Hallo guys..
Di sini ada sedikit perubahan untuk cast Tecyeon. Untuk chap ini dan seterusnya, saya akan menggantinya dengan cast Donghae... dikarenakan fanfic ini sedikit berhubungan dengan fanfic yang lain. Jadi, maaf atas kesalahan ini ^^
Dan, untuk fanfic 'Green Daylight' memang dihapus karena sudah ada yang ngeremake, jadi mungkin saya hanya akan mempublish sequelnya saja ^^ yang ingin membaca fanfic itu, silahkan ketik di mesin pencari 'Pembunuh Cahaya' maka kalian akan menemukannya...
::
::
"Mimpi adalah manifestasi dari kenangan yang terlupakan di masa lalu."
-Grey Morning-
Tidurnya begitu lelap. Siwon menggumam dalam hati. Duduk di tepi ranjang dan mengamati Kibum. Dan dia nampak begitu polos, seperti anak kecil. Lelaki itu lalu mengangkat alisnya dan mengalihkan pandangannya ke bagian bawah
tubuhnya dengan kesal.
Kalau memang baginya Kibum seperti anak kecil, kenapa
dia bisa terangsang seperti ini?
Siwon menatap Kibum lagi dan menggeram kesal. Kesal pada dirinya sendiri. Terlalu berbahaya berada di sini. Dia takut lupa diri dan menyerang Kibum dalam tidurnya. Lalu menyesalinya. Dengan hati-hati, dilepaskannya pegangan jemari Kibum di jemarinya, dan berdiri dari ranjang. Dia lalu membungkuk untuk menyelimuti Kibum.
Wajah Kibum begitu dekat dengannya, napasnya berembus ringan dan teratur. Dan
Siwon tidak dapat menahan diri. Dikecupnya bibir Kibum lembut. Sebelum kemudian melangkah pergi, meninggalkan kamar itu, meninggalkan Kibum yang masih tertidur pulas.
^^ Grey Morning ^^
Pagi harinya Kibum terbangun dengan kepala pening. Hujan sudah reda, tetapi masih menyisakan rintikannya yangmembuat pagi hari ini gelap dan berkabut.
Setidaknya sudah tidak ada guntur...
Kibum terduduk dan menyadari selimutnya melorot kepinggang. Dia meraih selimut itu dan menaikkannya lagi kedadanya karena hawa dingin langsung menyengatnya.
Selimutitu tadinya terpasang rapi di tubuhnya. Siapa yang telah menyelimutinya ketika tidur. Ingatan Kibum berputar, dan kemudian pipinya langsung terasa panas ketika mengingat kejadian kemarin malam, ketika dia menghambur ke dalam pelukan Siwon tanpa malu.
Oh ya ampun! Dengan begitu saja dia memeluk Choi Siwon yang sangat angkuh dan terkenal galak itu – meski sekarang Siwon tidak pernah bersikap buruk padanya, tetap saja image itu melekat pada pembawaannya - Dan anehnya, Siwon tidak menolaknya.
Dia sangat ingat bahwa Siwon membalas pelukannya, menenangkannya, membawanya kembali ke ranjang dengan lembut dan menemaninya sampai dia tertidur…
Kenapa Siwon begitu baik kepadanya?
^^ Grey Morning ^^
"Kau takut dengan petir?" Hyeji menatap Kibum sambil tersenyum geli, dia lalu menyesap cangkir cokelatnya berusaha menyembunyikan tawanya, "Kibum, hanya anak kecil yang takut dengan petir."
"Yah, aku sebenarnya malu dengan ketakutan tidak wajarku itu." Kibum tersenyum sambil menatap perempuan cantik di depannya. Oh astaga, Hyeji memang benar-benar
cantik. Kulitnya memang agak pucat, tetapi Hyeji pernah cerita bahwa dia menderita sakit yang lama sehingga harus terus di dalam rumah.
"Sepertinya aku punya trauma masa lalu di waktu kecil."
"Trauma apa?" Hyeji menyipitkan matanya dan meletakkan cangkirnya di meja. Mereka berdua sedang duduk di Garden Cafe pagi itu, kebetulan dosen memundurkan waktu
kuliah agak siang karena ada acara wisuda, jadi sambil menunggu jam kuliah, Kibum mengajak Hyeji ke Garden Cafe yang biasa dia kunjungi setiap pagi… Hyeji ternyata penggemar kopi, katanya kopi bisa membuatnya lebih segar menghadapi hari.
"Entahlah…" Kibum berusaha mengingat-ingat, "Aku dulu sering bermimpi. Hujan badai, petir, dan teriakan-teriakan keras… Aku bersembunyi di lemari ketakutan…" Kibum menarik napas karena usahanya mengingat itu membuat kepalanya sakit,
"Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan. yang pasti aku selalu mengasosiasikan hujan petir dengan rasa takut yang amat sangat."
"Mungkin kau harus mencoba hipnotis untuk mengembalikan ingatanmu."
"Apa?"
Hyeji terkekeh, "Aku pernah melihatnya di film, ada seseorang yang begitu takut akan darah, dia lupa kenapa, sesuatu terjadi di masa kecilnya tetapi dia tidak bisa mengingatnya, seolah-olah otaknya membentengi ingatan itu dan hanya menyisakan trauma. Dia datang ke ahli hipnotis dan alam bawah sadarnya dibimbing untuk mengingat semuanya. dan hasilnya mengejutkan." Hyeji tersenyum misterius, "Mungkin kau harus mencobanya."
"Mencoba menonton film itu? Atau mencoba datang keahli hipnotis?"
Hyeji tertawa lagi, "Dasar. Tentu saja ke ahli hipnotis, siapa tahu kau seperti tokoh di film itu, otakmu memblok ingatanmu, dan kau punya hal mengejutkan yang kau lupakan."
"Oh ya, mungkin aku harus mencobanya. Setidaknya aku tidak harus menahan malu lagi kalau bertemu dengan Siwon nanti." tatapan Kibum menerawang dan pipinya memanas lagi mengingat kejadian semalam.
"Kenapa harus menahan malu kepada Siwon?"
"Karena semalam aku melemparkan diri ke dalam pelukannya karena ketakutan." Kibum mengusap pipinya, berusaha menghilangkan rasa panas di sana.
"Tetapi setidaknya Siwon berlaku baik padaku, dia menenangkanku dan menjagaku sampai aku tertidur. Mungkin itu ya rasanya memiliki seorang kakak lelaki."
Ekspresi wajah Hyeji tak terbaca. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut."Iya Kibum, beruntung sekali dirimu."
Pipi Kibum memerah, dia berusaha memusatkan pandangannya kepada oreo milkshake yang sangat menggiurkan di depannya, mencoba menghilangkan bayangkan bahwa dia
memeluk Siwon erat-erat.
"Aku memang sangat beruntung, karena keluarga Jonathan mau menanggungku dan memperlakukanku dengan baik." Kibum menghela napas, "Karena itu aku akan berusaha sebaik-baiknya supaya tidak mengecewakan mereka."
^^ Grey Daylight ^^
Kibum berjalan sendirian di trotoar, tadi Hyeji sudah dijemput supir pribadinya dan mengajak Kibum ikut dengan mobilnya, tetapi Kibum menolak karena sebelum pulang dia ingin mengunjungi toko buku tua di sudut kota.
Sekarang setelah berhasil membawa beberapa buku hasil buruannya, dia ingin segera pulang karena tanpa disadarinya, waktu sudah beranjak sore. Eomma Siwon, Nyonya Choi menyediakan supir danmobil untuk mengantar jemput Kibum, tetapi Kibum menolakfasilitas itu dengan halus, selama ini Kibum selalu menggunakanbus untuk pulang dan dilanjutkan dengan jalan kaki.
Kibum inginsegera sampai ke halte bus, dia tidak ingin ketinggalan bus,karena kalau sampai terlambat, dia harus menunggu busberikutnya dua jam lagi. Itu berarti dia harus menunggu di haltesendirian sampai malam.
Tiba-tiba sebuah mobil berjalan lambat di sampingnya, semula Kibum tidak memperhatikan, tetapi ketika mobil itu semakin mengikutinya, Kibum menoleh dan menatap waspada.
Mobil itu berwarna hitam legam, jenis mobil sport yang cukup bagus, dengan kacanya yang gelap.
Apakah ini penculikan? Mobil itu mirip mobil mafia-mafia di film. Kadang Kibum kesal dengan imaginasinya sendiri yang membuatnya ketakutan. Lalu kaca mobil itu terbuka sebelum Kibum sempat panik lebih jauh. Yang ada di balik kemudi adalah Donghae.
Lelaki yang memainkan biola waktu itu. Kibum tak akan pernah lupa wajahnya. Langkahnya langsung terhenti. Donghae ikut mematikan mobilnya dan tersenyum lembut,
"Aku pikir aku tadi salah orang, ternyata kau benar-benar Kibum. Kenapa kau berjalan sendirian di sini?"
"Aku… Eh… Aku sedang menuju halte bus."
"Menuju halte bus? Memangnya tidak ada mobil dan supir yang menjemputmu?"
Donghae mengerutkan kening, tampak tidak suka dengan ide Kibum berjalan sendirian dan pulang dengannaik bus.
Kibum tersenyum, "Bukan Donghae, bukannya tidak ada, Nyonya Choi menyediakannya untukku, tetapi aku menolaknya… Kupikir terlalu berlebihan kalau harus diantar
jemput setiap hari."
Donghae mengangkat alisnya, "Tidak terlalu berlebihan, apalagi untuk seseorang yang sudah menjadi bagian dari keluarga Choi. Sangat berbahaya berjalan sendirian, karena banyak orang dengan pikiran negatif yang bisa saja memutuskan menculikmu demi uang."
Kata-kata Donghae membuat Kibum takut, dia menatap sekelilingnya dengan waspada, "Tetapi aku bukan bagian dari keluarga Choi…" gumamnya pelan, "Mereka tidak akan
tertarik menculikku."
Donghae mengangkat bahunya, "Yah, siapa tahu. Banyak orang putus asa dan nekad di dunia ini." lelaki itu membuka pintu mobilnya, "Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
Sejenak Kibum berdiri ragu. Dia teringat akan kata-kata Siwon kemarin kepadanya, kalau dia harus berhati-hati dan jangan terlalu dekat kepada Donghae, karena Donghae adalah penghancur hati perempuan dan membenci perempuan.
Tetapi dilihat dari manapun, dia pasti bukanlah tipe yang diincar oleh lelaki sekelas Donghae, jadi tidak mungkin dia dijadikan target oleh lelaki itu. Lagipula Donghae tampak baik dan tulus kepadanya, tidak apa-apa mungkin kalau dia ikut lelaki itu.
Setelah menghela nafas ragu untuk terakhir kalinya. Kibum melangkah masuk ke mobil Donghae.
^^ Grey Daylight ^^
"Kau duduk dengan begitu tegang. Tenanglah Kibum, aku tidak akan memakanmu."
Donghae akhirnya bergumam dengan geli setelah beberapa lama mereka berdua dalam keheningan. Kibum merasa begitu malu, apakah ketegangannya sangat terbaca? Dia dipenuhi kekhawatiran akibat peringatan Siwon kemarin, padahal Donghae sepertinya benar-benar berniat baik kepadanya.
"Maafkan aku," gumam Kibum pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar. Langit malam sudah makin menggelap, dan kemacetan di jalan raya membuatnya semakin terlambat pulang. Ponselnya mati karena kehabisan baterai dan dia tidak bisa menghubungi mansion. Tetapi sepertinya mansion juga tidak akan menunggunya pulang.
Nyonya Choi sedang berada di luar negeri dan Kibum yakin Siwon sedang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak memikirkan kepulangan Kibum.
"Aku mengerti. Suasana memang terasa canggung karena kita belum begitu kenal," Donghae terkekeh, "Dan mungkin kau mendengar tentang reputasi jelekku. Reputasiku memang jelek kepada beberapa perempuan, tetapi sepertinya berlebihan kalau aku dikatakan suka membuat patah hati perempuan. Aku menjalin hubungan dengan beberapa perempuan dan tidak berhasil. Itu saja."
Perkataan Donghae itu seolah menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Kibum, meskipun Kibum bertanyatanya dalam hatinya, Donghae sahabat Siwon bukan? Kalau begitu kenapa Siwon memperingatkannya tentang Donghae? Bukankah para sahabat biasanya saling mendukung?
"Aku tidak mempertanyakan reputasimu." Kibum bergumam pelan, "Aku juga tidak takut kepadamu. Aku hanya cemas karena pulang terlambat."
"Pulang terlambat bersamaku." Donghae tertawa geli, "Mari kita lihat bagaimana reaksi Siwon."
Siwon tidak akan peduli, gumam Kibum dalam hati. Lagipula kenapa Siwon harus peduli?
^^ Grey Daylight ^^
Sepertinya Siwon memang peduli. Itu yang ada di benak Kibum ketika melangkah turun dari mobil Donghae dan menemukan Siwon bersandar di pilar teras mansion itu. Gaya tubuhnya tampak santai, tetapi tidak bisa menipu. Tatapannya terasa membakar.
Lelaki itu marah. Batin Kibum dalam hati. "Darimana saja kau Kibum?" suara Siwon berdesis lirih.
"Dan kenapa ponselmu mati?" Kibum menatap Siwon penuh rasa bersalah, lelaki itu memperlakukannya seperti ayah memarahi anaknya yang masih kecil. Kibum bukan anak kecil lagi bukan? Seharusnya Siwon tidak memperlakukannya seperti itu.
"Aku… Tadi pulang kuliah aku bersama Hyeji, lalu aku mampir ke toko buku di sudut kota sampai lupa waktu… Aku… Aku terlambat pulang jadi…"
"Dan bagaimana kau bisa pulang bersama Donghae?" Siwon mengangkat alisnya mengamati Donghae yang menyusul dengan tanpa rasa bersalah di belakang Kibum.
"Eh… Aku bertemu Donghae di…"
"Sudahlah Siwon. Kibum tidak harus diintimidasi seperti itu. Tadi aku kebetulan berpapasan di jalan dengannya, jadi aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena hari sudah malam. Itu saja."
Tatapan Siwon tampak tajam kepada Donghae, "Di antara sejuta kesempatan setiap detiknya, dan kau kebetulan bertemu Kibum?"
Donghae mengangkat bahunya, "Mau bagaimana lagi? memang begitu kejadiannya. Benarkan Kibum?"
Kibum menatap Siwon dan Donghae berganti-ganti dengan gugup, lalu menganggukkan kepalanya. "Ya… Memang begitu kejadiannya."
Siwon menghela napas kesal, "Lain kali kalau kau pulang terlambat, telepon aku. Mengerti?" Kibum sebenarnya ingin membantah.
Siwon tampak begitu arogan dan memaksakan kehendaknya, dan Kibum tidak suka diperlakukan seperti itu. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Lelaki di depannya ini tampak begitu marah, entah kenapa. Seakan-akan sudah siap meledak kalau dipancing. Kibum pikir lebih baik dia diam dan membiarkan Siwon mereda dengan sendirinya.
"Mengerti, Kibum?"
"Aku Mengerti." jawab Kibum datar kemudian setengah terpaksa. Siwon tentu saja mengetahui nada terpaksa itu, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu melemparkan tatapan memperingatkan kepada Donghae yang hanya tersenyum datar dan melangkah pergi keruangan santai tempat biasanya dia duduk kalau sedang datang ke rumah ini.
Setelah Donghae menghilang, Siwon menatap Kibum memperingatkan."Bukankah aku sudah memperingatkanmu supaya menjauhi Donghae?"
"Aku tidak pernah berusaha mendekati Donghae, kami bertemu dan dia mengantarku pulang. Kenapa kau membesar besarkan masalah ini Siwon?" gumam Kibum agak keras, lalu menatap Siwon marah,
"Ah. Sudahlah." Kibum membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Siwon yang tercenung sambil menatap punggung Kibum.
Siwon sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan Kibum. Kenapa melihat Donghae mengantarkan Kibum pulang terasa sangat mengganggunya?
Sambil menghela napas panjang, dia melangkah ke ruangan santai menyusul Donghae.
^^ Grey Daylight ^^
"Jangan dia Donghae." Siwon membanting tubuhnya di sofa dan menyesap minuman di gelas kristal bening yang dipegangnya, dia tampak begitu frustrasi.
Donghae yang sedari tadi duduk sambil membaca buku disofa seberangnya mengangkat kepalanya. "Apa?"
"Jangan. Jangan Kibum."
Donghae terkekeh dan meletakkan buku di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku sedang mengincarnya?"
"Tatapanmu. Kau tidak melepaskannya dari pandanganmu."
Donghae mengusap rambutnya pelan dan menatap Siwon penuh spekulasi, "Lalu kenapa kau melarangku?"
"Karena," Siwon menghela nafasnya frustrasi. "Karena aku sudah berjanji akan menjaganya. Dia adalah satu-satunya gadis yang tak akan kubiarkan untuk kau hancurkan."
"Kalau aku tidak mempedulikan peringatanmu?" nada suara Donghae tampak tenang dan tidak terpengaruh oleh tatapan Siwon yang menajam, seolah ingin membunuhnya.
"Maka kau akan berhadapan denganku."
Donghae tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kau ini Siwon, sebelumnya kau tidak peduli dengan sepak terjangku dengan siapapun. Dan tentang Kibum, dulu kau membencinya dan ingin mengusirnya. Lalu tiba-tiba saja kau membawanya kembali ke rumah ini dan bertingkah seperti malaikat penjaganya."
"Sebenarnya itu bukan urusanmu."
"Ah ya." Donghae tersenyum santai, "Itu memang bukan urusanku… Tetapi setidaknya bisa menjadi pertimbanganku untuk tidak mengincar Kibum."
"Dia bukan tipemu."
"Aku tidak punya tipe khusus. Kau sudah berteman denganku sejak lama, kau pasti tahu kalau aku tidak pilih-pilih."
Siwon mengacak rambutnya kesal, "Kau sahabatku. Dan aku tidak suka harus bertentangan denganmu. Tetapi Kibum adalah pengecualian. Kau tidak boleh mengganggunya, kau dengar itu? Dan kalau kau bertanya-tanya kenapa, itu adalah karena aku punya hutang yang sangat besar kepadanya."
"Hutang?" Donghae mengerutkan keningnya, ekspresinya tidak lagi bercanda. "Bagaimana mungkin seorang Choi Siwon mempunya hutang kepada gadis biasa seperti Kibum?"
"Bukan hutang uang. Aku berhutang nyawa kepada Kibum, ah bukan… Kepada ayah Kibum."
"Apa maksudmu?"
"Kau seorang pemain biola profesional, mungkin kau pernah mendengar namanya, Tan Hankyung? Itu nama panggungnya dulu kalau tidak salah." Donghae mengetuk-ngetukkan jemarinya, tampak berfikir.
"Ah, ya… Aku ingat… Hankyung adalah pemain biola yang sangat hebat dulu. Guru-guru musik kami menyebutnya jenius. Terakhir dia menerima tawaran yang sangat menarik di Austria. Tetapi entah kenapa ternyata dia batal mengambil tawaran itu lalu menghilang begitu saja. Sejak itu dia tak pernah muncul seolah-olah ditelan bumi." Donghae terkekeh, "Guru biolaku adalah salah satu penggemarnya, dia selalu mengulang-ngulang kisah tentang Hankyung yang jenius dan betapa sayangnya karena dia menghilang. Sebuah kehilangan besar di dunia musik klasik, katanya."
"Dia menghilang karena dia tidak bisa bermain biola lagi."
"Apa? Kenapa kabar itu tidak pernah terdengar?" Donghae menatap Siwon tajam, "Dan darimana kau tahu?"
"Karena aku yang menyebabkan dia tidak bisa bermain biola lagi. Lelaki itu menyelamatkanku dari penculikan waktu aku masih kecil, dan melukai tangannya. Luka itu mengenai saraf pentingnya dan dia tidak bisa bermain biola lagi." Siwon mengatupkan kedua jemarinya di bawah dagu, "Dan dia mempunyai seorang puteri."
Donghae mengamati ekspresi Siwon lalu wajahnya memucat ketika menemukan kebenaran di depannya.
"Kibum…? Apakah maksudmu, putri dari Hankyung adalah Kibum?"
"Ya." Siwon mendesah, "Orangtuaku berusaha mencaricari tuan hankyung, dan mereka menemukannya memiliki seorang putri, hidup dalam kemiskinan. Putri dari hankyung adalah Kibum." Siwon menatap Donghae letih, "Sekarang kau tahu kenapa aku harus menjaga Kibum."
Donghae menatap Siwon dalam-dalam, "Dan apakah Kibum tahu kisah ini?"
"Tidak." Siwon mengangkat bahu. "Aku tidak ingin diatahu. Eomma sudah ingin memberitahu Kibum, tetapi aku melarangnya."
"Kenapa?"
'Karena dia pasti akan langsung membenciku.' Itulah yang dipikirkan Siwon pertama kali. Tetapi dia menatap Donghae dengan pandangan tanpa ekspresi.
"Karena aku ingin menjaga supaya hubungan kami tetap seperti ini. Aku akan menjaganya dengan sepantasnya. Kau tahu, bisa saja begitu Kibum mengetahui bahwa kami mempunyai hutang budi kepadanya. Dia akan meminta lebih dan memanfaatkan kekayaan kami. Yah, aku tidak menuduh Kibum. Tetapi hati orang siapa yang tahu?"
Siwon merasa mulutnya pahit mengucapkan kebohongan dan penghinaan kepada Kibum. Tetapi di tahannya perasaannya. Donghae tidak boleh tahu kalau Siwon sangat takut dibenci oleh Kibum. Donghae menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Well, tidak kupungkiri, kisahmu ini sangat mengejutkan." dia memasang ekspresi kosongnya yang biasa. "Jangan khawatir kawan, kisahmu ini sudah pasti membuatku mengurungkan niat untuk merayu Kibum. Kau tidak usah khawatir."
^^ Grey Daylight ^^
Mimpi itu datang lagi. Kibum tahu kalau dia sedang bermimpi. Teriakan-teriakan keras, pertengkaran dan adu mulut panas terdengar di luar kamar, diselingi dengan hujan badai dan kilatan petir lengkap dengan suara guntur yang memekakkan telinga. Membuat Kibum merasa sangat ketakutan, dia masih kecil di mimpi itu, mungkin empat tahun, duduk di lantai sambil menutupi telinganya, memejamkan matanya. Mencoba tidak mendengarkan teriakan-teriakan itu.
Siapa yang berteriak-teriak itu? Kenapa? dimana ayahnya?
Lalu sebuah tangan meraihnya, lembut. Kibum kecil tersentak dan berseru ketakutan.
"Sttt… Jangan takut ini aku."
Kibum kecil mengenali aroma itu, aroma menenangkan yang sangat akrab. Dan suara itu juga terdengar akrab. "Mereka akan berhenti bertengkar nanti. Sini biar kupeluk dirimu dan kunyanyikan lagu untukmu."
Yang memeluknya adalah seorang anak lelaki. Lebih tua darinya. Tidak dikenalnya tetapi terasa akrab. Akrab tetapi dia tidak dapat mengingatnya. Kenapa dia tidak dapat mengingatnya? Anak lelaki itu bernyanyi, suaranya terdengar lembut. Dia bernyanyi untuk mengalihkan perhatian Kibum dari suara petir yang menggelegar di luar, mengalihkan Kibum dari suara teriakan-teriakan pertengkaran di luar.
Lambat laun Kibum hanya mendengarkan suara nyanyian anak lelaki kecil itu. Tidak ada lagi suara guntur, tidak ada lagi suara teriakan pertengkaran. Kamar itu terasa begitu damai…
Hanya ada Kibum dan anak lelaki kecil itu…
Kibum terbangun kemudian, dengan tubuh basah kuyup dan napas terengah-engah. Mimpi itu sudah lama tidak datang. Dan sekarang datang lagi menghantuinya. Mimpi yang sama, kamar yang sama, anak lelaki yang sama…
Kenapa?
.
.
.
To Be Continued . . .
Review ~
