CERITA HORROR PENGANTAR TIDUR
.
Disclaimer : Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki. Kalau punya saya, pasti Nigou (?) yang jadi pemeran utamanya :v
.
Genre (s) : Horror
.
Warn : Drabble, OOC, Abal, beberapa chapter mungkin AU, Typo selalu jadi fans terberat saya, No Pairing pastinya dan pemeran utama selalu berubah-ubah.
.
.
.
LAGU
.
Kasamatsu Yukio, lelaki bersorot mata tajam bagaikan harimau siap menerkam mangsa, dengan surai hitam yang dipotong pendek ala jabrik—beberapa orang berani/bodoh menyebutkan dengan 'rambut landak', mantan ketua dari klub basket terkenal Kaijo dan memiliki 'hobi' menendang orang yang ia anggap menjengkelkan itu, memiliki kebiasaan tuk memutar lagu demi menemani tidur malam; bertempo lambat atau sedang, hanya saja lagu rock tak termasuk dalam pilihan. Apalagi disaat otak sedang lelah-lelahnya, membuat lagu menjadi salah satu obat penenang paling manjur bagi sang pemuda berzodiak cancer.
Itu karena Kasamatsu tidak suka dengan kesunyian. Terutama ketika malam datang menjelang, kala manusia normal memilih untuk tinggal dalam rumah sementara makhluk malam berorkestra ria. Disaat seperti itu, suasana menjadi tak nyaman dan terkesan lebih mencekam daripada saat sang surya tampil ke hadapan panggung biru.
Namun bukan berarti dirinya nyaman akan kebisingan yang menaungi kehidupan tiap insan di pijakan bumi. Ia lebih memilih untuk berbincang ringan selagi menunggu dan berhenti jika dirasa gerbang perdebatan akan terbuka. Ia lebih memilih untuk menonton tv meski berisikan para politikus buncit yang seenak dengkul mengungkapkan teori tanpa argumen kuat daripada harus terkekang dalam kebosanan ruang kosan bertatami enam. Ia lebih memilih memutar lagu-lagu klasik atau pop rock sembari mengerjakan skripsi berlembar-lembar banyaknya meski ia tahu daya konsentrasinya tak sekuat Midorima Shintarou.
"Ne, ne, Kasamatsu-senpai. Aku lapar. Bagaimana kalau kita pesan pizza? Senpai ingin rasa apa? Ne, senpai?"
Ah, sayang ada pengecualian besar untuk kasus yang satu ini.
Disaat seperti ini, Kasamatsu justru akan melepaskan prinsip bicara-tapi-jangan-terlalu-sunyi-dan-jangan-terlalu-berisik miliknya tanpa pikir panjang. Ia rela melaksanakan tantangan untuk duduk diam selama satu hari penuh tanpa melakukan apa-apa, tidak menonton tv atau mendengar lagu, mengerjakan skripsi seluruh teman sekelasnya. Apa saja! Asalkan ia dapat terhindar dari kouhai dengan energi berlebih yang tak punya niatan untuk menutup mulut berisiknya walau hanya satu detik!
Oh, baiklah. Mungkin berlebihan jika ia mau saja mengerjakan tugas pemberian dosen tercinta milik teman-temannya yang terkenal tebal tak terkira tanpa imbalan sedikitpun. Tapi seperti itulah gambaran Kasamatsu akan betapa menyebalkannya Kise Ryouta, mantan kouhai SMA Kaijo dan merupakan penyebab utama Kasamatsu ingin segera menamatkan kuliah.
Padahal ia sudah sengaja memilih universitas yang berletak cukup jauh dari sekolah menengah atasnya dulu agar terhindar dari model (sok) tampan yang, seingatnya, selalu berceloteh seperti jangkrik di musim panas. Tapi, entah karena takdir sial atau Kami-sama memang begitu senang mengerjainya, lagi-lagi Kasamatsu harus menjadi babysitter Kise untuk beberapa tahun kedepan.
Ia tak yakin telinganya bisa bertahan.
Kasamatsu menghela napas panjang tuk kesekian kali pada hari ini dan berkata, "Keju dan pepperoni."
"Segera datang!" lalu disusul dengan bunyi keypad hanphone, sebelum beralih ke nada sambung tiga kali dan pesanan makanan siap saji masing-masing.
Dalam setahun dua kali, universitas tempatnya bernaung akan melakukan sebuah proyek secara serempak dengan menyesuaikan jurusan dan mata kuliah masing-masing. Dan untuk memberikan hasil yang produktif serta dengan alasan menguatkan tali persaudaraan, dosen yang bersangkutan memberi satu peraturan ketat, dimana senior harus mengerjakan proyek bersama junior dalam satu kelompok yang sama, "Atau tidak, ucapkan selamat tinggal dengan teman seangkatan dan sampai jumpa kembali pada tahun depan! Dan pada kelas yang sama." Ujar Masako Araki, dengan senyuman menawan yang membuat bulu kuduk merinding.
(Dan ia benci mengakuinya, tapi mantan pelatih basket SMA Yosen itu benar-benar menakutkan)
Kasamatsu, salah satu korban dari kediktatoran para pengajar, mengurut pangkal hidung guna tuk hilangkan pening yang melanda. Satu gestur itu memberi isyarat bisu pada Kise untuk segera mengambil alih sebelum senpai kesayangan pingsan di tengah jalan. Dengan gumaman 'terima kasih' yang hampir-hampir tak terdengar, Kasamatsu menyandarkan punggung lebar di sisi tempat tidur dan merilekskan semua otot-otot tegang akibat terlalu lama duduk tak bergerak. Kise, yang memang pada dasarnya tak bisa diam, memutar lagu koleksinya dan mulai melanjutkan skripsi yang terhenti di tengah halaman tiga puluh empat.
"Time Machine, huh?" Kasamatsu menguap lebar. Sang pemuda beronyx hitam itu bersyukur dengan adanya satu atau dua suara selama proses belajar membosankan. Lagipula terlalu serius membuat Kasamatsu lelah dan mengantuk dua kali lebih cepat daripada biasanya. Asal masih bisa membagi konsentrasi dan tak terlalu keluar jalur—Kasamatsu mendengus memikirkannya—sebelum memejamkan mata tuk mengistirahatkan diri sejenak.
Melihat dari jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat dua puluh lima menit, Kasamatsu tahu ia terlelap selama tiga puluh menit. Kurang tidur demi menyelesaikan skripsi sudah menjadi hal biasa baginya, bahkan Kise yang harus menjaga penampilan demi sesi pemotretan. Yang justru tak biasa adalah Kise yang tak pernah diam, kini termenung dengan mulut terbuka lebar sementara manik kembar menatap layar handphone; lagu Time Machine ga Nakutatte masih mengiringi kesunyian dalam ruangan.
"Kau kenapa, Kise?" bunyi derit tempat tidur yang sudah tua terdengar menggema ketika Kasamatsu bergerak menjauh. Mungkin ia sudah harus membeli yang baru, "Sudah lelah?"
"T-Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja, laguku barusan..." lelaki blonde itu menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba mengusir entah teori apapun yang berhasil membuat rona wajah berubah pucat. Apakah hanya perasannya saja atau ia melihat sinar ketakutan dibalik bola kaca aureoline cerah itu? "S-Senpai? Hari ini aku boleh pulang ke apartemenku dulu? Besok aku harus datang lebih pagi."
Kasamatsu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Terserah padamu. Lagipula tengat waktu masih lama jadi tak perlu terburu-buru." Dari sudut visual pandang, ia bisa melihat bahu model berkedudukan power forward dalam basket yang tegang itu mulai rileks dan ia menghela napas lega. Aneh, "Perlu kucarikan taksi?"
"A-Ah, tidak usah senpai. Aku bisa mencarinya sendiri." Kise mulai membereskan semua peralatan yang ia bawa ke dalam tas gandeng berukuran besar, dan sempat terdiam tuk kedua kali saat menyadari handphone miliknya masih berada jauh dari jangkauan. Ia menelan ludah kuat, beranjak dari posisi jongkok dan berjalan menuju pintu keluar. Kasamatsu mulai memanaskan air dan mengeluarkan teh instan dari rak atas dapur, tak menyadari bahwa Kise masih berdiri mematung dengan tangan memegang kenop pintu.
"Ne...senpai." tanpa berbalik, ia berkata meski sedikit terbata-bata, "S-Sebaiknya...jangan memutar lagu malam ini."
"Hah? Memangnya kenapa?" Kasamatsu menyingkirkan permukaan gelas dari hadapan, tepat saat sang kouhai sedang menggumamkan sesuatu. Belum sempat ia menanyakan alasan lelaki blonde yang melarang kebiasaannya dua tahun belakangan ini, Kise sudah melangkahkan kaki dan pergi, meninggalkan Kasamatsu dalam kebingungan.
Ia mengedikkan bahu satu kali, mengambil cangkir putih berisikan sikat gigi dan pergi menuju kamar mandi. Yaah...karena hari sudah larut dan seperti katanya, tak perlu terburu-buru, jadi ada baiknya ia mengakhiri tugas sampai disini dulu dan melanjutkannya di lain waktu. Kasamatsu merangkak naik ke tempat tidur setelah yakin seluruh peralatan elektronik dimatikan; mulai dari lampu, keran kamar mandi, ketel yang ia gunakan untuk memanaskan air serta komputer pribadi miliknya setelah skripsi sebelumnya disave dalam folder khusus tugas.
"Ah, benar juga. Lagu." Seraya bergumam, ia meraih handphone miliknya yang berada di meja kecil samping tempat tidur, memutar salah satu lagu kesukaannya setelah memilih dari sekian banyak lagu dari playlist favorite; Tomorrow never Lies.
.
Zutto...kokoro no doko ka ni/ shimaikonda mama
Itsuka kanarazu tte chikara ni kaeteta
.
Merupakan kenikmatan sendiri bagi seorang Kasamatsu saat beristirahat dengan selimut hangat dan lagu pengiring tidur setelah satu hari panjang yang melelahkan; membuat Kasamatsu yang mudah naik emosi pun bisa menjadi setenang Kuroko Tetsuya.
.
Ano hi egaita mirai wo oikoshite/ atarashii kisetsu no tochuu de
Mada nani mo kawattenai na tte kao de
.
Tapi mengapa Kise mengatakan hal aneh seperti itu, Kasamatsu masih tetap tak mengerti. Jarang sekali ia melihat Kise yang serius jika bukan ditengah sesi pemotretan atau pertandingan sengit basket. Dan lagi ia ketakutan; mengingatkannya saat kali pertama ia melihat Kise dalam pertandingan resmi melawan Aomine Daiki, yang merupakan ace dari 'Generasi Keajaiban'. Apa yang sebenarnya terjadi selama tiga puluh menit saat itu? Dirinya bertanya-tanya.
.
Ima wo ashita ni tsunageru jikkan de/ motto tsuyoku nareru tte wakaru
Iisshun ni sono saki wo mitsuketai/ kotae wa mou
'cause tomorrow never lies/ soko ni
.
"Untuk apa aku memikirkannya?" Kasamatsu mendengus, seraya memejamkan mata lelah dan mengistirahatkannya dalam kegelapan semu. Seharusnya ia senang karena akhirnya junior menjengkelkan itu mau menutup mulut berisiknya meski hanya sebentar. Toh, itu hanya salah satu dari keanehan Kise yang lainnya. Itu, atau—
(Terbayang kembali ketika manik kaca kembar itu menatap layar handphone miliknya dengan penuh ketakutan; seolah apa yang tengah dipegangnya merupakan barang teraneh yang baru kali pertama ia temui.)
—ia memang sedang tidak bercanda.
.
Koko de zenbu muda ni nante shitaku—shitaku—
taku—ku—
.
.
.
.
Zutto...kokoro no doko ka ni/ shimaikonda mama
Itsuka kanarazu tte chikara ni kaeteta
.
.
Dan saat itu juga, kedua bola matanya membelalak lebar.
.
"Ne...senpai..."
.
Lelaki berkedudukan point guard dalam basket itu merasakan bulu romanya berdiri, giginya bergemeretak, tangannya gemetar. Tubuhnya gemetar. Pemuda bertampang garang, ditakuti oleh para kouhai dan dihormati oleh teman seangkatan itu, kedinginan. Ya! Kedinginan!
Bukannya ketakutan!
.
Ano hi egaita mirai wo oikoshite/ atarashii kisetsu no tochuu de
Mada nani mo kawattenai na tte kao—ka—de—
.
"S-Sebaiknya...jangan memutar lagu sebelum tidur malam ini. A-Aku tidak tahu mengapa, tapi percayalah!"
.
Perlahan namun pasti, ia memperlihatkan manik hitam kembar yang bergetar hebat—
.
Zutto...kokoro no doko ka ni/ shimaikonda mama
Itsuka kanarazu tte chikara ni kaeteta
.
Kasamatsu tak suka sunyi. Ia juga tak nyaman dengan kebisingan dunia.
.
—dan menatap dalam diam figur handphone miliknya yang seharusnya berada disamping bantal, kini dalam genggaman bayang hitam. Cahaya layar menerangi entitas makhluk yang menatapnya dengan satu mata dan seringai penuh bergigi tajam bagaikan pisau dapur mengerikan.
.
Tapi bolehkah ia berharap, untuk kali ini saja...
.
"Lagu yang kau putar, nantinya akan terulang kembali ke awal lagi!"
.
Tolong, hentikan kebisingan ini dan bawa dirinya kembali ke kesunyian malam yang selama ini selalu coba ia hindari itu!
.
Kali ini saja!
END
(A/N) :
Saya yakin pasti ga serem kan? Kan? Kaaan? Kena writer block nih, saya jadi susah banget pas nulis chapter kali ini #pundung di pojokan.
Btw, ini pengalaman asli kakak saya yang tinggal di kosan lo. Waktu itu pas temennya mampir ke kosan buat ngerjain tugas, ia bilang kalo lagu yang diputarnya tiba-tiba balik lagi ke awal. Tentu saja kakak saya ga percaya dan mengatakan kalau ia hanya main-main. Nah, pas malemnya dia puter lagu sebelum tidur. Padahal hpnya ia letakkan di samping bantal, ga ada yang pegang, eh taunya lagunya bener-bener balik ke awal lagi! Saat itu juga dia ketakutan sambil bilang, "Apa salah saya? Kenapa saya diganggu?"
Makanya! Padahal udah sering saya bilangin ga usah muter lagu malem-malem, masih aja! Buntut-buntutnya kena sendiri kan? Ga percaya sih!
Kisah kali ini AU karena Kasamatsu dan Kise sudah kuliah. Tapi perlu saya ingatkan lagi kalo ini one-shot dan ga ada kaitannya dengan chapter-chapter sebelumnya. Meski mungkin settingnya agak sama. Dan btw, Kasamatsu-nya agak OOC ya? :v
Oke deh, sampai berjumpa di chapter berikutnya. Bye bye~
Don't forget to leave your review
Best Regards
Akabane Kazama
