Chapter 3

.

.

.

Aku seperti orang tolol. Ya, orang tolol. Terus berpura-pura tidur setelah Kyuhyun mencium bibirku. Kami berciuman. Ya Tuhan, kami berciuman. Entah setan atau malaikat mana yang membuatku tak menolak ketika bibirnya menyentuh bibirku. Kyuhyun menciumku begitu lembut. Bibirnya terasa hangat ketika membungkam penuh bibirku. Lupakan! aku bisa gila jika terus membayangkannya.

Aku mendengar suara pintu terbuka lalu kembali tertutup. Itu pasti Kyuhyun. Ia mungkin pergi untuk membeli makanan atau sesuatu yang lain. Dia tak mengatakan apapun. Itu sedikit membuatku kecewa sebenarnya.

Aku membuka mataku perlahan. Mengambil ponselku yang tergeletak malang di atas meja. Hanya sekedar mengecek mungkin saja ibu mengirimku pesan. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Dua panggilan tak terjawab dari Eunhyuk dan beberapa pesan dari adikku. Taemin.

Kau tidak akan tinggal disana saat perayaan Chuseok bukan?

Apa kau sedang tersesat di hutan. Balas pesanku.

Lupakan saja. Balas jika kau sudah membaca pesanku.

Aku memutar mataku. Terkadang aku merasa dia adalah kakak dan aku adalah adiknya. Kami memang jarang mengucapkan kata-kata manis, lebih sering mengumpat. Tapi aku sangat menyayanginya. Taemin adalah adik yang menyenangkan dan cantik jika aku boleh jujur.

"Hey, apa yang sedang kau lakukan?"

"Astaga, Hyuk. Kau mengejutkanku." Aku meletakan asal ponselku.

"Oh, maaf." Ia meletakan kantong plastik putih di atas meja. Aku harap itu adalah makanan. Atau setidaknya sesuatu yang bisa ku makan.

"Kau sendirian? Dimana Donghae?"

"Donghae ada sedikit urusan. Dia menitip salam untukmu."

Aku tersenyum. "Aku rasa aku mulai menyukai pacarmu, Hyuk."

"Aku bukan seseorang yang suka berbagi, Min."

Eunhyuk mengacungkan pisau buah padaku. Aku meringis sakit karena tertawa terlalu keras. Hampir melupakan lukaku.

"Aku tidak melihat Kyuhyun?" Eunhyuk membantuku duduk. Punggungku sedikit pegal terus-terusan berbaring. Ini salahku bertingkah seperti orang tolol dan terus berpura-pura tidur.

"Entahlah." Aku menatapnya.

"Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut."

"Hyuk. Kami berciuman."

"Maksudmu kau dan Kyuhyun?"

Ya. Aku tahu reaksinya akan seperti itu. Sama persis ketika ia mendengar Adam levine akan menikah.

"Wow."

"Apa yang wow? Kyuhyun menciumku, Hyuk. Apa itu sesuatu yang harus kau tanggapi dengan 'wow'?" Aku menenggelamkan wajahku di permukaan bantal. Aku rasa wajahku memerah. Eunhyuk mendengus.

"Berhentilah menjadi orang bodoh, Lee Sungmin. Kalian saling menyukai. Apa kau tak bisa melihat itu? Kyuhyun menyukaimu. Kau tak menolak saat Kyuhyun menciummu. Itu artinya kau juga menyukainya. Berhenti bersikap seperti anak kecil."

Aku mendongak. Eunhyuk sedang mengupas apel merah yang ia bawa. Itu buah kesukaanku. "Tapi aku tak yakin jika Kyuhyun menyukaiku. Kau tahu bukan? gosip itu?"

"Itu hanya gosip murahan. Buktinya, dia memilih menunggumu disini daripada berkencan."

Aku mengedikan bahu. "Entahlah. Sekarang Kyuhyun pergi, dia tidak mengatakan apapun padaku. Mungkin dia sedang berkencan."

"Dasar bodoh."

.

.

.

Kami mengobrol banyak. Rencana liburan Chuseok, cuti kuliahku, Restoran jepang, Donghae, dan lagi-lagi tentang Kyuhyun. Aku tidak bisa untuk tidak membicarakannya. Itu menyebalkan.

Eunhyuk pergi beberapa saat sebelum Kyuhyun datang. Mereka pasti bertemu di luar. Kyuhyun tidak lagi memakai pakaian yang sama sebelum ia pergi. Ia mengenakan jaket kulit dan celana jeans hitam.

"Kau pergi?"

"Ya." Kyuhyun mengangguk. Ia melepas jaket kulitnya. Aku menggigit kecil bibirku. Bodoh! "Acara tidak penting dan membosankan. Makanya aku memilih kemari."

"Kau tidak seharusnya seperti itu." Ia mengedikan bahu. Mengambil sisi kosong di samping kiriku. Memakan apel merah yang Eunhyuk bawa.

"Dokter bilang, kau sudah boleh pulang besok lusa. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau tinggal bersamaku."

Tinggal bersamanya? Hey, aku punya tempat tinggal sendiri.

"Tidak perlu. Aku lebih baik tinggal dirumah. Lagi pula ada Eunhyuk bersamaku. Dia bisa menjagaku."

"Min, kita tidak tahu Jungmo memiliki anak buah atau orang suruhan yang mungkin saja bisa menyakitimu. Kau lebih baik tinggal bersamaku." Ia mendesah. "Hanya sementara, sampai semuanya benar-benar aman."

Aku melirik tanganku. Lihatlah, entah sejak kapan tangan kami saling menaut. Aku tidak menolak. Itu terasa nyaman. Aku sepertinya memang tak ingin jauh darinya. Oke, aku harus mengatakannya dengan sebutan lain. Aku menyukai Kyuhyun.

"Tapi Eunhyuk? aku tidak mungkin membiarkannya tinggal sendiri. Bisa saja mereka menyakiti Eunhyuk."

"Eunhyuk akan tinggal berasama Donghae." Ia meletakan sisa apelnya. Menatapku dan berkata,

"Kau harus tahu. Kami para pria tidak akan meninggalkan wanitanya sendirian. Terlebih mereka dalam bahaya. Kau harus ingat itu."

"Tapi aku bukan wanitamu." Aku menatapnya. Ia tersenyum seperti anak kecil. Aku sering melihatnya akhir-akhir ini. Aku menyukainya.

"Kau milikku."

"Jangan mengatakan itu padaku. Aku tidak seperti mereka-mereka yang selalu membuntutimu."

"Kau memang berbeda. Aku tidak pernah mengatakan kau seperti mereka. Sudahlah, jangan bahas hal yang tidak penting."

"Kau lapar?" Tanyanya.

Bagus. Kami berganti membicarakan perut, makanan. Sial, aku lapar. Makanan rumah sakit sangat menyedihkan. Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Eunhyuk tak membawakanku makanan selain buah. Jadi aku mengangguk. Kyuhyun menelpon restoran langganannya dan memesan masakan China untuk kami. Aku senang ia tidak memesan bubur untukku.

.

.

.

Aku sudah di perbolehkan pulang. Seperti yang dikatakan Kyuhyun, mulai sekarang aku tinggal bersamanya. Kami sempat berdebat. Aku ingin tinggal dirumah. Aku akan baik-baik saja disana. Karena aku yakin, Jungmo tak sehebat itu untuk memiliki orang suruhan. Tapi Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Ia selalu mendapatkan apa yang ia mau. Dan keberadaan Eunhyuk diantara kami sangat tidak membantuku.

"Dengan senang hati aku akan menjagamu, Min. Tapi tenagaku tidak sekuat Kyuhyun untuk melindungimu jika memang anak buah Jungmo akan menyerang kita."

"Kau menyebalkan, Hyuk."

"Tapi kau menyayangiku, Min."

Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di apartemen Kyuhyun. Tidak seperti apa yang ada di kepalaku. Apartemennya begitu rapi. Aku sudah membayangkan akan ada sampah makanan dan pakaian kotor berserakan. Tapi ini tidak. Terlalu rapi untuk pria yang hanya tinggal sendiri.

Warna abu-abu mendominasi ruangan ini. Ada banyak barang antik dan beberapa lukisan abstrak yang menggantung di dinding. Aku melihat dapurnya. Lengkap dengan berbagai peralatan masak juga beberapa gelas wine yang terpajang disana.

"Apa kau memasak?" Aku bertanya.

"Ya. Tidak sering."

Oh! Kyuhyun, dapur, dan memasak. Itu hot.

"Apa kau suka dapurnya?"

"Iya. Dapurmu sangat seksi."

"Terima kasih. Kau bisa menggunakannya jika kau mau."

Aku tersenyum lebar. "Masakanku tidak terlalu buruk."

"Aku tidak sabar untuk mencicipinya."

"Mungkin besok."

Ia mengangguk lalu melangkah pergi ke kamar. Aku beralih ke sofa panjang yang sekarang aku duduki. Yang aku tahu, mereka para pria senang bercinta di atas sofa apartemen mereka. Itu membuatku berfikir, apa Kyuhyun sering membawa teman kencannya dan bercinta disini. Aku berjingkat. Lebih baik aku berdiri.

"Kau harus tahu, aku tidak pernah membawa wanita kemari." Teriaknya dari dalam kamar.

Apa Kyuhyun membaca pikiranku?

Ia berjalan menghampiriku setelah meletakan koperku di kamarnya. Hanya ada satu kamar disini. Itu membuatku pusing.

"Benarkah? Kenapa?"

"Aku hanya tidak suka jika mereka berada disini. Kau bisa menanyakannya pada Donghae. Kurasa dia cukup bisa di percaya."

"Tidak perlu. Ucapanmu sudah cukup." Aku mengedikan bahu. "Tapi kau mengajakku kemari."

"Aku bilang kau berbeda. Dan kau milikku. Jadi kurasa kau memang seharusnya berada disini."

"Kedengarannya berlebihan. Tapi terima kasih."

Sudut bibirnya terangkat. Aku sudah pernah mengatakannya berkali-kali. Aku senang melihatnya tersenyum.

"Kau tidak ingin duduk?" Ia menepuk sisi kosong sebelahnya.

"Badanku sedikit lengket. Aku mau mandi saja." Itu hanya alasan.

Ia mengangguk. Aku terdiam, masih berdiri di depannya. "Dimana aku akan tidur?"

"Dikamarku."

"Kau?"

"Kita tidur bersama." Ia tersenyum.

"Itu lucu sekali, aku tidur di sofa saja."

Kau benar-benar konyol, Lee Sungmin.

"Mungkin kau harus memilih dua kamar tidur jika kau ingin menambah apartemen." Aku mengikutinya menuju kamar.

"Aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa. Dan aku juga tidak ingin tidur di sofa. Kita tidur di sini, Min. Aku tidak akan macam-macam. Bukankah aku sudah mengatakannya, aku tidak akan menarik celanamu jika kau tak memintanya sendiri padaku."

"Sepertinya itu tidak akan terjadi."

"Aku akan membuatnya terjadi."

Aku mendesah. "Ya, kau mungkin akan." Aku berkata sangat lirih. Tapi kurasa Kyuhyun mendengarnya. Aku melihat sudut bibirnya terangkat. "Baiklah, kita tidur bersama."

"Aku tidak akan melakukan apa-apa."

"Selama aku tidak memintanya?"

Ia mengerlingkan matanya padaku.

"Menggelikan sekali."

.

.

.

Aku tidak tahu akan seperti apa hubungan kami nanti. Seorang teman mungkin berlebihan jika kami tinggal bersama. Tapi aku bisa apa jika Kyuhyun sudah memaksa. Oke ini hanya informasi. Kyuhyun adalah pria egois. Egois yang... seksi.

Untuk seks, aku masih ragu. Apa kami benar-benar bisa menghindarinya atau malah sebaliknya. Aku perempuan, dan Kyuhyun seorang pria. Masing-masing dari kami pernah melakukan seks. Dan itu terdengar buruk.

Aku sedang berganti pakaian saat mendengar suara Eunhyuk dan Donghae. Aku bergegas memakai celana dan berjalan cepat keluar kamar. Kyuhyun sudah bergabung bersama Eunhyuk dan Donghae di meja bar dapur. Eunhyuk membawa sekotak pizza ukuran besar dan beberapa kaleng soda juga minuman jeruk. Aku cekikikan menghampirinya. Memeluknya lalu mencium pipinya lama.

"Kau yang terbaik, Hyuk."

"Well, persetan dengan bubur dan sup." sahutnya.

"Kau tidak menciumku, Min?" Donghae mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku sudah terbiasa dengan caranya menggoda. Pria itu melakukannya sepanjang waktu pada Eunhyuk.

"Kau mengijinkannya, Hyuk?"

Eunhyuk hanya mengedikan bahunya. Aku mendengar Kyuhyun mengeram. Ia menarik Donghae menjauh dariku. Jadi posisi kami, Donghae, Kyuhyun, aku, dan Eunhyuk. Kami berdiri seperti orang tolol.

Kami berpindah ke sofa sambil menonton tv. Lupakan tentang bercinta diatas sofa. Yang penting sekarang adalah pizzaku.

Film terbaru Jeremy Renner sudah tayang mulai kemarin. Aku dan Eunhyuk berencana akan menontonnya besok lusa. Poncorn dengan ekstra mentega, dua cup cola, dan tanpa para pria. Itu akan sangat menyenangkan. Kami mulai heboh membicarakan Jeremy Renner dengan istrinya, mereka adalah pasangan yang serasi. Itu membuat kami iri sampai akhirnya Donghae menyela,

"Ini akan terlihat menakjubkan jika kalian berdua telanjang."

"Tidak masalah jika kalian tidak meniduri kami." Eunhyuk menyahut. Aku melemparnya dengan kaleng soda kosong. Ia hanya cekikikan.

"Itu terdengar tidak adil." Kyuhyun tidak mau kalah. "Kalian telanjang, dan kami hanya diam. Bukankah itu curang?"

"Kau memang sahabatku, Kyu." Donghae dan Kyuhyun tertawa. Mereka melakukan tos bersamaan aku memutar manik mataku. Eunhyuk tertawa keras. Kami memang benar-benar sudah sinting.

Eunhyuk dan Donghae pulang lima belas menit yang lalu. Aku membereskan sisa sampah yang tertinggal diatas meja. Kyuhyun memasukan sisa pizza kedalam kulkas. Aku akan memanaskannya besok pagi. Aku masuk kedalam kamar. Kyuhyun sedang dikamar mandi saat aku mengganti pakaian. Kaos dan celana pendek rasanya lebih nyaman. Aku melompat keatas kasur. Meringkuk di balik selimut siap untuk bermimpi.

Mataku urung terpejam mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Aku menelan ludah, Kyuhyun tak memakai apapun selain celana boxer yang menggantung di pinggulnya. Sial, dia seksi. Ia berjalan menuju lemari, mengambil kaos hitam lalu memakainya. Terima kasih Tuhan, aku mulai bernafas sekarang.

"Kau belum tidur?"

"Sedang mencoba tidur. Ini terasa asing."

Sebenarnya tidak begitu masalah. Aku bisa tidur nyenyak sekalipun itu di pinggir tebing. Mungkin. Tapi ini lebih berbahaya dari pinggir tebing.

Kyuhyun menarik selimutnya lalu berbaring menghadapku. Kami saling berpandangan, suasananya menjadi begitu tenang.

"Terima kasih." Aku memutuskan untuk bicara. "Terima kasih untuk semuanya. Karena menyelamatku dan menjagaku."

Ia menyentuh wajahku lalu menarik tangannya kembali. Aku sedikit... ya kecewa.

"Kau tidak perlu berterima kasih. Sesuatu di dalam diriku ingin menjagamu. Aku tidak tahu itu berasal dari mana."

"Kau seperti ayahku." Ia mengernyit bingung.

Aku mulai bercerita. Tanganku mengepal. Aku mungkin sulit melakukannya. Tapi kurasa Kyuhyun berhak mendengar ceritaku.

"Saat itu aku masih terlalu polos. Oke, aku belum menemukan istilah lainnya. Jungmo lebih tua beberapa tahun dariku. Kami berkencan, dan saat perayaan kelulusan ia memaksaku untuk tidur dengannya."

Rahang Kyuhyun mengeras. Aku takut karena ia tak mengatakan apapun. Jadi aku meraih tangannya. Pandangannya sedikit melembut. Ia membalas genggamanku.

"Aku takut. Dan aku tak mau. Lalu Jungmo menyakitiku." Aku menarik nafas. "Ayah datang menyelamatku saat itu. Itu sudah sangat larut malam. Aku seharusnya sudah pulang. Tapi ayah menemukanku di rumah Jungmo dengan wajah memar dan berdarah."

"Brengsek!"

"Aku tidak akan melupakan itu."

Aku sudah berjanji tidak akan menangis karena pria brengsek itu. Aku menahannya. Tapi gagal. Kyuhyun meraih tubuhku. Mendekapku pada tubuhnya yang hangat. Aku bisa merasakan wangi tubuhnya.

"Aku berjanji tak akan ada lagi yang berani menyakitimu. Aku tak akan membiarkan itu."

"Terima kasih."

Kyuhyun mendekatkan wajahnya padaku. Tanpa di pinta aku memejamkan mata. Menyambut bibirnya yang lembut di bibirku. Aku seharusnya tidak membiarkan Kyuhyun menciumku. Tapi tubuhku berkata lain. Aku membuka mulutku saat lidah Kyuhyun menerobos masuk. Kami berciuman cukup lama. Ya Tuhan, pria ini pandai mencium.

"Aku senang karena pria brengsek itu tidak pernah mendapatkanmu." Aku tersenyum. Kyuhyun kembali mengecup bibirku. Kami sepertinya melewati batas. Lupakan saja. Masa bodoh dengan semua itu.

"Kau pernah melakukan seks?"

Bagus! Kami berganti topik.

"Ya." Ekspresinya sedikit tidak suka.

"Aku pernah berkencan sebelumnya. Dia pria baik dan sangat perhatian. Namanya Choi Siwon. Kami berpisah karena dia harus menjalankan anak perusahaan ayahnya yang berada di Canada. Hanya itu dan kami putus."

Kyuhyun tersenyum lebar. Hampir tertawa.

"Apanya yang lucu?"

"Aku senang mendengar kalimat terakhirmu. Kalian putus."

"Konyol sekali." Aku melepas genggaman tangannya. Ia mencebik meraih tanganku lagi. "Apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu padaku?"

"Apa?"

"Mengapa kau bergonta-ganti pasangan? Kau menyakiti banyak wanita."

Kyuhyun mendengus tak suka. Ia bergerak membenarkan posisi bantalnya semakin dekat denganku.

"Mereka menggodaku, memamerkan dadanya dan membuka kakinya untukku. Aku seorang pria. Jadi aku bisa apa?"

Aku ingin muntah mendengarnya. Itu sudah sangat cukup untukku, tapi Kyuhyun mulai bercerita lagi.

"Aku tidak menyakiti mereka. Wanita seperti mereka akan mencari kesenangan yang sama. Hanya merengek lalu melupakannya. Tidak ada yang menyakiti atau disakiti."

Aku mengeluarkan suara ingin muntah. Kyuhyun tertawa. "Bisa kita berhenti?"

"Kau yang memulai."

Rasa kantukku menguap entah kemana. Kyuhyun memainkan ibu jarinya di pipiku. Aku hanya diam menikmati sentuhannya. Ini gila.

"Kau mungkin tidak percaya." Kyuhyun kembali membuka obrolan. "Aku benar-benar menginginkanmu."

Aku menyingkirkan tangannya. Ia menggerutu. Aku memutar mataku, membiarkan tangannya dipipiku lagi.

"Aku mungkin bukan tipe mu. Maksudku, aku butuh komitmen. Jika kau menginginkanku seperti teman kencanmu sebelum-sebelumnya. Ku rasa kau menginginkan orang yang salah."

"Aku tahu." Ia tersenyum. "Aku menginginkanmu lebih dari apapun."

"Aku serius dengan ucapanku." Lanjutnya.

"Aku tidak tahu. Mungkin kita memiliki keinginan yang sama."

"Kita bisa memulainya dari awal kalau kau mau." Kyuhyun mengecup bibirku. Hanya mengecup.

"Ya. Kita perlu."

.

.

.

To be Continue

Apa kabar? Terima kasih buat semuanya. Se-mu-a-nya /lovelove/ /pelukpeluk/

Saya niat buat mulai nulis lagi.

Cuma ini yang saya punya buat chapter ini. mohon sabar buat chapter selanjutnya.

See you next chapter.

Love,

AnissaLee