*~*~..:ONIGIRLY:..~*~*

:…:…:…:…:…:…:

.

»—«

Sasuke & Hinata

»—«

.

Shena BlitzRyuseiran

:…:…:…:…:…:…:

Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto.

Alternate Universe. OoC yang keterlaluan. Gaje. Gila. Dan keabsurdan yang tidak usah dipertanyakan lagi.

.

_J U S T F O R F U N_

Happy reading, Minna-san~


.

.

.

Hinata tersadar dari kekhilafan terbesarnya. Dengan cepat ia menarik bibirnya dari pipi wangi Sasuke dan…blush, wajahnya terasa terbakar saat melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya juga tengah menatap ke arahnya. Jantung Hinata berdebar kencang. Baru kali ini ia merasakan kegugupan tingkat akut saat personil Uchiha yang paling malang itu memandanginya dengan tatapan horor.

"K-kau…"

Dalam situasi aneh seperti ini Hinata tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa jantungnya hanya memompa seluruh darahnya pada satu tempat saja-tepatnya wajah. Efek terlalu gembira atas Hiashi yang mencetak gol kemenangan ternyata berdampak buruk untuk saat ini. Bisa-bisanya ia lepas kendali dan malah mencium orang-lawan jenisnya-dalam kondisi sehat wal'afiat plus tidak sedang dipengaruhi alkohol. Kalau bisa, Hinata ingin lari ke hutan saja dan bersembunyi selama-lamanya di sana.

Tapi yang paling menyakitkan adalah, reaksi Sasuke-san yang sepertinya sangat tidak menyukainya.

Lalu Hinata berharap Sasuke akan bereaksi seperti apa? Menatapnya malu-malu dengan pipi merona atau malah menginginkan Sasuke menciumnya balik?

Ah, mungkin bukan hanya Sasuke, orang lain pun pasti akan merasa tidak nyaman kalau diperlakukan seperti tadi.

"Ma..maaf.." ucap Hinata dengan punggung dibungkukkan berulang kali.

Aura Sasuke masih tidak berubah dari beberapa menit yang lalu meski kupingnya terus-menerus mendengar Hinata mengucapkan kata maaf. Tangannya bergerak memegang bagian pipi yang menjadi pelampiasan nafsu bejat Hinata. Sebenarnnya kakeknya sudah mewanti-wanti hal ini dari semenjak pertama kali mereka bertemu. Kembali ke suatu sore yang cerah dimana Sasuke tertimpa panci dan pingsan saat puteri kades itu mencoba menyentuhnya. Gadis ini memang harus diwaspadai.

Dilatari oleh ratusan warga yang masih mengikuti motto dangdut kriminal: tak goyang, barbel melayang, Hinata dan Sasuke masih berpandangan-atau lebih tepatnya, hanya Sasuke yang masih kukuh memandang Hinata, karena gadis itu sudah menundukkan kepala dan menciutkan badannya. Tidak kuat menerima tatapan Sasuke yang bahkan terlihat seratus kali lebih tajam dari golok yang baru selesai diasah.

Bagus! Sepertinya memang tidak ada yang mempedulikan apa yang barusan terjadi diantara keduanya. Sasuke baru saja berniat meninggalkan Hinata ketika tiba-tiba terdengar seseorang yang berteriak.

"AWAAAAS…!"

Tidak usah berteriak dengan nada setinggi itu. Sasuke bukan kalong!

BUAGH!

Sasuke memang bukan kalong, tapi suara barusan cukup menandakan kalau dia baru saja menjadi salah satu korban hantaman bola nyasar dari lapangan.

Bruuk!

"S-Sasuke-san..!" Hinata dengan kedua tangan menutup mulut -kaget- segera menghampiri Sasuke yang tak sadarkan diri dengan hidung mengeluarkan darah dan garis-garis bola tercetak manis di sekeliling wajahnya.


.

.

.

"Yang ini pas ulang tahunnya yang ke-5."

"Ini…pas Sasuke jatuh ke parit saat belajar naik sepeda. Kakaknya yang mengambil foto ini."

"Dan lihat, ini ayah dan ibunya Sasuke."

Hinata hanya mengangguk dan sesekali tersenyum kecil ketika kakek Madara memperlihatkan album berisi foto-foto keluarga Uchiha padanya. Hinata mulai bisa menyimpulkan kalau rata-rata keluarga Uchiha, memiliki mata berwarna hitam pekat dengan paras jauh di atas garis kemiskinan. Terlebih lagi diantara beberapa foto kerabat yang Madara tunjukkan kepadanya, memiliki wajah yang hampir serupa –mirip- bagai pinang dibelah dua, membuat Hinata punya pemikiran kalau keluarga Uchiha itu punya kecenderungan berkembang biak dengan cara membelah diri.

"Ini…Sasuke-san?"

Madara menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi Hinata salah menebak. "Bukan. Yang itu kakaknya. Sasuke itu yang ini…" telunjuk kakek itu mengarah pada foto seorang anak kecil bertopi biru yang memeluk sebelah kaki ibunya.

"Eh?" Hinata menutup mulutnya, gadis itu mulai mengeluarkan tawa kecil tertahan. "A-aku kira ini anak perempuan," celetuknya.

Kakek Madara pun ikut tertawa bersama Hinata. "Ya, ya, Sasuke dulu mirip anak perempuan yang manis," kenangnya. "Waktu kecil, kalau habis difoto, biasanya Sasuke langsung sakit, loh!"

"Be-benarkah?"

"Iya!" kakek Madara semakin antusias saja. "Dan lihat juga ini, Hinata. Foto kasur yang kena ompol Sasuke. Usianya waktu itu…kira-kira empat tahunan," kali ini kakek Madara dengan bangga memperlihatkan foto kasur lipat berwarna putih dengan bagian basah berwarna kuning di tengah-tengahnya.

Hinata tersenyum kecut sambil menerka-nerka siapa orang kurang kerjaan yang mengambil foto tak penting seperti ini?

Sasuke keluar dari kamarnya setelah mendengar kata foto, Sasuke dan ngompol dari ruang tamu. Plester berwarna putih menempel dengan penuh percaya diri di hidung remaja berusia tujuh belas tahun tersebut. Berkat tubrukkan bola nyasar kemarin, tulang hidungnya sedikit mengalami keretakan, untung tidak serius.

"Sedang apa kau di sini?" heran, Sasuke bertanya pada Hinata saat dengan tidak sengaja matanya menangkap sosok tersebut duduk dengan kepala menunduk bersama kakeknya di sofa ruang tamu.

Kakek Madara menggerutu saat melihat penampilan Sasuke yang terbilang kurang sopan saat bangun tidur.

Dan sebuah handuk besar pun melayang tepat ke wajah Sasuke. "Sebelum itu, berpakaianlah yang sopan, Sas!" rupanya kakeknya yang sudah melemparkan handuk tersebut -protes karena Sasuke hanya memakai kaos singlet berwarna hitam dan celana pendek saja. Padahal di sini ada anak gadis yang tampak sangat risih akibat melihat penampilannya yang anonoh.

"Ini juga aku mau mandi, kek!" jawab Sasuke malas. Berjalan menuju dapur -berniat membawa perlengkapan mandi- dengan menyampirkan handuk di pundaknya.

"Setelah mandi, kau pergi belanja ke pasar bareng Hinata ya!"

Sasuke langsung melongokkan kepalanya dari pintu dapur. "Kakek bilang apa barusan?" rasanya tadi ia mendengar Madara mengatakan hal yang sangat menyebalkan.

"Setelah mandi, kau pergi belanja ke pasar bareng Hinata," ulang kakeknya. "Beli daging ayam!"

Hinata tampak ingin protes. "Ta-tapi Madara-san, a-aku hanya mau m-mengambil fotocopy-an yang diminta oleh ayah."

Madara mengibas-ngibaskan tangannya santai. "Itu gampang, Hinata. Sasuke sudah menyiapkannya kok. Lagipula, tadi kau bilang akan pergi ke pasar membeli sayur, kan? Kebetulan Sasuke tidak tahu jalan ke pasar, makanya dia bisa ikut bersamamu. Takutnya nanti dia malah kesasar," dan orang tua itu tertawa renyah di akhir kalimatnya.

"Aku tidak mau!" sahut Sasuke cepat. Jelas sangat keberatan. "Kenapa tidak kakek sendiri saja yang pergi?"

"Kakek punya urusan penting, Sas. Jadi tidak ada waktu pergi ke pasar," ungkapnya.

Sasuke mendengus kesal. Urusan penting katanya? Oh, jangan bilang kalau kakeknya itu akan mengikuti arisan panci lagi bersama dengan ibu-ibu tetangga sebelah.

"Cuma beli daging ayam, kok. Nanti siang kita akan kedatangan tamu," ia melirik ke arah Hinata, minta persetujuan. "Hinata juga tidak keberatan kan?" pintanya dengan tatapan memelas. Meyakinkan kalau kakek di depannya ini adalah orang yang butuh dukungannya.

Hinata menggigit bibirnya bawahnya. Rasanya memang tidak ada salahnya menolong Madara-san. Tapi pergi belanja berdua dengan Sasuke-san, itulah yang jadi permasalahannya. Apalagi dari sikapnya hari ini yang terlihat sekali kalau Sasuke-san sangat tidak menyukainya, pasti gara-gara kemarin juga. Ah, tapi siapa tahu dengan mengajaknya pergi belanja bersama, Hinata bisa mendapat kesempatan untuk meminta maaf dan sedikit mengubah mood-nya yang terlihat sangat buruk, batin Hinata lagi.

Dan akhirnya, setelah memikirkan hal-hal baik dan kemungkinan apa yang akan terjadi bila ia pergi dengan Sasuke, Hinata menghela nafasnya dan mengangguk setuju. "Ba-baiklah."

Madara tersenyum senang, sedangkan Sasuke kembali memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ia tidak punya alasan lagi untuk menolak permintaan kakeknya.


.

.

.

Canggung adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Meski sudah lewat sepuluh menit lima belas detik mereka meninggalkan rumah kakek Madara, baik Sasuke maupun Hinata, masih menjunjung tinggi arti kalimat: diam itu emas. Apalagi jika mengingat insiden memalukan yang terjadi kemarin. Hinata harus ngomong apa?

Sebenarnya bukan begitu juga sih. Hanya saja keduanya memang sulit untuk sedikit saja mengapresiasikan apa yang mereka rasakan. Mengingat pada dasarnya Sasuke bukanlah orang yang banyak bicara dan diperparah dengan pasangan duetnya kali ini adalah Hyuuga Hinata, sekali lagi, si Hinata, yang sudah santer sekali seantero desa, kalau gadis berperawakan mungil ini punya sifat pemalu stadium akhir. Jadi, bagaimana mungkin tercipta suasana ceria -perbincangan kecil- yang biasanya sering terjadi di tengah-tengah pasangan muda-mudi masa kini kalau pemerannya adalah mereka berdua?

Tapi mereka bukanlah pasangan-pasangan yang dimaksudkan tersebut. Sasuke hanya mendapat perintah untuk pergi ke pasar untuk belanja dan hanya sebuah kebetulan, puteri kades ini juga punya tujuan yang sama dengannya.

Mereka berdua tidak tahu, kalau tak sedikit orang yang bertemu dengan pasangan hidupnya hanya karena kebetulan saja.

"Gaara-chan!"

Dan juga kebetulan sekali Hinata bertemu dengan Gaara-chan -teman masa kecilnya- yang terlihat sedang memandikan kerbau peliharaannya yang bernama Shukaku, di sungai kecil dekat sawah milik ayahnya. Hinata menampilkan senyum secerah kamera 8.0 megapixel dan berjalan ke tempat dimana pemuda berambut merah itu juga menoleh ke arahnya. Sasuke terpaksa mengikuti dari belakang.

"Hoi!" serunya malas yang kali ini harus berdiri berhadapan dengan laki-laki dengan tato di dahinya. Keduanya saling berpandangan.

"Ne, kau baru selesai, Gaara-chan?" tanya Hinata lembut. Memasang senyum manis meski Gaara sudah membuang mukanya ke samping akibat malu dipanggil 'chan' oleh Hinata di depan orang asing.

"Ya," balas Gaara pendek dengan anggukkan kepala. Mengguyur si Shukaku dengan air dan membersihkan kotoran bekas lumpur yang menempel di tubuh kerbau besar tersebut.

Gaara adalah teman semasa kecil Hinata. Dari dulu mereka selalu bersama. Laki-laki berambut merah itu adalah keturunan Konoha-Amsterdam (rambut merahnya dari Sabaku-san, kulit putihnya berasal dari ibunya, Karura-san, dan wajah tampannya…dari dokter yang mengurusi persalinan Karura-san) seperti perkataan dokter tersebut: "Wah, bayinya tampan, seperti dokternya!" dan Gaara bersyukur ibunya memilih wajah sang dokter untuk menginspirasi wajahnya.

Sehari-hari Gaara selalu tampak bermain dengan kerbau kesayangannya, si Shukaku. Dan yang membuat aneh orang-orang desa akan kerbau berbadan besar milik Gaara adalah, kerbau bernama Shukaku ini hanya memiliki satu ekor/buntut, makanya sering dipanggil Ichibi.

Memang biasanya kerbau punya berapa ekor, gitu?

Sewaktu kecil dulu, Gaara adalah anak yang riang, manis, suka bermain boneka beruang dan Hinata ingat betul akan cengirannya yang sensasional –tapi merinding jika harus membayangkan dalam wujudnya yang sekarang.

Hingga sampai suatu ketika Gaara berubah jadi pendiam, dingin, cuek, dan jarang bicara saat memasuki usia tujuh tahun.

Menurut kabar yang beredar, Gaara jadi pendiam setelah dipaksa masuk pesantren oleh ayahnya sendiri. Entahlah apa yang terjadi padanya. Mungkin saja Gaara terlibat cinta lokasi dengan salah satu santriwati di sana. Atau mungkin juga depresi saat mengetahui santriwati yang disukainya malah lebih memilih bersama dengan guru pesantrennya dibandingkan dengannya yang berpenampilan mirip ketua geng ini.

Tapi kabar baiknya, meskipun ia bersikap dingin pada semua orang, setidaknya Gaara selalu wewajibkan diri menyapa bila berpapasan dengannya. Inilah yang membuat Hinata bernafas lega.

"Ah, aku sampai lupa," Hinata mengerling ke arah Sasuke yang terdiam di sampingnya, lalu kembali menatap Gaara. "P-perkenalkan, ini Sasuke-san cucu dari—"

"Aku sudah tahu," potong Gaara cepat, tampak tidak tertarik mengikuti sesi perkenalan tak penting seperti ini. Ekor matanya melirik ke arah Sasuke. Meneliti penampilan pemuda kota di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Ouh…jadi ini Sasuke yang sering dibicarakan oleh kakak perempuannya di rumah? Satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab atas insiden runtuhnya jembatan desa beberapa hari yang lalu itu? Kabarnya juga, kemarin pagi dia pingsan kena lemparan bola nyasar di lapangan desa. Hidungnya yang merah itu sudah membuktikan semuanya.

Hm. Setelah melihat langsung begini, rasanya Gaara tak heran lagi kalau ada Sasuke, pabrik cat langsung pindah ke wajah –seperti yang dilakukan oleh kakaknya dan para gadis lainnya. Jelas terlihat sekali kan, kalau si Sasuke ini pakai susuk-mungkin dipasang di rambutnya.

Sementara dari pihak Sasuke pun tak mau kalah. Terlebih lagi, laki-laki yang punya lingkar mata super hitam ini terus menatapanya dengan pandangan mencibir. Che! Sasuke cermati tiap detail penampilan pemuda desa di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Senyum sinis tak lepas dari bibirnya.

Ouh…jadi ini Gaara yang sering diceritakan oleh kakeknya? Tidak sebagus apa yang diceritakan. Suaranya rada ngondek gitu (menurut Sasuke), sangat tidak sensual -hush maksudnya tidak sesuai dengan penampilannya yang mirip preman insomnia.

Beberapa menit mereka habiskan untuk sekedar melemparkan death glare andalan masing-masing. Gaara bahkan sampai lupa akan tugas awalnya yang sedang memandikan kerbaunya.

Pemuda Sabaku itu memicingkan matanya, melirik ke arah Hinata yang melakukan kebiasaannya yang tak pernah berubah, memelintir ujung bajunya. "Kau mau pergi kemana?"

"Heh?" Hinata agak tersentak. Ia menggaruk pipi kanannya, dan tanpa tahu bagaimana perasaan Gaara, gadis berambut gelap itu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman masa kecilnya dengan nada riang. "Oh, a-aku dan Sasuke-san akan pergi b-belanja ke pasar."

Duaaar! Semburan lahar panas keluar dari kepala merah Gaara.

Kenyataan bahwa Hinata datang bersama dengan laki-laki asing ini ke tempatnya saja sudah membuat dunianya seakan runtuh seketika sejak pertama kali ia melihatnya. Apalagi sekarang Hinata terang-terangan mengatakan kalau ia akan pergi ke pasar dengan si Sasuke ini. Grrrr…

Mungkin jika gadis lain, Gaara tidak akan ambil pusing. Tapi yang terlibat kali ini adalah Hinata, Hyuuga Hinata! Selama ini Gaara tidak pernah keberatan jika Hinata belanja dengan Hiashi-san, atau berkomentar banyak jika Hinata pergi bersama Neji. Tapi Hinata pergi dengan laki-laki bersusuk ini…benar-benar berita buruk!

Dan mungkin juga ada yang bertanya-tanya kenapa Gaara sampai sebegitu OOC-nya menanggapi hal ini. Maklum saja, dari kecil tumbuh bersama, kurang afdol rasanya kalau tidak ada bubuk-bubuk bernama 'suka' diantara Gaara dan Hinata. Meski Gaara yang mempunyai perasaan lebih pada Hinata, agaknya Hinata malah terkesan kurang peka.

"Uhuk..uhuk.." Shukaku terbatuk-batuk. Entah tersedak lumpur atau ia pun turut merasakan kegalauan hati yang dialami oleh Gaara. Pernah dengar kan, istilah ikatan batin antara majikan dan hewan peliharaannya?

"Kita jadi pergi atau tidak?" Sasuke mengeluh bosan dan langsung mendapat delikkan kesal dari Gaara.

"Kau tidak boleh pergi dengannya, Hinata!" tiba-tiba Gaara berkata dingin.

"Ke-kenapa?" tanya Hinata pelan. Sekarang Gaara jadi terdengar seperti ayahnya saja.

"Pokoknya kau tidak boleh pergi!" kata Gaara. "Tidak ada alasan!"

Sebenarnya ia tidak mau melarang-larang begini pada Hinata, apalagi marah-marah di depannya. Gaara? Marah? Jangan bercanda. Yang seperti ini saja ia sudah cukup bersabar.

"Ta-tapi…a-aku hanya mau membeli s-sayur dan kue.." lirih Hinata sambil menggigit bibirnya.

Dengusan kecil mulai terdengar. "Aku juga hanya ingin membeli daging ayam. Setelah itu kami akan langsung pulang," sela Sasuke. Sepertinya tahu apa yang dipikirkan oleh Gaara tentang dirinya. Seolah ia hanya mengarang cerita tentang pergi belanja ke pasar, padahal berniat menjual Hinata. Begitu kan, yang ada di pikiranmu, Gaara?

"Tapi kalau kau tetap keberatan…biar aku pergi sendiri saja," sejujurnya Sasuke menyesali perkataannya kali ini. Ia membutuhkan Hinata sebagai petunjuk jalannya menuju pasar. Karena ia terlalu malas jika harus bertanya pada orang-orang sekitar dimana biasanya mereka berbelanja keperluan sehari-hari. Dengan adanya Hinata, setidaknya semuanya akan lebih mudah.

Hinata memandang ke arah Sasuke. Sedikit kecewa. Padahal jarang sekali ada orang yang bisa menemaninya pergi belanja ke pasar.

Sedangkan Gaara, ia mulai menghela nafas berat melihat ekspresi wajah Hinata berubah seperti ingin menangis. Selalu saja begini. Dia tidak punya sedikitpun wewenang untuk melarang apa yang ingin Hinata lakukan.

Gaara pun membalikkan tubuhnya membelakangi Hinata. Sangat tidak rela sebenarnya, teman dari kecilnya lebih memilih pergi bersama laki-laki bermata gelap ini. Tapi mau bagaimana lagi? Susuk yang digunakan oleh laki-laki ini benar-benar ampuh. Akhirnya Gaara kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya membersihkan Shukaku.

"Jangan berwajah seperti itu," Gaara kembali mengeluarkan suaranya. Tidak peduli pada Hinata yang kali ini berganti menatap punggungnya. Ia tidak suka melihat Hinata bersedih. "Kalau memang perginya sebentar, kau boleh pergi dengannya."

Hinata sedikit terkejut ketika mendengar Gaara berkata demikian. Heran dengan sifatnya yang gampang berubah-ubah setiap waktu. Dari kecil, jalan pikiran temannya ini memang sulit untuk ditebak. Tapi kali ini Hinata merasa senang. Pipinya bersemu merah saat tersenyum. "Be-benarkah? Kalau begitu…Gaara-chan m-mau kubelikan kue apa?"

Gaara terdiam sebentar untuk berpikir, tak lama kemudian ia membalikkan tubuhnya kembali berhadapan dengan Hinata dan bilang, "Hello Panda."

Sasuke langsung menutup mulutnya dan membuang muka ke samping. Sensasi menahan tawa dicampur hampir muntah saat mendengar jawaban Gaara barusan.


.

.

.

"Kebetulan sekali," gumam Hinata pelan, matanya berbinar. Sasuke melirik Hinata dan mendapatkan senyuman manis dari gadis berponi di sampingnya.

"Kita i-ikut menumpang saja dengan ibu-ibu itu sampai pasar," katanya dengan jari telunjuk terarah ke depan, dimana tampak beberapa wanita paruh baya yang sibuk mengangkut keranjang dan karung-karung berisikan sayur dan buah-buahan hasil panen ke atas mobil Suzuki pick-up berwarna hitam di pinggir jalan sana.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Apa?" jelas sangat terkejut dengan usul dari Hinata.

Tapi tanpa menunggu dulu persetujuan dari Sasuke, Hinata berjalan cepat ke arah mobil pick-up tersebut dan mulai menyapa beberapa wanita di sana. Sasuke hanya bisa berdecih dan lagi-lagi (terpaksa) mengikuti gadis bermata lavender tersebut.

"Pe-permisi…" sapa Hinata.

Salah seorang ibu menoleh dan membalas sapaan Hinata. "Oh, Hinata-chan! Sedang apa di sini?" tanyanya ramah.

"Umm…begini, bibi," Hinata menoleh sekilas pada Sasuke yang berjalan malas menyusulnya dari belakang. "Bo-bolehkan aku ikut m-menumpang dengan bibi s-semua sampai ke pasar?" ungkap Hinata malu-malu.

"Oh, tentu saja boleh! Disuruh pak kades belanja ya?" tanya seorang wanita berambut cokelat gelap. Hinata langsung mengangguk. Senang karena diperbolehkan ikut menumpang.

"A-aku bersama dengan cucu dari Madara-san," kata Hinata. "Namanya…Sasuke-san," Hinata memperkenalkan laki-laki yang baru saja mengambil tempat berdiri di sampingnya pada ibu-ibu tersebut. Merasa terpanggil, Sasuke menoleh dan membungkukkan badannya.

Para ibu dan setengah janda (yang baru saja mengajukan surat cerai dan sedang dalam tahap pengadilan) beranggotakan enam orang itu pun, memandangi brondong berjaket hitam satu ini dari atas sampai bawah tanpa mengedipkan mata. Sasuke ini punya body yang…sluuurp. Bibirnya juga…unffff.

Mendadak para ibu tersebut mulai cari perhatian dengan mengedip-ngedipkan mata mereka genit. Bahkan ada yang berani membuka beberapa kancing bajunya, berharap dirape. Busyet! Si Sasuke juga pilih-pilih, kali, bu.

Jadi begitulah. Selain melihat fotonya yang dimuat di koran, mereka sama sekali belum melihat tampang asli cucu dari Uchiha Madara-san. Ternyata memang benar dugaan mereka, wajahnya memang tidak beda jauh dari kakek berumur 70-an itu saat masih remaja dulu. Madara saat masih belia, memang jadi rebutan saat itu.

"Hey, jangan suka menggoda daun muda!" celetuk sopir mobil yang daritadi bergabung bersama para ibu ini. "Inget, suami sama anak di rumah," katanya mengingatkan.

Para ibu berdecak sebal. Tuduhan tersebut jelas dibantah mentah-mentah oleh mereka yang pada dasarnya hanya berusaha menjadi warga teladan yang ingin membantu, hanya itu saja. Tanpa ada niat tersembunyi seperti; mencari kesempatan untuk berduaan, menculiknya, atau malah menjodohkannya dengan puteri mereka di rumah.

"Sudah selesai belum?" suara sang sopir kembali terdengar. "Kalau sudah, semuanya cepat naik!" perintahnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang dihidupkan. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan dan keranjang berisi sayur dan buah sudah diangkut semua, Hinata dan para ibu satu-persatu mulai naik ke atas mobil, begitupun dengan Sasuke yang terus menggerutu sebal karena terpaksa duduk di atas karung berisi buah kelapa akibat ketiadaan tempat. Hinata sih enak, dapat tempat duduk yang setidaknya, layak diduduki. Lah, dia?

Sepanjang perjalanan menuju pasar hanya diisi oleh obrolan standar khas ibu-ibu mengenai gossip selebriti, uang belanja, maraknya pencuri jemuran dan lain-lain. Sasuke menguap bosan. Ia mulai penasaran, sebenarnya seberapa besar stamina yang dimiliki oleh ibu-ibu ini sampai kuat memperbincangkan hal-hal tidak penting hingga puluhan menit tanpa henti?

Tak mau ambil pusing memikirkan hal tersebut, Sasuke meniup poni rambutnya yang menjuntai ke depan, dan…dan…tanpa sengaja matanya menangkap objek yang sangat menggiurkan. Tepat di sisi tubuh Hinata –Hinata sama sekali tidak menyadarinya.

Para ibu mulai kasak-kusuk dan tersenyum penuh arti saat melihat daun muda yang duduk tak jauh dari mereka, memandang pada satu titik dengan tatapan bernafsu- yang tentu saja bagi kaum ibu yang sudah berpengalaman, adalah pandangan ingin memakan atau melahap mangsa.

"Kau menginginkannya?" tanya salah satu dari ibu-ibu yang tengah menatapnya.

Sasuke menoleh. "Memangnya boleh?" tanyanya memastikan.

"Tentu saja boleh. Silakan…" serunya dengan wajah sumringah sambil mendekatkan keranjang berisi buah tomat yang disimpan di pinggir tubuh Hinata itu pada Sasuke.

"Makan sebanyak yang kau suka. Ini tomat kualitas terbaik di desa kami loh!" seorang ibu berambut cokelat sedikit menambahkan.

"Hn. Terima kasih," Sasuke berucap rendah sambil mengambil satu buah tomat dari keranjangnya.

"Hinata-chan juga, ambil saja kalau mau.." tawar seorang wanita yang Hinata kenal bernama Siti Kurenai binti Yuuhi.

Hinata menggelengkan kepalanya. "Terima kasih banyak," tolaknya lembut. Dia kurang begitu suka dengan buah tomat. Hinata lebih suka buah strawberi atau apel. Dan nampaknya kali ini ia harus sedikit kecewa karena tidak ada keranjang berisi strawberi ataupun apel di mobil yang ditumpanginya ini.

Mobil masih terus melaju dengan kecepatan sedang. Sasuke mengambil satu buah tomat lagi dan melirik ke arah Hinata yang hanya mengangguk-angguk lugu mendengar percakapan dari ibu-ibu di depannya. Kadang-kadang mata mereka bertemu, dan Sasuke akan langsung mengalihkan pandangannya ke jalanan lengang sambil menggigit tomat di tangannya. Hinata hanya tersenyum kecil, kemudian kembali mendengarkan obrolan ibu-ibu tersebut yang kali ini memasuki perbincangan: tanda-tanda suami mulai menyeleweng.

Akhirnya setelah menempuh waktu kurang lebih setengah jam, mereka sampai juga di pasar. Sasuke bergegas turun dari mobil, begitu pula dengan Hinata. Keduanya membungkuk sopan seraya mengucapkan banyak terima kasih karena telah diberi tumpangan gratis sampai ke sini.

"T-terima kasih atas tumpangannya, bibi," ucap Hinata pelan. "Kami berdua pergi dulu," pamitnya. Para ibu mengganggukkan kepala sambil tersenyum. Beberapa diantaranya sedikit tidak rela melepas kepergian Sasuke.

Setelah dua tubuh remaja itu menghilang diantara kerumunan orang-orang, barulah terdengar salah seorang wanita memekik keras. "Hah? Tomatnya habis?"

"Apa? Habis?" reaksi sama ditunjukkan dari wanita berambut hitam dengan sanggul besarnya.

"Tadi kan yang makan hanya Sasuke-san saja?"

"Jadi dia memakan habis satu keranjang penuh tomat yang akan kita jual?" ujar Kurenai tidak percaya.


.

.

.

Baiklah, kita lupakan sejenak tentang aksi kebinatangan Sasuke yang membuat kesal ibu-ibu barusan. Kali ini remaja berambut jabrik itu mulai capek karena setelah berkeliling cukup lama dan mampir ke beberapa kios daging, daging ayam pesanan dari kakeknya belum juga didapatnya. Sudah habis, adalah jawaban yang pasti diberikan oleh pemilik kios saat Sasuke menanyakan "Apakah di sini ada daging ayam?"

Sementara Hinata yang menemani Sasuke pun, kelihatan mulai kelelahan berkeliling pasar untuk mencari daging ayam. Kakinya mulai terasa sakit.

"S-Sasuke-san, kita coba ke pedagang yang itu," ajak Hinata kemudian, menunjuk pada satu tempat penjualan daging di depannya.

"Hn," Sasuke mengangguk dan keduanya pun berjalan menghampiri tempat yang ditunjuk oleh Hinata tadi.

Tapi bukannya menyambut pembeli atau apa, si penjual daging yang hanya memakai kaos oblong berwarna putih itu malah sibuk dengan ponsel yang ia dekatkan ke telinganya. Sepertinya sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius.

"Iya, aku tahu aku yang salah. Aku salah udah nyuekin kamu sampai kamu ketabrak mobil kemarin," ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri yang dari awal memang sudah berantakkan. Sasuke dan Hinata hanya bisa bengong di tempat.

Benar apa yang dikatakan orang, untuk urusan cinta, orang memang bisa jadi lebay.

Tak mau membuang-buang waktu lebih lama, Sasuke berinisiatif bertanya pada sang pedagang. "Pak?"

Si pedagang menoleh, baru sadar kalau ada pembeli. Setelah say good bye dengan lawan bicaranya, ia segera memutuskan sambungan teleponnya. "Cari daging apa ya, dek?" tanya pria tersebut.

"Apa di sini daging ayamnya masih ada?" ujar Sasuke langsung.

"Oh…daging ayamnya sudah habis," katanya dengan raut wajah menyesal. "Bagaimana kalau ini…daging macan kumbang!" pria itu menawarkan daging berwarna merah segar yang dijualnya. "Kualitas terbaik! Dijamin!"

Sasuke dan Hinata saling berpandangan heran. "Macan kumbang?" gumam mereka bersamaan yang mendapat anggukkan kepala dan acungan jempol dari sang penjual daging.

Anda tahu sendiri lah, jaman sekarang susah sekali mencari daging macan kumbang kualitas terbaik-tentu saja dilihat dari populasinya yang semakin sedikit. Apalagi hal ini dikarenakan dari pihak macan sendiri yang kerap kali tidak mau dikawin silangkan dengan kumbang, dengan alasan 'kurang level', dan meski pemerintah sudah melakukan upaya kawin gantung, tetap saja tidak bisa menghentikan kekeraskepalaan macan yang ingin mencari pendamping hidupnya sendiri.

Sasuke mulai menimbang-nimbang perkataan si penjual daging ini. Tapi meski telah lewat beberapa menit, ia belum bisa menentukannya juga. Dan akhirnya, berhubung Sasuke bukanlah termasuk anggota Asosiasi Orang-Orang Miskin Pulsa, buru-buru ia merogoh saku celananya untuk menghubungi sang kakek untuk meminta petunjuk. "Hallo, kakek?"

"Ya, ada apa, Sas?" saat ini Madara tengah sibuk berkutat dengan bumbu-bumbu masaknya. Bagian kiri kepalanya sengaja ia miringkan agar benda pintar yang menghubungkan antara dia dan Sasuke yang terselip di bahu kirinya tidak jatuh ke lantai. Sementara kedua tangannya aktif bekerja memotong bawang dan cabai merah.

"Kakek, daging ayamnya habis. Bisa tidak diganti dengan daging macan kumbang?"

Terdengar suara 'bruuush' saat Madara menuangkan air panas ke atas wajan.

Madara berdecak. "Sas, kakek ini mau masak opor ayam, bukan opor macan kumbang!" sewotnya. Tidak mengerti jalan pikiran cucunya yang kadang-kadang menyebalkan. Tapi tetap saja ganteng.

Sasuke mendengus. "Aku sudah berkeliling ke setiap pedagang di pasar ini. Tapi daging ayamnya memang sudah habis semua…" keluhnya.

"Ah, itu hanya alasanmu saja," Madara berkomentar pedas di seberang sana. "Pokoknya beli daging ayam, jangan yang lain!"

Tuutt

"Ba-bagaimana, Sasuke-san?" Hinata tampak ragu untuk bertanya.

Sasuke menghela nafas. "Aku beli dagingnya lima kilo," katanya pada pedagang daging tersebut. Dia sudah lelah mencari kemana-mana. Lebih baik membeli daging macan kumbang daripada tidak bawa daging sama sekali ke rumah kan?

Setelah selesai membeli daging, mereka mampir ke kios penjualan sayur –karena Hinata memang berniat membeli beberapa sayur untuk memasak di rumah.

"I-ini harganya berapa, pak?" Hinata menunjukkan beberapa sayur pilihannya pada pemilik kios.

"Lima belas ribu."

Astaganagabonarjadilimajuta biasanya tidak semahal ini. Hinata nyaris mengalami serangan jantung di saat itu juga. "Ma-mahal sekali…biasanya h-hanya tujuh ribu," gumamnya dengan raut wajah yang menunjukkan kekecewaan berat. Tapi tetap saja tangannya terulur mengambil dompet dan mengeluarkan lembaran uang di dalamnya berniat membayarnya dengan uang pas. Kan tadi Hinata sudah bertanya harga sayurnya berapa, jadi agak malu kalau tidak jadi beli.

Telinga Sasuke tanpa sengaja mendengar gumamam pelan Hinata. Ia mengernyitkan dahinya. Paham akan situasi yang terjadi. Ia memang tidak pernah belanja ke pasar tradisional. Tapi Sasuke ingat, ia pernah ikut beberapa kali belanja dengan ibunya saat masih kecil. Ia tahu, dalam kegiatan berdagang, semua penjual selalu menginginkan keuntungan yang besar. Tapi dengan menetapkan harga yang tinggi dan jauh dari biasanya, ini jelas-jelas merugikan konsumen –apalagi jika konsumennya orang seperti Hinata. Dan dalam kondisi seperti ini, jelas gadis itu perlu mendapatkan sedikit bantuan.

"Tunggu dulu," Sasuke menginterupsi sebentar kegiatan jual beli yang tengah berlangsung. Tepat pada saat itu juga Hinata menghadiahinya tatapan super bingung saat tubuh Sasuke bergerak mengambil alih tepat di depannya dan membuatnya hanya bisa melihat punggung tegap Sasuke.

"Hei, pak! Kalau harganya lebih dari tujuh ribu, kami tidak jadi beli," ujar Sasuke dengan tambahan gebrakkan keras di tempat sayur. Tatapan pembunuh berdarah dingin ala Yakuza -hasil latihan dengan ayahnya- dilancarkan pada sang pedagang yang kelihatannya mulai bereaksi.

Penasaran akan seperti apa jadinya, Hinata mengintip dari sisi lengan Sasuke.

Sang pedagang tampak risih kali ini. Padahal gadis tadi bisa dijatuhkan dengan mudah hanya dengan sekali ucap. Tidak menyangka akan ada kejadian penukaran pembeli seperti ini. Oke, dia tidak boleh kalah hanya karena seorang anak remaja nakal yang mungkin kawin muda akibat pergaulan bebas yang berdiri di depannya. "Tujuh ribu terlalu rendah, anak muda! Tiga belas ribu!"

"Kalau begitu enam ribu!" balas Sasuke.

"Kau mau membuatku bangkrut?" sembur sang pedagang. Ia mulai melipat lengan bajunya. "Sebelas ribu!"

"Lima ribu!"

"Apa?"

Baru kali ini Hinata menyaksikan sendiri adegan tawar-menawar ekstrim seperti ini. Sasuke malah akan semakin menurunkan harga jika pak pedagang itu belum juga menetapkan harga yang diinginkannya. Ia yang melihatnya hanya bisa menggigit bibir, berdoa semoga Sasuke yang akan keluar sebagai juaranya.

Dua puluh menit kemudian.

"Ini penawaran terakhir dariku, nak…sepuluh ribu!" katanya dengan nada tak ikhlas. Mengusap keringat yang mengaliri keningnya sementara dalam hati super dongkol dan mengutuk pembeli kurang ajar ini.

"Haaah…" Sasuke menghela nafas. "Kita pergi saja, Hinata!"

Pedagang laki-laki itu malah terlihat panik saat melihat Sasuke dan Hinata hendak pergi meninggalkan kiosnya.

"Ekkh..tu-tunggu, jangan pergi dulu!" jangan dong, mereka kan pembeli pertamanya. Di cuaca sepanas ini, setelah lima jam lebih berjualan tanpa satupun pembeli yang melirik kiosnya, tak mungkin ia akan melepaskan begitu saja pembeli satu-satunya ini.

"Tujuh ribu! Ya, kalian bisa membelinya tujuh ribu saja," katanya cepat-cepat sambil memasukkan sayuran tersebut ke kantong plastik putih.

Smirk.

"Tujuh ribu saja," sang pedagang itu mengangsurkan plastik putih berisi sayuran yang dijualnya pada Hinata. Ia tidak mau kalau sampai pembelinya ini pergi dan pindah ke kios sayur di depan sana. Itu kan kios sayur saingan terberatnya!

Sasuke melirik Hinata yang masih terdiam di sampingnya. "Harganya tujuh ribu, Hinata. Jadi beli tidak?"

"Heh?" Hinata tersentak.

Komat-kamit, sang pedagang membaca doa agar Hinata jadi membeli sayur miliknya.

"Oh, i-iya..aku beli."

Sang pedagang langsung sujud syukur.

Dengan begitu Hinata mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dan membayarkannya pada sang pedagang yang terlihat seperti murid sekolah dasar yang gagal bersaing dalam acara cerdas cermat sekolah. Dan sebuah tangisan memilukan dari sang pemilik kios mengiringi kepergian Sasuke dan Hinata siang itu. Sungguh nasib sial harus punya pembeli macam Sasuke. Mudah-mudahan tidak akan bertemu lagi.

Dengan sebuah kantong plastik dalam jinjingannya, Hinata mengikuti langkah besar Sasuke yang berjalan lebih dulu di depannya. Dan saat Sasuke memutuskan mampir ke sebuah kios kue, Hinata hanya tersenyum dan mengangguk patuh.

Pada hari ini Hinata mengambil satu pelajaran berarti. Jika ingin melakukan suatu hal itu harus didampingi oleh ahlinya.


.

.

.

Pukul setengah tiga, Sasuke sampai di rumah dengan kantong plastik yang dibawanya. Hinata sedang ada keperluan sebentar dengan anak kecil yang ditemuinya di jalan barusan. Nanti juga dia ke sini lagi.

"Baru pulang, Sas?" Sasuke sedikit terkejut saat melihat penampakkan makhluk berambut hitam yang menyambut kedatangannya dari dalam rumah.

"Ayah?" gumamnya heran saat menemukan ayah yang 'membuangnya' sekarang berdiri di hadapannya. "Sedang apa ayah di sini?"

Fugaku berdeham, sedikit tersinggung dengan nada bicara puteranya yang terdengar ketus. "Memangnya ayah tidak boleh pulang ke kampung halaman sendiri?"

Sasuke memutar bola matanya. Yaaa…ia tak peduli.

Fugaku menghela nafas lega. Seperti apa yang dikatakan oleh Madara, Sasuke baik-baik saja. Tapi…matanya tertuju pada wajah Sasuke. "Loh, Sas. Hidungmu kenapa?" dengan sukarela Fugaku menyentuh hidung anaknya yang memerah.

Sontak saja Sasuke langsung meringis "Jangan sentuh!" pekiknya. Fugaku langsung menarik tangannya yang barusan ditepis oleh Sasuke.

"Itachi mana?" tuntut Sasuke langsung pada ayahnya, menengokkan kepalanya ke sana ke mari mencari keberadaan sang kakak laki-lakinya. Sedangkan yang ditanya hanya bisa tersenyum gugup.

Itachi ya? Fugaku mengingat kembali putera sulungnya itu.

Setelah sukses meresahkan para warga kota dengan aksi geng motornya, sulung Uchiha itu kembali mendaftarkan namanya di Bingo Book dengan kasus kriminal yang tak kalah mencengangkannya bagi keluarga Uchiha. Tak tanggung-tanggung kali ini Itachi terlibat kasus mutilasi dan pembantaian orangutan –yang untungnya, bukan pembantaian keluarga sendiri seperti yang terjadi di sinetron-sinetron televisi.

"Itachi…dia sedang ada keperluan mendadak, jadi tidak bisa ikut ke sini," ujar Fugaku hati-hati, takut ketahuan bohong. Sasuke hanya bergumam 'hm' tidak jelas, lalu memberikan kantong plastik yang daritadi ia jinjing pada kakeknya.

"Pe-permisi…"

Suara dengan nada lembut itu membuat ketiga pria Uchiha menoleh ke arahnya. Hinata agak terkejut saat melihat ada orang tak dikenal sedang berbicara dengan Sasuke. Ia tidak tahu kalau keluarga Uchiha sedang kedatangan tamu hari ini.

"Siapa?" Fugaku bergumam. Rasanya pernah mengenal gadis berambut indigo ini. Tapi…lupa.

"Itu Hinata-chan," kata Madara, sedikit membantu daya ingat Fugaku yang mulai menurun akibat faktor usia.

Fugaku mengerjap. Ia menghampiri gadis mungil dengan rok putih yang masih berdiri kaku di dekat pagar rumah. "Hinata-chan? Hinata-chan yang itu?" tanyanya tak percaya. Tangannya terulur menepuk bahu Hinata. "Hah, sekarang sudah besar ya? Cantik," pujinya.

Hinata tersipu malu dan hanya tersenyum canggung saat dipuji oleh orang yang tak dikenalnya ini. Ah, tapi kalau ia tak salah ingat, wajah pria dewasa ini pernah ia lihat sebelumnya. Benar! Foto orang di depannya ini pernah ia lihat di album yang kakek Madara tunjukkan padanya pagi tadi. Pria ini…ayahnya Sasuke-san.

Alis Sasuke terangkat naik, bingung kenapa ayahnya bisa mengenal Hinata. "Ayah kenal dengannya?"

"Tentu saja kenal," Fugaku menoleh pada Sasuke. "Dia ini kan anaknya Hiashi, yang pas masih kecil sering mandi bareng sama kamu loh, Sas!"

"Apa?" Sasuke terpekik, sementara Hinata hampir pingsan saat mendengarnya. Mandi bersama? Lelucon macam apalagi ini?

"Yah, tapi itu pas umur Sasuke baru dua tahunan, wajar kalau kau tidak ingat," Madara menyela sebentar. "Aku mau masak dulu," setelah mengatakannya, kakek tersebut segera masuk ke dalam rumah.

"Ini…" Sasuke memberikan map berwarna cokelat yang sengaja ia simpan di dekat kursi santai, agar bisa langsung diambil oleh Hinata.

"Ka-kalau begitu, aku j-juga permisi pulang dulu," pamit Hinata setelah menerima map yang dititipkan Sasuke untuk diserahkan pada ayahnya. Sasuke dan Fugaku mengangguk.

"Hati-hati di jalan, Hinata-chan," pesan Fugaku. "Katakan pada ayahmu, kalau Fugaku-san ada di sini."

Hinata tersenyum. "A-akan kusampaikan," balasnya. Setelah membungkukkan badannya dengan sopan, Hinata melangkah pergi.

"Kau tidak ada masalah dengannya kan?"

Sasuke menoleh pada ayahnya. "Maksud ayah?"

Fugaku menarik nafas. "Maksud ayah adalah—"

Tapi sebelum Fugaku mengatakan apa yang ia maksudkan tadi, tiba-tiba saja suara Madara terdengar menggelegar dari dalam rumah.

"SASUKE! KAU INI BELI DAGING APA, HAH…!"

«TBC»


Hai! Hai! Hai! Author apdet kilat nich!*digiles traktor* umm…ngomong apaan ya? Bingung nih! Yang pasti maaf kalo apdetnya lamaaaaa banget dan ceritanya malah panjang absurd kayak gini. Udah ada warning lah di atasnya. =_=a

Idenya muncul pas saya pergi belanja bareng bibi ke pasar. Dan demi apa, saya ketemu sama tukang dagang jeruk yang mukanya mirip Derbi Romero*ngakak* asli, bukan genjutsu! Akhirnya terjadilah tawar menawar harga dengan kekalahan penjual jeruk. Dia ngasih harga murah gara-gara bibi saya bareng sama gadis manis (baca: saya) katanya. Huwakakaka*tertawa anggun* XDD

Shukaku: iiiih…jangan ketawa mulu, gue mau protes nih! Masa gue jadi kebo sih? Gue ini rakun taooo!*mencak-mencak*

Shena: Terus, gue musti salto, gitu? Lagian mana ada rakun yang ngebajak sawah, cumiiii~ Wah, kacau nih si Shukaku! XDD

Macan kumbang: Daging gue jangan dijual–jual sembarangan donk!*merangkak-rangkak* T_T

*tepar ngedengerin protesan dari para chara*

Dan makasiiih banget saya ucapkan buat para readers yang masih setia sama fic ini. I love you all…muach muach muach! :* dukungan jiwa muda kalian benar-benar membangkitkan semangat saya!

Makasih udah baca! Umm…apalagi ya? Ah, iya! Review lagi? Hehehehe :D

Ciao!