Dei's Story

Chapter 4 : Kerja Kelompok

Disclaimer :

Story © Uchiha Yoshy Nesia

Semua Tokoh © Masashi Kishimoto

Rated : K

Genre : Parody and Romance

Summary : Deidara akhirnya terpaksa sekelompok dengan Konan dan Itachi dalam mengerjakan tugas seni budaya. Itachi sih oke-oke aja (kesenengan malah!), tapi Deidara?/ 'KENAPA MUSTI DI RUMAHNYA SI PEIN SIIIH?'/ "Oi, keriput, jangan semena-mena lo disini ya. Mentang-mentang mau ko'it aja minta dihormatin!"/ "APA YANG LU LAKUIN MA BAJU BARU GUE, HAHH? BANCI?"/ "Dei, ngapain elu nyender kek bences nunggu langganannya gitu? Gaje tau!"

Warning : Shou-ai, plot gak jelas, OOC, AU.

Pairing : SasoDei, slight ItaKona (lebih mendominasi yang ini deh! Sori bagi yang gak suka, ini demi jalannya cerita –ditendang-)

Author's Note : Entah kenapa saya merasa chapter kali ini tambah garing aja -_- Sori kalo jelek, tapi udah saya usahain tetep ada sari-sari (?) lucunya kok!

Don't Like, Don't Read...

And Happy Reading!

.

.

Pagi ini Deidara bangun seperti biasa. Jam setengah 7 pagi. Walaupun ia bangun jam segitu, ia tampak santai-santai aja. Padahal jarak sekolahnya bisa dibilang cukup jauh, yah ada sekitar 1 km lah! Sementara bel sekolahnya saja jam 7. Terkadang Deidara sampai gak sempet mandi kalo bangunnya jam segini, cuman sempet gosok gigi dan ganti baju. Doi sarapan di tengah jalan, apalagi dia tuh ke sekolah cuman naik sepeda ontel warisan engkongnya. Jadi gak heran kalo dia bisa saja ketabrak tiang listrik karena keasyikan makan roti sambil nyetir sepeda.

"Hey, Dei! Apa kabar? Lu baik-baik aja 'kan?" tanya Kisame yang udah duluan menyambutnya di depan ruang kelasnya, membuat Deidara mengangkat sebelah alisnya.

"Emangnya kenapa, un? Lu rindu ma gue? Padahal baru kemaren kita ketemu di tempat les, un." desis Deidara jengkel karena dikhawatirkan kek gitu. Masih mending kalo yang ngekhawatirin tuh cewek, lha ini seekor hiu yang gak ada bagus-bagusnya sama sekali untuk dilihat.

"Ya gak ada papa, soalnya lu kemarin tiba-tiba ngilang setelah pulang les kek diculik wewe gombel." ucap Kisame sambil berjalan bareng Deidara yang juga berjalan masuk ke dalam kelasnya.

"Emangnya lu pernah ngerasain gimana rasanya diculik wewe gombel, Kis, un?"

"Gak sih."

Deidara lalu membuang muka ke arah jendela yang terbuka, melihat awan yang cerah di atas sana.

"Dei..."

Mendengar seseorang memanggilnya, Deidara pun menolehkan kepalanya. "Hm?"

"Gue boleh minjem PR MTK elo gak? Gue lupa ngerjain nieh." ucap Kisame sambil mengatupkan kedua tangannya di depan mukanya—memohon kepada si rambut kuning.

"Hah? PR MTK, un?" Deidara terdiam sebentar. "Gue lupa ngerjain juga, Kis. Oiya, Itachi mana, un? Gue mau minjem PR MTK-nya juga nih." ucap Deidara santai sambil celingak-celinguk nyari si makhluk bernama Itachi.

"Itachi hari ini ada urusan ma OSIS, baru bisa gabung ma kita entar pas pelajaran ke 4." jawab Kisame.

"Emang penting banget gitu?"

Kisame ngangkat kedua bahunya. "Entah, mungkin?"

"Trus si Hidan?"

"Dia juga belum ngerjain, tuh lagi ngemis ma si Sasori." jawab Kisame sambil nunjuk ke sudut kelas mereka pake ibu jari. Disana terdapat Hidan yang lagi masang wajah melas di depan Sasori.

"Pliss... Sas, gue pinjem-lihat PR MTK lo... dikit aja..." Hidan mengemis.

"Hah? Dikit? 30 soal lu bilang dikit?" ucap Sasori heran.

"Yah... siapa tau gue bisa liat 15 soal doang..."

Disamping adegan dramatis itu, Deidara dan Kisame saling pandang. Deidara cuman sekilas aja sih. Karena dia tak sudi melihat wajah tuh hiu lama-lama. "Si Hidan aja gak boleh, apalagi kita...?" gumam Kisame putus asa.

"Eh, Kis, siapa tau yang gak boleh tuh cuman si Hidan doang? Sementara kita boleh?" ucap Deidara.

"Dari tadi rasanya gak ada satu pun yang dibolehin ma Sasori deh! Cewek maupun cowok sama aja."

Deidara mengerutkan dahi, tampak berpikir keras. "Kalo kita ngerjain sekarang, belum tentu selesai tepat waktu, apalagi hari ini MTK jam pelajaran pertama lagi! Hhhh... stress..." gumam Deidara ikutan putus asa kek Kisame.

"Minjam ma Kakuzu, sama aja. Sama Tobi? Ah, belum tentu jawaban tuh anak betul. Trus sama siapa lagi kita pinjam-lihat kalo bukan ma Sasori?"

Deidara pun menunduk. Namun cepat-cepat, Deidara menggelengkan kepalanya sampai lehernya terasa agak ngilu. Lalu ia berjalan ke arah Sasori, lebih tepatnya disamping Hidan berdiri.

"Sas, gue pinjem PR MTK lo... Pliss, un..." Deidara mengeluarkan jurus andalannya, Puppy Eyes no Jutsu, sambil mengatupkan kedua tangannya. Namun bukannya bikin hati Sasori meleleh, tapi malah bikin tuh anak jadi eneg melihatnya.

"Apaan sih lu, banci?" desis Sasori eneg.

"Gue mau minjem PR MTK elo, un... Pliss... dikit aja, un. Yah, 2 soal aja gak papa kok, un..." pinta Deidara super melas, lebih melas daripada Hidan tadi.

Sasori terdiam. 'Nih anak niat nyontek atau mau ngemis, sih? Mellow banget,' batin Sasori sweatdrop.

"Gak bisa! Siapa suruh elo gak ngerjain sebelumnya?" bentak Sasori jengkel.

"Uhh... emangnya siapa yang bikin gue pulang telat semalam, huh, un?" sindir Deidara tak terima dibilangin gitu ma Sasori. Nginget kejadian semalam, wajahnya jadi agak merah. PR MTK tersebut emang di berikan hari Sabtu, dan seharusnya Deidara bisa mengerjakannya pada malam harinya. Tapi Sasori gak berpikir sampai situ.

"Yah..." Sasori speechless, bukti bahwa ia sudah tau jawabannya. "Yaudah, nih! Contek aja sepuas elo! Kalo salah semua, gue gak tanggung yah!" ucap Sasori cepat sambil mengeluarkan sebuah buku dari tasnya pada Deidara. Yang lain melongo plus curiga.

"Wah, hebat! Tuh banci bisa pinjam-lihat pekerjaan Sasori semudah itu!" Ada yang bisik-bisik gitu. Ada juga yang berbisik curiga seperti, "Semalam? Emang ada apaan yah?"

"Mencurigakan..." desis Hidan pada Kisame.

Sementara Kisame cuman ngangguk, pertanda bahwa ia setuju juga dengan pendapat Hidan.

"Apalagi tadi kata si Dei, emangnya siapa yang bikin gue pulang telat semalam. Padahal kemarin kan dia langsung menghilang gitu aja setelah pulang les." tambah Hidan.

"Tapi Sasori waktu itu masih ama Itachi kok!" bantah Kisame.

"Tau darimana lo? Hari ini si keriput kan gak masuk." tanya Hidan heran.

"Bukannya gak masuk, cuman sementara gak masuk. Dia kan sedang ada urusan ma OSIS. Gue tadi sempat ketemu ma tuh anak di depan gerbang." jawab Kisame.

"Oh, emang penting gitu?" tanya Hidan tampak seperti mengulangi pertanyaan Deidara tadi.

Tak ada jawaban, karena Kisame keburu mengambil buku tugasnya dan ikutan nyontek bareng Deidara. Sasori lagi gak ada disitu. Kalo ada, bisa ia tabok tuh hiu.

"Woy, sesat! Lu gak mau ikutan ngeliat juga? Mumpung si Sasori lagi keluar." teriak Deidara.

Hidan gak ngejawab. Doi langsung mengambil tugasnya dan nyontek bersama Deidara dan Kisame.

Teett... teett...

Bel pelajaran dimulai berbunyi, trio gaje (Deidara, Kisame dan Hidan) langsung berhenti nyontek. Spontanitas. Padahal Deidara baru nyontek 5 soal, Kisame 3 soal, dan Hidan baru belum juga ngeliat apapun.

"Eh, gue belum selesai, monyong!" desis Hidan ketika Deidara menutup buku tugas Sasori dan hendak melemparnya ke meja paling depan dan paling pinggir. Dekat pintu masuk.

"Bel udah bunyi! Bentar lagi Anko-sensei (guru MTK mereka) masuk." jawab Deidara melempar buku tersebut ke meja Sasori, namun meleset. Dan mengenai wajah seseorang yang baru hendak masuk kelas tersebut.

'Waduh, gaswat! Kena Anko-sensei!' batin Deidara shock.

'Hahaha! Sukurin, lu banci!' batin Hidan menertawakan Deidara.

"SIAPA YANG SEMBARANGAN NGELEMPAR NIH BUKU?" teriak Anko murka sambil ngacungin buku yang dilempar ke mukanya tadi.

Kelas mendadak hening. Dan jika diteliti baik-baik, terdapat Deidara yang duduk sebangku dengan Kisame, sedang mengangkat tangannya malu-malu—atau lebih tepatnya takut-takut.

"Deidara orangnya, sensei!" seru Hidan sambil mengangkat tangan Deidara tinggi-tinggi.

"A-apaan sih lu!" desis Deidara muak pada Hidan.

"KAMU YA?" teriak Anko lagi dengan galak. Spontan, bikin Deidara menciut.

"... saya kok, sensei." ucap seseorang didekat Anko.

'Hah? Sasori?' batin Deidara kaget sambil menoleh kepalanya untuk melihat Sasori yang duduk paling dekat pintu. Yang ngomong tadi.

Yang lainnya melongo tak karuan. Padahal mereka tadi yakin kalo yang ngelemparnya itu si Deidara. Tapi kok Sasori yang ngaku...?

Lalu Anko menatap Sasori, "Kamu ya?"

Sasori ngangguk, dan langsung dihadiahi lemparan buku miliknya dari Anko. Untung aja gak sampai bikin wajah kece-nya hancur.

"Oke, anak-anak..." Anko mulai berbicara. "Hari ini saya akan mengadakan ulangan dadakan untuk mengetes kemampuan kalian dalam mengerjakan soal."

Kelas hening lagi.

"APAAAAA?" seru seisi kelas kecuali Anko dengan shock yang berlebihan.

"Biasa aja kali, reaksinya." ucap Anko sambil mengorek telinganya yang tadi tuli sejenak.

"Tapi kami belum siap, sensei!" tukas Kisame tak terima.

"Halah! Belum siap-belum siap! Emangnya tadi malam kamu gak belajar ya?"

Kisame mingkem karena merasa ucapan Anko tadi benar.

"Pokoknya, siap tak siap, hari ini tetap ulangan." ucap Anko bikin yang lain lemas plus lesu.

'Pasrah aja deh, un!' batin Deidara putus asa.

.

"Arrgh! Sialan! Kok ulangannya mendadak sih? Gue kan tadi malam kagak belajar!" erang Hidan frustasi setelah ulangan tadi dah kelar. Waktu itu mereka—Deidara, Sasori, Kisame, Hidan dan Kakuzu—sedang ada di kantin.

"Udah deh, Dan! Perasaan elo udah ngomel-ngomel dari 10 menit yang lalu deh!" ucap Kakuzu jengkel.

"Mana tadi diberi PR tambahan lagi! Aarrgh! Tuh guru waras gak—?" Sebelum Hidan selesai ngomel, Kakuzu buru-buru nyumpel mulut Hidan dengan kertas.

"Udah, udah! Nasi udah jadi bubur!" ucap Kisame tumben bijak.

"Hey, guys! Lagi pada ngapain nih? Kaya'nya seru amat." sela Itachi tiba-tiba nongol di belakang Kisame.

"Seru-seru, keriput lo seru (?)! Kami tadi ulangan dadakan tau! Sementara elo gak ada!" gerutu Hidan setelah berhasil mengeluarkan kertas sumpelan Kakuzu tadi dari mulutnya.

"Yah, habisnya, tadi gue ada urusan ma OSIS sih, jadi gak bisa ikutan menderita bareng elo-elo pada deh!" ucap Itachi nyengir tanpa nada menyesal sedikitpun dikalimatnya.

"Eh, tau gak, entar pas pelajaran seni budaya, kita disuruh bikin mading (majalah dinding) berkelompok lho!" sambung Itachi.

"Hee? Benarkah, un? Lu tau darimana, Chi, un?" tanya Deidara.

"Temen gue udah duluan pelajaran seni budaya, jadi dia bilang ke gue kalo kita hari ini pasti disuruh bikin mading tentang kesehatan!" ucap Itachi.

Teet... teett... teett...

"Cih, baru bentar istirahat, udah bel bunyi lagi!" decih Hidan.

.

"Oke, anak-anak..." ucap Kakashi—selaku guru kesenian—ketika pelajaran kesenian telah selesai. "... karena di kelas ini tak ada satupun nilai tugasnya yang memenuhi standar nilai sekolah, maka kalian semua saya beri tugas membuat mading tentang alam secara berkelompok untuk memperbaiki nilai kalian." sambungnya dengan nada malasnya seperti biasa.

"Psst, Chi!" sikut Hidan pada Itachi. "Kata elu tentang kesehatan! Ini kok tentang alam?" bisiknya dengan nada tak terima.

"Yee, itu 'kan kata temen gue, mana gue tau!" balas Itachi merasa tertindas (?).

"Dan kelompoknya bisa kalian lihat di dinding pojok kelas ini. Selamat pagi." ucap Kakashi lagi sambil keluar dari kelas.

Para murid sontak melihat ke pojokan kelas dan terdapat kertas-kertas yang ditempel pake paku picik. Lalu mereka berlari mendatangi dinding tersebut untuk melihat isi kertas tersebut.

Seluruh murid memicingkan matanya. Bahkan Itachi harus pakai kacamata bacanya. Tulisan Kakashi udah kayak cakar kambing! Kagak bisa dibaca! Bisa sih sebenarnya. Cuma namanya jadi pada kacau. Bahkan nama Itachi jadi Ibadii.

"Apaan nih guru, un! Tulisannya aja gak jelas gini, un!" gerutu Deidara yang merasa terhina namanya jadi Dadana.

"Udah deh, senpai! Ikhlasin aja! Yang penting mirip 'kan?" ucap Tobi bermaksud menenangkan Deidara. Padahal namanya sama-sama kacau. Dari Tobi jadi Toti.

Tuh anak entah kenapa kalau manggil Deidara dkk. tuh pake senpai. Padahal mereka umurnya tak jauh beda.

'Yahh...' Deidara mendesah kecewa dalam hati. 'Gue gak sekelompok ma Sasori, un...'

Ia tak sekelompok ma Sasori, melainkan ma Itachi dan Konan.

"HORRREEE!" Itachi berteriak norak. "GUE SEKELOMPOK MA KONAN! OH, THANKS, GOD!" Itachi sujud-syukur dengan lebay.

"Gak usah lebay deh lu."cibir Konan sambil menendang Itachi yang kebetulan sujud didekatnya.

"Ah, iya? Kenapa, Konan? Ada apa? Oh, iya. Kita kerja kelompok dimana dan kapan?" tanya Itachi tanpa memperdulikan kalimat cibiran Konan tadi dengan hati berseri-seri (?).

"Hm..." Sikap Konan yang tadi judes entah kenapa langsung berubah menjadi ceria. "Kalo gitu, dirumahku aja. Nanti sore. Oke? Jangan lupa kasih tau Deidei ya!" ucapnya tersenyum sambil keluar kelas bareng temen-temen ceweknya.

Itachi gak ngejawab, cuman bengong sambil ngayal jorok tentang kerja kelompok mereka entar. Hidan melihatnya.

"Oi, keriput!" Hidan menyepak kaki Itachi sehingga Itachi terjatuh. "Ngapain elu berdiri aja kek orang bego gitu! Dah sono lo!" ucap Hidan muak.

.

.

From : Kakek Keriput

Woy,,, Dei! Hari ini kita kerja kelompok tentang mading itu di rumah Konan sore ini! Jam setengah 3! Lu mesti datang ya! Awas kalo enggak!

"Hah?" respon Deidara setelah membaca pesan singkat dari Itachi itu. Setelah pulang sekolah, ia langsung pulang ke rumah tanpa ada niat sedikit pun untuk bertanya tentang mading itu. Dan untung saja Itachi memberitahunya hal itu lewat SMS. Tapi ia baru memberitahunya sekitaran jam 3. Lalu Deidara pun membalas SMS itu.

From : Banci Nyentrik

Oke, un! Gue bakalan datang. Tapi kalo telat, gue gak tanggung, un!

Setelah mengirim balasannya, Deidara langsung melesat ke kamar mandi.

.

Di dekat rumah Konan...

"Hey, Dei!"

Deidara menolehkan kepalanya dan mendapati Itachi tersenyum menyebalkan padanya. Deidara cuman cemberut. Ia tahu, senyuman itu muncul hanya karena mereka bakalan kerja kelompok ma Konan. Ia tahu juga, Itachi sedang PDKT ma Konan, so kesempatan mereka berduaan lebih besar nanti.

'Uhh... firasat bakalan dikacangin neh!' batin Deidara.

Itachi berjalan mendekatinya masih dengan senyum menyebalkannya. Doi make kemeja hitam-putih ma celana jeans hitam juga. Sepatu kets-nya juga hitam. Sedangkan Deidara make kaos biru yang di bagian depannya ada gambar anak bebek ngekor induknya dan celana jeans biru langit.

Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekalee. . .

Ringtone ponsel Itachi berdering keras. Deidara sweatdrop mendengarnya. Jangan-jangan, Itachi termasuk Doraemon's Fans?

"Walah, dia malah nyuruh kita kerumah Pein," Wajah Itachi berkedut. "Kok ganti tempat janjian sih? Mana di rumah Pein lagi!" gerutu Itachi.

"Udahlah, daripada kita enggak ngerjain, un?" hibur Deidara, walaupun dia tahu niat utama Itachi adalah berduaan ma Konan.

Sambil menggerutu, mereka pun berbalik arah menuju rumah Pein.

.

'KENAPA MUSTI DI RUMAHNYA SI PEIN SIIIH?' Itachi mengerang histeris didalam hati ketika mereka telah sampai didepan gerbang rumah Pein yang mewah (baca : mepet sawah).

Deidara ngelirik ke Itachi yang mukanya kusut abis. "Chi, beneran nih rumahnya si Pein, un?" tanya Deidara, soalnya dia belum pernah ke rumahnya Pein, cuman pernah denger alamat rumahnya doang.

"Mungkin..." jawab Itachi ketus. Habisnya, si Pein pasti mengawasi mereka dengan ketat! Dan hal itu membuat Itachi kesel juga karena merasa kehilangan privasi diri (?).

Kekesalan Itachi langsung lenyap begitu ia melihat Konan di ambang pintu utama rumah Pein tengah menyambut mereka berdua dengan senyumannya.

"Tachi-kun! Deidei! Masuk aja langsung! Ngapain berdiri disitu kek pengamen di kacangin!" serunya pada Itachi dan Deidara.

Konan—mungkin karena cuacanya yang lagi panas-panasnya—make tanktop warna biru dan celana jeans pendek sepaha. Itachi menelan ludahnya saat memperhatikan bagian dada Konan yang... ah, sori, rada melenceng. Balik lagi, Deidara melihatnya cuman dengan perasaan biasa aja. Entah kenapa Deidara tidak merasakan chemistry apapun pada saat melihat Konan saat itu seperti si Itachi.

Itachi langsung membalas senyum Konan dengan senyuman yang menurutnya senyuman paling manis yang pernah ia keluarkan, sedangkan Deidara cuman masang tampang datar. Mereka pun akhirnya membuka pintu gerbang tersebut dan masuk kehalaman rumah Pein yang, omong-omong, biasa aja.

"Santai aja, Tachi-kun. Gak usah sungkan gitu. Anggap aja rumah sendiri." ucap Konan pada Itachi sambil berjalan berdua dengannya melewati halaman sedangkan Deidara berjalan dibelakang mereka.

'Tuh, kan. Di kacangin, un.' batin Deidara lesu. Tapi yaudahlah, menurutnya, mungkin emang lebih baik gini.

'Sasori lagi ngapain ya, un?' batinnya kembali. Lalu ia tersentak.

'Unn? Kenapa gue mikirin tuh anak lagi, un! Dia kan lagi ada nun jauh disana, un! Mungkin aja dia lagi ngorok ato hang-out bareng yang lainnya, un.' batin Deidara mencak-mencak.

"Dei? Lu gak papa?" tanya Itachi membuyarkan pikiran Deidara sambil sweatdrop memperhatikan tuh anak ngamuk sendiri kek orang kesurupan.

"Eh, gak papa kok, un." ucap Deidara salah tingkah dengan muka agak merah karena malu. Konan cuman ketawa geli melihatnya.

"Deidei lucu yah!" tukas Konan.

Deidara cuek. Sebenarnya dia paling gak suka dibilang lucu. Dikate dia pelawak?

Akhirnya mereka pun sampai di dalam rumah Pein. Bagian dalam rumah Pein mirip rumah-rumah orang pejabat karena Bapaknya termasuk pejabat juga. Warna catnya coklat-putih, menambah kesan kalem pemilik rumah. Pein tampak sedang duduk santai di sofa birunya, matanya mengarah ke TV. Namun ketika mendengar suara Itachi bercakap-cakap ma Konan, pandangannya langsung mengarah pada Itachi dengan pandangan gak suka.

"Hai, Pein." sapa Itachi sok ramah sambil tersenyum biar dibilang cowok ramah oleh Konan. Sedangkan Pein enggak ngejawab apalagi senyum.

"Oke, kalian ke sini gak cuman bawa diri 'kan?" tanya Konan setelah mereka duduk di sofa deket Pein duduk.

"Gue bawa majalah tentang alam, un." ucap Deidara sambil mengeluarkan buku yang ia maksud dari tasnya.

"Oke, kalo Tachi-kun?" Konan beralih pada Itachi.

"Ah, sori, gue gak bawa apa-apa. Tapi kalo gue ikut ngebantuin ngeguntingin aja gak papa kan?" ujar Itachi sambil senyum.

"Ah, gak papa kok. Well, gue bakalan nyari informasi tentang alam lewat internet." ucap Konan sambil menyalakan laptopnya dan mulai browsing.

Teringat dengan ucapan Konan yang anggap aja rumah sendiri, Itachi pun mulai berani nyuruh Pein. "Hey, Pein. Bisa gak elo nyalain kipas angin? Panas nih." suruh Itachi pada Pein. Pein cuman nurut dengan tampang datar, lalu dinyalakannya kipas dinding yang ada didekatnya.

Itachi makin berani, lalu dia nyuruh si Pein lagi. "Pein, ambilin gue, Deidei ma Konan minum dong! Sirup apa aja! Haus neh." suruh Itachi lagi dengan gaya sok bossy. Deidara menatap Itachi heran. Sejak kapan Itachi jadi berani nyuruh kakak kelas kek gituan? Dan lagi, sebenarnya dia tak terlalu haus kok! Masih bisa ditahan sampai rumah entar.

Pein menurut kembali dan membuatkan minuman mereka.

"Psst, Chi!" Deidara menyikut Itachi. "Ngapain lu nyuruh-nyuruh gitu ma tuan rumah, un? Malu tau!" bisik Deidara.

"Hei, gak papa dong. Kan kata Konan tadi, anggap aja rumah sendiri." jawab Itachi enteng. Deidara cuman melengos. Dia gak terbiasa sok gitu dirumah orang. Bahkan bila perlu, dia ngebawa minuman sendiri dari rumah.

Pein kembali lagi dengan tangannya membawa nampan berisikan tiga gelas sirup berwarna oranye. Lalu menaruh gelas-gelas tersebut di meja.

"Wah, Pein. Makasih ya udah ngebawain minuman." ucap Konan menyadari jerih-payah (?) Pein.

"Hn." jawab Pein singkat selayaknya Sasuke, kapten basket di sekolah mereka sekaligus adeknya Itachi yang irit banget ngomong.

Lalu setelah selesai Konan browsing artikel tentang alam dan di print, mereka pun mengumpulkan data.

"Dapat berapa, Konan-chan?" tanya Itachi sambil duduk dekat banget ma Konan. Itachi dapat merasakan di dekat mereka juga Pein sedang melotot padanya, tapi Itachi pura-pura nggak melihat.

"Ng, dapat 5 nih. Oiya, Tachi-kun, bisa gak beliin sterofom (gabus berbentuk persegi panjang, biasanya digunain buat nempelin mading di dinding) di toko kelontong deket persimpangan situ? Murah aja kok, jadi tolong di talangin dulu." ucap Konan pada Itachi.

"Oke..." Itachi menoleh pada Pein yang tampangnya kek mau meledak, tapi Itachi lagi-lagi pura-pura gak ngeliat. "Pein, bisa gak—"

"Oi, keriput," Pein menyela dengan garang. "Jangan semena-mena lo disini ya! Mentang-mentang mau ko'it aja minta dihormatin!" sambungnya dengan mata melotot. Itachi, Deidara ma Konan mingkem, gak berani bersuara melihat Pein yang biasanya kalem itu jadi murka gitu.

'Waduh...' Deidara ngebatin. 'Gaswat, bakalan perang nih dua orang.' batinnya kembali. Tanpa sadar, tangannya nyenggol sirupnya yang gak dia minum dari tadi yang menyebabkan tuh sirup tumpah. Sialnya, tuh sirup tumpah kena tepat di baju Konan. Karena tuh sirup dingin, spontan aja Konan berjengit dan menyadari kalau baju tanktop-nya yang keliatan mahal banget itu ketumpahan es sirupnya Deidara.

"APA YANG LU LAKUIN MA BAJU BARU GUE, HAHH? BANCI?" teriak Konan murka pada Deidara dengan mata melotot.

Deidara pun melihat sirupnya yang ketumpahan. "Ah, m-maaf, Konan. G-gue gak sengaja..." ucap Deidara lirih, takut kena semprot lagi.

"HALAH! GAK SENGAJA-GAK SENGAJA! LU PASTI SENGAJA, BUKAN? NGIRI KAN NGELIAT GUE SEKSI GINI, HAHHH?" semprot Konan lagi.

"MENDING ELU KELUAR DEH! JANGAN PERNAH KE SINI LAGI!" usir Konan sambil tereak-tereak dengan suara melengking melanggar 6 oktaf.

Deidara yang diteriakin gitu langsung aja tersinggung. Dia kan gak sengaja? Lagian, ngapain juga dia ngiri ma keseksian Konan? Sori aja deh! "Yaudah, gue pulang! Sori kalo gue udah ngeganggu elu ma Itachi!" seru Deidara dengan suara agak serak sambil berdiri ngambil majalah tentang alam yang dia keluarkan tadi dan keluar dari rumah Pein. Itachi melihatnya, cuman mingkem aja. Bingung dengan apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat, kek film yang di percepat!

.

.

Deidara lagi nyender di tembok jalanan dengan muka merah, nahan nangis. Dia bener-bener gak terima di teriakin gitu ma Konan, apalagi didepan sohibnya si Itachi itu. Dia muak, jadi memutuskan keluar aja dari rumah tersebut. Lagian, masa' cuman karena bajunya ketumpahan es sirup langsung sewot gitu? Kan gak rasional banget! Dan dia spontan merebut majalah tentang alam yang dibawanya tadi karena tak sudi berbagi ilmu ma cewek aneh kek dia! Mending nilainya tetep jeblok.

Ah, dia ingat tembok ini. Dan jalan ini. Jalan yang ia lewati bersama Sasori kemarin malam. Tiba-tiba dia teringat ma tuh anak. Tapi buru-buru ia menghapus bayangan Sasori dari benaknya. Dia lagi ogah mikirin tuh anak saat ini.

Hari udah mulai malam, tapi Deidara tetap tak bergeming. Dia males pulang kerumah! Tapi dia tak mau kalau ada orang yang memergokinya sedang menahan tangis gini di sini...

DIIIIINNN!

Deidara sontak menolehkan kepalanya dan mendapati mobil BMW merah sedang berhenti di dekatnya dengan tatapan jengkel. Siapa tuh orang? Berani-beraninya mengganggu acara meweknya! Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat seorang pemuda berambut merah tampan menampakkan dirinya dari balik mobil ketika kaca jendela mobilnya diturunkan.

"Dei, ngapain elu nyender kek bences nunggu langganannya gitu? Gaje tau!" samber Sasori dengan muka heran dari mobilnya.

Deidara speechless. Dia tertegun melihatnya. Tangis yang ia tahan dengan seluruh harga dirinya pun lenyap gitu aja bagai disapu angin.

"Alah, malah bengong lagi! Ayo, naik, gue anterin elu ke rumah." ucap Sasori.

"Gak usah repot-repot." kata Deidara sok gengsi sambil menggoyangkan tangannya, nolak. "Gue bisa pulang sendiri kok, un."

"Elo punya kaki. So, pastilah elo bisa pulang sendiri." kata Sasori. "Gue hanya gak mau ada orang yang iseng ngapa-ngapain elo entar di jalan."

"Maksud lu apaan, hah, un?" ucap Deidara tersinggung dengan muka merah, kali ini karena nahan marah.

Sasori terkekeh pelan. Ada perasaan senang juga setelah menghina tuh anak. "Yaudah, jadi naik gak? Atau gue tinggalin nih?"

"Eh, gue ikut dong, un!" seru Deidara akhirnya nyerah juga ama kata hatinya. Lalu ia mencoba membuka pintu mobil, tapi gak bisa-bisa. "Sasori, un! Gimana bukanya neh!" serunya kesulitan membuka pintu mobil.

Sasori ketawa geli sejenak melihat ke-ndeso-an Deidara. "Bukanya gini nih, Dei. Dasar katro lu." ucapnya sambil menjulurkan tangannya untuk membukakan pintu mobil.

Deidara cuman cemberut sambil masuk duduk di sebelah Sasori. Membuat Sasori gemes melihatnya—tunggu, gemas? Ah, pasti gemes karena saking cute-nya muka Deidara pada saat lagi marah! Ya pasti itu.

-To be Continued-