Handkerchief

Disclaimer : Kishimoto-sensei, yang minjemin aku Naruto-nya

Chapter 4

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Chotto, Renge!! Mau kemana?"

Gadis itu tak mempedulikan teriakan Itachi jauh dibelakangnya. Dirinya hanya ingin lari, lari sejauh mungkin dari sesuatu yang tak ingin ia tahu namanya…

Akiko…

Dadanya terasa sakit, derita yang dipendamnya muncul tiba-tiba ke permukaan. Ke permukaan dunia yang penuh kepalsuan, dunia dalam pikirannya…

Semua tentang sesuatu bernama Akiko…

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

(kediaman Akuma, lima tahun sebelum mereka dihancurkan)

Sekelompok pria menurunkan sepasang peti mati ke dalam lubang persegi panjang. Pemakaman itu benar-benar sunyi, tak ada tangis atau ratapan di udara. Orang-orang yang mengelilingi kedua lubang itu hanya menundukkan kepala, tanpa ekspresi sebagai ungkapan belasungkawa. Begitu tanah terakhir sudah terlempar ke gundukan makam, pria yang tampak sebagai sesepuh barkata,

"Akuma Suzume dan Akuma Tsubame, selamat jalan…meski misi yang kalian lakukan gagal dan kalian jatuh dalam perangkap musuh, kami tidak akan pernah melupakan jasa-jasa kalian…"

Sang pemimpin klan terus berbicara panjang lebar, sementara orang-orang di belakang mulai berbisik-bisik sendiri.

"Bukannya Suzume dibunuh atas perintah adiknya, Rokkuzu? Gara-gara si adik iri dengan kakaknya, yang dipilih menjadi pewaris klan padahal tubuhnya sering sakit-sakitan…"

"Bukan dibunuh, tapi dipaksa berubah menjadi Chaos. Katanya, ia dikepung seratus orang, dalam situasi seperti itu pilihan hanyalah mati atau menjadi Chaos. Baginya, jika ia menjadi Chaos, ia masih bisa bersama-sama dengan istrinya yang saat itu sedang hamil…"

"Menyedihkan…tiga tahun kemudian chakranya baru bisa dibawa pulang. Tsubame shock melihatnya, menyebabkan kesehatannya menurun dan meninggal tiga hari setelahnya. Meninggalkan putri mereka yang masih kecil…"

"Katanya Rokkuzu tak merestui pernikahan kakaknya, menurutnya Tsubame tidak pantas menjadi istri pewaris klan…tapi, ayah mereka tak sependapat."

Rupanya sang pemimpin klan telah selesai berbicara, orang-orang bubar. Namun seorang gadis hanya menatap bisu sepasang gundukan tanah merah segar, kaku disana.

"Natsumi…" sang pemimpin klan mendekatinya, membelai kepalanya, "ayo,…kita pulang…sepertinya nanti akan turun hujan…"

Natsumi, dengan ekspresinya yang beku, hanya mengangguk pelan. "hai,,ojiisan…"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Mulai sekarang, Natsumi, cucuku yang akan menjadi pewaris klan ini. Semua,…aku ingin kalian mendukungnya…"

Tapi, keadaan tak selalu sama dengan yang kita harapkan.

"Tatsuo-san!! Tunggu aku dong!!" Natsumi nampak sedang mengejar-ngejar seorang anak yang lebih besar darinya.

"Huuu!! Payah! Coba tangkap aku kalau bisa! masa kemampuanmu cuma segitu, Natsumi!!!" Tatsuo berlari mengelilingi lapangan. Anak-anak disekitarnya tahu, Natsumi takkan pernah bisa menangkap Tatsuo, yang dua kali lebih besar darinya.

Sebelum satu putaran habis, Natsumi sudah memegangi kedua lututnya, sakit. Tatsuo masih mengejek-ejeknya dari seberang lapangan, "Cewek payah!!"

Kesal, tanpa disadarinya gadis itu melompat tinggi, sebuah hal yang mustahil dilakukan oleh anak seusianya. Semua anak-anak ternganga kaget. Tatsuo tak menyadari semua itu sampai ia mendapati Natsumi menerjang dan menimpa dirinya.

"Dapat!! Lihat, Tatsuo-san? Aku bisa,kan??"

Sunyi. Anak-anak tak mempercayai penglihatan masing-masing.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

sejak peristiwa itu, tak ada lagi yang mau bermain dengan Natsumi. Setiap kali anak itu datang, sepupu-sepupunya selalu menjauhinya. Lama-lama, karena sering diperlakukan begitu, Natsumi memilih bermain di hutan dekat perbatasan kastil Akuma dengan 'dunia luar'

"Aku belum pernah melihatmu di sekitar sini. Siapa kau?"

Suatu hari, seperti biasanya saat Natsumi sedang bermain sendiri, tiba-tiba sebuah suara menyapanya. Si Akuma muda hanya meliriknya, kemudian kembali sibuk sendiri.

Orang itu menghampirinya. Seorang anak perempuan yang seumur dengannya, dengan rambut biru pendek menyapanya, "konnichiwa…namaku Akiko. Anata?"

Natsumi mengacuhkannya, terus berlatih melempar kunai.

"Ayolah…nama saja tidak apa-apa kan?" Akiko menyodoknya dengan gagang sabit, "anata ninja ya?"

Kali ini usaha Akiko sedikit membuahkan hasil, Natsumi memandanginya dari ujung rambut ke ujung kaki, juga keranjang berisi rumput-rumput dan macam-macam jamur. "konnichiwa juga buatmu. Omong-omong aku juga tak pernah melihat penduduk desa berkeliaran sampai sini. Kalau keluargaku tahu, kau bisa dibunuh, tahu?"

Akiko mengerutkan dahi, "memang siapa sih…keluargamu itu?"

"setan." Jawab Natsumi tak peduli.

Diluar dugaan, Akiko malah tertawa. "bahkan setan pun tak menyebut keluarganya setan. Hahaha! Kecuali Akuma, tentu…"

DEG.

"aku sedang kesal sekarang," Natsumi berbohong, "aku ini Akuma. Kalau kau terus mengatakan hal yang aneh-aneh, kubunuh kau nanti."

Tawa Akiko berhenti. Matanya menatap Natsumi lekat-lekat, "oke Akuma-san…tapi aku baru tahu ada anak kecil yang memberi salam kenal dengan ancaman pembunuhan."

"kau sendiri juga anak kecil!"

"kalau begitu," Akiko menyodorkan tangannya, "siapa namamu?"

"Natsumi," katanya tanpa menoleh, "sekarang kau sudah tahu namaku, kan? Pergi sana!"

Akiko tersenyum simpul, kemudian bangkit berdiri,"tak apa. besok aku akan kembali untuk mencari tanaman obat lagi, kok. Jaa…"

Esoknya Natsumi bertekad takkan kembali ke tempat itu, namun sepupu-sepupunya masih tak mau berbicara dengannya. Akhirnya ia kembali bermain di hutan, tapi memilih bagian lain sebagai tempatnya bermain.

"ohayo, Natsumi-san! Mau main disini lagi ya?"

Bahu Natsumi langsung turun. Bibirnya mengerucut," kamu lagi."

"baguslah kalau begitu. Aku bawa sesuatu untuknu. Nih."

Akiko menyodorkan sebuah nasi kepal yang dibungkus daun tepat saat perut Natsumi berkeriuk keras.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

(bertahun-tahun kemudian)

"katanya jamur ini langka lo! Jamur yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit…"

Saat itu, keduanya telah berteman akrab, terutama bagi Natsumi, karena tak ada yang bisa akrab dengannya selain Akiko. Tentu saja Natsumi tak pernah menceritakan tentang keluarganya lebih jauh, begitu juga Akiko. Natsumi hanya tahu kalau temannya itu tinggal di desa seberang hutan dan bekerja di toko obat-obatan.

"hebat ya…ada yang seperti itu… Akiko, ada apa?"

Mendadak Akiko diam, pandangannya menghunjam tanah, kosong.

"Akiko sakit?"

"iie…"

"kenapa? Ada ap—"

Tepat saat itu sebuah bunyi nyaring terdengar menggema di langit, hanya Natsumi yang bereaksi terhadapnya, karena itu adalah tanda bahaya khusus milik Akuma, yang hanya bisa didengar oleh telinga chakra mereka. Natsumi tak sempat mengucapkan apa-apa pada Akiko, karena suara tanda bahaya itu semakin nyaring, yang menandakan situasi sangat gawat sekali.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

hujan turun, deras, namun tak menyurutkan semangat para Akuma untuk mencari siapa pembunuh pemimpin klan mereka. Beberapa orang membawa Natsumi ke menara, bersama jasad kakeknya dan Rokkuzu. Seseorang memanahnya dengan panah beracun yang langsung menewaskannya saat ia sedang berjalan-jalan di taman. Natsumi hanya menanti dengan penuh harap pembunuhnya ditemukan…

"otousan," sepupu Natsumi, Tatsuo, masuk, "mereka sudah menemukan pembunuhnya, juga mata-mata yang membawanya ke tempat ini."

Rokkuzu memalingkan wajahnya yang pucat dari jendela, ekspresinya memancarkan kelegaan, "benarkah? Kalau begitu aku akan turun. Natsumi, tunggulah disini."

Gadis itu menurut. Selama beberapa saat ia hanya menatap kosong wajah kakeknya. Lama-lama suara keributan di bawah terbawa angin sampai ke atas. Penasaran, ia turun.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

langkah Renge berhenti di pinggir kota. Lelah, ia membiarkan dirinya tiduran di rumput. Tangannya meraba sesuatu yang basah di pipinya. Jadi ini yang namanya air mata…kalau ini keluar, berarti…aku menangis ya?

Kepalanya diisi kata-kata 'masa bodoh' selama beberapa menit sampai dirinya tertidur.

(Oke, dia nggak bisa tidur, tapi sedang menggali ingatan yang sudah lama dilupakannya. Ini cuplikannya…)

Tampaknya seluruh Akuma berkerumun di lapangan, mengelilingi sesuatu. Dari tengah-tengah lapangan, Natsumi bisa mendengar suara pamannya, Rokkuzu, sedang berteriak marah. Tangannya menarik baju salah satu sepupunya yang berdiri paling luar, "Nina-san, paman Rokkuzu sedang apa disana?"

Nina menunduk menatapnya, berbisik, "kami sudah berhasil menangkap si pembunuh, sayangnya ia langsung bunuh diri. Kami menemukan sebuah dokumen di sakunya, yang mengatakan setelah ia berhasil menjalankan tugasnya itu, mata-mata yang memberinya informasi akan menemuinya di hutan ini. Di dokumen itu ada stempel yang diketahui lambang kepala desa yang berbatasan dengan hutan ini."

"hutan…"ulang Natsumi lirih, rasa ingin tahunya membesar. Ia memutari kerumunan itu, mencari celah diantara kaki-kaki saudara-saudaranya. Untunglah badannya kecil, jadi tak ada masalah baginya untuk menyelinap diantara kaki-kaki itu. Begitu ia keluar dari kerumunan, Natsumi langsung menghadapi punggung Rokkuzu.

"…kami tahu letak desa-desa lain di seberang hutan ini." teriak Rokkuzu, Natsumi bisa melihat urat-urat lehernya menegang, " Tapi tak satupun dari mereka yang mengetahui kastil kami! Jawab aku, siapa yang memberitahumu!!??"

Pandangannya tertutup punggung lebar Rokkuzu, karena itu ia beringsut maju untuk menatap sang mata-mata.

"Akiko…?"

Seluruh Akuma disana diam, menatap Natsumi yang menghampiri sahabatnya. Tubuh Akiko lebam-lebam, namun senyum tetap muncul di wajahnya begitu ia melihat Natsumi. Beberapa orang menarik napas tertahan.

Mata Rokkuzu melebar, keringat dingin meluncur di pelipisnya, "Natsumi?" ia berbisik.

"gomen Natsumi…" suara Akiko putus-putus, "su…dah ketahuan se…muanya…aku memang mata…mata—uhuk!" Akiko memuntahkan darah ke rumput. "tu…gasku menyelidiki ak…tivitas aneh di pu…sat hutan yang…diyaki…ni desa tak dihu…ni siapa-siapa."

Natsumi menggigit bibirnya,gemetaran. "Akiko…hentikan…"

"ta…pi" lanjut Akiko, "aku…benar-be…nar senang…bisa ber…teman dengan…mu. Sayang ya…persa…habatan…kita…harus ber…akhir seper…ti ini…"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"ampun deh!! Kemana sih dia? Kalau tidak cepat-cepat kembali, nanti Kisame keburu pulang…" Itachi, yang berputar-putar kota mencari Renge, memegang kedua lututnya, sakit. Pencariannya membuahkan hasil, ia menemukan Renge tertidur di rerumputan.

"Hoi—" sejenak ia ingin mendekatinya, namun begitu melihat kilauan di matanya, Itachi mengurungkan niatnya, memilih duduk diam di rumput untuk menantinya bangun. Didengarnya suara sesenggukan Renge.

"hmph," Itachi menghela napas, "Akuma yang aneh…"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Di belakangnya, Natsumi bisa mendengar Rokkuzu menarik napas berat. "kalian lihat semuanya? Kalian dengar semuanya?"

Suara menyetujui mengalun di udara.

"bawa pengkhianat ini." Rokkuzu menunjuk Natsumi, "kurung di kamar air,"

"ja--!" Natsumi mencoba berteriak, namun mulutnya dibekap dari belakang.

"dan…" Rokkuzu menatap Akiko, "untuk mata-mata kecil kita ini, kurasa aku sendiri yang akan menghukumnya." Ia menarik katana dari orang di sebelahnya.

Natsumi sempat menangkap kata-kata lirih terakhir Akiko, "gomennasai to arigatou, Natsumi…"

Detik berikutnya, darah membanjiri tempat itu. Darah yang dingin, lebih dingin dari yang pernah dirasakannya, membuatnya beku. Natsumi mengeluarkan jerit tertahan, terus meronta meski ia tahu dirinya tak bisa lepas. Perlahan tangan itu menyeretnya menjauhi kerumunan, masuk kastil, menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Tangan itu mengikatkan kedua tangan dan kakinya di gelang besi yang tertancap di dinding.

"jangan nangis," bentak saudaranya, "aku akan cukup sering mengeluarkanmu." Kemudian ia pergi ke atas. Tak lama setelahnya Natsumi mendengar suara deru air yang sangat deras. Lubang di dinding seberangnya terbuka, menyemburkan berliter-liter air. Disini, ingatannya terputus.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"AAAH! Disini kalian rupanya, makhluk-makhluk baka…..!!!!!"

Serempak Renge dan Itachi menoleh ke sumber suara. Si pembawa Samehada berdiri di belakang keduanya. Renge mengusap matanya.

"gomen, Kisame-san!! Tadi aku ketiduran…"

"terserah kamulah," kata Kisame sengit,"aku sudah menyelidiki target kita, jinchuuriki yonbi adalah pria tua bernama Nozaka…"

"ergh," Itachi mendengus, "kenapa tadi nggak sekalian diculik?"

"maunya," mata Kisame menyipit," andaikan si tua Nozaka bukan ketua persekutuan geng garong di lima Negara dan anak-cucunya bukan ketua geng-geng itu dan pengawal-pengawalnya tidak lebih banyak dari orang se-Ame dan disitu tidak sedang diadakan 'Konferensi Yakuza Tingkat Tinggi Sedunia' dan…"

Itachi mengangkat kedua tangannya, menghentikan ocehan Kisame," yamenasai, Kisame."

"lalu,lalu," kata Renge, "apa kita jadi melakukan rencananya nanti malam?"

"yeah," Kisame berjongkok mendekati mereka, "begini…"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

jauh, jauh sekali dari tiga orang yang sedang merencanakan sesuatu itu, di tempat yang tak pernah didatangi manusia hidup…

dalam dunia yang pucat keunguan, kegelapan menggantung…

dimana segala sesuatunya begitu tampak mati…

seakan bukit dan rerumputan disana adalah saksi kekejaman alam dan manusia…

angin yang tak memiliki hati terus menerus menyayat segalanya, tanpa henti…

dunia yang utuh,

tapi rusak…

rusak oleh keberadaan bulan, yang berpendar lembut…

dan kejam…

sosok dibalik bulan itu berbicara, melalui angin," waktunya hampir habis…"

"aku tahu…" sebuah suara dibalik gelapnya dunia itu membalas dengan raungan yang bergema di dasar lembah, "ia hanya ingin menyelesaikan urusannya…"

"apa kau bisa menjamin, ia akan pergi dengan sukarela?"

Pertanyaannya tak dibalas. Suara bulan itu berkata lagi, "aku tak boleh membiarkan jiwa sepertinya terus berkelana tanpa arah di dunia itu. Tempatnya disini, bukan dunia itu. Kau akan kuberi izin melangkahi Batas untuk menjemputnya. Kupastikan itu bisa diatur."

Sesosok makhluk keluar dari lindungan bayang-bayang. Tubuhnya yang tak berdaging berpendar saat ia meraung keras ke langit, "tapi ia summoner-ku! Ia master-ku!"

"segera setelah ia meninggalkan dunia itu,"kata suara itu lagi, "akan ada seseorang yang memanggilmu dan mengikat kontrak denganmu. Kau summon yang kuat, banyak orang yang menginginkan kekuatanmu, bukan?"

Awan-awan kelabu menutupi sang bulan dari pandangan. Skull-Greymon hanya menatap sedih pada rekahan vertikal di kaki langit, membuka celah hingga bisa dimasuki dirinya. Dan dengan hati tersiksa, ia melangkah menembusnya.

Chapter four end

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

buat para pembaca yang menanti-nanti chapter ini, aku minta maaf kalau upload-nya kelamaan! Soalnya ada mid-test, pe-er, deelel. Waktu puasa juga Bekasi panas banget, dan begitu masuk warnet mata ini langsung disambut kulkas minuman dingin. Sob!! Sob! Dan yang paling parah, stabilizer-nya rusak….huhuhu. tambah lagi mudik di kampong ga ada computer. Dan tanpa sadar THR-ku abis buat belanja…Pokoknya jalan berbatu demi upload ni panpik!!

Arigatou wat yang udah kasih review…

Reku-Maku : thx wat dukungannya!! Sperti yang tadi saya bilang, banyak rintangan dmi ngepos ni panpik. Itu c Itachi harap dia dipanggil Hyde aja…dasar narsis.

Itachi4ever: yep. Meluk. Agak-agak juga c bikinnya…

CraZy-AneH-GiRL: bener ga nulis namanya? Oia, OOC apaan ya? Tadinya saya berniat bikin ni chapter ga begitu 'kelam', makanya tambah dikit humor…