Can I Love Him?

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, Hurt and Comfort

Pair : NaruHina, slight GaaHina

Warning : Typo, OOC, plus rada-rada gaje hihi~

.

.

.

Cuplikan Cerita Sebelumnya~

Menyaksikan Naruto yang kini tersenyum lebar pada Shion, membuat pikiran Hinata makin kacau. Apa yang ia lihat dari kedekatan Naruto dengan Shion? Lalu apa hubungannya dengan Hinata sekarang? Bukannya dia sudah memiliki Gaara. Orang yang menyukainya sepenuh hati dan kekasihnya saat ini. Dia hanya menganggap Naruto itu adik kecilnya, adik kecil yang begitu polos dan cengeng untuknya. Benarkan?

"..."

Tapi sekarang entah kenapa adik kecil yang sering bersamanya itu tiba-tiba saja sudah menjadi seorang pemuda pirang yang tinggi, memiliki wajah tampan, dan disukai banyak gadis. Gadis indigo itu teringat kata-kata Neji tadi pagi padanya, ternyata Kakak sepupunya itu tidak salah...

'Naruto-kun sudah benar-benar berubah...'

Chapter 4 : Help me?!

"Sebaiknya aku lewat jalan lain saja." Gumam Hinata kembali, setelah melihat kedekatan Naruto dengan Shion, gadis itu seolah-olah tidak ingin menganggu kedua orang itu. Jadi daripada terjadi salah paham, lebih baik dia mencari jalan lain saja~

Ia segera berbalik dari tempat itu dan memilih memutar jalan saja, tapi belum sempat ia berbalik. Buku yang ada di pelukannya sedari tadi tiba-tiba saja terjatuh, entah karena tangannya yang licin atau gemetar. Yang penting gara-gara bukunya yang terjatuh itu, Naruto langsung saja berjalan menuju arah suara tadi.

"Tunggu sebentar, Shion-sensei." Ujar Naruto ketika mendengar suara buku terjatuh.

Dan untuk Hinata..

'Kyaa! Aku harus segera pergi dari sini, kalau Naruto tahu aku ada disini sejak tadi. Bisa-bisa dia memikirkan sesuatu yang tidak-tidak!' pekiknya dalam hati, dengan secepat kilat. Gadis indigo itu segera mengambil bukunya kembali, dan untunglah ternyata kecepatan mengambil bukunya itu lebih cepat dari pada langkah kaki Naruto, jadi..

'Arigatou Kami-sama~'batin Hinata tenang, dengan cepat ia kembali berbalik dan benar-benar berlari meninggalkan tempat itu. Tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah ada lagi barangnya yang terjatuh~

...

Sedangkan Naruto..

Begitu pemuda pirang itu menengok ke tikungan jalan tadi, alisnya berkerut bingung.

"Tadi sepertinya aku yakin mendengar suara disini.." gumamnya. Sampai...

"..."

'Apa ini?' Mata Saphirenya tak sengaja melihat sebuah pembatas buku yang terjatuh disana, sepertinya milik orang yang menjatuhkan buku tadi?

"..." pikiran pemuda pirang itu masih melayang-layang, ketika..

"Ada apa Naruto-kun?" tanya Shion, gadis pirang itu jadi penasaran dengan gerak-gerik muridnya itu. Dan ikut menyusulnya.

Naruto menggeleng kecil, "Tidak apa-apa kok, Shion-sensei. Kalau begitu aku pulang dulu ya~" ucapnya dan dengan segera berpamitan pada Senseinya itu sebelum semua teman-teman menunggunya di gerbang, tapi..

Grep, sebuah tangan menghentikan gerakannya. Pemuda pirang itu langsung menoleh ke belakang kembali.

"Shion-sensei..."

"A..ano, Naruto-kun.." mata Saphire Naruto yang melihat gerak-gerik Senseinya itu yang menurutnya aneh, hanya bisa terdiam.

"Ada apa Sensei??" tanya pemuda itu lagi.

"E..eto, karena kita sudah bertemu disini, Apa kau mau mau makan siang bersama Sensei sekarang?" ujar gadis pirang itu.

Naruto tentu saja kaget dengan permintaan gadis pirang di depannya itu, tapi karena dia sudah punya urusan untuk hari ini..

Dengan sedikit menggaruk-garukkan kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, Naruto mengeluarkan senyum rubahnya. "Gomenne Sensei~ Hari ini aku dan temanku ingin pergi ke rumah Hinata-sensei~" jawabnya singkat.

"Ke rumah Hinata?" Shion sedikit kecewa dengan penolakan muridnya itu,

"Iya, sekali lagi Gomenne Sensei~ Kalau Sensei mau besok sepertinya aku tidak ada acara jadi mungkin bisa makan siang bersama." Ujarnya begitu melihat raut wajah Senseinya berubah.

Shion yang mendengar itu entah kenapa langsung mengadahkan wajahnya dan menatap murid pirangnya itu. "Benarkah?" tanya gadis itu kembali.

Naruto mengangguk kecil, "Kalau begitu aku pergi dulu Sensei!" ucapnya untuk yang kedua kalinya,

"Oke!"

...

"Kenapa Naruto-kun ingin pergi kerumah Hinata?" gumam Shion tanpa sadar begitu bayangan Naruto sudah tak terlihat lagi.

Gadis itu segera menepis semua perasaannya dan menggeleng pelan, "Hinata kan wali kelas Naruto-kun , lagi pula dia kesana bersama teman-temannya~" gumamnya sekali lagi, seraya beranjak pergi dari tempat itu.

'Yah~ setidaknya besok aku dan Naruto-kun bisa makan siang bersama-sama, hihihi~'

.

.

.

.

"Hah, hah~" napas Hinata terengah-engah, gadis itu berlari terlalu kencang, Dia sendiri tidak mengerti mengapa ia berlari-lari seperti ini.

"Kenapa aku tiba-tiba berlari..hah..hah~" gumam gadis itu di sela-sela mengambil napas perlahan. Akhirnya setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk beristhirahat, dengan cepat Hinata kembali memfokuskan dirinya melihat jalan yang secara tidak sengaja ia ambil setelah. Dan gadis itu benar-benar melupakan sesuatu yang sangat amat penting bagi dirinya sekarang ini..

"Aku harus segera pergi ke..." ucapanya tiba-tiba terpotong,

"..." gadis itu langsung membisu, mata lavendernya mulai kebingungan.

"Di..dimana ini?!" setelah akhirnya otaknya terpasang rapi, Ia terpekik kecil. Inilah hal yang ia lupakan sekarang.

'A..Aku lupa kalau baru mengajar disini, jadi tidak terlalu hapal dengan area-area ini!' batinnya mulai panik, secara sekarang ia sudah berdiri di tempat yang sama sekali tidak ia ketahui. Sebuah gedung besar berwarna putih bersih kini ada di depannya matanya.

"A..Aku tidak tahu kalau di sekolah ini ternyata ada gedung sebesar ini!" serunya kembali.

'Po..pokoknya sekarang aku harus mencari jalan yang tadi kulewati!' batinnya. Gadis indigo itu segera beranjak dari tempatnya, dan berusaha kembali ke jalan yang tadi ia lewati, sampai..

Ia tak sengaja bertemu dengan sebuah jalan yang bercabang tiga! 'Kyaa! Kenapa tadi aku benar-benar tidak sadar kalau melewati ini semua!' pekiknya kembali panik. Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipisnya. Gara-gara kejadian tadi entah kenapa membuat pikirannya kacau, sampai-sampai ia melupakan juga tentang kebiasaan buruknya ketika kecil dulu. Tidak pernah bisa mengingat jalan, dan selalu saja tersesat. Seperti kejadian tadi pagi itu~

Kakinya terasa lemas karena berlari tadi, akhirnya dengan pasrah gadis itu memilih untuk mengisthirahatkan kakinya lagi di sebuah tempat duduk kecil.

"Pasti semua murid-muridku sudah menunggu sekarang.." gumamnya sedih.

OoOoOoOoOoOoO

Gerbang~

Naruto kini berlari menuju arah teman-temannya yang sepertinya sudah menunggunya sejak tadi.

"Gomen Minna! Aku terlam.." begitu ia mendekati teman-temannya itu, belum sempat mengutarakan semua perkataannya..

Bletak! Sakura, gadis merah muda itu berjalan mendekati pemuda pirang yang hanya bisa cengengesan itu dan tanpa basa-basi lagi ia memukul kepala duriannya~

"Naruto Baka! Kau tahu kami sudah menunggumu sejak tadi, padahal kau yang menyarankan ide untuk belajar di rumah Hinata-sensei tapi malah kaunya sendiri yang terlambat!" oceh gadis itu tanpa henti. Naruto yang mendengar semua unek-unek sahabatnya itu hanya bisa mengeluarkan cengiran khasnya.

"Hehehe~ Gomenne Minna~ Tadi aku ada sedikit urusan, jadi terlambat sedikit tidak apa-apa kan?" ujarnya dengan nada polos.

"Apa?!" Sakura berniat memukul kepala pirang pemuda itu, sebelum..

"..."

"Lho, mana Hinata-sensei?" tanya Naruto tiba-tiba begitu melihat semua teman-temannya sudah berada disini, tapi Senseinya yang satu itu tidak ada. Pikirannya mulai sedikit panik.

Semua orang disana mengendikkan bahu mereka bersamaan, "Kami tidak tahu, sejak tadi kami menunggu, Hinata-sensei belum datang-datang juga." jawab semuanya.

"Sejak tadi?"

Sakura mengangguk kecil.

Naruto mulai merasa tidak enak, "Apa jangan-jangan.." gumamnya tanpa sadar, membuat semua teman-temannya disana mendengar ucapan itu dan ikut penasaran.

"Jangan-jangan apa Naruto?"

"Eh?! Tidak apa-apa kok, lebih baik aku mencari Hinata-sensei sekarang!" ujarnya cepat, dan segera berbalik kembali meninggalkan semua teman-temannya itu di depan gerbang.

"Kenapa dengannya?" bisik Sakura dan Ino bersamaan ketika melihat gerak-gerik pemuda pirang itu~

.

.

.

.

Kembali pada Hinata~

Gadis indigo itu melirik sekilas jam di tangannya, "Sudah pukul empat sore," bisiknya. Hinata benar-benar pasrah sekarang, meski bisa saja dirinya menghubungi Gaara dan meminta pemuda itu untuk mencarinya, tapi ia tidak mau merepotkan kekasihnya itu lebih dari ini. Sedangkan berjalan lebih jauh akan membuatnya semakin tersesat di sekolah yang entah kenapa bisa sebesar ini, dan berdiam diri disini juga membuatnya hanya bisa menunggu sampai seseorang menyadari kalau dirinya tidak ada~

"Hah~ Hinata Baka, Kau ini masih saja memelihara kebiasaanmu tersesat seperti ini!" rutuk gadis itu pada dirinya sendiri.

Lama berdiam di tempat itu, mengingatkan kembali ketika Hinata kecil dulu. Kebiasaannya yang selalu merepotkan orang-orang sekitarnya ini, dan bagaimana seorang pemuda kecil berambut pirang yang selalu saja bisa menemukannya paling pertama.

OoOoOoOoOoOoo

Flash Back ON :

Mata lavender Hinata melirik-lirik sekitar, tangan kecilnya yang tak berhenti gemetar karena terlalu takut, dan air mata yang hampir saja jatuh di pipi mungilnya.

"Di..dimana ini?" gumamnya menahan tangis, gadis berambut indigo pendek itu tak henti-hentinya bergumam.

Sepertinya dia tersesat,

...

Hari ini sebenarnya semua keluarga besarnya mengadakan sebuah perjalanan kecil di sebuah taman yang terkenal di Konoha, taman yang sangat besar dengan banyak pohon-pohon besar tumbuh di sana~

Hinata dan Naruto tentu saja ikut, secara kedua orang tua mereka sudah berteman sangat lama. Hinata yang terpukau melihat keindahan dan keasrian taman besar itu hanya bisa menganga lebar.

"Bagus sekali!" pekiknya kecil.

Naruto yang seperti kita ketahui adalah Naruto Namikaze yang sekarang ini, ikut mengangguk setuju. Tangan mungilnya mengandeng tangan Hinata untuk bermain di tempat kecil berisikan pasir.

"Hinata Nee-chan, Ayo kita kesana!" seru anak kecil pirang itu bersemangat.

"Un!"

...

"Haahaaha! Istana pasir buatanku lebih hebat dari punya Nee-chan!" seru Naruto seraya memamerkan karya pasirnya itu pada gadis indigo itu.

Hinata yang melihat itu terkikik kecil, "Un, bagus sekali Naruto-kun, sepertinya kau berbakat membuat istana pasir, Hihihi~" ucapnya.

Anak kecil pirang itu semakin bersemangat ketika mendengar pujian dari Hinata, dan berniat membuat istana yang lebih bagus lagi~

"Yosh! Aku akan buatkan yang satu lagi buat Nee-chan!" teriaknya senang, dan kembali berkutat dengan pasir.

Gadis indigo itu tersenyum kecil, Ia juga ingin membuat satu lagi istana pasir seperti Naruto.

"La..la...la..la~" senandung kecil mulai keluar dari bibir mungilnya, Hinata masih asyik bermain dengan istana pasir buatannya. Sampai..

"Ah! Itu kan!" mata lavendernya menangkap dua ekor kupu-kupu yang sangat cantik di depan matanya. Senyuman lebar langsung tercipta di wajahnya.

"Cantik sekali~" gumam gadis kecil itu, dan tanpa sadar ia beranjak dari tempat bermain pasir itu dan berjalan perlahan mengikuti kupu-kupu tadi, meninggalkan Naruto yang sepertinya masih berkutat dengan istana pasirnya.

"Hei~ Kalian mau kemana?" ujar Hinata, tanpa sadar mengikuti kemana arah kupu-kupu itu pergi.

"Tunggu!" melihat kedua kupu-kupu itu makin terbang jauh, Hinata segera berlari kecil mengejarnya.

Dan...

...

"Hinata Nee-chan! Aku sudah menyelesaikan istana.." Naruto yang baru saja menyelesaikan hasil karyanya itu langsung menoleh ke arah Nee-channya berada, tapi..

"..." mata Saphirenya terbelalak lebar begitu melihat Hinata sudah tidak ada disana lagi.

"Eh?! Nee-chan! Kau dimana?" seru Naruto kecil, ia melihat-lihat kearah semua keluarganya berkumpul. Mungkin Sakura ada disana. Dan ternyata gadis itu juga tidak ada disana!

'Ja..jangan-jangan Nee-chan diculik!' pikiran Naruto ketika masih kecil memang tergolong polos, jadi langsung saja ia berlari menuju tempat Kaasan dan Tousannya berada.

"Kaasan, Tousan! Hinata Nee-chan tidak ada!" teriaknya.

...

Sedangkan Hinata sekarang..

"Kemana kau kupu-kupu manis?" gadis kecil itu mulai merasa aneh ketika kedua kupu-kupu di depannya itu ternyata sudah terbang jauh, kenapa dia bisa berjalan sejauh ini dari tempatnya tadi!

"..." lama ia terdiam, mata lavendernya menelusuri setiap area itu. Perasaan takut mulai menerjang seluruh tubuhnya.

"Di..dimana ini?"

"Ke..kenapa tidak ada seorang pun disini?" ujarnya gugup, jari-jarinya mulai bergemetar. Keringat dingin pun mulai mengalir sedikit demi sedikit di pelipisnya, dan akhirnya barulah dia sadar akan tindakannya tadi.

"A..apa aku tersesat?!" pekik Hinata takut, airmata langsung menjatuhi pipi mungilnya. Gadis itu memang sangat takut dengan keheningan seperti ini. benar-benar takut.

Dengan hati-hati ia langkahkan kakinya berjalan menuju arah yang tadi ia lewati, akan tetapi..

"..."

"Ke..kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali!" seru gadis kecil itu cemas, melihat jalan yang tidak ia ketahui sama sekali. Padahal tadi ia melewati jalan ini.

"A..aku takut..hiks...hiks..hiks.." isak tangis Hinata mulai terdengar keras, ia benar-benar takut. Gemetar di tubuhnya tidak mau berhenti.

"Kami-sama tolong aku..hiks..hiks."

Hinata mencoba menyenderkan badan mungilnya yang terasa lemas itu di sebuah pohon besar. Berharap akan ada seseorang yang menemukannya.

"..."

"..." lama sekali Hinata menunggu, tapi tak seorang pun menemukannya. Gadis itu semakin takut.

"Hiks..hiks...hiks..tolong.."

"..."

"Hinata Nee-chan!"

DEG, suara teriakan yang nyaring itu langsung membuat Hinata tersentak dan segera beranjak dari pohon itu.

"I..itu.."

"Hinata Nee-chan, Aku disini Hinata Nee-chan!" suara teriakan itu makin terdengar jelas di telinganya. Gadis kecil itu makin mempercepat langkahnya, berusaha menuju sumber suara tadi.

"Hinata Nee-chan!"

Flash Back OFF

oOoOoOoOoOoOoO

"Hinata-sensei!"

Hati Hinata serasa kembali mencelos begitu mendengar suara teriakan yang sangat amat familiar di telinganya. Wajah cantiknya yang tadi tertunduk lesu, langsung terangkat kembali.

"I..itu.."

"Hinata-sensei, Aku disini Hinata-sensei!" suara teriakan yang meski sudah berubah sejak beberapa tahun yang lalu, tapi entah kenapa masih teringat oleh gadis indigo itu.

"Na...Naruto.." Ya, suara Naruto Namikaze. Adik kecilnya yang dulu juga orang yang paling pertama menemukannya. Dan kini pemuda pirang itu kembali bisa menemukannya.

"Ti..tidak mungkin.." Hinata segera beranjak dari tempat duduk disana, seperti dulu dan mengikuti kearah sumber suara itu. berlari semakin kencang, menuju suara teriakan adik, ah tidak pemuda pirang itu.

"Hinata-sensei!" suara teriakan itu makin terdengar jelas.

Dengan takut-takut, Hinata membalas panggilan pemuda itu, " Na..Naruto! A..aku..aku disini!" teriak gadis itu.

"Hinata-sensei! Tunggu disana, Aku akan menyusul!" jawab Naruto yang baru Hinata ketahui berada di balik tembok besar di sampingnya kini.

Hinata hanya bisa mengangguk kecil, ia berpikir pemuda pirang itu akan berbalik jalan untuk menemuinya. Tapi ternyata dugaannya salah.

"Akhirnya ketemu juga!" suara teriakan nyaring dari atas tembok besar itu membuat Hinata mengadahkan wajahnya tanpa sadar dan melihat Naruto kini sudah berdiri di atas tembok itu seperti yang ia lakukan tadi pagi.

"Na..Naruto.." gumam Hinata kaget dengan tindakan pemuda pirang itu.

"Lagi-lagi Hinata-sensei tersesat~" ujar Naruto seraya mencoba turun dari tembok tinggi itu.

DEG, mendengar ucapan Naruto tadi Hinata merasakan sedikit kejanggalan. Tapi sebelum ia sempat menanyakan semua itu pada Naruto..

Pluk, sebuah tangan kekar mendarat di puncak kepalanya dan mengusap lembut rambut indigonya itu.

"Yokatta~ Aku sangat mencemaskan anda Hinata-sensei~" ucapan Naruto dengan nada yang belum pernah Hinata dengar, sangat lembut. Membuat wajahnya tanpa sadar kembali mengeluarkan semburat merah.

"Na..Naruto..Kenapa kau bisa menemukan Sensei disini?" tanya Hinata tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya dan... rasa senang di hatinya?

Naruto yang mendengar pertanyaan Senseinya itu, hanya bisa mengeluarkan senyum kecilnya. Dan menggenggam tangan mungil Hinata, mengajak gadis indigo itu berjalan keluar dari tempat itu.

"Na..Naruto.." Hinata masih menunggu jawaban pemuda pirang itu, dan..

Cengiran rubah langsung muncul kembali di wajah tannya, senyuman yang entah kenapa mampu membuat Hinata kembali bersemu merah.

"R-A-H-A-S-I-A~"

"Eh?"

Lagi-lagi pemuda pirang itu bisa menemukannya untuk yang kedua kalinya..

Meski Hinata sendiri tidak tahu apa alasannya?

.

.

.

.

Hinata dan Naruto kini sudah berada di depan gerbang, setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit. Dan selama beberapa menit itu, hati Hinata entah kenapa malah berdetak tak karuan?

'Apa ada yang salah dengan diriku hari ini?' batin gadis indigo itu masih berkutat dengan pikirannya, sampai dirinya tak sadar kalau ternyata sudah kembali di depan gerbang.

"Ta.."

'Bukannya Naruto hanya adik kecil bagiku?'

"Hina.."

'Lalu kenapa dia membuat hatiku berdetak tak karuan seperti ini?'

"Hinata-sensei!"

"Eh?! I..iya!" detik itu juga Hinata tersentak kaget, mendengar suara teriakan Naruto tengah memanggilnya.

Naruto terkikik pelan melihat reaksi Senseinya itu, "Sepertinya semua sudah menunggu kita," ucapnya kembali.

"Be..benarkah?" gadis indigo itu segera menoleh ke arah murid-muridnya menunggu, dan melihat mereka melambaikan tangan.

'Kukira mereka sudah pulang karena menungguku terlalu lama..' batinnya untuk yang kesekian kalinya.

"Ayo, Hinata-sensei~" Naruto berniat menggenggam tangan Hinata kembali, tapi..

"..."

"Gaara.." Hinata tanpa sadar mengucapkan nama pemuda merah itu ketika melihat mobil kekasihnya itu sudah terparkir rapi di sana. Naruto yang mendengar itu langsung saja pergi meninggalkan gadis indigo itu dan berjalan mendekati teman-temannya, cukup membuat Hinata kaget.

"Na...Naruto.."

"..." Naruto tak memperdulikan panggilan kecil Hinata, dan tetap melangkahkan kakinya.

Hati Hinata makin tidak enak, perlahan ia mengikuti langkah pemuda pirang itu.

...

Sedangkan Gaara sekarang, pemuda merah itu segera menghampiri gadis indigo itu. dengan wajah khawatir tentunya. Bagaimana tidak, sejak tadi ia menunggu kekasihnya itu. tapi Hinata tak kunjung datang juga.

"Hinata." ucapnya setelah akhirnya mendekati gadis itu.

Hinata yang melihat Gaara kini sudah berada di dekatnya hanya bisa tersenyum kecil, "Go..gomen membuatmu menunggu Gaara-kun." Ucapnya kecil.

"Hn, tidak apa-apa~ Kau baik-baik saja kan?" tanya Gaara, mencoba mengelus lembut rambut indigo Hinata.

"Un, A..arigatou.."

Naruto yang melihat adegan kedua orang itu, membuat hatinya kesal. Dia tidak suka melihat siapapun menyentuh Senseinya itu! Wajah memerah Hinata hanya boleh untuknya saja, dan yang boleh menggoda gadis indigo itu hanya dia!

Dan dengan tiba-tiba,

"Oi, Naruto kau mau kemana?" ujar Sakura dan Ino berbarengan melihat tingkah laku pemuda pirang itu.

"..."

Grep, tangan kekar Gaara yang semula masih mengelus puncak kepala Hinata langsung berpindah tempat ke..

"Salam kenal namaku Naruto Namikaze~" ujar Naruto.

"Na..Naruto?!" Hinata sedikit kaget melihat kalau pemuda pirang yang tadi masih berkumpul dengan teman-temannya itu kini sudah ada di belakangnya, tepat di belakangnya!

Gaara hanya menatap datar pemuda yang tiba-tiba menarik tangannya itu, persis sekali seperti Sasuke~

"Hn, Aku Sabaku no Gaara, kekasih Hinata." jawab pemuda merah itu cepat.

Gadis indigo itu semakin panik, melihat kedua pemuda tampan itu kini sudah menghimpitnya. Wajahnya ikut-ikutan memerah. Hinata sedikit mencoba melirik wajah Naruto, seperti apa ekspresi pemuda pirang itu sekarang. Sedih, kesal, atau bahkan marah..

"..."

'Lho?' Hinata langsung bertanya-tanya begitu melihat wajah Naruto yang tak seperti yang ia bayangkan.

Seringaian kecil terlihat jelas di mata lavendernya kini, 'A..apa aku salah lihat?' batin gadis itu kembali.

"Oh, jadi kau kekasih Hinata-sensei~"

"Ya."

Seringaian Naruto makin terlihat. Hinata makin bingung. 'Sekarang Naruto mau apa?!' pikirnya panik.

Dan tak disangka-sangka...

Grep, "Eh?!" Hinata terpekik kaget begitu sebuah tangan kekar kini menariknya ke dalam dada bidang milik..

"Kau pasti terkejut mengetahui siapa aku~"

'Naruto!'

"Hn, Aku tidak peduli. Lepaskan Hinata dari pelukanmu." Gaara mencoba melepaskan kekasihnya itu dari pemuda tan di depannya itu.

"Hee~ Aku ini teman masa kecil Hinata-sensei, dan yang akan menjadi calon suaminya di masa depan~"

Jleb, Hati Hinata hampir jatuh mendengar perkataan Naruto yang sangat, amat tiba-tiba di situasi seperti ini!

Di depan Gaara!

"..."

'EH! Jadi selama ini, ternyata Naruto ingat!'

Satu hal yang ia lupakan dari adik kecilnya, satu hal yang sangat amat fatal baginya. Ia melupakan fakta bahwa Naruto itu termasuk anak kecil yang sejak dulu selalu akan ingat dengan janjinya, selalu menepatinya, Dan hampir tidak pernah mengingkarinya sedikit pun!

"..."

Jadi sebenarnya itu baik atau tidak?

Melihat kekasih dan adik kecilnya kini saling berhadapan?

'Hu..huwaaa! Bagaimana ini!' pekiknya dalam hati. (lagi?)

TO BE CONTINUED~

A/N :

Minna! Mushi balik lagi, dengan update yang Mushi kira sudah cepat, *di tabok* nyehehe XD Nah untuk chap ini Gaara dan Naruto sudah bertemu dan ternyata Naruto sudah ingat dengan Hinata *yeyeyeyey* XD

Nah mumpung Mushi lagi baik, akan memberikan sedikit bocoran untuk cerita selanjutnya. #digampar# Gomen,gomen Cuma bercanda kok XD, Mushi kan selalu baik~ #plak#digampar readers#

Cerita selanjutnya :

"Kau benar baik-baik saja?"

"I..iya Arigatou Ga.."

"Wah cerah sekali ya pemandangannya!"

"Naruto maksudmu langitnya, Baka! Dan jangan menganggu Hinata-sensei dan kekasihnya bicara!"

"Kita jadi makan siang bersama kan Naruto-kun?"

"Oke, Sensei~"

"Naruto.."

"Oh ternyata Hinata-sensei juga makan siang disini~ Kita boleh ikut?"

"Bu..bukan begitu cara memotong okonomiyakinya Naruto, seperti ini. Ah wajahmu belepotan saus seperti itu!"

"Hehehe~ Hinata-sensei memang cocok untuk menjadi istriku nanti~"

Brush!

"Eh?!"

"Ta..tadi aku tidak sengaja Gaara! Su..sungguh!"

"Kalau begitu aku juga potongkan."

"Hinata-sensei punyaku lagi dong~"

"Eh?!"

Stoppp! Yak segitu aja deh cerita yang bisa Mushi kasi, yang penting semua udah pada tahu kalau untuk chap selanjutnya ada perang antara Naruto VS Gaara, Muahahaha *tawa setan* #keselek langsung guling-guling di aspal#

Jawaban PM :

Guest 1 : Sip" chap Update! XD *Hidup NaruHina!*

JearlyTheNinja : Sip" chap Update! XD

Candy carroline : Arigatou! TOT/ sip" chap update! XD

Dilaedogawa12 : Arigatou! TOT/ Sip" chap Update! XD

MORPH : Arigatou! TOT/ Wah kalau untuk itu Mushi nggak jamin yaa #digampar# XD

Soputan : Sip" chap Update! XD

Guest 2 : Iya Mushi suka buat Naruto jahilin Hinata hihihihi *ketawa nista* langsung digampar* Ketemu dong~ Sip" chap Update! XD Apakah ini sudah cepat? #plak#

Nah segitu aja deh cuap-cuap Mushi!

Arigatou buat yang sudah me riview dan membaca fic gaje Mushi. Untuk para silent readers yang menyempatkan diri untuk membaca juga Mushi ucapkan Arigatou! Lho? Nyhehehehe XD

Untuk Akhir kata!

SILAKAN RIVIEW! \^O^/\^v^7

JAA~