Love?

.

Warning : AU, Hum!Alien, Hum!Robot, Fem!Ochobot, No Super power, OOC, Typo

Rated : T

Ganre : friendship, romance

Pairing : HalilintarxYaya, TaufanxYing, GempaxHumFem!Ochobot

Boboiboy milik Animonsta studio saya hanya meminjam charanya saja

Jika berkenan silakan baca ^_^

.

~o0o0o0o~

.

"Loh kalian ga tau? Kami kan kembar lima"

"Eh?"

Perkataan Taufan berhasil membuat Ying dan Yaya memandang pemuda itu dengan pandangan bingung dan terkejut, sedangkan yang dipandang ikut menatap mereka bingung.

"Kalian tidak tau?" Tanya Taufan dan mendapat gelengan kepala dari kedua gadis itu.

"Wajar saja mereka tidak tau kak, di sekolah juga jarang yang tau kita itu kembar lima" seru Gempa dan Taufan hanya mengangguk setuju

"Aku sangka kalian hanya kembar tiga" seru Yaya masih sambil menatap figura foto itu.

"Iya aku juga berpikir begitu" seru Ying menyetujui ucapan Yaya, "Ochobot kau sudah tau ya?" tanya Ying sambil melihat ke arah Ochobot.

"Iya aku sudah tau, oh ya ngomong-ngomong Api dan Air mana? Dari tadi aku tidak melihat mereka" tanya Ochobot sambil menatap ketiga pemuda kembar itu.

"Api dan Air?" Tanya Yaya dan Ying bersamaan.

"Itu nama kembaran kami yang lain" seru Halilintar sambil melipat tangannya didepan dada.

"Mereka sedang di KL, menemani kakek, ibu dan ayah kami" jawab Gempa, Ochobot pun hanya ber'oh'ria untuk merespon jawaban Gempa. Mereka pun melanjutkan acara pesta penyambutan Ochobot itu.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Ochobot, Yaya, dan Ying segera pamit untuk pulang mengingat hari sudah semakin sore.

Gempa pun segera masuk kembali ke dalam rumahnya setelah tadi mengantar mereka sampai depan gerbang. Saat masuk kedalam rumah, ia melihat sesuatu yang asing didalam rak penyimpanan payung.

"Ini…milik siapa?" tanyanya saat mengambil sebuah payung berwarna biru yang terdapat sebuah gantungan penguin. 'Seingatku tidak ada yang punya payung ini' batinnya sambil mengingat-ngingat payung milik keluarganya.

"Kak Taufan kau tau ini milik siapa?" Tanya Gempa saat melihat kakak keduanya sedang berjalan melewatinya. Taufan yang dipanggil pun langsung menolehkan kepalanya dan melihat barang yang dimaksud oleh Gempa.

"Oh itu, kemarin saat menunggu Gempa aku dipinjamkan payung oleh seorang gadis dan tadi aku lupa membawanya" balas Taufan yang baru menyadari kalo dia lupa membawa payung yang dipinjamkannya.

"Seorang gadis? Siapa kak?" Tanya Gempa bingung, sedangkan yang ditanya hanya mengendikkan bahunya.

"Entah, aku juga tidak tau kemarin dia menutup wajahnya dengan payung kuning miliknya" balas Taufan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Hah…ya sudah besok kita cari pemilik payung ini" seru Gempa sambil menaruh kembali payung tersebut ditempatnya tadi. Taufan pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan langsung menuju kamarnya.

Gempa pun langsung melangkahkan kakinya untuk membersihkan dapur dan menyiapkan makan malam untuk dia dan kedua saudaranya.

~o0o0o0o~

Di SMA Pulau Rintis sudah memulai aktivitas belajar mengajarnya. Koridor kelas sepi dikarenakan murid-murid sedang menerima materi dari guru yang berbeda-beda.

Di kelas Taufan sang guru sedang menjelaskan materi pelajaran yang sangat di benci Taufan, yaitu Matematika. Pelajaran yang sangan dihindari Taufan tapi sangat digemari oleh Gempa dan Halilintar itu sedari tadi tidak Taufan tanggapi. Pemuda ini lebih memilih memikirkan hal lain seperti video game terbarunya, bekal apa yang dibuat oleh Gempa, teknik sketboard baru apa yang harus ia pelajarin, dan juga siapa pemilik dari payung biru ini.

'Payung biru ya…kira-kira milik siapa ya?' batin Taufan mulai mengingat-ngingat pemilik payung biru ini.

'Tapi rasanya kemarin aku bertemu dengannya atau hanya perasaan aku saja ya?' batin Taufan bertanya-tanya. 'hah…pokoknya hari ini aku harus mencari siapa pemilik payung ini' batin Taufan sambil menghela nafas. Taufan pun mulai memerhatikan materi yang sedari tadi ia acuhkan.

~o0o0o0o~

TENG! TENG! TENG!

Akhirnya bel pulang berbunyi. Semua siswa lekas membereskan peralatan sekolah mereka, tak terkecuali pemuda biru-putih ini.

Setelah sedikit merenggangkan badannya, Taufan mulai menggendong tasnya dan beranjak keluar kelas.

Ia melangkah menuju kelas Gempa, mengajaknya pulang barsama. Selama perjalanan ia bersiul-siul untuk menemaninya menuju kelas adik kesayangannya.

"Gempa~ pulang bareng yuk!" seru Taufan saat sudah sampai didepan kelas Gempa.

"Eh kak Taufan, tunggu ya aku bereskan kertas ini dulu" balas Gempa sambil merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja.

"Uwaa banyak banget, itu apa?" Tanya Taufan langsung masuk ke kelas Gempa dan mengambil salah satu lembar kertas tersebut.

"Ini lembar kerja murid yang dikasih guru sama lembar soal yang mau dikumpulkan" balas Gempa masih merapihkan kertas tersebut.

"Sini kakak bantu" seru Taufan ikut merapihkan kertas tersebut dan mengambil salah satu dari tumpukan itu dan membawanya. "ayo, kau mau ke ruang guru kan" lanjut Taufan sambil menunggu Gempa membawa tumpukan yang lain.

"Iya, makasih ya kak Taufan" seru Gempa sambil tersenyum.

"Hehehe sama-sama, kan kakak mu yang ini paling baik dan tidak sombong~" balas Taufan sambil mengeluarkan cengirannya. Gempa hanya bisa tertawa kecil melihat kakaknya yang paling narsis ini.

"Oh ya kak Taufan ga ada kegiatan ekskul?" Tanya Gempa kepada kakaknya tersebut.

"Engga kok, lagi pada mau istirahat dulu katanya" balas Taufan dengan enteng. "padahal aku udah cape-cape bawa sketboard, uhh…sial" lanjutnya sambil menggerutu kecil. Gempa hanya bisa geleng-geleng kepala dan melirik ke tangan kiri kakaknya tersebut dan melihat sebuah sketboard biru bercorak putih bertengker disana. Ya Taufan itu ikut ekskul sketboard dan baru saja minggu lalu mereka mengikuti lomba sketboard antar sekolah, dan karna mereka masih ingin istirahat jadinya kegiatan ekskul mereka diliburkan dulu.

"Kalo kak Hali kemana?" Tanya Gempa yang baru menyadari kakak pertamanya tidak terlihat sedari tadi.

"Katanya ada latihan karate" balas Taufan dan hanya dibalas gumaman oleh Gempa. Sedangkan Halilintar dia ikut ekskul karate dan menjabat sebagai ketua karate, dan lagi Halilintar sudah banyak memenangkan pertandingan karate tingkan SMA maupun tingkan Nasional.

Sesampainya di ruang guru, segera saja Gempa dan Taufan menuju meja guru yang dicari dan menaruh kedua tumpukan kertas itu di atas meja. Mereka pun segera keluar kelas dan berjalan menuju gerbang sekolah.

Sambil menuju gerbang sekolah, mereka berbincang kecil dan sesekali Taufan menjaili adiknya itu dan langsung tertawa terbahak-bahak saat Gempa terkena kejailannya, yang langsung mendapat pukulan kecil dari Gempa.

"Gyahahaha…aduh..perutku sakit kebanyakan ketawa nih.." rintih Taufan sambil memegang perutnya.

"Uhh..dasar kak Taufan ini, huh.." ambek Gempa sambil memukul kecil lengan Taufan dan berjalan lebih dulu, meninggalkan Taufan yang masih tertawa.

"Hahaha…jangan gitu dong Gempa~ aku kan hanya bercanda~" seru Taufan dengan cengirannya dan ikut menyusul Gempa.

"Terserah kak Taufan" Gempa masih sedikit ngambek dengan Taufan dan hanya dibalas oleh kekehan sang pemuda biru-putih ini.

"Eh Gempa? Taufan? Mau kemana?" sebuah seruan terdengar dari belakan Taufan. Segera saja kedua pemuda yang dipanggil namanya itu membalikkan badannya.

"Eh? Ying dan Yaya?" seru Gempa dan Taufan bersamaan saat melihat kedua gadis yang baru saja menyapa tadi. Yaya dan Ying pun mendekati kedua pemuda kembar itu.

"Kalian mau kemana?" Tanya Yaya saat sudah di dekat Taufan dan Gempa.

"Kita mau pulang" jawab Taufan dengan senyumannya.

"O-ohh..ka-kalian tidak ada kegiatan ekskul?" Tanya Ying masih dengan malu-malu. Dan dibalas gelengan oleh kedua pemuda itu.

"Kalian sendiri mau kemana?" Tanya Gempa saat melihat pakaian Yaya dan Ying sedikit berbeda. Yaya masih memakai seragam sekolahnya hanya saja dibalut celemek warna pink da nada gambar domba putih lucu disisi kiri bawahnya, sedangkan Ying sudah berganti pakaian dengan celana training sebawah lutut dan kaos putih polos berlengan pendek.

"Ah aku dan Ying mau kegiatan ekskul dulu. Aku ekskul memasak dan Ying ekskul lari, kebetulan kami mau mengambil peralatan dulu tadi" jelas Yaya sambil tersenyum kecil.

"Loh? Kembaran yang satu lagi ga ada?" Tanya Yaya saat merasa ada yang kurang.

"Maksudmu kak Hali? Dia ada ekskul karate dulu jadi kami langsung pulang" jelas Taufan, "ngomong-ngomong Ochobot juga kemana?" lanjut Taufan saat melihat teman masa kecilnya itu tidak bersama mereka sedari tadi.

"Ochobot sudah pulang duluan, katanya mau beli komik terbaru" jawab Ying dengan tawa kecilnya mengingat betapa terburu-burunya Ochobot saat ingin membeli komik baru.

Mendengar itu Taufan hanya bisa tersenyum maklum dan Gempa hanya bisa berdiam diri saja, Gempa merasa bingung akan perasaan sedih yang baru menghampirinya.

'Eh? Kenapa aku merasa sedih ya?' batin Gempa bingung.

"Ya sudah kami duluan ya" seru Yaya mau membalikkan badannya dengan Ying tapi terhenti karna seruan dari Taufan.

"Eh! Tunggu dulu!" seru Taufan sambil merogoh isi tasnya, mencari senuah barang.

"Hm? Ada apa?" Tanya Yaya menatap bingung pemuda bertopi miring itu.

"Aku mau nanya, kalian tau siapa pemilik payung biru ini?" Tanya Taufan sambil menunjukkan sebuah payung biru dengan gantungan pinguin kecil dibawahnya.

Yaya dan Ying hanya bisa berdiam diri melihat payung itu. Sikap diam mereka membuat Gempa dan Taufan saling bertatap bingung. Sedetik kemudian Yaya menatap Ying penasaran.

"Eh Ying, bukannya ini milik mu?" Tanya Yaya dengan nada sedikit jail. Taufan dan Gempa yang mendengar itu hanya bisa terkejut.

"Eh?! Ini milik mu Ying?!" seru mereka bersamaan.

"Pantas saja akhir-akhir ini kau hanya bawa satu payung, ternyata kau pinjamkan ke Taufan ya~" seru Yaya dengan nada jail. "kalian diam-diam sudah saling kenal ya~" lanjut Yaya sambil menyikut Ying pelan.

"E-engga kok, kita baru kenal kemarin" elak Ying dengan wajah yang sedikit memerah. "aku aja baru tau kalo orang yang aku pinjamin payung itu Taufan" lanjut Ying sambil melirik Taufan.

"Eh? Kau baru tau? Memang kau tidak lihat wajah orang yang kau beri pinjam payung?" Tanya Yaya penasaran.

"Engga, aku langsung pergi pas payungnya udah aku pinjemin" jelas Ying mengingat kejadian hujan itu.

"Ohh..begitu, syukurlah kak Taufan ternyata payung itu milik Ying jadi kakak ga usah nyari orangnya lagi" seru Gempa sambil menatap kakaknya itu.

"Iya, aku jadi ga usah susah-susah nyari siapa pemilik payung ini" balas Taufan dengan cengirannya, Taufan langsung menatap Ying dan menunjukkan senyuman sok kerennya.

"Ini makasih ya payungnya, maaf lama balikinnya" seru Taufan memberi payung biru tersebut bersama dengan senyum narsisnya.

"I-iya sama-sama" Ying pun menerima payung itu dengan grogi.

"Nah~ sebagai tanda terimakasih, bagaimana kalo kita kencan? Hari minggu ini? Kau manis dan pasti cocok dengan diriku yang keren ini~" seru Taufan masih dengan senyum narsisnya. Gempa hanya bisa menghela nafasnya melihat penyakit 'narsis dan playboy' milik kakaknya itu kambuh, sedangakan Yaya hanya bisa sweatdrop melihat kenarsisan Taufan dan Ying hanya bisa mematung.

"Kak..jangan asal ngajak orang kencan, ingat waktu masih smp? Kakak pernah hampir ngabisin uang jajan sebulan gara-gara ngajak perempuan-perempuan itu kencan" seru Gempa sambil melirik malas Taufan dan hanya dibalas cengiran sang kakak.

"Haha..Gempa~ jangan begitu, ini hanya sebagai tanda terimakasih kok~ lagi pula aku senang melihat perempuan manis yang lewat jadi tanpa pikir panjang aku aja jalan~" jelas Taufan yang hanya bisa membuat Gempa menghela nafas melihat sifat kakanya ini. "jadi Ying bagaimana? Kau beruntung loh mendapatkan ajakan kencan dari cowok sekeren aku~ lagi pula kau tidak akan menolakkan? Karna semua perempuan sama~ akan ku bawa kau kemanapun kau mau" lanjut Taufan masih dengan senyum narsisnya.

Ying masih berdiam diri sambil menundukkan kepalanya, membuat Taufan, Gempa, dan Yaya mengernyitkan alisnya bingung.

"Kenapa Ying? Jangan-jangan kau terlalu senang ya diajak kencan? Yaa maklum kau senang~" seru Taufan dengan bangga.

"Te.." Ying mengeluarkan suaranya, masih dengan menundukkan kepalanya.

"Te?" Taufan menatap bingung Ying dan menunggu kelanjutan dari ucapan gadis berwajah oriental itu.

"TENTU SAJA TIDAK! DASAR PEMUDA NARSIS DAN PLAYBOY!" teriak Ying sambil memukul kepala Taufan dengan payung birunya. Taufan yang tiba-tiba di pukul tentu tidak dapat menghindarinya dan menerima pukulan telak itu, sedangkan Gempa dan Yaya hanya bisa terkejut setengah mati. Terutama Gempa, dia tidak menyangka gadis pemalu itu bisa bertindak seperti ini.

Taufan yang terduduk sambil memegangi bagian kepalanya hanya bisa merintih kesakitan dan menatap Ying dengan terkejut karna tindakan gadis itu dan melihat wajah Ying yang merah karna marah dan kesal.

"Dengar ya pemuda narsis!" seru Ying sambil menunjuk Taufan. "aku paling ga suka sama orang kayak kamu! Orang yang seenaknya menyamakan semua perempuan! Orang yang selalu menggoda perempuan! Dan orang yang menjijikkan kayak kamu!" seru Ying masih menuangkan rasa kesal dan muaknya. Taufan hanya bisa menatap takut-taku Ying dan tak berani mengeluarkan suaranya.

"Jadi. Jangan. Pernah. Menunjukkan. Sifat. Menjijikan. Itu. Lagi." Seru Ying sambil menekankan kalimatnya itu. Taufan masih diam tak berkutik, melihat itu Ying hanya bersikap acuh dan pergi meninggalkan ketiga orang yang masih berdiam diri.

"A-a..ma-maaf yaa, sebenarnya Ying itu pemalu tapi kalo ada yang ia tidak sukai dia bisa langsung mengungkapkannya dan sebenarnya kalo kalian sudah dekat dengannya dia itu cerewet dan asik kok diajak berteman, jadi maaf ya" seru Yaya meresa tidak enak dan pergi menyusul Ying.

Gempa yang melihat kejadian tadi jadi segera menatap Taufan khawatir dan kasihan.

"Kak Taufan ga apa-apa? Apa masih sakit?" Tanya Gempa khawatir .

"Aku..ga apa-apa kok Gempa, hanya kaget aja" jawab Taufan masih dengan wajah terkejutnya. Gempa yang mendengar itu menghela nafas lega, dan kembali memandang wajah kakaknya dengan bingung.

"Ada apa kak?" Tanya Gempa.

"Ah, e-engga, aku hanya terkejut aja mendapat reaksi yang tidak biasa itu dan lagi ini pertama kalinya aku di pukul pake payung, kalo di banting atau di jadiin samsak mah udah biasa sama kak Hali tapi baru pertama kali ini ada gadis yang memukul ku pake payung" jelas Taufan dengan enteng, Gempa hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Itu karna kesalahan kakak juga, tidak semua perempuan itu suka di goda" seru Gempa memberi nasihat.

"I-iya..maaf" seru Taufan sedikit menyesal, Gempa yang melihat itu hanya bisa menghela nafas dan tersenyum.

"Sudahlah, ayo kak kita pulang" ajak Gempa dan mulai beranjak pergi. Taufan pun mulai berdiri dan ikut pergi bersama Gempa walau pikirannya masih melayang akan kejadian tadi.

'Baru pertama kali ini ada yang memukul ku pakai payung, perempuan lagi' batin Taufan kembali merenung. 'apa aku berlebuhan ya? Tapi lucu juga melihat wajah marahnya' tampa sadar Taufan tertawa kecil mengingat wajah merah penuh amarah Ying. 'tunggu…jangan bilang aku maso?! Ga, ga, ga! Aku hanya nganggep itu manis aja! Bukan berarti aku seneng di pukul pake payung!' Taufan pun masih bergulat dengan batinnya, tanpa ia sadari Gempa menatap Taufan penuh tanda tanya karna melihat Taufan yang terdiam tapi menampilkan wajah yang berbeda-beda.

'Kak Taufan kenapa ya? Apa gara-gara di pukul otaknya jadi bermasalah?' batin Gempa bingung, tanpa ia sadari kalo kakaknya itu memang sudah bermasalah dari awal.

Sementara itu di tempat Ying..

"Ying! Tunggu!" teriak Yaya berusaha menyusul Ying. "hah..hah..Ying, tunggu" seru Yaya saat sudah sampai di dekay Ying.

"Ying? Kau baik-baik saja?" Tanya Yaya khawatir saat melihat Ying yang menundukkan kepalanya.

"U-uhh..Yaya! Bagaimana ini?! Aku kelepasan pas mukul dia sama sudah berucap hal yang kasar! Uhh aku jadi merasa ga enak ginikan jadinya!" seru Ying merasa bersalah atas apa yang sudah dia perbuat pada Taufan. Yaya yang melihat teman baiknya itu berwajah panik dan bersalah, hanya bisa tersenyum maklum dan menepuk pundak temannya itu.

"Tenanglah Ying, bagaimana kalo besok kau minta maaf pada Taufan? Aku yakin dia akan memaafkan mu" saran Yaya sambil tersenyum kecil.

"Eh? Ba-bagaimana kalo dia tidak mau memaafkan ku?" Tanya Ying dengan pesimis.

"Kan belum kau coba, jadi jangan berburuk sangka dulu" tegas Yaya dengan wajah penuh keyakinan. Ying yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baiklah besok akan ku coba meminta maaf padanya lagi" seru Ying dengan lesu, Yaya yang mendengar itu hanya bisa tersenyum senang.

"Nah bagus kalo begitu, sudah semangatlah nanti kita beli es krim saat pulang dan ayo kita pasti di tunggu oleh anggota ekskul masing-masing" seru Yaya sambil berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Ying yang masih memikirkan keputusannya tadi.

'Minta maaf yaa..semoga saja aku bisa meminta maaf dengan benar besok' batin Ying masih kalut.

TBC~

A/N : Akhirnya bisa update juga :'', dan sekarang fokus ke TauYi yeyy! x3 dan maafkan ada hit brocon lagi :v #plak.

Taufan : jahatnya dirimu author~ membuat aku dipukul~ *nangis Bombay*

Me : taka pa kan Taufan sekali-sekali disiksa~ *nyengir*

Taufan : teganya! *mojok*

Me : Bwahahaha *tertawa iblis(?)*

Ying : haiya kalian ini *geleng" kepala* sudah-sudah lebih baik balas review

Balasan Review:

Fitzal21 : Ini sudah lanjut~ makasih udah mereview x3

Deesha : Ini sudah lanjut~ makasih semangat sama review x3

tasha : wah syukurlah kalo suka x3, ini sudah lanjut~ makasih reviewnya x3

siti wulan dari : ini sudah lanjut~ makasih sudah mereview x3

Airyn yyin : pertanyaan udah terjawabkan? Wahh makasih dibiang bagus *senyum malu(?)* #plakk , makasih atas review dan semangatnya x3

EruCute03 : Huee maafkan atas keterlambatan updatenya TwT *sujud* aku usahakan tidak hiatus lagi :''v, aku terharu ada yang menunggu fanfic ini *nangis terharu*, ini sudah next~ makasih atas reviewnya x3

Vanilla Blue12 : silken juga yaa~ ini sudah lanjut, makasih atas reviewnya yaa~ x3

Nakamoto Yuu Na : wahh makasih udah di bilang keren xD #fanficnyaYangKerenWoi, ini sudah lanjut~ makasih atas reviewnya yaa~ xD

Okk semua review sudah terbalas. Makasih yang sudah memberi semangat, dan do'a kan saja yaa bisa lebih cepat update :"v. Okk sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya ^^)/