruto sedang menangis dalam hati. Harga dirinya terasa seakan terinjak – injak, bagaimana tidak? Beberapa waktu lalu mereka terlihat sedang berselisih namun saat ini ketiga laki – laki berbeda umur tersebut malah asyik dengan percakapan mereka sendiri mengabaikan Naruto beserta dua sahabatnya. Bahkan mereka tidak menanggapi permintaan maaf yang diucapkan oleh Sasuke. Dia merasa saat ini ia adalah obat nyamuk berada di sudut ruangan atau seperti kacang busuk yang dijual oleh pedagang asongan. 'Terabaikan' ,'terisolir','makhluk tak berguna','makhluk tak penting' memikirkan itu rasanya ia ingin bunuh diri saat ini juga.
Dalam diam Naruto berjalan kembali dan diikuti kedua sahabatnya yang saat ini juga merasakan hal yang sama dirasakan oleh remaja pirang tersebut.
###
Tiga orang remaja, dua laki – laki dan satu perempuan terlihat keluar dari gerbang kota sebelah utara, mereka berjalan pelan dalam diam sampai sesuatu menarik perhatian mereka. Seorang player laki sedang berlari tertatih – tatih ke arah mereka sebelum akhirnya ambruk di depan mereka bertiga. Pakaiannya sedikit rusak dan terdapat luka di beberapa bagian.
"Hosh hosh hosh, to-to-long hosh tolong kami." ujar pemain tersebut nafasnya tersengal – sengal seakan kekurangan oksigen.
Melihat hal itu Sakura berlutut dan mendekati player itu lalu menyembuhkannya.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu lalu ceritakan apa yang terjadi!" ujar Sakura dengan nada lembut.
Beberapa detik berlalu dan akhirnya setelah menenangkan diri serta mengatur nafas, ia melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda.
"Tolong bantu kami, tak seberapa jauh dari sini terdapat dugeon yang bernama «Lost Temple». Pada awalnya semua berjalan lancar, kami berburu beberapa ogre di sana. Namun entah mengapa tiba – tiba banyak monster sejenis namun sedikit berbeda yang respawn[3] padahal kami belum membunuh ogre yang sedang kami hadapi. Dan parahnya monster – monster tersebut selalu bertambah dengan jumlah yang tak terkendali." ujarnya menjelaskan.
"Hmmm jadi terjadi bug[4] di dalam game? Itu tak mengherankan sih, server juga belakangan ini tidak stabil karena sering dilakukan update maupun perbaikan system." ujar Sasuke menanggapi setelah memcerna informasi yang ia dengar.
"Yah itu memang benar. Namun yang lebih parahnya ialah walaupun HP kami telah habis dan memilih opsi agar dihidupkan kembali, bukannya pada Save Area yang aman seperti yang telah diatur pada system tapi malah pada tempat kami mati tadi. Sehingga berapa kalipun kami dihidupkan HP kami akan jatuh ke titik nol lagi dan lagi. Aku berhasil melarikan diri setelah beberapa kali dihidupkan kembali namun temanku saat ini masih terjebak di sana. Untuk itu kumohon!—Tolong ~ tolong bantu temanku.." ujarnya dengan suara yang lebih tinggi diakhir kalimat.
"Kalau begitu bisa kau tunjukkan jalannya?" ujar suara menanggapi.
Suara itu bukanlah berasal dari Naruto, Sasuke maupun Sakura tapi berasal dari seseorang di belakang mereka.
"Bisa kau tunjukkan jalannya?" tanyanya kembali.
Sosok itu tidak asing bagi mereka bertiga, bagaimana tidak? baru beberapa saat lalu mereka bertemu, tidak mungkin mereka langsung melupakannya kan?. Seseorang Knight Swordsman bernama Asuka bersama kedua bocah yang setia mengikutinya berjalan mendekat ke arah mereka berempat.
###
"Hah hah hah, apa maksudnya ini? Bukankah ogre hanyalah monster level menengah ke bawah? Aku kira sendirianpun aku bisa mengalahkan mereka dengan mudah walaupun monster itu mempunyai jumlah yang tak sedikit . Tapi nyatanya- «Black Ogre»? apa – apaan monster ini? ada apa dengan imbuhan 'Black' pada namanya itu? Monster ini bukan lagi berada di level menengah tapi hampir mendekati level boss pada mid-level dugeon. Apalagi jumlahnya yang tak pernah berkurang justru malah semakin banyak.." ujar Asuka sambil terengah – engah, tanda tanya besar memenuhi pikirannya saat ini.
"Maafkan aku karena telah membawamu pada masalah ini pak.." ujar seseorang di sampingnya, ia adalah pemuda yang meminta bantuan tadi.
"Hei aku ambil pedang ini dan kau ambil armornya, barang – barang yang tidak terlalu berguna bagi kita bisa kita jual, sementara gold hasil penjualan serta yang berasal dari drop item kita kumpulkan dan kita bagi rata berdua.."
"Baiklah, aku setuju.."
Suara dua player lainnya terdengar oleh pria tersebut, memang tak begitu jelas apa yang sedang dibicarakan oleh kedua bocah yang secara tidak sengaja ia temui di kota tersebut. Saat mereka menemaninya datang ke dugeon ini, mereka memang bilang tidak bisa membantu banyak, dan agar dirinya bisa tetap fokus menghadapi monster – monster yang jumlahnya tak kunjung berkurang ini, mereka menawarkan diri untuk mengumpulkan drop item yang jatuh dari monster yang berhasil ia kalahkan.
"Hei kalian berdua jangan hanya berdiam diri saja, setidaknya bantulah kami sedikit." ujar Asuka kepada dua bocah yang saat ini tengah berdiri di bagian temple yang lebih tinggi sehingga tidak ada monster yang menyerang mereka.
"Khu-khu-khu— membantu kalian?— untuk apa? Kau sendiri yang mempunyai level jauh di atas kamipun tak bisa berbuat banyak. Kalau kami ikut membantu, itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi memang tujuan awal kami memang bukan untuk membantumu sih—. Yah, setidaknya kami mendapat untung dengan mengikutimu. Dengan item yang kami dapatkan sekarang, kami sudah bisa membeli satu set equipment lengkap serta senjata baru dengan kualitas yang cukup tinggi bagi level kami saat ini.." ujar bocah berambut coklat sambil menyeringai licik, mereka sedang duduk jongkok di pinggir wilayah tinggi tersebut beberapa meter di atas Asuka. Bagaimana bisa mereka di atas, sementara dirinya tertahan di sini? itu karena mereka melarikan diri sesaat sebelum para ogre ini respawn entah setelah ia kalahkan untuk yang keberapa kembali kalinya, meninggalkan dirinya dan membuatnya terkepung seperti sekarang.
Cih—
Asuka mendecih pelan, sebenarnya ia tak terlalu peduli dengan game. Kalaupun ia ditipu di dalam game, itu tak akan menjadi masalah. Baginya bermain game hanyalah untuk menghilangkan stress dan bersenang – senang, walaupun tak dipungkiri ia bisa menghasilkan beberapa lembar uang dengan cara menjual beberapa item berkualitas baik yang ia dapatkan kepada teman - temannnya di dunia nyata. Meskipun ID nya terkena hack dan semua gold beserta itemnya hilang itu tetap tak menjadi masalah. Walau bagaimanapun ia telah bekerja sebagai salah satu pejabat pemerintahan. Kehilangan sedikit uang karena ID nya terkena hack tak akan membebani keuangannya karena penghasilannya lebih dari cukup untuk menutupinya. Sebagai pejabat pemerintahan yang baik ia selalu berusaha untuk jujur dalam bekerja. Namun melihat kedua bocah yang mungkin saja suatu hari nanti menggantikannya sebagai penerus dalam memerintah negara mempunyai sifat dan sikap seperti ini, membuat kepalanya pusing. Yah, jika kebanyakan generasi penerusnya dari usia kecil saja sudah pandai berbohong mau dibawa kemana negara ini nantinya?.
Tanpa mereka semua sedari tiga buah siluet manusia berjalan mendekati kedua bocah tersebut. Salah satu dari mereka ikut berjongkok tepat di belakang kedua anak laki – laki tersebut, ikut mendengarkan percakapan dua bocah tersebut dengan seseorang pria di bawah mereka. Dan tepat sesaat setelah salah satu bocah selesai bicara sesuatu tak tertuga terjadi.
Uwaaaaa.. Ooooo.. Bruk—
Grrrr.. Buk buk buk—
Arghhhhh—
Dua teriakan kaget keluar dari mereka berdua sebelum akhirnya terdengar suara benda yang terjatuh. Merasakan dua makhluk asing yang tiba – tiba memasuki wilayah mereka membuat para ogre tersebut geram dan akhirnya menghajar kedua makhluk tersebut beramai – ramai. Tak berapa lama teriakan kesakitan terdengar dari tengah kerumunan monster tersebut. Melihat hal ini, membuat pria yang menjadi lawan bicara mereka berdua tadi bingung. Bagaimana bisa mereka tiba – tiba terjun ke bawah? Terpeleset? Tidak mustahil, namun terdengar sangat konyol. Namun, setelah ia mengarahkan matanya ke atas ia menemui jawabannya.
"Yo pak tua, kelihatannya kau sedikit kerepotan. Butuh bantuan?" sapa Naruto sambil memejamkan mata dan tersenyum serta megangkat tangannya kepada pria di bawahnya.
Kretek kretek—
Suara buku – buku jari yang diremas – remas itu berasal dari Sakura.
"Tak usah basa – basi Naruto, sudah lama aku tak bersenang – senang. Ayo serang saja langung." ujarnya sambil mengeluarkan mace[5]nya.
"Sekalian juga menghilangkan sedikit stress.." tambah Sasuke.
"Kalian benar.." ujar Naruto sambil menghunuskan pedang di punggungnya.
"Baiklah, sekarang maju!—" teriaknya lantang.
###
Siiinnnggg—
Desingan suara yang khas terdengar, tak lama kemudian sosok remaja perempuan berambut merah menyala muncul disertai cahaya biru di sekitarnya. Sudah lama ia tidak mengalami sensasi saat log in ke dalam game seperti ini lagi. Jika kalian berfikir dia adalah seorang player, maka dipastikan bahwa kalian salah paham. Memang dulu ia pernah menjadi salah satu pemain di game Lost Saga ini, namun itu hanyalah masa lalu. Alasannya datang ke dunia ini karena ia mendapatkan laporan mengenai bug yang terjadi di dalam game. Dan sudah menjadi tugasnya untuk memeriksanya sebagai staff developer game yang mengurusi bagian cheat dan bug. Memasang kacamata khusus berdesign canggih ia lalu melangkahkan kakinya ke koordinat player yang mengirimkan laporan.
Setelah sampai di depan pintu masuk Lost Temple, remaja putri tersebut dikejutkan oleh seorang paruh baya yang sedang berjalan keluar dengan terseok – seok sampai harus menggunakan pedangnya sebagai alat bantu dalam berjalan.
'Sial kelihatannya aku telat' batinnya, ia lalu segera menghampiri pria tersebut.
"Anda tak apa tuan? Aku mendengar terdapat laporan bug yang terjadi di dalam game. Apa anda mengetahuinya?" tanyanya.
"Ah soal itu ya, aku rasa kau tak perlu lagi memikirkannya.." respon pria bernama Asuka.
"Apa maksudmu?" tanya lawan bicaranya lagi.
.
.
.
Uooooo.. Booom.. Zrash.. Buk—
Teriakan, suara pukulan dan benturan senjata bisa terdengar. Tiga orang sosok sedang bertarung di pusat tempat monster bernama Black Ogre itu yang tak henti – hentinya diproduksi secara massal. Namun anehnya kumpulan monster yang jumlahnya tak kunjung berkurang tadi saat ini justru menghilang, memang walaupun menghilang bukanlah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kejadian ini.
Beberapa monster bertubuh hitam seperti manusia besar kepala dua, dengan jumlah yang tak sedikit meskipun masih dapat dihitung oleh jari muncul secara bersamaan. Namun bahkan sebelum monster tersebut membuka matanya ia telah hancur berkeping – keping dan kembali kepada sang dewa digital.
Hal ini tak ayal membuat beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka terkagum – kagum. Ekspresi mereka terlihat seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Hell— monster yang mereka hadapi mempunyai level yang lumayan tinggi dan mereka menghancurkannya seperti anak kecil yang menginjak – injak sekumpulan semut yang baru keluar dari sarangnya— Sangat mudah.
Setelah tersadar dari keterkejutannya, remaja wanita yang tadinya memang bertugas mengatasi masalah inipun mendekati mereka. Ia berjalan sambil meremas kedua tangannya sekuat tenaga. 'Tak disangka aku akan bertemu dengan mereka berdua lagi di sini' ujarnya dalam hati.
"Hei kalian.." teriaknya lantang.
Mendegar suara itu, yang pertama kali merespon adalah Naruto. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, namun setelah melihat siapa yang memanggil mereka, ekspresinya berubah. Mulutnya seketika terbuka lebar dan badannya membeku. 'Ka-Karin? Bagaimana ia bisa berada di sini?' pikirnya, namun ia segera sadar setelah menghubungkan kejadian mereka saat ini dengan pengetahuannya tentang pekerjaan wanita yang berada di depannya saat ini.
"Uwaaaaaa— Sasuke, ada iblis merah—" teriaknya kepada sahabat laki – lakinya yang sedang bertarung tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Haah? Apa katamu?" respon Sasuke sambil menolehkan kepalanya ke arah Naruto, seketika itu pula ekspresinya terlihat tak jauh berbeda dari sahabat pirangnya tadi.
"Aaaaa, cepat lari Naruto! Selamatkan nyawamu!—" teriaknya lantang lalu mengambil langkah seribu sambil menarik Sakura yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mendengar teriakan Sasuke tersebut, secepat kilat Naruto juga ikut berlari mengejar kedua sahabatnya.
"Kenapa sepupumu itu bisa ada di sini Naruto?" teriak Sasuke kepada Naruto di tengah lari mereka.
"Tak usah banyak berfikir, yang terpenting sekarang terus lari dan selamatkan nyawa kita.." balas Naruto.
.
.
.
-_-"
Tes—Sweatdrop
Melihat hal ini tak ayal membuat siapapun yang menyaksikannya bingung, pasalnya ketiga orang yang baru mereka temui tadi sudah lari seperti habis melihat setan. Apa perempuan berambut merah ini sangat menakutkan sehingga membuat mereka semua lari tunggang langgang?.
"Anoo, kenapa mereka kabur setelah melihat anda nona?" Tanya Asuka penasaran.
"Itu tak ada hubungannya dengan anda, jadi tak perlu banyak bertanya tuan.." jawabnya pelan sambil tersenyum bak iblis yang menemukan mangsanya.
Hosh hosh hosh—
"Sudah aman?" tanya Naruto dengan nafas yang tersengal – sengal.
"Aku rasa begitu hosh—" tanggap Sasuke.
"Hei, kalian berdua sebenarnya ada masalah apa kalian dengan wanita tadi sampai membuat kalian lari terbirit – birit seperti ini?" tanya Sakura penasaran. Ia dari tadi hanya ikut berlari mengikuti mereka berdua karena ditarik secara paksa oleh Sasuke tanpa mengetahui apapun.
"Ah itu mm— apa ya hmm— ah aku lupa alasannya. Apa kau ingat Naruto?" respon Sasuke.
"Hehehehe aku juga lupa. Seingatku aku pernah melakukan sesuatu yang buruk dimasa lalu kepada Karin tapi aku lupa itu apa.." jawab Naruto tersenyum canggung sambil menggaruk – garuk belakang kepalanya.
Buk.. Buk—
"Ittai-" teriak mereka berdua bersamaan setelah dipukul kepalanya oleh Sakura.
"Dasar bodoh kalian membuatku ikut berlari bersama kalian seperti kawanan pencuri hanya karena alasan tak jelas seperti itu?" amuk Sakura.
"Gomen gomen Sakura-chan.." ucap Naruto mengiba.
"Huh, sudahlah itu tak penting lagi, sebaiknya kita ke toko saja. Aku ingin membeli beberapa item sekaligus memperbaiki mace-ku. Clarity[6]ku juga habis karena terlalu sering digunakan agar bisa mengheal kalian berdua tadi.." ujar Sakura kesal.
"Oiya aku tau toko yang bagus untuk berbelanja" ujar Naruto girang.
###
Sebuah toko yang tak terlalu besar namun juga tak terlalu kecil adalah tujuan mereka selanjutnya, lalu seorang gadis yang terlihat seperti penjaga toko berjalan keluar untuk membuka toko tersebut.
"Pagi Ayame-san.." sapa Naruto dengan nada ceria.
"Oh Naruto-kun kau datang lagi? Pagi—" sapanya lembut sambil memejamkan mata dan tersenyum manis.
"Ah kau mau membuka tokomu?" ujar Naruto lagi.
"Ya kau benar. Apakah ada yang Naruto-kun butuhkan?" tanyanya ramah.
Dan percakapan mereka berduapun terus berlanjut. Melihat interaksi yang menurutnya agak aneh ini membuat Sasuke mengkerutkan dahinya.
"Hei Sakura apa kau merasa ada yang aneh dengan NPC tersebut?" bisik Sasuke pelan kepada Sakura.
"Memang apa yang aneh? Menurutku dia terlihat sama seperti NPC – NPC yang lainnya.." balas Sakura juga dengan pelan.
"Bukan, bukan penampilannya. Apa kau tak merasa aneh dengan sikap NPC tersebut? biasanya NPC hanya akan berbicara dan merespon sesuai dengan data dan program yang ditentukan padanya. Namun dari caranya berbicara dan merespon Naruto, NPC perempuan ini bersikap sangat alami, tak ada bedanya dengan manusia seperti kita.." ujar Sasuke menerangkan alasannya.
"Jika kau berkata seperti itu aku rasa kau ada benarnya Sasuke.." tanggap Sakura.
"Oi Sasuke apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" ucapan Naruto membubarkan perbincangan mereka.
"Ah iya ada, sebentar." respon Sasuke kaget saat tiba – tiba ditanyai Naruto.
"Item ini adalah «Hard Fabric» aku mendapatkannya dari monster yang baru saja kita hadapi, apa kau tau berapa harganya jika kami jual?" tanya Sasuke kepada NPC penjaga toko bernama Ayame.
"Coba aku lihat sebentar.." ujar Ayame sambil mengambil benda yang dikeluarkan Sasuke lalu memindainya dan mencarinya pada database.
"Maaf, aku tidak tau berapa harganya. Item ini tidak ada pada database yang ada di system.." ujarnya dengan nada menyesal karena tidak bisa membantu.
"..Harganya sekitar lima ratus gold perbuah setelah update." suara asing tiba – tiba ikut masuk ke dalam percakapan mereka.
1 detik
2 detik
3 detik
"Uwaaaaa" teriakan kaget mereka bertiga secara bersamaan.
"I-i-blis merah, ah ma-maksudku Karin kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Naruto tergagap – gagap.
"Kau tadi memanggilku apa Na-ru-to-kun?" tanya Karin dengan nada manis namun kontras dengan aura membunuh yang keluar dari tubuhnya.
Glek— Naruto hanya bisa terdiam dan menelan ludah.
"Ah aku tak peduli kau memanggilku apa. Yang terpenting sekarang aku mau menyelesaikan urusan dengan kalian berdua." ujarnya sambil menoleh ke arah Sasuke.
Glek— Sekarang giliran Sasuke yang menelan ludah dan tersenyum kikuk.
Tap Tap Tap—
Perlahan tapi pasti langkah kakinya mendekati Naruto dan Sasuke. Sementara mereka berdua, perlahan – lahan juga melangkah mundur seiring langkah kaki itu kian mendekat.
"Tu-tung-tunggu dulu, sebelum kau melakukan apapun bisa tolong jelaskan apa yang telah kami perbuat hingga membuatmu marah?" tanya Naruto panik sambil melambai – lambaikan tangannya ke depan.
"Apa—? Jadi kalian tidak ingat apa yang telah kalian lakukan kepadaku dulu?" tanya Karin dengan nada berat.
Naruto dan Sasuke hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya cepat bersamaan.
"Hal yang kalian lakukan adalah sesuatu yang tak pernah bisa aku lupakan, perbuatan kalian tak akan pernah aku maafkan. Dosa besar yang bahkan tuhanpun tak akan mau memaafkannya. Kalian tau, di masa lalu kalian pernah— pernah— pernah— pernah apanya, kau tau?" ujarnya dengan nada semakin pelan di akhir kalimat sambil menoleh kesamping dan bertanya ke arah Ayame.
Gubrak— mendengar hal ini tak ayal membuat Naruto, Sasuke bahkan Sakura tersungkur kebelakang secara bersamaan. Sementara Ayame yang ditanyai hanya memiringkan kepalanya sambil memejamkan mata dan tersenyum ramah "Entahlah, aku juga tidak tahu" ujarnya innocent.
Yang bangkit pertama dari keadaan tak terduga itu adalah Sakura yang mau tak mau tersulut emosi melihat tingkah konyol ketiga orang menjengkelkan ini.
"Hei wanita gak jelas, jika kau sendiri tak tau alasannya kenapa kau sampai marah – marah begitu?" ujarnya jengkel.
"Jangan salahkan aku, kejadian itu sudah cukup lama terjadi. Dan entah mengapa setiap melihat mereka berdua aku selalu saja ingin membunuh mereka.." ujar Karin sambil menunjuk ke arah Naruto dan Sasuke.
Hiiiiii—
Mendengar hal itu membuat Naruto dan Sasuke bergidik ngeri dan saling berpelukan.
"Huh, jika begitu saat ini sebaiknya kau pulang dan coba mengingat kembali kesalahan yang mereka perbuat.." ujar Sakura.
"Hmmmm aku rasa kau benar, baiklah aku pergi dulu.." ujar Karin pergi menjauh sambil memegang dagunya. Sepertinya ia sedang berpikir keras sehingga secara tak sadar langsung menuruti perkataan yang diucapkan Sakura.
Tak lama setelah Karin sudah tak terlihat lagi kedua laki – laki tersebut menghembuskan nafas lega.
"Cih gadis itu seperti jelangkung saja. Datang tak dijemput pulang tak diantar." dengus Sasuke.
Tiba – tiba saja Naruto berteriak ke arah Karin pergi tadi.
"Sialan kau— dasar iblis merah, jika saja bukan perempuan pasti akan ku— uwaaaaaa"
Cling—
Bahkan sebelum Naruto selesai menyelesaikan kalimatnya tubuhnya telah terbang melayang menjadi satu satu bintang yang bersinar terang di angkasa.
"Jangan banyak bicara kau Naruto— jika tidak akan ku hajar kau" ucap Sakura tengan tangan yang masih mengepal setelah meninju dan menerbangkan Naruto.
-_-" 'Kau sudah melakukannya Sakura' batin Sasuke sweatdrop.
.
Penjelasan
[1] Enchance : Upgrade atau penguatan, ditandai dengan tulisan +1, +2, +3 dst.
[2] NPC : Non Player Character, karakter buatan di dalam game.
[3] Respawn : Proses penghidupan kembali karakter yang telah telat mati.
[4] Bug : Kesalahan atau eror yang terjadi dalam suatu program maupun system.
[5] Mace : Palu tempur.
[6] Clarity : Item yang bisa memulihkan Mana Point (MP) yang digunakan untuk mengaktifkan skill.
.
Author Note :
5k++ word apakah kepanjangan? Menurutku ini masih pendek dibandingin Light Novel yang biasa saya baca, tiap satu bab atau chapternya aja bisa sampai puluhan ribu word (baca lewat handphone biar gk pusing). Jujur model penulisan kayak gini kurang begitu saya senangi, saya lebih suka menulis cerita dimana jalan penulisannya itu sebagian besar menggunakan sudut pandang tokoh utama seperti pada LN Sword Art Online atau High School DxD. Tapi membuat cerita yang seperti itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikerjakan bagi pemula seperti saya. Hahaha di chapter ini sudah saya selipkan sedikit petunjuk mengenai konflik utama story ini, entahlah ada yang menyadarinya atau tidak. Ada juga istilah «Kings», bagi kalian yang penggemar Reki Kawahara (pengarang SAO) pasti tau saya ambil ide itu dari mana hehe :D Oh ya ada yang mau OC atau chara favouritenya masuk salah satu diantara mereka? Silahkan usul kalau bisa disertai penampilan dan skill – skill mereka (harus sesuai dengan ketentuan game Lost Saga pastinya), siapa tau saya masukin :D
Terima kasih bagi para reader yang telah review sebelumnya. Saran, kritik maupun pertanyaan tetap saya terima dengan senang hati.
Jadi Review please! :D :D
