Cecil Hime was borrowed Mashasi's chara
^^ SasuHina ^^
.
.
Hinata pov
Hahh... ini adalah keterlambatanku yang kedua dalam sebulan ini. Dan keduanya tentu saja disebabkan oleh Gaara-kun. Pertama kali karena ia mengajakku makan malam sampai pulang larut karena kebanyakan mengobrol dan yang kedua adalah karena Gaara-kun tidak henti-hentinya meneleponku tiap satu jam. Bukan rahasia lagi memang jika Gaara-kun adalah orang yang bermasalah dengan jam tidur. Tapi berbeda denganku, aku 'sangat-sangat' mudah dipengaruhi oleh bantal empukku.
Dan disinilah aku sekarang.
"Hinata-chan, apa yang kau lakukan disini?"
"Fugaku-sama memanggilku, Sakura-chan."
"Kenapa tidak langsung masuk saja?"
Seharusnya memang seperti itu. Tapi membayangkan bahwa Fugaku-sama akan memarahiku dan mengatakan aku tidak profesional membuatku jadi-. Baiklah, Fugaku-sama tidak mungkin marah, tapi paling tidak dengan tatapan matanya yang menunjukkan kekecewaan saja sudah lebih dari marah untukku.
"Apa yang kau pikirkan, Hinata-chan? Lebih cepat lebih baik kan?"
Benar juga.
"Arigatou, Sakura-chan."
.
.
"Berapa hari?"
"Eh?"
Aku bahkan tidak tahu sejak kapan Gaara-kun sudah ada di belakangku.
"Aku sudah mendengar rencana bakti sosial itu."
"Ah, mungkin sekitar tiga sampai empat hari."
"Kenapa harus kau?"
"Karena kemungkinan penduduknya banyak anak kecil."
"Dan kenapa harus dengan Sasuke?"
Benarkah? Kenapa aku bahkan tidak tahu. Aku kira aku akan pergi dengan Sakura-chan atau Ino-chan, sepertia biasa. Ya, biasanya memang seperti itu.
"Entahlah."
Sepertimya tidak ada gunanya juga aku mengatakan bahwa aku baru saja mengetahuinya dari Gaara-kun. Walaupun aku sibuk dengan barang-barang yang akan ku bawa untuk besok pagi, aku dapat mendengar helaan nafas Gaara-kun. Aku tidak tahu artinya. Karena capek atau kecewa.
"Hn. Hati-hati. Jangan lupa membawa jaket tebal. Tempat itu lumayan dingin ketika malam."
"Aku bukan anak kecil, Gaara-kun."
"Hn."
"Baiklah, aku ada janji dengan Konohamaru-kun menemaninya jalan-jalan."
"Seharusnya kau mengajak pacarmu karena akan kau tinggal, bukannya anak kecil itu."
"Aku sudah janji."
"Tap-."
"Lagi pula, ini hukuman untuk Gaara-kun karena membuatku terlambat dua kali."
Sekali-kali Gaara-kun memang harus diberi pelajaran. Aku sangat puas melihatnya tidak bisa berbicara apa-apa lagi.
"Jaa."
.
.
"Kalau Nee-chan pulang nanti, Nee-chan halus mengajakku jalan-jalan lagi!" teriak Konohamaru dari kaca mobil.
"Baiklah!"
Hari ini cukup menyenangkan walaupun diawali dengan keterlambatan pagi tadi. Tidak aneh memang jika teman mengobrolmu adalah Konohamaru. Setiap detiknya pasti diisi dengan tawa. Masih jam empat sore dan hari ini aku dibebastugaskan untuk persiapan besok. Tapi aku merasa tidak ada lagi yang perlu dipersiapkan.
End of Hinata pov
.
.
Sasuke pov
Seharusnya Tou-san sudah mengetahui bahwa aku tidak suka berbaur dengan rakyat. Jadi untuk apa ia menyerahkan tugas ini padaku? Lagipula aku rasa untuk acara bakti sosial seperti itu tidak membutuhkan dokter ahli, bahkan perawat saja pun sudah cukup.
'Kaa-sanmu yang menginginkannya. Katanya tempat itu sangat membutuhkan perhatian kesehatan gratis.'
Dan Tou-san selalu tahu cara untuk memaksaku. Cukup dengan mengatakan apa saja yang dimulai dengan 'Kaa-sanmu yang bla-bla-bla.' Maka ia akan mendapatkan apa yang ia mau.
"Kata Sakura-chan tidak baik melamun di tempat ini."
"..."
Sebenarnya tanpa melihatnya saja aku tahu bahwa itu adalah suara Hinata. Tapi, tetap saja aku mengalihkan wajahku padanya. Lagipula, apa yang ia lakukan disini? Apa ia tidak bekerja?
"Katanya, jika kau melamun, maka arwah gadis yang meninggal setahun lalu itu akan mengganggumu."
Cih, aku tidak percaya ia mencoba menakuti seorang Uchiha Sasuke.
Baiklah, mari lihat siapa yang penakut.
"Hn, aku juga sudah mendengarnya. Yang ku dengar bukan hanya orang yang melamun, tapi juga setiap orang yang berbicara di tempat ini akan ia ganggu."
"..."
Baru seperti itu saja ia sudah mulai takut. Cih.
"Tiap malam ia akan mendatangi tempat tidurmu dan tidur di sebelahmu sambil menyanyikan lagu-lagu kematian."
"T-ta-tapi S-Sakura-chan t-tidak pernah mengatakan itu."
"Pasti dia tidak mendengar cerita lengkapnya. Gadis itu bunuh diri dengan menggantung lehernya pada batang pohon itu. Dari mulutnya keluar darah yang menetes-netes sampai ke tanah."
"C-cuk-cukup Sasuke-kun."
"Hn. Aku pernah melihatnya sekali. Arwahnya masih suka menggantung lehernya sendiri sambil tertawa mengerikan. Rambutnya panjang. Saking panjangnya, sampai mencapai tanah dan-."
"Hiks, hiks, hiks,.."
"Hei, kenapa mengangis?"
"Hiks, Sa-sasuke-kun menakut-nakutiku."
"Aku hanya bercanda."
"Hiks.. hiks.. tidak lucu."
"Memangnya kau pikir siapa yang memulainya?"
"..."
"Hn?"
"Seharusnya Sasuke-kun pura-pura takut."
"Kalau kau yang mengatakannya, percayalah tidak akan ada seorang pun yang akan takut. Selera horormu sangat buruk."
"Dan selera horor Sasuke-kun sangat mengerikan."
"Jadi?"
"Apanya?"
Sepertinya tiap aku berbicara dengan Hinata aku menjadi lebih banyak bicara dan sering mengulang kata-kataku.
"Untuk apa kau kesini?"
"Aa, aku melihat Sasuke-kun melamun, karena aku sedang kosong jadi aku kesini saja."
"Hn."
Aku kira ada alasan lain. Seperti 'Aku ingin berbicara dengan Sasuke-kun' atau 'Aku ingin melihat Sasuke-kun' atau 'Aku merindukan Sasuke-kun' atau apa aja. Yang penting tidak hanya untuk mengisi waktu kosong saja atau tiba-tiba melihatku.
"Sebenarnya ada alasan lain."
Apa? Apa salah satu dari yang baru saja kuharapkan?
"Aku ingin meminta maaf pada Sasuke-kun."
"Sepertinya kau tidak ada salah padaku."
"Aku kira Sasuke-kun marah."
"Untuk apa?"
"Karena aku sangat senang ketika mengatakan bahwa aku sedang pacaran dengan Gaara-kun tanpa tahu perasaan Sasuke-kun yang baru saja berpisah dengan Shion-san."
"Hn?"
"A-aku mendengarnya dari Konoha-kun."
Ya. Aku memang tidak suka mengetahui Hinata menjalin hubungan dengan Sabaku itu. Tapi, aku tidak ada hak untuk marah padanya, bukan? Aku bukan siapa-siapa untuknya.
"Aku turut menyesal mengetahuinya. Padahal hubungan kalian sudah lama. Sasuke-kun pasti sangat sedih."
"Kau pikir begitu?"
"Memangnya tidak begitu?"
Dia pasti heran jika aku mengatakan bahwa aku biasa saja ketika berpisah dari Shion. Bahkan aku merasa senang. Sebenarnya bukan senang. Tapi lega. Lega karena tidak perlu membohongi Shion lebih lama lagi.
"Hn. Kau sok tahu."
"Biarkan saja. Besok kita akan berangkat jam berapa, Sasuke-kun?"
Berangkat? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan...
"Jangan bilang Sasuke-kun tidak tahu kalau partner Sasuke-kun itu aku."
"Aku tahu."
'Baru saja' lanjutku dalam hati.
Aku tidak tahu apakah aku senang mengetahui hal ini atau tidak. Yang pasti tiba-tiba aku tidak lagi berselera merutuki dan menyesali paksaan Tou-san ini.
"Jadi?"
"Jam tujuh pagi."
.
.
Ia sangat manis hari ini. Ia berbeda dari biasanya. Dan ini kali pertama aku melihatnya dalam balutan kasual. Ia mengenakan celana yang agak longgar dengan atasan berwarna hijau. Ia terlihat sangat segar. Biasanya aku tidak suka melihat gadis-gadis yang memakai paduan seperti itu. Aku rasa mereka memakai celana yang agak longgar hanya untuk menutupi tubuh mereka yang agak gemuk. Tapi Hinata berbeda. Entah bagaimana dan sejak kapan aku mengetahuinya, badannya sangat bagus. Proporsional. Jadi, aku menarik kesimpulan bahwa Hinata memakainya bukan karena kegemukan, tapi karena ia memang seorang gadis yang sopan.
Ah, benar juga. Ia kan seorang Hyuuga.
"Apa aku terlambat?"
"Tidak. Aku hanya terlalu cepat."
"Kenapa Sasuke-kun berpakaian tertutup seperti itu? Seperti penjahat saja."
"Hn."
.
.
"Kenapa kau tidak mengatakan disini sangat ramai?"
"Untuk apa?"
"Setidaknya aku tidak mendapatkan tanda merah ini dari mereka."
"Maksud Gaara-kun ciuman ini?"
"Tidak usah mengatakannya sefrontal itu. Dan berhenti menertawaiku."
"Pft. Baiklah, tapi Gaara-kun tidak perlu membersihkannya seperti itu. Tanda merahnya sudah tidak tampak lagi."
"Memangnya karena siapa aku jadi seperti ini?"
"Aku sudah mengatakan agar Gaara-kun tidak perlu mengantarku. Lagipula Gaara-kun sibuk."
"Sebenarnya kau pacarku atau bukan? Seharusnya kau senang aku mengantarmu. Dan seharusnya kau cemburu ketika wanita-wanita itu mengejar-ngejarku dan men-, menc-, akh, kau pasti mengerti."
"Baiklah. Aku harus berangkat. Jaa ne."
.
.
Begitu saja? Tidak ada pelukan atau ciuman? Bahkan di pipi?
Oke, pertama aku tidak menguping. Jarak mereka yang tidak terlalu jauh dari tempat dudukku membuatku mau tidak mau mendengar percakapan mereka.
Kedua, aku tidak bermaksud mengintip atau memperhatikan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya kebetulan berada sedikit di depanku. Dan mau tak mau –lagi—aku pasti melihat apa yang mereka lakukan.
Tapi, aku benar-benar tidak salah melihat bahwa mereka tidak ciuman ataupun sekedar pelukan untuk perpisahan mereka. Baiklah, aku tahu mungkin Hinata adalah gadis baik-baik dan 'mungkin saja' Gaara juga pemuda baik-baik, tapi tidak harus seperti itu juga, kan? Bahkan tanpa salam hangat atau kata-kata 'Aku akan merindukanmu' dan sebagainya. Aku hanya mendengar 'Jaa ne' dari Hinata. Dan itu adalah kata-kata terakhirnya.
Sebenarnya aku yang aneh atau mereka? Tapi, terserahlah. Apa peduliku? Aku juga tidak yakin akan senang jika melihat mereka berpelukan atau yang lainnya di depanku, entah kenapa. Mungkin juga yang Shion katakan tentang aku menyukainya benar tapi mungkin juga salah, kan? Aku tidak mungkin menyukai orang lain dalam waktu secepat itu kan? Aku bahkan baru mengenalnya.
Lagi pula, perempuan bukan hanya Hinata kan?
.
Tbc
.
.
Haaah...ini adalah keterlambatanku yang ke-SEKIAN #contek kata2 Hinata.
Gomen- AGAIN
Need your BRILLIANT IDEA for this fic in next chapter. I'm really DILEMMA how to continue it ...TT_TT
Big Thanks for ALL
