Kediaman Aomine. Pukul 20.30.
Aomine memandang langit-langit kamarnya. Saat ini ia sedang rebahan di ranjangnya. Ponsel berada di genggaman. Layarnya menampilkan kontak Kise. Tadi ia mencoba meneleponnya tapi tak diangkat. Sebenarnya dimana si pirang idiot itu berada.'
Ia memincingkan matanya masih menatap langit-langit. Sebenarnya ia merasa ada yang aneh saat Kise meneleponnya di kantin waktu itu. Aomine dapat mendengar suara isakan pemuda itu—walau sangat samar.
"Tch!" Aomine tidak tau harus melakukan apa.
Tadi ia datang ke rumahnya bersama yang lain usai latihan klub. Pemuda tan itu semakin khawatir setelah melihat kondisi rumahnya. Sesuatu yang buruk pasti terjadi. Tapi apa? Jangan-jangan...
Aomine membelalakan matanya. Ya, pasti itu!
Ia langsung bangkit terduduk dan mulai mencari kontak seseorang. Setelah menemukannya, ia langsung menekan tombol hijau, meletakan ponselnya di telinga, dan mulai menunggu.
TUT... TUT... TUT...
"Ck! Ayo cepat diangkat!" gumamnya tidak sabar.
TUT... TUT... TUT... CLIK!
'Halo...' sahut seseorang di sebrang sana.
"Tetsu."
.
.
.
.
.
BLOOD OF INNOCENCE
Chapter 4: Nijimura Shuuzo
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Story and Cover © Murrue Mioria
WARNING! AU, OOC, Boyxboy, Shounen-ai, yaoi, Typo, kaku, gak jelas, terlalu banyak percakapan
Don't like, don't read!
Pairing: Mainly Aokise, Haikise, slight allxkise, pairing lain mungkin akan ditambah
.
.
.
.
.
Haizaki membuka pintu rumahnya dan langsung disambut oleh jitakan dari seseorang di balik pintu.
"AKHIRNYA!"
"Nii-san..." Haizaki hanya mengeluh kesakitan sembari mengusap jidatnya yang kemerahan. Jitakan kakaknya ini memang sangat menyakitkan—sepelan apapun jitakannya.
Nijimura Shuuzo—kakak angkat Haizaki. Pria bersurai raven berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai polisi. Ia sudah tinggal bersama Haizaki sejak pemuda abu-abu itu masih balita. Ayah Haizaki mengangkatnya sebagai anak setelah istrinya meninggal dunia akibat melahirkan putra pertamanya—Haizaki Shougo. Saat ia dianggkat, Shougo masih berusia seminggu. Ayah Haizaki menyusul istrinya sebulan kemudian, meninggalkan Nijimura—yang saat itu berusia 10 tahun—dan adik angkatnya. Penyebab kematiannya? Tidak jelas.
Selama beberapa tahun, kehidupan mereka dibantu oleh keluarga Kise, namun bantuan itu mulai terhenti sejak Nijimura masuk SMA. Nijimura menolaknya secara halus. Tidak mau membebankan keluarga itu. Ia bekerja paruh waktu dan setelah lulus sma, ia mendaftar di akademi kepolisian. Menjadi polisi adalah cita-citanya.
Dan sekarang di sinilah dia. Di hadapan adiknya yang baru saja membukakan pintu—setelah ia menunggu hampir 15 menit. Nijimura baru saja kembali dari tugas ke luar kota untuk mengurus suatu kasus kriminal selama 3 minggu.
"Kau pikir sudah berapa lama aku menunggu disini, hah?! Dasar..." Nijimura mengacak-acak surai abu-abu Haizaki dan berjalan melewatinya.
Haizaki hanya menggerutu sambil memerapikan rambutnya yang acak-acakan.
Ketika di genkan untuk melepas sepatu, matanya menemukan sepasang sepatu lain—yang ia yakin itu bukan milik adiknya.
"Kau bawa teman?" Tanyanya. Matanya masih tak berbindah dari sepatu itu.
"Ya. Itu punya Ryouta," sahut si adik.
Ryouta? Kise Ryouta? Anak tetangga kesayangannya itu? Sudah lama sekali tak berjumpa. Ia terlalu sibuk dengan profesinya. Bagaimana kabar anak itu sekarang? Apa dia masih secantik dulu? Nijimura sering melihatnya di iklan televisi dan majalah. Ryouta tampak sangat cantik dengan apapun yang ia kenakan—walaupun Ryouta itu laki-laki.
"Shougo-kun..." Nijimura dapat mendengar suara pemuda pirang itu dari arah ruang tengah.
Beberapa saat kemudian Kise datang. Ada yang aneh dengan penampilannya. Pemuda itu berjalan tertatih-tatih. Tangannya berpegangan pada tembok agar tidak terjatuh. Kulitnya pucat, tak bercahaya seperti di tv dan majalah yang biasa ia lihat. Dan apa itu? Perban dan plester membalut kedua telapak kakinya.
"Ryouta! Sudah kubilang kan! Panggil aku kalau kau membutuhkan sesuatu!" Haizaki langsung berlari mendekati si surai pirang.
"Tapi tadi aku sudah memanggilmu dari tadi... Kau malah tidak dengar," sahut Kise cemberut.
"Kise, ada apa dengan kakimu?" Tanya Nijimura. Keduanya tersentak, hampir melupakan kalau Nijimura juga ada di sana.
Haizaki dan Kise saling bertukar pandang. Sorot mata pemuda abu-abu itu tampak menunggu sebuah persetujuan. Kise menganggukan kepala. Mereka berdua kemudian menatap Nijimura yang masih kebingungan.
"Ceritanya panjang," ucap Haizaki.
.
.
.
Mereka bertiga ada diruang makan. Berbincang sambil makan malam.
"Pria bertopi hitam?" Itulah yang Nijimura katakan setelah mendengar cerita dari kedua pemuda di hadapannya.
"Ya," kedua pemuda itu mengangguk.
"Tadi pria itu sempat masuk lewat jendela kamar dan melukai kakiku," ujar Kise. Ia berbicara sambil mengaduk-aduk sup miso di hadapannya. Ia tidak ada selera makan.
"Kamar mana?" tanyanya.
"Yang ada di lantai atas, sebelah kamar tamu," jawab Kise.
Sontak, Nijimura menggebrakkan tangannya di meja, mengagetkan kedua remaja itu dan hampir menumpahkan kuah sup mereka di atas meja. "Kalian masuk ke sana?!"
"M-maaf... aku tidak bermaksud..." Kise gelagapan agak sedikit takut.
"Uhh... tidak apa..." Nijimura kembali duduk sambil memijat kedua pelipis. Ia harus menahan emosinya. "Lain kali jangan lakukan itu lagi."
Kise membalas dengan anggukan. Sebenarnya ia masih bingung. Ada apa dengan ruangan itu. Bahkan sikap Nijimura berubah setelah ia menyebut tempat tersebut. Sangat misterius.
Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Nijimura mengecek ruangan itu sebelum kembali ke kamarnya. Haizaki memilih tidur di kamar Kise. Ia menggelar futon di lantai, namun Kise menghentikannya. Pemuda pirang itu meminta Haizaki untuk tidur di sebelahnya.
"Ne, Shougo-kun... Tidur di sebelahku ya?" ucapnya sambil menepuk-nepuk sisi kasur yang sudah sengaja diberi ruang.
"Ha? gak! Sempit!" Haizaki mengabaikannya. Kise hanya cemberut.
Sebenarnya Haizaki mau saja tidur di sebelahnya. Cuma ia malu. Gengsi. Ia tahu Kise sangat suka cuddling. Dan Haizaki akan senang hati melakukannya. Toh ia juga suka cuddling—hanya dengan Kise. Tapi ya itu... gengsi.
Pipinya bersemu membayangkannya tidur berpelukan dengan Kise dibalik selimut tebal nan hangat, di ranjang yang empuk. Cepat-cepat ia hapus pikiran itu. Ia bukan mesum seperti Daiki.
Suasana menjadi sunyi setelah lampu dimatikan. Cahaya dari lampu jalanan menerangi kamar tersebut. Kise hanya memandang langit-langit. Telapak kakinya masih terasa begitu perih hingga ia tak bisa tidur. Ia melirik Haizaki yang tidur di futon. Dia kelihatan sangat nyenyak. Uh, Kise jadi iri.
Ada suara angin kencang yang meniup jendela hingga bergetar. Bayang-bayang pohon yang bergoyang terrefleksi ke dalam kamarnya. Bayang-bayang itu perlahan membentuk bayangan menyerupai hantu. Itu sedikit menakutkan, jadi Kise menutupi dirinya dengan selimut. Ia bersyukur tidak ada apapun yang muncul malam itu.
..:::====:::..
Hari ini adalah hari Minggu. Nijimura libur. Di waktu liburnya, ia memilih bersantai di rumah. Tiduran di sofa sambil nonton tv seperti pengangguran. Capek setelah 3 minggu bekerja tanpa henti.
Di rumah itu hanya ada dia dan Ryouta. Shougo sedang part time di sebuah minimarket. Ia lembur dan akan pulang larut. Sebelum berangkat, Shougo berpesan padanya.
"Tolong jaga Ryouta." Begitu katanya. Wajahnya serius seperti orangtua yang meminta anaknya untuk menjaga adik kecilnya yang masih bayi.
Tak usah bilang pun, Nijimura juga tau. Lagi pula ia kakaknya. Kenapa adik malah memerintah kakak?! Nijimura tidak terima.
Ngomong-ngomong Kise dari tadi tidak muncul. Sepertinya pemuda itu masih di kamar.
Jemarinya menekan-nekan remot, mengganti-ganti channel tv mencari acara yang menarik, tapi tidak ada. Ia menguap. Bosan. Enaknya ngapain ya?
Ah, Nijimura teringat sesuatu. Ia langsung bangkit dan berjalan menuju kamar tamu. Pintu dibuka. Ada Kise sedang membaca majalah di ranjangnya.
Menyadari ada seseorang, Kise mengangkat kepala. "Eh, Nijimura-san?"
"Kondisi kakimu bagaimana?" Nijimura duduk di pinggir ranjang, menganalisa kondisi telapak kaki si pirang. Perban dan plester sudah diganti oleh Haizaki.
"Sudah mendingan. Tidak terlalu perih seperti kemarin," ucap Kise.
Nijimura mengangguk. "Oke, kalau begitu ikut aku."
"Eh?"
Tanpa banyak bicara, Nijimura menggendongnya bridal.
"EEEHHH?! Ni-nijimura... san...?" Kise bingung bercampur panik. Sebenarnya dia mau apa?!
"Berisik... Kau diam saja," Nijimura membawanya keluar kamar. Menuruni tangga, mengambil kunci mobil dan berjalan keluar rumah.
"TU-TUNGGU DULU!" Kise berteriak sebelum Nijimura membuka pintu.
"Apa?" tanya Nijimura datar. Tangan sudah memegang gagang pintu.
"Jangan buka pintunya... Aku takut..." Kise gemetaran-ia masih trauma. Ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Nijimura.
"Jangan takut. Kau harus berani," Nijimura mulai membuka pintu.
Kise langsung memeluk lehernya erat. Pelukannya membuat sesak, namun Nijimura masih bertahan. Angin menyambut mereka ketika pintu dibuka. Ia melihat sekitar. Komplek rumahnya sangat sepi. Cuaca sedang berawan dan udaranya sejuk. Lumayan cocok untuk jalan-jalan menurutnya—tapi tidak untuk Kise.
"Mou... Nijimura-san... turunkan aku. Aku gak mau keluar," Kise merengek masih memeluk lehernya erat. Nijimura pura-pura tidak dengar.
Pria bersurai hitam itu berjalan menuju mobilnya. Meletakkan Kise di tempat duduk sebelah kemudi. Pintu ditutup sebelum Kise sempat protes dan berjalan memutar menuju kursi pengemudi.
"Yosh..." Nijimura menyalakan mesin mobil. Sementara itu Kise hanya duduk meringkuk. Kepala disembunyikan di balik lutut.
"Angkat kepalamu dan lihat ke depan. Jangan takut. Tidak ada apapun disini, Ryouta," Ucapnya. Tangannya mengusap-usap surai pirang Kise.
"Nijimura-san... bisa lihat?" tanya Kise masih tak berubah posisi.
"Ya," jawab Nijimura singkat. Ia tahu apa yang Kise maksud.
Ia sudah mendengar dari Shougo, makhluk-makhluk astral sedang meneror Kise dua minggu belakangan ini. Nijimura sendiri dapat melihatnya. Ada yang memperhatikan mereka dari atas pohon. Bentuknya seperti bayangan hitam. Tapi makhluk itu kemudian menghilang setelah Nijimura memandangnya. Sebelah alis terangkat. Ia tidak mengerti kenapa makhluk itu pergi. Yah, tapi apa pedulinya. Justru itu bagus kan? Tidak akan ada yang mengganggu mereka.
Ia kembali menoleh ke pemuda pirang di sebelahnya. "Makhluk itu sudah pergi," ucapnya sambil menepuk-nepuk kepala Kise pelan.
Kise mengangkat kepalanya perlahan, melihat ke segala arah, lalu menghembuskan napas lega. Ia tersenyum pada pemuda yang lebih tua. "Nijimura-san juga indigo seperti Shougo-kun?"
"Hahaha... tidak kok! Aku tidak punya kemampuan seperti Shougo," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku cuma bisa melihat hantu saja sih."
"Bukankah itu menakutkan? ... Bisa melihat hantu..."
"Kalau itu aku sudah terbiasa."
"Bisa ya seperti itu?" Kise menunduk. "Dua minggu yang lalu tiba-tiba aku bisa melihat hantu. Aku tidak mau punya pengelihatan seperti ini. Rasanya seperti kutukan."
Nijimura diam memandangnya simpati. Kasihan jiga sih. Untuk orang seperti Kise—yang mendadak bisa melihat hantu—memang sangat menakutkan. Semoga saja dia bisa cepat terbiasa dengan kemampuan barunya itu. Nijimura kemudian menjalankan mesin mobilnya.
"Tenanglah, suatu saat nanti kau akan terbiasa, kok. Lagipula, di dunia ini tidak ada yang namanya kutukan—yah menurutku, sih—Itu adalah anugerah." ucap Nijimura.
Kise tersenyum tipis. Anugerah ya? Ia tak pernah berpikiran seperti itu.
Selama perjalanan, suasana sunyi. Kise menatap ke luar jendela menikmati pemandangan kota di siang hari. Hari ini begitu menenangkan. Ia merasa sangat rileks. Tidak ada makhluk aneh mengikutinya. Rasanya sudah seperti setahun tidak keluar rumah.
Sementara itu, Nijimura hanya tersenyum melihat ekspresi pemuda pirang di sebelahnya. Ia tidak melihat kulit Kise yang pucat seperti sebelumnya. Wajahnya bercahaya dan pipinya merona. Ia juga mendengar gumaman senandung dari bibir si pirang. Inilah yang ingin ia lihat dari sosok Kise. Pemuda yang ceria dan bersinar bagai mentari. Ahh... sangat menyilukan. Andai saja adiknya itu Ryouta, bukan bocah bandel gak bisa diatur seperti Shougo. Betapa sempurnanya hidup ini.
Mobil berhenti di depan sebuah toko bunga. Di sana Nijimura membeli dua buket bunga lili putih. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
"Ano... Nijimu-"
"Panggil aku Shuuzo. Shuuzo onii-san..."
"Eh?" Kise cengo.
"Ah... Tidak... Aku cuma merasa panggilan Nijimura-san itu terasa asing. Kita kan tetangga dekat, aku ingin kau memanggilku dengan nama depanku," ujar Nijimura gugup. Kenapa tiba-tiba jadi gugup begini?!
Si pirang diam sejenak. Ia berpikir memanggil orang yang lebih tua darinya dengan nama depannya itu sedikit tidak sopan. Hmm... Kalau begitu...
"Kalau begitu, Nijimura-cchi." Kise tertawa kecil. Tawanya begitu merdu di telinga Nijimura.
Walaupun tidak sesuai keinginan, setidaknya panggilan 'Nijimura-cchi' sudah cukup baginya.
"Nee, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Kise.
"Kau akan segera mengetahuinya nanti."
.
.
Mobil berhenti di suatu komplek pemakaman. Hari itu pemakaman cukup sepi. Nijimura keluar mobil dan menggendong Kise di punggung. Sebelumnya ia lupa memakaikan Kise alas kaki, membuat laki-laki yang lebih muda itu susah berjalan. Ditambah lagi luka di kedua telapak kakinya.
Dua buket lili putih di pegang oleh Kise. Sementara Nijimura menggendongnya menuju ke tempat yang ingin pria itu datangi. Langkahnya berhenti di dua buah batu nisan yang masih terlihat baru.
"I-Ini... Makam orangtuaku..." Kise tak mengerti kenapa Nijimura ingin kesini.
"Ya, aku baru mendengar kabar kematian mereka dan belum sempat datang untuk ziarah," ujar Nijimura menurunkan Kise dari gendongannya. Memberikan sendal yang dikenakannya pada Kise untuk dipakai. Lalu mengambil dua buket bunga lili itu dari tangan si pirang dan meletakkannya di tiap nisan. Menempelkan kedua tangannya di depan wajah dan berdoa.
"Aku masih berhutang budi pada mereka banyak sekali. Sayangnya mereka pergi duluan sebelum aku sempat membayarnya," ucapnya usai berdoa.
"Tapi..." Nijimura menghadap Kise, menatapnya lekat. "Aku berpikir untuk menjagamu sebagai balas budiku pada mereka. Aku akan menganggapmu sebagai keluarga," ia memegang bahu Kise. "Kau adalah keluarga kami sekarang. Kau tidak akan sendirian, Ryouta."
Kise terperangah. Matanya melebar. Tidak sendirian... Tidak sebatang kara... Keluarga...
'Kau Tidak sendirian, Ryouta' itu adalah kata-kata yang sama dengan yang di ucapkan Haizaki. Kakak dan adik sama saja.
Perlahan-lahan air matanya menetes. Pemuda pirang itu menangis terharu. "T-terima kasih... Nijumura-cchi..."
Nijimura hanya membalas dengan senyuman. Jemarinya mengusap air mata si pirang. "Dasar cengeng."
Mereka berdua tertawa. Namun tawa itu terhenti oleh panggilan seseorang.
"Kise-kun?"
Keduanya menoleh ke asal suara. Di hadapan mereka berdiri seorang pria. Rambutnya berwarna kecoklatan dengan alis tebal. Tubuhnya tinggi dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Kedua tangan memegang sebuket bunga anyelir putih. Kise mengenal pria ini.
"Kiyoshi-san...?" ucap Kise. "Sedang apa di sini?"
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Kise-kun." Balas pria yang bernama Kiyoshi itu. Senyumanya masih terukir di wajah.
"Kau kenal dia?" tanya Nijimura dengan suara kecil.
Kise mengangguk dan tersenyum padanya. "Dia menejerku, Kiyoshi Teppei."
Kiyoshi Teppei, 35 tahun. Ia sudah menjadi menejer Kise sejak si pirang memulai debutnya sebagai model. Kiyoshi adalah sahabat ayahnya. Kise sudah menganggapnya seperti ayah keduanya.
Kiyoshi memiliki keperibadian yang mudah tersenyum dan tertawa baik di saat senang maupun susah. Bebeberapa orang menganggapnya orang aneh. Haizaki juga berpendapat serupa. Pemuda bersurai abu-abu itu pernah mengatakan senyumnya itu aneh dan misterius. Haizaki sendiri tidak tau kenapa ia berkata seperti itu. Ia mengatakan itu berdasar insting saja.
"Kiyoshi Teppei," ucap pria yang bernama Kiyoshi itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya ke arah Nijimura. Senyumnya masih tidak hilang dari wajahnya.
"Nijimura Shuuzo," Nijimura menjabat tangannya. "Aku tetangga Ryouta."
"Dia kakak angkatnya Shougo-kun," Tambah Kise.
Alis Kiyoshi terangkat. "Oh, begitu..." Kiyoshi mengenal Haizaki, tapi tidak dengan Nijimura—karena Nijimura jarang di rumah. Matanya lalu melirik kebawah—tepatnya ke arah kaki Kise. "Kakimu?!"
"Oh, ini... cuma luka kecil. Kemarin aku terjatuh," Kise bohong. Tapi tidak seluruhnya bohong juga sih. Dia memang benar terjatuh.
"Yaampun... Lain kali kau harus hati-hati," Katanya sambil berlutut memeriksa.
.
.
Nijimura, Kise, dan Kiyoshi keluar dari komplek pemakaman. Si pirang digendong Nijimura di punggungya. Alas kaki—yang tadinya dipakai Kise—kembali dikenakannya.
"Sepertinya kita akan berpisah dari sini. Mobilku ada di sebelah sana," ucap Kiyoshi menunjuk ke arah berlawanan.
"Ah, iya. Sampai jumpa, Kiyoshi-san!" Kise melambaikan tangan.
"Oh iya, Kise-kun. Nanti sore aku akan ketempatmu untuk membicarakan soal pekerjaanmu."
"Kenapa tidak sekarang saja? Lagipula kita masih punya banyak waktu. Iya kan, Nijimura-cchi?" Kise menatap Nijimura.
Pria bersurai hitam itu hanya dikatakan Kise benar. Kalau pulang sekarang ia akan bosan.
Dengan demikian, mereka tidak jadi pulang dan memilih pergi ke cafe terdekat untuk ngobrol. Suasana cafe saat itu tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Tidak berisik. Suasana yang nyaman untuk mengobrol santai," ucap Kiyoshi setelah memesan minuman.
"Ya, ngomong-ngomong tadi Kiyoshi-san ingin bicara apa?" tanya Kise.
"Oh, ini tentang kontrak yang kau tanda tangani bebebrapa bulan yang lalu. Kontrak dari perusahaan parfum yang terkenal asal Amerika itu. Mereka mengatakan akan memulai proyek iklannya besok." ujar Kiyoshi.
"Eh?! Harus benar-benar besok?! Tapi kau tau kan, kakiku sedang... Bisakah kita batalkan kontraknya saja?"
"Itu tidak mungkin, Kise-kun. Kau sudah menandatangani kontraknya. Kalau kau membatalkannya, kita akan mendapat masalah. Lagi pula ini dari perusahaan yang sangat terkenal. Suatu kesempatan besar kau terpilih jadi model untuk produk parfum mereka."
"Kau benar, sih. Hanya saja... Apakah bisa hari lain? Aku harus memastikan kondisiku. Karena aku..." Kise menundukkan kepalanya. Karena aku takut keluar rumah.
Kiyoshi hanya mendesah pelan. "Aku sudah berusaha bernegosiasi dengan pihak perusahaan, tapi mereka menolak. Mereka bersikeras untuk memilihmu untuk jadi model mereka besok. Tidak mau model yang lain, hanya kau."
'Kenapa harus aku? Sebegitu cocokkah aku menjadi model mereka?' pikir Kise. "Ya, ya... apa boleh buat..." Ia menghela napas pasrah.
Bebebrapa saat kemudian, pesanan mereka datang. Sambil menikmati minuman, mereka kembali ngobrol. Kali ini Nijimura dan Kiyoshi yang berbicara. Mereka tidak berbicara tentang pekerjaan. Hanya sekedar basa-basi dan saling curhat tentang kesibukan masing-masing. Nijimura yang pusing mengasuh adik bandelnya dan Kiyoshi yang repot soal urusan rumah. Kise hanya diam memperhatikan sambil menyeruput espresso-nya. Keduanya kelihatan sangat akrab seperti sahabat lama yang sudah lama tak bertemu. Diam-diam pemuda pirang itu tersanyum.
Tapi itu tak berselang lama. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin di sekitarnya. Senyumannya luntur. Nijimura dan Kiyoshi tak menyadarinya—masih sibuk ngobrol. Bulu kuduk berdiri. Matanya mencoba melihat sekitar. Pandangannya terhenti pada sudut ruangan cafe. Ia membelalakan matanya.
Di sana ada bayangan hitam pekat menyerupai bentuk manusia. Bayangan itu tinggi hampir menyentuh langit-langit.
"Ketemu..." Bayangan itu berbicara. Suaranya serak dan dalam. Membuatnya gemetaran. Makhluk itu akan menangkapnya!
"Nijimuracchi!" ucapan Kise mengagetkan kedua pria yang masih mengobrol. "Aku mau pulang... Cepat..." suaranya bergetar hampir menangis.
"Kau kenapa, Ryouta?!" Nijimura bingung. Apa yang terjadi pada si pirang hingga dia hampir menangis ketakutan? Setelah diam sejenak, ia mulai mengerti.
"Maaf, Kiyoshi-san. Sepertinya kami harus pergi sekarang," ucap Nijimura berdiri lalu menggendong Kise piggy back. "Kami permisi," Nijimura meletakkan sejumlah uang di atas meja untuk membayar minuman, lalu pergi dengan tergesa-gesa.
Kiyoshi—yang ditinggal sendirian—hanya mengangkat alis kebingungan menatap kepergian mereka. Setelah keduanya sudah tak terlihat, ia kembali tersenyum dan nyeruput minumannya seolah tak terjadi apapun.
.
.
"Sial! Kenapa disaat seperti ini?!" Gerutu Nijimura sambil berlari menggendong kise menuju parkiran.
Ia baru menyadari hari sudah menjelang sore dan sekeliling mereka sangat sepi. Aneh, biasanya tempat ini lumayan ramai.
"Ryouta, apa sosok itu mengejar kita?" Tanyanya masih berlari.
"Tidak tau," Kise tak berani menoleh. Wajah terus dibenamkan di leher Nijimura semenjak mereka keluar cafe.
Masih terus berlari, pria bersurai hitam itu mencoba menoleh ke belakang. Perlahan larinya melambat lalu terhenti. Sosok itu tak mengejar mereka.
"Tidak ada..." Nijimura mengatur napasnya.
"Masih!" Kise mengeratkan pegangannya. "Aku bisa merasakannya!"
Nijimura melanjutkan larinya. Mobil sudah tak jauh. Dengan cepat mereka masuk dan menyalakan mesin, lalu pergi dengan kecepatan tinggi. Setelah dirasa cukup jauh, ia menurunkan kecepatannya. Kali ini kondisi jalanan ramai namun tidak padat. Nijimura mencoba mengintip lewat spion. Tidak ada yang mengejar.
"Apakah sudah aman?" tannyanya lebih pada diri sendiri.
Pandangannya teralih pada sosok pirang di sebelahnya. Pemuda itu duduk meringkuk ketakutan. Kondisinya sama persis seperti saat mereka keluar rumah. Kemudian matanya menemukan suatu spot kecil kemerahan di leher kise. Tanda itu agak tersembunyi dibalik kerah bajunya. Nijimura tak menyadari itu sebelumnya.
'Apa itu? ...kiss mark? Aku akan tanya padanya nanti.' Ia pun kembali fokus berkendara. Hal itu bisa diurus nanti. Sekarang dia harus fokus untuk kembali ke rumah dengan selamat.
Hari sudah gelap ketika mereka sampai. Langitnya mendung dan sebentar lagi akan hujan. Kondisi Kise pun sudah membaik. Pemuda pirang itu tampak tenang dan tidak setegang sebelumnya. Nijimura merasa lega.
Matanya kembali mrelirik leher si pirang. Spot itu masih ada. "Ryouta, ada sesuatu di lehermu."
"Hmm...?" Kise meraba-raba lehernya, mencari sesuatu yang dikatakan Nijimura.
"Ada tanda kemerahan. Apa kau habis digigit serangga?" tanya Nijimura lagi.
Tanda kemerahan? Mata manik madunya terbelalak. Seketika Kise langsung menutupi lehernya—di tempat tanda itu berada. Tidak mungkin?! Bekas itu masih ada. Ia menggigit bibir bawahnya. Nijimura tidak boleh tau soal ini. Dia pun langsung berlari ke kamarnya, meninggalkan Nijimura yang masih bertanya-tanya.
"RYOUTA! TUNGGU-" Nijimura diam sejenak. "Eh, sebentar... bukannya kakinya..." Bukannya kakinya sedang luka? Manik hitamnya langsung melebar. "RYOUTA! KAKIMU!"
Sementara itu, Kise—yang tengah berlari di anak tangga—langsung berhenti setelah mendengar teriakannya. Kakiku? Ia melirik kakinya yang masih diperban. Eehh?! Tidak sakit.
Kise duduk di anak tangga dan mulai membuka plester dan perban. Ia melihat telapak kakinya dan matanya melebar. Tidak ada luka sama sekali, bahkan segorespun. Bagaimana bisa?!
Nijimura kemudian datang dan merespon dengan ekspresi yang sama. AJAIB!
.
.
Beberapa jam kemudian Haizaki pulang. Ia langsung di buat terkejut dengan sosok Kise yang mondar-mandir dirumahnya. Bukannya kakinya sedang luka? Haizaki mengangkat kedua alisnya bingung. Harusnya Kise susah untuk jalan. Apa dia sudah sembuh? (Karena ia melihat telapak kaki kise tidak diperban). Seingatnya tadi pagi luka itu masih basah.
"Shougo-kun sudah pulang," Kise menghampirinya.
"Lukanya?" tanya Haizaki tanpa menatap wajahnya. Mata masih terpaku pada kaki Kise.
"Sudah sembuh. Aku tidak tau kenapa, tiba-tiba luka itu menghilang."
Kini Haizaki menatap wajahnya. Matanya menyipit heran. Rasanya sangat aneh.
"Yak, syukurlah kalau begitu," Haizaki menepuk pundak Kise dan berjalan melewatinya. Ia mengabaikan firasat anehnya itu.
Kise cuma diam memandang punggung si surai abu-abu hingga menghilang ke arah ruang tengah.
..:::====:::..
Senin pagi Kiyoshi menelepon. Ia menyuruh Kise bersiap-siap. Kiyoshi akan menjemputnya, namun Kise menolak. Si pirang berkata ia akan diantar oleh Nijimura—itupun karena Nijimura sendiri yang meminta.
Haizaki berangkat sekolah lebih dulu. Sebelum keluar rumah, ia memanggil Kise. Jarinya kemudian mengusap-usap anting perak yang tertindik di telinga kiri si pirang.
"Apa yang kau lakukan, Shougo-kun?" tanya si pirang bingung.
"Aku memberikan energi positif pada antingmu agar makhluk-makhluk halus itu tidak bisa mendekatimu," jawab Haizaki, jari masih mengusap-usap anting perak itu. "Aku tidak yakin ini akan menghindarimu dari pria bertopi hitam itu, tapi setidaknya dapat menghindarimu dari makhluk-makhluk itu. Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah melihat mereka. Aku pikir itu agak aneh, jadi aku memberikanmu ini untuk jaga-jaga. Anggap saja antingmu ini sebagai jimat," tambahnya.
"Um, baiklah."
"Jangan pernah lepaskan antingmu, oke."
Kise merespon dengan anggukan kepala. Haizaki pun berangkat.
"Kau sudah siap, Ryouta?" Nijimura datang mendekat. Ia sudah memakai seragam polisinya dan siap untuk berangkat kerja.
"Ya..." Kise mengangguk.
.
.
SMA Teikou.
"Ini yang kau minta, Aomine-kun," Kuroko meletakkan setumpuk foto di meja Aomine.
"Yosh! Thanks, Tetsu," Aomine mengambil lembaran-lembaran itu dan mengeceknya satu per satu.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan dengan foto-foto itu?" Tanya si surai baby blue.
"Tidak ada. Aku cuma penasaran dengan stalker Kise yang kau ceritakan di Majiba," jawab si pemuda tan.
Yang Aomine pegang sekarang ini adalah foto-foto saat training camp klub basket Teikou. Beberapa foto menampilkan kegiatan latihan klub dan sisanya foto selfie dan kegiatan diluar training camp—yang rata-rata diambil oleh Kise, Kuroko, dan Momoi. Jika dilihat sekilas, gambar-gambar yang di tampilkan tampak biasa. Namun jika diperhatikan lebih teliti lagi, akan terlihat janggal. Khususnya pada foto yang menampilkan Kise.
Di setiap foto terlihat seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai topi dengan warna serupa. Pria itu berdiri tepat jauh di belakang si pirang—seperti yang kuroko katakan waktu itu. Tampilannya blur. Tidak jelas. Wajahnya tak terlihat, tapi Aomine dapat melihat rambut pirangnya dibalik topi itu. Siapa dia?
"Sebenarnya aku sudah menyiapkan ini sejak dulu setelah kita membicarakannya di Majiba. Aku ingin menunjukkannya pada Kise-kun, tapi dia tidak pernah masuk sejak hari itu," ujar Kuroko.
"Apa ada kabar tentangnya?" Tanya Aomine, mata memandang lekat foto Kise yang sedang tersenyum ceria dengan latar belakang langit cerah. Pemuda tan itu benar-benar sangat merindukannya.
"Tidak ada," jawab Kuroko. "Aku heran, kenapa pihak sekolah tidak pernah mempertanyakannya. Ini sudah hampir sebulan."
"Aku juga heran..."
Mereka berdua diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu tiba-tiba ada tangan yang merebut satu foto Kise dari tangannya.
"Ah, Ryouta..." ucap si perebut foto. Aomine mengenal suara itu.
"Haizaki?!" Aomine mencoba merebut kembali foto itu. Tapi si surai abu-abu mengangkat foto itu tinggi-tinggi, jauh dari raihan tangan si surai biru—yang masih duduk di meja. "Kembalikan!"
Haizaki melet. "Lihat sebentar tidak apa-ap-" Kalimatnya terhenti setelah memandang foto itu. Ekspresinya mendadak berubah jadi serius. "Berikan semuanya padaku!" dia merebut semua dari tangan Aomine sebelum pemuda tan itu sempat bicara.
Haizaki melihat foto itu satu persatu. Matanya perlahan-lahan menyipit dan menggeram marah. "Sialan..." geramnya pelan hampir tak terdengar oleh Aomine dan Kuroko.
Ia meletakkan foto itu kembali ke meja Aomine dan pergi ke mejanya. Tiba-tiba ia jadi hilang mood. Sementara itu Aomine dan Kuroko hanya saling memandang lalu mengangkat bahu.
"Ada apa dengannya?" gumam Aomine.
"Mungkin Haizaki-kun tau sesuatu," ucap Kuroko sambil merapikan foto tersebut. "Sebentar lagi bel berbunyi. Aku akan kembali ke kelasku." Kuroko pun beranjak dari sana.
Mungkin yang dikatakan Kuroko benar. Haizaki pasti tau sesuatu. Aomine memandang Haizaki dari mejanya. Pemuda surai abu-abu itu tampak frustasi. Berbeda dengan sikapnya sebelum melihat foto-foto tadi.
Pemuda tan itu terus memandang Haizaki hingga bel berbunyi.
.
.
.
Mobil Nijimura tiba di depan tempat photo shoot. Sebuah gedung pencakar langit berlantai 15. Gedung ini adalah gedung studio foto sekaligus kantor agensi tempat Kise bekerja.
Lokasinya tidak begitu jauh dari tempat kerja Nijimura. Itulah kenapa ia menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Berhati-hatilah, Ryouta," Ucapnya. "Aku akan pulang larut. Telepon Shougo, jika kau ingin pulang. Dia akan menjemputmu. Aku dan Shougo tidak ingin kau pulang sendirian."
"Baiklah. Terima kasih atas tumpangannya, Nijimura-cchi. Hati-hati di jalan!"
"Ya." Nijimura menjalankan mobilnya.
Kise memandang kepergiannya lalu mulai masuk ke dalam gedung. Kiyoshi sudah menunggunya di dekat meja resepsionis.
"Ah, Kise-kun. Akhirnya kau datang," Kiyoshi tersenyum seperti biasa. "Ada seseorang yang menunggumu."
"Siapa?"
"Presedir dari perusahaan parfum yang kau tanda tangani kontraknya. Ia bilang ingin mengawasi proses photo shoot dan dia pula yang akan memimpin dan mengatur segalanya. Sekarang dia sedang menunggumu di studio," ujar Kiyoshi sambil berjalan beriringan dengan si pirang menuju studio.
Kiyoshi membuka pintu mempersilahkan Kise untuk masuk duluan. Dari pintu masuk, ia dapat melihat kumpulan staff tata lampu dan kameraman sedang mengerubungi seseorang.
Mengetahui keberadaannya, mereka memberikan akses lewat bagi Kise untuk melihat orang tersebut. Lalu bola matanya melebar setelah mengetahui sosok siapa di sana.
"Ah, Kise Ryouta kah? Aku sudah menunggumu," ucap orang itu suaranya tenang dan dalam, mengingatkannya pada seseorang. Ya, Kise kenal dengan suara itu. Sangat kenal.
Tubuhnya mesih terpaku ditempat memandang sosok dihadapannya dengan tatapan horor. Wajahnya memucat.
"K-Kau..."
.
.
.
.
.
To Be Continue
Yay, update!
100 buat yang nebak Nijimura kakaknya zaki! xD
Chapter lalu kan Haizaki, Sekarang giliran Nijimura deket-deket sama Kise /gak
Orang baru juga mulai muncul kayak Kiyoshi Teppei.
Ini main pairnya Aokise, tapi adegan aokisenya gak nongol-nongol juga. Sabar ya... sebentar lagi muncul kok.
Sharyn Li: yang pasti bukan GOM, apalagi Haizaki XD Slenderman? Bukan... coba lagi... hahaha
gifha aulia: sayangnya chapter ini aokisenya blom ada ;;-;; kemungkinan chapter depan ;D
Yukiya92: ini udah lanjut~
AoKeisatsukan: yup! Nijimura~ yang cocok jadi kakaknya memang dia seorang (menurut saya sih)
Nozuki0107: iya juga... lama-lama si jaki jadi paranormal... ada mistisnya ya karena genrenya ada supernaturalnya... hahaha
Nining-san: saya bosen haizaki jadi antagonis mulu di fic aokise, jadinya saya buat protagonis hehe. Iya, bang niji kakaknya~
Aoi: udah lanjut~ Ini main pairnya Aokise sih... tapi rada allxKise. Untuk haizaki, mereka cuma platonic doang kok~
Cosmo: udah lanjut~
Terima kasih untuk review, fav, dan follownya~
Sampai jumpa di chapter berikutnya~
