Minna I'm Back on new chapter. Minna tetep masih mau baca fic ini kan? masih mau ngereview kan? masih mau nge-fave kan? mau kan? mau kan? mau kan? Oke! happy reading Minna! maaf ya telat update! entah sudah yang kesekian kalinya Suki mengatakan hal ini... hiks...hikss...hiks...!
Disclaimer : Nakamura Shungiku-sensei (but Ritsu is mine and only mine...! *Takano push me into black hole)
Warning : Sho-ai, GaJe, dll.
I DO NOT OWN SEKAIICHI HATSUKOI! Nakamura sensei made it! And I warned you!
CHAPTER 3
Distruber!
By : Sukikawai-chan
Ritsu menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya dengan keras. Kedua iris matanya menatap sosok jangkung yang berdiri di depan apartemennya. Lebih tepatnya Ritsu menatapnya tajam. Seakan-akan sosok itu adalah musuh terbesarnya.
"Jadi, ada urusan apa di pagi buta seperti ini berdiri di depan pintu apartemenku…Ta-ka-no-san?!" Tanya Ritsu ketus tak mempedulikan sosok yang di depannya adalah atasannya sendiri. Dengan kedua lengan dilipat di depan dada, sosok itu—yang Ritsu panggil Takano-san—balik menatap dirinya dengan datar.
"Aku hanya ingin menjemputmu," ujar Takano dengan tampang innocent-nya.
Ritsu melongo mendengar jawaban Takano, "Hah? Untuk apa?"
"Pergi bekerja, tentu saja."
"Hah!" ingin rasanya Ritsu menelan Takano saat ini juga. Sebenarnya ada apa dengan atasannya itu?! Ini sudah yang kesekian kalinya Takano bersikap seperti ini padanya. Di pagi hari Takano datang menjemputnya untuk pergi bekerja, di siang hari Takano tidak pernah lepas darinya meskipun hanya mengantarkan naskah, lalu di malam hari….Takano memaksanya untuk mengantarkan dirinya pulang. Bahkan laki-laki itu sempat menawarkan dirinya untuk bermalam di apartemen Takano. Argh! Hidup Ritsu benar-benar dibelenggu seperti rantai oleh Takano!
"Sudah kukatakan berulang kali Takano-san, aku bukan seorang anak kecil lagi!" sudah berkali-kali Ritsu berkata seperti itu tapi entah didengar atau tidak oleh Takano.
"Kalau kau bukan anak kecil turuti apa kata atasanmu dan tidak perlu mengeluh seperti itu!"
"Kau yang seharusnya berhenti bersikap seolah-olah kau adalah seorang bodyguard bagiku! Apa pun yang ku lakukan, dimana pun aku berada, dan kapan pun aku melakukannya…kau selalu bersikap mana yang boleh dan tidak boleh untuk kulakukan!" Ritsu berhenti untuk menarik napas. Kedua matanya masih menatap Takano. Sejenak keheningan menyelimuti mereka berdua.
Takano mendesah pelan. Daripada mulutnya yang berperang, lebih baik kini batinnya yang berperang.
Demi Tuhan! Aku begitu mencemaskanmu Ritsu! Tak tahukah kalau aku begitu takut jika terjadi sesuatu padamu di luar dugaanku!? Rasa khawatirku makin besar saja ketika kau dipaksa si brengsek Haitani di stasiun waktu itu! Aku begitu takut akan kehilanganmu…aku begitu takut kau akan menghilang dari hadapanku! Hanya karena kau, Ritsu, aku membiarkan diriku untuk merasa takut!
"Aku beri kau dua pilihan," ujar Takano akhirnya, Ritsu mengangkat alisnya heran. Pilihan?
"Apa?"
"Jika kau tidak ingin aku mengantar-jemput dirimu pergi bekerja, kau tidak akan kuizinkan untuk bekerja. Atau… kalau kau tetap ingin pergi bekerja, aku harus mengantar dan menjemputmu setiap hari. Jadi, mana yang menjadi pilihanmu?"
WHAT THE HELL!
Pilihan bodoh macam apa itu!
Ritsu membuka mulut untuk memprotes. Tapi tertutup kembali saat Takano mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Ritsu. Ciuman singkat dan tidak menuntut. Ciuman yang mengisyaratkan kasih sayang dari dalam lubuk hatinya. Membuat Ritsu mematung seketika.
Dengan santainya dan tanpa merasa dirinya membuat kesalahan, Takano melangkahkan kakinya menuju lift.
"Ayo cepat! aku tidak ingin terlambat masuk kantor gara-gara menunggu jawaban darimu,"
Ctak!
"Takano-san! BAKA!"
Kisa-san, jika Takano-san mengkhawatirkanku, ia tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu kan? Apalagi menganggapku seperti anak kecil! Itu mengganggu!
"Ricchan, sepertinya mood-mu hari ini sedang buruk?"
Ritsu menghela napas pelan, ia mengalihkan pandangannya dari manuscript yang sedang dieditnya ke arah Kisa.
"Seperti itulah Kisa-san. Entah mengapa hari ini aku begitu lelah sekali." Ucap Ritsu asal, ia tahu Kisa adalah pribadi yang bisa membaca pikiran orang lain. Kisa mengerutkan keningnya, tidak percaya begitu saja apa yang Ritsu katakan. Ia menatap kedua mata Ritsu dalam-dalam.
"Sepertinya, kau ada masalah dengan Takano-san?"
Glek! Tepat pada sasaran.
"Ti…tidak! Aku tidak—"
"Jangan menutupinya seperti itu Ricchan. Jika ada yang mengganggu pikiranmu dan ingin menceritakannya, kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik," Sahut Kisa sambil mengedipkn sebeah matanya. Ritsu tertegun, ia akui berada di dekat Kisa berbeda. Ritsu merasa, Jisa seperti kakak laki-laki baginya yang mau mendengarkan setiap keluh kesahnya. Maka tanpa ragu, Ritsu mengagguk lalu tersenyum.
"Arigatou, Kisa-san."
"Onodera,"
Dengan refleks Ritsu menoleh saat Hatori memanggilnya.
"Hai!"
"Tolong antarkan naskah yang telah di-edit ke bagian percetakan." Sahut Hatori sambil memberikan amplop yang berisi naskah yang telah di edit kepada Ritsu. Ritsu mengangguk dan menerima amplop yang diberikan Hatori. Dengan malas, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju lift. Baru saja beberap langkah, ia mendengar Takano berteriak.
"Pastikan kau sudah berada di sini setelah mengantarkan naskah bodoh itu!"
Ritsu mendengus keras, ia tidak mempedulikan teriakan itu dan terus berjalan.
Apa kau gila Takano?! Berkata seperti itu di depan semua orang!
Ting!
Suara nyaring lift yang terbuka membuyarkn lamunan Ritsu. Ia baru tersadar dirinya telah berada di lantai 2. Dilangkahkan kakinya menuju ruang pengeditan yang berada dekat dengan ruang meeting.
"Ah, Onodera-kun!"
Ritsu menoleh ketika namanya dipanggil, ia mendapati Isaka yang baru saja memanggilnya, berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan ke arahnya. Dengan cepat Ritsu membungkuk memberi salam.
"Ohayou Gozaimasu, Isaka-san." Ujar Ritsu sambil tersenyum,
"Sedang apa kau berada di sini?" Tanya Isaka yang sudah berada di dekat Ristu,
"Seperti biasa, menyerahkan naskah yang telah di edit ke bagian percetakan," jawab Ritsu sambil mengedikan bahunya. Sedangkan Isaka hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang sepertinya lelah melaukan pekerjaan seperti itu.
"Ano, Isaka-san aku… Lho!—"
Saat itu juga kedua iris hijau Ritsu beradu pandang dengan sosok itu. Sosok yang tidak pernah ingin ditemui Ritsu lagi. Sosok yang Takano peringatkan jangan pernah mendekatinya. Sosok yang sangat dibenci Takano. Melihat sosok itu yang menyeringai padanya, mulai berjalan ke arahnya dengan kedua lengan dilipat di depan dada, membuat kedua bola mata Ritsu membuat.
"Oh, Onodera-kun? Sudah kuduga kau akan di sini. Kau sedang tidak sibuk kan? Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Sahutnya masih dengan seringai yang sama.
Ritsu menelan ludah dengan susah payah. Bahkan menyebutkan namanya saja membuat bibirnya terasa kelu.
"Ha…Haitani-san?"
Terkutuklah kau Haitani, mengapa kau berada di sini? Kau tahu kan ini adalah wilayah Takano-san? Dan tidak bisakah kau berhenti mengganggu hidupku?
Minna...! bagaimna fic ini? makin Gaje kah? atau makin aneh kah? atau makin boring kah? atau makin...*plak! digampar Takano+Ritsu* Oke! minna makasih yang mau tetap baca dan me-review. Makasih juga yang mau nge-fave. Makin semangat aja kalo ada kalian. maaf ya, hari ini tidak ada balas review dulu, hehehe... tapi kerena review aku semakin semangat melanjutkan fic ini. Oya, Minna aku mau nanya nih, lebih baik apa yang akan tejadi pada Ritsu selanjutnya? apakah Ritsu diculik oleh Haitani(hohohoho), jadi Takano datang dan melawan Haitani (emangnya BBF?)? atau Ritsu lupa ingatan dan dan mengaggap Haitani pacarnya? atau ada yang kecelakaan di antara mereka bertiga? haduuh...apa sih aku teh, nanya yang aneh2...! tapi serius Minna, aku bingung sama konflik yang bagus. hehehehe...stres kali ya akunya? jadi minna tolong kasih sarannya ya. saran kalian adalah hal terpenting bagi fic ini. Please ya minna...! and don't forget to review...! don't be silent reader! see you ini next chapter! ^^
