Ayo Lari Bersamaku! (part 1)

Twoshot fanfic - Remake of "Ayo Lari bersamaku!" Hai Miiko! Vol.13 - Story by Ono Eriko

(dengan pengubahan dan penyesuaian di sana-sini. Warning: pengubahannya banyak banget!)

Enjoy reading!

xxx

Kelas 3-3 siang itu ramai. Guru Kim tengah mencoret-coret papan tulis selagi siswa-siswa mendengungkan antusiasme akibat sebuah kabar.

"Untuk pertandingan tahun ini... siswa-siswa kelas 3 ikut lomba lari berpasangan!"

"Wah, asik nih!"

Dengung di dalam kelas semakin keras saja. Semuanya excited! Festival olahraga sudah semakin dekat!

Tapi Taeyong tidak termasuk ke dalam orang-orang yang excited itu. Olahraga adalah salah satu dari sekian banyak hal yang tak disukainya. Olahraga yang pernah dilakukannya hanyalah bersepeda dan bermain sepatu roda. Sisanya... Yah hanya ia lakukan kalau ada pelajaran olahraga di sekolah saja. Dan Taeyong sangat payah dalam urusan berlari!

"Ya, larinya berpasangan, Taeyongi! Aku mau berpasangan dengan Taeil ah!" Doyoung menyenggol-nyenggol Taeyong dengan bahagia.

Huft, iya Doyoung sih enak. Ia 'kan sudah punya pacar. Itu... si Taeil itu. Mantan ketua OSIS yang juga mantan saingan Doyoung waktu pemilihannya dulu. Setelah beberapa minggu jadian, barulah Doyoung mengaku pada Taeyong. Dan sekarang setelah mengaku, Doyoung jadi sering sekali pamer kemesraannya dengan Taeil. Huh, bikin iri saja!

"Kalau kau berpasangan dengan Taeil, aku berpasangan dengan siapa dong?" keluh Taeyong. Ia memang hanya berharap pada Doyoung kalau urusan-urusan beginian. Setidaknya Doyoung sudah paham bahwa ia sangat payah dalam berlari.

"Ya sama Jaehyun lah!" Jawab Doyoung tanpa mikir. Heh, seenak jidat amat kalau ngomong!

"Jaehyun ya... Tapi-"

"Tapi kau harus cepat, Tae. Sepertinya Jaehyun sudah banyak yang mengincar deh." Doyoung melirikkan mata kelincinya ke arah geng Ten yang sedang sibuk bisik-bisik sambil cekikikan.

"Eh? Tapi masa aku yang ajak sih?" Taeyong gengsi sendiri. Bukan gengsi sih sebenarnya. Lebih ke tak enak. Ia 'kan payah, masa mau dengan pedenya mengajak Jaehyun yang jago.

"Ya ampun. Perlu aku yang ngomong ke Jaehyun nih?" Doyoung gemas juga. Taeyong sudah bertetangga lama dengan Jaehyun masa masih susah juga mau mengajak jadi pasangan.

Taeyong menahan lengan Doyoung yang sudah berdiri mau menghampiri Jaehyun. "E-eh... Jangan-"

"Pasangannya diundi ya!" Guru Kim menyelesaikan pengumumannya yang belum selesai.

"Tuh kan..."

Belum sempat Taeyong melepas lengannya, Doyoung keburu terduduk lemas. Batal deh rencananya untuk berpasangan dengan Taeil.

"Kok diundi sih, ssaem?" Doyoung langsung protes. Diikuti protesan beberapa siswa lainnya. Namun, guru Kim tak peduli. Sudah biasa anak kelas 3-3 protes padanya. Sudah kebal.

Akhirnya undian pasangan tetap dilakukan. Caranya dengan mengambil gulungan kertas yang disediakan guru Kim. Dua orang yang mengambil gulungan kertas dengan nomor yang sama akan menjadi pasangan lomba lari.

"Aagh! Yuta! Kenapa aku harus dengan Yutaaa!!" Doyoung menggerutu sebal. Iyalah, Yuta 'kan musuh abadinya. Bukan musuh dalam artian sesungguhnya. Cuma mereka sering saling mengejek, dan berdebat, dan bertengkar, dan...yah, mereka memang musuh.

Taeyong kasihan pada Doyoung tapi ia lebih kasihan pada dirinya sendiri. Ia berpasangan dengan Johnny! Ngomong-ngomong Johnny ini siapa ya?

Taeyong mengetahui siapa pasangannya saat guru Kim menyebut nomor Taeyong dan seorang lagi yang ternyata Johnny. Mereka berdua maju ke depan untuk mendaftar dan mendapat nomor peserta. Taeyong harus sedikit mendongak untuk melihat wajah pasangannya. Si Johnny itu.

Johnny tinggi sekali. Lebih tinggi dari Jaehyun. Kalau beda tinggi Taeyong dengan Jaehyun berkisar antara 5-10 cm, maka dengan Johnny beda tingginya berkisar antara 15 cm? Atau 20? Entahlah. Taeyong tak tahu pasti.

Dan Taeyong dalam masalah besar karena Johnny adalah satu-satunya orang di kelas yang tak Taeyong kenal, sama sekali.

Johnny anak pindahan dari Amerika, Chicago tepatnya, yang baru masuk sekolah saat kelas 2 semester 2, baru sekelas dengan Taeyong saat kelas 3, dan selama sebulan mereka di kelas 3 ini Taeyong hampir tak pernah berinteraksi dengannya.

Taeyong dalam masalah. Sudah lemah dalam berlari, lemah juga dalam bergaul. Mana wajah Johnny sangat mengintimidasi. Tatapan dan ekspresinya, penuh percaya diri tapi seperti merendahkan. Ya... Khas bule-bule gitu lah.

Duh, aku mau mundur saja dari lomba, batin Taeyong sudah ciut duluan.

"Semoga berhasil, Taeyongi..." Guru Kim memberi semangat, tapi seolah sedang meledeknya. Sepertinya wali kelasnya selama tiga tahun ini sudah paham sekali keresahan Taeyong.

"Hehe... Iya..." Taeyong mencoba tersenyum sambil melihat ke Johnny. Tapi Johnny mukanya datar-datar saja dan bibirnya yang curvy seksi itu terlihat seperti sedang cemberut. Taeyong jadi takut.

"Yang pasangannya sudah terdaftar, ganti seragam kalian ke pakaian olahraga dan berkumpul di lapangan indoor. Peraturan lomba lari berpasangannya akan ssaem jelaskan di sana! Ayo. cepat! Cepat! Kita jangan kalah dari kelas lain!"

Seperti kata guru Kim, cepat-cepat Taeyong menyusul Doyoung ke ruang ganti pakaian. Ia tak mau ke lapangan dengan Johnny. Ia mau mengintil Doyoung saja.

Saking paniknya saat tahu ia berpasangan dengan Johnny, Taeyong sampai melupakan sesuatu. Siapa pasangan Jaehyun, ya?

xxx

"Jaehyun-ah, mohon kerjasamanya! Aku senang sekali berpasangan denganmu, hihi..."

"Eh, iya, mohon kerjasamanya juga."

"Aaah, Jadi Jaehyun berpasangan dengan Ten..." gumam Taeyong sesampainya mereka semua di lapangan indoor.

"Huh, dasar curang!"

"Eh? Siapa yang curang?" Taeyong heran karena tiba-tiba saja Doyoung menggerutu di sebelahnya. Lomba belum dimulai sudah ada yang curang saja?

"Itu... Si Ten!" Doyoung menatap sinis. "Tadi kulihat yang dapat nomor yang sama dengan Jaehyun itu temannya. Tapi dia tukaran nomor sama temannya itu, biar jadi dia yang berpasangan dengan Jaehyun." Doyoung bercerita dengan berapi-api. Pelanggaran dalam bentuk apapun memang selalu membuat Doyoung kesal.

"Ah, masa sih?" Taeyong tak percaya. Sebegitu inginnya Ten berpasangan dengan Jaehyun? Taeyong tahu sih Ten suka Jaehyun, tapi masa sampai begitu?

"Iya, Tae! Tadinya mau kuaduin pada ssaem. Tapi aku tak punya bukti. Tahu gitu tadi aku juga tukaran nomor sama pasangannya Taeil."

Taeyong geleng-geleng kepala. Doyoung yang taat pada aturan saja sampai berpikiran untuk melanggar karena ingin berpasangan dengan Taeil. Rasa cinta memang mengalahkan segalanya.

"Ini 'kan cuma lomba lari, Doyoungi. Taeil tetap pacarmu kok walaupun tak jadi pasangan lomba larimu." Taeyong berusaha menenangkan.

"Iya sih. Tapi kau tidak tahu 'kan aturan lomba larinya seperti apa! Kau 'kan tak pernah masuk saat acara festival olahraga. Setiap tahun aturannya sama."

Ah, benar juga kata Doyoung. Ia sama sekali tak tahu soal aturan lomba lari berpasangan yang biasanya diikuti anak kelas 3. Selain karena ssaem belum menjelaskan, ia juga tak pernah hadir di acara festival olahraga sekolah. Dua tahun yang lalu, ia izin di hari festival karena mau menjenguk neneknya yang sedang sakit. Dan setahun yang lalu malah ia yang sakit sampai terpaksa izin tak masuk sekolah.

Jadi, Taeyong benar-benar clueless soal aturan lomba lari berpasangan. Sepertinya Johnny juga begitu.

"Sudah berdiri dengan pasangan kalian masing-masing? Nah, sekarang akan ssaem sampaikan aturannya. Kalian mungkin sudah tahu semuanya ya, lomba lari berpasangan ini yang menjadi favorit di acara festival olahraga."

Siswa-siswa kelas 3-3 menyorak antusias. Taeyong tak ikutan. Karena ia tak tahu apa yang harus disoraki. Johnny di sebelahnya juga diam saja.

"Waktu dari start di point pertama, kalian lari dua orang tiga kaki!"

Maksudnya lari berdua bersebelahan dengan salah satu kaki diikat bersama.

Oke, Taeyong masih bisa membayangkan.

"Lalu di point ke 2... Satu orang berlari dengan menggendong pasangannya! Cara menggendongnya bebas. Boleh pakai cara apa saja."

"EEEH?!"

Yang ini Taeyong tak bisa membayangkan. Bagaimana caranya ia berlari sambil menggendong Johnny yang segede gaban itu?

"Aku yang menggendongmu."

"Eh?" Taeyong hampir tak mempercayai telinganya. Barusan Johnny yang ngomong? Dia bilang apa?

"Aku yang digendong?" tanya Taeyong memastikan yang dikatakan Johnny barusan itu maksudnya begitu. Tapi Johnny tak menjawab. Huft, dikacangin deh.

"Di point ke tiga lari sambil bergandengan tangan sampai garis finish. Ssaem harap kelas kita akan menang di putaran final. Silakan kalian mulai berlatih. Dengan pasangan lari masing-masing yaaa..."

Taeyong mendesah. Belum lari sudah lelah mikirin larinya akan bagaimana. Kalau mengikuti kata otaknya sih, ia mending mundur saja dari lomba. Sudah dua tahun juga ia tak ikutan lomba di festival olahraga. Tak ikut di tahun ketiga juga tak akan ada yang mempermasalahkan.

Eh, tapi kalau Taeyong mundur berarti ia menutup kesempatan Johnny untuk ikut lomba juga dong? Ini 'kan lomba berpasangan. Masa Taeyong tega membiarkan Johnny didiskualifikasi sih? Pengalaman terakhir di tahun terakhirnya sekolah loh ini.

"Haaah..." Hati nurani Taeyong berkata ia harus tetap ikut. Demi Johnny!

Dengan hati dikhlas-ikhlaskan Taeyong mendekati Johnny dan mulai mengikat kaki mereka bersama. Kaki kanan Taeyong dengan kaki kiri Johnny. Mereka bersiap untuk mulai latihan lari berpasangan di point pertama.

Taeyong tak sadar kalau gerak-geriknya selalu diawasi oleh seseorang. Seseorang yang cemburu lebih tepatnya.

"Ayo Jaehyun, kita coba!"

Jaehyun mengalihkan pandangan dari objek sebelumnya ke pasangan larinya, Ten.

Ten sudah merangkul pinggang Jaehyun dan Jaehyun pun melakukan hal yang sama. Dengan aba-aba dari Jaehyun, mereka mulai lari 2 orang 3 kaki dengan lancar.

"Mereka berdua kompak, ya!"

"Iya, larinya seirama!"

Komentar teman-teman Ten yang memang sangat mendukung Jaeten.

Taeyong mendengarnya. Iyalah, mereka berkomentarnya memang sengaja keras-keras sih biar didengar orang-orang.

Tinggi badan Jaehyun dan Ten memang beda lumayan sih, soalnya Ten sedikit lebih kecil dari Taeyong. Tapi Ten sangat gesit dan mampu mengimbangi Jaehyun. Ia pernah satu klub basket dengan Jaehyun di kelas 1 dan sekarang jadi ketua klub dance. Kemampuan fisiknya lumayan hebat. Jadi, perbedaan tinggi badan bukan masalah bagi mereka.

"Ayo Johnny, kita juga bisa! Semangat!"

Johnny menggangguk dan ialah yang memberi aba-aba untuk mereka mulai berlari 2 orang 3 kaki. "Siap... Mulai!"

"SROOOOT"

Baru langkah pertama diambil. Taeyong sudah terseret dan jatuh. Salahkan kaki panjang dan langkah lebar Johnny.

"Langkahmu kepanjangan Johnny! Aku tak bisa menyusul!" Taeyong misuh-misuh sendiri. Malu-maluin saja, baru juga mulai sudah jatuh. Mana jatuhnya tak enak lagi. Huhu, pantat Taeyong sakit.

"Maaf, deh."

Tanpa Taeyong sangka, Johnny mengulurkan tangannya untuk membantu Taeyong berdiri. Perlakuan Johnny itu tentunya tak lepas dari pengawasan orang yang mengawasi Taeyong sejak tadi.

"Jaehyun-ah, ayo kita coba lari di point kedua."

Lagi-lagi Ten mengalihkan Jaehyun dari objek pandangan sebelumnya. Harusnya Jaehyun fokus pada pasangannya. Bukannya malah memperhatikan pasangan lain. Ehm. Pasangan siapa tuh?

"Kau mau digendong bagaimana? Kugemblok di punggung atau kugendong bridal style?" tawar Jaehyun pada Ten.

Ten kelewat senang mendengar pertanyaan itu. Ia inginnya menjawab opsi kedua, tapi sepertinya yang pertama lebih baik deh. Ia tak pede dengan berat badannya. Ia tak mau Jaehyun merasa keberatan.

"Di punggung saja. Maaf ya kalau aku berat." Ten menemplok di punggung Jaehyun yang berjongkok dan Jaehyun mulai berdiri setelah ia rasa Ten sudah aman dalam gemblokkannya.

"Tidak berat kok. Kurasa aku bisa berlari dengan kecepatan penuh kalau bebannya hanya segini." kata Jaehyun sok keren. Ten tersipu. Jaehyun ini bisa saja deh bikin orang senang.

Ten bertekad untuk menjadi lebih ringan lagi demi Jaehyun.

"Misiiii!!"

"WUUSSH..."

"Yaaa!! Jangan cepat-cepaaaaat!!"

Satu pasangan melesat melewati pasangan Jaehyun dan Ten. Itu Johnny dan Taeyong, dengan Taeyong yang digendong ala bridal oleh Johnny.

Dalam sekejap mereka telah sampai di ujung lapangan. Johnny menurunkan Taeyong setelah sampai. Bukan Taeyong yang lari tapi ia yang ngos-ngosan.

Tadi Johnny tahu-tahu saja menggendongnya ala bridal tanpa bertanya. Dan belum sempat Taeyong protes, Johnny sudah membawanya berlari dengan full speed. Taeyong bisa jantungan kalau begini.

"Kemenangan ada di tangan kita." Johnny terdengar bangga pada dirinya sendiri. Taeyong melotot padanya. Ia tak terima dengan perlakuan Johnny barusan.

"Ya! Aku sama sekali tak berambisi untuk menang, eoh! Perlakukan saja aku dengan hati-hati! Kalau aku jatuh lagi bagaimana?!" Taeyong berani juga protes begitu ke Johnny. Katanya tadi takut?

"Maaf deh." Lagi-lagi cuma itu yang Johnny katakan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menggandeng tangan Taeyong untuk memulai lari di point ke tiga.

"Kali ini aku akan mengimbangimu. Larilah sesuai kemampuanmu."

Johnny ternyata cukup pengertian. Taeyong sampai tersentuh. Dengan semakin menggenggam erat tangan Johnny, Taeyong mulai berlari setelah mendengar aba-aba "mulai" dari Johnny.

Adegan singkat itu rupanya mampu membuat seseorang kepanasan dan membuat tekadnya untuk menang semakin besar.

"Ten, pokoknya kita harus menang!"

"Eh? I-iya..."

xxx

Setelah latihan lari berpasangan yang sangat melelahkan bagi Taeyong. Waktu makan siang tiba. Taeyong tak membawa bekal seperti biasa, jadi ia bergabung dengan siswa-siswa lain di kantin. Doyoung makan dengan Taeil berduaan saja di pojok dan Jaehyun tak tahu ke mana, jadinya Taeyong sendirian deh.

Saat sedang asik mengunyah roti jatahnya seseorang mendekati mejanya. Itu Ten!

"Hai, Taeyong, kau mau roti dan pudingku?" tawar Ten.

Taeyong terkejut, Ten tak pernah menawarkan apapun padanya sebelumnya. Tapi Taeyong tidak curiga. Karena sebenarnya ia ingin menerima tawaran itu. Roti kismis hari ini sangat enak dan puding kantin selalu menjadi kesukaan Taeyong. Ingat kalau yang manis-manis itu kesukaan Taeyong?

"Terima kasih, Ten. Tapi... Kau benar tak mau nih? Enak loh!" Taeyong memastikan sekali lagi. Meskipun ingin, ia tetap tak enak lah memakan jatah orang lain.

"Tidak. Aku sedang diet."

"Eh? Tapi Ten tidak gendut kok." Sangat kurus malah. Gumam Taeyong pelan, takut menyinggung. Lagian ia sama kurusnya. Masa kurus bilang kurus.

Kata Taeyong ada benarnya, tapi Ten keukeuh. Mulai hari ini Ten mendeklarasikan dirinya sedang diet sampai festival olahraga selesai. Semuanya demi Jaehyun yang akan menggendongnya nanti. Semakin ringan ia, semakin mudah Jaehyun menggendongnya dan semakin besar kesempatan mereka untuk menang.

Lagipula mencekoki Taeyong makanan manis, bisa jadi strategi yang bagus juga. Kalau Taeyong jadi makin berat 'kan...

"Ten, lagi apa di sini?" tanya salah satu teman Ten yang lewat.

Ten agak kaget juga kepergok lagi ngomong sama Taeyong, untung itu temannya. Ia pun menjelaskan ia sedang memberi jatah makanannya pada Taeyong dan menceritakan alasannya karena ia sedang diet demi Jaehyun.

"Pffft... haha... Kasihan dong Johnny. Harus menggendong orang yang makannya banyak."

Taeyong dengar itu. Mereka sedang menyindirnya. Tapi Ten buru-buru menyuruh temannya diam. Bisa kebongkar dong rencananya kalau temannya bocor di situ. Cepat-cepat ia mengajak temannya pergi dari meja Taeyong.

"Memang kalau makannya banyak kenapa? Aku juga cuma makan roti dan puding..." Taeyong manyun.

"Sudah jangan didengarkan." Seseorang meletakkan nampan makanannya di hadapan Taeyong. Johnny baru saja bergabung ke mejanya!

"Ah, Johnny... Baru mau makan?" tanya Taeyong ramah.

"Menurutmu?"

Johnny mungkin terdengar ketus, tapi Taeyong maklum. Mungkin dia lelah habis menggendong Taeyong selama latihan lari tadi.

"Kau mau puding tambahan?" Taeyong menyodorkan puding yang masih tertutup rapat. Puding dari Ten. Ia tiba-tiba jadi tak berselera makan gara-gara kata-kata teman Ten tadi.

Johnny menyodorkan balik pudingnya. "Kau saja yang makan. Krempeng begitu mau kasih makan ke orang."

"Yaaa... Aku tidak krempeng!"

"Iya, kau krempeng. Kau ini laki-laki tapi tak ada berat-beratnya. Ototmu itu ke mana, hah? Aku yang menggendongmu tadi sampai tak merasakan apa-apa."

Ah, Taeyong paham. Johnny ingin membuatnya merasa lebih baik. Cuma kata-katanya saja yang agak kasar sampai terkesan mengejek. Tapi sebenarnya niatnya baik. Taeyong tak bisa menahan senyumnya menyadari itu.

"Terima kasih..." Taeyong tersenyum tulus. Sebenarnya ia bersyukur Johnny berkata begitu. Itu artinya Johnny peduli pada perasaannya.

"Ya! Jangan tersenyum begitu! Seperti orang bodoh saja!"

Kau yang bodoh, Johnny. Bilang saja kalau senang lihat senyum manis Taeyong!

xxx

"Awas saja kalian berdua..."

TBC

Cerita baru lagi... mulai banyak pengganggunya Jaeyong nih. Gapapa ya biar makin greget.

Ten gajahat kok, cuma ambisi pengen sama Jaehyun wkwk. Maafkan aku fansnya Ten.

Ini sebenernya gamau dibagi 2 part. Tapi karena setelah diketik jadi kepanjangan, kayaknya mending dibagi 2 deh. Yg udah tau cerita aslinya jgn spoiler ya...

Makasih untuk si Kepompong, reader pertama cerita ini yg juga dibuat penasaran sama kelanjutan ceritanya wahaha. Karena dia minta dibuat lagi cerita miiko versi jaeyong kujadi semangat membuatnya. Juga semua reader yg ingin kumpulan cerita ini berlanjut, manhi manhi saranghaeyo~

Nantikan part 2 nya!