Hyuk sedang menemani ibunya merapikan baju di depan perapian di ruang tamu rumahnya. Ia menatap salju dari balik jendela, naluri bermainnya pun muncul. Ia ingin merasakan lembutnya salju sembari membuat boneka salju seperti yang pernah di buat oleh ibunya.
"Ibu! Ibu!" rengek Hyuk.
"Iya, nak." Jawab Nara sambil terus melipat baju - baju mereka .
"Apa aku boleh bermain salju di luar?" tanya hyuk sambil menarik - narik lengan baju ibunya.
Pandangan Nara kemudian beralih ke arah jendela rumah, ia melihat cuaca di luar lumayan cerah. Walaupun di Hutan Terlarang memang jarang bisa melihat sinar matahari. Namun nampaknya hari itu salju tidak ingin menuruni bumi. Nara pun mengiyakan permintaan anaknya. Hyuk lalu berlari keluar rumah dengan bersemangat.
Ketika sudah berada di halaman rumah, ia pun mengumpulkan bola – bola salju dan mencoba untuk membuat boneka salju dengan tangan kecilnya. Tidak membutuhkan waktu lama, sejumlah boneka salju tampak menghiasi perkarangan rumahnya. Hyuk memandang hasil karyanya, sebuah senyum bangga terlihat di wajahnya. Kini pandangannya beralih ke tumpukan salju didekatnya, Hyuk berusaha berbaring di atas salju dan membuat pola kupu – kupu dengan tubuhnya. Sehingga membuat sebagian telinga serigalanya tertutup oleh salju. Setelah lumayan lama bermain salju ia mulai merasa kedinginan. Dan ia teringat jika belum lama ini ia sudah bisa berubah menjadi serigala. Wujud serigala tersebut bahkan mampu membuatnya kebal terhadap dinginnya udara musim dingin yang menusuk.
'Ah, apa aku bermain dengan wujud serigalaku saja ya.' pikir Hyuk.
'Tapi jika aku berubah apa ibu akan mengizinkan?' Hyuk kembali bergumam bergulat dengan pikirannya sendiri.
'Tapi sepertinya ibu tidak masalah jika aku bertransformasi, kan aku hanya bermain di sekitar rumah saja.' putus Hyuk sambil perlahan merubah wujudnya menjadi serigala putih kecil yang hampir sama dengan warna salju.
Hyuk berlari kesana kemari dengan wujud serigalanya. Merasakan dinginnya salju di telapak kaki serigalanya. Perasaan senang dan bahagia itulah yang di rasakannya saat ini. Ketika Hyuk sedang asyik – asyiknya berlarian, tanpa sengaja ia merasakan sebuah pergerakan dari arah semak – semak. Kemudian ia mengarahkan matanya ke arah semak – semak itu. Dilihatnya disana ada seekor kelinci yang badannya tidak terlalu besar. Bulunya yang putih seputih salju membuat tubuh kelinci itu terlihat seperti menyatu dengan warna salju di sekitarnya. Jika bukan karena kedua matanya yang berwarna merah sama seperti mata vampire Hyuk mungkin saja ia tidak akan menyadari kalau ada seekor kelinci disitu. Kelinci itu terlihat sedang merapikan bulu – bulu putihnya dengan kedua kakinya yang kecil.
Insting berburu Hyuk sebagai serigala pun bangkit, membuat ia mengendap – endap untuk menyergap kelinci itu. Dia langkahkan kakinya perlahan – lahan, mencoba menahan berat tubuhnya agar tidak menimbulkan sebuah suara. Matanya memandang lurus ke arah kelinci itu. Namun sayang saat ia sudah hampir mendekat, kakinya tidak sengaja menginjak sebatang ranting kecil yang ada di atas salju dan menimbulkan sebuah suara, sehingga kelinci yang akan menjadi mangsanya itu tersadar jika dirinya dalam bahaya. Kelinci itu pun akhirnya kabur menjauhkan dirinya dari Hyuk.
Hyuk yang merasa tertantang dengan pergerakan kelinci itu, akhirnya berusaha mengejarnya. Pohon demi pohon ia lalui, tidak peduli dengan dinginnya salju yang ia rasakan di kakinya. Hyuk terus saja berlari, ia hanya fokus mengejar kelinci itu. Berharap ia bisa mendapatkannya. Tanpa sadar ia sudah berlari menjauh dari rumahnya. Hyuk sudah mulai merasa lelah, langkahnya semakin melambat membuat jarak diantara keduanya semakin jauh. Kelinci itu melompat melewati sebuah barisan pagar, lalu mendekati sesosok gadis kecil seakan meminta pertolongan darinya.
"Ah, ada kelinci." Pekik gadis kecil itu. Suaranya terdengar ceria.
Kehadiran gadis kecil itu membuat Hyuk menghentikan pemburuannya, Ia memutar langkah kakinya untuk kembali pulang. Namun langkahnya terhenti ketika tiba - tiba sebuah aroma manis menusuk indera penciuman sang serigala kecil. Aroma manis nan memabukkan yang berasal dari gadis kecil itu. Hyuk akhirnya mengurungkan langkah kakinya untuk pulang. Kemudian ia berdiri di belakang sebuah pohon pinus yang lumayan besar cukup untuk menyembunyikan tubuh serigala kecilnya. Ia hanya memandangi sosok gadis kecil itu dari balik pohon.
Gadis itu sedang berjongkok membelai tubuh kelinci putih buruan Hyuk. Gadis itu memakai mantel musim dingin berwarna putih dengan legging berwarna hitam yang cukup tebal untuk melindungi kakinya dari dinginnya udara. Ia mengenakan sepatu boot berwarna coklat. Kepalanya sedikit menunduk, membuat tudung mantel putih tebal yang ia gunakan menutupi wajahnya. Rambut panjangnya yang berwarna coklat menyembul dari balik tudung mantel putih yang ia gunakan. Hyuk pun semakin penasaran dengan sosok gadis itu. Ia akhirnya memberanikan diri keluar dari persembunyiannya menuju gadis kecil dan kelinci putih tersebut dengan agak mengendap - ngendap.
"Wah, ada anak anjing. Lucunya"
Gadis itu akhirnya menyadari kehadiran sosok Hyuk. Dimatanya, sosok Hyuk sama seperti anak anjing lainnya dengan bulu berwarna putih dan dua mata yang berwarna berbeda. Satu berwarna gold dan satunya lagi berwarna merah. Gadis itu melepaskan kelinci yang ada di dekapannya dan ia menghampiri Hyuk, mencoba membelainya.
"Kamu kenapa menghindariku? Apa kamu takut, jangan takut aku tidak akan menyakitimu?" rayu gadis kecil itu kepada Hyuk.
Hyuk yang sedikit ketakutan pun mencoba untuk menghindar. Namun urung karena aroma manis yang dikeluarkan oleh gadis tersebut semakin kuat.
"Apa kamu memiliki nama? Atau aku harus memberimu nama?" celoteh gadis kecil itu sambil membelai kepala serigala Hyuk. Hyuk menyenderkan kepalanya di tangan gadis kecil itu. Merasakan sebuah kenyamanan dan kehangatan di setiap belaian yang ia peroleh dari tangan kecil gadis itu.
Hyuk sekarang bisa melihat jelas sosok gadis itu. Rambutnya lurus berwarna coklat dengan sedikit gelombang di ujungnya. Matanya berbentuk bulat menyerupai kacang almond dengan bola mata berwarna hijau. Kulitnya berwarna putih sedikit pucat. Rona merah tampak menghiasi pipinya yang sedikit chubby.
"Aku suka warna bulumu." celotehnya lagi sambil memeluk tubuh serigala Hyuk. Serigala Hyuk tak tahu harus berbuat apa dalam dekapan gadis tersebut. Aroma manis semakin semerbak di hidungnya membuat ia terlena. Ia pun mencoba meresapi aroma manis yang dikeluarkan oleh tubuh gadis kecil itu. Namun yang pasti dia nyaman dan tak ingin lepas dari dekapan gadis kecil tersebut
"Ara! Kim Ara! Kamu dimana?" sebuah suara menyela keakraban diantara Hyuk dan Gadis kecil itu.
"Tunggu, Jangan pergi!" teriak Ara. Seakan tersadar, Hyuk pun akhirnya lari kembali ke dalam Hutan Terlarang.
Hyuk berlari pulang dengan perasaan gembira. Ia berlari sekencang – kencangnya agar ia bisa cepat sampai ke rumah dan menceritakan semua yang baru ia alami kepada sang Ibu. Ia pulang masih dengan bentuk serigalanya. Ketika sudah sampai rumahnya, Ia mendobrak pintu langsung mencari ibunya. Dilihat Nara sedang memasak makan malam untuknya di dapur. Ia lalu menghampiri ibunya, karena terlalu bersemangat ia pun tak sengaja menabrak kaki ibunya.
"Astaga!" pekik Nara merasa kaget. Nara lalu melihat ke arah kakinya. Seekor serigala kecil sudah berada disana. Matanya yang berwarna merah dan gold membuat Nara sadar kalau itu adalah anaknya.
"Hyuka! Sejak kapan kau bisa berubah menjadi serigala?" pekik Nara mulai panik. Hyuk pun kembali ke wujudnya semula.
"Ibu! Ibu! Tahu tidak tadi aku bertemu gadis cantik, rambutnya coklat, matanya bulat. Ah, matanya seperti vampire beriris hijau yang pernah kita temui di kerajaan vampire. Dan dari tubuhnya tercium aroma manis. Ia sangat cantik seperti peri." Cerita Hyuk yang antusias menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Matanya berbinar – binar. Perasaan senang dan bahagia terdengar jelas dari suaranya. Sedangkan ibunya hanya bisa mengernyitkan dahinya. Bingung itulah yang dirasakan oleh Nara. Nara mulai merasa pusing, tangannya memijat – mijat pelipisnya. Ia mencoba menelaah informasi yang baru saja ia dapatkan, ditambah lagi sekarang anak semata wayangnya yang sudah bisa berubah menjadi serigala. Nara mencoba menenangkan dirinya. Kemudian ia berjongkok agar tingginya bisa sejajar dengan anaknya.
"Hyukie, coba dengarkan ibu." Nara memegangi pundak Hyuk sambil menatap tajam ke mata nya. Tangan satunya lagi mencoba mengelus pipi sang anak. Hyuk hanya bisa memandangi tatapan sang Ibu.
"Lain kali kalau kau mau berubah menjadi wujud serigala lebih baik kau lakukan di dalam rumah saja. Mengerti?" Perintah Nara dengan tegas.
"Tapi bu..."
"Hyuka, kau tahu kan bagaimana sikap para vampire di kerajaan vampire tentang werewolf. Ibu hanya tidak ingin kau celaka nanti." Jelas Nara. Hyuk pun hanya bisa menunduk terdiam.
"Kau tahu kan kalau ibu sayang sekali dengan dirimu. Ibu hanya tidak ingin terjadi apa – apa denganmu." Tambahnya lagi sambil memeluk tubuh kecil Hyuk.
"Maafkan aku, Ibu." Hyuk pun membalas pelukan ibunya.
"Dan satu lagi. Lain kali kalau main jangan jauh – jauh yah."
"Baik Ibu." Hyuk menganggukan kepalanya.
"Lebih baik sekarang kau ganti bajumu dulu, sementara ibu menyiapkan makan malam." Perintah Nara. Lalu Hyuk berjalan ke arah kamarnya. Nara kemudian duduk di kursi meja makan. Tangannya mencoba memijat dahinya yang sedikit sakit.
"Seandainya ayahmu ada disini Hyukie, pasti ibu tidak akan sebingung ini membesarkan seorang anak werewolf seorang diri." Gumam Nara.
"Aku rindu ayahmu."
