Warning(s): AU, typo(s) perhaps, OoC perhaps, OC(s), based on Death Note concept, first Sho-Ai fiction, different plot with Death Note

Disclaimer: Kuroshitsuji © Yana Toboso, Death Note concept © Tsugumi Ohba & Takashi Obata


Voll Note

by: Kuroschiffer P.

Page 4: Thank You for The Venom

Ciel yang baru saja bangun dari tidurnya itu masih berdiri diam dengan wajah tidak percaya. Ia mengira kalau dirinya masih bermimpi. Namun, sosok yang ada di hadapannya ini begitu nyata. Begitu jelas terlihat dan suaranya begitu jelas terdengar di telinga Ciel.

"Aku pasti bermimpi!" ujar Ciel masih sambil memadangi makhluk di depannya ini dengan tatapan tekejut. Ia pun mencubit lengannya keras. "Auch!" jeritnya pelan. Namun, satu hal yang kini ia tahu.

Ini bukanlah mimpi.

Makhluk rupawan yang beriris scarlet indah itu hanya menatap Ciel santai dengan senyum rupawan dan misterius terus terkembang di wajahnya.

"Haha, kau tidak bermimpi, Nak!" ujar makhluk bersayap lebat itu sambil menaruh telapak tangannya di kepala kelabu Ciel.

Ciel yang masih terkejut dengan kemunculan makhluk misterius sekaligus membawa kesan menyeramkan ini, hanya diam saat kepalanya merasakan keberadaan makhluk itu. Ya, ini membuktikan kalau makhluk di depannya ini nyata.

"Kau bilang dirimu adalah Death God." ujar Ciel kemudian, berusaha berbicara seperti biasa.

"Apakah kau yang memberikan buku itu kepadaku?" tanya Ciel lagi sembari menatap iris memukau makhluk itu yang langsung membuat Ciel terpana.

"Hm, bisa dibilang begitu." jawab makhluk itu masih tenang, seolah makhluk seperti dirinya itu hal yang biasa saja. Padahal di dunia manusia―apalagi di tahun 2019 seperti ini―hampir tak ada lagi manusia yang percaya hal-hal yang berbau mistis seperti makhluk di depan Ciel itu.

"Tenanglah, Ciel! Jangan tegang begitu, aku tak akan menggitmu, kok!" ujar makhluk itu lagi ramah. Sungguh sikap yang amat berlawanan dengan kesan yang timbul dalam pikiran Ciel terhadap makhluk yang disebut Death God.

Ciel pun hanya menuruti kata-kata Death God yang sedang berdiri di depannya itu dan menghela napas. Membuang rasa paniknya tadi dan menenangkan dirinya. Ia pun berjalan menuju kasurnya dan duduk di pinggirannya.

"Kau tahu namaku? Jadi…Tuan Death God, apa kau datang untuk mengambil nyawaku?" tanya Ciel ragu sambil menatap Death God itu.

"Ahaha, apa yang kau katakan? Sudah kubilang, 'kan, aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu. Oh iya, cukup panggil aku dengan namaku." jawab Death God bernama Sebastian itu sambil kembali tersenyum.

Ciel yang sedari tadi melihat senyum di wajah rupawan makhluk itu hanya bisa menatapnya dengan penuh kekaguman. Entah benar atau tidak, tetapi Ciel merasa jantungnya agak sedikit berdebar. Bukan karena takut, melainkan karena senyum di wajah makhluk itu. Ia sendiri heran mengapa dirinya bisa merasa seperti ini.

"Lalu? Untuk apa kau memberi buku ini? Bisa tolong jelaskan apa tujuanmu, um…Sebastian?" Ciel bertanya sambil menunjukkan tatapan penuh tanda tanya dan heran terhadap makhluk itu.

"Sepertinya kau amat tak sabaran, Ciel! Padahal baru saja aku sampai di Menscherde." jawab Sebastian tanpa menatap Ciel dan duduk di meja belajar Ciel. Lagi-lagi, makhluk itu tidak menimbulkan getaran dan berat sama sekali. Seperti tubuhnya itu tidak eksis di dunia ini.

Ciel tidak menjawab pekataan makhluk itu melainkan hanya terus menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar terpancar dari mata cerulean-nya.

"Jadi, Ciel, nampaknya kau sudah menggunakan buku itu. Kau tahu apa kegunaannya?" tanya Sebastian balik dan kini dengan nada sedikit serius.

"Menurut aturan yang tertera di kaver buku itu, buku itu untuk mengendalikan orang lain, bukan? Dengan kata lain, semacam hipnotis dan kita bisa menyuruh orang lain melakukan apapun yang kita hendaki, dengan syarat-syarat tertentu." jawab Ciel jelas sekali sambil pandangan matanya tak lepas sekalipun dari sosok menawan yang sedang duduk di depannya.

"Sepertinya kau memahami aturannya dengan amat baik, eh? Kalau kau sudah tahu, lalu apa yang kau tanyakan lagi?" tanya Sebastian balik sambil tangannya iseng menelusuri segala barang di meja belajar Ciel.

Ciel yang tampak tidak puas dengan penjelasan singkat Sebastian yang terdengar tidak niat, hanya menaikkan sebelah alisnya dan bersiap melontarkan berbagai pikirannya.

"Eh? Tentu saja yang mau aku tanyakan itu banyak! Banyak sekali sampai aku sendiri bingung harus bertanya mulai darimana." tukas Ciel balik dengan wajah kesalnya yang tetap terlihat imut.

Death God itu mengalilhkan iris merah gelapnya ke arah Ciel. Kemudian senyum misteriusnya kembali terkembang. "Hm, apa yang mau kau ketahui? Jika kau mau tahu alasan kematian teman kurang ajarmu itu, buku itulah jawabannya."

Deg.

Iris Ciel kembali melebar. Kembali, ia dikejutkan oleh segala fakta yang dibawa oleh Death God misterius ini. Keringat dingin mulai bermunculan kembali, mengingat kenyataan kalau buku itulah penyebab kematian Robert. Dengan kata lain, ialah yang membunuh Robert.

"K-kau pasti bercanda!" seru Ciel sedikit gemetaran sambil menatap horor Sebastian. Sedangkan Sebastian tidak tampak khawatir atau terkejut sama sekali melihat reaksi pemuda yang selama ini menyita perhatiannya. "B-bagaimana bisa aku yang membunuhnya? Aku hanya menghipnotisnya, bukan?" seru Ciel lagi tanpa melepas raut horor di wajah manisnya.

"Kau memang menghipnotisnya. Tetapi kau hanya mengendalikannya selama beberapa menit awal. Selebihnya, saat kau berhasil melewati kawanan Robert itu, kau tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada, Robert, bukan?" tanya Sebastian.

Ciel hanya terdiam sambil terus menatapi sosok mistis rupawan di depannya itu. Otak cerdasnya berpikir keras untuk menerka-nerka maksud dari perkataan makhluk di depannya ini.

"Kau tahu apa yang terjadi setelah kau melewati Robert? Ia masih dalam keadaan terhipnotis. Pikiran dan kesadarannya kosong sama sekali. Maka, saat kawanan Robert bubar dan tersisa Robert sendirian, ia masih dalam pengaruh hipnotis buku itu." lanjut Sebastian dengan menatap tenang Ciel, seolah ia sedang menceritakan cerita sebelum tidur. Ciel tetap diam memperhatikan.

"Karena kau menulis kalau Robert mabuk selama 1 jam 15 menit, maka ia bertingkah seperti layaknya orang mabuk. Waktu itu, ia kebetulan berjalan di gang sempit yang memang penuh dengan manusia-manusia brutal masa kini. Dan kau pasti sudah tahu kelanjutannya, bukan?" tanya Sebastian balik, mengakhiri penjelasan panjangnya―walaupun penjelasannya itu masih menggantung. Sepertinya ia memang senang membuat orang lain penasaran.

"Kelanjutannya? Maksudmu Robert terbunuh oleh orang-orang di gang sempit itu? Robert yang mabuk memicu perkelahian dan karena kondisinya seperti itu, tidak memungkinkan dirinya mempertahankan diri dan akhirnya ia berakhir seperti itu?" tanya Ciel beruntun, mengeluarkan segala kesimpulan yang ia buat dari penjelasan Sebastian barusan.

"Kau memang manusia cerdas, Ciel. Tak salah aku memilihmu untuk memegang bukuku." ujar Sebastian sambil tersenyum puas sambil beranjak bangun dari meja belajar Ciel.

"Kalau benar begitu, bukan aku pembunuhnya. Orang-orang itulah yang membunuhnya." ujar Ciel lagi, mencoba membela diri karena memang menurutnya dirinya tidak terlibat.

"Kau memang tidak membunuhnya secara langsung, namun kaulah yang membuatnya jadi terbunuh." ujar Sebastian lagi sambil melangkah mendekati Ciel dan duduk di sampingnya.

Ciel terdiam. Syok? Tentu saja! Mana ada orang yang tidak terkejut mengetahui kalau dirinya telah membunuh orang lain? Pengecualian bagi para psikopat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berbagai pikiran dan idealisme Ciel sedang berkecamuk.

Sebastian menolehkan iris dark scarlet-nya ke arah pemuda kelabu. Kemudian ia merangkul bahu Ciel perlahan. Berusaha menghibur Ciel, mungkin?

"Kenapa?" bisik Ciel pelan masih dalam keadaan menunduk.

"Hm?"

"Kenapa? Kenapa kau memberi buku itu padaku?" tanya Ciel pelan. Masih tertunduk.

Sebastian melepas rangkulannya dan mendesah pelan layaknya manusia.

"Kenapa kau memberi buku itu padaku? Kenapa seorang Death God bisa ada di sini? Apa yang sedang terjadi di dunia ini?"

Setelah mengeluarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu, Ciel kembali mendongakkan kepalanya dan menatap iris merah Sebastian. Sang Death God sendiri tidak tahu apa arti tatapan itu. Yang jelas terlihat sekarang, Ciel sudah menjadi lebih tegar dan kuat. Tidak lagi merasa takut dan terkejut dengan kehadiran sosok seperti Sebastian.

"Bosan."

"Huh?"

"Ya. Aku bosan dengan duniaku, Dunia Death Gods." jawab Sebastian lagi sambil berdiri dari kasur Ciel dan berjalan ke arah jendela Ciel.

"Aku tertarik dengan Menscherde, dunia manusia. Duniamu. Maka dari itu, aku datang ke London, tempat paling menarik dan paling banyak menyimpan keunikan sebab manusia-manusia di sini selalu berusaha menjatuhkan satu sama lain. Tempat sesuatu bernama 'kriminalitas' paling banyak terjadi." ucap Sebastian santai sambil menatap lurus iris Ciel. "Lalu, aku menjatuhkan bukuku ke sini untuk dipungut manusia agar manusia itu dapat menggunakannya dan supaya aku dapat sampai di sini."

"Kenapa kau memilihku?" tanya Ciel lagi.

"Sekarang giliranku. Apa yang kau pikirkan mengenai dunia ini?" tanya Sebastian balik, menghiraukan pertanyaan Ciel barusan dengan santainya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sebastian." ucap Ciel balik sambil terus menatap iris Sebastian dengan tegas. Tanda kalau ia belum puas dengan penjelasan Sebastian.

"Jawabanmu akan menjawab pertanyaanmu, Ciel." jawab Sebastian sambil tersenyum riang penuh misteri. Ciel yang melihat respon Sebastian hanya mengerutkan keningnya, tanda jengkel, dengan empat siku-siku betebaran di kepalanya.

"Huh! Aku jadi ragu kalau kau benar-benar Death God. Jangan-jangan kedua sayap di belakangmu itu hanya hiasan. Sikapmu benar-benar jauh dari kesan Death God yang orang-orang biasa pikirkan." tukas Ciel dengan nada menyindir sambil menatap meledek ke arah Sebastian, yang dengan santai dibalas Sebastian dengan menatap Ciel dengan sama meledeknya.

Ciel merasa sedikit heran terhadap dirinya. Ia merasa sosok yang tengah menatapnya dengan tatapan menjengkelkan itu tidak terasa menaktkan sama sekali. Malah ia merasa amat tenang dan santai berbicara dengannya. Seakan sedang berbicara kepada teman baiknya yang dengan mudah mengisi kesepian Ciel. Tidak, mungking lebih dari teman baik baginya.

TOK TOK

"Ciel! Bangun, Ciel! Sarapan dulu!" teriak suara yang sangat tidak asing lagi bagi Ciel hingga membuyarkan tatapan meledek Ciel dan berganti menjadi tatapan kaget.

"I-iya, Bi! Tunggu sebentar!" balas Ciel setengah berteriak sambil sedikit gugup dan menatap Sebastian dengan tatapan 'Bagaimana ini?'

Sebastian yang mengerti itu hanya terkekeh dan berkata, "Buka saja pintunya, tak apa-apa."

"Ciel?" teriak Bibinya lagi dari balik pintu.

"Iya!" Ciel langsung bergegas membuka pintu kamarnya. Ia berusaha berdiri menutupi pintunya agar Bibinya tak dapat melihat ke dalam kamarnya.

"Kenapa lama sekali sih? Aku mau berangkat sekarang, tetapi kau tidak turun-turun juga dari kamarmu. Apa kau sakit?" ucap Bibi Angelina beruntun sambil menatap cemas Ciel.

"Ahaha, aku tak apa-apa, kok Bi! Iya, aku akan turun sekarang." jawab Ciel sedikit gugup sambil tersenyum senormalnya.

"Hm? Kau kenapa, Ciel? Wajahmu aneh. Apa ada yang kau sembunyikan?" tanya Angelina menyelidik.

"Tak apa-apa, kok, Bi! Ya sudah, ayo kita ke bawah saja sekarang!" ucap Ciel sambil menarik tangan Bibinya ke arah tangga dan meninggalkan kamarnya yang terbuka lebar.

"Tunggu Ciel, sudah kubilang berkali-kali, 'kan? Kalau kau keluar kamar, pintu kamarmu harus kau tutup." ucap Angelina sambil berjalan ke arah kamar Ciel yang terbuka lebar.

Ciel hanya bisa menatap horor dengan mulut hampir berteriak saat Angelina sudah sampai di ujung kamarnya dan melihat langsung ke dalam kamarnya. Kemudian Angelina menutup pintunya perlahan dan kembali ke tangga tempat Ciel sedang berdiri kaku.

"Hm? Tunggu apa lagi, Ciel? Ayo turun sekarang, kalau tidak nanti aku yang akan terlambat." ucap Angelina memerintah sambil turun mendahului Ciel.

Ciel hanya mengikuti bibinya turun ke bawah dengan sedikit linglung dan kebingungan kembali memenuhi kepalanya.

"Jadi…kau hanya bisa dilihat olehku?" tanya Ciel setelah ia kembali dari ruang makan ke kamarnya. Hari ini Ciel masuk siang. Jadi, Ciel masih di rumah sedangkan bibinya yang seorang dokter sudah sewajarnya berangkat kerja mengikuti jadwal kerjanya yang sudah ditetapkan.

"Lebih tepatnya, oleh orang-orang yang pernah menyentuh buku itu." tambah Sebastian sambil bermain-main dengan ponsel Ciel.

"Kalau begitu, aku harus hati-hati menyimpan buku ini." ucap Ciel kepada diri sendiri sambil memendang buku yang dimaksud―yang kini tengah tergeletak di atas meja belajarnya.

"Hoo, jadi kau telah membulatkan tekadmu untuk terus menggunakan buku itu? Apa kau tidak takut, eh Ciel?" tanya Sebastian meledek dengan matanya tetap fokus ke arah ponsel Ciel.

"Menurutmu?" tanya Ciel balik dengan nada sama mengejek dan raut kesal di wajahnya sebab merasa dirinya diremehkan.

"Kau gampang sekali tersinggung, ya? Pantas saja kau sering dibully." ujar Sebastian balik masih dengan nada iseng meledek. Ciel hanya ber-'ck' tanpa melirik Sebastian sedikitpun.

"Apa kau tidak takut akan membunuh orang lagi, eh?" tanya Sebastian lagi dengan nada sedikit meremehkan. Ya, ia sangat menikmati meledek Ciel, hingga ia tidak pernah jera walaupun sudah mendapat death glares berkali-kali dari pemuda kelabu itu.

"Aku akan berhati-hati." jawab Ciel santai sambil terus menatapi tugas yang sedari tadi sedang ia kerjakan.

"Sudah kubilang, bukan? Walaupun kau sangat berhati-hati, pengaruh kematian buku itu sangat kuat. Mungkin kesempatan untuk hidup bagi orang yang kau kendalikan hanya 30%." lanjut Sebastian dengan irisnya kembali menjelajah isi kamar Ciel. Rasa ingin tahunya belum juga habis.

"Masih ada 30%, bukan? Itu sudah cukup bagiku. Lagipula…" Ciel berhenti menulis dan memutar kursi belajarnya ke arah Sebastian dan menatap Death God rupawan itu dengan wajah penuh misteri.

"Lagipula?" ulang Sebastian sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Kurasa kau benar." ujar Ciel dengan tenang dengan senyum ganjil sedikit terkembang di wajah manisnya. Hal ini tentu semakin membuat Death God rupawan itu penasaran.

"Apa maksudmu?" tanya Sebastian penuh keingintahuan sambil menatap wajah sok misterius-nya Ciel yang menurutnya sedikit―amat―manis.

"Kau bertanya tadi pagi tentang dunia, 'kan? Ya, sekarang aku mengerti kenapa kau memilihku. Kau bosan dengan duniamu. Begitupun aku dengan duniaku. Kau mau aku menggunakan buku itu agar aku dapat merubah dunia sampah ini." jelas Ciel sambil tersenyum ganjil dengan iris deep blue-nya menatap meledek Sebastian.

"Dan kurasa keputusanmu memilihku benar. Aku akan menggunakan buku itu untuk mengatur ulang Inggris Raya! Tidak, bahkan seluruh duniapun akan bisa kuatur agar berjalan ke arah yang benar!" seru Ciel lagi. Kali ini irisnya sedikit berbinar akan ide yang barusan terucap olehnya.

"Ahahaha…" Death God itu terkekeh pelan sambil menatap Ciel. Ciel yang merasa kesal sebab mengira dirinya ditertawakan―terlebih lagi ditertawakan oleh makhluk amat menyebalkan macam Sebastian. Langsung saja tatapan berbinar Ciel tergantikan oleh death glare super dingin yang ditujukan langsung kepada Sebastian.

"Entschuldigung (Maaf), aku tak bermaksud menertawakanmu, kok! Hanya saja, baru kali ini kulihat manusia sepertimu, Ciel!" ujar Sebastian sambil menatap Ciel yang tengah sedikit memerah.

"Dan tentang alasanku memilihmu, memang jawabanmu barusan tak salah. Tetapi, jawabanmu juga tak sepenuhnya benar." Kini giliran Sebastian yang memperlihatkan raut sok serius. Ciel hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Memang apa yang kurang? Bukankah sudah jelas kalau kau mencari manusia yang cukup kuat mental untuk menangani buku itu?" tanya Ciel heran.

"Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, Ciel. Kau menarik. Hanya itu." jawab Sebastian santai dengan menunjukkan senyum memikatnya yang amat 'mematikan'.

"H-hah? Ap-apa maksudmu?" tanya Ciel gelagapan dengan wajah yang kembali memerah. Kali ini lebih parah sebab disertai jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.

"Hahaha, kau lucu sekali kalau gugup seperti itu!" tawa Sebastian puas hingga kedua iris dark scarlet-nya menutup. Kalau Death Gods mempunyai organ dalam seperti manusia, pasti perut Sebastian sudah amat sakit saat tertawa seperti itu.

"I-ih! Tidak lucu, Sebastian! Jangan mempermainkanku!" gerutu Ciel dengan wajah amat kesal dan jengkel sementara serabut merah di wajahnya tak kunjung hilang.

"Ahahaha!~ Aku tidak sedang mempermainkanmu, kok! Memang benar kau menarik, apalagi dengan paras mirip perempuan begitu." balas Sebastian riang sambil terkekeh sekecil mungkin, berusaha menahan rasa gelinya begitu melihat wajah Ciel yang oh-so-damn-cute itu.

"D-dasar Death God mesum! Tak kusangka makhluk bertitel 'Death God' ternyata semenyebalkan ini! Jangan-jangan kau ini hanya arwah gentayangan yang tak diterima Tuhan sebab kelewat mesum?" gerutu Ciel beruntun dengan raut amat kesal, jengkel, malu, dan semacamnya.

"Tenang saja, Tuhan masih memberikan berkah-Nya padaku dan sampai sekarang aku masih resmi bekerja sebagai Death God, kok!" jawab Sebastian santai masih dengan senyum rupawannya yang memang selalu terlihat mesum di mata Ciel.

"Terserah kau sajalah." Ciel sudah kehabisan kata sebab dirinya terlalu kesal, malu, dan apalah itu. Ah, seorang Ciel bisa bertingkah seperti ini juga, rupanya. Hanya di depan makhluk berambut raven inilah Ciel menjadi OOC seperti ini. Di hadapan teman-temannya, bahkan di hadapan Christopher sekalipun, Ciel tidak pernah merasa sekesal dan semalu ini.

"Kau harus terbiasa denganku, lho Ciel. Sebab selama buku itu ada padamu aku akan terus mengikutimu. Kemanapun kau pergi." tambah Sebastian sambil tersenyum riang yang sukses membuat pemuda berambut kelabu di hadapannya itu terdiam kaku.

Monroe High School

Atmosfer suram sedang melanda sekolah ini. Staf-staf serta guru-guru dan beberapa siswa terlihat berjalan di sekolah menggunakan pakaian hitam khas berkabung. Kematian Robert berdampak besar bagi sekolah Ciel hari itu. Dapat dibuktikan dengan keadaan sedikit sunyi dan tidak seribut biasanya. Tentu saja tidak ribut, sebab semua biang keributan alias kawan-kawan Robert juga sedang berkabung atas kematian ketuanya yang sangat tiba-tiba.

Saat istirahat pun, topik pembicaraan seluruh siswa di Monroe High School tak lepas dari keterkejutan atas kematian orang yang paling berpengaruh (dalam artian negatif) di sekolah mereka. Banyak murid-murid yang turut berduka, tetapi yang merasa sedikit lega dan senang pun juga tak kalah banyak. Tak terkecuali Ciel dan kawan-kawan. Mereka sedikit banyak lega sebab orang yang selama ini sering meneror mereka sudah tiada. Memang kelihatannya kejam jika senang melihat kematian orang lain. Tetapi lain cerita dalam kasus Robert ini.

"Tak kusangka ia meninggal. Pantas saja gerak-geriknya kemarin sore aneh." ucap David masih sedikit tidak percaya bahwa Robert benar-benar meninggal.

"Ciel, apa benar orang pertama yang menemukan jasad Robert adalah kau?" tanya Frank penasaran. Saat ini mereka berempat―Ciel, Lynz, David, dan Frank―sedang makan siang di kantin sekolah mereka. Kali ini mereka bisa makan dengan tenang di meja kantin manapun sebab kawanan Robert tidak berulah hari ini. Untuk menghormati kepergian ketua mereka, mungkin?

"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Ciel balik sambil menelan pasta dagingnya.

"Lalu? Bagaimana reaksimu saat melihat jasadnya?" timpal David yang tampak tertarik dengan topik ini sambil membetulkan letak kacamata ber-frame hitamnya.

"Reaksiku? Tentu saja aku kaget saat pertama kali melihatnya. Seperti reaksi orang-orang kaget kalau melihat sesuatu yang… mengerikan. Yah, kalian bisa bayangkan sendiri, bukan?" jawab Ciel santai sambil melanjutkan menyantap makan siangnya.

"Kau merasa lega?" tanya Lynz akhirnya memutuskan untuk angkat bicara juga. Seperti biasa, ekspresi nol dan tak dapat tertebak yang terlihat di wajah cantik nan sendunya.

Kali ini Ciel tak langsung menjawabnya. Kalau readers sekalian pernah memegang Voll Note, pasti sekarang kalian sedari tadi sudah melihat sosok Sebastian yang dari awal sudah berada di belakang Ciel. Ingat kalau ia akan selalu menempel dengan Ciel?

Saat mendengar pertanyaan Lynz, Sebastian hanya terkekeh mengejek dan suara rendahnya itu hanya dapat didengar oleh Ciel. Ciel yang mendengar kekehan Sebastian berusaha menghiraukannya.

"Kalian sendiri bagaimana? Apa kalian merasa lega atau malah sedih?" tanya Ciel balik pada ketiga temannya.

"Well, kalau aku sih… bagaimana, ya? Lega sih sudah pasti, tetapi… selega-leganya aku, aku masih merasa berduka sebab orang lain telah meninggal." tutur Frank sambil memainkan sedotan lime-nya.

"Hm, mungkin aku sama dengan Frank. Bagaimana pun Robert tetap manusia. Sama dengan kita." jawab David mencoba rasional.

Lalu Ciel berganti menatap Lynz, meminta jawaban pertanyaannya.

"Walau aku sudah mencoba berpikir kalau ia masih 'manusia', aku tak bisa merasa sedih atau berduka. Aku tak merasakan apapun." jawab Lynz datar sambil memainkan sedotan jus tomatnya yang sewarna merah pekat.

"Tetapi aku lega sebab Ciel sudah sedikit aman untuk kali ini." tambah Lynz sambil menatap Ciel dengan iris hijau gelapnya menatap langsung iris deep blue pemuda cantik itu.

"Ya. Kami juga merasa begitu, kok." tambah David dan Frank sambil tersenyum ramah menatap sahabat imut mereka.

"Hm. Terima kasih, teman!" ucap Ciel sedikit terharu mendengar pengakuan teman-temannya ini. Namun, tidak sepenuhnya ia merasa lega dengan teman-temannya yang amat baik kepadanya. Sebab, mereka bertiga belum tahu pelaku sebenarnya yang menyebabkan Robert meninggal.

Sebastian yang sedari tadi hanya berdiri di belakang Ciel dengan iris merahnya mengobservasi seluruh kantin, hanya bisa tersenyum misterius.

Bel pulang pun berbunyi, membuat guru di tiap kelas mengakhiri pelajaran mereka dan keluar meninggalkan kelas. Murid-murid pun sama, mereka mulai berhamburan meninggalkan tempat duduk mereka. Ciel sedang bersiap-siap untuk pulang. Ia membereskan barang-barangnya yang masih ada di meja dan merogoh-rogoh lacinya, kalau-kalau ada yang tertinggal.

Pluk

Selembar kertas yang dilipat menjadi dua terjatuh dari dalam lacinya.

"Hm? Apa ini?" gumam Ciel sembari memungut kertas itu, yang setelah dibuka, ternyata berisi surat.

.

Hati-hati, Ciel. Hari ini, kawanan Robert (atau sekarang bernama kawanan Larry) akan menghajarmu habis-habisan. Mereka menunggumu di depan sekolah. Pulanglah lewat jalan samping, hanya itu tempat yang tidak berani mereka jaga sebab guru-guru selalu ada di sana.

.

Tenggorokan Ciel tercekat tiba-tiba, ketika membaca surat tak bernama ini. Irisnya melebar, namun ia sepertinya cukup siap dengan tantangan yang akan ia hadapi. Bagaimanapun, ialah yang pertama kali menemukan jasad Robert, dan semua orang tahu itu.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan berikutnya, Ciel?" tanya Sebastian dengan nada mengejek sambil tersenyum riang yang membuat Ciel hanya mendengus.

"Kau akan tahu nanti, Sebastian." jawab Ciel pelan, hampir berbisik namun masih dapat didengar oleh Sebastian. Tentu saja ia tidak akan berbicara dengan suara besar, sebab orang lain akan curiga padanya karena menganggapnya bicara sendiri.

"Ciel, ayo kita pulang!" ajak Frank saat sampai di depan meja Ciel.

"Hm, kau pulang duluan saja, Frank. Aku masih ada beberapa urusan di sekolah." jawab Ciel setenang mungkin sambil merisleting tasnya.

"Oh begitu, ya sudah, kalau begitu, aku duluan, ya!" ucap Frank riang sambil melambai sebentar lalu melangkah pergi. Ciel hanya balas tersenyum kecil.

"Oh iya, mana dua temanmu yang lain lagi?" tanya Sebastian menyadari kelas Ciel sudah kosong, hanya ada Ciel seorang.

"Oh. Mereka langsung pulang sebab orang tua mereka sudah menjemput duluan. Memangnya ada apa, eh?" tanya Ciel menyelidik sambil melirik Sebastian.

"Aku hanya bertanya, kok. Tak boleh, ya? Atau jangan-jangan…" ujar Sebastian sok misterius dengan senyum iseng kembali terkembang di wajah rupawannya.

"Jangan-jangan apa, ha?" tukas Ciel mulai kesal dengan tingkah laku Death God yang menurutnya amat menjengkelkan ini.

"Jangan-jangan kau cemburu, ya karena aku menanyakan teman-temanmu? Hahaha!~" tawa Sebastian geli yang sukses membuat Ciel memerah seketika antara marah, kesal, malu, dan berbagai macam emosi lainnya.

"AP-APA? S-SIAPA YANG CEMBURU, HA?" tukas Ciel sedikit gelagapan dengan muka yang sudah merah seutuhnya.

"Hahaha! Kau memang manusia yang unik, Ciel!" balas Sebastian sambil tertawa senang.

"Huh, apa katamulah! Tapi ingat! Aku ini masih normal, ya! Walaupun Death God sekalipun mempunyai gender, aku amat yakin kalau kau bukan perempuan!" gerutu Ciel panjang lebar dengan hanya satu tarikan napas. Oke, Ciel. Kau sudah banyak mengomel hari ini.

"Mr. Phantomhive? Apa yang kau lakukan di sini? Apa yang tadi berteriak itu kau?" Sebuah suara bass yang sering Ciel dengar tiba-tiba terdengar di ruangan kelas kosong itu. Rupanya Mr. Abberline sedang berdiri di ambang pintu kelas, menatap Ciel dengan heran.

"H-hah? Teriakan apa, sir? Aku tak mendengar apapun." jawab Ciel senormal mungkin dengan degup jantung lebih cepat. Kaget tentunya, takut kalau ia ketahuan berbohong. Dalam hati, Ciel merutuki kebodohannya karena berbicara dengan suara keras kepada objek invisible macam Sebastian. Ia bisa dikira gila oleh orang lain.

"Begitukah? Tapi aku yakin sekali kalau tadi ada yang sedang marah-marah. Hm, ya sudahlah… Cepat pulang ke rumah, Mr. Phantomhive. Kelas akan dikunci sebentar lagi." ucap Abberline memperingatkan Ciel sebelum dirinya pergi meninggalkan Ciel.

"Iya, sir. Saya baru saja akan pulang, kok." jawab Ciel mencoba tenang sebelum Abberline berlalu.

Bagaimana dengan Sebastian? Ya, ia hanya tertawa geli sedari tadi sebab berhasil mengerjai Ciel. Oh betapa Ciel sabar sekali menghadapi makhluk menyebalkan macam itu.

"Puas kau tertawa-tawa, eh?" cibir Ciel dengan suara pelan sambil melangkah meninggalkan kelas.

"Hahaha!~ Kau memang objek menarik, Ciel! Memang aku tak salah! Hahaha!~" jawab Sebastian santai masih tertawa di atas penderitaan Ciel. Oh, sabar sekali dirimu, Ciel. Mempunyai partner seperti ini.

Ciel hanya mendengus kesal. Lelah beradu mulut dengan Sebastian karena tak akan ada habisnya. Ia pun hanya melanjutkan langkahnya keluar sekolah. Sesuai dengan isi surat yang tadi ia terima, ia mengambil jalan samping sekolah. Dan sesuai dengan surat itu, jalan samping benar-benar kosong. Bukan kosong taka da orang sama sekali, melainkan kosong oleh kawanan Robert―atau sekarang kawanan Larry sebab kepemimpinan geng itu diambil alih olehnya.

Ciel kemudian hanya pulang ke rumahnya seperti biasa. Tak melakukan apapun. Agak jauh di belakang Ciel, sepasang manik abu-abu kehitaman mengawasinya dari sudut jalan yang tersembunyi.

"Kau tidak membunuh mereka, eh? Kau takut atau apa?" tanya Sebastian langsung. Ia memang penasaran dengan tindakan Ciel. Karena selain Robert, tak ada nama yang ia tulis di buku itu.

"Kau mau aku jadi pembunuh, eh?" tanya Ciel balik.

"Terserah saja, aku hanya penasaran dengan caramu 'mengendalikan dunia'. Apa kau sungguh-sungguh mau melakukan itu, eh?" Sebastian membolak-balik lembar alkitab milik Ciel. Sedikit tertarik dengan kalimat-kalimat yang tertera di dalamnya.

"Tentu aku bersungguh-sungguh. Kalau tidak, pasti aku akan langsung membuang buku ini dan menyuruhmu pergi jauh-jauh sebab kau ini memang amat menyebalkan!" balas Ciel ketus sambil merebahkan dirinya di atas kasur single-nya.

"Oh iya, apa kau tahu Ciel? Sepanjang perjalanan pulang, ada orang yang mengikutimu, lho!" ujar Sebastian memancing rasa ingin tahu Ciel.

"Oh. Kalau itu sih, aku juga sudah tahu." jawab Ciel santai masih berbaring malas di kasurnya.

"Kau tahu siapa dia, eh?" tanya Sebastian lagi masih dengan irisnya menekuri buku yang cukup tebal itu.

"Siapapun dia, dialah yang mengirimiku surat tadi siang." jawab Ciel tenang sambil tersenyum menyeringai.

"Hoo begitu? Lalu siapa dia? Aku memang sudah tahu siapa orang itu, tapi jangan harap aku akan memberitahumu, lho!" ujar Sebastian dengan nada sama tenangnya sambil melirik Ciel. Mengira kalau pemuda itu akan menanyainya.

"Siapa juga yang mau menanyaimu? Aku memang belum tahu sepenuhnya orang itu, tapi…" ujar Ciel menggantung sambil menyunggingkan senyum licik.

"…aku sudah mengira siapa orangnya."

To be Continued to The Next Page


Zusatzreglement

Jemand, die Namen in das Buch schriftlichen kann nicht zu seinen Beschaffenheit Unsprung züruck bevor bestimmte zeit erreichbar.

Jemand, der einmal von diesem Buch hypnotisiert, kann seinen Namen umgeschrieben werden und nochmals mit denselben Bedingungen von seinem ersten Fall.

Voll Note Eigentümer muss das Opfer schreiben und er/sie Gesicht vorstellen. Weshalb Leute die denselben Namen haben mit wollt nicht beeinflusst.


Aturan Tambahan I

Seseorang yang namanya tertulis di buku, tidak dapat kembali ke keadaannya semula sebelum mencapai waktu yang telah ditentukan

Seseorang yang pernah dikendalikan sekali, namanya dapat ditulis ulang dan dikendalikan lagi dengan kondisi yang sama saat pertama kali dikendalikan

Pemilik Voll Note harus menulis nama lengkap korban dan membayangkan wajah korban agar orang lain yang memiliki nama yang sama tidak ikut terpengaruh


A/N: Saya akan selipkan beberapa aturan lain yang tak tertulis dalam ff di tiap bagian akhir chapter, ya! Kayak death note gitu, kan? xD *plakk!* Ohiya, BIG THANKS TO KESHA karena telah berbaik hati memperbaiki grammar payah saya dalam Jerman! Viel danke for your help, dear! ^w^

Yang mau lihat Original Characters saya di ff ini, bisa liat di link yang ada di profile page saya!~ Saya gak punya scanner, jadi saya foto saja, dan gambar itu juga karya saya ditengah-tengah jam pelajaran, jadi hasilnya yah….. *desh!* Saya baru gambar Christopher, Robert, sama Lynz. Yang lainnya menyusul, yah! *ditendang*

Thank You for Your Reviews, Dear Readers!

Keikoku Yuki, Meg chan, Keshahaha, Aiko Enma, A-sama, Sebaschiffer yer brotha, chiko-silver lady

.

Meg chan: Nih udah. Maaf ya lama, RL lagi sibuk-sibuknya… RnR lagi?

Aiko Enma: Hoho, tak apa, silakan curcol sepuasnya, saya terima kok! *desh* Saya nggak bisa kok, saya hanya minta bantuan Mbah Google sama Keshacchi. Saya masih belajar ==a Ini udah lanjut, maaf lama banget. Semoga cukup puas, RnR lagi ditunggu!~

A-sama: Wah, baik sekali Anda mau me-revi ketiga chapter sebelumnya!~ Iya, saya memang suka Jerman, makanya itu saya sok-sokan pake bahasanya (padahal ga ngerti sama sekali) Terima kasih banyak telah mengunjungi ff-ff saya, ini udah lanjut, RnR lagi boleh?

Sebaschiffer yer brotha: Kalo gangerti ya gk usah baca == *desh*

.

Kotak Review sangat ditunggu, jadi, REVIEW ONEGAI?

Saya lupa sampaikan, tokoh yang ngikutin Ciel bukan OC lho, ada yang bisa nebak?~