DISCLAIMER: Ever After High (c) Mattel

Original Story: Just the Beginning (c) mikey magee

Translation: by BrokenWings2602


Satu hal baik tentang selalu mengatakan yang sejujurnya adalah kamu tidak akan pernah bisa berbohong kepada dirimu sendiri. Setidaknya begitulah Cedar Wood melihatnya. Sejak ia dipahat ayahnya selalu mengimpikan bahwa ia yang akan membawakan cerita keluarganya. Menjadi orang sungguhan, bisa menangis, dan bisa merasakan. Cedar tidak keberatan menjadi nyata. Ia tidak keberatan berbohong (meskipun ia tidak tertarik untuk melakukannya), tetapi ia tidak suka gambaran tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Ayahnya selalu menceritakannya bahwa menjadi orang sungguhan adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi semua boneka kayu. Kau bisa pergi ke mana pun kau mau, menjadi siapa pun yang kau inginkan, melihat apapun yang diinginkan hatimu. Kau bebas.

Tetapi apakah ia benar-benar bebas?

Meskipun pada akhir ceritanya ia akan menjadi nyata, ia masih tetap akan menjadi boneka, menari untuk benang-benang milik tingkah seseorang. Hanya karena tubuhnya terbuat dari daging bukan berarti ia memiliki kebebasan lebih dari ketika ia memulai. Bagaimana bisa ayahnya tidak melihat itu?

Tidak butuh waktu lama bagi Cedar untuk sampai ke workshop milik ayahnya, terletak tidak begitu jauh dari sekolah, diseberang Hutan Mempesona. Sudah menjadi tradisi sekolah bagi siswa-siswi angkatan kedua untuk kembali ke orang tua mereka selama akhir pekan setelah Hari Pewarisan. Sebagian siswa akan pulang ke rumah untuk perayaan kerajaan dalam menghormati warisan keluarga mereka diberikan. Sebagian lainnya akan pesta perjamuan besar-besaran di seluruh desa. Akan ada banyak update dari berbagai profil-profil MyChapter dan minggu beriktunya lorong-lorong sekolah akan diisi oleh celotehan. Para siswa-siswi angkatan pertama yang lainnya tidak dapat menunggu sampai Hari Pewarisan mereka...dan terkadang Cedar merasa seperti dialah satu-satunya orang yang bingung tentang takdirnya.

Ia sampai ke workshop ayahnya dan mengetuk tiga kali. Ia menutup matanya dan menunggu. Ada malam-malam ketika ia dan ayahnya akan tetap bangun dan mendengarkan para jangkrik bernyanyi, dan melihat bintang-bintang di atas. Ayahnya selalu terlihat rendah hati ketika malam jatuh dan bintang-bintang berkelip di atas kepala.

"Suatu hari nanti Cedar, kau akan tahu bagaimana rasanya menjadi nyata seperti apa. Kau dapat merasakan angin yang menerpa wajahmu, dan air hujan yang mengguyur pakaianmu." Kulit ayahnya segelap kayu darimana ia dipahat, dan senyumannya terkadang akan berkilau. Senyumannya melebar. "Kau tidak akan menjadi boneka milik siapa pun lagi."

Pintu workshop terbuka dan disitu berdirilah Pinocchio, setinggi pohon redwood dan tegap seperti pondok. Ganjil rasanya bagaimana satu boneka kayu kecil dapat bertumbuh menjadi pria tampan sedemikian rupa (itulah yang dikatakan oleh seluruh orang-orang disekitar kepada mereka berdua ketika mereka pergi berbelanja).

Ayahnya tersenyum. Ia merasa empedunya menaik ke pahatannya (ia bahkan tidak tahu boneka-boneka kayu dapat merasa begitu). Ia berdiri tegak dan bangga, ia sudah tahu apa yang akan ayahnya katakan, dan melihat ke dalam matanya, ia tidak bisa berbohong kepada ayahnya...sekalipun ia mau.

"Papa, aku tahu apa yang akan kau katakan, dan ya aku menandatangani bukunya...tapi bukan berarti aku akan mengikuti ceritanya."

Dan seperti kursi tanpa kaki, senyuman ayahnya langsung terjatuh ke lantai. "Cedar, aku tidak mengerti."

Cedar berjalan masuk ke dalam toko mainan tersebut dan meletakkan tasnya di dekat pintu. "Papa, kau selalu menginginkan aku untuk mengikuti ceritamu dan sejak aku kecil aku hanya mengikutinya karena itulah yang diharapkan dari aku."

Tidak, itulah yang diharapkan dari mereka semua entah mereka menyukainya atau tidak. Tidak peduli apa cerita mereka, pada akhirnya mereka hanyalah boneka milik orang lain, menari pada melodi yang sudah dimainkan.

Cedar menceritakan ayahnya tentang Hari Pewarisan, keberanian Raven, dan keraguannya sendiri.

Pinocchio menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti. Bukankah kau ingin menjadi gadis sungguhan? Bukankah kau ingin memiliki Kebahagiaan Selamanya?"

Cedar melemparkan kedua tangannya di udara. "Kebahagiaan Selamanya milik siapa? Papa, bagaimana bisa itu menjadi Kebahagiaan Selamanya milikku jika aku bahkan tidak mendapatkan satu pun ucapan di dalamnya? Bagaimana aku bisa bukan boneka di akhir cerita dari aku masih boneka di awal cerita? Aku hanya mengikuti gambaran orang lain aku harus menjadi siapa."

Pinocchio meletakkan kedua tangannya di kepalanya, terlalu syok dari apa yang ia dengar. "Tapi Cedar, sayang, a-aku...Itu terlalu berbahaya, cerita-cerita itu ada untuk melindungi kita...untuk membuat kita-"

"Terikat benang-benang milik seseorang?"

Apanya yang menakutkan tentang menjadi bebas? Ayahnya selalu memberitahukannya bagaimana hebat rasanya tanpa benang-benang, tetapi ia sadar sekarang bahwa ayahnya tidak pernah benar-benar kehilangan benang-benangnya.

Cedar menutup matanya dan mencoba untuk mengingat bunyi nyanyian para jangkrik: tidak dapat disangka-sangka, tajam dan tanpa arah. Itulah yang ingin ia jadi. Ia ingin memiliki cerita sendiri, membebaskan diri dari tiap dalang yang berani menarik tubuhnya. Keberanian Raven, satu tindakan berontaknya memadatkan keteguhan hati Cedar, satu mimpi itu yang ia dan ayahnya telah inginkan sejak Pada Zaman Dahulu Kala yang pertama.

"Aku tidak akan menjadi boneka milik siapapun."